100 Tahun Roosseno


Kata Pengantar dari Wiryanto Dewobroto

Pagi ini membaca harian Kompas, saya cukup tergugah dengan artikel yang ditulis oleh Prof. Wiratman. Sangat jarang beliau menulis tentang pengalamannya dengan pribadi seseorang. Jadi kalau artikel beliau hari ini di harian Kompas tentang pengalamannya dengan seseorang, maka pastilah orang tersebut mempunyai kesan yang mendalam dan istimewa.

Orang yang dimaksud ternyata Prof. Roosseno yang mempunyai bidang keahlian yang sama dengan Prof. Wiratman. Isinya tentu istimewa bagi kita, para yunior yang mempunyai bidang keahlian yang sama ini. Oleh karena itu tulisan beliau di harian Kompas saya copy-paste kan di blog ini agar lebih mudah dibaca.

Terus terang bagi saya, Prof. Wiratman Wangsadinata, adalah bapak beton Indonesia penerus (pengganti) dari bapak beton Indonesia yang pertama yaitu Prof. Roosseno.

Silahkan baca.

100 Tahun Roosseno

Kompas, Sabtu, 2 Agustus 2008 | 00:43 WIB
Wiratman Wangsadinata

Tanggal 2 Agustus 2008 merupakan momentum 100 tahun kelahiran Prof Dr (HC) Ir Roosseno. Predikat Bapak Beton Indonesia tepat diberikan kepada Roosseno.

Sejak bekerja di Department van Verkeer en Waterstaat tahun 1935, Roosseno berhasil meyakinkan atasannya untuk mengutamakan penggunaan beton dalam pembangunan jembatan di Indonesia. Alasannya, bahan-bahan dasar beton, seperti pasir, batu pecah, semen, dan kayu perancah, dapat dibeli di Indonesia sehingga biaya pengadaannya akan masuk kantong dan menyejahterakan rakyat.

Pada masa pendudukan Jepang, 1 April 1944 Roosseno diangkat menjadi guru besar (kyodju) bidang ilmu beton di Bandung Kogyo Daigaku. Lalu, sebagai orang swasta yang baru hijrah dari Yogyakarta ke Jakarta, tanggal 26 Maret 1949, ia diangkat menjadi guru besar luar biasa ilmu beton di Universiteit van Indonesi, Faculteit van Technische Wetenschap di Bandung.

Beton pratekan

Roosseno menulis buku ajar beton pertama dalam bahasa Indonesia pada 1954. Beton pratekan mulai diperkenalkan di Indonesia oleh Roosseno melalui kuliahnya di ITB tahun 1949, juga melalui tulisan-tulisan dalam majalah Insinyur Indonesia tahun 1959. Struktur beton pratekan pertama di Indonesia terwujud tahun 1961 untuk pelataran Monas berukuran 45 meter x 45 meter dan Jembatan Semanggi di Jakarta berbentang 50 meter. Pelataran Monas dirancang Roosseno dengan sistem prategangan Freyssinet dari Perancis dan dilaksanakan PN Adhi Karya.

Dalam mendorong rasa percaya diri dan percaya kemampuan bangsa, dalam pidato pengukuhan guru besar Universiteit van Indonesi¸ di Bandung tanggal 26 Maret 1949 dan dalam pidato pengukuhan doktor honoris causa di ITB tanggal 25 Maret 1977, Roosseno menyanggah isi syair sastrawan Inggris Rudyard Kipling (1865-1936): Oh, East is East, and West is West, and never the twain shall meet.

Syair ini menyatakan, orang Timur tak mungkin setara orang Barat, ungkapan yang menyakitkan hati. Maka, Roosseno mengajak generasi muda untuk membuktikan, sajak itu harus berbunyi, ”Oh, East is East, and West is West, but this time the twain shall meet”. Roosseno telah membuktikan, dengan lulus Technische Hooge School Bandung, 1 Mei 1932, dengan nilai tertinggi di antara tujuh orang Belanda dan satu orang Tionghoa.

Kisah sukses

Pada pemugaran Candi Borobudur 1972 dengan bantuan UNESCO dan International Consultative Committee, tim dibentuk untuk mengawasi aspek teknis pemugaran. Anggotanya terdiri dari para ahli pemugaran dari Jepang, Amerika Serikat, Belgia, Jerman (Barat), dan Indonesia. Roosseno mewakili Indonesia ditunjuk sebagai ketua dan penulis sebagai asisten. Pekerjaan pemugaran meliputi pembongkaran dua juta batu dan batu arca, pemasangan pelat-pelat fondasi beton serta sistem pipa drainase, dan pemasangan kembali batu dan arca ke tempat semula.

