(rasanya) otak kosong meskipun sudah sarjana


Ini kasusnya Erink :

pak Wir, saya sarjana usia 25 tahun, lulus 2007, tapi saya merasa  tidak memiliki keahlian dan kemampuan. Saya merasa otak saya kosong ! Saya seperti tidak tahu apa-apa !.

Sekarang ini, saya bekerja sebagai tenaga laboran teknik sipil di salah satu kampus di kaltim.

pak Wir, saya juga ingin seperti orang-orang, sukses dalam karir, punya keahlian dan menjadi engineer sejati, tapi saya bingung harus mulai dari mana dan bagaimana.

pak Wir…tolong beri saran kepada saya apa yang bisa saya lakukan…
terimakasih sebelumnya.

Sepucuk surat, eh, email,  yang membuatku prihatin, khususnya jika itu dihubungkan dengan berita keberadaan sarjana pengangguran di Indonesia, yang jumlahnya ribuan tersebut.

Lho, tapi sarjana yang menulis email itu khan bukan pengangguran khan pak !

Memang sih, bukan itu yang aku prihatinkan, tetapi karena orang tersebut meskipun sudah mendapat gelar sarjana (belum lama sih) tetapi mengapa mengeluh bahwa “merasa otaknya kosong, seperti tidak tahu apa-apa”.

Jadi kalau seorang sarjana saja masih mengeluh seperti itu, lalu bagaimana keluhan seorang non-sarjana. Itu khan dengan asumsi bahwa seorang sarjana adalah lebih baik dari yang belum sarjana. Seperti yang sekarang ini terjadi dengan keberadaan guru-guru di Indonesia, dimana pemerintah merasa belum baik karena tidak semua guru yang ada adalah sarjana. Betul nggak !

Jika seorang sarjana berpikiran seperti itu, kira-kira pekerjaan apa yang cocok baginya. Apakah bisa tipe pekerjaan yang mengandalkan otak. Padahal seperti diketahui bahwa yang namanya sarjana, itu khan lebih diharapkan pada transformasi cara berpikir. Sedangkan jika yang ditargetkan adalah ketrampilan, maka sekolahnya adalah diploma. Iya khan.

Dengan beranggapan bahwa seseorang itu adalah apa yang dipikirkan, maka jelaslah kalau saya cukup prihatin dengan kondisi di atas. Apalagi saya bekerja pada institusi yang bertugas untuk mencetak sarjana. Karena jika seorang sarjana berpikir seperti itu (merasa nggak punya kemampuan), maka pantaslah kalau yang ngganggur juga banyak. Jadi yang menyebabkan nganggur itu bukan karena nggak ada pekerjaan, tetapi karena kompetensi si sarjana itu yang tidak mencukupi.

Moga-moga pernyataan di atas, bukanlah stigma umum kondisi sarjana atau calon sarjana di Indonesia, iya khan.  Jelas, karena di lingkungan tempatku, saya melihat banyak juga calon-calon sarjana yang optimis. Bahkan, mau menarik alumni untuk menjadi dosen muda di lingkunganku saja (jurusan teknik sipil UPH) adalah tidak gampang. Mereka-mereka lebih tertarik dunia di luar kampus. Katanya lebih menjanjikan, gitu lho. Hebat khan.

Ok, kembali ke sarjana yang mengeluh di atas.

Meskipun banyak mengeluh, tetapi si sarjana ini hebat lho sebenarnya. Mengapa ? Meskipun ngakunya ”tidak tahu apa-apa”, tapi ternyata sudah punya pekerjaan. Itu khan jelas lebih baik, daripada ngakunya ”tahu apa-apa” tapi nggak punya pekerjaan, alias pengangguran. Dengan demikian, perlu dipertanyakan, kondisi pengangguran yang sarjana tersebut. Tahu apa mereka ?

Tentu masih menjadi pertanyaan ”kenapa masih ada keluhan, dan kelihatan nggak PD”. Yah, mungkin karena status pekerjaannya itu, yaitu tenaga laboran, yang umumnya sudah bisa ditangani dengan baik oleh orang setingkat STM. Jadi down-grade gitu lho. Gajinya tentu setingkat STM juga, bukan dihargai sebagai sarjana. Jadi pantes, si sarjana ini merasa tidak puas, kelasnya bukan untuk seorang ”engineer” sih. Begitu ya ?

