pelaksanaan KJI-08


KJI, Kompetisi Jembatan Indonesia 2008 baru saja selesai. Jika pada tahun 2005 dan 2006, penulis datang sebagai peserta, maka pada tahun ini datang sebagai Juri. He, he, he, peningkatan ya.🙂 Kelihatannya hanya penulis saja yang mempunyai pengalaman seperti itu, teman-teman Juri yang lain umumnya belum punya pengalaman sebagai peserta.

Tahun ini, yaitu pelaksanaan lomba ke-4, semua juri yang ada berasal dari luar PNJ (tuan rumah penyelenggara KJI), jadi benar-benar independen. Harapannya agar hasil perlombaan dapat berlangsung lancar dan terbebas dari adanya anggapan bahwa jurinya berat sebelah. Karena bagaimanapun juaranya adalah untuk memperebutkan Piala Mendiknas, yang bersifat Nasional. Benar lho dari Menteri Pendidikan Nasional. Karena bagaimanapun juga ini adalah lomba resmi yang diakui dan dibiayai negara via Ditjen Dikti Depdiknas. Memang dalam hal ini pelaksanaannya bekerja sama dengan Politeknik Negeri Jakarta. Menurut pendapat penulis, ini lomba satu-satunya di bidang Teknik Sipil yang cukup besar yang didukung oleh anggaran negara bidang pendidikan. Jadi nggak bisa lho kalau dipandang sebelah mata, dan tentu saja ini dapat menjadi event penting yang tidak boleh dilupakan oleh para mahasiswa teknik sipil di Indonesia. O ya, ini diikuti oleh semua perguruan tinggi yang mempunyai jurusan teknik sipil, baik berupa institut, universitas atau politeknik.

Team juri tetap dipimpin oleh Dr.Ir. Heru Purnomo, dari FTUI. Jika memperhatikan rapat-rapat dan keputusan yang diambil maka team juri berusaha berpedoman pada buku Paduan KJI yang telah ditetapkan. Memang sih, dari hasil perlombaan ada beberapa item-item yang mempunyai kelemahan sehingga perlu dievaluasi lagi untuk perlombaan berikutnya.

Baiklah untuk berikutnya, penulis ingin mengungkapkan apa-apa saja yang terlihat pada acara tersebut dari sudut pandang penulis sebagai juri. Moga-moga ini dapat merekam sebagian fakta yang ada, sehingga dapat melengkapi untuk menjadi dokumentasi maupun masukan demi kemajuan acara tersebut. Bagaimanapun, acara tersebut telah menelan data ratusan juta, sehingga kalau event seperti itu tidak kita manfaatkan sebaik-baiknya demi kemajuan calon-calon engineer Indonesia, tentu akan sangat disayangkan.

Acara KJI 2008 tanggal 7, 8, 9 dan 10 Agustus 2008 merupakan acara final, yaitu setelah dievaluasi dari sekitar 50 proposal yang masuk sehingga hanya diloloskan 12 peserta jembatan baja, dan 6 peserta jembatan kayu. Evaluasi didasarkan oleh kelengkapan proposal tentang rencana jembatan yang akan dilombakan. Proposal selanjutnya dijadikan referensi juga untuk mengevaluasi konsistensi rencana dan hasil aktual jembatan pada saat dilombakan. Jika terjadi perbedaan kena penalti yang cukup telak, yaitu tidak bisa jadi juara. Jadi proposal menjadi spek pengikat. Jadi 12 peserta jembatan jembatan dan 6 peserta kayu sudah merupakan peserta terpilih lho. Istimewa lho. Jadi kalau mereka datang maka pulangnya juga akan mendapat hadiah, yaitu para finalis sebesar Rp 3 jt (kalau tidak salah lho).

Acara tanggal 7 Agustus, semua peserta diterima oleh panitia, juga penempatan jembatan model di pit, di lokasi lomba sekaligus mendaftarkan diri. Semua peserta luar kota mendapat tempat akomodasi di wisma UI (namanya udah benar ya). Gratis. Peserta paling jauh adalah dari Universitas Tadulako, Sulawesi. Wah selamat, anda sudah bisa datang dengan selamat di UI Depok adalah suatu prestasi tersendiri. Saya yakin, wawasan anda akan bertambah, siapa tahu dengan pengalaman ini membuka kesempatan untuk menjadi pioner dan dapat memotivasi teman-teman lain dari Sulawesi. Anda harus bangga bahwa pada acara KJI tahun ini, anda telah dapat bertanding dengan teman-teman UI dan ITB yang dibimbing langsung oleh para profesornya. Jika belum mendapat nomer, tidak mengapa, yang jelas anda sudah mulai menapak, yang mana dengan tapak-tapak yang anda buat tersebut akan membawa anda ke suatu kondisi yang lebih baik lagi. Ayo, teman-teman di Sulawesi, jangan mau kalah dengan teman-teman dari Universitas Tadulako.

Presentasi Peserta Lomba

Hari ke dua, tanggal 8 Agustus adalah acara presentasi oleh para peserta lomba. Ini memberi kontribusi nilai sekitar 10% untuk merebut juara. Kecil sih, tapi lumayan untuk latihan presentasi. Secara umum, dapat disebutkan bahwa tidak banyak dari para peserta tersebut yang dapat menyampaikan presentasi tentang desain dan falsafah perencanaannya dengan baik. Umumnya lebih banyak menjabarkan latar belakang perencanaan yang masih bersifat umum, yang sekedar copy-and-paste dari spesifikasi pembebanan atau peraturan tentang jembatan.

Karena acara presentasi ini para peserta hadir bersama-sama dalam satu ruang presentasi, maka jelas pertanyaannya nggak bisa generalis. Untuk itu saya mencoba memakai pernyataan yang disampaikan peserta sendiri untuk dijelaskan lebih detail. Seperti misalnya, ketika ada yang bercerita bahwa hasil program menunjukkan bahwa torsi-nya besar. Lalu saya akan bertanya, kenapa bisa timbul torsi yang besar. Para peserta tersebut umumnya akan bilang, karena program menunjukkan itu pak. Pasrah sama program. Lalu jika saya lanjutkan, jika anda tidak pakai program, pelajaran analisa struktur apa yang memungkinkan anda bisa mengevaluasi bahwa gaya dalam pada struktur tersebut adalah torsi. Peserta hanya diam. Dari enam presenter tersebut, hanya dua team peserta yang dapat diajak berdiskusi tentang gaya-gaya yang bekerja. Sebagian lainnya cukup pasrah, pokoknya programnya begitu pak. Kenapa begitu ? Wah, gak tahu, katanya. Yah, kalau begitu, mereka masih perlu belajar lagi untuk jadi engineer, jika tidak maka nanti hanya bisa jadi tukang aja lho.

Begitu kira-kira hasil presentasi. Tentang penilaian, aku nggak pelit-pelit koq, jika pasrah tetapi karena sudah berusah payah maka saya kasih nilai 60, tetapi jika mampu menjawab atau memberi respond ngotot terhadap pertanyaan-pertanyaanku maka aku kasih nilai antara 80-100. Biar nggak kapok ikut.

Ini sebagian foto-foto peserta saat presentasi.


Ibu Lanny Hidayat, juri dari PU siap mendengarkan peserta presentasi. Presenter dan juri sama-sama putri, ini bukti bahwa sikap dan harapan dari Ibu Kartini sudah terjadi. Hidup ibu kita Kartini.🙂


Salah satu peserta yang cukup lincah menjawab pertanyaan-pertanyaan dewan juri. Pak Jaja, juri dari PU sampai manggut-manggut. Kayaknya sudah cukup pantas lho disebut engineer. Sukses ya.


Ini dari Tadulako, jauh ya. Aku ingat, karena peserta yang pakai kacamata tersebut mendatangi aku dan memperkenalkan diri, bahwa ternyata mahasiswa tersebut pembaca setia blog ini. Sukses ya, bahkan sampai lupa saya menanyakan namamu.

Pembukaan Resmi Acara oleh DIKTI

Selanjutnya pada hari ke-tiga, Sabtu tanggal 9 Agustus 2008, acara perlombaan di buka secara resmi oleh Dikti di gedung Q Politeknik Negeri Jakarta.


Piala Mendiknas “Reka Cipta Titian Indonesia” diserahakan dari juara umum tahun lalu PNJ ke Wakil Mendiknas untuk diperebutkan kembali pada perlombaan kali ini.

Pelaksanaan Lomba Hari ke-1 Jembatan Kayu

Ini suasana lomba di lapangan yang dinanti-nantikan, yaitu jembatan model kayu.

Team Universitas Brawijaya – Malang


Salah satu peserta lomba dari Unbraw, perlengkapan K3 menjadi salah satu penilaian dari dewan juri. Perhatikan peserta yang naik diatas perancah, mengkaitkan tali pengaman pada kabel. Itu menunjukkan bahwa yang bersangkutan sadar bahwa K3 adalah penting. Tidak banyak peserta yang melakukan hal ini. Hal ini tentu saja memberi penilaian positip bagi para juri, hanya sayang sepatu yang digunakan belum menyiratkan sebagai safety shoes. Nggak apa-apa, tahun depan mungkin sudah diperbaiki.


Ini merupakan salah satu peserta yang pada akhirnya menjadi kategori jembatan dengan waktu pelaksanaan tercepat, yaitu jembatan model dari Univ. Brawijaya Malang.

Terus terang, foto-foto pada lokasi di atas lebih banyak karena penulis ditempatkan sebagai juri fixed, sehingga baru bisa melihat peserta lomba lain setelah peserta pada lokasi di pojok ini selesai. Untunglah peserta dari Unbraw di atas dapat cepat dengan selesai sehingga punya kesempatan keliling-keliling.

Team Politeknik Negeri Malang


Satu team sedang tekun merakit jembatan di atas jig yang telah disiapkan. Perhatikan seluruh anggota team (empat orang) berada pada satu sisi. Di sana tidak terlihat alat-alat bantu launching. So, bagaimana cara erection-nya ya.


O begini to erection-nya. Lho tapi sekarang koq sudah ada team peserta pada satu sisi yang lain. Perhatikan landasan biru di bawah jembatan dianggap sebagai sungai yang tidak dapat diseberangi tanpa alat bantu (nggak boleh pakai perahu).

Dari perbincangan di meja juri, ketahuan bahwa anggota team di atas menyeberang dengan melewati sungai (berjalan). Wah ini menjadi perbincangan ramai para juri dalam memutuskan pinalti yaitu pengurangan nilai yang cukup banyak. Hal-hal seperti ini perlu diperhatikan betul lho. Para juri cukup concern dengan cara erection yang dilakukan, efeknya pada score kecepatan pelaksanaan dan score pada metode konstruksi. Sayang khan, pada dua kategori tersebut tidak dimungkinkan untuk jadi juaranya. Tahun depan perlu dipikirkan lagi ya.


Jembatan pada kondisi akan dibebani, yaitu pemasangan alat ukur. Perhatikan asesori jembatan yang masih terpasang. Pada saat pembebanan ada baiknya dilepas. Juri pada saat tersebut sudah memberi tahu kepada peserta, tapi pesertanya tidak tanggap. Ya sudah, itu khan menjadi tambahan beban yang tidak perlu bagi jembatan tersebut.

Team Politeknik Negeri Jakarta


Ini peserta dari PNJ, perhatikan lampu kuning kelap-kelip di atas, ada sirenenya juga lho. Dari sisi K3 cukup lengkap.

Team Institut Teknologi Bandung, Bandung


Team dari ITB dibawah arahan bapak Dr.Ir. Sigit Darmawan, tampak memberi aba-aba dengan penuh semangat.


