postingan yang dianggap SARA


Coba perhatikan komentar yang masuk

Komentar baru pada tulisan : “negara Islam kaya dan negara Islam miskin
Penulis : Pengunjung (IP: 125.161.135.90 , 90.subnet125-161-135.speedy.telkom.net.id)
E-mail :
pengunjung@mailinator.com
Siapa  : http://ws.arin.net/cgi-bin/whois.pl?queryinput=125.161.135.90

Komentar: Bung Wir. Sebagai umat kristiaani yang taat, Bung Wir mending jangan kirim posting yang bisa menimbulkan perpecahan bangsa. Kita sdh bosen sama kasus perang agama di Indonesia. Posting-posting Bung Wir justru berpotensi menyulut hal seperti itu. Kasus poso, ambon dll jangan sampai ke tempat lain dech. Posting Bung Wir berbau Sara dan mencoreng citra kristen yg katanya cinta damai. peace dr anak bangsa

Pantaslah kalau selalu terjadi konflik, orang selalu memandang curiga kalau ada orang membahas suatu agama tertentu. Apalagi kalau yang menulis adalah orang yang beragama lain, meskipun tulisan tersebut hanya mengutip. Padahal yang ingin disampaikan adalah jangan terkecoh, jangan campur adukkan agama seseorang dengan tindakan yang dikerjakannya.

Terus terang komentar seperti itu saya tahan pada postingan utama, karena jelas tidak membantu menjernihkan ide yang ingin disampaikan bahkan menyulut diskusi yang tidak sesuai dengan tempatnya.

Saya melihat bahwa orang tersebut tidak benar atau terjadi salah paham, oleh karena itu perlu dibahas secara khusus pada posting ini.

Dengan adanya komentar seperti itu, rasanya dedikasi untuk berbagi pikiran perlu terus diusahakan.

33 thoughts on “postingan yang dianggap SARA

  1. Biasalah….
    tipe yang sudah paranoid dulu.
    Aku seorang muslim dan melihat postingan bapak.. menurutku wajar..

    Tadinya aku bahkan ingin komentar lebih pedas masalah gap negara Islam miskin dan kaya tetapi saya urungkan..

    Itu kenyataan kok.
    Dan herannya, ada para ‘khatib’ yang gak mau melihat kenyataan itu dan ironisnya, naudzubillah min dzalik, melarang kami — yang datang sholat Jumat — mendengarkan orang-orang yang teraniaya di negeri-negeri ‘kaya’ itu karena sang khatib menganggap orang-orang yang teraniaya sebagai orang yang bertengkar.

    Suka

  2. saya tidak sepenuhnya menyalahkan komentator, juga tidak sepenuhnya membenarkan bung wir..

    coba bung wir hitung lagi, berapa posting yang tentang umat islam, berapa yang tentang umat agama bang wir sendiri, dan berapa yang tentang umat agama lain..

    dan apakah dalam membahas itu sudah benar yang bung wir bahas adalah umatnya, bukan agamanya?

    dan apakah benar pula bahwa apa yang bung wir tulis itu 100% bebas dari peluang mispersepsi? kalo bung wir merasa demikian, bukankah itu namanya sombong?

    Suka

  3. saya anggap tidak paranoid koq, memang iya bapak menjelaskan suatu teknis non agama, tapi coba baca respon2nya semuanya mengarah ke agama kan ?

    pak komentar2 saya sebelumnya baik2 koq tidak diapprove? tentang salah satu komentar sara itu!

    Suka

  4. assalamualaikum
    salam damai
    saya tidak sependapat dengan bung deteksi.

    saya kira dialog-dialog antar agama adalah salah satu jalan u/ mencegah mispresepsi. tentunya dengan paradoks saling menghormati.

    agama adalah hak pribadi setiap umat manusia.
    agama islam telah jelas mengatakan tentang toleransi bahwasanya “agamamu adalah agamamu, agamaku adalah agamaku”

    jadi janganlah berpikiran apatis tentang rubrik2 yang menyangkut masalah agama selama masih dalam koridor toleransi.

    saya selalu mengikuti tulisan2 pak wir, dan menurut pandangan saya tulisan pak wir tersebut masih dalam kerangka toleransi beragama.

    adalah tidak benar mengkaitkan tulisan pak wir yang berbau sara mencoreng agama tertentu.

    marilah kita sesama bangsa indonesia merapatkan barisan. mari kita berdialog dalam kerangka mempersatukan bangsa.