Untuk menanggapi si sarjana tersebut maka pertama-tama anda (si sarjana itu) tentu harus bersyukur bahwa telah diingatkan, mungkin oleh orang di sekitar anda, atau oleh pikiran dalam hati saudara sendiri, bahwa kondisi yang anda terima memang perlu suatu peningkatan lagi. Perlu perjuangan lagi. Saya kira itu wajar. Semua perlu perjuangan. Menurut saya, yang paling menarik dalam hidup ini adalah perjalanan kehidupan dari kondisi bawah menuju  kondisi ke atas yang lebih baik, bukannya kejatuhan dari atas ke bawah. Tetapi kalaupun itu terjadi, yaitu kegagalan, maka jangan berlama-lama meratapinya, tetapi harus cepat-cepat berupaya bangkit dari kondisi tersebut. Dan lagi-lagi, dapat bangkit, adalah suatu kondisi yang patut disyukuri dan bukan meratapi kegagalan. Lupakan itu.

Seperti kata banyak pepatah, syukurilah setiap tahapan yang anda terima, bekerjalah sebaik-baiknya, dan selalulah dinamis dalam berpikir dan berorientasi maju. Itu semua pasti akan mengarah pada kebaikan. Saya yakin itu.

Tentang menjadi “tenaga laboran”. Mungkin kondisinya belum ideal, tetapi menurut saya itu adalah lebih baik daripada jadi pengangguran, dan juga sesuai dengan mental pikiran yang saudara miliki, yaitu ”merasa otaknya kosong”. Coba kalau anda diberi beban pekerjaan yang lebih beresiko, misalnya perancangan jembatan, khan bisa ngeri khan kalau itu dikerjakan dengan otak kosong. Menurut saya, itu kesempatan anda untuk dapat belajar tentang pekerjaan di laboratorium dengan sebaik-baiknya, anda bahkan bisa belajar teori-teori yang mendukung pekerjaan anda dan membandingkannya dengan fakta yang anda temui. Ingat nggak setiap orang mempunyai kesempatan banyak di laboratorium seperti anda. Di sana tentu ada orang-orang yang dianggap ahli, ini kesempatan anda untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya, sehingga anda tidak lagi merasa bahwa otak anda masih kosong.

Selalu berpikiran positip.

Bayangkan saja, siapa tahu nanti anda jadi ahli di bidang eksperimental, karena sering melihat orang-orang melakukannya, bahkan dapat membandingkannya satu dengan yang lain, sehingga tahu mana eksperimen yang benar atau salah. O ya, jangan segan-segan untuk berani menerima tanggung jawab dari atasan, dan selesaikan hasilnya sedemikian rupa sehingga mereka merasa terbantu pekerjaannya dan terus mencari anda untuk minta bantuan. Jika dia puas, bisa-bisa dia mempromosikan anda tanpa anda minta. Betul, hal seperti ini juga pernah saya alami. Terus terang saya tipe orang yang tidak dapat merayu. Jadi umumnya, orang mengenal saya bukan karena “sayanya ramah tamah”, tapi biasanya dari hasil karya saya.

Jadi intinya kalau anda bisa me-manage dengan baik, karena masih di habitat yang memungkinkan menjadi engineer, atau semacamnya gitu maka harusnya anda dapat mensyukuri bahwa cita-cita anda untuk jadi engineer masih memungkinkan. Coba bayangkan, jika anda kerja jadi marketing jualan kain. Apa bisa mengarah ke pekerjaan engineer. Kalau bisa sih, itu namanya luar biasa.

O ya, apalagi anda dapat melakukan kontak maya (tahu dan bisa akses internet), sehingga mendapat pengetahuan lain yang berguna, juga konsultasi seperti ini. Coba kalau anda terisolasi dari dunia luar, dan merasa sudah segala-galanya, padahal !?

Setelah banyak pengalaman di laboratorium tersebut, dan anda sudah merasa bahwa otak anda sudah mulai penuh dengan pengetahuan-pengetahuan yang relevan maka tentunya segera berpikir untuk tidak sekedar jadi tenaga laboran lagi. Umumnya jika pimpinan anda jeli melihat bahwa anda bisa menunjukkan kerja selevel sarjana, dan juga karena ada kesempatan maka pasti akan dipromosikan pada posisi yang sesuai. Jika kesempatan tersebut belum ada, maka anda bisa cari kesempatan itu di tempat lain, melamar pekerjaan di tempat lain, pada bidang yang anda anggap kompeten.