Metode pelaksanaan yang diterapkan oleh team ITB patut diacungin jempol. Hal tersebut didukung oleh pernyataan juri yang berlatar belakang PU bahwa hal tersebut sesuai dengan pelaksanaan di lapangan. Oleh karena itu mereka memberi nilai tinggi. Jadi team ini adalah kandidat juara kategori metoda pelaksanaan konstruksi terbaik.


Yang sangat menarik dari cara kerja team ITB adalah bahwa proses erection jembatan benar-benar dilakukan dari satu sisi dengan proses cantilever launching. Terlihat bapak Dr.Ir. Sigit Darmawan memberi instruksi apakah tumpuan ujung sudah tepat diatas abutment.

Cara di atas banyak juga diadopsi oleh para peserta yang lain, hanya sayangnya masih diperlukan anggota team yang menerima ujung jembatan pada sisi lainnya, atau tidak 100% seperti metode di atas. Cara ini rasanya cukup inovatif untuk lomba pada hari itu. Patut di tiru.🙂

Proses pelaksanaan menjadi objek penilaian para juri mobile, mereka berpindah-pindah dan membandingkan proses pelaksanaan jembatan model. Jika ada peserta yang merakit dengan cara mengangkat jembatan (ya karena memang cukup ringan untuk diangkat) maka cara tersebut menurut pertimbangan para juri mobile adalah salah besar. Mana ada jembatan diangkat pakai tangan, begitu pendapat para juri tersebut di sidang juri. jadi mereka yang seperti itu harus kena penalti, atau angka hukuman.

Team Universitas Muhamadiyah Malang, Malang


Jembatan model di atas, adalah dari team UMM di Malang. Dari sisi waktu pelaksanaan lebih cepat dari jembatan team Unbraw yang sedang saya awasi selaku juri fixed, oleh karena itulah saya tidak sempat mengambil gambar proses pelaksanaannya.

Jembatan model di atas, adalah korban dari harus berlakunya konsistensi Rancangan Proposal (yang pertama kali) dengan yang harus dilaksanakan. Itulah konfigurasi sesuai Rancangan Proposal, bagi seorang engineer melihat bentuk di atas langsung tahu bahwa bentuk tersebut tidak sesuai untuk perletakan sendi-rol (dalam kenyataan perletakannya bearing pad-bearing pad di kanan kiri). Jadi ketika dibebani maka jembatan di atas adalah pemecah rekor lendutan yang terbesar untuk lomba hari itu.

Menjelang  lomba, engineer dari UMM sebenarnya telah menemukan kemungkinan permasalahan di atas, oleh karena itu mereka modifikasi dengan menambahkan sling (tali baja) di bawah jembatan. Efektif sih. Tapi masalahnya para juri menemukan kondisi tersebut, karena ketahuan menyimpang dari proposal maka diberi ultimatum. Siapa peserta yang mempunyai konfigurasi tidak sama dengan Rancangan Awal maka jembatannya kena penalti: tidak bisa juara.

Ini mah seperti buah simalakama. Tidak pasang sling maka lendutan besar, tidak juara juga. Pakai sling maka lendutan akan kecil, tapi kena penalti. Kasihan.😦

Pelajaran yang harus diambil adalah pikirkan masak-masak dalam perencanaan, konsistensi harus diusahakan. Saya kira ini pelajaran berharga dari tema UMM, tahun depan pasti akan kembali dengan strategi yang lebih baik.

Team Universitas Kristen Maranatha, Bandung


Ini adalah strategi pelaksanaan dari team Universitas Kristen Maranatha Bandung, gelagar besi ditumpangkan diantara perancah kayu warna biru muda, yang pelaksanaannya dengan ditarik dan didorong pada kedua sisi. Ini model yang cukup banyak diadopsi karena tidak menyalahi ketentuan lomba. Adapun perakitan jembatan di atas sungai, meskipun disediakan perancah menjadi kontroversi para juri, yang jelas juri mobile yang menilai strategi pelaksanaan yang berlatar belakang PU tidak terlalu mendukung, jadi jika ada seperti itu maka dipastikan nilainya jelek. Tenang bukan UKM koq.

O ya, untuk team lomba di atas dipimpin langsung oleh ibu Ing (Tan Lie Ing, ST., MT), Ketua Jurusan Teknik Sipil UKM. Hebat khan, jaman sekarang cita-cita Kartini adalah sudah nyata ada, engineer-engineer putri adalah biasa, nggak beda kompetennya dengan engineer pria.


He, he, apa ini. Koq kelihatannya lagi adu argumentasi. Bu Ing sampai bengong.

Wah lihat, perlengkapan K3-nya cukup komplet ya, sepintas lalu kayak petugas PLN yang akan memanjat tiang listrik tinggi ya.🙂


Inilah jembatan kayu dari team UKM sedang dinilai oleh juri mobile dari segi keindahan. Warnanya bagus juga ya, hijau lambang peduli lingkungan.

Tapi omong-omong itu bautnya koq kelihatan sedikit banget. Itu mungkin yang menyebabkan meskipun bentuknya baik (dari kaca mata struktur) tetapi ternyata lendutannya cukup besar kedua setelah jembatan UMM yang memang dari sisi struktur tidak tepat. Ingat ya, kekakuan atau rigiditas sambungan tidak terdeteksi oleh program SAP2000. Jadi meskipun pada analisis memperlihatkan lendutan yang kecil, tetapi jika rigiditas jembatan sesungguhnya tidak bisa dibuat sama maka jelas kekakuannya akan terpengaruh. Untuk tipe sambungan geser seperti di atas, maka SLIP pada baut atau sambungan perlu dipikirkan masak-masak. Ini mungkin PR untuk tahun depan, bagaimana membuat sistem sambungan real yang sama dengan yang dimodel strukturnya.

Pelaksanaan Lomba Hari ke-2 Jembatan Baja

Jika pada hari pertama lomba yaitu Sabtu tanggal 9 Agustus 2008 hanya dipertandingkan 6 team peserta, maka pada hari kedua akan dipertandingkan sejumlah 12 team peserta. Tempatnya terbatas, oleh karena itu pelaksanaannya dibatasi menjadi 6 team persession (pagi hari) dan sisanya 6 team pada sessi ke-2 (siang hari). Inilah mengapa jumlah finalis hanya dibatasi 6 untuk kayu dan 12 untuk baja.

Team Universitas Kristen Maranatha Bandung


Team asuhan bapak Ginardi, dosen pembimbing yang selalu aktif berpartisipasi pada acara lomba ini sedang merangkai perancah gantung, sistem yang kelihatannya baru dibanding sebelumnya. Wah ada kemajuan sekarang pak Gin.  Terlihat di depan bapak Dr.Ir. Fauzri Fahimuddin, ketua panitia penyelenggaraan KJI 2008 sedang hilir mudik dengan videonya. Sukses ya pak.


Ternyata perakitan jembatan baja team Maranatha cukup cepat, dan hanya butuh dua orang saja. Coba lihat, anggota team yang putri memang disengaja pada satu sisi yang lain memperhatikan proses perakitan. Mungkin itu memang disengaja, pria kalau bekerja dengan dilirik oleh teman putrinya khan jadi malu jika terlihat lemah. Ini tampaknya strategi barunya pak Gin. Pakai doping nggak pak.🙂


Cepat sekali meluncurnya ya. Bisa ditiru nih. Terlihat para peserta sedang memasang papan lantai, kemudian memindahkan alat bantu. Selesai deh.


Inilah jembatan baja team Maranatha, sepintas lalu memang mirip dengan jembatan pada perlombaan tahun-tahun sebelumnya. Meskipun demikian ada beberapa juri yang cukup jeli, dan saya tahu apa yang dimaksud. Pada sidang juri sempat menjadi pertanyaan, tetapi karena belum ada klasul tersebut pada buku panduan maka akhirnya para juri merujuk Buku Proposal Team Maranatha yang telah disetujui. Ternyata hal tersebut sudah dinyatakan pada buku proposal, oleh karena itu para juri sepakat bahwa kondisi di atas tidak menyimpang, karena konsisten dengan rencana yang diajukan. Jadi dengan demikian sistem jembatan diatas merupakan inovasi baru dari team Maranatha. Wah kayaknya pak Gin mikir serius banget nih untuk teamnya, sukses ya jadi Juara ke-3.

Eh, omong-omong inovasi yang saya maksud di atas pada tahu nggak sih ? Silahkan mikir sendiri deh.🙂

Catatan : untuk para juri yang lain, inovasi seperti itu boleh nggak untuk acara tahun berikutnya ?

Team Politeknik Negeri Bengkalis


Politeknik Negeri Bengkalis, meskipun baru pertama kali datang, tapi langsung menggebrak. Cukup rapi bukan, hanya sayang saya tidak sempat mengabadikan proses konstruksinya.

Team STTNAS Yogyakarta


Inilah jembatan baja dari STTNAS Jogja, terbuat dari pipa persegi hollow. Jika merujuk pada tampilan fisik, ada juri yang memperkirakan bahwa kinerjanya akan memuaskan. Ternyata lendutan yang terjadi cukup besar. Ya, itu diperkirakan sistem sambungannya tidak terlalu kaku, perhatikan bautnya hanya satu untuk merangkainya. Apalagi bautnya baut biasa, sistem tumpu, maka ketika bekerja akan terjadi slip terlebih dahulu. Slip itulah sumber lendutan yang terukur pada lomba berikutnya. Ingat kondisi slip tidak akan terdeteksi meskipun anda menganalisis memakai program komputer canggih seperti Ansys atau Abaqus, apalagi kalau hanya pakai program SAP2000. Nggak akan kelihatan itu. He, he, SAP2000 belum segala-galanya lho, kalau ingin jadi engineer sejati.

Saya kira pengalaman seperti di atas akan meningkat engineering judgement para pesertanya. Jangan menyerah ya wong jogja. Tahun depan kembali lagi. Yang jelas, anda sudah mewakili Jogja lho. Hebat khan.

Team Universitas Indonesia


Sistem jembatan baja arch adalah sistem yang dipilih oleh team UI, cukup menarik juga ya. Perhatikan juga kostum pesertanya, kelihatannya seperti seragam terjun payung. Benar nggak sih. Tapi yang jelas masih mencerminkan warna almamaternya yaitu KUNING. Terlihat didekat tiang di pinggir, Prof. Dr. Ir. Irwan Katili, selaku dosen pedamping dari team UI terlihat tersebut melihat kerja anak didiknya. Tumben bapak Profesor turun tangan sendiri, atau ini merupakan bukti nyata bagaimana perhatian guru terhadap muridnya. Kalau sekarang Profesor UI saja mau turun tangan sendiri, maka saya yakin para profesor yang lain tidak mau kalah untuk turun bertanding pada lomba berikut.


Ternyata proses erection jembatan model tidak berjalan mulus, strategi penggunaan launching nose tidak terlalu efektif, mungkin karena tidak kaku. Untuk mencegah kegagalan yang lebih parah, salah satu peserta menyebrang (kena penalti). Jadi dari point metode konstruksi tidak mendapat nilai. Yah, nggak apa-apa, dari segi kekuatan perlu dicoba, mungkin juga dari segi keindahan. Siapa tahu.🙂


Akhirnya setelah dengan kerja sama team yang baik, dan berbagi tugas yang tepat, yaitu dua di sisi kiri dan dua di sisi kanan, meskipun kena penalti (karena ada yang menyebrang), jembatan team UI berhasil dipasang dengan baik. Keren juga yah. Itu merah-biru-kuning, jika kuningnya diganti putih jadi kaya bendera perancis ya.


