blue energy, pro dan kontra


Krisis energi, krisis energi ! Jika kemarin beli bensin untuk konsultasi ke Bandung cukup Rp 100 ribu, Bekasi-Bandung via tol Cipularang, maka sekarang mesti menyediakan uang cash Rp 150 ribu (itu saja tidak penuh).

Tapi ya gimana lagi, jika kemarin pulang dari Bandung mampir di A&W restoran di rest-area yang berada tepat di belokan pertama dari tol Cipularang masuk menuju tol Cikampek – Jakarta. Maka sekarang nggak bisa lagi. Kencangin ikat pinggang begitu.

Jadi, mungkin kalau ada yang demo dan nawarin cara menghemat BBM yang ekstrim, wah langsung bisa di samber aja, meskipun kenyataannya itu benar atau nggak, wah ya nggak masalah.

Itu kira-kira aku yang awam ini menyiasati krisis energi yang berdampak pada kenaikan BBM tersebut. Hal yang sama tentu dirasakan juga oleh pemerintah. Tentu mereka sudah berpikir keras, bagaimana mengatasi hal tersebut. Kalau ndak dinaikin BBM-nya maka cash-flow-nya bisa jebol, tetapi kalau dinaikin BBM maka dapat protes di mana-mana. Itu khan mengganggu agenda tahun 2009 besok. Banyak rakyat yang kecewa, koq nggak ada bedanya dengan yang sebelum-sebelumnya. Bahkan saya yakin banyak yang bernostalgia pada era sebelum krisis dulu. Jadi kalau ada anak bangsa yang menawarkan diri bisa memberi solusi energi, ya pasti ‘ditangkap’.

Anak bangsa yang dimaksud adalah pak Joko Suprapto, yang temuannya itu oleh pak SBY disebut sebagai Blue Energy. Dari situsnya bapak Presiden, maka terlihat sekali bahwa pak SBY adalah pendukung utama gagasan pak Joko. Perhatikan ucapan beliau.

Saya memberikan semangat, motivasi, dan dorongan agar penelitian, pengembangan, dan penemuan ini betul-betul menghasilkan sesuatu yang akan memberikan kontribusi luar biasa bagi bangsa Indonesia, bahkan dunia. Lakukan terus dan tuntaskan penelitian ini. Saya akan menunggu hasil konkretnya setelah semua penelitian ini selesai,” SBY berpesan.

Itu ucapan beliau setengah tahun yang lalu, tepatnya 25 November 2007. Jadi sebenarnya sudah cukup lama berita tentang penemuan hebat pak Joko tersebut. Sebagai orang nomer satu, maka jelas jika ada yang datang memberi sesuatu yang dapat menjadi harapan untuk solusi energi negeri ini, maka pasti akan ditanggapi dengan baik. Memang harus begitu, iya khan.

Tapi apakah sesuatu itu benar-benar suatu solusi, bukan tipuan. Ini masalahnya. Untuk tahu bahwa itu bukan tipuan maka diperlukan hikmat, pengetahuan dan suatu pertimbangan yang baik. Tahukan anda, apa yang menjadi dasar pertimbangan beliau sehingga yakin bahwa temuan pak Joko tersebut hebat ?

Ini lho dasar pemikiran pak SBY, bapak Presiden kita yang juga seorang yang bergelar akademik tertinggi, yaitu Doktor dari IPB. Perhatikan ! Ini saya kutip dari situsnya tanpa pengubahan.

Presiden SBY menceritakan bahwa tim ini pertamakali datang menghadap kurang lebih setahun lalu dan sejak itu SBY bersama para menteri terus memberikan dukungan. “Saya bahkan mengikuti terus perkembangan penelitian ini,” ujar SBY. “Bermula dari seorang peneliti yang lebih mengutamakan proses penelitian di lapangan dan bukan teori, Joko Suprapto, yang melaksanakan penelitian itu belasan tahun yang lalu,” Presiden menambahkan.

