suramadu dan mahasiswaku


pak Wir nggak punya proyek to ?

Suatu pertanyaan kecil terlontar dalam suatu percakapan dengan salah satu kenalan di facebook. Sangat mengherankan ya, koq tidak sama dengan dosen-dosen senior di tempat lain yang mungkin sangat sibuk dengan proyek-proyeknya. Saya tidak tahu apa yang berkecamuk pada pikirannya, karena percakapan tidak berlanjut.

Kami di UPH memang mungkin berbeda dengan dosen-dosen di tempat lain (tentu saja ini tidak berlaku umum), kami di sini memang dosen-dosen yang full-time bekerja di Universitas, masuk pukul 7.00 pagi dan pulang pukul 16.00 setiap hari dari Senin-Jumat. Dosen UPH yang lain yang seperti saya adalah Prof Dr.-Ing. Harianto H. dan juga Dr.-Ing. Jack W. Saya sebutkan beliau-beliau karena kami bertigalah dosen tetap Jurusan Teknik Sipil UPH dengan jenjang pendidikan doktor, yang biasanya ditempat lain mungkin sudah jarang dapat ditemui di kampus karena sibuk dengan proyeknya. Kalau kami bertiga, jelas masih dapat dengan mudah ditemui di kampus, ya memang itulah pekerjaan kami sebagai dosen (mengajar, meneliti, publikasi dan pengabdian masyarakat).

Jadi kalau ditanyakan proyek-nya secara resmi ya pasti tidak ada, karena jelas dengan keterikatan waktu tersebut. Kalaupun ada keterlibatan, maka itu tentunya masalahnya bisa ditangani di kampus, ini biasanya terkait dengan memberikan solusi sautu masalah, yah tentang hal-hal yang berkaitan dengan “penelitian kampus” atau jika praktis maka itu dimasukkan dengan “pengabdian masyarakat”. Itu mungkin jika ada keterlibatan dengan proyek.

Kalau begitu pak Wir tidak turut membangun negeri ya ?

Apa pula ini. Apa mungkin yang dimaksud, nggak dapat duit banyak dari proyek gitu khan. Ha, ha, ha, . . . kamu ini aneh, namanya orang sudah memilih hidup menjadi guru, maka jelas jangan berorientasi pada materi, pada kekayaan, pasti akan kecewa. Kalau mau kaya, ya jadi pedagang, atau mungkin ikut-ikut jadi caleg, khan bisa punya kekuasaan.

Tentang hal itu, maka jelas itu bukan tujuan hidupku. Materi memang dibutuhkan orang, tentu aku tidak mau hidup yang membuat anak-istriku susah, tetapi ternyata selain materi ada hal lain yang membuatku menarik, lebih dari itu. Yang jelas, sampai hari ini aku dapat mensyukuri kehidupan yang aku terima, bahwa sampai hari inipun aku merasa aku juga dapat turut membangun negeri ini.

Membangun ? Mana pak bangunannya ?

Lho jangan mengecilkan arti lho. Memang bangunan fisiknya belum terlihat, tetapi aku membangun melalui media yang lebih luas yaitu membangun manusia-manusia di sekitarku, baik yang mengenal aku secara langsung atau hanya melalui buah pikiranku, melalui tulisan-tulisanku ini.

Kenapa aku dapat berpikiran seperti itu, karena aku adalah salah satu yang sependapat dengan Descartes (filsuf Perancis) yang menyatakan Cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada. Jadi semuanya di dunia ini ada, dimulai dari pikiran, dari diri sendiri manusia-manusia tersebut.

Jadi yang membuat kita kaya itu adalah bukan dari materi atau kebendaan yang ada tetapi dari buah pikiran kita, kemampuan kita dalam menentukan sikap dan tindakan yang tepat untuk diambil sehingga hasilnya benar adanya.

Lho kalau begitu pak, kalau disuruh memilih, diberi kekayaan, kekuasaan atau kepintaran, itu bagaimana pak ? Padahal banyak orang pandai tetapi miskin, itu katanya, gaji profesor khan kalah jauh dari konglomerat.

He, he, kamu masih lihat dari sisi penampilan fisik, masih terkecoh pada hal-hal yang glamour. Kadang-kadang, apa yang terlihat dari luar, belum tentu begitu didalamnya. Kamu khan bisa melihat itu artis-artis, pada kawin dengan artis-artis lain yang cantik atau tampan, mestinya mereka itu khan bisa hidup bahagia (menurut pikiran kita) khan.

Kenyataan ? Banyak juga khan yang akhirnya pada cerai. Juga pernah diberitakan tentang sepak terjang salah satu taipan atau mungkin dia termasuk keluarga taipan, yang aktif di partai, terlihat glamour juga. Tetapi apa yang terjadi ? Mati bunuh diri bukan.

Itu artinya apa ? Bahwa hal-hal yang dari luar terlihat wah, adalah belum tentu sama seperti apa yang kita bayangkan. Apa yang orang lain lihat sebagai suatu kesuksesan, yang tentunya akan membuat hati senang, ternyata pada kenyataan dapat menjadi tragedi. Ingat saja itu peritiwa di Singapore tersebut. Jadi kalau kita mau jujur dan terbuka maka dapat disimpulkan bahwa buah pikiran seseoranglah yang sebenarnya menentukan, dia senang atau tidak.

Buah pikiran untuk menentukan baik dan buruk suatu pilihan disebut sebagai hikmat kebijakan. Ini adalah sesuatu yang terbesar yang menentukan kualitas hidup seseorang. Dalam hal ini untuk mendapatkan sesuatu yang optimal, yang luar biasa harus dikaitkan dengan kehidupan spritual tepatnya harus dikaitkan dengan Tuhannya. Kamu punya Tuhan nggak ? Mestinya iya khan, wong semua orang di Indonesia ini pasti mengakunya beragama.

