wisuda III 2008-2009 UNPAR


Hari Sabtu tanggal 25 Juli 2009 kemarin, Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) telah berhasil dengan sukses menyelenggarakan Upacara Wisuda III tahun ajaran 2008/2009. Upacara wisuda tersebut dalam rangka pelepasan secara resmi lulusan baru UNPAR kepada masyarakat. Para wisudawan adalah mahasiswa UNPAR yang dinyatakan lulus pada periode 8 Februari 2009 – 4 Juli 2009. Aku termasuk salah satu wisudawan yang ikut dalam prosesi upacara karena lulus pada periode tersebut yaitu 12 Februari 2009.

Menjadi salah satu wisudawan, lulusan perguruan tinggi yang diakui, tentu merupakan sebagian besar cita-cita para pemuda dan pemudi di negeri ini. Mempunyai ijazah dan gelar sarjana seakan-akan menjadi kartu pass untuk menjadi ‘sukses‘. Pernyataan ini tentu tidak mutlak, tetapi saya yakin sebagian besar masyarakat tentu tidak akan membantahnya. Apa yang aku tulis di atas ini kira-kira masih sama dengan pendapatku waktu masih muda dulu yaitu ketika baru lulus SMA dan mencari sekolah perguruan tinggi. Itu kira-kira 27 tahun yang lalu.

Jadi ketika menjadi wisudawan pada hari kemarin itu, maka tentu memberi perasaan bahagia, baik bagi wisudawannya sendiri maupun keluarganya. Itu terlihat juga pada hari kemarin dengan banyaknya penjual bunga di sekitar kampus yang berharap laku dagangannya, yaitu bunga persembahan kepada orang yang dikasihi yang diwisuda pagi itu.

Wah bapak ini romantis juga ya.

Itulah, saya juga bingung, mestinya pada hari kemarin harusnya seperti itu, romantis dan penuh rasa haru. Tetapi yang saya rasakan ternyata biasa-biasa saja. Yah, seperti mengikuti suatu acara resmi saja, tertib, hormat dan mengikuti aturan yang ada, tetapi nggak ada itu perasaan emosi yang bahkan sampai meneteskan air mata segala.

Kalau begitu bapak tidak mensyukuri ya.

Wah, kelihatannya nggak juga lho. Secara pribadi, aku sebenarnya nggak terlalu ngotot ikut upacara wisuda ini. Aku merasa ini khan suatu upacara yang bersifat massal, dimana secara person keberadaan seorang yang bernama Wiryanto Dewobroto pada upacara tersebut bukan siapa-siapa. Hanya salah satu peserta saja dari sekitar 725 wisudawan yang akan dipanggil ke depan pada hari tersebut, bayangkan hanya 0.14% saja dari populasi. Itu tentu sangat berbeda dengan suasana Ujian Sidang Terbuka pada tanggal 12 Februari 2009, yang secara khusus panitianya menerbitkan undangan untuk hadir pada suatu sesi yang mana fokus utamanya hanya saya saja. Jadi jelas, emosi suasana pada Ujian Sidang Terbuka akan lebih jelas terasa dibanding upacara Wisuda ini. Meskipun demikian, karena saya selalu mensyukuri setiap kesempatan yang ada, maka saya berusaha mengikuti acara ini dengan baik.

Banyak alasan yang mendukung mengikuti acara ini , diantaranya adalah :

  • Mengikuti prosedur standar dalam suatu proses pendidikan. Ini penting, karena belajar di perguruan tinggi selain menuntut ilmu juga karena ingin suatu pengakuan. Dengan menjadi salah satu yang terdaftar diantara 725 wisudawan yang telah secara resmi dilepas oleh rektor universitas, maka kita dapat merasa menjadi bagian keluarga besar UNPAR. Ingat, dalam wisuda akan ada Buku Wisuda yang memuat nama-nama wisudawan, karena disebar ke wisuda-wisudawan maka minimal buku tersebut adalah sebanyak 725 eksemplar. Jadi ini menjadi semacam publikasi, sehingga dapat menjadi suatu pengakuan bahwa kita memang lulusannya. Juga tentu saja, adanya upacara memakai toga dsb-nya yang dapat diambil dokumentasinya maka itu akan menjadi bukti-bukti atau fakta untuk suatu pengakuan tersebut.
  • Keberhasilan belajar yang ditunjukan dengan menjadi wisudawan/wisudawati pada upacara tersebut juga dapat membahagiakan orang-orang di sekitar kita. Bahkan bisa menjadi motivasi orang lain untuk berbuat sama. Oleh karena itulah pada upacara kemarin aku mengajak semua anggota keluargaku secara lengkap, istri dan dua anak-anakku. Padahal seperti diketahui, jumlah undangannya terbatas hanya dua orang saja. Siapa tahu, anak-anakku mengikuti jejak orang-tuanya, bahkan bisa lebih baik.🙂
  • Merasakan menjadi orang istimewa.🙂

He, he, kalau yang terakhir itu kelihatannya hanya mengikuti tuntutan ego pribadi. Tapi jangan salah, itu bukan maksudku untuk menyombongkan diri, bahkan itu suatu bentuk rasa syukurku sehingga dengan demikian ada baiknya aku mengikuti upacara wisuda ini.

