skill and talents


Masuk dalam grup penulis ternyata cukup menarik. Tahu sendiri khan, namanya saja penulis, pasti semua merasa mempunyai keistimewaan (keahlian) yang patut ditularkan ke orang lain. Penuh percaya diri begitu.

Yang terakhir itu jelas perlu, jika nggak percaya diri, bisa-bisa bukunya nggak laku ! Nggak ada yang mau beli. Jadi kalau mau jadi penulis (maksudku penulis buku yang diterbitkan) maka keyakinan diri akan apa yang ditulisnya harus ada. Harus merasa bahwa apa yang ditulisnya adalah yang terbaik yang pernah ada, sehingga harapannya orang-orang mau membaca dan membeli buku tersebut.

Jadi bisa dibayangkan, jika orang-orang yang mengaku diri sebagai kelompok penulis tersebut bertemu. Meskipun semuanya termasuk golongan yang pede-pede, tetapi jelas dalam kelompok yang terbentuk maka pasti ada yang bercerita dan ada yang mendengar. Nggak bisa semua ngomong khan. Tentu yang sedang cerita punya materi yang lebih menarik untuk diungkap dibanding penulis lain yang jadi pendengar.

Salah satu topik yang menarik dari pertemuan tersebut adalah ketika salah satu penulis yang sekaligus hacker berbicara tentang skill dan talents, yang umumnya juga dipunyai oleh seseorang penulis. Secara kasat mata, orang dapat diketahui skill dan talent-nya dari pengalaman dan gelar yang dipunyainya. Menarik juga ya. Jadi itulah mengapa, para pemilik perusahaan atau manager HRD melihat seseorang berdasarkan CV-nya. Dengan melihat daftar pendidikan atau pengalaman kerja maupun prestasi yang dipunyainya, maka seseorang dapat diketahui apa skill dan talent-nya.

Menurut si-hacker yang juga penulis, ke dua hal tersebut banyak dipunyai oleh orang Indonesia. Lihat saja, ada saja khan yang menjuarai lomba fisika tingkat dunia, juga banyak dijumpai profesor-profesor top, dan lainnya. Tapi mengapa kita kalah dengan luar negeri. Begitu katanya.

Ternyata skill dan talent saja tidak cukup !” Begitu kata mantap si hacker.

Masih ada hal lain yang diperlukan, selain skill dan talent, dan kita umumnya menganggap remeh hal tersebut. Hacker tersebut dengan semangat berceramah di depan penulis-penulis yang lain. Karena terlihat begitu bersemangat dan mendominasi, maka para penulis pada merubung. Yang lain itu apa hayo ?

Ada penulis lain yang menebak. “Attitude” atau sikap seseorang !

Itu jawaban klise orang Indonesia“, begitu si hacker menimpali. “Begitulah jawaban umum yang biasa diberikan orang-orang kita. Bahwa agar maju, selain skill dan talent, maka sikap (attitude), kerja keras, ulet dan banyak berdoa adalah salah satu syarat-syarat lain yang perlu dipenuhi agar sukses. Itu nggak salah sih“, si hacker menjawab seperti sedang memberi kuliah kepada murid-muridnya yang notabene teman-teman sesama penulis.

Tapi menurutku bukan itu, yang kurang dari orang Indonesia adalah imagination“, si hacker menyatakan dengan mantap.

Imajinasi, nah lho. Dari imajinasi yang didukung oleh kreativitas, dan juga skill serta talent maka terciptalah invensi. Invensi teknologi itulah yang sebenarnya membuat negara maju.

Percaya nggak sama si hacker tentang pendapat di atas ?

Aku sih mengamini.😉 Maklum, pengalamannya khan jadi hacker. Jadi banyak menemui hal-hal yang sebelumnya tidak ada, jadi pengalaman masa lalu susah jadi rujukan. Tanpa punya imajinasi tinggi, maka paling-paling hacker-nya tingkat pembongkar password atau bikin virus yang gampang dijinakkan, karena sudah diketahui kelemahannya.

Jadi, imajinasi itu penting ! Tapi jangan imajinasi kotor lho.😉

<<up-dated>>

Membaca ulang cerita di atas, jadi ingat masa-masa sekitar tiga tahun yang lalu, yaitu waktu diminta untuk mencari topik atau judul penelitian disertasi untuk menyelesaikan program S3 ini. Gampang-gampang susah lho. Constraint-nya banyak, mulai dari keterbatasan waktu, biaya, sarana-prasarana maupun tenaga atau komunitas ahli yang mendukung. Maunya sih suatu penelitian yang murah, gampang, tetapi cukup meyakinkan para guru besar penguji, bahwa sesuatu yang kita teliti ini mempunyai kebaruan, ilmiah yang berbobot dan cukup mantap, sehingga tidak timbul pertanyaan-pertanyaan yang meragukan, yang akhirnya bisa-bisa membuat disertasi ini gagal.😦

Coba, apa yang saya lakukan pada waktu itu ?

Mungkin karena aku orang jawa, dimana orang tua juga masih suka menghormati ilmu kesepuhan maka aku mengikuti usulan mereka yaitu melakukan tetirah.

