kabar dari Langkawi


puji syukur

Semua berjalan dengan lancar, hari ini saya dapat pulang tidak kurang sesuatu apapun. Sehat dan sejahtera, demikian juga keluarga yang ditinggal di rumah. Saya yakin itu semua hanya karena penyertaan Allah Bapa melalui kasih dan perlindungannya.

Bagaimana tidak, hampir dua minggu ini saya pergi dari Indonesia, mengikuti perjalan dinas dengan teman-teman rombongan kecil dari UPH untuk suatu lawatan ke P. Langkawi , via Singapore, dan diakhiri di kota Kuala Lumpur. Lawatan untuk mengikuti konferensi internasional dan  sekaligus mengadakan studi banding. Sore tadi baru saja kembali tiba di bandara Soekarno-Hatta, Indonesia.

konferensi internasional UPH 2009

Dua belas hari lawatan suatu perjalanan tentulah bukan sesuatu yang pendek. Cukup banyak sebenarnya yang dapat diceritakan, tetapi untuk saat maka ada baiknya fokus saja dahulu pada pengalaman berada di  P. Langkawi, Malaysia.

Mungkin ada yang baru dengar pulau tersebut ya. Oleh karena itu ada baiknya saya tampilkan peta sebagai petunjuk.

map_malay_small

Pulau Langkawi terletak di sebelah kiri atas, di ujung utara dekat perbatasan dengan Thailand. Ada baiknya gambar petanya saya zoom out ya. Seperti ini :

map_langkawi

Di pulau tersebut, UPH dan UTM mengadakan konferensi international APSEC ke-7 dan sekaligus EACEF ke-2. Informasi lebih lanjut ada di sini.

Bagi Jurusan Teknik Sipil UPH, event di atas tentulah suatu peristiwa yang cukup penting. Jika sebelumnya berhasil mengadakan event berskala internasional di kampus UPH, Lippo Karawaci, yaitu 1st EACEF (2007), maka kegiatan yang sekarang cukup istimewa karena tidak perlu menjelaskan lagi mengapa diggunakan kata INTERNATIONAL. Maklum penyelenggaraannya memang di LUAR NEGERI sih. Adapun EACEF 2007 yang diselenggarakan di kampus sendiri, di Indonesia, maka perlu penjelasan khusus berkaitan dengan dicantumkannya istilah internasional, karena perlu disebutkan peserta-peserta atau pembicara-pembicaranya yang minimal harus melibatkan tiga atau lebih negara peserta selain Indonesia. Waktu itu, 1st EACEF (2007) disebut konferensi internasional karena bahasa pengantarnya Inggris dan didukung atau dihadiri oleh para peserta lebih dari tiga negara, yaitu Jerman, Singapore, Taiwan, Iran, Malaysia dan Australia.

Pihak UTM mau berkolaborasi dengan membuat 2nd EACEF (2009) karena pihak UPH mampu mendatangkan profesor-profesor ekspertise dari Jerman. Maklum, profesor Harianto merupakan alumni dari Uni Stuttgart, dan telah beberapa kali melakukan post-doc di beberapa Uni di Jerman, yang mana itu semua membentuk jaringan yang cukup bagus sebagai modal suatu penyelenggaraan event dalam skala internasional ini.

tgl_3_a_small

Sehari sebelum acara konferensi dimulai, ketika tiba di hotel Awana Porto Malai, yaitu Senin tanggal 3 Agustus, saya berpose sejenak di depan spanduk yang ditempatkan di pintu masuk hotel tersebut. Perhatikan logo UPH di spanduk bagian atas kanan. Kelihatannya sepele, tetapi untuk menampilkan hal tersebut di atas diperlukan perjalanan panjang. Mungkin hanya beberapa universitas di Indonesia yang mampu seperti itu. He, he, tampil di kancah internasional.🙂

kegiatan ilmiah sekaligus tour wisata

Mungkin ada yang bertanya, UTM ada di JOHOR, dekat Singapore, tetapi mengapa mengadakan acara konferensi di P. Langkawi yang terletak jauh di utara Malaysia, dekat dengan perbatasan dengan Thailand. Konferensinya sendiri di adakan di hotel bagus di pinggir pantai yaitu

logo_hotel_awana

Pertanyaan serupa juga pernah aku ajukan kepada Prof. Harianto, yang sebelumnya telah beberapa kali berkunjung ke UTM dalam rangka persiapan acara ini. Menurut beliau, inilah strategi orang-orang Malaysia agar menarik peserta internasional, yaitu menyuguhkan PARIWISATA.

bag_belakang_hotel
Berfoto dengan prof. Harianto, dibelakang hotel Awana Porto, tempat konferensi berlangsung.