Jadi dapat diketahui bahwa bapak Presiden dengan sadar telah mengevaluasi temuan pak Joko dan mempercayai betul bahwa sesuatu yang dibawa oleh pak Joko tersebut merupakan media yang dapat menjadi solusi negeri ini. Oleh karena pak Joko mampu membuat kepercayaan pak Presidenlah maka terkucurlah dana penelitian sebanyak 10 M tersebut. Bravo pak Joko.

Jadi intinya yang di kubu PRO sudah ada pak SBY, yang presiden RI, jenderal dan doktor IPB. Gelar-gelar tersebut menunjukkan kualitas beliau. Jadi jika pak Joko mampu meyakinkan beliau, maka temuan pak Joko tentulah berkualitas pula. Iya khan.

Karena pak SBY pro, maka tentu saja banyak pejabat-pejabat negara juga pro, bahkan pernah saya mendengar wakil rakyat yang menyatakan bahwa ketika pak Joko hilang, disebutkan bahwa pak Joko lebih penting dari pak menteri energi. Wah hebat khan.

Kemudian yang baru-baru menyatakan dukungannya adalah pak Sarwono, mantan menteri lingkungan hidup. Bahkan menambah-nambahin lagi dengan adanya unsur sabotase yang mungkin terjadi sehingga pak Joko perlu dilindungi.

“Orang-orang seperti itu harus dilindungi dan diberi keleluasaan serta fasilitas supaya mainannya jadi. Karena yang menghalang-halangi banyak”, tandasnya. (dikutip dari detik.com)

Ya tentu saja, semangat membangun negerilah yang membuat Bapak-bapak di atas sangat mendukung temuan pak Joko.

Dari sisi ilmiah, mestinya ini dari Universitas, maka kelihatannya institusi perguruan tinggi yang mendukung ide-ide pak Joko juga ada. Itu dari Jogja, yaitu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), yang ternyata dengan temuannya tempo hari yaitu Banyugeni ternyata ada hubungannya dengan pak Joko.

Jadi saya ulang lagi sisi yang PRO dengan Blue Energy yang sudah pasti adalah

  1. Bapak Presiden kita, SBY, yang notabene doktor dan jenderal
  2. Bapak Sarwono K, yang notabene  politikus senior dan mantan menteri lingkungan hidup.
  3. Institusi Universitas Muhamadiyah Yogyakarta, salah satu universitas besar di Jogja, dengan peneliti-penelitinya yaitu Purwanto, Bledug Kusuma Prasadja, Tony K. Haryadi, Lilik Utari, dan Nike Triwahyuningsih.

Jadi sebenarnya sudah cukup menyakinkan, dan orang awam tentu saja percaya, karena itulah jaminannya.

Tetapi meskipun demikian, dari sisi lain, ada-ada saja yang meragukan temuan yang Blue Energi tersebut. Bahkan menyatakan dengan tegas bahwa temuan pak Joko merupakan penipuan. Benar, penipuan besar di era pemerintahan yang sekarang ini.

Dalam hal ini, secara institusi maka UGM sudah menyatakan dengan tegas bahwa temuan pak Joko adalah tipuan. Kemudian Kepala Balai Besar Teknologi Energi dari BPPT juga meragukan. Teman blogger kita yang tegas menyatakan hoax adalah pak Rovicky.

Jadi jika demikian sudah ada pula yang KONTRA dengan blue energy. Kita daftar agar jelas ya,  sbb:

  1. UGM
  2. BPPT
  3. pak Rovicky

Yang kontra itu bukannya tidak cinta negeri, mereka bahkan sangat cinta negeri ini, sehingga tidak rela jika ada yang main-main dan memberi harapan palsu. Mengapa mereka menolak, karena mereka mempunyai kompetensi, dan ternyata dari evaluasi yang dilakukan mereka menyimpulkan seperti itu. Penipuan.