    jauhkan dari sikap-sikap sinis, berpikiran negatif (susah melihat orang senang dan senang melihat orang susah) dan menonjolkan budaya-budaya leluhur yang sopan dan santun.

    dalam beberapa kasus ditanah air ini, gesekan-gesekan vertikal terjadi antara umat beragama dan yang tragisnya itu terkadang disebabkan bukan oleh ajaran agama itu sendiri melainkan ego para pemeluk agama tersebut.

    ironis memang…agama dijadikan tameng u/ kebenaran menyakiti agama lain.
    astagfillullah…
    semoga Allah mengampuni kita semua…
    Salam damai…
    Indonesiaku BERSATULAH.

    Suka

  5. sdr Dimas,
    Salam sejahtera bagi anda.

    Saya yakin sebenarnya banyak saudara-saudara kaum muslimin di Indonesia yang sependapat dengan anda. Tetapi keberanian anda untuk mengungkapkan pendapat tersebut tertulis tentu patut diacungin JEMPOL. Hal tersebut akan menumbuhkan perasaan sejuk bagi masyarakat di sini (dunia maya di wordpress). Karena pada prinsipnya yang ingin hidup damai sejahtera berdampingan satu sama lain adalah cukup banyak, tetapi umumnya tidak peduli atau takut mengungkapkan seperti yang anda lakukan.

    Sedangkan di sisi lain, yang berlawanan dengan prinsip anda, begitu extrovert, sehingga seakan-akan memenuhi kasanah pemikiran yang ada.

    Mari mas Dimas, kita penuhi ranah pemikiran di wordpress ini dengan rasa suka cita, kasih, damai, sejahtera, kemurahan, kesetiaan, kesabaran, kelemah-lembutan, penguasaan diri, berdialog dan jadikan agama sebagai pencerahan pribadi menuju ke situ.

    Semoga Tuhan memberkati dan melindungi anda.

    Salam

    Suka

  6. Salam kenal ya pak…
    Menurut saya semua itu tergantung pada niatnya (tujuan awal) jadi… apapun pendapat orang tentang tulisan bapak sah-sah saja… Sekali lagi… yang penting apa tujuan bapak menuliskan itu…
    Mari kita jujur pada diri sendiri sebelum jujur pada orang lain….

    Makasi ya pak…
    Oya… kalau gak keberatan silahkan mampir di tempat saya http://maaini.wordpress.com

    Suka

  7. Sangat perlu memang belajar berpikiran terbuka, tidak langsung negatif tetapi juga tidak merasa paling benar dan berasumsi belaka

    Suka

  8. @ Pak Wir, Salam kenal dari Retorika/Indobikers

    sepertinya hal tersebut sudah biasa saya alami, sejak pertama buka blog retorika.

    Memang kadang postingan yang mengungkap fakta seringkali ditanggapi panas oleh para ekstrimis.

    Kenapa? Karena mereka selama ini hanya terindoktrinasi oleh pemikiran : Apa yang di ajarkan ustadz saya selalu benar

    Ketika seseorang membuka fakta baru, maka mereka tidak mau menerima begitu saja, baik dengan saling menyalahkan barat, zionisme atau justru bertanya balik dari mana sumber berita tersebut.

    Sama seperti postingan saya yang terakhir, menyangkut seorang teroris bashir, bahkan di postingan tersebut saya berikan video link agar membuktikan bukan rekayasa tetapi fakta.

    Kenyataanya, beberapa postingan dari para ekstrimis (bisa dilihat dari avatarnya) mereka langsung menuduh saya melakukan fitnah ? Ini juga sebuah fenomena tersendiri yang sering saya alami.

    Sebenarnya tulisan pak Wir, rasanya “tidak lebih” dari sumber dan kutipan berita, kalau sampai ada yang menuduh bahwa tulisan anda provokasi saya rasa mereka hanyalah kaum ekstrimis yang tidak bisa menerima fakta / kebenaran kongkrit dan hanya terbuai oleh fantasi surga mereka.

    Terakhir, welcome to the club deh😀

    Salam Sekuler Retorika !

