Manunggaling Ilmu dan Laku


Catatan Wiryanto : membaca kompas cetak dini hari ini, saya tertarik dengan tulisan tentang Sosro Kartono yang selama ini merupakan sosok yang menarik bagiku. Ada informasi baru yang kudapat tentang beliau, oleh karena itu aku sengaja sematkan pada blog-ku sebagai referensi.

Trims ya mas Mawardi atas tulisan anda.

Manunggaling Ilmu dan Laku

Kompas, Sabtu, 3 Januari 2009 | 00:53 WIB

Oleh Bandung Mawardi

Alkisah ada seorang bocah pribumi yang telaten dan fasih membaca buku-buku tentang kesusastraan dan keagamaan, baik dalam bahasa Jawa, Melayu, Belanda, Jerman, maupun Latin. Bocah ini sanggup melafalkan dengan apik puisi-puisi Virgilius dalam bahasa Latin.

Ketelatenan belajar mengantarkan bocah ini menjadi sosok yang fenomenal dalam tradisi intelektual di Indonesia dan Eropa. Bocah dari Jawa itu dikenal dengan nama Sosrokartono.

Herry A Poeze (1986) mencatat, Sosrokartono pada puncak intelektualitasnya di Eropa menguasai sembilan bahasa Timur dan 17 bahasa Barat. Kompetensi intelektualitasnya itu dibarengi dengan publikasi tulisan dan pergaulan yang luas dengan tokoh-tokoh kunci dalam lingkaran intelektual di Belanda.

Sosrokartono pun mendapat julukan ”Pangeran Jawa” sebagai ungkapan untuk sosok intelektual-priayi dari Hindia Belanda.

Biografi intelektual pribumi pada saat itu memang tak bebas dari bayang-bayang kolonial. Sosrokartono pun tumbuh dalam operasionalisasi kolonialisme dalam wajah ambigu pendidikan dan peradaban.

Kehadiran institusi pendidikan Barat pada masa kolonial dengan kentara hendak mengantarkan orang pribumi untuk mencecap dan menerima dunia dalam konstruksi pemikiran Barat. Sosrokartono melakoni pola itu, tetapi dengan sadar melakukan proteksi dan distansi dalam identitas dan ikhtiar menjadi manusia. Genius yang spiritualistik.

Mendapat gelar

Sosrokartono menemukan pengesahan intelektual pada tahun 1908 dengan penerimaan gelar Doctorandus in de Oostersche Talen dalam bidang bahasa dan sastra. Sebuah tanda yang turut menginisiasi kebangkitan intelektual-modern Indonesia. Satu hal yang dirasa menjadi ancaman bagi pemerintah kolonial.

Sosrokartono gagal secara akademik mencapai gelar doktor akibat kebencian dan dendam dari juru bicara kolonialisme dan orientalisme Prof Dr Snouck Hurgronye.

Sosrokartono mendapat tuduhan sebagai simbol kebangkitan intelektual dan nasionalisme pribumi. Namun, Sosrokartono tetap mendapat nama, menjadi fenomena, juga problema di Eropa.

Mohammad Hatta (1982) menjuluki Sosrokartono sebagai manusia genius. Hatta mengisahkan tentang perjamuan makan kaum etis (Mr Abendanon, Mr Van Deventer, Prof Dr Snouck Hurgronye, dan Prof Hazeu).

Sosrokartono hadir dalam perjamuan makan sebagai intelektual kosen yang disegani. Kaum etis itu ingin menanggung utang kolonial mereka dengan, antara lain, membantu Sosrokartono merampungkan disertasi doktoralnya. Namun, Sosrokartono menjawab tawaran itu dengan sebuah satir: ”Maaf tuan-tuan yang terhormat, utang itu adalah satu-satunya harta saya. Harta saya satu-satunya itu akan tuan ambil juga dari saya?” Satir itu merupakan hantaman keras bagi politik etis.

Motif kolonial untuk mengembalikan utang sejarah mereka dengan mengembalikan kerugian budi dan materi tak mungkin dapat dipenuhi hanya dengan edukasi, irigasi, atau migrasi. Operasionalisasi politik etis justru mengandung dilema untuk mengantarkan pada pintu emansipasi atau westernisasi melalui sihir pemikiran/intelektual.

Pulang

Sosrokartono pada tahun 1925 pulang ke negerinya (Indonesia) setelah kelana di Eropa sebagai mahasiswa, termasuk menjadi wartawan The New York Herald Tribune. Kegagalan mencapai gelar doktor tidak mematikan spirit intelektual tokoh ini. Bahkan, ia mencoba mendaki puncak lain yang mencoba melakukan sintesis antara intelektualisme Barat dan spiritualisme Timur.