Itulah fakta-fakta tentang Blue Energy-nya pak Joko. Hidup adalah suatu pilihan. Semuanya mengandung resiko, tetapi memang itulah hidup. Jadi tentulah anda harus mengambil sikap. Apakah anda ini termasuk yang pro atau yang kontra ?

Dengan melihat yang pro dan kontra ini, maka setelah fakta di atas terbukti, maka akan terlihatlah bagaimana negeri ini. Jika ternyata benar, maka itu berarti pemimpin kita benar-benar hebat, beliau mempunyai hikmat bisa menentukan yang benar dan yang salah, seperti yang dipunyai nabi Sulaiman. Dan jika benar, maka jelaslah UGM yang institusi besar ternyata masih harus belajar banyak, karena keputusannya telah menolak kebenaran yang disampaikan pak Joko.

Bagaimana sebaliknya.  Itu merupakan cermin bagaimana sikap pemimpin kita memberi arahan. Jika itu dilanjutkan lagi, ya seperti itulah. Hasilnya ketipu dan bangsa ini yang akan menanggung akibatnya.

Jadi pilihan PRO dan KONTRA tentang Blue Energy adalah sesuatu yang serius. Itu juga akan menelanjangi kompetensi kita-kita yang mengambil sikap tersebut.

Anda apa hayo ?

Saya milih “dan” aja pak. Nggak berani telanjang.

Lho koq begitu.

Kalau pak Wir apa ?

We lha senjata makan tuan nih. Tapi ya gimana lagi, saya khan bukan ahli energi. Jadi kalau begitu akan saya evaluasi “asap“-nya aja ya. Maksudnya argumentasi-argumentasi beliau-beliau yang pro dan kontra dan lalu saya akan menyatakan sikap. Boleh khan.

Pertama saya akan melihat alasan pak SBY memberi dukungan. Menurut saya, berdasarkan situsnya, hal yang melatar-belakangi mengapa pak SBY percaya dan mendukung pak Joko adalah tersirat dari ucapannya sbb:

Bermula dari seorang peneliti yang lebih mengutamakan proses penelitian di lapangan dan bukan teori

Terus terang saya benar-benar sangat terkesan dengan ucapan beliau. Ini juga telah saya singgung dari tulisan saya sebelumnya. Mengapa ? Karena sebagai pengajar di perguruan tinggi atau tepatnya universitas yang murid-muridnya kalau lulus mendapat gelar sarjana, maka terus terang yang saya ajarkan adalah teori. Bukan praktek lapangan.

Lebih tepatnya lagi, bahwa produk universitas adalah transformasi cara berpikir bagi anak didiknya. Jadi tidak mengajarkan suatu ketrampilan fisik tertentu, setahu saya yang bertugas mengajar ketrampilan adalah DIPLOMA.

Dengan demikian ucapan presiden tersebut benar-benar menohok saya sebagai seorang pekerja pikir.😦

Dengan demikian dengan kata lain, bisa juga kalimat yang disampaikan pak SBY adalah setara dengan ucapan “lu bisanya teori doang !“. Berkesan mengejek khan.

Adalah menjadi pertanyaan bahwa teori mempunyai kedudukan yang lebih rendah dari lapangan atau istilah lain adalah praktek. Apa benar begitu.

Setahu saya, ilmu adalah dimulai dari teori, yaitu sesuatu yang dapat diungkapkan secara tertulis. Bahkan dalam pengalaman hidupku berkarir, pemahaman teori mempunyai tingkat yang lebih tinggi dari praktek atau empiris. Jika kita mengandalkan praktek atau empiris maka dalam bidang rekayasa itu hanya bisa dilakukan dengan cara trial-and-error. Coba-coba, itu jelas mempunyai keterbatasan. Hanya sukses untuk yang di trial-and-error saja. Jika anda hanya mengandalkan pengalamannya saja dalam bidang rekayasa maka disebutlah sebagai tukang kelas satu. Sedangkan jika bisa menderifasi berdasarkan teori-teori yang ada maka bisa meningkat menjadi engineer.