Prof Dr.Ir. Irwan KATILI berpose ria bersama calon-calon engineer UI yang ternyata mampu juga berperan sebagai tukang, karena selama ini yang paling banyak mendapat pelatihan khan otak bukan otot. Begitu khan Prof.

Bagaimanapun Prof. Katili adalah suhu penulis di bidang Finite Element, dan selama itu pelatihan yang paling banyak dilakukan adalah di belakang komputer dan kebanyakan hanya memakai otot-otot jari jemari. Jadi kalau disuruh mengangkat besi jembatan yang gede seperti itu, ya minta ampun deh.

Team Institut Teknologi Bandung


Jika jembatan UI terlihat besar, maka jembatan team ITB terlihat ramping sekali. Meskipun tampilan luar yang dipilih berbeda, tetapi yang jelas, dosen pendampingnya tidak mau kalah dibanding UI. Team ITB kali ini dibawah bimbingan Prof. Adang Surahman. Jadi sama-sama seru dong.


Akhirnya rampung sudah proses perakitan jembatan. Jozz … jozz .. jozz .. begitu mungkin teriakan yang ingin disampaikan dengan kepalan tangan, otot dan otak sama-sama kuat. Gitu khan.


Ternyata, batang tekan bagian atas tidak tertahan baik terhadap bahaya buckling. Jadi ketika dibebani dengan beban rencana batang tersebut mengalami tekuk. Padahal beban yang diberikan adalah beban kerja bukan beban ultimate. Jadi jembatan tersebut menurut pendapat saya sudah fail. Kondisi kerusakan seperti ini belum tercantum pada buku panduan, jadi bisa saja terjadi simpang siur pendapat. Tetapi yang jelas persyaratan lendutan maksimum L/800 itu adalah persyaratan beban kerja sehingga mestinya jembatan tidak mengalami deformasi yang berlebihan (kasat mata). Untunglah ini tikda menjadi perdebatan panjang lebar karena lendutan yang terbaca sudah melampaui lendutan yang diijinkan. Untuk mengantisipasi konflik di kemudian hari, klasul seperti kasus ini harus tercantum pada buku panduan.

Input Peserta Tentang Proses Penilaian

Selanjutnya perlu  juga diungkapkan hal-hal yang mungkin menjadi ganjelan peserta yang diterima oleh para juri. Pada prinsipnya, karena jurinya independen maka semua keluh kesah peserta ditampung untuk kemudian didiskusikan bersama untuk mencari penyelesaiannya. Kata kuncinya adalah buku panduan dan dokumen proposal peserta yang diterima panitia, karena bagaimanapun itu adalah bukti tulis kesepakatan yang diterima oleh para peserta dan juri yang dapat dijadikan pegangan.

Adapun masalah-masalah yang penulis atau juri dengar dan menjadi bahan diskusi pada rapat dewan juri adalah :

  • Tentang pemakaian bearing-pad. Ternyata ini menimbulkan persoalan, bagaimanapun bearing-pad semacam karet yang meskipun ini merupakan bearing pad yang sebenarnya, hasil usaha keras dari ibu Lanny Hidayat untuk meminta sponsor dari pabrik pembuat bearing pad. Tetapi karena mungkin detail tumpuan dari setiap peserta tidak sama maka dimungkinkan juga bagian detail tumpuan yang tajam jadi menghujam pada bearing tersebut, yang pada akhirnya memberi tambahan lendutan. Peserta melihat hal tersebut, satu-satunya jalan adalah menyalahkan panitia (dalam hal ini juri), mengapa pakai bearing dari karet. Bahkan meminta uji lagi dengan tanpa pakai bearing tersebut. Kondisi ini memang tidak menjadi bahan pemikiran para juri sebelumnya, merugikan peserta memang. Sekaligus juga membenarkan bahwa yang diukur oleh displacement secara keseluruhan : struktur dan bearing pad. Alasan yang disampaikan peserta memang logis dan dapat diterima, tetapi karena ini lomba, dan semua peserta yang lain juga memakai bearing pad yang sama maka jelas, jika mengulang lomba maka pasti peserta lain akan protes. Dengan pertimbangan bahwa informasi pemakaian bearing pad sudah diinformasikan lama pada buku panduan maka strategi peserta agar detail tumpuan tidak menghujam ke bearing pad menjadi suatu keunggulan. Dengan demikian fakta protes hanya menjadi masukan untuk perlombaan jembatan baja, yaitu bahwa panitia menyediakan pelat tambahan diatas bearing pad, dengan asumsi bahwa beban untuk baja jelas lebih besar yaitu lebih dari 2x -nya.
  • Tentang pencatatan displacement. Pada buku panduan belum ada ketentuan lama pembacaan. Pada kenyataan mungkin karena kondisi detail jembatannya atau mungkin juga karena efek bearing pad. Ternyata penurunan mengalami penurunan lagi dengan berjalannya waktu, dalam prakteknya memang pembacaan ditunggu sampai stabil, tetapi karena lomba, dengan waktu yang terbatas maka pada akhirnya disepakai bahwa pembacaan setelah 1 menit berjalan, artinya segera dilakukan pembacaan.
  • Ada keraguan dari peserta lain tentang berat sendiri jembatan. Ini dimungkinkan karena ada yang ditimbang pada malam hari, karena waktunya yang mepet. Mungkin lain kali, harus ada saksi dari peserta lain agar tidak timbul keraguan adanya kecurangan dari panitia.

itu dulu ya, laporan dilanjutkan hari kamis, waktu sudah siang harus siap-siap ke luar kota.

Link terkait :

46 thoughts on “pelaksanaan KJI-08

  1. Waa kelihatannya sudah ada perubahan dalam pelaksanaan KJI, dari pihak juri yang independen. itu usaha yang baik untuk perubahan menjadi lebih baik. namun kenapa untuk wasit (yang membawa bendera) yang ada di lapangan masih menggunakan mahasiswa dari PNJ/UI kenapa tidak menggunakan wasit yang independen juga.

    yang ingin saya tanyakan PERTAMA tentang kriteria Juara Umum Pada Lomba KJI tahun ini. klo yang tahun kemarin kan ditentukan dari juara jembatan Baja. namun yang sekarang kok diganti yang dari jembatan Kayu. penjelasan yang lebih detail seperti apa? kenapa ada perubahan itu? apakah karena “Juara”nya (PNJ), makanya dipindah ke Kayu, hehehe…

    yang KEDUA kenapa pada waktu seleksi semua proposal yang masuk, tidak di nilai secara keseluruhan untuk pengumumannya (hanya 12 terbesar saja?) untuk 1 univesitas yang menyertakan lebih dari 1 delegasi (untuk 1 jenis jembatan) kenapa tidak bisa lolos beberapa kelompok?

    Selamat kepada semua Peserta terutama Juaranya, dan tak lupa kepada Panitia pelaksana. semoga tahun depan lebih baik lagi.

    oh ya, kan lomba itu langsung dari Dikti y?
    bisa g dilaksanakan di Universitas lain yang mungkin sudah siap?

    terima kasih pak, Anda sudah memberikan wadah yang bagus seperti ini. semoga bermanfaat..

    Suka

  2. Menurut bapak bagaimana hasil penjurian untuk jembatan baja dan kayu kemaren, apakah semuanya sudah sesuai dengan peraturan pada teknikal meeting?

    Mengapa bapak pada saat penutupan tidak hadir?

    Trimakasih.

    Suka

  3. saya merasa iba dengan teman-teman dan bapak yang sudah berusaha untuk datang dengan membuang segala praduga buruk saat pelaksanaan perlombaan. saat berlomba, setiap peserta sangat serius dalam persiapan maupun pelaksanaannya, dan berharap bahwa yang terbaik dari mereka yang akan keluar sebagai pemenang. dan semua harapan itu sirna saat didapatkan bahwa pemengannya adalah bukan tim yang pantas untuk menang.

    mengenai dewan juri, setahu saya sebagian besar adalah juri yang sama dari tahun ke tahun. bagaimana perubahan menuju perbaikan bisa terjadi jika memang tidak ada itikad baik untuk perubahan tersebut.

    salah satu contoh kasus adalah pada saat technical meeting dengan jelas dikatakan bahwa juara umum adalah juara dari kategori jembatan baja, namun saat pengumuman yang terjadi adalah juara dari jembatan kayu. alasan yang diberikan adalah juara umum dipilih karena mendapatkan mereka memenangkan lebih banyak kategori.

    saat dikonfirmasi kepada ketua tim juri, yang bersangkutan mengatakan bahwa apa yang disampaikan saat technical meeting adalah draft yang dapat diubah sewaktu-waktu oleh juri.

    HOW COME!!!!

    dewan juri dibentuk untuk melaksanakan peraturan yang telah disepakati bersama dalam technical meeting!! bukan mengkompromikan peraturan agar tim yang mereka inginkan dapat keluar sebagai juara!!

    bahkan untuk hal mendasar semacam inipun mereka tidak mau melaksanakannya. mungkin hal ini masih dapat diterima saat perlombaan makan krupuk di RT/RW saat peringatan 17 Agustusan.tapi untuk lomba dengan level nasional dan prestise sedemikian tinggi, apa yang mereka lakukan adalah pembodohan terhadap seluruh peserta dan civitas akademika teknik sipil di Indonesia.

    saya sudah cukup lelah berkata-kata, bingung dan ngeri melihat keadaan ini. sedemikian bobrok kah mental manusia Indonesia saat ini?

    mohon disampaikan untuk direnungkan, sebetar lagi hari kemerdekaan.

    Suka

  4. selamat buat pemenang KJI 2008 ini. juga sangat berterima kasih kepada pak wir yang sudah berbagi cerita baik sebagai juri maupun penulis., terutama lagi tanggapan terhadap pesertanya ^_^

    semoga calon engineer yang membaca blog ini semakin tertarik untuk berkarya & memperdalam ilmunya.

    Suka

  5. apa kabar pak wir… masih ingat saya?
    mahasiswa dari brawijaya yang ngajak ngobrol bapak wktu itu loh pak…

    jadi begini pak, seperti banyak dituliskan oleh teman2 saya diatas, terlalu banyak kekurangan yang semestinya tidak terjadi pada event skala nasional… mulai dari hal peraturan, technical meeting, penilaian(menurut para peserta), sampai pelaksanaan.
    padahal kalau dipikir-pikir, ini adalah event bidang teknik sipil terbesar dan paling bergengsi dalam tingkatan mahasiswa S1.
    saya merasakan bagaimana perasaan teman2 kami dari universitas lain yang juga merasakan rasa kesal yang sama terhadap event KJI ini.

    “apa kata dunia” kalau KJI nantinya tidak akan lagi diikuti oleh perguruan tinggi besar seperti UI, ITS, ITB, UGM, UNBRAW, dan lain-lainya dikarenakan kesal karena mutu EO dan pelaksanaannya selevel dengan event kelas RT/RW* (baca: comment adi wijaya).

    yah, apa mau dikata pak, fakta nya memang seperti itu. menang di kompetisi seperti itu pun rasanya tidak menyenangkan.

    maafkan pak, mngkin semestinya hal-hal yang saya dan teman-teman saya sampaikan lebih tepatnya disampaikan ke ketua panitia nya, tapi mngkin karena bapak adalah salah satu dari tim juri dan bapak lebih “go public”, jadi yah, kemana lagi mau disampaikan…hehe

    Suka

  6. @Adi Wijaya dan Fachreza
    Mungkin bukan kapasitas saya untuk menjawab, yang tepat seharusnya Ketua Dewan Juri. Meskipun demikian karena saya juga terlibat dalam proses penjurian, dan saya melihat bahwa keputusan-keputusan yang diambil oleh dewan juri meskipun saya yakin tidak memuaskan semua pihak, tetapi saya melihat bahwa itu semua telah didasarkan pada pertimbangan logis, tidak subyektif, adapun acuan yang menjadi dasar telah saya sebutkan di depan yaitu (1) Buku Panduan dan (2) Proposal Perencanaan dari Peserta. Oleh karena itu adalah kewajiban saya juga untuk memberikan penjelasan sesuai dengan apa yang saya ketahui dan kerjakan dalam kapasitas saya sebagai anggota juri.

