email – prita mulyasari – rs


Pada mulanya berita tentang ibu Prita tidak terlalu kutahu, bahkan cenderung terabaikan. Maklum, aku mula-mula menganggapnya seperti berita tentang ‘facebook haram’. Nggak perlu ditanggapi, itu khan ibarat seperti halnya ‘melarang pisau tajam di rumah, karena bisa melukai bahkan membunuh seorang manusia yang tidak berdosa’.  Artinya apa, tergantung dari cara memandangnya. Jika di awal sudah dianggap negatif maka hasilnya ya negatif, tetapi jika dianggap positip maka bisa juga dihasilkan hal yang positip. Teknologi itu netral, tergantung orangnya. Gitu aja koq pusing.🙂

Tetapi ternyata kasus ibu Prita memang agak berbeda, ada kesan yang seakan-akan terlalu berkelebihan. Hanya bermula dari tulisan di email ternyata dapat dilanjutkan ke hukuman badan di penjara. Kalau benar, itu luar biasa.

Kalau hanya dipandang dari sudut akademik, maka jelas itu tidak ada penjelasannya. Jika ada perbedaan pendapat, itu biasa saja, beberapa tanggapan tertulis yang negatif diblog ini juga ada, tetapi sebagian besar ketika kita bisa membikin argumentasi dari sudut pandang kita, maka yang semula negatif bisa ketahuan, bahwa yang sebenarnya negatif itu siapa. Jadi mestinya yang benar (menurut kaca mata akademik) maka jika ada pendapat tertulis maka sanggahannya juga tertulis. Masyarakatlah yang akhirnya menilai.

Toh apa sih yang ditakutkan dari sebuah email ?

Nama baik pak !

Ha, ha, nama baik ya. Mungkin benar juga. Saya mencoba mencari tahu tentang hal tersebut, untuk itu aku baca bukunya Robert Greene, tentang “48 Hukum Kekuasaan”, di situ dijelaskan bahwa pada hukum ke-5 menuju kekuasaan bahwa REPUTASI adalah suatu hal penting. Disebutkannya bahwa

BEGITU BANYAK HAL TERGANTUNG DARI REPUTASI – JAGALAH REPUTASI ANDA DENGAN NYAWA ANDA !

Mungkin hal inilah yang mendorong pihak lawan ibu Prita untuk memperkarakannya di pengadilan, yaitu untuk menjaga reputasi institusi.

Apakah untuk menjaga reputasi tersebut harus ke pengadilan. Ini masalahnya, kelihatannya mereka pada tidak tahu bahwa reputasi itu terkumpul tidak hanya dari prestasi pekerjaannya saja tetapi juga dari hal-hal seperti bagaimana mereka menyelesaikan masalah yang timbul. Masalah itu ada-ada saja khan selama ada kehidupan ini.

Kasus email bu Prita itu khan sebenarnya dapat juga dianggap sebagai salah satu masalah saja. Mungkin yang ditakutkan bahwa informasi tentang masalah tersebut sudah tersebar luas. Tetapi saya kira itu tidak perlu ditakuti, bahkan jika tepat maka ketenaran dari meluasnya berita tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik. Coba bikin solusi yang saling memuaskan kedua belah pihak, jika itu dapat terjadi maka pada akhirnya informasi kepuasan itu juga akan tersebar luas. Reputasi akan menjadi baik.

Bahkan yang kudengar bahwa pihak yang menjadi lawan adalah institusi pemberi jasa, yaitu rumah sakit.

Wah ini lebih gawat lagi, reputasi bagi lembaga atau institusi pemberi jasa adalah sesuatu hal yang penting, bahkan penting sekali. Rumah sakit, seperti halnya institusi pendidikan atau sekolah, keberlanjutannya tergantung dari reputasi yang diperolehnya. Bayangkan saja, mungkin ada saja sekolah yang gedung hebat, tetapi ternyata didalamnya terkenal bahwa murid-muridnya bereputasi buruk, “banyak yang ngobat lho”, lalu kalau lulus banyak yang nganggur. Jika demikian mana ada orang tua murid yang peduli yang mau menyekolahkan anak-anaknya disana. Demikian juga rumah sakit, jika tersebar disana bahwa pasien yang dirawat disana, bukannya cepat sembuh, tetapi bahkan ketularan penyakit lain. Pasti calon pasien lain jadi mikir seribu kali untuk kesana, kecuali memang tidak ada alternatif lain, misalnya bahwa di situ ada alat kedokteran yang canggih yang ditempat lainnya tidak ada dan gratis misalnya.

Jadi sebenarnya aku heran juga, mengapa sih institusi yang besar seperti pihak lawan bu Prita itu mau-maunya menanggapi tulisan sebuah email untuk jadi diperkarakan ke pengadilan. Ibu Prita itu siapa sih ? Jadi jika institusi tadi menang, ya wajar saja. Tapi jika sampai akhirnya kalah. Apa itu tidak berisiko tinggi untuk hancur reputasinya. Padahal untuk bermasalah di pengadilan itu kalau aku dengar diperlukan juga uang.

