bingung pilih ilmu yang dipelajari


Dapet pertanyaan dari Hary, sedang bingung, baca ini:

Malam Pak Wir,

Saya Hary, mahasiswa semester 4 Teknik Sipil ITB. Mulai semester depan (semester 5), di ITB sudah mulai pake kurikulum mayor dan minor (seperti IPB). Mayor tuh jurusan sekarang. Minor tuh jurusan yang kita pilih (bebas).

Dan saya berencana untuk ambil minor teknik perminyakan.

Tapi saya masih ragu pak, sejauh mana sih jika saya ambil minor, pengaruhnya terhadap keahlian saya nanti waktu kerja. Mengingat saya tetap bertitle sarjana teknik sipil namun di sertifikat bertuliskan minor teknik perminyakan.

Saya ragu kalau ilmu perminyakan saya tidak terlalu terpakai karena saya bertitle sarjana teknik sipil.

Mohon Sarannya. Terima kasih.

Sdr Hary, sudah saya terima pertanyaan anda via blog ini, saya ekspose jadi artikel saja ya karena cukup menarik untuk diulas lebih jauh, selain itu agar menarik minat pembaca lain jika punya solusi pemikiran lain dari tanggapan yang aku berikan. Dengan demikian ini sekaligus sharing bersama.

Seperti biasa dalam mengulas masalah, harus ditelaah latar-belakang “mengapa sekarang dalam hal ini fakultas memilih opsi mayor dan opsi minor“, dimana dalam hal ini mayor adalah jurusan utama yang dipelajari (teknik sipil) sedangkan opsi minor adalah jurusan lain yang berbeda cabang keilmuan, dimana untuk kasus Hery adalah teknik perminyakan.

Tentu itu sangat menarik, bandingkan dengan jaman saya sekolah dulu di UGM, dimana setelah semester ke-5 mulai dilakukan penjurusan, tepatnya konsentrasi. Disebut konsentrasi karena masih dalam bidang ilmu yang sama, misalnya pengairan, konstruksi, hidro dll.

Jaman sekarang (pengalaman Hery) dan jaman dulu (pengalaman pribadi), beda banget ya !

Mana yang benar ?

Tentu setiap pilihan ada alasannya yang jelas.

Apakah itu untuk menunjukkan mahasiswanya pintar ? ITB khan terkenal sebagai mercusuar teknologi pendidikan di Indonesia. Dengan mengambil jurusan yang berbeda tersebut maka diharapkan ilmunya bertambah. Biar semakin menjulang lagi !

Mungkin ada yang berpendapat seperti itu. Apalagi fakta menunjukan bahwa apa-apa semakin mahal, jadi efisiensi semakin dibudidayakan. Ingat pesan dari PLN, lampu siang hari harus dimatikan. Benar khan. Jaman sekarang, jaman serba efisien, termasuk dalam hal ini karyawan harus serba bisa. Itu khan penghematan. Jadi perusahaan nggak perlu karyawan banyak, bisa segalanya.

Kecuali efisien, mungkin juga melihat fakta, bahwa sekarang susah cari kerja. Banyak sarjana pengangguran, kalau ada pekerjaan kadang tidak cocok dengan bidang ilmunya. Jadi kalau bidang ilmunya lebih banyak tentu peluang mendapat kerja lebih banyak. Wah, wah ini mungkin pendapat yang sedikit melecehkan teman-teman di ITB, emangnya masih ada lulusan ITB yang pengangguran. Saya kira tidak ada. Jadi intinya mungkin nggak begitu, dengan banyak bidang ilmu yang dikuasai, ditambah brand name ITB maka jatah lulusan lain bisa disabet. Wah kalau ini pendapat terlalu pede.😛

Apakah ITB ingin seperti itu dengan adanya kebijakan minor dan mayor tadi. Wah ini tentu perlu penjelasan dari institusinya.

Sekarang kalau ditujukan ke kompetensi. Apakah kebijakan minor dan mayor bisa kaitkan dengan kompetensi.