Sebagai informasi bahwa upacara kemarin itu merupakan upacara wisuda ke-3 yang pernah aku jalani, di tiga tempat berbeda pula, yaitu [1] Sarjana (S1) di UGM (1989); [2] Magister (S2) di UI (1998); [3] Doktor (S3) di Unpar (2009). Kondisi itu cukup istimewa bukan, dan saya yakin hanya sebagian kecil saja yang mempunyai kesempatan mendapatkan momentum seperti itu. Dari buku wisuda UNPAR kali inipun dapat diungkap, bahwa dari 725 wisudawan, yang diwisuda menjadi DOKTOR hanya ada 5 orang (0.7%), itu saja yang doktor teknik sipil hanya aku saja. Adapun yang diwisuda MAGISTER ada sekitar 49 orang (6.8%).

Tentu ada maksud yang di atas memilihku mendapat kehormatan seperti itu. Oleh karena itulah, karena menyadari bahwa kondisi ini merupakan suatu berkat Tuhan dan bukan hanya hasil keringat sendiri maka langkah pertama-tama adalah mensyukurinya. Salah satu caranya adalah dengan mengikuti upacara wisuda hari Sabtu kemarin. Minimal yang di atas tahu bahwa aku tidak menyepelekan pemberian-Nya yang istimewa tersebut.

Baiklah, ada baiknya aku mulai menceritakan acara wisuda tersebut. Bagaimana acara tersebut berlangsung.

pembukaan1_
Upacara wisuda dibuka dengan tari-tarian khas pasundan dari mahasiswa/i UNPAR, sekaligus akhirnya digunakan menyambut pimpinan yaitu Rektor dan senat universtas untuk hadir ke depan.

rektor_senat_
Rektor, ibu Dr. Cecilia G.S (berdiri di tengah), beserta senat pimpinan universitas siap memulai acara wisuda.

prosesi_
Prosesi wisuda, para wisudawan dipanggil namanya satu persatu untuk maju ke depan untuk mendapatkan selamat dari Dekan dan Rektor. Mungkin kelihatannya sepele, tetapi hebatnya disini, Rektor UNPAR memberi selamat satu persatu kepada para wisuda. Bayangkan ada 725 orang wisudawan yang maju, yang diberi selamat oleh rektor. Wah pasti capek juga ibu Cecilia ini, tapi salute deh. Pernah rasanya kujumpai ditempat lain (jadi bukan UNPAR dong), bahwa rektornya hanya memberi selamat kepada wakil wisudawan yang berprestasi saja, sedang yang lain, yang dianggap biasa-biasa, cukup digantikan oleh Dekan atau wakil rektor. Itu khan menunjukkan bahwa si wisudawan sendiri oleh rektornya tidak  ‘dianggap‘.😦

Jadi menurut saya, sesi prosesi di atas adalah bagian yang sangat penting dalam upacara wisuda, dan dalam hal ini proses di UNPAR dapat menjadi contoh baik, karena Rektor mau memberi selamat kepada para wisudawan-nya satu persatu. Secara simbolis itu dapat menunjukkan bahwa tiap-tiap alumninya adalah istimewa, sehingga perlu disapa secara personal, baik yang berprestasi saat itu, maupun yang belum. Kadang-kadang yang kelihatan biasa-biasa saat ini, maka dikemudian hari bisa-bisa menjadi orang yang istimewa. Itu khan hanya masalah waktu saja bukan.

Semoga hal itu tetap dapat dipertahankan terus.

