‘knowledge economy’ dan pentingnya bahasa


Meskipun judulnya berbahasa Inggris, tetapi isinya memakai bahasa Indonesia, itu berarti artikel ini hanya disajikan bagi pembaca yang memahami bahasa tersebut. Apakah itu berarti bahwa artikel ini hanya bersifat terbatas (regional) atau bahkan tanpa batas (international) maka tentunya akan diketahui dari bahasa yang dipakainya tersebut.

Hal tentang pemakaian bahasa perlu saya ungkapkan pertama kali karena saya ingin membicarakan knowledge atau pengetahuan sebagai sarana untuk kesejahteraan (kata lain dari kegiatan ekonomi). Kenapa harus pertama, karena harus diakui bahwa untuk dapat menguasai pengetahuan (knowledge) maka langkah pertama adalah membekali diri dengan penguasaan bahasa. Semakin banyak bahasa yang dapat dikuasai maka semakin banyak pengetahuan yang dapat dikumpulkan (dimengerti dan dikuasai). Tanpa itu dilakukan , maka mustahil kita bisa bicara banyak tentang knowledge sebagai sarana memberdayakan diri.

Itu pula yang menyatakan mengapa bahasa dapat menjadi yang pertama harus dikuasai dibanding matematika, karena jika mulai dari bahasa maka kita dapat menguasai matematika, dan akan susah untuk mengatakan jika mulai dari matematika apakah juga bisa bahasa. Jadi belajar bahasa dan menguasainya adalah pengetahuan pertama dan utama untuk bisa masuk dunia knowledge-economy.

Bayangkan saja, jika hanya berbekal bahasa Jawa (meskipun kromo inggil sekalipun) apakah layak untuk berbicara dan masuk era knowledge economy dunia ?

Ok untuk sementara ini dulu, sebagai pemanasan dalam era knowledge-economy. Nanti dilanjutkan.

Salam 

9 thoughts on “‘knowledge economy’ dan pentingnya bahasa

  1. bagaimana hubungannya dengan kata serapan yang ada dalam Bahasa Indonesia ? mungkin untuk beberapa istilah yang tidak sepadan untuk diterjemahkan lebih baik menggunakan bahasa internasional, tetapi tetap dijelaskan makna turunannya ….. CMIIW …🙂

    Suka

  2. ngomongin lebih penting mana antara bahasa dan matematika, sama kayak telor dan ayam.

    dua duanya harus sejalan. berbahasa pun harus ada matematikanya, juga sebaliknya.

    Suka

  3. @Yoyo
    Saya setuju, kadang-kadang kalau diterjemahkan jadi bingung. Misalnya pada program analisa struktur dengan metode elemen hingga, apakah elemen disini artinya komponen. Juga kalau menyebutkan istilah formulasi dalam m.e.h, misalnya element Frame atau element Shell, apakah itu juga udah ada padanannya.

    Karena bingung, di buku saya maka istilah itu saya pakai aja, seperti aslinya, hanya dimiringin.

    Dan masih banyak lagi, khususnya istilah teknik.

    @Andra
    Saya mempunyai pemahaman yang sama ketika muda dulu, dalam perjalanan waktu ternyata fakta membuktikan bahwa bahasa lebih dominan.

    Memang kata orang, bahwa matematika melatih logika berpikir, jadi selalu logis. Begitu bukan. Tetapi kalau logikanya yang dominan maka fenomena-fenomena menarik mungkin nggak banyak dijumpai, di Indonesia ini khususnya.

    Coba lihat aja sekeliling anda, emangnya bisa masuk logika seorang jaksa berbisnis permata dan transaksinya tertutup pula. Juga banyak pejabat yang punya kekayaan melimpah, coba pikirkan dengan logika, apakah itu semua dari gaji. Berapa besarnya sih gajinya. Itu kalau diselesaikan dengan matematik pasti bikin pusing. Tetapi mengapa mereka bisa begitu, karena mereka bisa berkomunikasi dengan sumber yang tepat. Bagaimana bisa berkomunikasi, ya pasti pakai bahasa yang ‘muluk-muluk‘.