    Suka

  9. perbedaan itu jangan dihindari..
    tapi belajarlah perlahan terbuka pada perbedaan.

    pengalaman di zaman orde baru, memang semua terkesan damai, karena masing-masing saling menghindari tuk bicara perbedaan. ee ternyata, itu malah menjadi seperti api dalam sekam..

    tapi memang tidak bisa dipaksakan.
    banyak orang enggan bicara perbedaan, dari ga ingin salah persepsi, salah mengerti sampai ga ingin dipengaruhi. maka disini pentingnya menjadi “mandiri dalam beragama“, agar nyaman-nyaman aja masuk ke dalam perbedaan..

    ini proses, saya bisa mengerti imel diatas, walau saya juga akan menghimbaunya tuk mulai belajar membuka diri terhadap perbedaan.

    sederhananya, perbedaan itu diciptakan, tuk kita mengenal diri sendiri lebih jelas loh. kalau semua dari kita serba sama, kita akan kebingungan dan sulit mengenal diri sendiri. pengalaman saya masuk dalam perbedaan, asyik.. saya jadi tahu persis, saya ini seperti apa. dan terhadap yang lain, tak kenal kan tak sayang..😛

    Suka

  10. mandiri dalam beragama“, agar nyaman-nyaman aja masuk ke dalam perbedaan..

    benar bu, biasanya mereka yang belum mandiri, atau yang belum pede, pada ketakutan karena mereka melihat perbedaan tersebut sebagai kekurangan dan bukannya sebagai keistimewaan.

    Bagi yang pede khan lain ya bu, bahwa untuk disebut istimewa itu khan perlu berbeda, ya khan. Pantas ibu bisa asyik. 😛

    Salam sejahtera, Tuhan memberkati anda.

    Suka

  11. Yuuup walau kita berbeda-beda tetapi tetap satu jua,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, berbeda mah pasti….. coba kalo dunia tanpa perbedaan,,, kan aneh…. tapi yang penting bagaimana kita memandang suatu perbedaan… demi kemaslahatan bersama

    Suka

  12. coba bung wir hitung lagi, berapa posting yang tentang umat islam, berapa yang tentang umat agama bang wir sendiri, dan berapa yang tentang umat agama lain..

    Saya setuju dengan mas/mbak deteksi, mungkin Pak Wir bisa lebih membahas isu-isu yang sedang berkembang di kalangan umat Katolik sendiri. Isu apa saja? Kan ada banyak, misalnya sulitnya izin membangun gereja, perilaku kekerasan terhadap sebuah komunitas biara, atau pemaksaan pembubaran misa malam paskah oleh sekelompok ‘oknum’. Kalau membahas hal-hal itu, saya rasa diskusi yang timbul bisa lebih baik hihihihi😀

    Komentar terhadap komentator: Ya, umat kristen memang diajari untuk cinta damai, tapi bukan berarti kita diam, cari aman, dan menghindari masalah. Justru umat kristen didorong untuk jadi garam dan terang yang membawa perubahan positif (secara aktif) bagi lingkungannya.

    Tentu masih bisa diperdebatkan lagi bagaimana cara Pak Wir menyampaikannya; tapi saya rasa, mencoba untuk mendiskusikan masalah itu lebih baik daripada diam dan pura-pura tidak terjadi apa-apa.

    Suka

  13. Kemarin liat post Pak Wir itu nangkring di BOTD saya dah nebak, wah.. ini pasti bakal rame. Hahahahaha. (*ga baca isinya sih, saya ga sempat lama-lama online.)

    Saya malah senang, Pak, kalau banyak pemeluk agama lain yang nulis soal agama saya. Ndak mungkin orang Islam terus-terusan mengurusi sudut pandangnya sendiri. Nanti kelewat sombong dan angkuh. Semakin banyak dikritik, performanya makin mantap, ya toh?

    Saya mendukung tulisan Pak Wir kemarin.😉

    Suka

  14. Saya ingin mengomentari komentar (dari anak bangsa?) yang menjadi topik kali ini saja.

    Jika dia menyimpulkan banyak artikel Pak Wir yang “berbau” SARA. Itu benar bukan?!

    Namun, apakah menulis artikel seperti itu salah?
    Jika artikel tersebut disikapi dengan berlebihan, tentu bisa menjadi salah.
    Jangankan artikel SARA, artikel yang menceritakan pribadi penulis pun bisa menjadi salah bila disikapi berlebihan (yang akhirnya menjadi masalah).
    Namun bila artikel disikapi dengan lebih arif; bahwa tujuan penulisan artikel di blog tentu (seharusnya) untuk memberikan informasi atau membagikan pendapat pribadinya, tentu tidak perlu dijadikan masalah (maupun disalah-salahkan).