Untuk menjawab itu maka perlu saya analogikan pada pekerjaan dosen. Secara umum dapat dikatakan bahwa dosen yang berilmu, ini menurut kriteria HRD lho, bahwa dosen yang bersangkutan mempunyai gelar ijazah yang lebih tinggi. S1, S2 dan akhirnya S3 (doktor). Kriteria minor dan mayor tidak terlalu diperhatikan, baru diperhatikan oleh ketua jurusan ketika mata kuliah yang diampu sesuai nggak dengan bidangnya. Jadi katakanlah nanti anda jadi dosen di jurusan teknik sipil, maka tentunya akan cocok bila mata kuliah yang diampu adalah struktur baja di lepas pantai untuk pengeboran.

Kembali ke gelar ijazah tadi. Jadi jika punya gelar lebih tinggi maka dianggap lebih baik. Tapi nanti dulu, ternyata tidak gelar saja, tetapi juga konsistensi bidang yang digelutinya. Jika S1=struktur, lalu S2=marketing , dan akhirnya S3=pendidikan, maka pihak HRD dan juga ketua jurusan dalam hal ini akan meragukan kompetensi bidang ilmu yang dipunyai oleh si calon dosen tersebut.

Jadi umumnya orang melihat suatu keahlian adalah fokus ilmu yang dia pelajari atau kuasai. Kondisi itu senada dengan dokter, jika menggeluti semua penyakit disebut dokter umum, jika hanya bagian tertentu maka disebut dokter spesialis. Ingat dokter spesialis makin mahal lho biayanya. Jadi bisa dikatakan orang yang spesialis lebih dihargai.

Melihat itu semua maka saya menyadari mengapa anda (Hary) meragukan pilihannya tersebut. Meskipun demikian itu adalah pilihan saudara, tetapi dengan melihat argumentasi yang saya sampaikan tentu anda mendapat pemikiran baru minimal alasan mana yang anda pakai. Kuncinya adalah anda harus meyakini alasan yang menjadi dasar keputusan anda tersebut.

Menurut saya, selama anda yakin bahwa alasan anda benar maka hasilnya akan baik adanya. Pastikan jangan ragu dengan pilihannya.

Untuk itu maka saya sarankan agar anda mempelajari bidang keilmuan baru yang akan anda tekuni. Lihat, apakah itu dapat mendukung bidang ilmu mayor atau tidak, atau minimal apakah anda menyukai bidang itu atau tidak. Harapannya adalah anda dapat menekuninya dengan baik dan menguasai. Karena secara umum dapat dikatakan, bahwa menguasai banyak bidang yang berbeda adalah lebih susah (jadi kalau ada itu istimewa begitu lho), sehingga ada pameo bahwa jika dia punya gelar banyak (tidak pada bidangnya) berarti dianya hanya tahu sedikit-sedikit. Kalau ditanya detail pasti “keok”. Anda perhatikan ini, jangan sampai itu terbukti.

Kedua, bahwa anda harus bisa menjawab keraguan anda tadi. Jadi misalnya, ini koq ada minor minyak. Tentu jawabannya harus mantap “Itulah pak, saya di ITB belajar banyak, oleh karena itu jika bapak dapat menerima saya bekerja maka saya bisa membantu dengan ilmu tersebut. Mungkin tidak ahli sekali karena minor, tetapi kalau ada waktu lebih pasti saya dapat mudah mengejarnya wong udah ada dasarnya“.😛

Begitu Hary, mungkin ada pendapat teman yang lain.

 

12 thoughts on “bingung pilih ilmu yang dipelajari

  1. Kalau menurut saya, jangan seperti ayam mati di lumbung padi.

    Dulu waktu kuliah di sana, gak disuruh ambil mata kuliah, saya ikut aja, karena ingin tahu. Kalau mata kuliah diambil banyak, atau tidak, hubungan dengan pekerjaan tidak selalu berkorelasi lurus (kecuali anda bekerja di dunia pendidikan). Coba bayangkan anda belajar ilmu sebanyak2nya, kemudian anda ditugaskan ditengah hutan atau ditengah laut, apa semua terpakai ?.

