KARTINI adalah ‘blogger’ wanita Indonesia pertama


Bagi yang pernah sekolah di Indonesia, dan rajin, tentu akan tahu bahwa hari ini tanggal 21 April adalah hari untuk memperingati ibu Kartini, pahlawan perjuangan emansipasi wanita. Jika belum tahu lihat ini.

Tentang hal tersebut, apa yang ada dalam benak anda. Seingat saya, pada hari itu adik-adik yang masih sekolah akan memperingatinya dengan upacara, dimana setiap pengikutnya wajib datang dengan pakaian daerahnya masing-masing. Iya nggak ?

Adakah hal lain yang membekas di pikiran anda selain hal tersebut ? Saya kira nggak banyak ya.

Jika dipelajari lebih lanjut, kepahlawanan Kartini dapat dimaknai sebagai bukti bahwa “mempunyai kemampuan menulis” adalah suatu anugrah yang luar biasa kepada seorang manusia. Hanya dengan menulis, maka pikiran seseorang akan lebih dikenang dibandingkan keberadaan fisik maupun perbuatannya. Bayangkan jika Kartini saat itu, hanya bisa membuat sensasi berlenggak-lenggok seperti hal dewi-persik. Pasti nama tersebut tidak ada yang tahu.😦

Dengan menuangkan pikiran-pikirannya secara tertulis dan dapat dibaca oleh orang yang tepat, maka pikiran tersebut dapat tumbuh dan berkembang, bahkan lebih besar dari ide dasarnya. Karena suatu tulisan dapat menjadi inspirasi bagi orang lain untuk bertindak lain lagi yang lebih luar biasa.

Dengan menulis rutin ke Abadenon, temannya di negeri belanda, itu khan sama seperti halnya apa yang dilakukan oleh para blogger di ranah wordpress ini, yaitu juga rutin menulis untuk dikomunikasikan (publish) ke orang lain.

Hanya karena medianya yang berbeda, yang tentunya menyesuaikan dengan jamannya, tetapi karena esensinya adalah sama, yaitu rutin menuliskan pikiran-pikirannya dan mempublikasikan ke orang lain, maka bisa saja Kartini itu disebut ‘blogger’ wanita yang pertama di Indonesia. Iya khan.

 

 

22 thoughts on “KARTINI adalah ‘blogger’ wanita Indonesia pertama

  1. Kartini atau Rohana
    Minggu, 20 April 2008
    Oleh : Asmanidar, Pemerhati sosial dan Perempuan
    Besok, kita akan memperingati hari Kartini. Hari tersebut merupakan tanggal lahir perempuan pada 21 April 1879, yang selama ini dijadikan sebagai titik tolak untuk inspirasi dan kekuatan moral bagi kaum perempuan di Indonesia. Lahirnya Raden Ajeng Kartini yang dijadikan sebagai srikandi Indonesia yang begitu dipuja. Sungguh luarbiasa, seorang Kartini melalui kumpulan surat-menyuratnya “Habis Gelap Terbitlah Terang” menjadi inspirasi dan ilham bagi jutaan perempuan Indonesia untuk dapat sejajar dengan kaum pria.

    Namun dalam tulisan ini, saya ingin sedikit memberikan penyadaran bahwa kita harus mengakui sebuah pepatah, “Tungau di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak”. Begitu mengagungkan Kartini, kita seakan lupa akan sebuah mutiara Ranah Minang sendiri. Dia Rohana Kudus, seorang srikandi Ranah Minang yang di kampungnya sendiri (Sumbar) malah juga tak begitu dikenal. Tidak banyak dari kita yang tahu siapa gerangan Rohana Kudus. Menyebut namanya, di tingkat lokal saja, kita mungkin cuma tahu, itu adalah nama jalan, nama gedung, nama usaha kripik balado di Kota Padang, dan sebagainya. Tapi soal kiprahnya? Hanya segelintir yang tahu, itupun mungkin tidak persis detilnya.

    Perempuan yang lahir di Kotogadang, Bukittinggi 20 Desember 1884, adalah anak sulung dari pasangan Moehammad Rasjad Maharadja Soetan dan Kiam ini adalah wanita multi intelegensi. Bukan saja tercatat sebagai wartawan perempuan pertama Indonesia saja dengan mendirikan surat kabar Sunting Melayu, dia juga menjadi pelopor pendidikan dengan mendirikan sekolah keterampilan Kerajinan Amai Setia (KAS) yang merupakan permulaan industri rumah tangga (home industry) di Minangkabau dan penggerak politik perempuan pertama di ranah Minang.

    Bagaimana dengan Kartini, ternyata orang yang selama ini dipuja-puja sebagai perintis emansipasi wanita di tanah air, ternyata kalah start dari Rohana. Jauh sebelum Kartini menuntut ilmu di sekolah perempuan Rembang, Rohana Kudus dan teman-temannya telah merintis ‘komunitas’ perempuan Koto Gadang untuk melek huruf! Tapi Kartini, malah rela dipingit, lalu menikah dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri.

    Tapi bayangkan betapa hebatnya kakak tiri Sutan Syahrir (perdana menteri pertama RI) ini, di saat yang lain belum melek membaca, alias buta aksara, dia sudah tampil sebagai “guru kecil” di usianya yang masih 8 tahun di tahun 1892. Kepadanya, rekan-rekan sebayanya belajar bermain sambil membaca.

