progress risetku di uph-unpar


Meskipun kegiatanku ngeblog jalan terus, tulisanku yang ini adalah postinganku ke 301, tetapi riset disertasiku tetap berjalan. Ke dua kegiatanku tersebut ternyata saling mendukung, yaitu dapat terus mengasah dan menata pikir dengan jalan menuliskannya. Kemarin selama tiga hari, yaitu mulai hari Kamis tanggal 24 April 2008, sampai hari Sabtu tanggal 26 April 2008, saya dibantu team mahasiswa UPH berhasil mendapatkan bukti-bukti empiris yang mendukung hipotesisku selama ini.

Keputusanku untuk membagi materi risetku menjadi tiga penelitian skripsi di tingkat S1 ternyata benar dan efektif. Selain itu, riset numerikku selama lebih dari 1/2 tahun ternyata benar adanya. Bahwa dengan riset numerik yang memanfaatkan program canggih #1, yang mempunyai kapasitas penyelesaian non-linier, ternyata dapat memprediksi perilaku-perilaku sistem baru yang aku usulkan. Semua parameter yang aku teliti selama riset numerik tersebut secara kualitatif adalah selaras dengan fakta yang aku temukan. Puji Tuhan, hanya dengan tiga hari, dan dibantu oleh para mahasiswa, maka riset yang menguji sampai kurang lebih dari 50 piece sistem sambungan berhasil sudah sesuai dengan skenario yang aku tetapkan.

Karena semua pikiran yang akan kukerjakan telah ku transfer ke mahasiswa-mahasiswa tersebut dalam bentuk “format tertulis mendekati final” jauh hari sebelum riset kulakukan maka mereka dapat memahami apa-apa yang ingin kuperoleh dari riset tersebut. Langkah ini merupakan kunci sehingga pelaksanaan riset dapat efektif, dan padat. Karena jelas, pada tahap hari H, aku sudah tidak punya waktu untuk menjelaskan latar belakang dll tentang riset di sana. Karena keberadaanku di sana hanya mengkonfirmasi bahwa apa-apa yang mereka kerjakan telah benar.

Kecuali itu, maka ketika hari pertama riset berjalan, maka malam harinya semua data-data aku evaluasi. Aku melihat trend hasilnya bagaimana, lalu keesokan harinya ketika sebelum berangkat untuk riset ke dua, aku membuat semacam briefing kecil ke pada teamku mengenai progres yang telah dilaksanakan kemarin.

Kemarin ada masalah besar yang pertama ku jumpai, yaitu bahwa pada kondisi standar, grip alat uji tarik yang kami siapkan ternyata tidak mampu memikul sampel uji. Artinya bagian grip (yang tidak perlu dievaluasi) ternyata kalah kuat dengan sistem sambungan baru yang aku teliti. Sehingga perlu dipikirkan jalan keluarnya. Adanya brain-storming pagi hari hasil mengevaluasi pekerjaan sebelumnya ternyata membantu sekali membuat pelaksanaan berjalan lancar.

Tentu saja aku tidak dapat menceritakan secara detail hasi risetku yang utama, karena untuk mendapatkan status orisinil maka hal tersebut harus di keep baik-baik. Begitu pesan dan wanti-wanti profeser Sahari Besari, promotorku.

Tetapi ada yang menarik, bahwa tanpa membagi risetku ini menjadi skripsi, maka kelihatannya akan sulit aku laksanakan. Kenapa ? Karena salah satu syarat agar sistem yang aku teliti ini dapat bekerja maka diperlukan prestensioning pada baut mutu tinggi yang aku gunakan. Untuk memastikan bahwa hal tersebut ada maka aku menggunakan sistem pretensioning memakai cara TURN-OF-NUT yang diusulakan oleh RCSC-AISC. Cara tersebut memerlukan tenaga yang kuat, dan itulah yang aku tidak punya.


Pretensioning Baut Mutu Tinggi dengan TURN-OF-NUT

Meskipun teori dan pelaksanaannya sederhana, tetapi cara tersebut ternyata cukup efektif untuk menghasilkan sistem sambungan slip-kritis pada baut mutu tinggi. Untuk memvalidasinya maka digunakan cara empiris sederhana, yaitu menerapkannya pada sistem sambungan pelat tebal hot-rolled dengan diuji tarik. Setelah mempelajar slip yang terjadi dan membandingkan dengan teorinya maka dapat diperoleh pemahaman bahwa cara tersebut dapat dipakai selanjutnya.