    Saya mencoba mempelajari komentar sdr Adi yang terlihat panjang lebar, nadanya sangat memelas sekali, kecewa berat. Meskipun demikian surat yang begitu panjang tersebut intinya hanya menggugat soal

    ttg technical meeting mengatakan bahwa juara umum adalah juara dari kategori jembatan baja

    Apakah benar demikian.

    Terus terang saya memang tidak datang pada technical meeting, karena memang tidak diagendakan. Para juri yang lain saya kira juga tidak tahu bahwa ada kesepakatan seperti di atas. Kita semua para juri, karena tidak menjumpai suatu ketetapan tertulis, maka tentu saja mengacu pada pendapat umum bahwa juara umum adalah institusi yang berhasil memenangkan kategori juara paling banyak. Karena bagi kita, kayu dan baja mempunyai tingkat kesulitan yang dianggap sama.

    Kesepakatan tersebut merupakan voting dari para juri secara keseluruhan, karena bagaimanapun teman-teman juri dianggap mempunyai kompetensi terhadap keputusan yang diambil. Saya pribadi melihat bahwa keputusan tersebut logis.

    Hal tersebut benar, karena juri beranggapan bahwa juara kategori adalah independen, yang menunjukkan keistimewaan dari satu segi yang menjadi topik penilaian (misal kecepatan, kekokohan, dll). Sedangkan juara 1 – 3 lebih didasarkan pada jumlah kumulatif nilai secara keseluruhan dari komponen-komponen tersebut. Jadi bisa saja mendapat juara 1 atau 2 atau 3 tapi tidak berhasil mendapat juara kategori.

    Intinya bahwa juara kategori tidak lebih rendah dari juara nomer. Hanya memang hadiahnya berbeda. Itu saja yg beda.

    Dengan demikian pertimbangan kami, tim yang paling banyak menggondol predikat juara adalah yang paling baik yang kita sebut sebagai juara umum.

    Demikian penjelasan saya.

    Sekarang gantian, mohon dijelaskan kepada kami argumentasi saudara dari UNBRAW yang menunjuk bahwa pelaksanaan KJI selevel RT/RW, juga yang menyatakan bobrok. Tolong ditunjukkan, biar kita para juri juga tahu. Kalau tidak bisa menunjukkan bagian mana, dan sama dengan siapa maka pernyataan anda berdua tidak mencerminkan calon sarjana. Itu mah asal cuap, semua orang asal tidak punya malu pasti bisa. Coba berikan argumentasinya sehingga kita disini bisa membahas dengan baik. Seorang sarjana (eh calon) kalau berbicara khan harus ada rujukannya, tidak asal berbicara saja.

    Pada prinsipnya kita menerima kritik, karena bagaimanapun itu adalah input. Bapak Sigit Darmawan (team ITB) juga telah memberikan kritik tertulis kepada kami, tetapi beliau memberikan dengan santun sekaligus menunjukkan hal-hal yang menurut pertimbangan beliau tidak patut. Hal-hal seperti itu jelas dapat kami tindak lanjuti. Kita secara individu bahkan respek terhadap masukan-masukan tersebut.

    Adapun pernyataan anda, bahwa mutu EO selevel RT/RW juga bobrok, itu khan tidak jelas. Lalu apa yang dapat kita ambil hikmatnya. Paling hanya bikin emosi bukan.😦

    Saya terus terang netral, tidak ada untungnya bagi saya untuk memihak. Setahu saya, semua keputusan yang diambil dewan juri cukup logis dan mempunyai dasar. Hanya satu saja yang menurut saya perlu dibenahi, yaitu kriteria jembatan teringan, yang mestinya menurut saya harus mampu dibebani dan tidak melendut lebih besar dari lendutan ijin. Tapi penjelasan bapak ketua bahwa hal tersebut belum dinyatakan dalam buku paduan membuat saya memaklumi keputusan yang diambil. Hanya saja untuk ke depannya lagi tentu harus memasukkan rumusan tersebut. Itu saja yang menurut saya mengganjal, yang lain saya kira sudah yang terbaik dari yang terjelek.

    Saya berharap dengan saya tampilkan pada blog ini, maka diharapkan diperoleh suatu kesepakatan yang dapat diterima oleh semua pihak yang akhirnya membuat kualitas penyelenggaraan lebih baik lagi.

    Suka

  7. pak wir. . duh kmaren saya mau nyapa pak wir tapi ga brani hehe >.<

    saya panitia KJI loh pak, saya sedih deh liad komen komen yang ga enak utk KJI kali ini, yah sah sah aja c orang berpendapat, tapi kalo dibilang setara dengan acara RT/RW sedih jg rasanya. . huhuhu

    saya sndiri sih cmn terlibat di bagian sekretariatan, jadi cmn nerima ketikan ketikan ajah, soal peraturan tetep bukan kita yang buat. .

    sbnrnya gpp jg c, krn saya akui memang KJI kali ini masih kurang koordinasi antar panitia, mungkin kalo dibandingin ama acara RT/RW mreka kan tetanggaan, jd ktemuannya gampang, sebelah rumah, tapi kita ini ga bs disamakan, kita semua(sekretariat) rumahnya mencar-mencar, kita jg persiapannya sebenarnya udah mulai sekitar 6bln sblmnya, tapi yah itu, selain kurang koordinasi, kita dan para dosen-dosen kan jg lagi sibuk ama kegiatan akademik, mahasiswa jg yang lagi banyak-banyaknya tugas kuliah, yah puncaknya sih pas seminggu sblm acara kita bener” lembur dan sampe nginep jg di kampus(gdg Q),

    but overall tengks banget yah buat kritikannya, moga ajah tahun depan KJI bisa lebih baik lagi, lebih jelas peraturannya, lebih fair, dan smoga kita bisa memberikan kesan yang baik buat para pesertanya, hehehe. .

    pak wir maen” yah k blog saya, hehehe. .

    Suka

  8. @Uncen
    Kenapa nggak berani, emangnya menggigit. Silahkan saja teman-teman kalau ketemu sapa saja, saya senang koq. Juga kepada mhs UI yang belum sempat ngobrol banyak, sorry ya tempo hari tertunda.

    Ok, kembali ke topik.

    Koordinasi di antara para Juri saya kira cukup intens, untuk itu saya sampaikan salute kepada ibu Anis, yang selalu keep-contact dengan para juri, dengan menyapa langsung via hp untuk memastikan kami ada sesuai agenda.

    Jadi kecocokan waktu, seperti yang ibu Anis usahakan, juga selalu mengacu pada Buku Panduan dan Proposal Peserta, atau pedoman tertulis yang menjadi pedoman para juri untuk memutuskan hasil.

    Saya sarankan, jika ada peserta yang merasa tidak puas dengan pelaksanaan KJI-08 ada baiknya membikin statement tertulis, apa yang menjadi masalahnya, mengapa itu menjadi masalah, adakah hal tersebut tercakup pada buku paduan (jadi ada pelanggaran), lalu sarannya bagaimana. Bukti tertulis tersebut saya yakin akan menjadi bahan masukan untuk kompetisi di kemudian hari.

    Intinya kita (kami para juri) telah berusaha maksimal, memperjuangkan yang kita anggap benar. Jikapun ternyata itu belum benar maka tentu saja akan kita evaluasi lagi berdasarkan masukan-masukan yang ada. Tentunya dengan harapan kami-kami (saya) ini masih diminta jadi juri, ya namanya saja juri independent. Intinya kalau kita bisa bantu, ya akan kita bantu, ya seperti penjelasan-penjelasan ini. Moga-moga.🙂

    Suka

  9. Selamat Pagi Pak (saat saya posting tulisan ini masih pagi)🙂

    Terima kasih karena telah memberi ulasan yg menarik seputar kegiatan KJI tempo hari, sangat bermanfaat.

    Berdasarkan ulasan dan komentar di atas, saya juga berharap semoga pelaksanaan KJI pada tahun2 mendatang akan lebih baik lagi, amin..

    Perkanalkan. Saya alumni Sipil Univ. Brawijaya Pak. Sekarang kerja di PT PP (Persero). Foto saya kebetulan ada di blog Bpk, ulasan team Unibraw Malang, foto ketiga, background, pria dengan jaket hitam, hehehe… bukti kehadiran saya Pak. Klo tau ada Pak Wir di sana, pasti saya sapa Pak, yah, memang karena saya belum tau wajah Bpk secara utuh seh, makanya saya ga tau klo pak Wir ada di sana.. hehehe..

    Saya hanya hadir saat pelaksanaan KJI-Jembatan Kayu, itu pun saat momen launching-nya saja, sesi penilaian yang lain tidaka hadir.

    Saya punya masukan untuk panitia KJI selanjutnya, diharapakan untuk penilaian berdasarkan kecepatan. Pencatatan waktu yg saya lihat kemarin itu kan, panitia yg menjaga stan pencatat waktu computerized, menunggu petugas jaga mengangkat bendera (betul ga?)

    Menurut saya lebih baik ada petugas yg langsung memencet tombol yg langsung terhubung ke komputer pencatat waktu, yah, kayak stopwatch yg ada sistem split-nya itu lho..

    Jd wkt tercatat lebih akurat krn tdk ada delay krn petugas pengangkat bendera, krn kemarin yg saya tau petugas bendera di arena Unbraw terlambat mengangkat bendera, mungkin krn melamun ya, hehehe…

    Wah, saya salut neh sama mahasiswa2 finalist KJI, kalian hebat2! Saya belum pernah mengikuti perlombaan seperti ini. Saya berharap dengan aktifnya mahasiswa berpartisipasi dalam kegiatan2 ini, mudah2an dpt menstimulasi kebangkitan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia, amin..

    Suka

  10. @Rezza Munawir,
    Terima kasih atas responds positipnya. Salam kenal juga pak Rezza.

    Ya, saya berharap blog ini dapat mendokumentasikan sekaligus menyebarkan informasi tentang kegiatan KJI tersebut di atas. Bagaimanapun pemerintah dalam hal ini DIKTI telah memberi sponsor yang tidak sedikit agar KJI tersebut terselenggara, jadi dalam hal ini penyelenggaraan ini bersifat nasional, milik bangsa ini. Hanya saja memang PNJ sebagai tuan rumahnya.

    Tentang menjadi tuan rumah, saya kira itu tidak mutlak. Tempo hari melalui ketua penyelenggaranya Dr. Fauzri menyatakan bahwa pihaknya mendukung jika ada pihak lain yang mau menjadi tuan rumah penyelenggaran kompetisi KJI. Jika ada yang berkeinginan, silahkan sj kontak beliau atau mungkin DIKTI langsung. Sebagai gambaran acara tersebut tidak kurang melibatkan anggaran >> 0.5 M lho (ini info lesan lho, tepatnya saya nggak tahu).