Tentang hal itu sebenarnya sudah diketahui lama, ribuan tahun yang lalu, itu jika kita mau membuka kitab-kitab lama kita, itu bukan sesuatu yang baru. Kalau sampai anda tidak tahu rahasia ini, maka akan sangat sayang sekali. Untuk apa sekolah jauh-jauh (di luar negeri kali) tetapi kalau sampai ini tidak tahu, maka belum tentu anda dapat menikmati hidup ini. Mau tahu ? Itu lho pengalaman Solomo atau nabi Sulaiman ketika diberi pilihan oleh Tuhan, lihat apa yang beliau minta :

Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?

Lalu adalah baik di mata Tuhan bahwa Salomo meminta hal yang demikian.
Jadi berfirmanlah Allah kepadanya: “Oleh karena engkau telah meminta hal yang demikian dan tidak meminta umur panjang atau kekayaan atau nyawa musuhmu, melainkan pengertian untuk memutuskan hukum, maka sesungguhnya Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu itu, sesungguhnya Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian, sehingga sebelum engkau tidak ada seorangpun seperti engkau, dan sesudah engkau takkan bangkit seorangpun seperti engkau.
[1 Raja-raja 3:9-12]

Jadi dengan pikiran seperti tersebut di atas aku mencoba membangun negeri ini, yaitu dengan dimulai dari membangunkan pikiran-pikiran manusia.

Apakah bapak bisa memastikan bahwa hasilnya efektif.

Maksudnya ? Apa itu berarti bahwa katakanlah ada 100 yang berinteraksi dengan buah pikiranku, bisa itu muridku atau pembaca tulisanku, lalu itu berarti akan ada 100 yang berhasil dibangun ?

O kalau keyakinan seperti itu yang dimaksud, maka tentu yang punya maksud tujuan di atas, yaitu membangun manusia tadi, pasti akan kecewa. Karena pada kenyataanya tidak akan seperti itu, hal ini tentu akan sangat berbeda dengan yang hidup di dunia entertainment, meskipun scope-nya jg sama yaitu memberi makanan pikiran (panca indera), jika ada jumlah pengunjung 100, masuk ke bioskop maka bisa saja dimungkinkan bahwa yang 100 tersebut akan merasa terhibur.

Adapun yang dilakukan seorang sepertiku ini tentu tidak akan seperti itu, tetapi yang jelas jika pada suatu saat ada pembaca 100 yang datang maka belum tentu pada saat itu pula mereka mendapatkan sesuatu. Nggak masalah itu, yang penting jika sesuatu itu baik adanya, dan karena buah pikiran tersebut sudah diungkapkan dalam bahasa tulis, maka biarkan saja. Suatu saat pasti akan ada buahnya.

Contohnya pak Wir ?

Wah yang tanya ini memang manusia empiris, kalau nggak lihat contoh atau bukti nggak pernah merasa bahwa itu sudah benar. Baiklah kalau begitu aku harus sedikit terbuka, tapi ini jangan disebut narsis ya. Bagaimanapun hal-hal di atas itu benar-benar aku yakini, jadi jika itu menjadikan suatu buah yang luar biasa maka itu biasa saja. Ya memang begitulah. Jika anda pembaca setia blog ini, maka tentu anda akan tahu buah-buah pikiranku tempo hari tentang jembatan, tentang keinginanku untuk menulis buku tentang jembatan, juga ideku untuk mengajak mahasiswa-mahasiswa untuk kerja praktek di proyek-proyek jembatan, ini lho link-nya.

Jika anda membaca tulisanku tersebut maka akan terlihat secara jelas bagaimana aku mencoba mengarahkan fokus pengamatan mahasiswa-mahasiswaku untuk mencoba melihat proyek-proyek jembatan. Selama ini bertahun-tahun, di tempatku, yang namanya kerja praktek pasti selalu gedung, gedung dan gedung. Padahal, proyek gedung pada bidang teknik sipil hanya sebagian saja, masih ada sebenarnya yang dapat dilihat.

Memang sih, proyek-proyek jembatan adanya hanya di luar kota Jakarta. Jadi kalau hanya sekadar berminat, tanpa mau bekorban maka tentu mahasiswa-mahasiswaku tersebut akan memilih yang didalam kota saja. Bahkan ada lho, mahasiwaku yang tidak boleh berpergian ke luar kota, orang tuanya takut, gimana nanti tidurnya, makannya atau sebagainya. Pokoknya nggak gampang lha, perlu niat dan usaha yang besar. Maklum dalam mengerjakan kerja praktek tersebut pihak jurusan tidak menanggung biaya, semuanya diserahkan kepada mahasiswa. Oleh karena itu pula maka tidak boleh juga dibikin sebagai kewajiban bahwa proyeknya harus jembatan.

Karena harus dilakukan dengan sukarela, dan lapang dada, dan dengan kesungguhan maka cara satu-satunya adalah dengan membuatkan suatu artikel di atas, untuk membukakan pikiran mahasiswa-mahasiswaku tadi. Eh, siapa tahu ada yang seide dan dapat mewujudkan buah pikiranku di atas.

Ternyata pada kenyataan, ide setelah dua bulan lebih bergaung dan dibaca oleh pikiran-pikiran manusia muda, ada juga yang menyambutnya dengan antusias. Yosua Tanijaya mahasiswa jurusan teknik sipil UPH tertarik dan bersedia melaksanakan ideku di atas.