    Jadi intinya, bahasanya unggul dulu, lalu matematika diperlukan untuk menghitung jumlah yang diterimanya. Gitu lho.😛

    Suka

  4. Apakah benar-benar ada Bahasa Indonesia, perasaan Bahasa Indonesia cuma sekedar claim dari bahasa melayu, dan bahasa lainnya kan?

    Sekalian nich mohon dukungan backlinknya, sedang berjuang di Busby SEO Challenge international contest. Berharap bisa mengharumkan nama bangsa Indonesia di Tingkat dunia.

    Suka

  5. mas Yudhi
    tentang bahasa Indonesia, ternyata menarik lho kalau mengingat latar belakang alasan mengapa bahasa ini dipilih oleh orang-orang dulu. Wawasan mereka ternyata sangat maju. Coba apa hayo ?

    Mereka tidak memilih bahasa Jawa karena sifat bahasa itu yang sarat dengan feodalisme. Jenjang-jenjang dalam bahasa Jawa sangat identik dengan kelas-kelas dalam masyarakat (atau kasta-kasta, dalam tradisi Hindu) yang sangat tidak disukai.

    Sedangkan bahasa Indonesia, berasal dari bahasa Melayu Pasar sebagai lingua franca ketika itu, dikenal sebagai bahasa tanpa kelas, dan bahkan tanpa membedakan jender sebagaimana umumnya dipakai dalam banyak bahasa asing.

    Jadi dipilih bahasa Melayu karena lebih sederhana, tidak ada tingkat-tingkatan, atau perbedaan kedudukan. Itu menunjukkan bahwa para pelopor dulu telah memilih sarana komunikasi yang diharapkan mempunyai posisi sama untuk setiap elemen bangsa ini yang bersifat bhinekka tunggal ika. JIka digunakan bahasa Indonesia, maka tidak ada yang merasa tuan atau hamba, lebih tua (senior) atau lebih mudah (yunior) atau sifat-sifat saling merendahkan dsb.

    Itulah bahasa pemersatu sehingga bisa disebut sebagai bahasa Indonesia, yaitu untuk setiap bagian bangsa ini.

    Jadi kalau tidak kita yang membesarkan bahasa tersebut, maka siapa lagi.

    Gitu mas, jadi ngeblog ini juga salah satu caranya. Ok.

    Suka

  6. Yup..
    Setuju!

    Penguasaan bahasa akan membuka jalan kita untuk menguasai pengetahuan yang lain. Jika ingin menguasai sesuatu, tentu kita harus paham terlebih dahulu akan sesuatu itu. Dan pemahaman memerlukan pengertian akan bahasa yang digunakan.

    Namun saya punya pertanyaan, mengapa bahasa Indonesia terkesan sulit dipelajari ? Pengalaman saya saat kuliah, tidak ada satupun mahasiswa yang yakin dengan kebenaran jawabannya saat mengerjakan ujian mata kuliah Bahasa Indonesia. Sangat bertolak belakang dengan Bahasa Inggris.

    Mengapa ?

    Suka

  7. Setuju menguasai pengetahuan tentu harus mengenal bahasanya terlebih dulu. Contoh untuk mengetahui komputer lebih lanjut tentunya harus menguasai bahasa komputer bukan.

    Bahasa Indonesia, sebenarnya tidak jauh2 amat dari Bah.Malaysia,Bah.Brunei berasal dari Bah.Melayu (Kerajaan Melayu Riau,Kep.Riau,Malaka), kemudian berkembang sesuai dengan pengaruh etnik atau negara2 yang berpengaruh terhadap negara2 yang menggunakan. Hanya kalau sekarang kita membaca novel2 remaja sekarang, mungkin penggunaan Bah.Indonesia sudah sangat2 maju (ringan,lincah dan sederhana (meskipun dari kaidah Bah.Indonesia banyak yang lari)).

    Mari kita majukan Bah.Indonesia sebelum Bah.Malaysia lebih maju dari kita.

    Trims

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s