Ingat petuah Robert Green:

. . . jangan pernah melakukan serangan dengan keterlaluan, karena tindakan itu hanya akan menarik lebih banyak perhatian kepada niat dendam anda ketimbang kepada orang yang anda serang.   . . . pergunakanlah taktik-taktik yang lebih halus. seperti sindiran dan olok-olok, untuk memperlemah lawan anda selagi anda memberi kesan bahwa diri anda adalah sipenjahat yang mempesona. Si singa yang kuat mempermainkan tikus yang lewat di depannya – reaksi lain pasti merusak reputasinya yang menakutkan.

Jadi bisa saja dalam hal ini bu Prita kalah , lalu mendapatkan hukuman, pihak penggugat menang, maka tersebarlah berita bahwa reputasinya memang hebat yaitu “dapat memukul hancur wong cilik”.

Apa untungnya itu, padahal duit sudah keluar berjuta-juta.

Lalu bagaimana pak ?

Ya, sebenarnya kata kuncinya adalah pemberi nasehat pihak penggugat bu Prita tersebut. Mestinya penasehatnya orang yang berkepala dingin. Jika mendapat email seperti itu, maka tentunya perlu dipikir lebih mendalam dan ditanggapi dengan tidak penuh emosi, tetapi agar bisa seperti ini maka diperlukan persyaratan khusus.

Apa itu pak persyaratannya, apa harus terakreditasi international ?

Ah nggak dik, kata kuncinya bukan masalah internasional atau tidak, tetapi yang penting harus bersandarkan kepada kejujuran, dengan berpegang kepada kebenaran, kemudian juga menyadari bahwa diri kita ini juga lemah, bisa saja berbuat kesalahan dan juga taqwa ke yang di ATAS. Artinya apa, bahwa apa yang diperjuangkan itu adalah benar adanya dan berani dipertanggung-jawabkan ke atas, setelah kematiannya.

Wah filosofi betul pak ?

Bukan filosofi itu dik, tapi hakekat hidup. Dengan latar belakang tersebut maka dibedahlah email bu prita tersebut.Ada apa ini ?

Jadi jangan seperti buruk rupa cermin dibelah. Itu lho pepatah lama. Isi email itu khan berfungsi sebagai cermin tentang isi pelayanan institusi tersebut kepada pelanggannya.

Jadi yang perlu dipermasalahkan adalah apa benar isi email tersebut. Jadi disini pihak yang menerima email perlu jujur, dan perlu menelaah tiap rincian materi yang diungkapkan, perlu cross chek.

Wah kalau benar, salah !  Bagaimana pak ?

Kalau benar itu khan seperti halnya hasil ujian pembelajaran khan, jika rapotnya merah ya berarti perlu belajar lagi. Jadi jika benar ada kesalahan, ya akui saja dan berani bertanggung jawab serta minta maaf, bahkan beri kompensasi. Kemudian nyatakan bahwa itu menjadi pembelajaran bagi manajemen untuk tidak terulang lagi. Jadi mereka harus menganggap bu prita sebagai konsumen, dan konsumen adalah raja. Saya yakin kalaupun ada kompensasi yang diberikan nggak sebesar biaya yang diperlukan untuk proses pengadilan yang sekarang ini sedang terjadi. Tetapi yang jelas dengan adanya proses pengadilan yang berlarut-larut ini maka saya yang sebelumnya tidak mengenal insitusi tersebut sekarang jadi tahu. O begitu to reputasinya.

Tetapi kalau tidak benar pak ?

Wah ini lebih gampang, setiap ada keluhan harus ditanggapi atau tepatnya diluruskan jadi jangan ada kesalahpahaman.

Kalau ngotot pak ?

Ya tentang itu khan ada kebenaran sepihak maupun ada kebenaran umum. Jadi yang perlu diperjuangkan adalah buktikan bahwa itu kebenaran umumnya sudah tepat. Toh akhirnya masyarakat yang menilai.

Intinya kalau benar, nggak usah takutlah !

.

.

Link berita-berita yang terkait :

53 thoughts on “email – prita mulyasari – rs

  1. SOLIDARITAS UNTUK PRITA MULYASARI
    SOLIDARITAS UNTUK INDONESIA SEHAT
    Maka
    “BOIKOT RUMAH SAKIT OMNI”

    Solodaritas yang dapat kami tawarkan adalah: “mengajak kepada segenap warga Negara Indonesia dan Warga Negara Asing yang sedang tinggal di Indonesia untuk melakukan tindakan boikot, dengan jalan tidak mempercayakan masalah kesehatan kita kepada Rumah Sakit Omni International, Jakarta. Sampai pada batas waktu selesainya perkara hukum yang dialami Ibu Prita Mulyasari”. Ini baru adil bagi pihak rumah sakit, pihak Ibu Prita Mulayari, dan Pihak Masyarakat penerima layanan kesehatan”.