Dengan strategi seperti di atas, jika terus menerus dilakukan, dan tetap setia pada benang merah idealisme yang anda tentukan dari semula maka saya yakin anda dapat menjadi apa yang anda cita-citakan. Amin.

41 thoughts on “(rasanya) otak kosong meskipun sudah sarjana

  1. saya juga ingin seperti orang-orang, sukses dalam karir, punya keahlian dan menjadi engineer sejati

    Lupakan masalah sukses dalam karir…
    kejar dua yang terakhir saja, punya keahlian dan menjadi engineer sejati.

    Sukses itu terlalu subyektif. Kalau memiliki keahlian dan engineer sejati, itu adalah obyektif.

    Jangan takut memulai dari bawah.

    Ibu saya, pensiunan bank, di mata orang lain saat ini mungkin termasuk orang sukses. Tetapi saya yang tinggal dengan beliau, masih teringat masa-masa susah di mana sampai saya sempat iri dengan kawan-kawan lain yang punya uang jajan.

    Suka

  2. mimpi-mimpi dan kesediaan untuk babak belur-banjir darah dalam berjuang rasanya itu yang menjaga saya tetap waras dan obyektif hahahaha….

    terus terang pendidikan formal yang saya lalui cuman menghasilkan ijazah…. modal untuk dipanggil interview

    wakakakakakakakkakakakkakakkakakkaa….

    Suka

  3. salam kenal..
    saya merasa, memang ada hal-hal yang bisa dijawab dengan keahlian terukur seperti kesarjanaan, jabatan dsbnya. tapi banyak hal harus dijawab dengan nurani yang jernih..
    sehingga kombinasi otak dan hati yang seimbang akan menghasilkan kreatifitas yang lebih bermanfaat banyak. dan keseimbangan ilmu dan humaniora menghasilkan rasa kaya yang lebih..
    tak berasa kosong lagi kali yaa..
    sukses!

    Suka

  4. Salam hormat dan salam kenal…
    Saya jadi ingat ada beberapa kali orang menulis kata metacognition. Seingat saya jarang dulu saya diajari mengenai berpikir tentang berpikir dan belajar tentang belajar. Paling banter adalah kalau belajar jangan sambil denger musik, harus duduk yang baik, cari tempat sepi..dst.

    Entahlah apa ada kaitannya ya ? Ingatan kabur saya kembali pada perbedaan pandangan tentang pendidikan (pendidikan vs pelatihan) zaman pak Fuad Hassan. Antara membangun manusia dengan mensuplai tenaga untuk industri.

    Suka

  5. saya jadi ingat perkataan napoleon bonaparte : kepala tanpa ingatan sama halnya dengan benteng tanpa penjaga. Hal ini juga mengingatkan saya supaya saya belajar tidak sekedar untuk lulus, tetapi juga menimba ilmu.

    Ibarat pendekar yang semangat belajar ilmu silat, dan setelah menguasai ilmu silat, dia menjadi lebih PD, demikian juga saya sebagai calon sarjana teknik sipil harus belajar untuk menumbuhkan rasa percaya diri. Karena pekerjaan sipil yang beresiko tinggi ini harus dihadapi dengan doa, percaya diri, dan kerja cerdas.

    Wir’s responds: wah kayaknya anda sudah menemukan esensi dari suatu yang namanya pendidikan dan pengajaran. Memang seperti itu tujuannya, adapun ijazah merupakan formalitas dan suatu cara mudah untuk menunjukkan bahwa yang bersangkutan telah memenuhi semua proses-proses pengajaran. Tetapi apakah itu artinya sudah menemukan esensi yang dimaksud.

    Viktor, memahami hal yang anda ungkapkan itu nggak gampang, saya menemukan pernyataan seperti itu saja setelah lama lulus dan dapat ijazah. Dulu tujuan pendidikan yang saya tekuni hanya karena ingin bisa bekerja, punya duit, tidak malu-maluin mertua dan semacamnya itu.

    Saya kira kalau anda jadi guru atau dosen wah cocok lho.

    Suka

  6. salam kenal semuanya juga,

    @sunu: bahwa dalam pendidikan dan pelatihan, kesemuanya ada unsur pengajaran.

