tentang kerjaan yang nggak diinginkan


Benar juga pendapat mas Ari dari Elex, bahwa buku-buku yang berkaitan dengan pengembangan diri adalah tipe buku-buku yang laris manis, bak pisang goreng. Ternyata itu tidak hanya berlaku untuk buku, tetapi juga artikel atau postingan pada blog ini. Topik pengembangan diri ternyata juga laris manis, buktinya banyak pengunjungnya begitu. 😛

Tapi berbicara tentang “pengembangan diri”, apa seseorang yang berlatar belakang engineer cukup cocok membawakannya, seperti bapak ?

Lho, kenapa tidak. Kalau berbicara tentang “diri dan pengembangannya”, saya kira setiap orang punya hak. Khususnya yang merasa “percaya diri” terhadap pengalaman pribadi yang dipunyainya. Tentu saja itu jangan disikapi sebagai suatu bentuk kesombongan, tetapi sebagai sharing, berbagi pendapat dan pikiran, dan yang paling penting di sini adalah “penguatan”.

Penguatan , apa maksudnya ?

Begini ya dik. Jika anda menerima keluhan dari orang lain, apa yang anda rasakan. Bisa-bisa anda ikut sedih, atau terikut emosi. Artinya anda atau pikiran anda, menjadi terimbas kha, terpengaruh bukan. Jadi seseorang yang sebelumnya hatinya netral, tetapi karena mendapat masukan lain yang negatif (keluhan) maka hatinya (pikirannya) menjadi tidak netral lagi, maka mestinya jika seorang yang sedang gundah (berpikiran negatif / sedih) maka jika diberi masukan yang memotivasi maka bisa juga terhibur. Bahkan bersemangat menghadapi masalah yang dihadapinya. Itulah yang dimaksud dengan “penguatan”.

Selanjutnya, untuk membahas tentang hal-hal pengembangan diri, maka paling baik adalah dengan meninjau studi kasus. Dari mana kasusnya, ya jelas dari para komentator di blog ini, itu saja sudah merupakan survey gratis untuk dapat dibahas menjadi postingan yang menarik. Iya khan.

Ini ada kasus unik dari sdr. Hyorinmaru

Saya sarjana, walau lulus telat buuuanyak alias lama, dan udah kerja . Masalahnya adalah, ini kerjaan yang ga’ saya inginkan, n ga’ pernah saya bayangkan.

Sahabat saya pernah menasehati: “coba sabar n dijalani dulu. Tapi kalo hati A’ ada di tempat laen, ya beda lagi ceritanya…” (dia manggil saya dengan “A'”, analogi untuk “Aa'”).

Ditambah dengan skandal-skandal, adanya penyimpangan-penyimpangan yg dilakukan oleh kolega… sesak rasanya. Untuk sementara saya terima n saya kuat-kuatkan; jika ga kuat lagi, yaa… ngadu ahh… Hehe:mrgreen:

Coba kalau ada kasus seperti itu bagaimana ?

Di satu sisi, di Indonesia , masyarakat banyak telah memaklumi bahwa mencari pekerjaan adalah “gampang-gampang susah”. Ada sebagian orang, yang kelihatannya dikejar-kejar pekerjaan. Maksudnya ditawari pekerjaan yang orang lain rasa itu suatu berkat, tetapi ternyata yang bersangkutan tidak mau. Tetapi orang yang mengganggap bahwa itu adalah berkat, ternyata tidak mendapat posisi pekerjaan yang dimaksud. Nelangsa.😦

Kadang-kadang pepatah bahwa “selalu melihat rumput tetangga lebih hijau dari halaman sendiri“. Itu ada benarnya lho. Mungkin seperti itu ya sifat manusia, yang tidak pernah puas.:mrgreen:

Dengan alasan tersebut maka , sikap pertama-tama yang harus diberikan terhadap pekerjaan yang sadah diperoleh adalah “mensyukuri” , karena dari situ diharapkan minimal “bisa mandiri” dan “tidak menjadi beban orang lain“. Tahapan ini penting, apalagi jika yang bersangkutan mempunyai tanggung-jawab yang harus diemban, misalnya telah berkeluarga dan menjadi kepala rumah tangga, atau belum berkeluarga tetapi mempunyai tanggung jawab untuk membantu kesejahteraan keluarganya.

Berkaitan dengan sikap yang pertama di atas, maka prioritas adalah kata kuncinya. Dalam hal ini maka kepentingan keluarga untuk dapat mandiri, lebih penting dari ego pribadi yang merasa bahwa pekerjaan tersebut belum cocok.