Tentu saja yang membuat lama upacara tersebut adalah upacara prosesi di atas. Mula-mula dipanggil dari program doktor, yang hanya lima orang tersebut, lalu program magister yang hanya 49 orang, jadi yang membikin lama upacara adalah prosesi wisuda pada tingkat sarjana dan diploma. Maklum jumlahnya adalah yang mayoritas.

wisudawan_
Akhirnya selesai sudah acara formalnya. Para wisudawan berhamburan mengambil foto kenang-kenangan, akupun demikian juga. Ini penting lho, sebagai bukti bahwa aku memang adalah termasuk alumni UNPAR. Tapi kalau banyak orang yang tidak tahu, karena belum pernah ketemu langsung di kampus tersebut, itu dapat aku maklumi. Menjadi mahasiswa pada program doktor (S3) dan mahasiswa para program sarjana (S1), memang lain. Kalau mahasiswa S3  cenderung sendirian, nggak seperti mahasiswa S1 yang umumnya satu angkatannya saja bisa terdiri dari banyak orang. Jadi jika anak-anak S1 ketika lulus bisa berhura-hura, karena banyak temannya, maka yang doktornya cukup numpang nampang saja di depan kampus, meskipun lama sekolahnya hampir sama yaitu lima tahunan juga (bahkan yang S1 banyak yang lebih cepat lho).

didepan_kampus_
Berdiri di antara gedung arsitektur dan teknik sipil, terlihat dibelakang adalah upacara penyambutan sarjana baru S1, maklum mereka teman-temannya banyak. Jadi cukup ramai begitu. Kalau di program doktor, ya sendirian seperti itu, meskipun demikian tampil seperti di atas itu penting lho, sebagai bukti bahwa aku juga bagian kampus tersebut.🙂

Nggak puas dengan tampil sendiri, maka aku masuk mencari siapa yang ada di situ. Untung ketemu pak Supri, petugas jaga di gedung 4,  yang sering menyapaku kalau ke gedung teknik sipil tersebut. Sebagai kenang-kenangan aku berfoto bersamanya juga, sbb :

dgn_pak_Supri_

Saya yakin, bagi siapa saja yang pernah belajar di kampus UNPAR khususnya teknik sipil, maka tentunya mengenal juga bapak Supri. Beliau selalu setia menyiapkan tempat bagi dosen-dosen yang akan mengajar. Saya yakin beliaulah yang paling setia menjaga kampus jurusan teknik sipil, bahkan bisa-bisa ketika dosennya sudah pulang maka beliaunya masih ada disitu. Jadi saya kira berfoto bersama dengan yang ‘mbaurekso‘ kampus tersebut cukup berharga untuk dijadikan kenang-kenangan. Bila berfoto bersama dengan pejabat kampus, maka bisa-bisa lima tahun ke depan nanti sudah tidak menjabat lagi, tetapi dengan pak Supri tersebut, meskipun dari waktu ke waktu bergonta-ganti mahasiswa, dan pejabat tetapi beliau tentunya masih setia disitu, di kampus Cimbeleuit.

dng_anak-anak_

Seperti aku ungkapkan di depan, bahwa acara ini juga aku gunakan sebagai sarana memotivasi semangat belajar anak-anakku. Oleh karena itu, membawanya ke acara tersebut adalah penting juga untuk dikenalkan suasana kampus, yang menurutku mempunyai lokasi yang menarik. Foto di atas, adalah aku dengan anak-anakku sedang berpose di depan gedung teknik sipil. Di gedung tersebut biasanya aku bertemu dengan teman-teman dan juga dosen-dosen selama studiku diprogram doktoral tersebut, yaitu bapak Joni Simanta, bapak Adhijoso Tjondro, bapak Paulus Karta, dan juga prof Paulus maupun prof Bambang.

Kecuali ke gedung teknik sipil, maka kemarin aku mengajak juga ke kampus UNPAR di bagian belakang yang mempunyai pemandangan menarik. Dari lokasi tersebut, kota Bandung terlihat di bawahnya.

kampus_unpar_

kampus_unpar2_

Foto kenang-kenangan, anggota keluargaku di kampus UNPAR bagian belakang, gedung perpustakaan dan fakultas ekonomi. O ya, kampus UNPAR itu kalau tidak salah adalah kampus yang terletak diketinggian di atas kota Bandung, posisinya lebih tinggi dari kampus ITB atau Pajajaran. Jadi suasananya memang lebih ‘dingin’ dibanding kampus-kampus tersebut. Itu pula yang menyebabkan tiga dari empat bukuku, selesai aku tulis sewaktu belajar disana.

Mungkin ada yang tertarik mengikuti jejakku untuk bersekolah di sana ?

Masih ada hal lain yang menarik untuk diungkap, yang mungkin membantu untuk dijadikan pertimbangan jika ingin studi di sana. Contoh sederhana, untuk mengikuti upacara wisuda tersebut di atas, aku hanya diminta men-transfer uang Rp 220 ribu, untuk biaya mengganti [1] baju wisuda dan pernik-perniknya yang aku pakai tersebut; [2] buku wisuda yang mencetak dengan warna foto dan data diri para peserta wisuda; dan [3] snack untuk tiga orang. Bayangkan, itu universitas swasta lho, bandingkan dengan biaya wisuda perguruan tinggi di tempat lain. Kelihatannya sepele, tetapi ini dapat dijadikan referensi bagaimana kira-kira biaya bersekolah di situ.