Sudah hampir satu bulan ini yang bersangkutan melaksanakan kerja praktek di proyek jembatan Suramadu, Surabaya, salah satu jembatan terbesar yang sedang dibangun di Indonesia. Karena dialah maka aku mendapatkan informasi yang cukup lengkap tentang jalannya proyek jembatan tersebut. Ketika kemarin sdr Yosua memberi presentasi pra-sidang untuk laporan KP-nya, yang bersangkutan dapat dengan mudah menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan dari rekan mahasiswa lainnya tentang proyek Suramadu tersebut.

Itu tentu sangat berbeda sekali dengan kondisi sebelumnya, karena seperti diketahui mata kuliah KP bagi sdr Yosua itu adalah yang kedua kalinya, karena yang pertama dianggap tidak memenuhi syarat. Jadi ini menurutku suatu pertumbuhan, dari manusia tidak tahu menjadi tahu, bahkan dalam satu kesempatan berbicara dengan mahasiswaku setelah dari KP di proyek Suramadu tersebut bahwa dia berkeinginan untuk melanjutkan studi lagi, untuk bisa tahu bagaimana membangun proyek yang seperti itu. Saya tidak tahu apakah ini benar atau tidak, tetapi yang jelas, semenjak ada keinginan di hati (pikiran) maka tentunya jika itu dapat diyakini terus, pasti suatu saat akan terwujud. Adanya pemikiran seperti itu saja menurut saya adalah sesuatu yang perlu dihargai.

Baiklah, karena introduction-ku sudah terlalu lama, maka tentunya anda-anda sekalian ingin melihat, gambar-gambar proyek Suramadu yang diperoleh sdr Yosua tersebut, mari silahkan untuk dinikmati.

yosua3_small

Inilah profil mahasiswa teknik sipil UPH, sdr Yosua Tanijaya, yang berkenan mewujudkan buah pikiranku tentang proyek-proyek jembatan di Indonesia, yang bersangkutan berani mengambil resiko, untuk pergi sendiri melaksanakan kerja praktek di proyek jembatan Suramadu. Dia adalah pioner, semoga ada adik-adik kelasnya berikutnya yang mengikuti jejaknya. Semoga. Dia terlihat dengan gagahnya berdiri didepan jembatan utama, yaitu cable-stayed.

suramadu1_small
Ini adalah kondisi jembatan Suramadu saat mahasiswaku melaksanakan kerja praktek. Kalau tidak salah, ini dari sisi Surabaya. Menurut informasi yang diterima, proyek jembatan tersebut dikerjakan bersama-sama antara kontraktor Indonesia dan kontraktor Cina. Bagian utama, cable stayed bridge dan approach sisi Madura dikerjakan oleh kontraktor cina, tepatnya konsorsium kontraktor cina atau CCC, sedang sisi Surabaya oleh konsorsium kontraktor indonesia atau CCI. Dari tampilan visual foto di atas, maka tentu kita bisa melihat kinerja mereka. Jika mau jujur, maka masih diperlukan kerja keras agar dapat maju sejajar dengan bangsa lain.

Untuk pelaksanaan kerja praktek, ternyata proyek jembatan Suramadu memberi banyak kemudahan bagi mahasiswa-mahasiswa jurusan teknik sipil, ternyata mereka menyediakan divisi atau team khusus yang memberi pembimbingan. Jelas ini suatu keistimewaan dan akan memberi sumbangan besar bagi perkembangan manusia-manusia calon engineer yang mengikutinya. Bisa-bisa dari mereka yang berinterksi di sana akan menjadi bridge engineer yang tangguh. Atas apa yang dilaporkan oleh saudara Yosia, mahasiswaku, saya mengucapkan apresiasi dan terimakasih yang tak terhingga kepada panitia proyek jembatan Suramadu, khususnya kepada :

  • bapak Ir. Iwan Zarkasi, MSc (Departement PU), dimana beliaulah yang memberi petunjuk awal dan mengarahkan mahasiswa saya sehingga dapat melaksanakan KP di sana,
  • bapak Dr.Ir. Fauzri Fahimuddin, MSc. , teman dari PNJ yang kebetulan sedang bertugas di sana, terima kasih pak atas pembimbingan ke mahasiswaku
  • bapak Ir. Sutopo BC, dari konsorsium kontraktor indonesia, alumni JTS UGM 81, yang juga banyak membantu di lapangan.

Kebetulan pak Iwan dan pak Fauzri teman-teman dalam penyelenggaraan KJI di UI tempo hari, ternyata kalau diurut-urut semuanya itu saling bertautan. Itulah dunia.

Karena dukungan yang baik itu pula maka mahasiswaku yang KP dapat juga gambar-gambar foto sebelumnya, misalnya.

31_1

Ini adalah kondisi awal pemasangan deck pada cable stayed, perhatikan bagaimana deck di tengah dipasang dengan dudukan sementara terlebih dahulu, juga crane untuk mengangkat bagian deck yang dikapalkan ke sana.

40_

Jadi deck diangkut satu persatu dengan tongkang mendekati dan diangkut keatas dengan crane seperti diatas terlebih dahulu. Bayangkan itu ditengah laut lho, dan ingat bagian ini yang mengerjakan bukan bangsa kita lho, ini konsorsium kontraktor cina.

41_
Perhatikan detail deck atas jembatan, yang nantinya juga didukung oleh cable. Arah longitudinal penampang box yang mempunyai ketahanan terhadap torsi yang bagus, yang keduanya digabung oleh arah transversal oleh balok-grid yang didesain terhadap lentur karena berupa plate-girder biasa, tetapi ujung-ujung menyambung kaku ke box girder, sebagai penyatu maksudnya.

37_Kelihatannya elemen longitudinal jembatan tidak semuanya disatukan oleh elemen transversal sebagai pengaku, karena ternyata ada elemen-elemen longitudinal yang terpisah pada saat erectionnya. Jika kembali ke gambar sebelumnya maka akan terlihat bahwa segment deck yang menjadi kesatuan longitudinal dan transversal adalah yang ada kabel tariknya. Lihat lagi gambar sebelumnya ada terlihat tempat dudukan kabel prategang.