Fakta membuktikan, untuk membuat gedung tinggi yang belum ada sebelumnya, maka itu dilalui dengan perhitungan teori, berdasarkan ilmu-ilmu yang ada. Dan pengalaman saya membuktikan bahwa jika di atas kertas ok, maka itu dapat diwujudkan di lapangan.

Dengan demikian, pernyataan bapak SBY bahwa mengutamakan lapangan dulu dan bukan teori menurut saya tidak benar. Saya tidak sependapat.

Oleh karena alasannya bahwa temuan pak Joko itu tidak ada teorinya, maka tidak ada yang dapat dipublikasikan. Dengan demikian temuan beliau apakah itu benar atau tidak , tidak bisa dievaluasi oleh ahli lain.

Padahal prinsip ilmu secara umum adalah mampu diuji ulang secara rasio, Einsten juga demikian. Ilmunya tentang E=mc^2 juga dikenal dulu berdasarkan publikasi teorinya.

Karena tidak bisa diuji itu pulalah maka UGM, BPPT dan pak Rovicky tidak mempercayai blue-energy tersebut. Saya tidak tahu argumentasi apa yang mendasari Universitas Muhamadiyah Yogyakarta mendukung blue-energy. Kalau tidak salah, menurut situsnya, karena energi dari air tersebut ada tersirat di kitab suci Al Quran. Apa itu ya alasannya. 

Dengan argumentasi di atas, maka saya tidak melihat sesuatu hal yang membuat saya ok. Jadi dalam hal ini maka saya memutuskan untuk masuk kebarisan yang KONTRA.  Artinya bahwa blue energi adalah harapan kosong belaka, kalau nggak mau dibilang tipuan.

Yang benar siapa. Hanya waktulah yang akan membuktikan. OK.

Semoga Tuhan membuka kebenaran tersebut.

 **up-dated**

Saya membaca-baca situs banyugeni, yang berafiliasi ke Universitas Muhamadiyah Yogjakarta. Ada komentar-komentar pembacanya yang perlu dicermati lebih lanjut agar tidak menjadi blunder bagi institusi tersebut. Mumpung belum terlambat, silahkan evaluasi ulang lho sikapnya.

Komentar No.6 : denni said < on February 21st, 2008 at 5:11 am>

Saya adalah alumni Fakultas Teknik dan selama saya kuliah dari kelima tim peneliti ada yang belum saya kenal, yaitu Drs. Purwanto. Sedangkan peneliti yang lain sudah saya kenal dan ada yang sekedar tahu saja. Dari ke empat orang tim peneliti yang saya tahu, tidak ada satupun yang mempunyai kompetensi di bidang energi. Bledug Kusuma, berkompeten di bidang telekomunikasi. Tony Hariadi, dibidang informatika dan komputer. Sedangkan Nike dan Lilik berkompeten di bidang pertanian.

Saya sebagai alumni fakultas teknik sangat meragukan hasil penelitian yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mempunyai kompetensi di bidang tersebut. Saya juga memiliki beban moral sebagai alumni, kenapa UMY tidak melakukan pembuktian secara akademis.

 

 

28 thoughts on “blue energy, pro dan kontra

  1. semoga pro kontra ini menjadi pelajaran berharga, namun yang lebih penting, kita emang harus membuat pro kontra itu biasa, yang luarbiasa adalah bagaimana mempertemukan sebuah pro dan kontra dalam analisis yang bertanggung jawab dan dapat dibuktikan.

    kenapa pihak ugm dan umm tidak bertemu dan saling berbagi argumen atas prodan kontra, sehingga akan ada benang merah dan titik temu.

    jelas, seperti di katakan Mr Wahid, negeri ini sedang mendapat masalah besar bidang KOMUNIKASI!