Ini sisi lain dari halaman belakang hotel, lautnya terlihat tenang karena posisinya tertutup oleh pulau-pulau lain, bahkan deburan ombaknyapun tidak terdengar. Sayangnya juga bahwa laut yang dibelakang hotel relatif curam, tidak ada pasirnya jadi hanya untuk dilihat saja. Untungnya bahkan kapal dapat berlabuh didekatnya, lihat.

awano_porto
Inilah salah satu suasana yang ditawarkan oleh teman-teman dari UTM. Panorama.

Kelihatannya ide tersebut berhasil, karena ternyata kamipun menikmatinya pula. Selama acara konferensi, tentunya setelah jam pertemuan habis, kami dapat berjalan-jalan di pinggir pantainya yang indah. Tapi sayang, pantai di belakang hotel tidak ada pasirnya, jadi untuk itu harus pergi agak keluar, di sisi lain dari pulau ini, yaitu di pantai Cenang.

pantai_

Hari ke-2 konferensi, acara di sore hari yaitu berjalan-jalan di sepanjang pantai Cenang, kira-kira 1 – 2 km dari hotel.

Kemudian setelah acara konferensi selesai,  yaitu pada hari ke-3, hari Kamis tanggal 6 Agustus 2009, kami mengikuti tour yang diatur oleh panitia untuk melakukan kunjungan wisata, yaitu naik kereta kabel dan sekaligus wisata menyusuri hutan mangrove di bagian pantai lain yang masih alami.

cable-car_

Ini adalah kereta gantung, kondisinya seperti di taman mini indonesia indah, tetapi disebutkan sebagai rentang kabel tertinggi di Asia (moga-moga nggak salah). Dari sini naik ke gunung yang nampak di belakang (saya). Kira-kira sampai ketinggian 700 m di atas permukaan air laut.

dipuncak_

Berfoto bersama dengan Prof. Harianto Hardjasaputra di puncak bukit pemberhentian akhir dari kereta gantung di P. Langkawi. Kelihatannya merupakan puncak tertinggi karena dari situ bisa kelihatan mana-mana. Keindahan pemandangan pada posisi di atas mungkin tidak terlihat karena fotonya hanya berfokus pada foto kita berdua, kebetulan dari brosur pariwisata yang kami peroleh terdapat foto lokasi tersebut dari ketinggian (pakai pesawat) wah baru kelihatan menariknya lokasi tersebut. Ini foto yang aku maksud :

puncak
Di puncak deck putar sebelah kanan tersebutlah saya berfoto di atas. Dari situ bisa terlihat laut di bawahnya. Asyik. Adapun atap bertenda di bawahnya adalah station akhir kereta gantung. Bisa dibayangkan khan betapa tingginya tempat tersebut. Kalau di Indonesia di mana ya ?

kereta_terjal
ini bagian yang paling curam, itu yang hijau-hijau itu bukan perdu lho, itu pohon tinggi ( lebih besar dari 10 m) yang kadang-kadang masih ada monyetnya.

kereta_gantung

Pemandangan dari dalam kereta gantung saat turun dari puncak bukit. Perhatikan pantainya yang terlihat secara jelas, terlihat juga dua pulau buatan untuk pelindung gelombang, di Indonesia wisata seperti ini rasanya belum ada ya. (??)

wisata_pantai_
Nangkring di atas sampan dengan latar belakang hutan wisata mangrove.

Ini mungkin acara yang paling natural, yaitu menyusuri bagian lain dari pulau Langkawi, yang tepiannya adalah penuh hutan bakau yang masih alami. Bayangkan, di sepanjang pantai yang disusuri oleh perahu ini tidak nampak satupun rumah nelayan. Jadi seperti hutan yang belum di jamah manusia. Meskipun dalam kenyataannya banyak dijumpai kapal-kapal pesiar ukuran kecil.

kapal

Kapal pesiar ukuran kecil yang berlabuh di sekitar hutan mangrove. Suatu bukti komitmen Malaysia untuk menggairahkan pariwisata, bisa-bisa ini menjadi negara tujuan wisata lho.

diantara_kapal_pesiar
Wah ini penulis sedang membayangkan, jika bisa tinggal di antara salah satu kapal pesiar tersebut, langit cerah, suasana sunyi, dengan diberikan satu laptop lengkap, wah bisa-bisa dapat dihasilkan satu buku best seller.