36_Ini element longitudinal deck jembatan yang berupa box girder sebelum diangkut ke tengah laut. Ini tentunya di daratan. Sisi mana ya, mestinya sisi Madura ya, karena sisi Surabaya khan bagiannya Indonesia. (??)

20_1Adanya perancah di bawah deck jembatan ditengah laut tidak menunjukkan bahwa pemasangannya adalah terlebih dahulu dan baru itu dipasang kabel prategang. Karena perancah yang diberikan hanya pada satu sisi saja, jadi kelihatannya adalah sebagai safety factor, untuk antisipasi kondisi un-balaced dari jembatan ketika dipasang kabel dan di stressing.

Adapun detail dari struktur deck yang dari baja adalah:

detail_deck_1Potongan melintang girder jembatan cable-stayed.

Ada beberapa dokumentasi pemasangan cable-stayed-nya.

24_Kabelnya khusus, yaitu didatangkan dari negeri cina, warnanya kuning karena kabel tersebut ditutup oleh pelindung, yang berfungsi untuk melindungi dari karat. Oleh karena itu proses pengangkatannyapun harus hati-hati, diperlukan dudukan khusus sehingga pada waktu pengangkatan tersebut kabel tersebut tidak terluka.

26_Perhatikan ujung kabel juga khusus, proses pengangkatan ini tentu harus hati-hati, perlu diperhatikan kekuatan crane dan kabel pengangkatnya, juga posisi dudukannya. Meskipun sementara sifatnya, hanya pada saat pelaksanaan tetapi jika gagal karena bobot kabel relatif berat maka bisa menimbulkan kerusakan. Mestinya kemungkinan adanya kerusakan akibat proses pelaksanaan seperti ini juga perlu diperhitungkan dalam perencanaannya, jika tidak, maka sekali ada kegagalan bisa rusak semua konstruksi yang telah dipasang.

25_Pemasangan kabel pada sisi atas pier oleh pekerja dari Cina, bayangkan ini pada ketinggian jauh di atas permukaan laut, dan tentunya angin laut maka cukup kencang pula. Untuk memfoto seperti ini bayangkan, nggak gampang lho, jadi untuk yang membuat foto ini saya minta ijin untuk memuatnya. Ini merupakan salah satu bukti bahwa panitia di sana sangat mendukung pemberian data kepada anak-anak yang melakukan kerja praktek di sana. Sehingga pengetahuan tersebut (membangun jembatan) menjadi tertulas kepada calon-calon engineer kita.

28_Ini pengangkuran kabel di deck jembatan yang berupa angker mati.

42_Detailnya agak berbeda dengan yang dipasang di pier, coba bandingkan.

39_

Angkur atas cable-stayed. Perhatikan ada lubang tempat pengangkatan kabel, yang mana itu tentunya tidak diperlukan untuk sisi bagian bawah. Adapun konfigurasi lengkap dari cable-stayed adalah sbb:

cable-sty1

General design drawing of stay cable

Cross section of stay cable is galvanized parallel steel wires of Ξ¦7mm with high strength, and extruded with two layers of high density polyethylene, of which the inner layer is in black, and the outer layer in color. Standard strength of steel wires is fpk=1670MPa.

Stay cable is tensioned at the pylon end and fixed at the main girder end, and cold cast anchor devices are adopted to anchor the cable. Distance between anchor points of stay cable in the pylon is 2.2m, in the main girder along the bridge is 12m for standard girder segment.

To control the vibration of cable, vibration absorber is placed in the cable sleeve, and the surface of outer HDPE sheath is set as bifilar helix. In addition, according to the actual situation and measured vibration properties of cables after bridge completed, HCA viscid dampers will be also installed outside to lessen the vibration.

vibran
HCA Viscid Damper

17_1Ini adalah tampak jembatan cable-stayed satu sisi, perhatikan perancah di tengah laut yang berada di sisi kiri saja tersebut, yaitu di sisi dengan kedalaman laut yang tentunya lebih tinggi dibanding dengan yang di sebelah kanan, yang tentunya ada pada sisi dalam.

16_1Cable-stayed Bridges of Suramadu

Ukuran atau dimensi jembatan Suramadu khusus bagian Cable-Stayed Bridges dapat dilihat secara jelas pada gambar tampak di bawah ini. Bagian jembatan lain yang merupakan approach di kanan kirinya yang berupa balanced cantilever reinforced concete akan dilaporkan secara terpisah oleh mahasiswa kami yang lain. Vicky dan Eindrick, ditunggu lho.πŸ˜‰

tampak_samping_cable-stayed

2_2

Akhirnya yang sedang duduk-duduk yang terlihat pada foto di bawah ini, mestinya adalah anak-anak muda Indonesia yang sedang belajar di bidang teknik sipil, saya selaku dosennya Yosua mengucapkan terima kasih anda-anda semua telah menemani muridku tersebut, karena dengan kebersamaan tersebut muridku menjadi tidak merasa sendirian. Kamulah calon-calon engineer tangguh di bidang konstruksi di kemudian hari. Dengan melakukan magang atau kerja praktek di proyek-proyek besar seperti ini maka diharapkan kamu semua dapat menangkap aura yang akan memotivasi mu menjadi besar. Dipundakmulah negeri ini akan maju.

13_1

Yosua (UPH 2006) duduk paling kanan, dan teman-teman kerja prakteknya. Sukses ya anak-anak muda !πŸ˜‰

Jadi itulah yang saya maksud dapat berbuah, tidak perlu menunggu 100 atau 10, tetapi cukup satu orang terinspirasi dan juga dilandasi dengan keyakinan yang kuat, maka akhirnya sesuatu yang di dalam pikiran tersebut akan mewujud.