    Suka

  2. justru itu….
    apa gak sebaiknya BPPT atau ristek disertakan, setidaknya untuk menguji klaim? Yang jadi masalah kan investasi besar 10 M yang misterius, niat baik dari Pak Presiden, dan kenyataan bahwa temuan tersebut dipublikasikan (gak tanggung2) di KTT.

    Saya pilih berada di barisan Kontra hingga SHI bersedia diperiksa oleh BPPT atau lembaga lain yang resmi dimiliki oleh pemerintah, bukan sekedar “staf ahli”.

    Suka

  3. Saya pribadi lebih sering melihat bahwa bangsa kita senang berbuat dulu baru nyocokin teori. Beda dengan kaum terpelajar, teori dulu baru berbuat / bekerja (kalau sekolahan ya harusnya begitu).

    Ya saya mendoakan semoga blue energy jadi kenyataan. Sehingga keberhasilan ini membawa berkah bagi umat manusia. Terlepas penipuan atau tidak, bukankah bangsa ini berkali-kali di tipu.

    Fakta bahwa pada awal Era Reformasi pemuda2 berteriak sekuat2nya DEMOKRASI, eh ujung2nya KAPITALIS yang berkuasa / menang. Jadi sekali lagi ketipu kan tidak apa2.

    Suka

  4. Aduh kasian amat negeri ini… ada2 aja pake tipu-menipu masalah blue-energy. Saya sih dari awal juga udah menduga itu pasti tipuan belaka.

    Tapi kok denger2 pak Joko ini udah punya prototype mobil yang pake bahan bakar air. Apa ini hoax juga?

    Suka

  5. #santanu:
    Tidak ada yang salah dengan berbuat dulu baru mencocokkan dengan teori.. atau jangan2 ada teori baru yang tidak terpikirkan.

    Yang disayangkan dari tim Blue Energy adalah, mereka tidak bersedia diperiksa. Alasan mereka, penelitian swasta dilindungi. Trus mereka menjadikan Toyota sebagai contoh.

    Well,
    Perusahaan2 memang boleh mengadakan penelitian sendiri tanpa harus dikekang oleh pemerintah. Tapi kalau mereka mempublikasikan temuan mereka yang bombastis, mereka harus siap untuk diragukan, harus siap untuk dimintai kejelasan agar hasil mereka bisa diproduksi ulang.

    Gak ada kewajiban untuk itu sih.. Tetapi tanpa peer-review, penemuan apapun tidak akan diakui di dunia sains.

    Sama halnya seperti klaim Raelian yang mengaku sudah mengklon manusia.

    Suka

  6. Orang Indonesia masih gampang dibuai mimpi-mimpi kosong😦

    Aroma blue energy sudah gak sedap gitu (hoax, nipu) kok ya masih dihirup dalam-dalam.

    Suka

  7. Teori dan praktek buat saya layaknya Yin dan Yang🙂
    Ada saatnya situasi yang lebih “pas” jika praktek diutamakan atau didahulukan atau diprioritaskan; dan ada lagi tiba saatnya sebaliknya, teori dulu (atau ilmu dulu) baru bicara/bertindak…

    Namun demikian, tetap saja jika Yin duluan, pasangannya menyusul kemudian; begitu pula di saat Yang mendominasi, berangsur Yin datang…

    Dalam musim dingin terekstrim pun, ada harapan panas matahari datang. Dalam kemarau panjang, masih ada tempat & harapan bagi katak tanah

    Kemutlakan hanya milik Dia. Tentu kemutlakan yang sepenuhnya baik (Maha Kuasa, Maha Suci, etc).

    Ah, malah berfilosofi…
    CMIIW.