Karena penanganan kestabilan lereng bukit Borobudur oleh dua konsultan UNESCO bertele-tele dan tidak tuntas, tahun 1975 Roosseno meminta penulis mengambil alih pengerjaannya. Dibentuklah tim terdiri dari penulis, Ir Aziz Djayaputra, Ir FX Toha, dan Ir Indradjati Sidi.

Laporan final menyimpulkan, semua tahap pemugaran aman terhadap kelongsoran. Faktor keamanan jangka panjangnya pun memadai. Laporan ini disetujui International Consultative Committee di Candi Borobudur tanggal 27 April 1976 sehingga pekerjaan fisik pemugaran dimulai.

Pemugaran Candi Borobudur diresmikan Presiden Soeharto 23 Februari 1983. Ketahanan Candi Borobudur atas gempa telah teruji, saat gempa Bantul, 27 Mei 2006, dengan magnitudo 6,3 skala Richter, kedalaman 10 km, dan jarak episenter—Candi Borobudur sekitar 45 km. Saat itu Candi Borobudur tidak mengalami kelongsoran atau kerusakan.

Kisah tak sukses

Selain cerita sukses, ada juga kisah kurang sukses terkait karya Roosseno. Misalnya, Jembatan Sarinah berbentang 40 m di atas Jalan Wahid Hasyim, Jakarta, yang runtuh pada 28 Februari 1981 akibat putusnya balok tarik beton pratekan penahan gaya reaksi horizontal di bawah Jalan Wahid Hasyim karena baja prategangnya berkarat.

Kekecewaan Roosseno lainnya, tak berhasilnya gagasan meningkatkan daya pikul gelegar komposit baja beton dengan memberi prakompresi dengan mengerjakan gaya horizontal dengan dongkrak pipih pada pelat beton. Sistem ini diuji pada Jembatan Kali Ciliwung di Condet. Namun, selang beberapa waktu prakompresinya hilang sehingga jembatan harus diperkuat tahun 1994. Ini menunjukkan pemberian prakompresi melalui transfer gaya tekan dari pelat beton ke gelegar baja harus diteliti. Namun, penelitian itu tak tuntas, Tuhan memanggil Roosseno pada 15 Juni 1996 saat usianya 88 tahun.

Wiratman Wangsadinata
Guru Besar Emeritus Universitas Tarumanagara, Jakarta

 

Artikel lain yang terkait:

9 thoughts on “100 Tahun Roosseno

  1. Pak Wir,

    Kala ga salah baca, dikompas kemarin juga ada publikasi seminar HAKI yang merupakan bagian dari peringatan 100 tahun roosseno dibulan agustus ini, ada yang bisa memberikan informasi detil mengenai kegiatan ini?

    salam
    badar

    Suka

  2. Yah, mereka memang luar biasa dibidangnya, pendidikan merekapun hanya produk dalam negri bukan ?. Bukankah ini membuktikan pendidikan zaman dulu lebih baik atau orang2 tua kita dulu lebih punya semangat yang tukus untuk kemajuan bangsanya.

    Trims

    Suka

  3. Kebetulan saya punya brosurnya untuk Seminar & Pameran HAKI 2008.

    Seminar diadakan di Hotel Borobudur dari tanggal 19 s/d 20 Agustus 2008 dengan tema : PENGARUH GEMPA & ANGIN TERHADAP STRUKTUR.
    Ada juga Short Course HAKI yang diadakan pada tanggal 21 Agustus 2008 dengan tempat ang sama. Topiknya : Topik 1. PERENCANAAN STRUKTUR BETON BERTULANG TAHAN GEMPA UNTUK BANGUNAN GEDUNG dan Topik 2. PERFORMANCE BASED DESIGN.
    Untuk Pameran diadakan dari tanggal 19 s/d 21 Agustus 2008.

    Adi

    Suka

  4. Pak Badarudin,

    Bapak bisa menghubungi langsung ke Sekretariat HAKI, Jl. Tebet Barat X No. 5 Jakarta 12810 Telp. (021) 8298518 – 8351186. fax (021) 8316451. Email : haki@cbn.net.id

    Informasi tambahan :
    Pendaftaran seminar :
    Sebelum 09-08-08
    anggota HAKI 450rb
    umum 550rb
    Mahasiswa (undergraduate) 450rb

    Sesudah 09-08-08
    anggota HAKI 550rb
    umum 650rb
    Mahasiswa (undergraduate) 550rb

    Pendaftaran short course :
    Sebelum 09-08-08
    anggota HAKI 300rb
    umum 400rb
    Mahasiswa (undergraduate) 300rb

    Sesudah 09-08-08
    anggota HAKI 400rb
    umum 500rb
    Mahasiswa (undergraduate) 400rb

    Salam
    Adi

    Suka

  5. Selain cerita sukses, ada juga kisah kurang sukses terkait karya Roosseno. Misalnya, Jembatan Sarinah berbentang 40 m di atas Jalan Wahid Hasyim, Jakarta, yang runtuh pada 28 Februari 1981 akibat putusnya balok tarik beton pratekan penahan gaya reaksi horizontal di bawah Jalan Wahid Hasyim karena baja prategangnya berkarat.