Tetapi jika anda belum berkeluarga, dan keluarga (orang tua) mampu, tentu akan berbeda. Meskipun kadang-kadang perlu juga diingat, bahwa orang tua masih berbangga bahwa anaknya adalah bukan pengangguran, meskipun pekerjaan yang dipunyainya belum disenangi. Bahkan kadang-kadang akan lebih bangga, karena mereka bisa menunjukkan bahwa anaknya telah mandiri, dan tangguh, bisa kuat menghadapi tantangan yang ada.

Jadi kesimpulan pertama adalah, jika anda menganggur gara-gara alasan bahwa pekerjaan anda tidak sesuai dengan hati anda, maka anda dapat disebut sebagai the looser. Orang di desa menyebutnya, anda tidak kuat menerima gemblengan, lemah and so on. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sikap Hyorinmaru untuk tetap disitu (pada pekerjaan yang tidak disenangi), sudah tepat. Meskipun nanti kalau sudah sumpek, maka akan mengeluh ke orang lain (he, he bikin orang lain juga ikut pusing). 

**he, he, he “emangnya gue pikiran“, gitu ya Hyorinmaru**

Dengan bertambahnya waktu, tentu akan bertambah pengalaman, wawasan, dan juga bekal persiapan mandiri yang lebih baik. Selanjutnya tentu perlu dipikirkan ego pribadi terhadap pekerjaan yang dihadapi setiap harinya.

Ini menurut saya penting sekali, dan paling penting, karena ketidak-cocokan di hati adalah beban terbesar yang harus di pikul, yang orang lain tidak melihatnya. Ketidak-cocokan tersebut kalau dipikirkan terus, apalagi kalau dibawa sampai tidur (jadi mimpi buruk) maka jelaslah yang bersangkutan telah mengalami stress, bisa meningkat ke depressi. Ujung-ujungnya stroke atau gila. Gawat khan.

Untuk menghindari hal tersebut, hanya ada tiga cara, yaitu

(1) kompromi, ikut arus. He, he, ini jika nurani orang memang tidak kuat, daripada ngemis (pengangguran), ya  lebih baik kaya (ada pekerjaan dan ada duitnya). Mungkin ini yang banyak terjadi. Intinya, dengan perjalanan waktu, yang dulunya idealis menjadi minimalis.

(2) cuek, jangan dipikirin, yang penting gajian lancar. Itu biasanya jika ketidak-cocokan tersebut tidak berbenturan dengan hati nurani orang tersebut, termasuk visi-misi pribadinya. Pikiran ke diri sendiri adalah “yang penting aku nggak ikutan”. Tetapi tentu hati-hati. Kemarin ketika KPK menangkap anggota dpr tersebut, maka yang ikut ditangkap adalah sopirnya juga, yang mungkin tidak tahu menahu tentang masalah yang melibatkan bosnya.

(3) melawan, ini tentunya juga perlu strategi, tidak hanya sekedar emosi. Untuk itu maka tahu potensi diri adalah sangat penting untuk bersikap. Jika punya potensi untuk dapat melakukan perubahan, ya syukurlah, ini adalah suatu kondisi ideal, khususnya jika orang tersebut punya sifat kepemimpinan tinggi. Ini bisa menjadi sarana untuk uji mental, gimana potensi diri. Siapa tahu bisa dikembangkan jadi politikus atau bahkan presiden. Tetapi kalau merasa tidak kuat, ya jangan dipaksa, berarti lingkungan pekerjaan anda adalah tidak cocok. Untuk itu perlu keberanian untuk “keluar dari lingkungan tersebut”.

Saya bilang keberanian ini adalah sangat penting. Keberanian untuk berubah dari suatu kemapanan atau status quo adalah suatu hal yang tidak gampang. Karena keberanian tidak bisa diukur dari hanya sekedar dulunya ketika sekolah mempunyai IP yang tinggi atau apa begitu.

Jika keputusan yang diambil adalah keluar dari lingkungan pekerjaan, maka tentu mulai dikumpulkan “keberanian untuk melakukannya”. Mula-mula perasaan tidak cocok, perasaan adanya penyimpangan-penyimpangan yang terjadi itu mulai dikumpulkan untuk diubah menjadi amunisi, atau energi untuk berubah (keluar). Selanjutnya dikembangkan dengan menambah jaringan, cari informasi atau bergaullah dengan orang di luar lingkungan pekerjaan anda. Carilah orang-orang yang puas dengan pekerjaannya, jangan cari orang-orang senasib. Itu namanya bikin frustasi.

