duc in altum – Tahbisan Uskup Bandung


Informasi akan adanya tahbisan Uskup Bandung aku baca di poster besar yang dipasang pada papan pengumuman di Pascasarjana UNPAR, sebagai universitas yang menyandang kata Katolik, maka jelas adanya acara tersebut menjadi istimewa. Pada poster tersebut, pribadi Uskup begitu ditonjolkan, fotonya menghias secara dominan poster tersebut. Meskipun wilayah gerejaku yaitu Santo Bartolomeus Bekasi termasuk dalam wilayah Keuskupan Agung Jakarta, sehingga mestinya tidak termasuk atau tidak ada kaitannya dengan keuskupan Bandung, tetapi ketika membaca poster di atas hatiku bergetar.

Bagaimana tidak, informasi tentang hal tersebut sudah aku dengar sebelumnya, yaitu via telpon dari orang tuaku di Yogyakarta. Acara tersebut ternyata menjadi acara besar bagi keluarga besar Pujamartanan yang masih tertinggal di bumi ini, yaitu bude Pujo di Kalitan-Solo, bapak di Demangan Baru-Jogja dan om Son di Ciereundeu-Jakarta.

Mengapa ?

Ternyata yang dipilih Vatikan untuk menjadi Uskup Bandung, tidak lain adalah putra ke-2 dari bude Pujo, mas sepupu yang waktu kecil dulu aku biasa panggil sebagai mas Yanto.

Aku bisa merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh ayahku, yang merupakan adik kandung bude Pujo (ibu dari Uskup Bandung yang baru). Bagaimanapun figur bude Pujo dalam keluarga besar kami adalah cukup penting, khususnya patron keluarga besar kami dalam menjalankan visi-misi ke katolikan di bumi ini. Ibaratnya sebagai ibu kerohanian, begitu katanya. Jadi dengan diangkatnya mas Yanto, atau masyarakat umum menyebutnya sebagai Mgr. Johannes Pujasumarta sebagai Uskup, maka jelaslah itu merupakan suatu kebanggaan besar sekaligus mengamini bahwa apa yang menjadi patron keluarga kami adalah benar adanya karena telah menjadi pilihan orang lain juga.

Acara pelantikan diadakan pada tanggal 16 Juli 2008, bertempat di gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Jl. Tamansari 73 Bandung.

Karena undangan yang diberikan adalah untuk keluarga, maka jelas posisi duduknya sangat istimewa atau kalau aku boleh menyebutnya adalah VIP. Bagaimana tidak, karena terletak persis di depan altar tempat dirayakannya upacara pentahbisan Uskup tersebut. Bayangkan, acara tersebut dihadiri oleh lebih dari 2000 umat Katolik keusukupan Bandung. Jadi cukup istimewa lah.

Selanjutnya akan kami sajikan foto-foto yang berkaitan dengan acara tersebut, tentu saja dari sudut pandang keluarga. Juga nanti sedikit aku sampaikan juga info tentang pribadi Uskup Bandung yang baru.


Berpose sebentar sebelum berangkat ke gedung Sabuga, dari kiri ke kanan : saya sendiri, bapak dan mas Mahi.


Menjelang masuk ke gedung Sabuga, dari kiri ke kanan : mas Mahi, dik Hestun, suster Felisitas, bapak Sri Hardjono, ibu Nemiarni, mas Reza.


Ini di dalam gedung Sabuga, setelah beberapa rituil acara yang diiringi oleh beberapa penari khas Jawa barat maka di panggung telah berdiri lengkap calon uskup dengan diiringi oleh seluruh Uskup yang ada di Indonesia, juga duta perwakilan dari Vatikan, yang mewakili Paus.

Acara ini cukup istimewa bagi kalangan Katolik awam maupun selibat, bayangkan saja para Uskup seluruh Indonesia berkumpul di satu panggung yang sama, hanya sekedar untuk ikut mendoakan, merestui dan memberi selamat kepada uskup baru Mgr. J. Pujasumarta.

Uskup dalam hal ini adalah jabatan tertinggi satu level di bawah Paus, bayangin tinggi banget khan. Oleh karena itu, pengangkatan mgr Puja menjadi Uskup Bandung tersebut adalah sepenuhnya keputusan dari Tahta Suci di Vatikan, jadi bukan karena pemilihan uskup-uskup yang ada di Indonesia ini. Semua uskup tersebut mempunyai kedudukan yang sama tinggi dan mandiri, hanya saja untuk memudahkan komunikasi maka Tahta Suci menunjuk satu yang dianggap dapat mewakili (tetapi tidak berarti ini lebih tinggi) yang disebut sebagai Kardinal. Orang awam menyebutnya sebagai pemimpin uskup-uskup.