    Kasus yang menimpa Ibu Prita Mulyasari adalah sebuah kasus yang dapat diibaratkan sebagai fenomena gunung es. Yakni sebuah fenomena yang dipermukaan terlihat sedikit secara kuantitas namun pada realitas dimasyarakat adalah jauh lebih besar. Dimana pada dunia industri medis, nyaris menjadi tak terkontrol. Padahal dunia medis adalah sebuah kumpulan profesi yang memiliki ranah bobot kemanusiaan lebih tinggi dibanding dengan kepentingan bisnis, namun di Indonesia sudah menjadi hal yang maklum bahwa bisnis medis adalah sebuah bisnis yang sangat profitable. Bebas krisis ekonomi dan bebas krisis politik. Dalam kondisi apapun bahwa bisnis medis tak bakalan bangkrut, hal inilah yang menjadikan profesi medis menjadi idola di Masyarakat. Bagi penyandang profesinya, tidak memiliki kekhawatiran akan kegagalan profesi bahkan kegagalan bisnis.

    Salah satu alasan mengapa orang memilih profesi medis, adalah bahwa dalam keadaan apapun, dan berada pada komunitas apapun, keberadaan pelayan medis akan tetap diperlukan.

    Sifat kehawatiran manusia adalah sesuatu yang manusiawi, sehingga manusia akan bersikap prudence (hati-hati) menjalankan berbagai aktifitasnya. Karena aktifitas manusia adalah senantiasa berkorelasi dengan kehidupan dan kepentingan manusia lainnya, baik langsung maupun tidak. Tak aneh bila persoalan Mal-praktek kedokteran menjadi masalah yang siring muncul. Dan jelas siapa yang dirugikan dari sikap kekurang hati-hatian profesi medis.

    Uniknya bahwa sampai hari ini tak ada penyandang profesi medis yang mendapat ganjaran hukuman. Hal ini adalah suatu fakta yang amat tidak masuk akal. Ditengah-tengah sikap rendah ketidak hati-hatian (less-prudence) tapi nyaris tak pernah mengalami kesalahan. Ini merupakan kejanggalan alam terbesar di jagad raya ini.

    Semakin kurang berhati-hati berlalulintas di jalan raya maka resiko terjadi kecelakaan semakin besar, namun tidak terjadi di dunia medis.Bahkan ketidak hati-hatian dokter pemberi layanan medis berakibat makin buruknya kesehatan pasien, bahkan jika pasien macam-macam segalanya bisa disiasati sampai pada akhirnya pasien korban mal praktek menjadi pelaku criminal.

    Tak banyak yang menyadari betapa kuatnya dunia profesi medis. Ibarat kuatnya sebuah rezim yang otoriter dan fasis. Dalam bahasa jawa timuran dikatakan “kalah menang nyirik” (kalah – menang, beruntung-namun beruntungnya dg curang. Nyirik – sulit menemukan terjemahan yang pas). Sudah saatnya “REZIM” Medis perlu mendapatkan control social yang memadai, bahkan sampai pada ranah delik pidana.

    Undang-undang kesehatan pun, sebenarnya masih jauh dari unsur memenuhi rasa kadilan masyarakat. Diamana bila terjadi keluhan pada pasien atas dugaan mal praktek hendaknya diselesaikan pada dewan kehormatan profesi. Ini artinya penyelesaian perselisihan anatara dokter pasien hendaknya diselesaikan oleh kalangan pihak medis, apakah ini dapat memenuhi rasa keadilan. Seharusnya hal ini dapat dilakukan dasar pro justisia. Dan penyelesaiannya harus masuk pada ranah hukum. Hal ini dapat menggambarkan bahwa betapa kuatnya Rezim Medis di Indonesia. Belum lagi mahalnya obat-obatan, yang nota bene, obat diproduksi secara masal, keunikan produksi masal adalah nilai jual hasil produksinya dapat ditekan serendah mungkin. Maka logikanya pasien sebagai konsumen produk medis berupa obat-obatan akan menikmati harga rendah. Lagi-lagi hukum logika pasar bebas (supply-demand) nggak mampu menggoyahkan arogansi Rezim Medis.

    Sudah mafhum dimasyarakat kita bahwa, terdapat kecemasan apakah biaya medis yang dikeluarkan akan sebanding dengan layanan kesehatan yang diterima. Puas-nggak puas – suka nggak suka, pasien harus menerimanya. Karena tidak memiliki alternative lainnya, kecuali layanan pengobatan alternative. Seolah kita mengalami regresi social jauh mendur kebelakang sampai pada tahun tujuh puluhan. Saya masih ingat bahwa untuk memasyarakatkan layanan medis, di kampong-kampung dahulu, selalu dilakukan penyuluhan penyuluhan di desa-desa agar menjauhi para dukun dan berobat ke puskesmas. Namun apa lacur, fenomena dukun cilik Ponari adalah suatu keniscayaan yang tak dapat dihindari sebagai sikap protes terhadap rezim medis kita.
    Sudah saatnya rezim medis berbenah diri kembali pada profesi kemanusiaan dengan menjunjung tinggi aspek kemanusiaan (sense of humanity) dari pada mendahulukan profitable belaka. Kalau nggak mau berbenah diri ya harus rame-rame kita benahi.