Suasananya itu lho.🙂

bertemu profesor dari Imperial College London

Eh asyik ya pak Wir. Tapi omong-omong bapak ini tujuannya ke sana ikut konferensi ilmiah atau tour pak ?

Ya begitulah, keduanya. Maklum, saya tampilkan hal tersebut karena sifatnya general, setiap orang dengan melihat gambar di atas dapat memahami, bahwa suatu kegiatan ilmiah ternyata dapat digunakan sebagai daya tarik bagi para ahli dari negara luar untuk datang ke konferensi sekaligus menikmati pariwisata. Kalau di sini yang bisa seperti itu khan biasanya di P. Bali, tetapi di Malaysia potensi pariwisatanya memang sengaja dibangun, tidak seperti di P. Bali yang memang dari budayanya yang sudah ada. Jadi potensi pariwisatanya agak beda.

Tentang pengalaman dari sisi ilmiah yang saya dapat di sana ?

Ha, ha, jangan kuatir, visi dan misi tetap sama, tetap guru. Jadi meskipun dari gambar-gambar yang saya tampilkan ada kesan hanya pergi berwisata saja, tetapi dalam konferensi tersebut saya juga menyiapkan makalah dan dipresentasikan. Bahkan karena termasuk panitia, maka pada kesempatan disana diminta juga jadi moderator kelas paralel. Lumayan untuk menambah relasi.

Berkaitan dengan hal ilmiah, ada yang menarik. Karena tampil menyajikan makalah pada suatu event internasional maka jelas audiensnya juga dari mana-mana. Sewaktu menyajikan makalah, kelihatan para peserta relatif pasif, tidak ada pertanyaan, tetapi ternyata ketika selesai acaranya, yaitu waktu break, saya dikontak oleh salah satu hadirin. Ini yang menggembirakan, jika biasanya menanyakan sesuatu, tetapi beliau ternyata menyatakan respect dengan materi yang aku bawakan. Materi yang aku bawakan adalah materi disertasiku. Beliau yang kumaksud adalah ternyata profesor David A. Nethercot, dari Imperial College London. Pembicaraan dengan beliau sih nggak terlalu lama, tetapi sampai sekarang masih kuingat, intinya begini : ide anda cukup menarik, apakah itu betul ide dari anda sendiri. Terus terang saya belum pernah melihat dimanapun sebelumnya.

Bayangkan, yang ngomong ini seorang profesor kelas dunia. Tentang materi risetku. Terus terang selama ini yang memberi respect baru Prof. Sahari Besari, promotorku, yang memang tahu seluk beluk risetku. Selanjutnya adalah profesor David tersebut. Beliau ternyata saat ini juga sedang membimbing riset Ph.D candindate berkaitan dengan materi yang serupa, tapi belum sampai seperti yang aku kerjakan. Wah ini khan luar biasa bukan.

Tentu peristiwa tersebut perlu di abadikan, ini aku dengan beliau, profesor David A. Nethercot, dari Imperial College London.

prof_david

Saya kira ini suatu peristiwa penting, jika sebelumnya ketemu dengan profesor dari Jerman (Prof. K.H Reineck) yang pada akhirnya dapat mengantarkan meraih jenjang doktoral, maka sekarang ketemu dengan profesor dari Inggris. Moga-moga dapat menjadi perantara untuk karir yang lebih baik.🙂

bertemu pembaca setia blog ini di Malaysia

Saya selalu menulis di blog ini menggunakan bahasa Indonesia, oleh karena itu pembacanya juga terbatas, yang mengenal bahasa tersebut saja. Tentu ada perkecualiannya, yaitu yang ingin down-load ebook.🙂

Dalam setiap tulisanku, aku hanya menulis hal-hal yang aku yakini sebagai yang terbaik saja. Tentu saja sifatnya sangat personal, yaitu dari kaca mata pribadi sesuai dengan nalar dan pengetahuanku saja. Aku menuliskan hal tersebut, pertama-tama untuk membagikan pengalaman tersebut, siapa tahu dapat menginpirasi lebih baik pada seseorang yang membacanya. Kecuali itu, juga sekaligus untuk mengevaluasi nalar dan pengetahuan yang aku punyai, karena dengan dapat dibaca oleh orang lain maka tentu saja orang lain dapat menanggapinya, memuji atau bahkan mengkritisinya sekaligus.