    Suka

  8. wow…blue energy…bolanya masih nggelinding…
    saya ga punya kompetensi seperti beliau2 di atas, pak.
    tapi saya setuju dengan pendapat p’ wir bahwa teori itu tetap di atas praktek. dan coba2 itu bisa berbahaya karena bisa jadi akibatnya ga diprediksi karena mengejar hasil..

    sesuatu yang ga dipublikasi, susah dinilai kebenarannya. itu betul.
    masalah hak cipta…hmmm…iya sih perlu dilindungi.
    tapi kalo dibeber duluan, jangan2 malah banyak yang bantuin ya to pak ? ato malah sebaliknya ?

    btw, saya mengambil sikap netral. karena ga punya kompetensi untuk menilai itu hoax. juga tidak punya kemampuan untuk mengatakan itu benar.

    saya cuma cinta bangsa saya dan semoga bangsa ini mendapatkan yang terbaik…amin

    Suka

  9. saya setuju dengan anda. kita cenderung melupakan teori, yang seperti yang anda bilang tersirat dari jargon “ah teori”.

    tanpa teori elektromagnetik dan fisika solid-state, kuantum, gak ada tuh hp dan internet yang kita pakai sekarang.

    kita mungkin masih berada pada fase bangsa utak-atik. liat aja banyaknya bengkel motor yang bisa utak-atik mesin sampai pabrik aslinya bingung. tapi coba suruh desain dari nol. susah!

    ditambah lagi strategi pembangunan keilmuan kita yang dari dulu mengandalkan teknologi dan melupakan pengayaan ilmu dasar. berbeda dengan cina dan india, yang mulai dengan ilmu dasar. terbukti mereka kuat sekarang.

    contoh, yang jago ilmu komputer di sini ngebludak. tapi yang jago topologi, aljabar abstrak, yang menjadi dasar untuk kriptologi password mungkin tidak ada. bagaimana mungkin kita akan berada di depan dalam ilmu komputer kalau kita gak punya ahli matematika. S2 matematika di indonesia itu cuma ada di dua perguruan tinggi, ITB dan UGM. lah mau dibawa kemana sains negara kita.

    ini karena kita semua hanya peduli pada ilmu aplikasi dan teknologi dan melupakan sains sebagai ilmu dasar.

    Suka

  10. Sorry, baru pertama nulis di situs sini, tapi disini banyak yang menarik untuk dilihat, mulai ilmunya sampai hal 2x lain.

    Masalah Blue Energy, ada kontra, pro atau netral bagi saya wajar 2x aja, tapi yang penting kepala dingin kalau dalam posisi yg bertentangan.

    Seandainya benar adanya blue energy ini yang kontra bisa malu (apalagi menggunakan institusi), tapi kalau itu penipuan yang kontra jangan merasa “dibilangin gak percaya” atau “kasian deh lu”, karena blue energy sudah di tangan orang nomor satu di Indonesia.

    saran saya kita bersabar dulu dan benar kata temen 2x biar waktu membuktikan.

    Salam dari TKI di Korea untuk semuanya.

    Suka

  11. Salam
    Hmm dua2nya kubu yang meyakinkan, tapi intinya mending liat perkembangannya aja deh, karena berpolemik di pro kontra tanpa ada bukti bener atau engganya, ya pada akhirnya cuma jadi sekedar wacana tho kan🙂

    Suka

  12. Salam
    Temuan Blue energy adalah hebat, entah siapa yang menemukan, apakah memang dari institusi atau perorangan. Karena ini akan memperbaiki citra keluarga kita yaitu bangsa Indonesia di mata Dunia. Jangan ada yang kontra atau kasarnya dengki (karena kalau memang ya terbukti anda akan kecele lho), kita perlu dukung dan jangan di politisasi karena kehebatan keluarga kita di mata dunia akan sirna dan apa hasilnya … keluarga kita akan selalu dalam urutan rendah kulitasnya di mata mereka. Tentu imbasnya adalah kualitas pekerja kita akan tersingkir oleh pekerja dari manca negara di negeri sendiri (ingat Bapak Globalisasi). Mari kita dukung dan patenkan secara internasional hasil temuannya, supaya tidak dibajak oleh bangsa lain. Ayo…. saya dukung temuan anda ….