    Melalui kasus Ibu Prita ini hendaknya kita bersyukur bahwa kini kita dapat membuka pikiran kita untuk makin peduli pada layanan public di negeri ini. Dengan memberikan tekanan kepada rezim medis agar khususnya juga pihak rumah sakit Omni International agar tidak bersikap arogan dan kembali menonjolkan sisi kemanusiaannya. Karena rezim medis ini adalah bentuk lembaga layanan kemanusiaan. Maaf, inilah salah satu dampak system ekonomi neo liberalisme, lembaga kemanusiaampum dibisnis oriented-kan pula. Apa askeskin dapat juga dilayani di Omni ini ya…..?

    Kembali ke masalah Ibu Prita, saya mengajak kepada segenap warga Negara Indonesia maupun warga Negara asing yang tinggal di Indonesia dan masih memiliki hati nurani, ayo kita sadarkan pihak rezim medis ini dengan cara melakukan BOIKOT. Yakni melakukan tindakan untuk tidak berobat ke Rumah Sakit omni international dalam waktu sama sebagaimana Ibu Prita menerima hukuman penjara. Kalau perlu selama enam tahun sebagaimana tuntutan yang diterima ibu Prita.

    INI BARU ADIL. Keadilan versi masyarakat. Jangan sampai terjadi kesewenang-wenangan lagi dari pihak yang merasa lebih kuat/powerful kepada yang lemah, tidak hanya lemah secara financial aja lho menilainya.
    Rezim medis menurut saya masih memiliki power cukup kuat untuk melindungi kepentingan, dan keuntungan profesinya dari tindak keteledorannya dalam menjalankan profesinya. Dan hal ini pun mereka mampu mempengaruhi undang-undang medis yang di buat DPR, bahwa sangsi hukumnya pun masih sangat lemah, lain kali kita akan mendiskusikannya.

    Pada saat ini kita hendaknya secara bersama-sama untuk peduli dan tidak melakukan hubungan dengan pihak rumah sakit, Satu kata BOIKOT rumah sakit omni. Dan perhatikan apa yang terjadi.

    ANTOK AFIANTO , pasuruan jawa timur.

    Suka

  2. Kita tidak boleh seenaknya mempidana bu Prita Mulyasari.Pertama apakah ada pasal tentang pencemaran nama baik.Oleh karena itu Rs Omni jangan seenaknya saja.

    Suka

  3. Hak bersuara dan berpendapat adalah hak asasi. Terjeblosnya Bu Prita ke dalam penjara adalah ketidak tahuannya tentang masalah hukum. Ayo lawan hegemoni uang dan perkoncoan. Tumpas penindasan kebebasan berekspresi !

    Suka

  4. Akhirnya yg diperoleh KAMPANYE NEGATIF, sesuatu yg sebelumnya tidak diperkirkan sebelumnya. Setelah sadar bahwa hal ini bukannya malah dapat menjaga nama baik dengan memperkarakan bu Prita, lelah sudah maka akhirnya ayo…kita damai saja.

    Mudah2an hal ini dapat menjadikan perenungan kita semua agar segala sesuatu selalu dimulai dengan niat baik, paling tidak hasilnya akhirnya akan baik jadinya, kalau nanti buruk hasilnya ya kita serahkan pada yang Kuasa.

    Coba sebaliknya kalau dimulai dengan niat buruk, hasilnya…..

    Suka

  5. Sebetulnya kalau kasus ini tak menjadi heboh, andai saya membaca emailpun, saya tak terlalu memperhatikan. Maklum di dunia maya ini banyak email yang bertebaran, yang mesti dicek dulu kebenarannya.

    Dengan terbukanya kasus ini, malah semua menjadi tahu, dan bisa membuat citra rumah sakit makin jatuh, padahal rumah sakit tsb juga menampung banyak tenaga kerja rakyat biasa. Sayang sekali……hal yang masih bisa dikomunikasikan dengan baik-baik, jadi ramai seperti itu.

    Suka

  6. wah……
    ini yang salah siapa ya????
    tapi ada kasus yang serupa. sebelum ibu prita.
    bahkan si pasien sampek meninggal..
    terus keluarganya malah disuruh membayar sejumlah uang buat biaya perawatan di rumah sakit.

    bingungnnnnnnnnnn

    Suka

  7. Terus terang saya bosen mendengar berita seperti ini, kenapa tidak ada keikhlasan untuk saling memaafkan dan mengoreksi.

    Ketidakberdayaan menjadi tontonan.

    Suka

  8. Jika sampai ibu Prita Dianggap bersalah saya akan menangis,bukan hanya menangisi beliau tetapi nasib orang kecil yang masih saja bisa ditindas dijaman yg seharusnya penindasan adalah bagian dari masa lalu saja.

    Suka

  9. Indonesia adalah negara hukum. Biarkan prosesnya berjalan. Jangan sampai kita mengabaikan hukum. Keadilan harus ditegakkan.

    Kalau Prita merasa tidak bersalah, tuntut balik. Buktikan di pengadilan. Takut tidak punya biaya? Saya kira pasti banyak pengacara yang mau membela Prita tanpa meminta biaya.

    Kalau Prita memang bersalah, ya itu namanya apes sial saja karena kurang hati-hati dalam berbicara (lisan/tulisan). Apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur (email tersebar).