Hal-hal seperti inilah sebenarnya yang aku harapkan dalam mewujudkan keinginanku jangka panjang menulis buku tentang Jembatan Indonesia, jadi bagi teman-teman praktisi pembaca blog ini yang mempunyai akses, informasi dan pengetahuan tentang pembangunan jembatan di Indonesia yang patut diketahui oleh masyarakat luas, mari berbagi.

Informasi tersebut jika hanya anda simpan untuk diri sendiri maka akan sangat disayangkan, pengalaman berharga anda jelas tidak akan tertular atau tersimpan dengan baik. Karena menyimpan dengan baik adalah membagikannya kepada sesama. Jadi bagi teman-teman seprofesi yang ingin hasil karyanya dikenang oleh anak cucu atau cicit kita, mari publikasikan karya anda.

Berminat , hubungi saya di jembatan.indonesia@yahoo.com

33 thoughts on “suramadu dan mahasiswaku

  1. saya juga sependapat dengan pak Wiryanto, harta itu bukanlah segalanya, yang penting ilmu ya pak.. hehe.

    Untuk apa harta banyak tapi tidak bahagia, lebih baik punya ilmu tinggi tapi disanjung orang. hehe.. seperti pak Wiryanto ini.

    Suka

  2. Hmmm… Iya, setiap orang punya panggilan yang berbeda-beda…

    Saya setuju dengan Bapak… Bapak benar-benar orangnya visioner..

    Ada pepatah cina yang mengatakan bahwa kalau mau kebahagiaan, kebahagiaan yg terbesar adalah mengembangkan orang lain (lupa sih lengkapnya bagaimana pepatahnya, intinya ada yg mengatakan kalau mau kebahagiaan 10 tahun, menikahlah, kalau mau kebahagiaan 100 tahun, tanamlah pohon, kalau mau kebahagiaan seumur hidup, kembangkanlah orang lain, itu filosofi yang saya baca dari John C. Maxwell) . Mungkin sekarang belum kelihatan hasilnya, tapi kita melihat jauh ke depan.

    Sepertinya buah-buah Bapak sudah mulai kelihatan dari sharing murid-murid Bapak ya.. Namun belum semuanya.. Masih banyak buah-buah manis yang menanti di depan..

    Semangat ya Pak.. Saya yakin tidak mudah untuk mengambil panggilan sebagai seorang dosen saja. Pasti Bapak menggumulkannya cukup lama. Yang penting adalah dedikasi dan ada spirit of excellence dan juga tentu saja hidup yang mengandalkan Tuhan…

    Maju terus ya, Pak… Be blessedπŸ™‚

    Suka

  3. Di beberapa negara Eropa (juga termasuk Australia) terutama utk bidang engineering, dan applied science, dosen wajib memiliki “kegiatan di luar” (misal dianggap sebagai proyek) sebagai bagian dari kegiatan dosen-nya.

    Universitas bergeser bukan dalam arti Universitas seperti Universitas di abad pertengahan, bahkan di Jerman yang tadinya sangat menganut konsep Univ. abad pertengahan juga sekarang sudah bergeser.

    Proyek ini bukan masalah “pendapatan” tetapi dalam aksi yang dilakukan si dosen (proyek dalam hal ini dalam arti luas). Apalagi dosen di beberapa negara tidak dihitung berdasarkan jam kehadiran tetapi lebih kepada kerja yang dilakukan.

    Di Jerman Profesor memiliki kewajiban hanya 2 hari di kampus. Sedangkan peneliti lainnya juga dihitung jam-nya saja. Bukan dari jam berapa ke berapa.

    Di Indonesia menurut saya keterlibatan dunia akademis dg “dunia luar” masih sangat dibutuhkan dan lebih dibutuhkan dari di negara maju.

    Suka

  4. Salam hormat bapak I Made Wiryana.

    Dua rekan senior kami, prof Harianto dan pak Jack, juga doktor alumni dari Jerman. Mereka tentu mengetahui sekali informasi seperti yang Bapak sampaikan. Tetapi mereka tetap commited dengan pilihan mereka yaitu bekerja sebagai dosen di UPH yang mempunyai komitmen seperti yang telah disampaikan pada artikel saya di atas. Idealnya mungkin seperti yang Bapak IMW sampaikan, tetapi kami di sini juga sadar, institusi tempat kami bekerja relatif masih muda sehingga perlu dukungan penuh untuk berkembang.

    Seperti diketahui, jurusan kami hanya didukung oleh kurang dari sepuluh dosen tetap, jika kami semua mempunyai pemikiran seperti yang Bapak sampaikan , yang mungkin juga dilaksanakan oleh teman-teman di universitas lain di negeri kami (Indonesia) maka tentu tidak ada bedanya dengan mereka, padahal mereka punya banyak staf pengajar dan juga reputasi sudah dibangun lama, jadi pastilah kalau akan kalah bersaing. Ujung-ujungnya tidak dikenal, nggak dapet murid dan akhirnya tutup.😦

    Terus terang untuk memenuhi konsep tri-darma-perguruan tinggi yang baku saja, rasanya waktunya dirasa kurang. Ya itulah institusi kami, UPH. Meskipun demikian informasi Bapak merupakan suatu masukan berharga, tentu akan menjadi pemikiran kami bersama.