    Pendidikan lebih diarahkan pada “pikiran”, transformasi cara berpikir dari “tidak tahu” menjadi “tahu”. Sehingga bisa memikirkan suatu masalah untuk dicari penyelesaiannya. Bisa menghasilkan sesuatu yang baru, dari yang belum ada sebelumnya. Ini yang mendukung yang namanya kretivitas.

    Pelatihan lebih diarahkan yang bersangkutan berkompeten pada sesuatu yang disebut penyelesaian masalah, atau sesuatu yang diyakini dapat menyelesaikan sesuatu. Belajar tentang hal-hal yang sudah ada sebelumnya. Ciri-cirinya dengan mencontoh yang sudah ada. Misalnya belajar menjahit, memasak, bengkel dsb. O lupa ada yag kelewatan, termasuk ini juga lho, belajar menghitung jembatan yang sudah ada (ada contohnya). Ini langkah paling tepat dan mudah untuk transfer ilmu : ketrampilan “menghitung”.😛

    Mengajar adalah proses orang untuk mentranformasi hal-hal di atas.

    Jadi mendidik, jelas lebih susah dari pada mengajar. Guru-guru atau dosen-dosen adalah jelas dia bisa mengajar, kalau nggak khan akan dipecat. Tetapi apakah dia bisa memberi didikan yang baik. Wah yang tahu hanya muridnya saja, dan itu saya yakin nggak semua bisa menilainya dengan benar.

    Jadi apakah saya sudah bisa mengajar. Jelas, untuk itu saya digaji. Tetapi apakah yang saya lakukan ini dan yang lainnya adalah bisa mendidik orang lain. Wah, saya nggak bisa menjawab, harus orang lain yang menjawabnya. Iya khan.

    Jadi sebenarnya kalau dikaitkan dengan hal tersebut, bahwa pendidikan kita harus ada link-and-match dengan industri. ya bisa ya, dan juga bisa tidak. Yang paling utama adalah “membangun manusia”. Bagaimana ciri-ciri seorang manusia yang terbangun, jelas bahwa yang bersangkutan akan mandiri dan tidak mengeluh, karena dia bisa memikirkan apa yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.

    Jadi bila dikaitkan dengan hal ini, maka anak muda yang sarjana di atas adalah mandiri, karena dapat membuka web ini, dan dapat mengkosultasikan masalah yang dihadapinya. Itulah saya kira hasilnya yang dia dapat selama sekolah sebelumnya. Coba bayangkan, jika dia nggak pernah sekolah atau nggak punya gelar sarjana, pasti nggak punya pikiran seperti itu khan.😀

    Suka

  7. miris ya….

    Wir’s responds : saya kira tidak lho mas.

    Orang yang punya masalah tetapi dapat mendefinisikan masalahnya, itu sudah 50% dari penyelesaiannya. Jadi jika dikonsulkan ke orang lain, minta nasehat, maka orang lain bisa memberi nasehat-nasehat yang dianggap tepat untuk dipikirkan lebih lanjut.

    Yang miris itu adalah, orang sakit (punya masalah), tetapi tidak merasa sakit. Dianya merasa happy-happy saja, hanya orang lain yang mengeluh. Misalnya orang tuanya, istrinya, atau lingkungan sekitarnya. Itu yang lebih miris.

    Kenapa ?

    Karena yang bisa mengubah diri kita, hanya diri kita sendiri, bukan orang lain. Orang lain hanya bisa mengatur, menyarankan, memberi petunjuk. Tetapi belum berarti itu semua dapat merubah orang tersebut. Iya khan mas.

    Suka

  8. Saya jadi ingat waktu saya masih duduk di bangku SMP dulu pak. membicarakan soal pendidikan VS pembelajaran.

    kata guru saya, hal yang sifatnya tidak ada sebelumnya, itu bisa dikatakan sebagai pelajaran. nah, sifat yang sudah ada dalam diri manusia, itu disebut sebagai pendidikan. makanya nggak ada istilah pelajaran agama, tapi yang ada pendidikan agama, atau pendidikan moral pancasila, jd tidak ada pelajaran moral pancasila. kalau matematika itu pelajaran, dan bukan pendidikan matematika.

    Suka

  9. @Freddy
    Itulah definisi yang umum yang dipahami di kalangan pendidikan.