    Suka

  13. wah…saya sich mendukung aja….KARENA untuk menyelamatkan HAJAT HIDUP ORANG BANYAK.kata mbah dukun….BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI HASIL KARYA ANAK NEGERI
    di negeri ini skrng banyak orang jadi STAR COMEETT.

    Suka

  14. Blue Energy ?
    Koq namanya seperti jenis film yang banyak mengundang pro dan kontra? Atau seperti hasil gambar yang keluar hasil copy dari kertas kalkir ? Agak mirip dengan bagian depannya tapi jauh melenceng di bagian belakangnya.

    Ini komentar hebatnya (maksud nya ” saru”) :
    Kalaulah itu benar terpakai, bisa diproduksi secara massal, seperti bisnis film “jenis itu” biar bisa dipakai oleh masyarakat tertentu (sama seperti film itu, under 21 kan gak boleh), maksudnya kaum tertentu ya masyarakat yang punya alat masak, alat transportasi, alat-alat yang perlu BBM dari ekonomi sulit. Itu yang yang utama, biar adik-adik mahasiswa gak demo terus karena ortu-nya kirim wesel nominal tetap, tidak dipotong krn minyak mahal, biar yang demo gak nangisin mbok-mbok yang terpaksa ngurangin waktu memasak dari 2x sehari jadi 1x sehari (perut lapar tambah lapar), biar mahasiswa besok demonya gak lagi tentang BBM, biar pak Polisi gak kena tendangan “mahasiswa penyusup”, biar Bang Bonar narik Kopaja gak tekor gara-gara disetop dan penumpang dipaksa turun oleh demosntran (tapi ini bukan adik mhs), atau pak Sopir Pelat Merah dan Truk Tangki Pertamina tenang nyetir gak jelalatan karena takut dibajak (kalo pake nyoret dg cat phylox, itu namanya anarki, kan bukan miliknya).
    Dan seterusnya, dst…dst.

    Nah kalo seperti kertas yang keluar hasil copy kalkir, mestinya yang “Blue itu” itu bisa dilihat oleh “ahlinya ” untuk diterapkan, dimodifikasi, disesuaikan, adjustment, di jas jus biar enak dan segar, di otak-atik-utak-utek biar gak dicap “mission impossible at present”, dan seterusnya, dan seterusnya.

    Jangan sampai seperti “film itu” yang setelah dilihat bikin pussing (bagi yang gak punya “lawan “) malah bikin ngeres pikiran, dalam konteks ini pikiran itu adalah syahwat untuk menjatuhkan tanpa dilandasi etika berfikir ilmiah. Tentunya kita menunggu pembuktian – pembuktian oleh anak manusia (Indonesia), karena kalau menunggu anak kera “jenis jaman sekarang” perlu ratusan ribu tahun lagi, ya kan !

    Maafkan kalau komentar saya sedikit “nyeleneh”, janganlah teman, saudara, sedulur jadi marah karena tulisan ini. Anggap saja hiburan biar blog ini tak sepi komentar.

    Trims Pak Wir.

    Wir’s responds: benar khan , orang Indonesia itu kreatif-kreatif.😛

    Suka

  15. blue energy emang bikin pro dan kontra! lebih baik kasih ahlinya, biar kita tunggu hasilnya “blue” bener terbukti atau tidak…..
    sambil nunggu hasilnya buat yang punya ide mending bikin tandingannya “blue” atau yang lain, biar nunggunya ga suntuk…. jangan koment aja biar dunia tau klo indonesia punya jagoan…

    Suka

  16. bagi yang g percaya dengan adanya blue energy…..jangan terlalu yakin, karena kita hanya manusia…..yang ilmunya hanya setetes kalau dibanding dengan air laut…mungkin saja penemuan yang sedang pak Joko kembangkan salah satu ilmu yang belum pernah ada didunia ini……trus sapa bilang teori diatas praktek….?

    la wong penemu teori2 fisika saja kan nyocok-nyocokin kejadian yang sudah ada semenjak dunia ini diciptakan…pesan saya…jangan terlalu berpegang teguh dengan ilmu yang telah anda peroleh bung……😀😀😀

    Suka

  17. @ann

    Bung Ann, bung Ann, kalau anda bilang :

    jangan terlalu berpegang teguh dengan ilmu yang telah anda peroleh bung

    Lalu berpegang pada siapa dong. Rumput yang bergoyang ya.