Keberadaan uskup-uskup tersebutlah sehingga acara ini mendapat penjagaan ketat dari aparat keamanan. Untuk masuk gedung Sabuga tadi dibuatkan pintu khusus pendeteksi dan sifat undangannya juga terbatas, satu undangan hanya untuk satu orang. Tanpa undangan jangan bayangkan untuk dapat masuk. Tempatnya juga khusus, untuk keluarga maka warna undangannya adalah pita merah muda. He, he, jika ada anggota keluarga yang jadi orang penting itu enak juga ya.🙂


Di foto dari tempat duduk, posisi di depan persis dari altar acara. Jadi posisi memotonya adalah ditengah-tengah sehingga yang nampak pada gambar adalah para umat yang berada di sisi kiri. Saat itu sedang menyanyikan lagu pujian.

JANJI USKUP TERPILIH


Penahbis Utama (PU) dalam hal ini adalah Julius Kardinal Darmaatmadja SJ, Uskup Agung Jakarta, menanyakan di depan umat yang hadir tentang kesediaan mgr Puja untuk mengemban tugas sebagai Uskup Bandung.

Adapun pertanyaan (permintaan janji) Penahbis Utama (PU) kepada calon Uskup (CU) sbb:

Pastor Johannes Pujasumarta yang terkasih, sejak Gereja Perdana sudah berlaku suatu peraturan yang menghendaki agar orang yang akan ditahbiskan menjadi Uskup, ditanya dihadapan umat, apakah ia bersedia memelihara iman dan melaksanakan tugas.

Dari sebab itu, Saudara terkasih, bersediakah Saudara, dengan bantuan Roh Kudus, melaksanakan sampai mati tugas yang dipercayakan oleh para Rasul kepada kami dan yang kini akan diserahkan kepada Saudara dengan penumpangan tangan ?

Bersediakan Saudara selalu dengan setia mewartakan Injil Kristus ?

Bersediakan Saudara memelihara secara murni dan utuh harta iman sesuai Tradisi yang dipertahankan dalam Gereja, selalu dan di mana-mana sejak zaman Para Rasul.

Bersediakan Saudara membangun Tubuh Kristus yakni Gereja-Nya, dan tetap tinggal bersatu dengan-Nya, bersama para uskup sedunia di bawah pimpinan pengganti Rasul Santo Petrus ?

Bersediakah Saudara tetap setia kepada pengganti Rasul Santo Petrus.

Bersediakah Saudara sebagai seorang Bapa, bersama para imam dan diakon, membimbing umat Allah yang kudus dengan penuh kasih sayang pada jalan keselamatan ?

Bersediakah Saudara, demi nama Tuhan, senantiasa berhati lapang dan penuh belas kasih terhadap orang miskin, orang terlantar dan semua orang yang berkekurangan ?

Bersediakah Saudara sebagai gembala yang baik, mencari domba-domba yang tersesat dan mempersatukan dengan kawanan Tuhan ?

Bersediakah Saudara, seturut ajaran Rasul Santo Petrus, menghormati semua yang memegang kekuasaan sah dalam negara dan masyarakat kita, memajukan kerukunan antar umat beragama, dan menggalang kesatuan serta persatuan demi kemuliaan Tuhan yang Maha Esa.

Bersediakah Saudara berdoa dengan tak henti-hentinya kepada Tuhan yang maha Esa bagi umat Allah yang kudus, serta menunaikan tugas Iman Agung tanpa cela ?

Semoga Allah, yang telah memulai karya-Nya yang baik dalam diri saudara menyelesaikannya pula.


Mgr Puja menelungkup di altar, sebagai simbolisasi penyerahan diri sepenuhnya, jiwa dan raga kepada Tuhan Bapa di Surga dalam memenuhi semua jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh penahbis utama. Karena bagaimanapun tanpa adanya dukungan Roh Kudus, maka melaksanakan janji-janji seperti itu adalah mustahil tidak gampang. Hanya jika Tuhan berkenan, maka jadilah. Begitu kira-kira makna rituil di atas.

Bentuk yang real dalam hal ini dimulai dengan mengikuti petunjuk wakil-Nya di bumi yaitu Tahta Suci  Vatikan yang merupakan penerus santo Petrus, berupa pengabdian kesetiaan kepada Roma dalam tugasnya untuk memuliakan Yesus Kristus sebagai Tuhan di bumi Pasundan.