    Tentang waktu pencatatan. Masukan diterima. Hanya saja masalahnya, kondisi selesai bisa saja berbeda-beda untuk tiap peserta. Petunjuk teknisnya yang disebut selesai adalah apabila selain jembatan telah lengkap dirakit, juga lokasi telah bersih dari alat-alat erection , yang mungkin bisa berbeda-beda dari tiap peserta. Oleh karena itu, biasanya wasit menunggu masukan peserta apakah sudah selesai atau belum. Begitu mas Rezza, jadi tidak berarti jembatan selesai, langsung pencet tombol. Seperti biasa, untuk konstruksi yang sebenarnya, kondisi selesai akan diinformasikan oleh pelaksanannya jika telah selesai.

    Kira-kira begitu mas.

    Suka

  11. pak wir…

    terlalu banyak hal yg kami sesalkan dari KJI kemaren :

    1. di technical ,eeting kesepakatan udah di tandatangani oleh pak heru purnomo sbg ketua juri dan saksi2, namun kenapa ada hal yg harus diganti oleh rapat juri saja? kenapa g melalui rapat dg peserta lagi?

    2. sebagai tuan rumah PNJ harusnya memberi iktikad baik kepada semua peserta. masa pd hari pertama yg seharusnya semua jembatan sudah ditaruh di pitstop, PNJ masi ga.

    trus, pada hari penimbangan PNJ belum mengeluarkan jembatan sampai sore hari hari.
    makanya PNJ bisa jd yg teringan gara2 pada saat penimbangan jembatan tidak ada saksi dr peserta lainnya. tukang tulisnya aj temen sendiri..

    3. kategori jembatan terindah kok bisa PNJ semua? secara kasat mata jembatan terindah ad di UNMUH Malang dan POLBAND.

    4. mengapa tidak ad transparansi nilai sesuai kesepakatan awal? nilai presentasi dr UNIBRAW & Maranatha malah dipasang NOL, kok bisa?

    pusing pak kalo trus2an jelek2in PNJ…

    berdasarkan obrolan kami dg temen2 dr ITB, POLBAND, Maranatha, POLINEMA, UMM mereka tidak puas dengan hasil penjurian kemaren..

    tidak ada kah kemungkinan memindahkan tempat pelaksanaan ke tempat lainnya?
    gimana caranya meperjuangkan hal tersebut?

    makasi pak wir…
    seharusnya anda yg jadi ketua juri nya..

    Suka

  12. Berdasarkan statement Pak Wir:
    “Kelihatannya hanya penulis saja yang mempunyai pengalaman seperti itu, teman-teman Juri yang lain umumnya belum punya pengalaman sebagai peserta”

    Saya harap Pak Wir juga harus “getol” untuk memberikan masukan agar pelaksanaan KJI di tahun2 mendatang lebih baik.

    Berdasarkan statement Adi Wijaya:
    “salah satu contoh kasus adalah pada saat technical meeting dengan jelas dikatakan bahwa juara umum adalah juara dari kategori jembatan baja, namun saat pengumuman yang terjadi adalah juara dari jembatan kayu”

    Mungkin Pak Wir bisa konfirmasi kepada panitia saat technical meeting (krn Bpk punya wewenang), tentang statemen sdr Adi W di atas, walaupun Pak Wir berkata:
    “Para juri yang lain saya kira juga tidak tahu bahwa ada kesepakatan seperti di atas. Kita semua para juri, karena tidak menjumpai suatu ketetapan tertulis, maka tentu saja mengacu pada pendapat umum bahwa juara umum adalah institusi yang berhasil memenangkan kategori juara paling banyak. Karena bagi kita, kayu dan baja mempunyai tingkat kesulitan yang dianggap sama”
    Supaya masalah seperti ini menjadi clear saja, sehingga klo memang benar tercetus statemen dr panitia seperti sdr Adi W katakan, supaya esok hari tdk terulang lagi, adanya ketdksesuaian antara peraturan tertulis dengan lisan, nah, di sini jg menurut saya, sdr Adi W atau siapa saja harus jeli dgn statemen panitia, apakah memang sdh sesuai dgn peraturan tertulis seperti Pak Wir sampaikan di atas, krn menurut saya Pak Wir sdh benar mengacu pd panduan aturan tertulis.

    Kemudian statemen sdr Adi W selanjutnya:
    “saat dikonfirmasi kepada ketua tim juri, yang bersangkutan mengatakan bahwa apa yang disampaikan saat technical meeting adalah draft yang dapat diubah sewaktu-waktu oleh juri”

    Saya harap juga Pak Wir mengkonfirmasi pernyataan ini kpd ketua tim juri, jika benar demikian, maka sangat disayangkan sekali. Jika hasil technical meeting hanyalah sebuah “draft”, maka akan terjadi multiinterpretasi/prasangka buruk thdp statemen ini, yg menunjukkan ke-tidak-konsisten-an dr panitia dan juri sendiri, dan menurut saya agak “gamang”, karena hal seperti itu bisa menimbulkan konflik.

    dan terakhir saya sepakat dengan statemen sdr Fachreza: “maafkan pak, mngkin semestinya hal-hal yang saya dan teman-teman saya sampaikan lebih tepatnya disampaikan ke ketua panitia nya, tapi mngkin karena bapak adalah salah satu dari tim juri dan bapak lebih “go public””
    maka saya juga mengaspirasikan pendapat saya melalui blog Pak Wir ini.

    Mohon maaf atas tulisan yg kurang berkenan.
    Terima kasih.🙂

    Suka

  13. malang, 15 agustus 2008, 9:49 wib

    pagi pak wir…
    perkenalkan, nama saya larap kemayan estu, panggil saja larap atau tuyul

    hehehehe, saya hanya mau minta maaf atas tata cara penulisan dari teman-teman brawijaya diatas (saya KETUA KONTINGENnya)

    saya mau netral sulit, mau berpihak juga sulit.
    jika dari sudut pandang pak wir justifikasinya seperti itu, maka ini adalah justifikasi dari sudut pandang saya🙂

    pra PELAKSANAAN LOMBA
    pada tahap ini kalau gak salah, pada tahap ini ada tahap penimbangan dan presentasi proposal.

    untuk presentasi saya no comment🙂
    nah masalahnya pada penimbangan pak wir🙂

    saran saya, untuk pelaksanaan kedepannya penimbangan sebaiknya diberikan batasan waktu untuk pelaksanaannya. Contoh, batas penimbangan jembatan: antara pukul 15:00 s.d. 19:00

    mengapa demikian? ya biar adil dunk pak wir, soal argumen lainnya tentu bapak lebih mampu dan lebih bijak untuk memikirkannya🙂

    PELAKSANAAN LOMBA
    nah ini tampaknya yang banyak di”serang” oleh teman-teman🙂

    saya pribadi adalah alumnus peserta KJI 3 kategori jembatan kayu🙂

    pak wir adalah juri untuk pelaksanaan jembatn kayu AMERA ROSO dari UB, tentu ingat benar bagaimana panitia sebagai flagman telat mengangkat bendera hijau tanda waktu selesai🙂, sampai teman2 dari UB yng pakai baju merah pada teriak-teriak hehehehehe, seyogyanya untuk tahun depan hal ini tidak terjadi lagi…AMIEEEN

    untuk masalah loading test🙂
    hal ini yang paling bikin teman-teman gregetan🙂
    tanya kenapa?

    ini dikarenakan pembacaan lendutan terakhir di dial untuk UB adalah 1,075 tapi tiba-tiba salah satu juri (pake baju hitam + berkacamata) tidak menyetujui hal ini (padahal waktu terus berjalan saya hitung lebih kurang sudah 1,5 menit), sehingga waktu dibaca lagi, pembacaannya mencapai 1,338…….(WOW)

    kenapa demikian?padahal tau kalau jembatan masih dlam kondisi elastis yang menuju ke kondisi plastis deformasinya pasti lebih cepat🙂

    yah..apa mau dikata, sudah terjadi, protes sudah dilayangkan, sebagai manusia kita hanya bisa tawakal dan ikhlas kan pak Wir?

    SISTEM PENILAIAN
    saya sendiri gak begitu mudeng tentang sistem penjurian, tapi yang jelas, ada satu poin yang benar-benar bikin kecewa

    pada waktu rekapitulasi nilai ditampilkan proyektor, nilai presentasi dari tim baja dan kayu universitas BRAWIJAYA (underline that..PLEASE) adalah NOL, ZERO, LOVE, 0!!!!!!!!!!

    untuk yang ini silahkan bapak komentari sendiri🙂

    best regrads,
    larap kemayan estu
    calon ST

    Suka

  14. Wah ini kayaknya saya jadi juru bicara Dewan Juri nih. Gimana mbak Anis, berhak nggak nih.

    Teman-teman peserta, terus terang saya di Dewan Juri tidak hanya duduk anteng saja lho. Jika menurut pertimbangan saya, ada yang perlu saya kemukakan maka jelas : Itu memang tugas saya. Bagaimanapun saya membawa nama institusi tempat saya bekerja. Intinya saya bekerja menurut pertimbangan saya yang paling baik dan dapat dipertanggung-jawabkan.

    Tentang penjelasan di technical meeting, kelihatannya masih ngotot dipertahankan ya. Tapi apa itu betul, maksudnya logis. Jika yang ingin dipertahankan bahwa yang juara adalah dari baja maka jelas saya yang akan bertanya. Apa dasarnya ? Menurut saya membuat jembatan dari kayu relatif lebih susah dibanding baja yang termasuk material yang homogen dan buatan. Bagi saya, jembatan kayu lebih kompleks. Saya pribadi kalau disuruh milih baja atau kayu, ya jelas milih baja. Lebih gampang.

    Oleh karena itulah, pertimbangan yang saya uraikan di atas, yang dipakai dan disepakati oleh dewan juri adalah lebih masuk akal dan dapat dipertanggung-jawabkan secara profesional.

    Tentang penjelasan di technical meeting tetapi tidak diketahui para dewan juri. Saya kurang tahu, mungkin mbak Anis atau panitia yang lain bisa meng-clear-khan. Kesannya khan panitia dan peserta seakan-akan sudah pasang kontrak kerja. Harga mati gitu. Jadi bukan tugas saya yang mengklarifikasi khan. He, he, sudah bikin penjelasan, koq diminta yang lain lagi.🙂

    Tentang penjelasan saudara waktu loading, sudah ada perubahan dari elastis ke plastis, nggak benar tuh. Tapi memang agar semua detail dapat bekerja dengan baik memang perlu waktu, dan itu tidak sekaligus.

    Begini sdr Larap, untuk pembacaaan beban yang benar pada prinsipnya harusnya menunggu kondisi jarum yang stabil. Itu yang benar. Karena pada waktu pembebanan, ada proses distribusi tegangan, atau slip pada baut dsb. Masalahnya adalah bahwa pembacaaan ini adalah untuk lomba. Jadi kata kuncinya adalah kesepakatan pembacaan. Saya sebagai juri juga menangkap fenomena tersebut. Saya catat dan saya sampaikan info ke pak Sugeng. Ingat ini belum diputuskan. Itu semua saya sampaikan ke dewan juri yang lain. Kesimpulannya khan udah ada khan : bahwa karena tidak ada ketentuan tentang waktu pembacaan maka yang diambil sebagai pedoman adalah angka yang terbaca paling pertama seperti yang dibacakan MC. So, nggak nggak ada masalah. Clear.

    Tentang nilai nol, waktu presentasi, saya kurang tahu. Juri penilainya banyak sih.

    Tentang penimbangan, sudah dibahas bukan. Bahkan nanti diusahakan tahun depan ada saksi dari peserta. Itu kalau mau.