    Semua artikel tentu berpulang pada pembaca. Jika tidak sependapat, silahkan berikan komentar dengan alasan yang berdasar.
    Alasan itulah yang nantinya menjadi bahan pelajaran bersama.

    Bukankah suatu hipotesis akan menjadi teori setelah mengalami “trial and error”, setelah memasukkan faktor-faktor yang sekiranya belum termasuk dan mengeluarkan faktor-faktor yang ternyata tidak termasuk.

    Jika kita anggap artikel adalah hipotesis, dan komentar-komentar (diskusi) yang ada sebagai sarana uji hipotesis.
    Maka tentu yang diharapkan adalah hasil diskusi tersebut dapat menyempurnakan (ataupun membantah) isi artikel.

    Saya menikmati berbagai pembahasan soal agama.
    Karena komentar yang ada berasal dari berbagai sudut pandang dan sumber, wawasan saya menjadi bertambah.
    Tentu bagi pemeluk suatu agama, pembahasan mengenai agama lain menjadi sumber pengetahuan yang tidak dapat diperoleh sendiri (susah).
    Apalagi bila pembahas-pembahasnya adalah pemeluk agama itu sendiri, sungguh menjadi pembelajaran untuk memahami pemeluk agama lain. Sehingga nantinya diharapkan timbul rasa toleran karena saling memahami antar pemeluk agama.

    Semoga!

    Suka

  15. Assalamualaikum
    salam damai…
    thank atas responnya pak wir.
    Perbedaan lah yang membuat kita bersatu…
    semoga rubrik ini semakin menarik dan memberikan pencerahaan bagi kita semua
    Semoga Tuhan memberkati dan melindungi kita semua.
    salam

    Suka

  16. Saya pribadi agak berhati-hati kalau menulis 2 topik : politik & agama.
    Cenderungnya pasti ribut🙂

    Memang masyarakat perlu dicerahkan dengan tulisan-tulisan seperti pak Wir. Tapi dari pengalaman saya, caranya memang harus dengan baik. **DAN** kita musti siap mental kalau dicaci maki oleh orang yang tidak paham.
    Kalau rasanya tidak siap untuk kedua hal tersebut, lebih baik menulis topik yang lainnya dulu🙂

    Karena menulis soal agama saya sendiri perlu ekstra “care”, maka menulis agama orang lain lebih ekstra hati-hati lagi.
    Contohnya ketika saya akan menulis soal Kristen Unitarian, itu saya maju-mundur cukup lama.
    Apakah ini baik hasilnya kalau saya tulis ? Apakah nanti ada kawan-kawan saya yang jadi susah hati karenanya ? Di lain pihak ini adalah wawasan baru yang menarik bagi saya dan ingin saya bagi, karena sangat jarang dibahas di berbagai forum agama saya sendiri; malah pembahasannya cenderung keliru jauh.

    Akhirnya setelah lama menimbang-nimbang, saya putuskan untuk menuliskannya juga, dengan ekstra peduli & hati-hati.

    Demikian juga dengan film Ayat-ayat Cinta, mungkin saya satu-satunya yang protes soal adegan Maria dengan salib di film tersebut, karena cemas ini akan menyinggung perasaan kawan-kawan kita.

    Berbagai informasi & knowledge itu memang baik, tapi caranya juga perlu kita perhatikan. Karena belum semua orang mampu melihat ke substansi / content; masih terlalu banyak yang justru melihat bungkus / kulit / cara penyampaiannya.

    Suka

  17. mengkomentari mas sufehmi:

    “Kalau rasanya tidak siap untuk kedua hal tersebut, lebih baik menulis topik yang lainnya dulu”
    “Karena menulis soal agama saya sendiri perlu ekstra “care”, maka menulis agama orang lain lebih ekstra hati-hati lagi.”

    Agama kok kesannya jadi hal yang menakutkan ya mas, bukannya membebaskan? Bahkan hampir2 ‘tabu’ untuk dikometari. Mungkin karena saling sungkan, jadi bukan penghormatan agama yang sebenarnya. Kalau menulis ttg agama orang lain saja takut, bagaimana menumbuhkan pemahaman inter-faith, apalagi penghormatan thd agama org lain. Yang ada hanya budaya sungkan dan ‘ah, lebih baik tidak usah daripada menyinggung perasaan’

    Kalau kita berani bicara politis bahkan teknis dan hitungan yang rumit2 sekalipun dan berani berdebat dlm urusan ini, kenapa tidak dgn sebuah AGAMA? Marilah jangan jadikan agama sebagai momok, malu ah sama saudara2 yang atheis atau agnostik….