Sosrokartono pulang untuk mengabdi kepada negeri dengan menjadi pemimpin Nationale Middlebare School di Bandung. Akan tetapi, pemerintah kolonial curiga dengan ulahnya itu. Mereka melakukan represi politik terhadapnya. Hal yang membuat genius kita ini mencari jalan ekspresi lain untuk mengabdi dan tetap menjadi manusia bebas.

Sosrokartono memutuskan membuka praktik pengobatan tradisional dan menempuh laku spiritual khas Jawa. Sebuah pilihan yang ganjil, memang. Namun, seganjil apa pun, pilihan itu tak menutupi kontribusi Sosrokartono dalam usaha pembentukan negara Indonesia.

Solichin Salam (1987) mencatat, cukup banyak tokoh kunci dalam pergerakan politik nasionalis saat itu yang berinteraksi dengan Sosrokartono. Soekarno dan Ki Hajar Dewantoro, antara lain, memberi penghormatan besar kepadanya, termasuk pada laku spiritual dalam menopang lakon politik mereka.

Ilmu kantong bolong

Wejangan penting dari Sosrokartono, antara lain, sugih tanpa banda, digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake (kaya tanpa harta, sakti tanpa azimat, menyerbu tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan). Sebuah filsafat laku yang merangkum dunia ekonomi, militer, politik, hingga sosial atau etika.

Misteri besar dalam laku Sosrokartono adalah dalam ajarannya tentang ”alif” dalam pengobatan dan perjuangan hidup. ”Alif” adalah huruf awal dalam sistem huruf hijaiah (Arab). Huruf ini adalah simbol kunci dan menentukan.

R Mohamad Ali (1966) mengisahkan, pemasangan alif pada satu tempat yang dipilih Sosrokartono harus dilakukan dengan upacara.

”Alif” mengandung pengertian sebagai pusat kekuatan Ilahi. ”Alif” adalah Sosrokartono dalam laku spiritual untuk menebar cinta kemanusiaan. Huruf alif merupakan simbol untuk laku mengurusi kondisi lahir-batin manusia.

Sosrokartono lebur dalam Islam dan spiritualitas Timur. Pilihan dan pemahaman alif di atas tentu mengacu pada Islam, di mana huruf juga dianggap memiliki rahasia dan kesuciannya sendiri.

Ja’far Ash-Shadiq (schimmel, 1996: 230) mengungkapkan: ”Tuhan membuat huruf sebagai induk segala benda; indeks dari segala sesuatu yang bisa dilihat…. Segala sesuatu bisa diketahui melalui huruf.”

Ajaran terkenal Sosrokartono yang lain adalah ilmu kantong kosong, kantong bolong, dan ilmu sunyi. Mohamad Ali (1966) mengungkapkan ilmu kantong bolong dalam wilayah etis-filosofis. Nulung pepadane, ora nganggo mikir wayah, waduk, kantong. Yen ana isi lumuntur marang sesami (Menolong sesama tanpa peduli pada waktu, perut, kantong. Bila ada sesuatu, diperuntukkan kepada sesama manusia).

Ungkapan itu ditulis Sosrokartono pada 12 November 1931. Apakah masih ada relevansinya dengan situasi sosial dan kemanusiaan kita hari ini?

Kenyataannya, pelbagai tindakan manusia hari ini cenderung tidak bebas dari pamrih, mulai dari uang hingga kekuasaan. Hal yang terefleksi oleh pernyataan di atas.

Ilmu kantong kosong merupakan laku cinta-kasih kepada manusia dan Tuhan. Cinta kasih sempurna adalah antusiasme dan empati untuk menolong sesama manusia dalam mengatasi derita, rasa sakit, dan duka. Cinta-kasih adalah ekspresi pengabdian kepada Tuhan.

Sementara ilmu sunyi adalah puncak laku spiritual dengan mengosongkan diri (pribadi) dari sifat pemujaan diri dengan mempertaruhkan diri secara lahir-batin untuk menolong sesama manusia.

Sosrokartono dengan kalem mengungkapkan, ”Saya adalah manusia. Oleh sebab itu, kemanusiaan tidaklah asing bagi saya.”

Manunggaling akal-jiwa

Sosrokartono (1877-1952) adalah sisi lain intelektual pribumi dalam bayang-bayang kolonial. Genius kontroversial yang menyelami penuh spirit nasionalisme-humanisme. Biografi tokoh ini adalah bab penting dalam sejarah Indonesia modern.

Sosok Sosrokartono memang memperlihatkan keganjilan dalam jalan besar yang pernah dilalui intelektual negeri ini. Ia melakukan semacam sintesis—jika tidak ingin disebut sinkretisme—antara ilmu (intelektual) dan laku (spiritual). Jalan ini memberi kontribusi tersendiri dalam riwayat politik, misalnya. yang dipenuhi lakon-lakon kotor.