    Satu hal yang mungkin kelebihan ITB, berhasil dibidangnya adalah biasa, berhasil diluar bidangnya luar biasa. Jadi jangan takut mempelajari ilmu apapun.

    Suka

  2. Nah ini saya mau urun rembug dengan Pak Wir dan juga Dik Hary.

    Berdasarkan pengalaman pribadi dan beberapa teman yang sudah “sukses”, juga beberapa teman yang ” nggak sukses ” dan dapat kita pelajari dan ambil hikmahnya, maka saya coba memberikan gambaran mengenai dunia kerja pada industri rekayasa (dalam hal ini teknik sipil).

    Kalau ada opsi minor (mungkin maksudnya: Mata kuliah pendukungnya mengarah ke bidang spesifik infrastruktur perminyakan, karena syarat keamanan yang tinggi, saya masih mengira saja, karena belum lihat silabusnya), maka itu adalah hasil evaluasi tim kurikulumnya ITB untuk mempersiapkan output lembaganya menjawab tantangan masa kini.

    Kalau bingung mau pilih yang mana, yah tentunya Dik Hary mesti lihat prospek terserapnya keilmuan yang kita miliki setelah lulus nanti, jadi mulai sekarang sudah memiliki rencana hidup minimal 1,5 th kedepan. Anda adalah orang terpilih yang (menurut saya : beruntung dan pantas) dapat menimba ilmu di institusi yang prestisius, saya nggak berani mengatakan “paling hebat” (karena nanti sejawat “tukang insinyur” alumni non ITB protes ke saya, juga saya nanti jadi merasa “koq kampus sendiri di rendahkan”).

    Kalo menelaah sarannya Mas Wir (sekarang nyebutnya Mas, tadi Pak), benar sekali harga “spesialis” dengan “generalis” beda, lhah nasi goreng aja kalo spesial pake telor gak sama dengan nasi goreng thok ! ( Kalo masih mbantah, tak antemi koen : maklum arek Suroboyo |^=^|)

    Tapi itu nanti, kalo mau jadi spesialis insinyur sipil yang ngerti tentang perminyakan dan mampu buat infrastruktur spesifik, tentu membutuhkan waktu, dokter aja begitu lulus gak pernah langsung jadi dokter bedah spesialis, kecuali dokter gigi dan dokter hewan.

    Cuma bedanya dalam industri bidang kita, terkadang kita nggak bisa menolak saat disodorkan pekerjaan bidang transportasi, struktur atau hidro, kalo menolak berarti menolak tantangan, bisa berpengaruh pada kompetensi kita, kan udah belajar walaupun sedikit dan belum matang.
    Sama ketika saya mengkhususkan diri di bidang transportasi, ternyata setelah masuk dunia industri malah basah di highrise building dan struktur. Apakah saya merasa rugi, karena ” spesialisasi” saya nyaris tidak teraplikasi ?

    Setelah bertahun-tahun “mengabdi” saya merasa bersyukur bahwa ilmu yang dapat “cuma” dasaran saja, dapat membawa saya lebih “waskita” dalam “pembangunan” pribadi dan berkarir secara “total”, dalam bidang konstruksi memberikan hasil yang “hutama” bagi keluarga yang ku”TATA”. (Nama perusahaan kontraktor gak semua dimasukkan, bingung mau mbuat kalimat yang nyambung).

    Simak saran Pak Dosen yang punya blog ini “Wir’s : Kuncinya adalah anda harus meyakini alasan yang menjadi dasar keputusan anda tersebut.“. Nah saya memberikan ilustrasi tambahan sebelum Dik Hary, membuat rencana dan keputusan.