    Suka

  10. ini kan negara demokrasi,,,
    ibu Prita hanya seorg rakyat yg menuntut keadilan.
    jgn asal menghukum orang dunk!!
    menyewa pengacara itu bth dana!! kt org lemah hanya bs di tindas….
    cb kalau tdk terungkap mn ada pengacara yg mau membela tnp di bayar, imposible d zaman sekarang ini

    Suka

  11. Dear Pa Wir dan Engineers,

    KOMPAS hari ini 07 Juni 2009:
    Depkominfo (pahlawan kesiangan niy) : Email Prita Bukan Penghinaan.. Pasal 27 ayat (3) UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik berbunyi sebagai berikut: “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik”.

    Orang Teknik yang bodoh kayak saya aja paham dengan isi pasal ini, pasal ini mah jerat hukum buat orang yang suka kirim surat kaleng dan kabar bohong tentang orang lain/badan hukum…yang biasanya nama dan alamat emailnya disamarkan..
    semoga kasus bu prita ini bisa menjadi pelajaran dan pencerdasan bangsa.

    Syallom..

    Suka

  12. Ikut prihatin atas kasus ibu Prita, semoga para pembuat undang2 di negeri ini bisa menjelaskan bunyi dari pasal 27 ayat (3) UU No 11 tahun 2008 tentang ITE, supaya tidak ada lagi yg menjadi korban dari UU tsb.

    Suka

  13. biasanya pak wir langsung menanggapi, beberapa komentar, tp ini udah 18 komentar (ada yang panjang lagi), kok pak wir blm ada komentar balik ya?. ditunggu komentar baliknya pak (hihihi…)

    sy mendukung ibu prita untuk menang, & boikot utk “lawannya”…

    Suka

    • @Iyo
      O ternyata komentar baliknya ditunggu tho. Baiklah Iyo kalau begitu.

      Jika mau membaca dengan baik tulisan saya di atas, maka pada dasarnya tulisan tersebut netral, yaitu demi baiknya bersama.

      Satu sisi mengapa saya menulis, adalah karena ada rasa peduli tentang kasus ibu Prita. Bagaimanapun beliau mempunyai hobby yang sama, yaitu menulis di internet. Betul nggak ? Jadi sesama penulis khan mestinya saling mendukung, jadi perlu dibantu. Sehingga diharapkan dengan adanya pemikiran ini maka selanjutnya ada usaha pembebasan sekaligus pemberian ganti rugi bagi ibu Prita.

      Dalam mengusahakan hal tersebut, saya mencoba berpikir pada posisi pihak penggugat, bahwa mereka punya investasi, punya usaha yang melibatkan banyak orang. Pada dasarnya mereka pasti ingin usahanya tetap berjalan, tidak bangkrut, baik itu pemilik atau karyawannya. Intinya, saya ingin mengingatkan bahwa berlarut-larut dengan cara represif ke ibu Prita dengan memanfaatkan undang-undang ITE terhadap keluhan yang tertulis, akan tidak banyak untungnya. Yang jelas, dengan adanya konfilik di atas, maka yang dapat mengambil keuntungan hanya para pengacaranya doang.😦

      Ada kasus maka ada pekerjaan khan.🙂

      Suka

  14. ndak paham aku he he…

    harusnya se ga sampe sejauh ini,, namanya manusia yang kalo ga puas mesti komplain,,
    masak udah bayar buat jasanya kok ga dapet sesuai biaya kan rugi, jadi ya wajar kalo komplain ato ngersulo,,

    wah kalo begini bahaya,, harus hati-hati kalo ngersulo jangan di internet mending oret-oret di kertas dibuang ke tempat sampah ae he he

    Suka

  15. Kebenaran akan terkuak dengan sendirinya…..!!
    perjuangkan kebenaran itu ibu Prita….!!
    Dengan adanya kasus ini semoga memberikan sebuah perubahan yang sangat penting dan berarti sekali untuk semuanya, tentang pelayanan masyarakat di negeri ini yang masih mempunyai budaya ada uang anda menang!!
    (dalam hal ini institusi besar dengan orang lemah)..
    sabar dan ikhlas bu PritA…!!
    KAMI SEMUA MENDUKUNG….keadilan yang harus ibu dapatkan….

    Suka

  16. Bozz, you senang juga berpuisi yah? Apa ngga bisa dipadatkan sehingga ngga perlu seperti novel ? SUBSTANTIF, donk ?

    1. Sengketa adalah kewajaran disetiap negara hukum dan berdaulat.

    2. OMNI menggugat maka OMNI melaksanakan hak hukumnya. Demikian pula PRITA selalu bisa menjalankan hak hukumnya.
    Sengketa PRITA dan OMNI tidak akan menjadi konsumsi publik jika bukan karena penahanan yang dikenakan Jaksa terhadap PRITA.
    Secara substansi hukum, PENCEMARAN NAMA BAIK adalah obyek perkara, sedangkan email adalah tindakan, yang mana PRITA tidak menggunakan email secara melawan hak maupun hukum. Tetapi yang diperkarakan OMNI adalah PENCEMARAN NAMA BAIK.

    3. Jika PRITA tidak merasa telah melakukan tindakan yang dapat dipidana berupa PENCEMARAN NAMA BAIK, maka PRITA diberikan hak untuk membela dan membuktikan bahwa PRITA tidak melakukan tindakan yang dituduh itu.