    Suka

  18. “Kemarin liat post Pak Wir itu nangkring di BOTD saya dah nebak, wah.. ini pasti bakal rame.”

    topik agama katanya sensitif, tapi memang aneh menarik banyak pembaca dan komentar pedas. jadi mirip pornografi, dicaci dan dimaki tapi ujungnya dicari (termasuk oleh si pencaci, ngumpet2 tentunya).

    juga karena sama dengan pornografi topik agama TIDAK JELAS DEFINISINYA (karena apapun bisa disangkut2kan) tapi EFEKNYA JELAS (dalam hal agama: pasti ada pertentangan, tersinggung, dll sedangkan untuk pornografi pembaca silakan cari sendiri contohnya). jadi kok diterus2kan makin lama makin mirip…….

    Dalam esensinya omongan jusuf kalla tsb TIDAK menyangkut agama tapi hubungan paradoksal negara kaya-miskin dan agama yg dianut penduduknya –> jadi bukan negaranya!
    Ini juga berlaku dengan ketidakmampuan kita menanggapi pornografi secara esensial, karena kalau anda mau/perlu/berpikiran ngeres, ibu2 berjarik pun bisa dianggap porno.

    ayo tolak pornofikasi agama! alias jangan tabukan diskusi dengan alasan ‘agama’

    Suka

  19. Marilah jangan jadikan agama sebagai momok, malu ah sama saudara2 yang atheis atau agnostik

    Hahaha… saudara2 kita itu sebetulnya tidak ada yang atheis🙂

    Mereka mungkin menolak Tuhan yang tidak bisa mereka lihat. Namun, sebagai gantinya mereka menuhankan partai mereka / hedonisme / Bush / pacar mereka / Manchester United / Persija / dst (take your pick)
    Dan ketika ada yang kritis terhadap “tuhan” mereka tersebut, maka reaksi mereka sama saja dengan rekan-rekannya yang beragama.

    Wajar lah. Wong mereka itu juga manusia seperti kita kok😉

    Suka

  20. Kalau kita berani bicara politis bahkan teknis dan hitungan yang rumit2 sekalipun dan berani berdebat dlm urusan ini, kenapa tidak dgn sebuah AGAMA?

    Karena manusia adalah makhluk yang punya sesuatu yang disebut emosi.

    Mungkin Anda bisa bersikap seperti Data di Star Trek (saya juga ngiri dengan Spock/Vulcan yang bisa menekan emosi mereka), tapi tidak semua orang bisa demikian.
    Bahkan orang yang paling rasional pun bisa menjadi emosional ketika sesuatu yang dia cintai / hormati di nistakan.

    Bahkan hampir2 ‘tabu’ untuk dikometari

    Ajakan saya bukan untuk mentabukan diskusi agama lho.
    Tapi sekedar agar kita bisa melakukannya dengan baik, santun, dan penuh tenggang rasa (tidak egois / arogan / sombong).

    Trims.

    Suka

  21. Kalau kita berani bicara … bahkan teknis dan hitungan yang rumit2 sekalipun dan berani berdebat dlm urusan ini

    Sebetulnya enggak selalu juga.
    Di komunitas IT terkenal istilah flamewar, atau lebih spesifik lagi “perang agama“.

    Pada suatu flamewar, biasanya terjadi keributan antara pemeluk agama yang satu (contoh: windows, linux, distro linux: debian, redhat, slax, gentoo, dst) dengan yang lainnya.
    Dan ini bisa sampai jadi tegang sekali🙂

    Karena itu sekarang kalau ada yang kelihatan trolling / mengarahkan diskusi kesini, langsung ditengahi oleh moderator forum / peserta lainnya.
    Kalau tidak, wah, pusing… 😉

    Itu baru soal IT.

    Apalagi soal agama, yang bagi banyak pihak adalah soal hidup atau mati.

    Suka

  22. Pak Wir,
    Saya suka baca postingan pak Wir, ….yang penting niat baik. Seharusnya perbedaan pandangan harus disikapi secara baik, saya berasal dari keluarga yang latar belakang kepercayaannya berbeda-beda….dan ternyata bisa saling menghormati.