    Contoh yang “gagal melanjutkan profesi insinyur” ada, namanya “Laksamana Sukardi”, malah jadi menteri tuh anak Indonesia. (Kalo nggak sempat merasakan atmosfer kampus, mana bisa jadi manager, gak bisa atur anak buah). Ada lagi, ” gagal melanjutkan profesi insinyur profesional, malah “mau” sukses menghasilkan insinyur yang profesional, dilarang sebutkan nama, inisialnya WD, awas ya jangan mesam-mesem).

    Kesimpulan, selanjutnya memberikan saran :

    Dik Hary, saat ini selagi muda, banyaklah belajar tidak perduli itu ilmunya masih satu rumpun atau lain cabang, yang penting kamu enjoy dan menyukainya. Juga ukur kemampuan sks yang dapat diambil, kan kamu juga perlu IPK tinggi, biar supply bulanan lancar (syukur nambah).

    Tidak ada ruginya banyak keahlian yang diperoleh semasa belajar, nanti kalo sudah terjun ke dunia industri, pilihan spesialisasi akan terbentang luas, apalagi Dik bisa membangun komunikasi yang baik dengan lingkungan industri tersebut.

    OK, selamat berjuang ya, tetap aktif di blog ini, di sini bagus lho, saya aja buuuanyak mendapat manfaatnya.

    Suka

  3. Jika boleh urun rembug, mungkin dalam cakupan konteks yang berbeda, bahwa ada banyak juga orang yang menempuh pendidikan lintas ilmu tidak hanya minor dan minor, sebagai contoh S1 kuliah di Hukum kemudian S2 ke MM, misalnya sebut saja Pak IG yang S1 Akuntansi kemudian S2 meneruskan pada bidang Program Komputer, dan S3 nya di bidang statistik, pada akhirnya pun sekarang menjadi salah satu pakar olah data di Indonesia. Saya pernah mengobrol dengan seorang bagian msdm di salah satu bank yang mencari pegawai baru dengan strata pendidikan S2 dengan kualifikasi program akuntansi, pengawai yang dicari yaitu lulusan S1 akuntansi + S2 program komputer atau mungkin malah sebaliknya. Dengan demikian interaksi antar dua bidang ilmu pun nanti akan menimbulkan spesialisasi tertentu

    Suka

  4. Ini anak 2006 ya? Diskusi mengenai kurikulum emang menarik..sebenernya itb khusus prodi sipil udah melakukan perubahan kurikulum secara besar-besaran sejak kurikulum 2003. Dimana kurikulum 2003 menghapus penjurusan, jadi subjur sudah ga ada lagi, dan hanya ada pemilihan TA..Banyak mata kuliah yang dipadatkan a.k.a digabung, diharapkan lulusannya bisa menjadi sipil umum(dasar2 teknik sipil diperkuat)..

    Perubahan ini sesuai dengan roadmap iTb untuk menjawab tantangan dunia industri..Dulu teknik sipil begitu terspesialisasi sejak S1, cuma yang dibutuhkan dunia industri adalah lulusan teknik sipil secara umum, seperti kata pak ramdani klo pas didunia industri biarpun kita struktur ada kemungkinan tetep mendapatkan hidro, transport, dll pas bekerja.

    Untuk kurikulum 2008, selain sipil menjadi sipil umum ditambahkan mata kuliah minor..Hal ini untuk menjawab tantangan dunia industri, dimana lulusan jurusan apapun itb memiliki jurusan sampingan untuk menambah pengetahuannya dibidang lain..Itb melihat dunia kerja membutuhkan hal tersebut..dengan kita memiliki pengetahuan di bidang lain, diharapkan lulusan itb dapat bersaing di dunia industri yang semakin ketat ini.

    harry ngambil teknik perminyakan ya, kupikir itu bagus kok, sekarang pembangunan infrastruktur ga segiat zaman orba, sedikitnya dana hibah, pinjaman, dan apbn buat membangun infrastruktur, ditambah banyaknya lulusan teknik sipi setiap tahunnya, membuat banyak lulusan teknik sipil sejak tahun 2000-an, yang disadari ato ga malah bekerja di dunia minyak dan tambang…

    Klo harry sadar sekarang sering banget ada seminar di prodi ttg KuyaOG(oil and gas), iya ini fenomena unik bgt.. Banyk lulusan teknik sipil itb malah bekerja di oil construction, oil company, ato oil service..