    O ya tentang keindahan. Ini memang subyektif. Terus terang itu tidak ada diberikan di jurusan teknik sipil. Iya khan. Oleh karena itu, penilaiannya diserahkan ke juri-mobile yang terdiri dari teman-teman dari PU senior yang diharapkan tahu kondisi jembatan yang sebenarnya, karena memang pengalaman beliau.

    Kalau menurut saya, jembatan kayunya Ameroso juga bagus. Rapi gitu lho, termasuk penempatan baut-bautnya. Tapi sayang, saya bukan juri yang memberi nilai keindahan.😦

    Suka

  15. Pak, tw EMAIL atw BLOG punya pak Heru Purnomo UI (ketua tim juri) ga pak?

    makasi pak..

    Wir’s responds: waduh saya tidak tahu. Kenapa ? Setahu saya, semua pembicaraan di meja penjurian adalah merupakan keputusan bersama. Jadi apa-apa yang dibacakan oleh ketua Juri adalah hasil kesepakatan semua anggota dewan juri. Jadi mestinya sedikit-sedikit saya juga bisa membahas. O ya, banyak teman-teman dewan juri yang membaca blog ini juga koq. Silahkan jika ada masukan disampaikan. Tapi yang sopan ya.🙂

    Suka

  16. Tujuan lomba tidak selalu untuk menang lho. Untuk belajar juga…hehe. Anyway, saya salut sama antusiasme rekan-rekan muda calon enjiner jembatan.

    Ini ada klip lomba sejenis yang disponsori oleh
    AISC

    http://jp.youtube.com/watch?v=yquKTMeoLO8

    dan ada juga peraturannya ( http://www.nssbc.info/ ), mungkin bisa dipakai buat referensi.

    Wir’s responds: Hallo mas Dion, trim atas infonya.
    Kalau dipikir-pikir setelah melihat videonya, kompetisi jembatan kita tentang metode pelaksanaannya lebih seru lho. Yang di video, lebih fokus pada jembatannya saja, sedang yang KJI akan terlihat alat-alat bantu erection, juga terlihat model sungai. Ini KJI kalau dikembangkan bisa lebih baik lho.

    Komentar-komentar yang bertubi-tubi menunjukkan bahwa event KJI sesuatu yang menarik. Sehingga keberadaannya dimasa depan tentu akan lebih seru dan tentu saja lebih baik lagi. Adanya komentar-komentar yang saya moderasi ini diharapkan sebagai dokumentasi tambahan, evaluasi apa-apa yang harus dipikirkan kedepannya. Iya nggak mas Dion.

    Suka

  17. Salut untuk Bapak, yang telah berkenan memberikan komentar-komentarnya,
    tapi maaf pak, ada pertanyaan saya yang masih mengganjal, dan belum diterjawab.

    “…yang KEDUA kenapa pada waktu seleksi semua proposal yang masuk, tidak di nilai secara keseluruhan untuk pengumumannya (hanya 12 terbesar saja?) untuk 1 univesitas yang menyertakan lebih dari 1 delegasi (untuk 1 jenis jembatan) kenapa tidak bisa lolos beberapa kelompok?”

    maksudnya dalam proses seleksi proposal, pengumuman nilai tiap tim tidak semua dicantumkan, hanya 12 besar. hal ini menimbulkan pertanyaan kepada peserta yang proposalnya tidak lolos,” berapa nilai untuk proposal saya?”

    mungkin untuk pelaksanaan tahun depan sebaiknya semua peserta mendapatkan rekapitulasi nilai untuk semua peserta yang mengikuti lomba. sehingga rasa penasaran peserta akan terjawab dan tidak menyebabkan persepsi ada proposal yang tidak dinilai.

    sebelumnya saya sampaikan terima kasih pak.

    Suka

  18. sdr Bagus,
    Kayaknya memang saya harus jadi juru bicara jangan sampai ada persepsi bahwa proses penilaian hanya sekedar main-main berdasarkan subyektifitas belaka.

    Pada prinsipnya dewan juri cukup banyak, pokoknya lebih dari 10.

    Pada proses penilaian proposal, penilaian dilakukan oleh beberapa juri. Jadi satu proposal bukan oleh satu juri doang. Pihak panitia membagi acak ke juri, dimana nama-nama institusi pada proposal tersebut telah digunting oleh panitian. Jadi dewan juri tidak tahu, mereka meneliti proposal siapa.

    Selanjutnya dewan juri menilai berdasarkan kesesuaian dengan buku paduan. Jika telah selesai maka bisa dilanjutkan ke content. Tentang ini saya kira tergantung dari kompetensi juri. Meskipun demikian dari form penilaian ada petunjuk kategori-kategori penilaian agar seragam.

    Jadi bisa saja, belum masuk content, sudah disingkarkan (gagal) karena peserta tidak mengikuti kaidah yang ditetapkan buku paduan.

    Proses penilain di lakukan di rumah masing-masing juri. Waktunya selama seminggu.

    Selanjutnya pada hari H. Nilai dikumpulkan, dirangkum bersama-sama. Jadi disitu terlihat proposal peserta dan nilai masing-masing dari juri yang berbeda. Jika ada perbedaan yang menyolok antara juri yang satu ke juri yang lain maka juri yang memberi nilai jelek dimintai argumentasinya : mengapa itu bisa terjadi. Selanjutnya kita semua (dewan juri) menilai argumentasi tersebut. Ok atau tidak.

    Akhirnya nilai-nilai peserta tersebut di tabulasikan berdasarkan urutan tertinggi kebawah.

    Selanjutnya ada ketentuan, bahwa yang boleh maju dari satu intitusi hanya satu. Ini khan pemerataan, gimana lagi sponsornya khan dari DIKTI. Jadi bisa saja ada satu institusi mengirim 5 team, dan semuanya ada pada list yang paling tinggi. Maka dengan terpaksa kami pilih yang paling tinggi sebagai wakil, empat yang lain kita coret. Dengan demikian, nilai yang lebih rendah dari institusi lain dibawahnya akan naik mengisi kekosongan tersebut.

    Nggak tahu, apa ini disebut adil atau tidak. Tetapi karena tujuan lomba ini adalah untuk kemajuan pendidikan nasional, maka rasanya keputusan tersebut dapat dimaklumi. Apalagi yang mensponsori adalah DIKTI.

    Oleh karena itu, yang tidak lolos ke final bukan berarti jelek, bisa-bisa karena anda diadu dengan institusi anda sendiri.

    Tentang jumlah hanya 12, tentu tahu sendiri. Itu karena keterbatasan tempat atau sumber daya. Bayangkan hanya 12 peserta saja untuk baja dan 6 untuk kayu saja yang komentar sudah sedemkian ambrek. Bagaimana jika lebih. Bisa amburadul kali.

    Tentang pencantuman nilai untuk yang tidak diterima saya kira bukan yang utama ya. Karena seperti tadi satu institusi hanya satu yang diloloskan. Jadi kalau nilai ditampilkan. Maka belum-belum sudah debat kusir di muka. Jurinya bisa tambah pusing lagi.

    Tentang hal tersebut, ada wacana tentang bagaimana jika ada lomba tingkat regional. Sehingga bisa lebih bagus itu.

    Suka

  19. oo.. begitu pak ya alasannya, saya bisa menerima, memang benar pernyataan bapak:

    “Tentang pencantuman nilai untuk yang tidak diterima saya kira bukan yang utama ya. Karena seperti tadi satu institusi hanya satu yang diloloskan. Jadi kalau nilai ditampilkan. Maka belum-belum sudah debat kusir di muka. Jurinya bisa tambah pusing lagi.”

    kalau ada wacana yang seperti itu bagus juga pak. jadi seperti lomba robot tingkat nasional itu lo.. kan ada yang tingkat regional dan tingkat nasional. jadi tambah seru. tapi juga perlu banyak SDManusia dan SDMoney, hehehe…

    semoga ajang yang baik ini menjadi tolok ukur dan media perkembangan kemajuan civitas akademi Teknik Sipil di Indonesia.

    Suka

  20. “Saya mencoba mempelajari komentar sdr Adi yang terlihat panjang lebar, nadanya sangat memelas sekali, kecewa berat. Meskipun demikian surat yang begitu panjang tersebut intinya hanya menggugat soal

    ttg technical meeting mengatakan bahwa juara umum adalah juara dari kategori jembatan baja

    Apakah benar demikian. “

    hehehe….selamat malam, Pak.

    maaf kalo komentar “barbar” sempat terlontar,..

    kali ini pendek saja, mau konfirmasi masalah di atas. bisa ditanyakan kepada tim yang ikut TM, kemungkinan besar semua berpandangan sama(karena itu yang terjadi saat saya berusaha menanyakan kepada tim-tim lain seusai pengumuman)

    kemungkinan tidak ada bukti tertulis yang bisa didapatkan, karena setelah TM, perubahan yang disepakati tidak langsung dicantumkan pada peraturan yang lama.

    dan mengenai level perlombaan RT/RW, cuma perumpamaan mengenai konsistensi dewan juri (ujung-ujungnya kembali menguatkan masalah perubahan peraturan yang elah disepakati bersama di TM yang ternyata bisa dengan mudah di ubah dalam rapat dewan juri)

    tidak ada maksud untuk mendiskreditkan bapak.

    (saya jg sering buka blog ini sih,hehe..)

    Wir’s responds:
    Antara waktu technical meeting (TM) dengan proses penjurian (presentasi) begitu dekat, sehingga saya kira ketua juri tidak sempat lagi melakukan koordinasi dengan para juri lain. Karena proses penjurian presentasi juga seru, maka bisa saja ketua juri yang memberi pernyataan pada TM jadi lupa.

    Untuk itu mungkin perlu dipikirkan pada tahun ke depannya, bahwa TM hanya ditujukan pada penjelasan yang ada pada BUKU PANDUAN atau spesifikasi yang ada saja, dan jangan memberi pernyataan atau keputusan baru. Karena kalau seperti kemarin itu khan jadi masalah.

    Karena saya juga memaklumi seseorang yang menerima cecaran pertanyaan yang langsung, dan bertubi-tubi maka bisa saja yang bersangkutan menjawab tanpa sadar.😦

    Suka

  21. informasi: ternyata pada saat pembebanan, bukan hanya rangka yang mengalami deformasi, tapi juga aspal/lapisan perkerasan.

    kita sendiri baru nyadar setelah maghrib, tampak bekas yang cukup dalam pada lapisan perkerasan tersebut,yah g sampai beberapa centimeter, tapi terlihat…

    salah satu faktor yang luput dari perhitungan/prediksi juri dan peserta…😀

    Wir’s responds:
    untunglah kamu masih mengamati juga Adi. Trim atas masukannya.

    Suka

  22. pak wir, setelah membaca postingan dari bapak dan teman2 saya, pandangan saya menjadi lebih terbuka, mungkin dikarenakan kemari masih kecewa dengan hasil yang ada…
    saya pun memohon maaf apabila kata2 yang saya gunakan tidak berkenan terhadap bapak dan teman2 saya diatas.

    mungkin, lebih tepatnya saya juga sedikit meralat dan menegaskan masalah penilaian kami terhadap pelaksanaan KJI kemarin,
    (nuhun ngapunten pak yah masalah RT/RW), jadi maksud saya, dari pelaksanaan lomba tersebut banyak hal yang disayangkan sebagai event nasional karena:

    1. hal2 yang sudah disampaikan oleh kakak saya Wendi Kayu II pada postingannya diatas.

    2. Panitia (khususnya panitia mahasiswa PNJ, sebenarnya saya tidak ingin terlalu mengungkap seperti ini pak, tp ga enak juga saya kalo ngelantur bilang RT/RW tanpa alasannya kan yah), pada saat pelaksanaan tidak sportif, banyak sekali pelanggaran yang tidak di kenakan pinalti, ga “disemprit”, tunggu kami yang triak2 dlu baru di catat.