    Suka

  23. @sufehmi
    “Sebetulnya enggak selalu juga.
    Di komunitas IT terkenal istilah flamewar, atau lebih spesifik lagi “perang agama“.

    Betul, kalau arahnya ke flamewar memang mirip debat agama yang sekarang ini (sayangnya) muncul.

    Yang saya maksud, marilah bicara esensinya. Mau minjam contoh anda soal distro linux, seorang pakar IT kan seharusnya mampu mengomentari distro2 tsb secara teknis dan bukan fanatisme.

    Saya bukan mengajak berarogansi, tapi marilah jadikan media, apalagi internet, sebagai pemancing diskusi. Diskusi esensial tentu saja, bukan flamewar.

    Suka

  24. Karena manusia adalah makhluk yang punya sesuatu yang disebut emosi.

    Saya rasa emosi adalah hal yang positif karena tanpa emosi berarti manusia tidak punya keyakinan kuat. Janganlah emosi yang positif ini dicampuradukkan dengan ketidakmampuan memilah antara faktor esensial dan non-esensial dalam diskusi. contoh faktor non esensial adalah: agama apa yang dianut lawan bicaranya, prasangka, dll. Kalau begini pastilah ujungnya flamewar.

    Jadi kesimpulannya: ketidakmampuan kita untuk mendiskusikan agama adalah bukan karena manusia mahluk emosional, tapi karena kita kurang berlatih berdiskusi secara esensial, alias kurang mampu mendengarkan dan menyerap lawan bicara.

    Suka

  25. tapi karena kita kurang berlatih berdiskusi secara esensial, alias kurang mampu mendengarkan dan menyerap lawan bicara.

    Hm.. saya kurang tahu bagaimana keakuratan statement tersebut, karena saya sudah terlalu melihat contoh sebaliknya; seperti pakar yang sudah berpendidikan tinggi (S3) dan biasanya bisa berdikusi dengan baik, termasuk soal agama.

    Tapi tetap saja pernah emosinya meledak juga.

    Faktanya, memang kita (termasuk tentunya saya) adalah makhluk yang tidak sempurna.

    Suka

  26. @sufehmi
    memang sayangnya kita terus dihadapkan pada kenyataan yang demikian sehingga kita ‘lupa’ bahwa ada alternatif lebih baik.

    bagi saya pribadi s3 hanyalah gelar akademik yang idealnya disertai kedewasaan dan keluasan berpikir, bukan hanya ‘jago kandang’. sayangnya gelar akademis tidak selalu ekuivalen dengan intelektualitas (dalam arti seluas2nya) dari pemiliknya. entah ‘error’ dimana, mungkin di sistem pendidikan sekarang yang terlalu menekankan penguasaan ilmu, tapi saya harap bukan karena inflasi gelar-nya.

    Wir’s responds: baik-baik pak.😛
    moga-moga nanti kalau udah dapat S3-nya seperti yang idealnya disebut di atas. Untuk itu kayaknya harus banyak belajar diskusi dengan tamu-tamu yang datang ini.😀

    Suka

  27. @sufehmi
    btw, saya setuju bahwa agama adalah hal yang sensitif, tapi menurut saya menjadikan kita surut/enggan berdiskusi ttg agama. asal tujuannya (menurut saya lho) bukan jualan agama, tapi membangun pemahaman. intinya bukan pada mempertentangkan dogma tapi religiositas dan praxis (tindakan nyata). trims juga u/ komen Anda

    Suka

  28. asal tujuannya (menurut saya lho) bukan jualan agama

    Haha… jualan agama juga ndak apa sih🙂

    Tapi kalau sudah tidak benar diskusinya (menistakan, hate speech, libel, memelintirkan fakta, dst) memang saya cenderung malas untuk follow up diskusi (debat kusir?) model begini.

    Saya pernah membaca cukup rutin blog seorang Nasrani yang isinya cukup bagus. Isinya jelas jualan agama ybs, tapi saya juga ada bisa mendapat berbagai wawasan baru disitu.
    Malah bisa ada dialog Islam-Kristen disitu, cukup unik.

    Sayangnya kemudian ybs terjerumus dalam hate speech😦

    Sampai sekarang saya masih mencari-cari lagi blog yang bisa melakukan itu (dialog kristen-islam), tapi masih belum ketemu.

    Trims.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s