    Bahwa mereka merasa sudah memberikan pendidikan agama dengan baik, atau pendidikan moral yang tepat.

    Padahal yang terjadi sebenarnya hanya sekedar ketrampilan menyelesaikan ujian. Lulus, sih lulus. Tetapi anda khan bisa melihat “buahnya” khan, udah jadi pejabat masih terima suap, bahkan ada juga yang berbuat zinah, atau membunuh orang tidak bersalah padahal katanya sudah mendapat pendidikan agama, ditempat khusus lagi.

    Mengapa, karena yang mereka terima hanya sekedar pengajaran dari para guru, yang mana itu semua tidak sampai mengubah pola pikir. Jadi bisa dikatakan pendidikan yang dimaksud GAGAL, khususnya untuk orang-orang yg sudah pasti berbuat amoral, atau anti agama itu. Iya khan.

    Sedangkan yang dimaksud pelajaran, wah itu beda lagi. Pelajaran adalah materi yang digunakan untuk belajar. Belajar untuk suatu ketrampilan baru, maupun pola pikir baru. Juga pelajaran kadang-kadang tidak perlu pengajaran dari orang lain. Orang bisa saja mendapat pelajaran dari pengalamannya sendiri. Pelajaran apabila itu menjadi renungan, menjadi pemikirannya lagi, istilahnya mawas diri. Gitu lho.

    Tentang pemahaman itu kalau hanya sekedar pengalaman. Rasanya perlu di kaji ulang. Negara kita seperti ini, berarti ada yang salah dalam cara berpikir. Jadi intinya kita harus berani mendobrak, hal-hal yang katanya sudah dianggap benar karena sudah lama tersebut. Jadi perlu terobosan, begitu lho.

    Suka

  10. wah anak yang kirim email itu masih mending.. pak… padahal ada anak yang lulus tahun 1996 dengan IP bagus… masih belum bisa ngapain-ngapain…😦 ketika saya tahu itu saya jadi prihatin…

    saya setuju dengan pak wir orang yang tahu masalah — sudah mendapatkan 50% solusi… cuman memang dia butuh coach ato mentor… ato paling tidak butuh komunitas yang memacu dia agar tetap belajar dan tumbuh🙂

    salam dari malang🙂

    Wir’s responds: semoga blog ini dapat menjadi ‘komunitas’ yang dimaksud.😛

    Suka

  11. Dengan si sarjana menulis email seperti diatas, hampir dipastikan si sarjana ini pinter. Otaknya jalan, semangat mas, sampeyan ini tinggal menunggu waktunya saja. Terus berusaha🙂

    Wir’s responds: iya bener juga ya. Kalau nggak pinter, bagaimana dianya bisa nyampai di blog ini.

    he, he, he, he, … ge-er. 😛

    Sorry, maksudnya kalau dapat koneksi internet khan pasti ke “situs-situs itu” lho, seharian dan nggak sempat mikiran masa depannya. Iya khan.🙂

    Suka

  12. salam kenal semuanya

    saya melihat permasalahan ini bermula dari mentalitas dari para lulusan sarjana yang belum siap u/ terjun ke dunia kerja, sehingga menciptakan perasaan rendah diri, tidak PD, appriori akan keadaan sekitar dan terkadang mudah terhasut oleh keadaan.

    sebagai contoh, teman saya sendiri lulusan teknik sipil tahun 2005, telah bekerja di salah satu perusahaan negara (BUMN) menjadi staff teknik, namun apa yang tejadi di lingkungan seperti itu dia tidak berkembang menjadi seorang “engineer” tetapi malah menjadi calon “koruptor baru”. sempat kami sharing beberapa hal tentang pengalaman kerja setelah hampir 2,5 tahun bekerja.

    pada dasarnya dia anak yang pandai (IPnya melebihi saya) tetapi karena dikarenakan faktor mentalitas yang minin sehingga dia terjebak pada paradigma di lingkungan tempat dia bekerja sekarang.

    sejujurnya pada awalnya dia merasa risih dikarenakan banyak hal-hal yang bertentangan dengan nurani tetapi dengan derasnya arus “kotor” membawa dia masuk kedalam lingkungan tersebut. dan dikarenakan telah keenakan dengan hal-hal seperti itu membuat dia tidak ingin lepas.
    ini adalah sedikit dari cerminan bahwa mentalitas sebagai faktor penting di dunia usaha.