Kompetensi intelektual Sosrokartono ketika di Eropa membuat pelbagai kalangan kagum dan takjub. Pilihan menjalankan disiplin ilmu-laku saat ia kembali ke negeri sendiri memang membuat banyak pihak terkejut.

Akan tetapi, bukankah perilaku mendua itu masih juga tercermin hingga hari ini? Atau memang demikianlah karakteristik elite kita, puncak adab dan budaya kita: manunggaling intelek lan spirit?

Bandung Mawardi Peneliti Kabut Institut, Menetap di Karanganyar, Jawa Tengah Jateng

Artikel di tempat lain yang terkait :

5 thoughts on “Manunggaling Ilmu dan Laku

  1. Salam kenal Pak Wiryanto. Saya Pringgana, dosen di FT Sipil Unwar, Bali. Saya adalah salah satu penggemar blog ini.

    Saya baru tahu kalo ada tokoh bernama Sosrokartono. Dari uraian di atas, hebat sekali pencapaian beliau, sulit kiranya dicari tandingannya. Yang saya ndak ngerti, ya ilmu kantong bolongnya itu lho. Apa sih makna dibalik kata digjaya tanpa aji ? Hebat tanpa ilmu, pintar tanpa belajar ? Atau gimana…

    Suka

  2. Apa sih makna dibalik kata digjaya tanpa aji ? Hebat tanpa ilmu, pintar tanpa belajar ? Atau gimana…

    Salam kenal mas Pring, yah siapa tahu bisa diundang ke Bali. ** he, he **

    Tentang “hebat tanpa ilmu atau pintar tanpa belajar” saya kira bukan begitu maksudnya.

    Digdaya tanpa aji, mungkin bisa dikaitkan juga sakti tanpa azimat. Tetapi bukan berati itu sama dengan “hebat tanpa ilmu”. Menurut pendapat saya, itu sebenarnya mau mengungkapkan bahwa dalam bertindak untuk mencapai tujuan (digdaya = berdaya hebat = mak jozz = selalu sukses) jangan hanya mengandalkan aji atau jabatan atau ijazah dan semacamnya aja. Tetapi karena sikap hati dan ilmu yang kita punyai.

    Juga tentang pintar tanpa belajar, rasanya tidak benar. Bahkan diperlukan sikap “ngelmu iku kelakone kanti laku“, bahwa apa yang perlu dicapai harus dilakukan dengan perjuangan dan kerja keras.

    Kantong bolong menurut bapak Sosrokartono, untuk menunjukkan bahwa berbuat sesuatu itu jangan pamrih kepada diri sendiri. Mau ini karena ada uangnya, sehingga diharapkan berkantong tebal. Bolong artinya berlubang, jadi jika punya kantong yang berlubang itu khan artinya apa-apa yang kita masukkan pasti jatuh (hilang) jadi nggak bisa tebal-tebal. Oleh karena punya pemikiran seperti itu, maka keinginan berbuat untuk dimasukkan kedalam kantong (untuk kepentingan diri sendiri) menjadi tidak ada.

    Jadi kalau bukan untuk diri sendiri, lalu untuk apa berbuat sesuatu. Ya untuk mensyukuri kepada pemberi hidup ini. Kenapa harus berbuat, ya untuk menunjukkan keberadaannya, bahwa dirinya telah diberi hidup oleh penciptanya. Jadi kalau tidak berbuat seperti itu berarti kehidupan yang diberi oleh Nya tidak di syukuri.

    Jadi ujung-ujung dari tindakan Sostrokartono adalah usaha untuk memuliakan pencipta-Nya.

    Hebatnya bapak Sosrokartono tidak berselimutkan agama secara khusus, tetapi lebih kepada sikap hidup.

    Bagi orang jawa, rasanya itu tidak ada yang aneh. Ingat “harta” dalam bahasa jawanya adalah “banda” atau harafiahnya sebagai yang “ikatan”. Jadi “harta” jika tidak dimaknai dengan baik bisa menjadi “ikatan duniawi” dalam kehidupan kita ini. Emangnya ada orang yang suka diikat.

    Begitu mas Pring, sedikit interprestasi dari ajaran bapak Sosrokartono.

    Suka

  3. Hamit pasang kaliman tabik,
    Nuwun kula nuwun,

    Menarik sekali membaca sekelumit tentang Sosrokartono ini, semoga bisa menjadi salah satu rujukan dalam membebaskan Bangsa Indonesia dari kaum “Pokoke Kanthong Isi”.

    Mugi rahayu,
    CSR

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s