Ciri-ciri bahwa Yesus Kristus dimuliakan di bumi Pasundan adalah jika perintahnya yang utama yaitu KASIH diwartakan. Kasih dimulai dari diri sendiri, sehingga setiap tindakan yang ada menimbulkan rasa syukur akan berkat yang telah Tuhan berikan pada diri sendiri. Selanjutnya meningkat, kasih kepada sesama, yaitu berbagi berkat, menjadi penghibur sesama, sehingga orang-orang dapat merasakan KASIH tersebut sehingga di dalam dirinya timbul rasa syukur juga di dunia ini. Kasih adalah lemah lembut, kasih adalah memenangkan.

PENUMPANGAN TANGAN


Prosesi penumpangan tangan oleh semua uskup yang hadir. Ini adalah puncak Ritus Tahbisan Uskup yang sejak abad-abad pertama meliputi dua pokok, yakni Penumpangan Tangan dan Doa Tahbisan oleh para Uskup. Umat mengikuti Ritus ini dengan khidmat dan dalam suasan hening, sambil tetap berdiri.

Uskup Terpilih (UT) berlutut, Uskup Penahbis Utama menghampiri UT dan menumpangkan kedua tangannya ke atas kepala UT tanpa mengucapkan sepatah katapun. Selanjutnya Uskup Penahbis beserta semua Uskup Konselebran lainnya juga menumpangkan tangan bergantian. Setelah Ritus ini Uskup Terpilih menjadi Uskup Baru (UB).

Secara awam rituil tersebut juga menunjukkan bahwa pengangkatannya menjadi Uskup Bandung ini juga mendapat restu, dukungan dari semua Uskup yang ada di Indonesia. Jika para uskup saja mendukung, maka diharapkan semua umat Katolik di Indonesia juga mendukungnya. Jadi ini merupakan rituil pengakuan begitu.

DOA TAHBISAN


Penahbis Utama (PU) meletakkan Kitab Injil (Evangeliarium) yang terbuka (bagian kulit muka Kitab Injil di atas) di atas kepala Uskup Baru, dibantu oleh dua Imam Pendamping, yang sambil berdiri menahan Kitab Injil di atas kepala Uskup Baru sampai Doa Tahbisa selesai.

Dengan tangan terentang Penahbis Utama mengucapkan doa sbb:

Allah dan Bapa Tuhan kami Yesus Kristus, Bapa yang berbelas kasih dan pokok segala penghiburan, Engkau bersemayam di surga, tetapi tetap memperhatikan dunia. Engkau mengetahui segala sesuatu sebelum dijadikan. Engaku memberi tata peraturan dalam Gereja dengan sabda rahmat-Mu. Sejak Abraham, Engaku telah menentukan umat-Mu untuk mewarisi hidup kekal. Engkau telah mengangkat para pemimpin dan iman, dan tidak membiarkan kenisah-Mu tanpa pelayan. Sejak awal mula, kemulian-Mu terpancar dalam orang-orang pilihan-Mu.

Bagian doa berikut ini diucapkan oleh para Uskup bersama-sama:

Curahkanlah kini kepada orang pilihan-Mu ini kekuatan yang berasal dari-Mu yaitu Roh pangkal segala rahmat yang telah Kau-curahkan kepada putra-Mu terkasih, Yesus Kristus, dan oleh-Nya dianugerahkan kepada para Rasul.
Mereka telah membangun jemaat di tempat masing-masing sebagai kediaman-Mu yang kudus, demi keagungan dan kemuliaan nama-Mu sepanjang masa.  

RITUS PELENGKAP

Ada beberapa rituil pelengkap seperti pengurapan minyak krisma, penyerahan Kitab Injil (Evangelirium), lalu penyerahan cincin lambang kesetiaan dan kesatuan dengan umat.


Bude Pujo (ibu kandung Mgr Puja) dengan dibimbing oleh romo Ismartono (kakak kandung Mgr Puja) selaku wakil keluarga setelah menyampaikan cincin dan mitra . Tampak dua orang putra-putri berkebaya selaku wakil umat sedang membawakan tongkat lambang tugas kegembalaan. Keduanya diberikan untuk melengkapi peresmian menjadi Uskup Bandung.


Mgr. J. Pujasumarta setelah selesai pentabisan sebagai Uskup Bandung dengan tongkat dan mitra (topi) yang dilengkapi simbol keuskupan khusus, resmi berdiri sebagai Uskup Bandung.

MENDUDUKI TAHTA USKUP


Sambi diiringi tepuk tangan gembira para umat keuskupan Bandung karena telah mendapat kepala , Uskup Baru diantar ke tahtanya oleh kedua Uskup Penahbis. Tampak dalam gambar, Uskup Baru berdiri di depan tahtanya menerima salam damai dari para semua Uskup Konselebran. Umat menyanyi “Terpujilah Kau, Allah Cinta”.