    5. Adalah JAKSA yang seharusnya menjadi sorotan publik. Bukan PRITA maupun OMNI. Kenapa? Jaksa sepatutnya mengukur bahwa PRITA tidak melakukan tindakan yang unsur-unsurnya sesuai dengan pasal 27 UU Teknologi Informasi. PRITA tidak mengirim email dengan tanpa hak, dan PRITA tidak mengirim email secara melawan hukum (umpamanya ‘spam’). Karena itu PRITA hanya layak dikenakan Pasal 301 KUHP tentang PENCEMARAN NAMA BAIK.

    6. Yang menjadi issue dan perdebatan publik, ialah saat diketahui PRITA dikenakan penahanan. Hal ini bisa terjadi karena Jaksa telah menggunakan Pasal UU Teknologi Informasi yang ancaman pidananya diatas 5 tahun… FYI BOZZ… Jika pasal pidananya diancam dengan 5 tahun penjara / lebih, maka si Tersangka dapat dikenakan PENAHANAN…. Hal inilah yang akhirnya diketahui masyarakat sebagai ketidakadilan, tapi yang dinista bukannya JAKSA justru OMNI…

    7. GARIS DASARNYA… SENGKETA ITU SEBENARNYA WAJAR… YANG NGGA WAJAR ITU SEBENARNYA SAAT ADA PENYALAHGUNAAN WEWENANG APARAT!

    Makanya… jangankan belajar hukum… KONSTITUSI saja, masih banyak orang Indonesia yg ngga paham…. HUJAT SANA – HUJAT SINI TAPI NGGA TAU PERKARA SEBENARNYA… FOOLISH !

    Wir’s responds:
    “FOOLISH”
    O begitu ya pak. Maklum pak, yang nulis kebanyakan orang awam yang hanya bersandaran pada hati nurani saja.😦

    Suka

  17. Lhooo ya tho… !!!!
    Di bagian lain aku dah bilang… kasus ni mesti cepet2 diselesaikan. Disana aju dan nyarankan pihak OMNI untuk ngontak bu Prita, diajak ketemu.. dirumah makan, warung, ato kalo OMNI nda’ ada duit, datang ja ke Solo, sini banyak hik… disitu bilang ke bu Prita, gini :

    “maaf ya bu… kemaren kita khilaf, terlalu ngikuti emosi tanpa mikir benar salanya, gimana kalo kita damai aja… tuntutan kami cabut… dan ini ada sedikit ganti uang bensin bu Prita dari rumah”

    Aku yakin bu Prita nda’ kan menerima uangnya tapi justru yangkeluar dari mulut bu Prita gini :

    ” saya juga minta maaf, mungkin ada kalimat di email aya yang kurang berkenan. “

    Jabat tangan… dan kembali bu Pria beraksifitas seperti semula …. dan nama OMNI juga nda’ makin dicemooh masyarakat.
    Yang musti dipertimbangkan, OMNI musti berfikir OMNI kan rumah sakit, jual jasa medis, mestinya nda’ akan ngangkat kasus ini sampe tinggi2, hingga saya yang di Solo bisa liat kasus OMNI yang jauh banget di ujung barat sana.

    Perlu dicamkan, … sedikit banget yang naruh positiv ke OMNI untuk kasus ini. Menang ato kalah OMNI di kasus ini tetep rugi. Kalo menang, mungkin bu Prita akan masuk… tapi jangan berpikir kalo itu menguntungkan OMNI. Justru makin banyak yang menaruh simpati ke bu Prita dan makin banyak orang akan takut masuk OMNI . Tapi kalo kalah, memang yang akan lebih rugi yakni para Lawyernya, kredibilitasnya turun…

    Lha sekarang terserah OMNI, mau jual jasa medis ato mau jadi jagoan di bidang hukum.

    Dah lah … jabatan tangan dan saling ucapkan “MAAF”
    Semoga semua dikaruniai pikiran yang jernih.

    AMIN
    Do’a dari SOLO

    Wir’s responds: saya yakin kalau anda jadi PR-nya … pasti semakin maju deh. Smart solution, saya setuju banget.

    Suka

  18. Bangsa ini terutama yg merasa sdh intelek, punya duit dan berkuasa, mesti belajar moral dg benar. Bangsa ini terkenal religius tapi tidak mengerti dan memahami akhlak yg baik.

    Suka

  19. mengenai facebook, ya tekhnologi lebih cenderung tergantung pengguna. saya lebih setuju dgn pendapat ini (http://regional.kompas.com/read/xml/2009/05/24/08194589%20/facebook.haram) seharusnya pengharaman hanya berlaku untuk pertemanan spesial yang berlebihan saja, btw friendster & facebook ada celah kesitu ya?? kenapa wordpress dan blogspot ngga kedengeran??

    dan untuk the big pictures “Ibu Prita” yg disampaikan. Si lebih tahu mengendalikan yang lain si tidak tahu, sya tergolongnya. bagaimana saya bisa yakin kebenaran Si lebih tahu mengenai apa yang dialami tubuh saya jika ada suatu bagian yang dirasa tidak normal. paling hanya bisa berpikir oh ya mungkin benar … yg lebih sulit jika harus memutuskan dalam waktu sgt terbatas.

