review buku ttg Roosseno – 1


Mempelajari jejak orang-orang sukses adalah penting, dari situ kita dapat belajar banyak hal-hal yang patut ditiru maupun ditinggalkan. Sehingga kita dapat tahu hal-hal yang mungkin negatif, tanpa harus mengalami sendiri. Oleh karena itu, ketika gencar ada peringatan 100 tahun Roosseno tempo hari, maka secara tidak sadar timbul pertanyaan-pertanyaan tentang beliau, khususnya tentang sebutan beliau sebagai BAPAK beton INDONESIA.

Sebagai orang yang mengenal dan memakai beton, maka tentu saja adanya sebutan di atas adalah suatu hal menarik.

Bila banyak orang yang termotivasi masuk bidang teknik sipil karena terinspirasi beliau, itu menurut tulisan yang aku baca. Tetapi terus terang, ketika aku masuk jadi mahasiswa teknik sipil, aku sama sekali tidak tahu, siapa itu Roosseno. Kebangetan ya.ūüė¶

Hanya ketika aku kerja praktek pertama kali di Jakarta (1986) , yaitu di proyek perluasan hotel Sahid jakarta, aku mengetahui bahwa engineer perencananya dari PT. Limaef adalah lulusan ISTN. Ketika aku tanya apa itu ISTN, aku mendapat jawaban bahwa itu institut teknik yang didirikan oleh profesor terkenal di bidang beton yaitu bapak Roosseno. Jadi aku ingat, disitulah pertama kali aku mengenal nama beliau. Tapi sejak itu, baik ketika aku bekerja di dunia praktis (konsultan perencana) maupun ketika jadi dosen, terus terang aku jarang berinteraksi atau mengenal lebih dekat orang-orang dari ISTN (maksudnya ahli struktur lulusan institusi tersebut). Jadi meskipun lama berkecipung di dunia konstruksi dan juga struktur beton, tetapi pengetahuanku tentang Roosseno maupun ISTN yang didirikannya relatif minim, atau bisa kusebut tidak familier. Terasa jauh sekali, bahkan sampai hari inipun saya tidak tahu letak kampus ISTN yang di Srengseng tersebut. O ya, ada sedikit koreksi, ada teman juga sih dari Bali yang kalau tidak salah juga dosen ISTN, tapi itu karena teman kuliah di S2 UI.

Keingin-tahuanku tentang Roosseno, menjelang 100 tahunnya mendapat tanggapan, yaitu ketika berkunjung konsultasi ke promotorku sesaat menjelang sidang ujian tertutup. Dalam salah satu dialog dengan Prof. Sahari, beliau menunjukkan salah satu tulisannya yang baru, yang termuat pada buku tentang Roosseno. Seperti biasa, ketika berdialog dengan promotorku, maka kadang tidak hanya membahas hal-hal yang terkait langsung dengan materi disertasiku, beliau banyak juga berbicara tentang hal-hal lain, termasuk karya tulis beliau dalam bentuk buku. Maklum, kami sama-sama penulis buku, jadi meskipun berbeda generasi dalam usia, tetapi mempunyai kesamaan dalam berpikir. Itulah enaknya jadi penulis, bisa menjadikannya sederajat untuk berdiskusi dengan seorang promotor senior.

Jadi ketika beliau menunjukkan buku tentang Roosseno, langsung kupingku tegak berdiri. “Apa itu Prof ?“, kataku. O ternyata buku bergambar candi Borobudur tersebut adalah terbitan Yayasan Obor Indonesia,¬†¬†judulnya “ROOSENO jembatan & menjembatani” , editor Wiratman Wangsadinata dan G. Suprayitno.

Sejak itu aku berusaha untuk mencarinya. Karena ternyata di buku tersebut, promotorku memberi tahu bahwa ada tulisannya untuk mengenal Roosseno. Ternyata prof. Sahari mengenal juga secara pribadi dengan beliau. Editornya ternyata bapak prof Wiratman, yang secara pribadi kukenal pula sewaktu aku mengawali karir di dunia engineering ini.

Baru hari ini buku tersebut aku dapat, yaitu di toko buku Gramedia, Metropolitan Mal Bekasi. Harganya Rp 80 ribu.

Baru dari buku tersebut aku mengenal, siapa itu Roosseno, yang banyak meninggalkan jejak kenangan bagi murid-muridnya dari ITB, UI dan juga ISTN. Ternyata murid-murid Roosseno banyak yang menjadi guru-guruku, misalnya Prof. Sahari (promotorku), juga Prof. Wiratman (bos-ku dulu di PT W&A), selain itu dosen-dosenku di UI yaitu Prof. Budi Susilo Supanji, Dr. FX. Supartono, bapak Syahril.

Isi buku tersebut terdiri dari tiga bab. Bab pertama berisi tentang rekaman pidato Roosseno. Bab kedua berisi catatan pemikiran kerabat. Pada bab kedua ini banyak diutarakan kenangan dari orang-orang yang pernah dekat dengan beliau. Disini ada tiga guru-guruku yang menuliskan kesannya yaitu prof. Wiratman, prof. Sahari dan prof. Budi Susilo Soepandji.

Bab ke-3 adalah bab yang terakhir, ini mencakup separo isi buku, yang berjumlah 327 halaman itu. Judul bab tersebut adalah “refleksi pemikiran dan aktualisasinya“. Melihat judulnya sih cukup menarik, maunya sih ingin menunjukkan dampak hasil pemikiran bapak Roosseno. Mungkin begitu maunya. Ada sepuluh artikel, semuanya ditulis oleh dosen-dosen ISTN.

Tapi menurutku, tulisan-tulisan pada bab-3 itu anti klimaks dari maksud keberadaan buku tentang bapak Roosseno tersebut. Jika pada bab-bab sebelumnya, saya mendapat tahu tentang pikiran-pikiran Roosseno, juga kesan-kesan positip dari murid-murid beliau yang telah “jadi”, maka pada Bab 3 tersebut aku tidak mendapati satupun tulisan dari seseorang yang menggeluti bidang teknik sipil yang menjadi bidang utama yang ditekuni oleh seorang Roosseno. Bahkan banyak diantaranya (para penulis di bab 3 tersebut), tidak pernah berinteraksi keilmuan dengan bapak Roosseno.

Jadi apa artinya itu.

Mengapa tidak ada tulisan satupun dari orang-orang ISTN yang berlatar belakang teknik sipil. Padahal bidang keahlian itulah yang merupakan bidang keahlian yang ditekuni dan yang membuat harum nama Roosseno. Meskipun ada yang mencoba membahas tentang mekanika, tapi terus terang, karena yang menulis bukan ahlinya, maka sayapun juga agak bingung. Sayang !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s