    O ya, ada suatu kendala yang sebenarnya kami temui, yaitu kondisi transportasi di Jakarta. Kecuali suatu penyelesaian masalah (ngobyek) yang dapat dilakukan di kampus, seperti misalnya perencanaan dan penelitian lain, maka keterlibatan di suatu proyek yang memerlukan kehadiran di luar kampus adalah menjadi kendala. Lippo Karawaci berada di tepi luar jakarta, meskipun di pinggir jalan tol, tetapi perjalanan dari kampus – Jakarta pada jam-jam kerja adalah sesuatu yang menghabiskan waktu banyak. Jadi katakanlah, untuk suatu meeting setengah jam, maka bisa-bisa perlu waktu 4 jam sendiri, dengan asumsi 1,5 jam pergi pulang.

    Itu pula yang menyebabkan mengapa kalau pulang dari kampus, saya lebih suka langsung pulang. Malas kemana-mana. Maaf itu di Jakarta, mungkin jika di Jerman lain, dan memang lain.πŸ™‚

    Suka

  5. Whoaaaaa… Suramadu..
    Kemarin saya di Tampa Florida dan waaah… Jembatan Sunshine Skyway-nya keren dan sering jadi tempat bunuh diri (lho lho.. lho.. ^_^*!.. mungkin mereka ingin pemandangan indah di detik2 terakhir sebelum bunuh diriπŸ˜› )

    Suka

  6. Halo Pak Wir,
    kita sudah sampai di Surabaya.
    Baru dapat konfirmasi, besok kita dapat memulai kerja praktek.
    kita akan berusaha semaksimal mungkin agar hasilnya memuaskan.
    Mohon dukungan doanya..:)

    Suka

  7. @Vicky dan Eindrick
    Wah kloter ke dua dari UPH telah tiba, syukurlah kalau begitu. Langkah pertama tentu saja jangan lupa dengan pepatah “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”. Bekerja samalah dengan baik, dengan teman-teman sesama KP dari universitas lain, mereka adalah teman sejawatmu juga nantinya.

    Selanjutnya jaga dirimu baik-baik, hati-hati dan jangan lupa berdoa dahulu sebelum mulai bekerja. Semoga sukses.

    Suka

  8. pak,wir. bolehlah saya sebagai salah satu orang yang sangat tidak setuju dengan tulisan bapak, untuk berkomentar.

    1. Selamat bapak telah menjadi dosen yang sangat “ideal”, bagi bapak sendiri.

    2. Jangan salah pak, dosen2 dari institusi pendidikan. dalam proses pelaksanaan konstruksi sangatlah diperlukan. karena status independen dari dosen2 ahli tersebutlah yang sangat diperlukan untuk memberikan win win solution. dan kekuatan nya akan sangat bisa meyakinkan owner. Jadi klo memang mereka mendapatkan “materi” dari jasanya tersebut, ya wajar, kan sebagai reward.

    3. Yang terakhir. pak klo mau nyusun buku, ya cari bahan sendiri to. masa’ anak didiknya yang disuruh berangkat, bapak tinggal merangkum dan menambahkan nama bapak. bagi anak didiknya pak wir, jangan mau mas2 mbak2. lha wong bukunya kan dijual dapat paten dan “materi” juga, apa mas2 dan mbak2 dapet????

    Suka

  9. to all
    Pertama rasanya terpancing juga ingin menanggapi secara langsung komentar sdr Mahatmha, setelah dipikir lebih lanjut ternyata berubah. Saya tidak perlu menanggapi langsung kepadanya , ibarat “anjing menggonggong kalifah pasti berlalu”. Bahkan akhirnya merasa kasihan saja bahwa ternyata ada juga orang Indonesia berpikiran seperti itu.

    Jika masih anak muda, maka saya dapat memaklumi, bagaimanapun hidup itu memang penuh misteri. Itu khan ibarat seperti orang memberi sedekah ke orang lain, apa sih untungnya. Coba pikirkan, dapet apa ??

    Sayang belum tahu kuasa hikmat tentang :”banyak memberi banyak menerima“.

    Yang jelas dari setiap tulisan yang saya sampaikan adalah memang betul “ideal” menurut kacamata diriku sendiri. Tidak hanya ideal, tapi memang bahwa apa-apa yang saya tulis adalah yang terbaik pada saat itu dituliskan. Saya tidak punya pamrih apa-apa dalam hal ini, bagaimanapun apa yang telah aku terima sampai hari ini merupakan suatu anugrah, yang tidak setiap orang mempunyai kesempatan yang sama, jadi sebagai rasa syukurku tersebut maka setiap pikiran yang positip aku coba bagikan ke orang lain, melalui tulisan-tulisanku ini. Aku tidak berpamrih bahwa setiap pengunjung blog ini meng-klik AdSense dan semacamnya. Intinya jika ada orang yang merasa senang dengan mengunjungi blogku maka aku juga merasa senang, dan tidak peduli dengan orang lain yang mungkin tidak senang, mungkin iri, atau pikiran lain.

    Aku sebenarnya nggak peduli dng tulisan semacam di atas. Itu hak merekalah. Karena aku sadar, selama hidup didunia ini maka pastilah itu ada hitam dan ada putih, bahkan ada abu-abu. Jika ada yang senang pasti ada yang sedih/dengki.

    Aku juga sadar, semakin tinggi semakin besar anginnya, sejarah orang-orang besar pada jamannya telah membuktikan itu. Coba aja mulai dari cerita nabi-nabi, pahlawan atau penjahat, semuanya menghadapinya. Menghadapi itu semua maka yang penting adalah punya prinsip, dan yang tidak mau berprinsip, takut resikonya, maka pastilah akan “kabur kanginan”, dan akhirnya menjadi tidak berbekas. Hilang tertelan jaman.