    Kasus seperti ini banyak kemungkinan juga pada bidang lain pendidikan, hukum, ekonomi, dan teknik juga.

    mengenai comment surat kaleng, saya kurang setuju. pencemaran nama baik, tinggal klarifikasi. mengapa kita tidak memandangnya sebagai kontrol sosial??

    Suka

  20. harusnya pihak O*n* bersyukur karena dapat masukan dari mantan pasiennya….. beliau sudah coba complain lewat customer service…. tapi tidak dipandang sebagai hal yang berharga untuk melakukan improvement bagi O*n* …..

    Dilain pihak…… banyak perusahaan yang membayar lembaga survey dengan mahal untuk mendapatkan pandangan dari masyarakat terhadap pelayanan /produknya….

    kasus ini bisa jadi contoh menarik bagi perusahaan dalam mengelola customer service …. suara pelanggan menjadi sangat mahal kalau tidak di kelola dengan baik….!!

    Suka

  21. Kejadiannya udh tahun lalu, koq hebohnya sekarang. Mungkin si Prita ini ingin mencari popularitas di media2 biar terkenal kyk artis gitu lohhh….!!.

    Suka

  22. ibu Prita kami semua mendukung perjuanganmu

    kami sampaikan terutama masyarakat Tangerang dan masyarakat sekitar Jakarta pada umumnya untuk tidak berobat di rumah sakit Omni yang paling internasional itu.

    good luck ibu prita

    Suka

  23. BREAKING NEWS !!!
    JAKSA AGUNG MEMERINTAHKAN MEMERIKSA PARA JAKASA YANG MENUNTUT PRITA, YANG MENURUTNYA
    TIDAK PROFESIANAL.

    TANGGAPAN KEJATI BANTEN ATAS PEMERIKSAAN JAKSA YANG MENUNTUT PRITRA:
    “Kita tidak berbicara siapa yang akan kemudian bertanggung jawab terhadap pembuatan …(BAP),yang penting, tapi siapa yang harus bertanggung jawab mereka yang melakukan tindakan pidana (PRITA). Saya berikan apresiasi kepada jaksa tersebut!!”

    Suka

  24. Keputusan yang bagus mengenai FB,tp masih banyak lagi selain FB, Peredaran Film yg ngga jelas di stasiun Tv swasta ko ngga ada ya? padahal bisa jadi lebih parah dari FB karena audio visual.
    Mending kita mikir gimana memperbaiki ekonomi INDONESIA yang kian terpuruk dari pada hal-hal seperti ini. benar kata anda “kalau pisau itu tergantung orang yang MEMAKAINYA”

    Suka

  25. Bu Prita itu justru korban malpraktek dokter, karena dikatakan trombosit-nya 27.000 lalu diberi obat macem2 malah sampai bengkak segala. Kemudian ketika diminta bukti pemeriksaan lab, tidak ditunjukan. Bahkan pemeriksaan terakhir trombosit 181.000.

    Ini akibatnya kalau otak dokter sudah keracunan mata-duwitan. Semiskin-miskinnya dokter, tidak akan dia tidur di kolong jembatan. Banyak dokter2 berhati mulia, karena menyadari tugasnya. Tugas dokter itu menolong orang sakit, orang susah, sesuai dengan sumpah dokter (kalau memang ijasahnya asli, bukan aspal), kalau ada dokter memanipulasi data, ya itu keracunan otaknya.

    Ibu Prita harus dibebaskan dari segala tuntutan, bahkan RS Omni harus memberikan ganti rugi fisik dan psikologis.

    Suka

  26. hemmmm… pengen komentar sih.. cuman jangan2 dibaca ma si OMNI… ntar malah ikut2an dituntut… gimana ya? buat mas DOGHEM diatas.. kok tega sih ngomong gitu.. masak orang didalem penjara kok malah dibilang mau nyari popularitas… mikir dong…

    Suka

  27. Aku bingung, berobat ke Ponari di Jombang yang murah meriah dibilang sesat, berobat ke OMNI INTENASIONAL yang mahal, malah masuk bui… oalah… sopo sing bener….

    Suka

  28. semoga tidak di vonis bersalah….
    lah dia kan emang cuma curhat lho kok di tangkep……

    Wah jadi ngeri nih klo mau curhat2 ke orang cz tkt di tangkap…… hahah

    Saran buat bu prita lain kali curhatnya lewat diary ajah yha….

    toh sama aja….

    berjuang terus bu saya mendukung mu walau hanya dengan do’a.