    Kekecewaan Roosseno lainnya, tak berhasilnya gagasan meningkatkan daya pikul gelegar komposit baja beton dengan memberi prakompresi dengan mengerjakan gaya horizontal dengan dongkrak pipih pada pelat beton. Sistem ini diuji pada Jembatan Kali Ciliwung di Condet. Namun, selang beberapa waktu prakompresinya hilang sehingga jembatan harus diperkuat tahun 1994. Ini menunjukkan pemberian prakompresi melalui transfer gaya tekan dari pelat beton ke gelegar baja harus diteliti

    Dear Pak Wir and Engineers,

    Saya tertarik dengan kutipan di atas. Ada yang bisa menceritakan situasi saat itu serta pandangan teknisnya???

    Terima kasih banyak sebelumnya

    Regards

    Suka

    • @R_son
      Adanya fakta bahwa tidak semua ide yang dikemukakan oleh Prof Rosseno berhasil secara sempurna, saya kira adalah sesuatu yang wajar-wajar saja.

      Itulah engineering, yang kebenarannya hanya dapat dibuktikan dalam suatu kondisi batas tertentu, dalam skala probabilitas dan tidak berlaku mutlak. Karena bagaimanapun juga, engineering adalah berkaitan dengan kemampuan manusia untuk mengendalikan alam (termasuk manusia di dalamnya).

      Tahu sendiri bukan, bahwa belum semua rahasia alam dapat diketahui oleh manusia. Dan di sinilah pentingnya budaya tulis, karena dapat digunakan sebagai sarana untuk mengumpulkan rahasia-rahasia alam agar dapat terus terpelihara dengan baik untuk disampaikan kepada generasi mendatang.

      Ide desain prof Rosseno untuk jembatan Sarinah yang menggunakan pelengkung dan batang tarik memakai prestressed di bawahnya secara teknis saat itu adalah benar sekali. Tidak ada yang salah. Keberanian Rosseno untuk memakainya saat itu tentu perlu diacungkan jempol. Kenapa, karena beliau berani mengadopsi suatu teknologi yang relatif baru pada masa tersebut, yaitu prestressed.

      Masalah itu timbul, karena adanya fenomena “stress corrosion” yang beresiko tinggi terjadi pada komponen prestressed tersebut. Hal tersebut tentu belum banyak terungkap pada masa tersebut, yang mana pembelajaran prestresssed lebih banyak pada permasalahan tegangan-regangan dan keseimbangan, sebagaimana yang banyak diajarkan pada level S1.

      Stress corrosion adalah fenomena terjadinya crack pada material ductile yang mendapat tegangan tarik tinggi akibat timbulnya korosi. Korosi timbul akibat material tersebut tereksposed oleh lingkungan sekitarnya, yang mungkin prosesnya dipicu oleh ketidak-baikan konstruksi diawal mulanya, lingkungan yang agresif dan waktu.

      Adapun kegagalan di Condet, yaitu precompression pada pelat beton adalah karena faktor creep (rangkak). Yaitu dengan bertambahnya waktu dapat terjadi tambahan deformasi pada suatu tegangan tetap. Ini menyebabkan tegangan internal akibat prestressed jadi hilang.

      Jika prof Rosseno dahulu mengetahui kedua faktor tersebut dengan baik, maka saya yakin kegagalan pada dua konstruksi diatas tidak terjadi, karena tentunya akan dipikirkan cara atau metode untuk mengatasinya.

      Adanya cerita atau pengalaman beliau diatas adalah penting untuk pembelajaran bagi engineer selanjutnya. Itu jelas suatu sumbangan beliau yang penting bagi ilmu pengetahuan. Dan ingat, ilmu pengetahuan itu hanya ada jika dituliskan seperti ini.🙂

      Suka

  6. Dear Sir and engineers,

    waaahhhhhhhh……visi beliau luar biasa sekali. Bahwa saat itu ternyata stress corrosion blm menjadi perhatian, saya setuju dalam hal ini dengan pendapat Pak Wir di atas. Demikian pula bahwa dari kegagalan2 (baik di Sarinah maupun Condet) yang terjadi justru memberikan “ruang” bagi engineers untuk mengexplorasi daerah tersebut.

    Tiba-2 saja teringat dengan dosen Struktur Beton 3 saya dulu (Bpk. Ir. Suparman Gunara) waktu ngajar Beton Prestress sampai berbusa-busa beliau menekankan, “Hati-hati dengan masalah retak dan korosi. Kalo’ sampai itu terjadi, bisa-2 prestress-mu gak ada gunanya”.

    Terima kasih untuk pencerahannya Pak Wir 🙂

    Regards

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s