Untuk melihat seberapa sukses penelitian ini, mungkin dapat aku tunjukkan beberapa (yang tentu saja tidak merujuk langsung ke materi disertasiku) hipotesisku yang terbukti. Ini adalah masalah yang akan dibahas dalam skripsi mahasiswaku yang ke #2.

Seperti diketahui menurut peraturan AISI bahwa tidak dimungkinkan digunakan sistem sambungan slip-kritis pada sambungan pelat tipis dengan baut mutu tinggi yang dipretensioning. Selanjutnya dapat diketahui dari AISC bahwa faktor yang menentukan kekuatan sambungan tersebut adalah koef friksi dan gaya pretensioning. Tidak ada yang lain.

Dalam hipotesisku, aku menyebutkan tidak hanya itu saja,  bahwa selain koefisien friksi maka ketebalan juga berperan banyak. Selanjutnya dalam disertasiku maka aku jabarkan “mengapa aku punya pikiran tersebut”. Dalam perjalanan waktu, ada beberapa doktor yang mendebat hipotesisku tersebut. Untunglah bahwa promotorku sependapat dengan pikiranku.

Tetapi jelas adanya ketidak-sependapatan dengan pikiran doktor-doktor tersebut perlu diklarifikasi agar tidak menjadi batu sandungan disertasiku. Maka aku harus membuktikan terlebih dahulu bahwa pikiranku benar. Memang sih, sampai sebelum riset tersebut aku laksanakan, belum ada bukti empiris yang menyatakan bahwa apa-apa yang aku omongkan tersebut ada buktinya.

Pendapat yang berlaku saat ini secara umum adalah bahwa akibat tidak bisa digunakannya sistem slip-kritis pada baja pelat tipis, maka kegagalan sistem sambungan adalah pada tumpu. Tetapi karena saya yakin jika parameter koefisien friksi dan tebal pelat dapat ‘diatasi’ maka hipotesis saya akan dapat menghasilkan sistem sambungan yang kuat dengan konsep slip-kritis. Jika terbukti maka keruntuhan bukan pada sambungan tetapi pada pelat. Ini buktinya.


Rendi (mhs skrips) dan aku, dengan fakta bahwa slip-kritis dapat bekerja pada sambungan pelat tipis cold-formed.

Sistem sambungan lebih kuat dari pelat yang disambung. Keruntuhan pada pelat. Ini bukti bahwa jika “koefisien friksi” dan “ketebalan pelat” dapat “diatasi” maka baut mutu tinggi pada pelat tipis cold-formed dapat dimanfaatkan. Ini jelas merupakan fakta yang tidak mendukung ketentuan AISI selama ini yang melarang digunakan mekanisme slip-kritis pada sambungan seperti itu.

Dengan adanya fakta-fakta yang mendukung hipotesisku melawan pemikiran-pemikiran para doktor tersebut, tentulah membuatku semakin pede bahwa apa-apa yang aku kerjakan ini adalah on-the-track. Sekali lagi ini juga menunjukkan keluasan berpikir dan wawasan dari promotorku, prof Sahari Besari. Coba kalau beliau juga sependapat dengan doktor-doktor yang tidak sependapat dengan ideku tersebut, tentulah tidak dapat dihasilkan fakta baru tersebut, dan mungkin juga disertasiku belum selesai. Kata kuncinya adalah harus percaya pada diri sendiri, pendapat orang lain hanya masukan untuk dipikirkan, jangan terlalu terpengaruh meskipun mempunyai gelar lebih tinggi sekalipun.

Bagaimanapun kelancaran risetku ini tidak bisa lepas tanpa kehadiran dan keikut-sertaan mahasiswa-mahasiswaku di Jurusan Teknik Sipil UPH. Interaksiku beberapa bulan untuk persiapannya, dan juga selama tiga hari H-nya, mulai dari pukul 7.00 pagi sampai 7.00 malam, dengan melihat etos kerjanya, semangatnya dan tidak terdengarnya keluhan serta mempunyai inisiatif mandiri, dapat menunjukan bahwa kapasitas mereka cukup dapat dibanggakan dan menjanjikan untuk menjadi insinyur penerus bagi bangsa ini. Kalian cukup membanggakan.

 
team sesaat berpose sebelum pamit dari lab-nya pak Cuncun

Dari kiri ke kanan,
berdiri: Wiryanto, pak Joe Kwan Hoei (dosen TI UPH sebagai pengamat), Hendrik Wijaya (mhs skripsi), Rendi (mhs skripsi), Firtz, pak Cuncun (laboran lab struktur UNPAR)
duduk: Jerry Atmaja (alumni baru UPH), Anthony N. Wijaya (Nata / mhs skripsi), Anggi Langitan.