Oleh karena itu tidaklah mengherankan, ketika di sana, di Langkawi, Malaysia, sesaat sebelum seminar dimulai, saya disapa oleh seorang pemuda yang mengenalkan diri sebagai pembaca setia blog ini. Pemuda tersebut adalah sdr Meldi, seorang pemuda dari Riau yang menamatkan S1 dan S2 di Malaysia dan saat ini sedang menyelesaikan S3-nya di UTM, Johor. Tentu saja perkenalan tersebut disambut dengan gembira, itu juga dapat dijadikan bukti bahwa menulis di blog ini sifatnya positip.

meldi_
Meldi, doktoral kandidat dari UTM yang juga pembaca setia blog ini.

Sebagai orang Indonesia (Riau) yang mengambil kuliah sarjana sampai doktoral di Malaysia, maka alasan-alasan yang disampaikan sdr Meldi mengapa studinya di sana tentulah dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi teman-teman lain di Indonesia, yaitu :

  • Bagi pemuda-pemudi Riau dan sekitarnya, maka biaya studi ke Jawa atau ke Malaysia (Johor) tidaklah terlalu jauh beda, bahkan bisa-bisa lebih murah.
  • Universiti Teknologi Malaysia atau UTM, dapat dianggap sejajar dengan ITB di Bandung. Tentu saja dalam hal ini, ITB lebih tua umurnya. Apakah lebih tua itu berarti lebih hebat. Wah, itu kelihatannya tidaklah bisa dijadikan patokan. Teknik sipil di UTM adalah fakultas, bayangkan itu. Jadi tidak heran jika bidang teknik sipil didukung oleh kurang lebih sekitar 300 Ph.D sebagai dosennya. Bayangkan 300 Ph.D di bidang sipil. Lebih banyak mana ya dengan ITB. Selain itu, karena bahasa pengantarnya adalah bahasa Inggris, maka produktivitas paper di jurnal-jurnal internasional bukanlah suatu kendala .
  • Jadi mahasiswa doktoral di Malaysia ada kemungkinan besar dibayar. Jadi bukannya keluar uang, bahkan dapat uang. Menurut Meldi, hal itu sangat dimungkinkan karena dana riset dari Malaysia cukup besar, dan itu diberikan ke dosen-dosennya dalam suatu tahun anggaran. Jika anggaran dana tidak habis maka hangus, oleh karena itu dosennya juga berlomba-lomba melakukan riset. Jadi dengan memperkerjakan mahasiswa Ph.D untuk riset-riset dosennya adalah seperti Win-Win Solution begitu. Si mahasiswa senang dan si dosen senang, karena punya pegawai yang punya idealisme. Ini tentu sangat berbeda dengan di Indonesia yang sebagian besar mahasiswa doktoralnya harus nyari duit sendiri. Kalaupun ada dana hibah dari pemerintah maka itu umumnya hanya untuk biaya risetnya saja. Nggak bisa untuk biaya hidup. Menurut Meldi, besarnya lumayan lho. Informasi tentang kesempatan untuk mengambil Ph.D dengan digaji banyak diumumkan di sana, tapi umumnya off-line.

Dari tiga alasan tersebut tentulah dapat dinilai kira-kira bagaimana kondisi pendidikan tinggi di sana.

Sdr Meldi, pembaca setia blog ini ternyata punya kemampuan soft-skill tinggi. Ketika selesai acara konferensi di hari pertama, sdr Meldi mengajak jalan-jalan ke pusat kotanya. Ini dokumentasinya.

langkawi_
Wiryanto, Katrin dan Meldi di depan patung besar elang, lambang P. Langkawi.