Itu semua selanjutnya ditindak lanjuti dengan melamar pekerjaan di tempat lain. Ingat dalam melakukan semua ini, jangan gembar-gembor apalagi diketahui oleh pimpinan perusahaan yang sekarang anda bekerja. Intinya anda harus tetap bekerja, meskipun dalam tekanan. Karena bagaimanapun apakah lamaran saudara segera mendapat panggilan atau tidak, tetapi itu juga merupakan suatu penghibur. Siapa tahu dapat pekerjaan yang lebih baik.

Nasehat : jangan sampai anda melayangkan surat lamaran pada kondisi penganggguran, anda tidak akan mempunyai bargaining power.

He, he, he itu yang akan aku lakukan, jika aku merasa pekerjaan yang aku lakukan adalah tidak cocok. Bagiku, pekerjaan itu harus menjadi hobby. Jangan menjadi beban. Itu pula yang menyebabkan aku kalau mengajar hanya memilih bidang-bidang yang aku kuasa, yang materi-materinya benar-benar sudah di luar kepala.  

He, he, mungkin itu dulu ya. Mungkin teman-teman lain punya pendapat lain.

 

5 thoughts on “tentang kerjaan yang nggak diinginkan

  1. Yth Mr wir.
    Wah wah, pendapat anda benar-benar tepat u/ sebuah konklusi dari permasalahan yang ada.

    Saya kira keberanian u/ beradaptasi dengan lingkungan kerja adalah point yang tepat, karena dengan hal tersebut kita bisa mengatur apa yang kita inginkan dari pekerjaan kita.

    Satu hal lagi, bahwasanya menjadikan pekerjaan adalah sebuah hoby dan tantangan akan membuat kita berkembang dengan baik.

    Saya telah bekerja 2.5 tahun, pada 2 tahun pertama saya kaget dengan lingkungan kerja saja. Butuh adaptasi dan kerja keras u/ membuktikan eksitensi saya di dunia kerja. Terkadang u/ para fresh graduate kita dianggap sebelah mata oleh sebagian senior kita (kecuali pak wir tentunya🙂 ) tapi hal tersebut jangan membuat kita putus asa, tapi jadikan hal tersebut sebagai motivator u/ menjdi lebih baik .

    Dan ingat jangan ada perasaan “balas dendam” kepada para fresh graduate nantinya apabila kita telah punya experience. Saya percaya dengan membagikan ilmu yang kita punya tentunya tidak akan mengurangi ilmu yang ada pada kita malah kita akan mendapat banyak teman dan pahala (itu yang penting).

    Semoga “sharing comment” ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
    salam

    Suka

  2. sahabat dari sahabat saya yang sekarang juga telah menjadi sahabat saya, pernah mengalami melamar kerja-diterima-kerja sebentar-keluar, beberapa kali ini dia alami (dan lakukan)..

    alasan dia keluar macam2, ada yang kerjaannya tdk cocok (baca : enak) lah, konflik dengan rekan kerja (yang kebetulan lebih senior) lah, target ke depan yang tidak sesuai keinginanlah dsb.. sampai2 teman2nya menjulukinya “hobi mencari kerja”..

    saat ini dia nganggur, masih melamar kerja ke sana kemari tapi belum ketrima (lagi)..

    sahabatku yang lain berpendapat bahwa jatah dia diterima kerja (sementara) distop oleh Tuhan, karena dia telah men-sia2kan ‘nikmat’ (diterima kerja) berkali-kali..

    well..itu hanya wacana..mensyukuri nikmat Tuhan, barangkali masih relevan..
    (maap Pak Wir kalau kepanjangan)

    Wir’s responds: nggak panjang koq, bagus bahkan. Bisa untuk renungan pula itu, agar kita bisa mensyukuri apa yang ada.

    Suka

  3. Nasehat : jangan sampai anda melayangkan surat lamaran pada kondisi penganggguran, anda tidak akan mempunyai bargaining power.

    bener, pak.
    uda pernah ngalami. engineer pengalaman 3 tahun gajinya = Fresh graduate.
    tapi ga papa lah. uda diterima kerja. ntar ya nyari lagi…

    Suka

  4. setuju pak.

    tulisan pak Wir kali ini menambah motivasi saya untuk kesekian kalinya.

    saya senantiasa merasa, setelah mendapatkan pekerjaan, langkah selanjutnya adalah mensyukuri. Apabila selalu berusaha untuk menikmati pekerjaan tersebut, ternyata hasilnya menarik pak.

    Suka

  5. Salam kenal Pak Wir…
    Betul pak, walaupun dalam kenyataan sulit, tetapi rasa bersyukur akan sedikit meringankan beban, menambah semangat dan akhirnya menaklukan keadaan.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s