    Di usianya yang matang, sebelum dan setelah menikah dengan Abdul Kuddus, melalui perjuangan hidup yang jatuh bangun, mengalami berbagai benturan sosial dengan pemuka agama, adat, dan masyarakat umum, Rohana dipuji dan dikagumi, tetapi sekaligus difitnah dan dicaci maki, sehingga terpaksa meninggalkan kampung halamannya. Dia tetap berjuang, malah mendirikan Rohana School, sekolah kepandaian perempuan di Bukittinggi.

    Saat Belanda meningkatkan tekanan dan serangannya terhadap kaum pribumi, Rohana bahkan turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda. Rohana pun mempelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan. Dia juga mencetuskan ide bernas dalam penyelundupan senjata dari Kotogadang ke Bukiktinggi melalui Ngaraik Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payokumbuah dengan kereta api.

    Hingga ajalnya menjemput, dia masih terus berjuang. Termasuk ketika merantau ke Lubuak Pakam dan Kota Medan. Di sana dia mengajar dan memimpin surat kabar Perempuan Bergerak. Kembali ke Padang, ia menjadi redaktur surat kabar Radio yang diterbitkan Cina Melayu di Padang dan surat kabar Cahaya Sumatra. Perempuan yang wafat pada 17 Agustus 1972 itu mengabdikan dirinya kepada bangsa dan negara, serta menjadi kebanggaan bagi kaum hawa yang diperjuangkannya.

    Penghargaan dari Pemprov Sumbar juga pernah didapatkannya, yaitu pada 17 Agustus 1974 sebagai wartawati pertama. Dan pada Hari Pers Nasional ke-3, 9 Februari 1987, Menteri Penerangan, Harmoko telah pula menganugerahinya sebagai Perintis Pers Indonesia. Bagaimana dengan Kartini, kumpulan surat-menyuratnya yang keasliannya sampai saat ini sulit ditunjukkan menjadi pahlawan perempuan sampai menjadi salah satu hari besar Indonesia. Sedangkan Rohana…. (***)

    http://www.padangekspres.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=3604&Itemid=55

    Suka

  2. Setahu saya, bukunya tulisan surat menyurat antara Beliau dengan sahabatnya orang Belanda.
    Biar bagaimanapun Kartini tetap Pahlawan,karena idenya melawan zamannya.
    Pena lebih tajam dari pedang.

    Selamat Hari Kartini.

    Suka

  3. ada perbandingan yang unik, kartini sama dewi persik. : ) . nggak pernah terlintas sama sekali. Tapi beda donk mas segmennya…: ) dewi persik dikenang selalu oleh para ‘penikmat’nya. terakhir baca berita dia makin laris loh abis dicekal…hoho. kalo blogger ya dikenal ama para pembacanya : ). Btw , dewi bersisik ngeblog nggak ya?? hehe…bisa dikenal oleh dua-duanya , wow…

    Wir’s responds: Ya selagi muda, selagi cantik, selagi kulitnya masih kenceng. Coba nanti kalau udah jadi nenek-nenek, keriput and kempot, emangnya masih mau mengenangnya.🙂

    Suka

  4. Saya baca di KR, menurut penanggalan Jawa, orang yg lahir tanggal 21 April itu punya kegemaran dan kemampuan di bidang tulis menulis. rasanya ko agak tepat ya!

    Suka

  5. Wuah! gila, ternyata saya tidak sendirian. Baru kemaren di kantor ngebahas bareng temen perempuan yang sama gilanya.

    saya : “Apa sih jasa Kartini sampe j adi pahlawan nasional?!”
    Teman : “Eh…. iya ya… apa jasanya?! Koq bisa jadi pahlawan ya?!”
    saya : “Nah, makanya. Mosok cuma gara-gara buku curhat jadi pahlawan.”
    temen : “bener juga ya… Apa ya jasanya?”
    saya : “Kalo dijaman sekarang Kartini itu seekor blogger. Berarti yang dapet gelar pahlawan banyak dong!”
    temen : “bener! bener!”

    Dialog tolol yang ternyata eksis di dunia paralel.
    Slam kenal bro…

    Suka

  6. kebetulan ibu Kartini rajin mencurahkan kegundahan hatinya ke orang yg tepat, sehingga segala keluh-kesahnya tersampaikan dan bahkan menginspirasi wanita-wanita di jamannya.

    ibu Rohana juga sama, mampu menginspirasi rekan seperjuwangan untuk bangkit dan menggelorakan nasiyonalisme, yang membuwatnya jatuh bangun dalam berbagai tekanan.

    setatus pahlawan tetaplah hanya setatus semata,
    esensi dari kepahlawanan tetap dimiliki seorang pahlawan yang sebenarnya. apakah itu ibu Kartini, apakah itu ibu Rohana, apakah itu Bung Tomo, maupun pahlawan-pahlawan laennya.. bahkan mungkin salah satu diantara kita.

    Selamat Hari Kartini!

    Suka

  7. Wah, betul juga kalau Kartini adalah blogger sejati. Terutama karena esensi surat-suratnya alias postingannya adalah sesuatu yang baru/inovatif di jamannya dan untuk suatu kemajuan. Hehe, saya musti belajar banyak nih…..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s