    3.banyak pelanggaran yang disahkan seperti khusus disahkan hanya untuk tim PNJ.

    (untuk 2 point terakhir, saya memaklumi apabila bpak mungkin tidak begitu tau, bapak wktu itu juga menjadi juri untuk tim lain, pada waktu itu beberapa orang dari masing2 univ. mengawasi bagaimana panitia “mewasiti” tim dari panitia sendiri(PNJ))

    4. Technical meeting hanya dihadiri holeh 1 orang juri (ketua tim juri), saya rasa sebaiknya semua juri hadir.

    5. beberapa jadwal menjadi “ngaret”, namun saya memaklumi.

    jadi seperti itu pak klarifikasi saya, sekali lagi saya mohon maaf jika terdapat kata yang kurang berkenan, dan saya pun tidak berniat membuka/menjelek2kan panitia, namun hanya untuk klarifikasi saya. kami pun sedang belajar menjadi enggineer yang lebih bijak.

    terimakasih sebelumnya untuk tanggapannya pak…

    Wir’s responds:
    Trims atas pengertiannya. Masukan-masukan dari kamu pasti sampai ke juri atau panitia yang lain, karena kalau tidak salah mereka juga banyak membaca blog ini. Moga-moga thread ini dapat menjadi dokumentasi masalah-masalah yang perlu dipikirkan pada kompetisi mendatang. Toh blog ini mestinya masih dapat diakses tahun depan.

    Intinya, mari teman-teman yang pernah terlibat dan mengetahui kelemahan-kelemaham pada pelaksanaan KJI tahun ini untuk dapat bersama-sama membantu panitia untuk pelaksanaan yang lebih baik. Karena bagaimanapun, KJI dapat menjadi sarana bagi kita (engineer dan calon-engineer) untuk belajar dan kritis, sekaligus sebagai suatu wadah silahturahmi antar institusi atau bahkan memperluas jaringan diantara para engineer itu sendiri. Semoga.

    Suka

  23. Hi, Pak Wir, saya peserta dari UI yang kmaren kbetulan manggil bapak wktu lagi duduk2 :p dan saya jg yang memberikan statement yang jd pertanyaan bapak selama sesi presentasi, sebelumnya saya cuma kasi komen dan ikut diskusi doang di blog ini tp blm pernah ketemu langsung😀

    Saya akui ada banyak masalah konstruksi di tim kami. Soalnya secara pengalaman kan kita kurang (baru tahun lalu ikut yang jmbatan kayu, jmbatan baja blm, mskipun ketua tim jurinya dari UI, he3). Jadi kami kira smua metode konstruksinya dilakukan manual gt, sehingga kmarin bnyak sekali kekurangan

    Masalah yang terutama cukup mengganggu seperti uda bapak tulis diatas adalah penggunaan bearing pad yang pembacaannya tidak terstandar, utamanya masalahnya adalah penurunan yang terus berlangsung seiring berjalannya waktu😀

    Oya, saran buat tim juri, pertama, knapa metode2 konstruksi yang kurang masuk akal knapa bisa lolos tahap proposal. Kami kira proses pembangunan jembatan ini menggambarkan kondisi riil di lapangan sebenarnya.

    Kemudian saran kedua, setiap kesalahan tampaknya penaltinya relatif sama, pdahal ada kesalahan yang menurut saya berat (tidak mengikuti aturan, msalnya soal penggunaan perancah diatas jmbatan dan sejenisnya)

    Terakhir secara umum acara ini sangat bagus buat insinyur2 sipil khususnya di Indonesia. Sampe jmpa lain x, mngkin di KJI berikutnya😀 Tp nanti saya cma bagian supervisi aj, he3 :p

    Wir’s responds: o itu kamu James, kalau namamu rasanya sering baca di blog ini. Sayang kemarin nggak sempat ngobrol. Tapi trim ya kamu mau menyapa.🙂

    O ya, tentang konsep jembatan yang tim-mu sajikan, terus terang dari kaca mata engineering aku suka, karena cukup inovatif. Hanya saja untuk lomba kemarin memang kurang tepat karena (1) beban uji-nya berupa beban terpusat, sehingga efek pelengkung tidak sepenuhnya dapat bekerja, itu khan tepatnya jika beban marata; (2) pipa yang kamu pakai terlalu besar sehingga jika diukur garis netralnya maka kekakuannya jadi berkurang karena lengan kopel tekan-tarik jadi pendek; (3) juga karena berat jembatan, jadi nilai kekokohan jadi kecil karena berat mengurangi nilai.

    By the way presentasi tim anda cukup bagus.🙂

    Suka

  24. Yups, prinsipnya pemilihan bentuk jembatan demikian salah satunya untuk menyesuaikan dengan tema lomba kali ini, yaitu jembatan nusantara yang inovatif dan futuristik

    Kalo dari awal kami tahu proporsi kekokohan 40%, mngkin kami akan buat jmbatan dengan konsep desain yang berbeda, karena ternyata (sepertinya) tema lomba tidak menjadi suatu poin yang sangat krusial dalam penilaian. PS: Dalam hal ini sepertinya tema lomba hanya berperan dalam proses saringan awal pada tahap proposal

    Soal profil yang terlalu besar (yang mempengaruhi berat jg) kan saya sempat bilang ke Pak Wir alasannya kmarin, he3 (yah, smoga msalah seperti itu ga terulang lagi :D)

    Wir’s responds: tentang tema, yap betul sekali. Tetapi untuk presentasi kelihatannya ada pengaruhnya juga lho, tetapi relatif, tidak seragam pada tiap juri karena tidak ada rambu-rambu khusus. Yah tetapi jelas, dengan ikut KJI kemarin mestinya James mendapat pengalaman berharga. Selanjutnya untuk tahun depan, perlu cari calon-calon penerusnya, yang tentu saja harus belajar banyak dari pengalaman tahun ini. Kelihatannya sepele, tetapi bisa gampang-gampang susah lho.

    O ya, kata Prof. Katili anda-anda pada mau ke Perancis ya (atau sudah). Kirim-kirim dokumentasinya waktu disana di blog ini dan dikasih sedikit sinopsis, siapa tahu adik-adik calon engineer yang lain jadi tertarik mengikuti jejaknya.

    Suka

  25. Membaca ulasan-ulasan beserta dokumentasi Pak Wir, membuat saya seakan-akan merasa ikut hadir didalamnya. Dan itu mengingatkan saya akan situasi yang menegangkan sekaligus menyenangkan ketika mengikuti Lomba Beton Mutu Tepat tingkat Nasional di ITS tahun 2004 dan Lomba Kuat Tekan Beton tingkat Jawa-Bali di UK Petra pada tahun yang sama.

    Ternyata situasi yang saya hadapi waktu itu tidak jauh berbeda pada masa ini yah, sama2 penuh kritik dan ketidakpuasan dari peserta. Tetapi waktu itu saya kembali kepada Visi dan Misi saya dan Tim bahwa tujuan utama kita datang bukan hanya sekedar untuk menyabet piala dan hadiah uangnya akan tetapi lebih kepada silahturahmi dan mencari teman baru, brain storming atau sharing knowledge ke sesama peserta maupun narasumber atau praktisi yang hadir, serta mencari ilmu baru yang sekiranya tidak diajarkan di kampus.

    Jadi waktu itu kami tidak terlalu menghiraukan segala kontroversi yang ada berbekal visi dan misi kami itu. Akan tetapi kami juga memberikan saran dan kritik yang membangun untuk teman2 panitia.

    Eh gak taunya beberapa teman panitia menjadi sahabat saya sampai sekarang, bahkan kami sama-sama menjadi satu kontingen(JATIM) ketika mengikuti Temu Wicara Nasional FKMTSI XVII di Kaltim.

    Jadi saran saya buat rekan-rekan yang lain adalah menjadi juara itu memang baik tetapi lebih baik lagi jika kita ‘bermental juara’. Toh manusia memang tempatnya salah dan khilaf jadi kita harus memaklumi, untuk selanjutnya kita harus menjadi lebih baik lagi di kemudian hari.

    Bravo Teknik Sipil ….

    Suka

  26. Salut untuk ulasan detail tentang KJI yang diberikan pak wir!

    salam kenal pak, saya Rizal, alumni teknik sipil Univeritas Brawijaya, saya berhalangan hadir di KJI 08 kemaren, intermezzo aja pak saya mantan calon peserta KJI 06 lho pak.. cuma karena peraturan waktu itu tiap universitas cuma 1 tim yang lolos ya tim kami mundur teratur agar fokus dana dan tenaga bisa lebih tercurah ke tim satunya (coz dulu tenggat waktu nya agak mepet dari pengumuman sampai batas pengiriman proposal nya, gak selonggar sekarang,dan waktu itu pertama kali Brawijaya ikut)

    memang tidak bisa dipungkiri bahwa kontroversi selalu ada dalam penilaian sebuah lomba, yang intinya berujung pada pertanyaan mengenai subjektivitas penilaian (apalagi bagi tim yang kalah dan tidak puas?)

    ada benarnya bahwa pertanyaaan mengenai penilaian itu diberikan secara tertulis dan runtut sebagai masukan untuk KJI ke depannya,

    mungkin Pak Wir bisa memberikan alamat untuk melakukan protes tertulis/masukan/tanggapan resmi yang dimaksud? supaya masukan-2 yang diberikan “tepat sasaran” dan dibaca oleh dewan KJI yang berwenang untuk penyelenggaraan KJI kedepannya, karena setahu saya (CMIIW) panitia tiap tahun berbeda (jaman saya dulu panitianya UI kalo gak salah), takutnya kalo dialamatkan untuk panitia sekarang malah salah sasaran.. coz panitianya udah bubar..? dan mohon maaf.. meskipun blog ini dibaca juga oleh anggota dewan juri yang lain dan juga Pak Wir adalah anggota juri KJI’08 lalu, tapi blog tetaplah blog… yang berisi ungkapan hati/uneg-2/curhat colongan yang bisa dianggap dan bisa juga tidak..? lain halnya kalo tulisan itu resmi dari institusi ke institusi?

    Saya sangat berharap bahwa KJI ini dapat menjadi trademark lomba “Anak Sipil” sekelas Water Rocket-nya Mesin atau Kontes Robot-nya Elektro ke depannya, baik itu prestise maupun bobot lombanya yang lebih dari skala nasional (kalo bisa indonesia jadi pioneer tuan rumahnya?), pasti seru!

    Dan untuk menuju kesitu memang masih banyak yang harus dibenahi, termasuk bagaimana cara mengakomodir masukan-2 dari mantan peserta ini Pak Wir..

    tapi ngomong-2 saya masih penasaran nih pak, boleh nanya ya ke Bapak? (berhubung saya orang luar dan “penghubung” ke KJI cuma blog ini) kok nilai presentasi Brawijaya bisa “NOL” ya? tolong dikonfirm donk pak, yang paling mungkin dapet informasi itu sekarang kan Pak Wir nih.. coz dari atas tadi masih belum ada jawaban memuaskan pak..

    tq pak wir,
    TANAH AIR JALAN SIPIL
    BAJA BETON JIWA SIPIL
    HIDUP SIPIL!!

    Suka

  27. @Rizaldy Iskandar
    Panitia UI masih tetap, Dr.Ir. Heru Purnomo masih memimpin tim juri. Hanya komponen juri dari PNJ ditarik semua, diganti komponen juri dari luar dengan maksud agar independen. Saya dalam hal ini termasuk komponen juri luar. Jadi jika PNJ masih tetap jadi juara, itu memang karena komponen nilai yang diperoleh masih lebih baik. Nggak ada tuh, kong-kalikong dengan juri. Tentang hal tersebut saya jujur mengatakannya.