Mungkin ada bapak dan ibu yang mengkuatirkan anaknya bersekolah disitu karena ada nama agama di universitas tersebut, yaitu Katolik. Tentang hal itu jangan kuatir, saya sudah mencoba masuk ke lingkungan tersebut selama lima tahun dan merasakannya. Mungkin bisa saja dikatakan bahwa pernyataan saya ini bersifat subyektif, tetapi sebagai orang yang dibesarkan dalam suasana Katolik, dan juga sebagian besar waktunya dihabiskan di sekolah negeri dan sekarang bekerja di perguruan tinggi swasta non-sekuler, maka aku bisa menilai apa artinya sekuler dan non-sekuler dalam kaca mata lembaga. Untuk itu saya menyatakan bahwa meskipun namanya Universitas Katolik Parahyangan tetapi sebenarnya itu bukan universitas yang kebijakannya berlandaskan agama (non-sekuler), ini benar-benar universitas sekuler (non-agama). Bahkan bagi teman-teman muslim, bersekolah disitu pasti akan terasa familiar karena banyak dijumpai pegawai putrinya disana berjibab juga.

Semoga informasi ini berguna.

Informasi lain yang terkait :

<<up-dated 29 Agustus 2009>>

Setelah tanggal 27 Agustus 2009 kemarin ke Unpar Merdeka untuk mengambil Ijazah Doktor asli , kebetulan diberikan juga foto-foto resmi saat wisuda kemarin. Saya kira ini perlu di up-load sebagai bukti bahwa memang aku ada disana. Ok.

dng_rektor_small

20 thoughts on “wisuda III 2008-2009 UNPAR

  1. mungkin karena sudah mengalami berulang kali pak makanya seperti gak ada yang special, tapi untuk yang baru pertama kali pasti sangat special. Contohnya saya, salah satu motivasi saya untuk menyelesaikan skripsi yah wisuda itu. Kalau sudah membayangkan prosesinya, semangat saya numbuh lagi. Doakan agar sidang sarjana saya yang sebentar lagi, akan sukses pak, amien.

    Suka

  2. Selamat ya Pa Wir,

    Puji Tuhan, akhirnya semua selesai tepat pada waktuNYa..

    Ditengah kesibukan bapak mengajar dan studi doktoral, bapak masih bersedia merespon semua pertanyaan keteknikan sipil di Blog bapak dan memberikan warna baru dalam pemikiran bapak disemua postingan tulisan bapak..

    Sangat jarang para intelektual seperti bapak yang mau membuka diri dan memaparkan pemikirannya sendiri, baik yang berhubungan dengan profesinya ataupun tentang hal lain..
    Apalagi berdiskusi secara terbuka (yang dapat dilihat semua orang)…

    Sekali lagi saya ucapkan selamat kepada bapak DR. Ir. Wiryanto Dewobroto, MT

    Syallom,

    Donny B Tampubolon

    Suka

  3. Wah SELAMAT ya Pak Wir….
    Sekarang sudah menjadi Doktor, semoga ilmunya bisa dipersembahkan bagi kemaslahatan negeri ini Ya Pak, saya yakin Anda bisa memberikan sumbangsih yang berharga untuk Indonesia tercinta…

    Saya pun akan bercita2 setinggi langit seperti Pak Wir,,,,

    Salam semangat Bocahbancar🙂

    Suka

  4. @ Aji..

    Kapan Nyusul ji… nanti kalo wisuda photo bareng P Supri Juga yah…he…he.. Hebat euy P Supri Kenalannya Minimal Ir.. sampai Prof…

    Selamat Ya P Wir…Congrat…Mabruk Mabruk..

    Suka

  5. Congratulation for your graduation

    Dr. Ir. Wiryanto Dewobroto, MT.

    I’m very happy because I have a great lecture like you and I always
    look forward your next achievement !

    Be success every time and may God be with you always, sir.

    Suka

  6. Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fulllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllll

    Suka

  7. sangar banget pak… keren2 s3…ga kebayang ak, s3 tu kayak apa.. ni lg kul s1 di unpar aja rasanya mayan susah… apakagi s3 ya…hahaha

    Suka

  8. Ping balik: perlunya berprestasi « The works of Wiryanto Dewobroto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s