    Diharapkan dengan lulusan teknik sipil yang umum ditambah jurusan minor diharapkan, lulusan itb dapat menghadapi dunia industri..

    mengenai spesialisasi penjurusan, prodi sipil mengkhususkannya pada program pasca sarjana (S2) dan dikenalkan program fast track, dimana dengan fast track s1 dan s2 dapat diselesaikan dalam 5 tahun..sengaja dibuat program s1 agak umum diharapkan lulusan s1 itb melanjutkan s2-nya ke itb, dimana selama ini kebanyakan mahasiswa s2 itb merupakan s1 non-itb..Untuk mendukung itb nantinya menjadi institusi berbasis riset itb, itb berharap banyak dengan mahasiswa s1-nya untuk melanjutkan s2 di itb dan melakukan riset..

    Suka

  5. Ping balik: tentang sipil « Faridjunaidi’s Weblog

  6. Halo, Kuya Harry…

    You’re kinda lucky dengan jurusan major-minor begitu. Tapi yang saya tau ttg ITB sih, apapun mata kuliahnya, semua tergantung mahasiswanya. Dosen Sipil ITB pas jaman saya rada cul-culan gitu ke mahasiswa, nggak tau lagi setelah sekarang, yang katanya semua jadi lebih ketat. Sampe harus tanda tangan kontrak kudu lulus tepat waktu (mulai taun 2001 yah?)…

    Tapi ilmu Sipil si setau saya cukup bisa masup kemana-mana. Temen saya ada yang masup di oil industry, bank, kimpraswil, bahkan setau saya, ada kali yang kerja di media. Kuliah kan cuman jalannya. Pilihan selanjutnya…terserah anda..

    Suka

  7. Banyak insiyur sipil yang terlibat dalam proyek oil and gas, terutama dalam bidang off-shore.
    Di bidang off-shore insiyur sipil (bidang struktur) akan menjadi “pemain utama” dalam project tersebut. Tapi dalam bidang on-shore juga orang sipil akan dominan terutama apabila project tersebut adalah Detail Engineering Design. Karena semua facilitas oil and gas pasti perlu struktur penopang dan fundasi.
    Jadi apabila ambil kuliah bidang sipil untuk lebih spesialis lagi lebih baik ambil mata-kuliah bidang off-shore structure sehingga amat bermanfaat apabila bergabung pada perusahaan oil and gas.

    Suka

  8. saya Fachrul Domisili Pekanbaru Riau, Saya ingin sekali tergabung dengan tim civil eng. dimana pun hight rise, oil n gas, soal salary bolehlh disesuaikan apabila bapak punya informasi atau peluang kerja di Riau Khusus Pekanbaru saya menunggu informasinya dan saya ingin meningkatkan dan mengamalkan kualitas ilmu saya secara maksimal sambil bekerja.

    saya sangat tertarik dibidang struktur tetapi pengalaman saya masih sebagai pengawas pelaksana di proyek public build masih freelance, dan masih berharap untuk menjadi seorang ahli struktur dan tergabung dalam tim stuktur.

    Terima kasih atas perhatiannya.

    Suka

    • di Riau, saya tidak pernah mendapatkan informasi tentang hal yang kamu maksud, tetapi di Jakarta sangat banyak yang membutuhkannya. Jika kamu masih muda, dan merasa peluangmu tak terbatas, maka ada baiknya kamu mencoba peruntungan di luar daerahmu.

      Tunjukkan jika kamu memang kompeten, saya yakin jika itu dapat kamu laksanakan maka cita-citamu untuk menjadi civil engineer atau bahkan yang lebih khusus yaitu structural engineer, dapat kamu raih. Semoga.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s