Bertemu dengan Meldi, seorang terpelajar Indonesia di Malaysia, yang sekaligus juga pembaca setia blog ini tentu bukanlah suatu kebetulan belaka. Karena ada kesamaan cara pandang sajalah yang menyebabkan  suatu perkenalan singkat tetapi rasanya seperti ketemu saudara saja.

meidi

Meldi, terima kasih atas jamuannya disana, semoga ini dapat berlanjut dan membentuk jejaring orang-orang yang berpikiran positip untuk saling mengembangkan diri sekaligus nantinya dapat berbagi bagi negeri tumpah darahnya. Bagaimanapun juga, hanya orang-orang yang mampu mandiri sajalah yang dapat menjadi tumpuan harapan untuk membangun negeri ini.

teman lama dan teman baru

Ada yang bilang bahwa menulis paper untuk suatu prosiding konferensi internasional seperti di atas dengan tujuan memperoleh nama atau mungkin KUM adalah tidak efektif. Lebih baik masukkan saja paper tersebut ke jurnal internasional yang bergengsi. Mula-mula aku tidak ‘ngeh’ , tetapi dengan ikut konferensi dan ketemu dengan banyak teman serta wawasan baru maka aku jadi tahu bahwa memang paper pada konferensi internasional mempunyai tingkat agak di bawah dari suatu paper jurnal internasional bergengsi. Ketat dalam arti kata peer-review-nya yang harus memenuhi tenggat waktu tertentu, apalagi jika pengumuman antara diadakan konferensi, pengumpulan abstrak dan pengumpulan full-paper sangat singkat, sehingga waktu peer-review untuk mengevaluasi jadi tergesa-gesa. Seperti diketahui bahwa konferensi di Langkawi ini telah disiapkan satu tahun sebelumnya. Jadi kalau hanya perlu waktu beberapa minggu, antara pengumuman pertama dan pengumpulan full-paper maka kerja peer-review-nya bisa dipertanyakan. Apalagi jika makalahnya banyak, bisa-bisa itu diloloskan semua.

Tentang paper untuk konferensi internasional atau jurnal internasional, prof David dari Imperial College memberi penjelasan begini, bahwa paper untuk konferensi internasional dapat dikategorikan sebagai in-progress atau partial saja, karena jumlah halamannya umumnya juga terbatas (di EACEF ini dibatasi maks 8 halaman),  adapun di jurnal internasional karena jumlah halaman bisa lebih maka papernya dapat lebih lengkap lagi. Penjelasan itu aku dapat ketika aku tanyakan prospek paper yang aku sampaikan di konferensi tersebut untuk dikirim ke jurnal internasional.

Terlepas dari grade atau tingkatan mutu paper yang disajikan, maka keunggulan mengikuti konferensi internasional seperti ini adalah dapat berinteraksi langsung dan berkenalan dengan pakar-pakar yang telah dikenal di bidangnya, seperti tadi di atas yaitu ketemu profesor dari Imperial College. Tentu itu merupakan suatu keunggulan dan tidak bisa diperoleh jika hanya mengirim paper ke jurnal internasional.

Karena konferensi ini melakukan kerja sama dengan UPH maka Prof. Harianto dapat mengusahakan adanya harga discount untuk para peserta dari Indonesia, ini tentu sangat membantu sekali karena kurs mata uang kita relatif lemah di banding tuan rumah. Kira-kira 1 ringgit = 3000 rupiah. Oleh karena itu banyak juga teman-teman dari Indonesia yang ikut acara konferensi tersebut.

Untuk melihat siapa-siapa saja yang disana, maka ada baiknya foto dokumentasi saya up-load pada artikel ini. Siapa tahu ada yang anda kenal.🙂

langkawi001
Makan pagi menjelang acara konferensi dimulai, ini adalah meja para senior, di ujung kiri terlihat prof David A. Nethercot sedang menjelaskan sesuatu dan didengar oleh rekan-rekan dari UTM dan juga UPH, terlihat prof. Harianto berbaju kuning di ujung depan.

langkawi--2
Kiri teman engineer Malaysia yang asli India, Dr. Manlian, Prof. Harianto, dan C.K. YIP dari City University of Hong Kong,.

langkawi003
Ini prof Nethercot yang duduk di klas paralelk tempat aku akan menyampaikan makalah. Waktu aku jepret ini agak kuatir juga jika beliau mengajukan pertanyaan yang tidak bisa aku jawab. Maklum dia satu-satunya profesor yang ada di klas tersebut, dan beliau termasuk aktif karena kebetulan yang lain relatif pasif. Jadi mungkin agar sedikit ada diskusi beliau mencoba mengajukan pertanyaan kepada para presenter.

langkawi004
Ini suasana presentasi di klas paralel pada acara tersebut, terlihat dari seorang dosen dari UTM mempresentasikan makalahnya dan didengar secara cermat oleh para peserta konferensi.

langkawi005
Menjelang acara dimulai ketemu lagi dengan Dr. Rendy Thamrin, dosen Universitas Andalas, Padang alumni dari Jepang, saat ini menjalani post-doctoral di Universiti Tun Husein Onn, Malaysia.