PERSEMBAHAN

Tempat-tempat kolekte mulai diedarkan di tengah umat.


Para imam pembagi komuni mengelilingi panti imam, lalu menghadap umat untuk menerima sibori-sibori dari anak-anak. Bahan persembahan utama (hosti, anggur, air), buah-buahan, dan kolekte diterima oleh Uskup Baru.

PREFASI dan DOA SYUKUR AGUNG


Uskup Baru membuka, mengangkat, dan merentangkan tangan, sambil melagukan “Tuhan sertamu”. dst . . .

RITUS PENUTUP


Dengan mengenakan mitra dan tongkat, Uskup Baru didampingi kedua Uskup Penahbis mendekati umat dan berkeliling memberkati mereka.

Sementara umat bersama paduan suara menyanyikan “Puji Tuhan, Seluruh Bangsa”.

Setelah berkeliling memberi berkat Uskup Baru menuju tahtanya dan Uskup Pentahbis kembali ke kursi masing-masing. Acara dilanjutnya dengan sambutan. Pertama kali adalah sambutan dari Mgr. Turang yang mewakili Konferensi Waligereja Indonesia, kemudian disusul oleh oleh Nuntius, Duta besar Vatikan, Mgr. L, Girelli dan akhirnya Uskup Baru, Mgr. J. Pujasumarta.
 
Mgr. J. Pujasumarta memberi sambutan dengan teks.

Perarakan keluar dengan urutan: para putra altar, para Uskup Konselebran, para Uskup Penahbis, dan Uskup Baru berjalan paling belakang.

 

Informasi terkait dari situs lain sbb:

8 thoughts on “duc in altum – Tahbisan Uskup Bandung

  1. seluruh petinggi gereja katolik hadir ya.
    uskup kami dari medan datang juga kan.
    Mgr Pius Batubara.
    beliau pernah berkunjung ke rumah, karena Gereja katolik pertama di Tahan pinem itu adalah rumah kami. sampai sekarang sudah berdiri Gereja yang megah.

    Suka

  2. Selamat atas pentahbisan Uskup Bandung.
    Saya lahir di Bandung. Tetapi sekarang tinggal di Surabaya.
    Semoga dapat semakin membawa kesejukan dan kedamaian di hati kita semua.
    Salam.

    Suka

  3. mas totok, terima kasih karena sudah mengabadikan perayaan tahbisan Uskup Pujasumarta. fotonya jelas dan bagus sekali. boleh di-link ya… terima kasih

    Wir’s responds: aduh senengnya dari keluarga Kalitan rawuh, wah kalau di link seneng sekali dong. Sungkem kagem bude. Semoga Tuhan memberkati kita semua, khususnya romo Uskup.

    Suka

  4. Pak Wiryanto,

    Terima kasih banyak atas sharing tahbisan Uskup Bandung, Romo Pujasumarta, di Gedung Sabuga ITB. Kami turut merasakan keagungan ritual tahbisan Uskup tersebut.

    Kami sebagai umat di Keuskupan Bandung mengucapkan banyak selamat dan turut bersuka cita atas terpilihnya anggota keluarga besar Pak Wiryanto sebagai Uskup Bandung yang baru.

    Semoga Romo Pujasumarta senantiasa dinaungi berkat ilahi dalam mengembalakan domba-dombanya. Amin.

    Matur nuwun dan salam kami,

    Yoanes Bandung

    Wir’s responds: Terima kasih atas tanggapannya.
    Semoga berkat Tuhan menyertai kita semua. Amin.

    Suka

  5. Yth. Pak Wiryanto

    wah, terimakasih sekali atas tulisan dan foto saat pentahbisan bapa uskup.
    saya sendiri kebagian duduk di atap, jadi hanya bisa melihat lewat layar yang terbatas, tidak bisa melihat suasana keseluruhan. terimakasih ya. Tuhan memberkati.
    boleh ya saya copy ke web untuk lingkunganku, lingkungan paskasius-paroki santo paulus bandung.

    Wir’s responds: silahkan pak.

    Suka

  6. Bagaimana saya bisa mendapatkan dokumentasi video tahbisan mgr.bandung?saya mendengar bahwa perayaan juga dipadukan dengan seni budaya sunda.Saya sendiri orang sunda yang sangat tertarik dengan inkulturasi gereja thd kebudayaan setempat, berharap juga dapat membantu setiap usaha tersebut bagi keuskupan bandung.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s