Secara khusus juga aku sampaikan terima kasih kepada pak Joe Kwan Hoei, yang beberapa waktu yang lalu membantu mahasiswaku menyelesaikan skripsi di lab beliau. Pada riset kali ini, beliau sekaligus mau melakukan studi banding lab dengan yang ada di UNPAR agar labnya mendapat masukan yang positip. Juga terimakasihku kepada mahasiswa UPH yang tidak mengambil skripsi tetapi mau datang membantu selama tiga hari penelitian tersebut, yaitu Anggi Langitan, Jerry Atmaja dan Firtz. Tanpa anda-anda saya kira proses turn-of-nut tidak berjalan lancar. Tanpa turn-of-nut yang baik maka jelas faktor penting suksesnya penelitian ini, yaitu pretensioning baut mutu tinggi pasti tidak ada. Jadi disimpulkan bahwa kedatangannya anda-anda dalam membantu adalah sangat signifikan.
Thanks.

12 thoughts on “progress risetku di uph-unpar

  1. Selamat atas hasil penelitian Pak Wir,

    semoga makin membuka mata Engineer kita bahwa meski hanya baut, namun untuk Mega Proyek yang memakai banyak High Strength Bolt masalah tersebut sangat penting dan sering ada dispute karena lupa dihitung dalam measurement and payment (AASTHO Specification for Construction Division II Construction, Chapter 11 Steel Structure, 11.7 Measurement and Payments).

    Ada kasus, seorang engineer muda lupa menghitung 400 Ton High Strength Bolt dalam harga penawaran, akhirnya terus timbul dispute. Sudah cape2 diriset dan dihitung kekuatannya, eh nggak terbayar……

    Suka

  2. Pak Wir, universitas biasanya yang diperhatikan juga adalah researchnya.
    ITB, UI, ITS merupakan universitas yang sudah menghasilkan banyak sekali paten dari hasil-hasil researchnya.
    Tentunya saya juga ikut bangga akan usaha Pak Wir tersebut..
    Maju terus pak. Sukses selalu.

    Suka

  3. Saya Handy mahasiswa sipil unpar.

    Ya selama 3 hari saya perhatikan waktu test di Unpar sampe pulang jam 6-an sore ya Pak hehe.
    Saya baru pertama lihat Bapak di lab konstruksi Sipil Unpar, biasanya cuma di web.

    Hasil testnya nanti dipublikasikan dunk Pak hehe.

    Gud luck Pak Wir
    Gbu+

    Suka

  4. Ping balik: welcome to the engineering world, Jerry « The works of Wiryanto Dewobroto

  5. Membaca riset anda, saya ingin bertanya tentang rangka atap baja ringan yang sedang ramai saat ini. Apakah menurut bapak secara kontruksi cukup aman untuk digunakan? Karena dengan sistem self drilling screw saya kurang yakin dengan konsep strukturnya.
    Dan mungkin anda bisa menjelaskan general concept untuk perhitungannya.

    Suka

  6. sdr Doea
    Rangka atap baja ringan apabila direncanakan dan dikonstruksi dengan baik, maka akan menghasilkan struktur yang baik (aman, kuat, kaku dan ekonomis).

    Di luar negeri itu cukup populer, banyak riset yang mendukung pernyataan saya di atas. Salah satunya yang terkenal adalah di Universitas Sidney. sebagai leadernya adalah Prof. Hancock yang banyak disponsori perusahaan Blue Scope yang pabriknya ada di Indonesia.

    Salah satu hal penting tentang rangka baja ringan, bahwa material tersebut mempunyai karakter yang berbeda dengan baja yang kita kenal pada umumnya.

    Karena cold-formed pada umumnya mempunyai kekuatan yang meningkat tetapi tidak daktail. Kecuali itu, karena relatif tipis maka buckling lokal maupun global cukup dominan. Jadi intinya perlu pemahaman tersendiri. Masalahnya di Indonesia belum ada peraturan khusus yang dapat digunakan sebagai petunjuk. Sehingga banyak engineer kita yang tidak familiar, dan akhirnya diserahkan bulat-bulat ke instalatur atau pedagangnya.

    Cara berpikir pedagang dan engineer khan beda.

    Untuk mengetahui lebih banyak silahkan baca tulisan saya tentang cold-formed yang saya bawakan di lokakarya di Udayana, Bali. Lalu lihat literatur referensi.

    Suka

  7. Ping balik: closed examination « The works of Wiryanto Dewobroto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s