langkawi01
Makan pagi menghadap pantai yang indah, dari kiri ke kanan : saya (Dr. Wiryanto), Dr. Manlian (UPH), Dr.-Ing. Jack Widjajakusuma (Kajur Jurusan Teknik Sipil UPH) dan ibu Hariani Hardjasaputra.

langkawi1
Berpose sebentar dengan para pemakalah tempat aku jadi moderator. Inggrisnya aja pas-pasan , tapi karena tugas ya sudah tembak aja jadi moderator kelas paralel. Untung lancar.🙂

langkawi2
Dari kiri Dr. Stefanus A. Kristiawan (UNS, Surakarta), Dr. Manlian (UPH), Dr. Sholihin AS’AD (UNS, Surakarta), C.K. Yip (City University of Hongkong), Dr. Olga C. Pattipawaej (Universitas Maranatha, Bandung)

langkawi3
Dr. Mahmood MD Tahir (UTM); Dr. Wiryanto; yang ketiga . . .  aduh lupa namanya, tetapi ini dosen dari UTM yang istrinya orang Indonesia; Prof. Hilmi (Universiti Malaya); Prof. Harianto (UPH); Dr. Manlian (UPH)

langkawi4
Dr. Kreshna Mochtar (ITI, Serpong), Prof Hilmi, Dr. Wiryanto, Dr. Manlian

langkawi5
Tari-tarian malaysia, itu khan tarian dayak kalimantan bukan.🙂

langkawi6
Dr. Rendi dan teman-teman dari Universiti Tun Husein Onn.

langkawi7
Kalau lihat tarian-tarian yang disajikan maka jelas kebudayaan Indonesia tidak kalah, hanya dari cara menjualnya kayaknya perlu juga mengintip cara negara Malaysia berpromosi.

Baca juga pengalaman di atas dari kaca mata Prof. Harianto Hardjasaputra, senior saya di UPH :

17 thoughts on “kabar dari Langkawi

  1. Selamat, proficiat buat bapak. Berbagai cara orang mengibarkan Merah Putih. Tidak perlu harus bisa menancapkan Merah Putih di kutub dingin dan beku atau puncak Everest. Bapak telah melakukan terbaik untuk Merah Putih…. Aku turut berbangga….

    Suka

  2. ITB ama UTM ibarat Nasi Uduk ama Nasi Lemak , teh wasgitel ama teh tarik, …sama sama top nya di negeri masing masing..sama sama mempunyai ciri khas..sama sama mantap…

    Suka

  3. ” hanya orang-orang yang mampu mandiri sajalah yang dapat menjadi tumpuan harapan untuk membangun negeri ini ”

    betul Pak, kalo mbangun negeri ini harus mandiri dan ikhlas klas klasss.. minimal niat kita mbuka jalan yang lebih baik bagi anak cucu kita.

    Kalo mengharapkan return secara materi dan apresiasi ..mhh bikin sakit hati, bisa-bisa akhirnya malah jadi perampok/pencuri uang negara, dengan dalih tidak ada imbalan yg sepadan atas hasil kerja keras kita.

    kalo dah pikiran kayak gitu, mending dagang aja / swasta.

    hehe maaf , curhat colongan..

    – birokrat muda yang lagi gamang-

    Suka

  4. Saya meng­ucapkan SELAMAT men­jalankan PUASA RAMADHAN.. sekaligus Mohon Maaf Lahir dan Bathin jika ada kata kata maupun omongan dan pen­dapat yang telah menying­gung atau melukai per­asaan para sahabat dan saudaraku yang kucinta dan kusayangi.. semoga bulan puasa ini men­jadi momen­tum yang baik dalam melang­kah dan meng­ham­piriNYA.. dan men­jadikan kita manusia seutuh­nya meliputi lahir dan bathin.. meraih kesadaran diri manusia utuh..

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku ter­chayaaaaaank
    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

    Suka

  5. Ping balik: seminar HAKI 11-12 Agustus 2009 « The works of Wiryanto Dewobroto

  6. Ping balik: stop kirim dosen ke MALAYSIA ! « The works of Wiryanto Dewobroto

  7. Ping balik: KJI dan KBGI 2009 « The works of Wiryanto Dewobroto

  8. Ping balik: perlunya berprestasi « The works of Wiryanto Dewobroto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s