    Anda ini aneh-aneh, sudah melek internet, tapi pikirannya masih meragukan ilmu (hal-hal yang ilmiah).

    Saya yakin mas Ann, ini nggak sekolahan, atau orang sekolahan tetapi kerjanya tidak di bidang yang dulu ilmunya dipelajari. Atau bisa juga, merasa punya ilmu, tapi ketika diterapin nggak sesuai dengan harapan. Jadi intinya orang yang merasa dikecewakan dengan ilmunya. Jadi begitu ya.🙂

    Bayangkan saja, jika seorang dokter bedah tidak boleh mempercayakan diri kepada ilmu yang dipunyainya.

    **geleng-geleng**
    Kebangkitan nasional sudah 100 tahun, tapi masih saja ada anak tua muda yang berpikiran seperti di atas.

    Suka

  18. minyak dari air, gk sekalian uang dari daun aja y?

    jika memang bener bisa dibuat, tentu ini telah diteliti oleh para ahli yang lebih berkompeten dari negara yang telah memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih maju dan moderen.

    kita tunggu aja kabar dari mas joko cs, semoga mereka gak cuma bisa numpang ngetop dan menghambur-hamburkan dana penelitian doank ya…

    Suka

  19. haha.
    JK bilang kalo invention itu awal2ny sebuah kekonyolan.
    Yah emg org2 sperti Thomas Alfa Edison konyol awal2ny, tp sukses.
    Tapi kalo orang seperti Joko ini,
    emang konyol beneran.
    Aneh.

    Suka

  20. Saya termasuk orang yang terlambat mengikuti perkembangan kontroversi blue energy ini , karena saya berpegang teguh pada nasihat orang tua untuk tidak “gumunan” atau mudah heran. Komponen air ada hidrogen dan oksigen. itu kalau air murni, kalau air laut, itu termasuk campuran jadi disana ada air, garam-garam dan mineral (bukan cuma garam dapur lho), ada juga gas antara lain CO2, Oksigen dll, pertanyaannya:
    1. kalau blue energy wujudnya cair, komponen
    mana dari air laut yang ada di dalamnya?
    2. kalau gas, apa saja komponennya?
    apapun komponennya yang jelas, komponen itu harus punya sifat mudah terbakar, sempurna lagi… (testimoni ketua tim)

    Kedua petanyaaan itu kalau bisa terjawab dengan baik, kita bisa menelusuri dari mana “matrial” yang disebut sebagai blue energy berasal termasuk bagaimana cara memperolehnya. Masing-masing matrial/materi/bahan punya sifat fisik dan kimia sendiri sehingga dengan sangat mudah kita bisa analisis sama-sama. Tapi kalau itu rahasia, kita bisa bilang bahwa itu tipuan. bukan jamannya lagi sebuah produk tidak mencantumkan ingredients (sesuai MSDS)

    Terlepas dari tipuan atau tidak ada baiknya kita beri kesempatan pak Joko dkk untuk memproduksi masal kemudian harga jualnya harus lebih murah dari air minum dalam kemasan, dengan begitu pak joko punya kesempatan membuktikan temuannya dan berbuat sesuatu yang besar untuk bangsa ini, sehingga kita bisa merasakan hasil dan manfaatnya.

    Kita gunakan dua kata, sabar dan ikhlas. sabar menunggu proses penelitian yang memang perlu waktu termasuk uji kualitas, dan ikhlas untuk mengakui kalau memang pak Joko dkk sukses dan layak untuk mendapat penghargaan….

    siapa lagi yang mau berbuat?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s