    Suka

  29. ummmmhh…lagi byk org ngomongin kasusnya prita vs omni. Gatal juga ya mo ikutan nimbrung..
    Dari pada salah ngomong ujung2nya bisa dikasusin juga mendingan bahas sisi lain kasus ini….diniatin gak memvonis salah satu pihak.
    Yg pasti menurutku sih kasus kyk gini sebenarnya sering tjd di byk healthy service di ind. Sial aja si omni nemuin pasian prita yg “melek”.
    Kasus prita nunjukin begitu pentingnya fungsi PR. Kayaknya PR di omni gak jalan ya…i hv no idea…sekedar ngira2 aja sih.
    Kalo PR omni jago mestinya hal yg biasa kayak gini gak bakal jd heboh yg ujung2 nya (mo menang mo kalah di sidang) tetep aja rugi.
    Ahh…nasi udh jadi bubur….di goyang lagi jg gak mungkin jd nasi lagi.
    Jaman skr yg nentuin segala hal ya “opini”, tukang buat opini kan pers. Pers jg bangun opini berdasarkan angin bertiup di masyarakat. muter2 kayak gangsing ya…hehehehhe.
    Mestinya si PR omni tau itu….arah angin skr kan lagi bertiup ke arah bawah, maksudnya semua yg berembel2 kerakyatan lagi laku keras. Blm lagi mo pilpres.
    Jd ya jgn kaget kalo semua capres menyesalin kasus ini dan support maks ke ibu prita. Ahhh…bu mega kalo gak salah sampe bilang kalo kasus prita tuh dampak dari neoliberalis….hehehhehe….ahhh ada ada aja, pinteeerrrr aja ngubung2in…

    Suka

  30. wah!…. hidup ini penuh warna juga, dan sepertinya masyarakat kita udah bisa menentukan warna apa yang baik……so…..”hati-hati dalam memberikan pelayanan pada masyarakat, masyarakat semakin pinter dan itu….tidak salah!!! justru…..suatu hal yang luar biasa……mereka menuntut haknya, dengan segala kewajiban yang melekat. Pemberi pelayanan kesehatan tidak boleh arogan lagi, karena masyarakat adalah pembeli dan mereka punya hak komplain, menolak, atau menghentikan pelayanan kesehatan. Hal tersebut ada dalam UU Kes. No. 23, Pasien mempunyai “Otonomi”. Hak pasien yang lain adalah mendapat informasi sejelas-jelasnya sebelum tindakan dilakukan. Nah…..apakah pihak RS Omni sudah melakukan? terlepas dari kasus ini, saya pribadi melihat ada perubahan filosofi di beberapa rumah sakit. Rumah sakit bukan lagi berorientasi sosial, tetapi lebih mengedepankan bisnis oriented. Sah-sah saja berorientasi bisnis, tapi unsur profesional dalam kerja, dan pelayanan harus tetap diperhatikan, dengan tetap menjunjung tinggi hak-hak pasien.

    Suka

  31. MATINYA KEBEBASAN BERPENDAPAT

    Biarkanlah ada tawa, kegirangan, berbagi duka, tangis, kecemasan dan kesenangan… sebab dari titik-titik kecil embun pagi, hati manusia menghirup udara dan menemukan jati dirinya…

    itulah kata-kata indah buat RS OMNI Internasional Alam Sutera sebelum menjerat Prita dengan pasal 310 KUHP tentang pencemaran nama baik.

    ………………………………………………………………………………………….

    Bila kita berkaca lagi kebelakang, sebenarnya pasal 310 KUHP adalah pasal warisan kolonial Belanda. Dengan membungkam seluruh seguruh teriakan, sang rezim penguasa menghajar kalangan yang menyatakan pendapat. Dengan kejam penguasa kolonial merampok kebebasan. tuduhan sengaja menyerang kehormatan, nama baik, kredibilitas menjadi ancaman, sehingga menimbulkan ketakutan kebebasan berpendapat.

    Menjaga nama baik ,reputasi, integritas merupakan suatu keharusan, tapi alangkah lebih bijaksana bila pihak-pihak yang merasa terganggu lebih memperhatikan hak-hak orang lain dalam menyatakan pendapat.

    Dalam kasus Prita Mulyasari, Rumah sakit Omni Internasional berperan sebagai pelayan kepentingan umum. Ketika pasien datang mengeluhjan pelayanan buruk pihak rumah sakit, tidak selayaknya segala kritikan yang ada dibungkam dan dibawah keranah hukum.

    Kasus Prita Mulyasari adalah presiden buruk dalam pembunuhan kebebasan menyatakan pendapat.

    Suka

  32. Bukannya memberikan pelayanan terbaik malahan di pidanakan, sebetulnya itu akan sangat merugikan rumah sakit itu sendiri akan menimbulkan image negatip terhadap rumah sakit itu sendiri bila pelayanannya macam begini.Dan orang akan berpikir beribu2 kali kalau seandainya berobat ke rumah sakit ini akan seperti Prita menjadi korban selanjutnya…….itu sangat mengerikan bagi saya dan orang lain ihihihihi…….

    Suka

  33. Ini namanya baru jaman gila, cari rejeki dari memeras orang yang sakit dan kesusahan. Memang susah berurusan dengan orang gila, tidak punya cinta kasih dan kasih sayang, padahal setiap hari dia berdoa ke Tuhan, apa sholat, sembayang, kebaktian dsb. Bagaimana mau dekat dengan Tuhan, kalau tidak ada kasih sayang? Frekuensi getarannya sangat jauh berbeda dengan frekuensi Tuhan yang Maha pengasih dan Penyayang.
    Kita dukung ibu Prita

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s