Ha, ha, ha, pasti banyak yang menyangka klenik gitu ya. Tetirah yang aku maksud ini adalah berkunjung ke makam-makam leluhur. Seru lho. Di sana merenung, mengosongkan pikiran. Wah gawat ini, karena aku pernah dengar bahwa kata seseorang, mengosongkan pikiran itu berbahaya. Bisa kemasukan setan, begitu katanya.😦

E, e jangan dikira ke makam luluhur itu di kampung padat di pinggir desa. Tentang hal itu, apa ini suatu keberuntungan atau bukan, yang jelas aku punya makam leluhur yang seru, di atas bukit ! Naiknya aja harus melalui anak tangga yang jumlahnya aja lebih dari seratus. Dari atas makam tersebut aku bisa melihat laut pantai selatan. Wah jadi ingat cerita silat SH. Mintarjo itu lho “Api dibukit Menoreh”.

Lalu pak Wir, apa hubungannya dengan cerita skill dan talents. Ini koq menyimpang ?!

Nggak-nggak koq. Di situlah itu mungkin bagian imajinasi yang diceritakan oleh si hacker tersebut berkembang di pikiranku. Itu tepatnya imajinasi atau ilham ya, atau bahkan wangsit, kaya raja-raja jawa itu.🙂

Ah peduli amat lhah, tetapi yang jelas, setelah tetirah itu aku jalankan dengan sukses tidak begitu lama kemudian aku dapat ide topik dan judul penelitian, yang mana kemudian dapat aku ajukan dan ternyata sangat didukung promotor. Selanjutnya, ternyata kemudian proses disertasi dapat berjalan lancar.😉

Siapa tahu ide di atas dapat juga diterapkan bagi orang lain. Siapa tahu.😉

4 thoughts on “skill and talents

  1. wah ada tambahan pengetahuan baru nih Pak,saya baru dengar “invensi” itu…

    btw mau tanya Pak, saya pernah dengar orang bilang klo seorang engineer sekarang tidak cukup hanya semata-mata sebagai engineer semata, tapi harus menjadi teknokrat agar bisa bersaing, menurut Bapak betulkah itu ?

    Suka

  2. @fajrin
    Engineer sekaligus Teknokrat !
    Terus terang ini merupakan pengetahuan baru bagi saya.😉

    Oleh karena itu saya mencoba mencari tahu arti teknokrat yang sebenarnya di internet yang kebanyakan menyebutkan bahwa teknokrat adalah penentu kebijakan (pemerintah) yang dipilih karena kemampuan profesionalnya, dan kebanyakan ditujukan kepada para ekonom yang dipilih dalam kabinet. Sedangkan jika yang dipilih adalah para engineer maka ada yang menyebutnya teknolog.

    Apa betul yang kamu maksud adalah seperti itu.

    Jika itu maka mestinya kamu bisa menjawab sendiri bukan. Atau mungkin ada maksud lain ?

    Mungkin yang lebih tepat untuk disandingkan adalah entrepreneuer, yaitu kewiraswastaan. Mungkin itu bisa.

    Tetapi berbicara tentang cukup atau tidaknya ilmu atau ketrampilan lain bagi seorang engineer maka sebenarnya itu tergantung dari kasus per kasus.

    Jika anda engineer, telah bekerja pada perusahaan multi-nasional yang bonafide, yang mana unsur-unsur lain sudah terspesialisasi ke bagian-bagian yang khusus, maka agar kita dapat dipakai terus sebagai engineer maka tentu harus lebih spesialis, mendalami ilmu tersebut. Tapi kalau anda jadi engineer di perusahaan kecil, serabutan misalnya, maka agar survive maka anda harus multipurpose function. Bisa jadi engineer, bisa jadi ahli marketing, bisa jadi apa sajalah, wong namanya saja srabutan.

    Tentang hal tersebut, mana yang lebih baik saya kira tergantung pribadi masing-masing. Maksudnya seseorang bisa saja mengambil jalannya sendiri-sendiri dan bisa sama-sama berhasilnya. Yang penting dalam hal ini adalah bagaimana dia mensikapi problem yang dia jumpai dan dapat mengatasinya.

    Evaluasi akhir dari pilihan tersebut apa betul atau tidak adalah bahwa dia dapat mensyukuri apa yang telah menjadi pilihan hidupnya. Itu saja.

    Suka

  3. thank you very much, Sir…it’s really inspiring 🙂
    (saya minta ijin re-post di blog saya)

    ya, seperti itulah yang saya ingin tw, Pak..
    Hal ini terkait juga dengan wejangan-wejangan dari dosen-dosen saya dulu di ITS dan juga di UMM sekarang bahwa dalam dunia ketekniksipilan itu yang paling berperan adalah “pengambil keputusan” dalam hal ini pemerintah dan parlemen, setelah itu pemilik modal, dan yang terakhir di limpahkan kepada para engineer. Saya jadi berpikir, bagaimana jika engineer itu masuk ke ranah “pengambil keputusan” dalam hal ini menjadi seorang teknokrat, yang pandai “merencanakan” juga pandai mengambil keputusan. Contohnya seperti bung Karno, dulu beliau kan selain sebagai presiden juga seorang engineer…

    Suka

  4. Ping balik: Jurusan Teknik Sipil di Indonesia dengan Peringkat A (versi BAN-PT) | The works of Wiryanto Dewobroto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s