natal dan tahun baru (Masehi – Suro)


Bagi teman-teman pembaca blog yang merayakannya hari raya Natal. Kita wajib bersyukur selalu, bagaimanapun kedatangan-Nya di dunia merupakan bukti kasih-Nya kepada kita.

Selamat Natal 25 Desember 2008 dan
Tahun Baru 1 Januari 2009

Seperti diketahui di antara dua event tersebut, terselip pergantian tahun baru Jawa, 1 Suro. Kebetulan saat menulis ini, penulis berada di warnet di utara SD Kintelan, Jogyakarta, sehingga suasana 1 Suro dapat tertangkap secara lebih mengesan. Pada malam kemarin, malam satu Suro, penulis bermaksud untuk mengikuti rituil “mbisu” mengelilingi benteng. Tapi apa daya, masuk angin, jadinya batal. Wah, kalau jadi mungkin banyak yang dapat diceritakan.

Satu Suro adalah tahun baru Islam yang sekaligus sama juga dengan tahun baru Jawa, ini kalau tidak salah. Karena di Jogja, maka suasana Jawa-nya lebih terasa. Bahkan saya pribadi merasakan seakan-akan menjadi satu bagian dari tradisi tersebut. Itu pula yang menyebabkan ada keinginan mengikuti acara ‘mbisu’ tersebut.

Merayakan satu Suro, terasa lebih sprituil dibanding merayakan tahun baru Masehi. Bandingkan di Jakarta misalnya, suasana tahun baru umumnya dirayakan dengan memberi kesan hura-hura. Coba aja lihat, banyak terompet yang dijual, suasana pesta malam hari di Ancol. Sedangkan jika 1 Suro ini, suasananya lain. Lebih banyak dilakukan secara diam (mbisu) , kalaupun rame, itupun berupa ‘menanggap‘ wayang kulit.

Menurut pendapat penulis, suasana merayakan tahun baru sebenarnya seharusnya seperti 1 Suro tersebut, bagaimanapun suasana hura-hura tidak ada gunanya. Akan lebih baik, jika kita melakukan mesu diri, berdiam untuk melakukan introspeksi terhadap apa-apa yang telah kita lakukan, dan apa-apa yang sebaiknya kita siapkan untuk menghadapi tahun baru yang akan datang. Selanjutnya diakhiri dengan doa kepada Tuhan yang maha Esa, mohon bimbingan dan perlindungan-Nya dalam menyongsong tahun baru yang akan datang tersebut.

Jika itu dapat dilakukan, maka itu akan lebih baik, tidak ada enerji yang terbuang sia-sia (energi listrik, enerji bahan bakar dll). Itu khan baik dalam menyongsong resesi yang katanya akan makin terlihat di tahun 2009 mendatang.

Semoga ini menjadi renungan kita bersama.

2 thoughts on “natal dan tahun baru (Masehi – Suro)

  1. “Akan lebih baik, jika kita melakukan mesu diri, berdiam untuk melakukan introspeksi terhadap apa-apa yang telah kita lakukan, dan apa-apa yang sebaiknya kita siapkan untuk menghadapi tahun baru yang akan datang”

    point yang bagus…ketika diri pribadi sdh bisa mengekang emosi dan melakukan instrropeksi diri serta merancang masa ke depan untuk kebaikan umat & lingkungannya maka dia sdh mencapai tempat yang mulia…teruskan dan sebarkan virus ini bung.

    Suka

  2. selamat Pesta natal 2008 dan Tahun baru 2009 untuk pak Wir sekeluarga. Semoga di tahun yang baru ini kita senantiasa dibimbing oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Amin

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s