    Komentar di atas memang sengaja saya loloskan untuk memberi tahu yang lain, bahwa dalam mewujudkan suatu idealisme ada-ada saja orang yang sinis atau tidak suka. Itu hal yang biasa, orang-orang yang istimewa atau orang besar pasti menyadari hal tersebut. Hanya waktunyalah nanti yang akan membuktikan, siapa yang benar. Karena kalau mau jujur, pamrihku menulis blog ini adalah untuk menyampaikan rasa syukurku akan anugrah yang telah Tuhan berikan banyak kepadaku. Aku bisa menulis ini pastilah diharapkan Tuhan untuk berbagi semangat kepada yang lain, semoga yang lainpun mempunyai kesempatan yang sama atau minimal bisa belajar hal-hal yang baik yang aku ketahui.

    Seperti juga anak-anak mahasiswaku, aku sampaikan apa-apa yang menurutku baik yang jika aku dapat mengerjakannya maka akan aku lakukan, sehingga yang aku berikan adalah petunjuk seperti halnya petunjuk peta harta. Karena yang disebut harta tidak hanya yang berupa materiil, yang in-materiil seperti hikmat, kadang lebih dahyat adanya.

    Saya kira sekian dulu. Semoga lebih terang maksudnya.

    Suka

  10. membaca komentar bapak untuk sdr Mahatmha, memberi penyegaran …..πŸ˜‰ dan bapak tidak langsung men-delete-nya dan mengomentarinya dengan kata bijaksana.. terimakasih atas tulisannya dan maaf (sambil mohon ijin..πŸ˜‰ ) tulisan bapak saya share ke E-book (kategori structural engineering=pdf) terimakasih tulisannya Pak, mudah2an bermanfaat bagi kami (kaum muda)…
    Amien

    Wir’s responds: sama-sama, semoga Tuhan memberkati.

    Suka

  11. ane pertama jadi tersinggung juga melihat tuduhan macam itu orang bernama mahatma (bukan) Gandi…secara ane kan pendownload setia ebook di sini…hehe, tapi jika pak Wir bisa legowo, kenapa ane ga…

    Suka

  12. Saya berusaha tidak memihak siapa2, namun dari hatiku yang berbicara dan menurutku “ideal” untuk diriku sendiri.
    – Manusia itu tidaklah sempurna, ada lebih dan kurangnya. Kesempurnaan hanya milik Tuhan.
    – Setiap yang kita tulis tentunya sangat diperhatikan benar2 dan sebaik mungkin menurut kita, dan kalaupun ada yang salah atau keliru sudah wajar sebagai manusia, dan terhadap tanggapan negatif maupun positif itu sudah lumrah karena pada prinsipnya pemikiran manusia itu berbeda-beda. Bagaimana kita menyikapinya dengan bijaksana.
    – Salah satu tantangan hidup adalah memberi dan berbagi untuk membuat orang lain senang.
    – Terhadap kritik, masukan dan saran, bagiku semua itu ada hikmahnya.

    Wahh…kog jadi keluar dari topik bahasan ya…? Sorry…
    btw Tulisannya menambah wawasan.

    Maju terus dehhh…

    Suka

  13. Maaf baru sempet jawab, kebetulan saya kenal dg JackπŸ™‚ bahkan tetanggaan. Salamat ja buat Jack.

    Saya di Jerman cukup lama dan tidak studi saja jadi juga melakukan tugas lainnya di seputaran kampus. Oleh karena itu jadi rada tahu dari masalah administrasi dll. Saya termasuk orang “iseng” dan gampang penasaran. Bahkan untuk tahu tidak segan saya harus mewawancari bagian riset dan technology transfer di kampus saya.

    Di Jerman seorang Profesor itu wajib di kampus hanya 2 hariπŸ™‚, selebihnya tinggal tergantung profesor (biasanya mereka meletakkan Sprechstunde alias jam bicara, 1 hari dalam 1 minggu, 1 hari lainnya buat ngajar dsb).

    Seorang profesor “wajib” membuat proyek karena setiap riset, berdasarkan proyek dan pendanaan luar (bhs Jermannya profesor itu harus mencari tambahan utk “Drittelmittel konto” – third party account”).

    Biaya operasi riset group biasanya tidak cukup untuk ditutupi dg Haushaltmittel (biaya operasi tahunan), sehingga seorang Profesor WAJIB mencari proyek baik utk dana tambahan maupun jenjang karir.

    Proyek itu bisa diperoleh dari proyek riset (dari lembaga riset, EU, DFG, dsb), atau juga dari industri.

    Bisa panjang kalau saya cerita proses manajemen dan lembaga riset di Jerman. Sayangnya banyak rekan-rekan ketika kuliah S3 di Jerman kurang tertarik mengetahui seluk-beluk pendanaan dan organisasi riset tersebut, tetapi lebih fokus kepada riset nya “per se” saja.

    Suka

  14. to IMW
    Syukurlah ada orang Indonesia yang bisa “mencuri ilmu” tidak hanya bidang utamanya saja, tetapi juga “masalah administrasi dll” dari orang Jerman.

    Selanjutnya kiprahnya di Indonesia segera ditunggu, agar dapat menjadi suri tauladan teman-teman lainnya disini.

    Salam sukses dari Lippo Karawaci.

    Suka

  15. Dari ulasan di blog ini, terlihat bahwa pada pembangunan jembatan suramadu ini lebih dominan dikerjakan oleh konsorsium kontraktor cina, konsorsium kontraktor indonesia hanya mengerjakan di sisi surabaya.

    Dilihat dari progress nya juga terlihat pekerjaan oleh konsorsium kontraktor indonesia tampak kalah cepat dibandingkan yang dikerjakan oleh konsorsium kontraktor cina.

    Kita tidak tahu secara jelas kenapa CCC bisa bekerja lebih cepat daripada CCI, apakah karena CCC punya dana yang lebih kuat atau memang dari sisi experinece mereka lebih unggul ataukah yang lainnya.