    Tentang protes tertulis, langsung saja disampaikan ke panitia. Alamatnya khan jelas. Sebaiknya sih langsung pada waktu perlombaan. Jika baru dapat disampaikan sekarang, paling hanya buat masukan tahun berikutnya. Itupun dengan harapan masih disimpan oleh panitia lama. O ya, jika itu sangat urgent, u.p ke Bapak Dr.Ir. Fauzri Fahimuddin, selaku ketua panitia penyelenggaraan KJI 2008. Beliau sejak awal adalah penggagas KJI, jadi bila ada masukan-masukan untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan, saya yakin beliau akan concern. Sekali lagi pesannya, harap sopan.🙂

    Tentang nilai Brawijaya adalah nol. Waduh saya kurang tahu. Apa benar itu ? Takutnya itu belum diinputkan. Rasanya nilai nol hanya mungkin jika apa yang dipresentasikan tidak sama dengan report yang disampaikan. Jika tidak, rasanya ada beberapa komponen yang dinilai, jadi kalau nol semua koq ya kebangetan. O ya, tiap presentasi minimal ada dua juri yang menilai. Memang sih, jurinya tidak sama untuk tiap presenter.

    Suka

  28. tunggu kedatangan kami dari team UNTIRTA.
    bergabung dengan kawan” teknik sipil di seluruh universitas yg ada d negara tercinta Indonesia.

    Suka

  29. Ada kemungkinan nilai brawijaya bisa nol adalah karena pada saat itu tim baja brawijaya bertukar tempat dengan UI.
    yang semestinya brawijaya presentasi di ruangan lantai 2. tapi ketika mau masuk, kami di minta pindah untuk presentasi ke ruangan atas, karena UI yang sebelumnya ruangan presentasinya di lantai 3 harus pindah ke ruangan lain karena terdapat dosen UI yang menjadi juri di ruangan lantai 3. jadi kami yang diminta menggantikan.

    ada kemungkinan nilai presentasi kami tidak masuk karena hal itu. padahal pak wir, pada saat presentasi, presentasi kami bisa dibilang sangat baik. padat, jelas, dan pertanyaan juri semua terjawab, mungkin karena faktor itu juga teman-teman banyak menyayangkan nilai presentasi tidak masuk pada saat rekapitulasi nilai. padahal baja brawijaya kan sudah peringkat 4, sedikit lagi bisa juara 3. gtu lho pak, hehe.

    kalo memang tertukar, tp kok nilainya UI tetap ada? yah, tak jadi masalah lah, positive think. saya menganggap itu adalah hal yang tidak disengaja. sudah berlalu juga pak.

    oh ya, ada yang mau saya tanyakan pak.
    dalam peraturan tidak dibatasi tentang tingkatan mahasiswa. sehingga denger2, di dalam KJI-4 kemarin terdapat mahasiswa tingkat S2.
    apa benar tidak ada batasan seperti itu pak?
    seandainya saja pada KJI berikutnya ada mahasiswa S3 gitu gmana pak?

    terimakasih atas balasan commentnya.

    Suka

  30. @fachrezakbar

    seandainya saja pada KJI berikutnya ada mahasiswa S3 gitu gmana pak?

    Wah menurut saya itu bagus sekali, membuat perlombaan menjadi semakin “berbobot”.

    Jadi, apa masalahnya ? Takut ?

    Bahkan kalau saya boleh usul, perlombaan tersebut terbuka, asalkan berstatus “mahasiswa”.

    Kenapa saya berpikiran seperti itu. Gelar DOKTOR tidak menjadi jaminan bahwa yang bersangkutan pasti mampu menghasilkan “struktur” yang dimaksud.

    Engineering itu gabungan antara sain dan art (seni), sangat luas. Sedangkan doktor, umumnya meneliti ke hal yang spesifik, jadi belum tentu dia juga ahli jembatan. Selain itu jika yang bersangkutan tidak mempunyai pengalaman empiris di lapangan maka pemikiran yang dihasilkan cenderung teoritis.

    Karena alasan itu pula, maka seorang mahasiswa doktoral yang akan maju lomba pasti juga memikirkan hal tersebut. Kalau menang, ya pasti dianggap biasa, tetapi jika kalah. Khan malu. Sedangkan seorang mahasiswa S1 bisa ngalahkan yang S3 khan pasti bangga banget. Dengan demikian semuanya akan berpikir keras untuk membuat terobosan yang hebat. Ujung-ujungnya lomba jadi menarik, yang jadi juripun harus kerja keras. Kalau tidak, bisa-bisa di debat oleh si calon doktor tersebut. Akhirnya dengan kondisi tersebut, event tersebut menjadi ajang yang bergengsi. Gimana ? Berani menerima tantangan !

    Suka

  31. Syallom.maaf pak saya belum memperkenalkan diri waktu lomba KJI-4 peserta dari univ.tadulako yang pake kacamata.nama saya Stanislaus P.L.

    kami sangat bangga bs mengikuti lomba tersebut dan dpt pengalaman berharga dr lomba tersebut spy kedepannya jika kami (univ.tadulako)bs memberikan yg terbaik dari sebelumnya. Paling tidak ini menjadi pengalaman yg sangat berharga bs ikutan dlm kompetisi yg bergengsi ini.

    utk weblognya,sy sangat senang bapak bisa meluangkan waktu utk share pengetahuan.

    trims ya Pak !

    Suka

  32. haha…
    kalo saya sih ga’ masalah pak, malah bisa lebih seru…

    cuma, maksud saya tu mau tanya bagaimana pertimbangan para panitia/dewanjuri/penyelenggara akan masalah tersebut.

    lagi pula emang bener kok, ga’ mesti gelar yang lebih tinggi bisa menampilkan yang lebih baik. yang S1 pun kalo berjuang bisa mengimbangi pejuang-pejuang dengan strata lebih tinggi.

    tapi secara ilmu, S2/S3 jelas lebih tinggi.
    di S2 diajarkan teori permodelan, kan hal itu yang paling berhubungan dengan kompetisi kemarin.
    dan saya juga sekarang lagi mempelajari meskipun belum lulus S1, soalnya asik kayaknya.]

    kalau pertimbangan tersebut bersifat terbuka (maksudnya ga bawa nama univ. gtu ya pak), saya sih ga begitu setuju. masalah dana bisa jadi pertimbangan berat kalo ga disuppot univ.
    dan saya rasa support dari dosen, lingkungan dan teman-teman seperjuangan seUniversitas pun bisa berkurang.
    selain itu persaingan (sehat) untuk membawa nama baik universitas pun jadi hilang…
    feel nya kurang asik saya rasa.
    hehehehe…

    Suka

  33. sebelumnya maaf lahir batin pak…

    pak,kulo nuwun mau minta ijin ngopi gambarnya yang team UMM mw ta taruh di blog yang baru saya buat,gpp kan pak?

    Suka

  34. Maaf pak saya baru mulai baca blog Bapak, karena sesuatu dan lain hal.

    Bagi kami sdh tampil di KJI4 lagi merupakan pengalaman dan kebanggaan. Sebetulnya tim kami STTNAS Yogyakarta karena keterbatasan dana pada saat KJI 4 kemarin hampir saja tidak sempat berlaga di PNJ, tapi karena pada saat pertandingan kurang 10 hari dicek melalui telpon oleh Bu Nunung, maka baru pada kesempatan tersebut kami mulai membuat jembatan (inipun karena bantuan dana dari alumni STTNAS Bpk Sutan Bhatoegana). Jadi karena waktu yang mepet (mulai dibuat tanggal 1 Agt 08), maka model jembatan kami belum sempat kami uji dan kami kontrol secara mendetail…

    Kebetulan pada saat pembuatan, konsentrasi saya terpecah karena pada tanggal 4 Agt 08 saya diberitahu ibu kecil saya (di Lampung) terkena stroke, kmd koma, dan tepatnya hari sabtu 9 Agt 08 ibu meninggal. Tp saya hrs profesional…saya tetap hrs temani anak-anak.

    1. Tapi pada lomba KJI 4 kemarin ada hal yang sangat mendasar, dimana pada KJI 3 kemarin kami terancam WO karena alat bantu kami PERANCAH…tp utk KJI 4 ternyata hal tersebut diijinkan, bahkan peserta tsb dpt juara…he..he… Kog demikian ya pak ???

    2. Alat bantu PNJ ada bagian yang melewati pembatas, bagaimana ini ???

    Suka

  35. @Ibu Retno
    Ikut berduka cita atas meninggalnya ‘ibu kecil’ bu Retno, semoga beliau diterima di sisi Tuhan yang Maha Esa, dan keluarganya diberi ketabahan dan penghiburan.

    Pada sisi lain, diucapkan salute yang tak terhingga, bahwa pada situasi seperti itu, ibu Retno mampu membimbing team-nya untuk maju dan bertanding pada acara KJI4. Team anda bahkan mampu mengalahkan team kami (UPH) yang tidak lolos pada acara tersebut. Untuk itu kami haturkan salute lagi. Tentang jadi juara atau tidak, itu nggak masalah. Semuanya itu pasti ada buahnya.

    Tentang hal-hal yang terkait dengan peraturan perlombaan, hari Sabtu besok (tgl 13 Des 08) akan diadakan semacam lokakarya oleh PNJ didukung DIKTI. Karena acara tersebut akan mengundang rekan-rekan dari PT-PT juga DPU maka diharapkan tahun mendatang hasilnya akan lebih baik.

    Semoga.

    Suka

  36. Terima kasih pak Wir.

    Kemarin 10 Des 08 di Surabaya ada Seminar ttg Jembatan SURAMADU…dan kebetulan ada beberapa peserta adalah dari tim KJI, jadi seperti reuni begitu. Dan pada seminar tsb ada Bpk. Fauzri dan saya dapat info tentang lokakarya tsb dari beliau.

    Pak kenapa ya yang diundang pada lokakarya tersebut tidak melibatkan semua PT yang pernah mengikuti kegiatan KJI ?

    SHARING AJA PAK : Kalau Buku Panduan yach hampir baiklah… tapi kl yang mengalami kejadian riel saat berlaga adalah peserta KJI yang timnya pernah berlaga. Kalau hanya beberapa PT saja yang diundang, agaknya bisa dimungkinkan hasilnya masih kurang valid. Ya seperti kami dari STTNAS yang benar-benar mengalami kejadian tentang salah menggunakan alat bantu yang pada KJI 3 benar-benar diancam di CORET dari peserta dimana padahal untuk mewujudkan jembatan tersebut puluhan juta dana harus kami keluarkan…e…e…tp di KJI 4 ada tim yang salah alat bantu tp malah menjadi juara.

    Tapi, ya sudahlah…toh semua sudah ada yang atur…he…he…

    Suka

  37. wah keren pak,,,kita dari UNS mau tanya untuk KJI 2009 kapan pak?trus kita bisa akses website resmi KJI di alamat mana pak? trimaksih..

    Wir’s respond: bisa dilihat di sini

    Suka

  38. Ping balik: perlunya berprestasi « The works of Wiryanto Dewobroto

  39. Ping balik: menjelang kompetisi akbar mahasiswa teknik sipil 2010 | The works of Wiryanto Dewobroto

  40. Ping balik: laporan KJI ke-6 dan KBGI ke-2 2010 | The works of Wiryanto Dewobroto

  41. Ping balik: KJI dan KBGI ala Wiryanto « Caraka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s