    Terlepas dari itu semua, sebagai bagian dari bangsa indonesia kita tetep harus bangga juga bahwa kita turut andil dalam pembangunan jembatan suramadu tersebut, dan tentunya megaproyek jembatan suramadu akan dapat dijadikan pengalaman oleh kontraktor2 indonesia.

    Bagi kontraktor indonesia, proyek suramadu tentunya adalah proyek yang “luar biasa”, akan tetapi bagi kontraktor cina, tentunya mereka pernah ikut andil mengerjakan proyek2 yang jauh lebih fenomenal di negara mereka.

    Semoga proyek suramadu berjalan dengan sukses dan engineer2 dan kontraktor2 indonesia banyak yang dapat menimba ilmu dari proyek tersebut sehingga mereka semua siap untuk mengerjakan proyek2 lain yang akan lebih fenomenal lagi, ex: JSS (Jembatan Selat Sunda) dan lainnya

    Suka

  16. jangan kuatir pak, manusia tidak mulia karena harta semata..

    artikel jembatannya bagus sekali pak.. ini kunjungan pertama saya ke blog ini, dan tentu bukan yang terakhir kalinya

    Suka

  17. Sebelumnya saya ucapkan terimakasih pak atas petunjuknya yang lalu.
    Pak saya pernah baca tugas akhir S1 untuk analisis angin dan gempa yaitu dengan Dihitung dulu statis tanpa angin dan gempa, kalau sudah ok dicek terhadap gempa lateral statis ekuivalen (20 % terhadap beban mati jembatan) di tower terutama di pertemuan kabel pada puncak tower, kemudian dibandingkan dengan pengaruh gaya angin lateral pada jembatan, kalau angin lebih kecil maka gempa statis ekuivalen lateral yang dominan menentukan. Kok bisa demikian ya pak?

    Jembatan cable stayed untuk angin sebenarnya harus di tes dengan terowongan angin pak dengan membuat model skala kecil dan ini diluar lingkup skripsi saya karena mungkin merupakan pembahasan tersendiri. Dengan masalah seperti bagaimana solusinya ya pak?matur nuwun…

    Suka

  18. alo pak wir… hehehe!!!
    saya sangat setuju pak dengan tulisan bapak…
    hal-hal yang dari luar terlihat baik (materi) belom tentu didalamnya juga baik…
    saya salut dengan profesi bapak sebagai dosen dan penulis yang mampu mempengaruhi banyak orang, termasuk saya sendiri mahasiswa bapak untuk ke arah yang baik (dan tidak terbatas di dunia teknik sipil saja)

    btw, ralat pak yosua bukan angkatan 2006 tapi 2005 sama seperti saya… hehehe!!!
    sukses selalu pak…

    Suka

  19. Saya jadi ingat ketika kuliah dulu di Semarang, banyak dosen saya yang sibuk dengan proyek-proyek mereka.

    Naah, cerdik nya (atau licik yaa..) para mahasiswa sipil yang seneng nggambar (drafting maksud saya) dikumpulkan terus dikasih tugas bikin detail-detail dengan imbalan nilai minimal B untuk mata kuliah drafting. Dan saya termasuk salah satu yang “dikaryakan”. I think how stupid we were before

    Bapak-bapak dosen dapat uang banyak, kita cuma dapat nilai dan teh botol sosro (waktu itu masih seharga Rp.150/botol) hehehe….

    Suka

  20. Pak Wir, saya wartawan dari Halaman Iptek, Koran Tempo. Ingin sekali kontak lewat japri karena kami ingin menulis soal Jembatan Suramadu

    Suka

  21. Ping balik: pylon Suramadu « The works of Wiryanto Dewobroto

  22. Salam hormat Pak Wir,
    saia awalnya hanya site-walking untuk mencari data tentang Suramadu (untuk LKTM). Eh, ketemu blog ini. Ternyata nyaman sekali membaca blog Bapak meskipun saia sangat awam dengan dunia bangun-membangun atau perancangan [saia sendiri mahasiswa Ilmu Komunikasi].

    Terima kasih untuk tulisannya Pak.
    ^^v

    Suka

  23. Pak, Nama Saya Putu Sukma Kurniawan. Saya Mahasiswa Semester 3 di Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Udayana, Denpasar, Bali. Saya sering mengutip tulisan-tulisan Bapak untuk bahan paper saya. Pada kesempatan ini saya mohon izin kepada Bapak. Terima Kasih atas Tulisan Bapak. Semoga ke depannya, Bapak bisa lebih menghasilkan tulisan yang lebih berkualitas. Terima Kasih.

    Suka

  24. Pak Wiryanto Yth,

    Mohon izin untuk memakai foto2 jembatan suramadu Bapak untuk disain cover buku.

    Demikian dan terima kasih.

    Salam hormat
    bpiliang

    Wir’s responds: akan sangat senang juga jika anda mau menmpilkan sumbernya.

    Suka

  25. Ping balik: perlunya berprestasi « The works of Wiryanto Dewobroto

  26. Ping balik: KP-nya sampai KUPANG | The works of Wiryanto Dewobroto

  27. Ping balik: uts – kerja praktek di uph | The works of Wiryanto Dewobroto

  28. Salam Hormat Pak Wir
    Saya sedang mencari data tentang Jembatan Suramadu dan ketemu dgn blog ini. Mohon ijin untuk bahan tulisan saya. Saya merasa tulisan bapak sangat-sangat bermanfaat sekali. Semangat yang bapak kobarkan dari dalam kampus mengena bagi mahasiswa bpk dan mahasiswa yg lainnya. Sukses buat bapak dan terus maju pak ! Jarang loh ada dosen yg punya semangat utk mengobarkan mahasiswanya…

    Suka

  29. Ping balik: Memandang Hasil Karya Anak Bangsa Dari Atas Jembatan | Ety Budiharjo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s