    u/ mas Erink
    jadi sekecil apapun sebuah pekerjaan asalkan tetap pada jalan yang benar merupakan suatu perjuangan yang bagus.

    uang adalah sesuatu yang penting tapi uang bukanlah segalanya

    dan saya percaya para calon sarjana dan sarjana di indonesia mempunyai kemampuan akademik yang bisa dibanggakan dan dapat merubah bangsa ini menjadi lebih baik…

    salam

    Suka

  13. wah pak wir terima kasih atas pencerahannya.

    saya juga dulu kayak gitu. tapi karena dulunya sering hobi IT akhirnya kerjaannya pun ke IT juga. Alhadulilah sekarang tinggal dipoles dengan seritfikasi-sertifikasi.

    Makasih banyak atas sharing-nya..

    Suka

  14. Sebelum jadi sarjana, lebih baik kita benar-benar mencari pengalaman di luar kampus. ya walau sementara ngga digaji dulu. Hal ini untuk memupuk kita agar mau berusaha. Syukur-syukur kita punya jiwa wirausaha mengingat lowongan pekerjaan sudah sedikit.

    Alhamdulillah aku sudah bekerja meskipun masih freelance. Aku juga lagi skripsi lho.

    Saranku, cobalah untuk wirausaha. Jangan hanya berdiam diri. Ingat, benda yang diam ketika akan bergerak, memerlukan daya yang besar. namun jika sudah bergerak, daya yang diperlukan kecil.

    Suka

  15. Merasa otak kosong, berarti dia memang orang yang pinter menganalisa dirinya sendiri😆
    atau kebanyakan ngelamun di lab-nya🙂

    Sarjana saat ini memang cenderung berfikir untuk bekerja kepada orang lain “jual tenaga” istilahnya, coba kalau diisi dengan fikiran kreatif untuk menciptakan lapangan pekerjaan buat orang lain kan lebih sip.

    Suka

  16. ya memang yang kita lihat di Indonesia sekarang ini,,

    lulus sarjana secara formal saja belum cukup untuk menjadi sukses,,,

    perlu skill lain yang membuat kita unggul pada satu bidang….

    mendapat kerja tetapi gajinya tidak sesuai dengan ijazah yang dimiliki adalah konsekuensi logis dari tiadanya skill mantap di salah satu bidang,,,,

    karena terkait dengan kondisi Indonesia yang kekurangan lapangan pekerjaan…

    Suka

  17. Kita dididik dari SD sampai perguruan tinggi kebanyakan dengan cara sistematis, matematis, yang pasti-2 dan otak kanan saja yang diasah.

    Setelah lulus sarjana, mereka hanya fokus dan terpacu untuk berkompetisi dengan adanya lowongan kerja. Jika gagal bersaing, mereka merasa bodoh (otak kosong) padahal itu hanya persaingan otak kiri saja.

    Lalu bagaimana dengan potensi otak kanan.

    Banyak orang tidak memaksimalkan otak kanannya untuk berpikir. Karena otak kanannya tidak terlatih, mereka takut berpikir yang melawan arus, takut mencoba usaha yang tidak pasti, dll.

    Jaman sekarang otak kanan lebih berguna daripada otak kiri. Lihat saja banyak pengusaha yang tidak punya gelar tapi sukses bahkan punya pegawai dan menggaji banyak sarjana.

    Lebih enak putar otak gimana jadi pengusaha daripada mikirin jadi pegawai gaji nggak naik-naik.🙂

    Suka

  18. Sekedar tambahan..
    Tanda utama seseorang yang mau maju adalah dia harus sadar diri terlebih dahulu..
    (Saya melihat dari sudut pandang positif thinking).

    Dengan sadar diri bahwa dia merasa mempunyai “otak kosong”, secara naluriah maka dia akan melakukan sesuatu untuk mengatasi hal tersebut. (seperti konsultasi dengan Pak Wir, sebagai langkah awal).

    Hal tersebut akan berbeda apabila seorang individu tidak menyadari apapun yang sedang terjadi pada dirinya.. dan tenggelam dalam kesibukan rutin sehari-hari.

    Setelah menyadari segala kekurangan yang ada, selebihnya kembali kepada kegigihan kita dalam berusaha, dan tidak lupa juga berdoa kepada Tuhan.

    Salam.

    Suka

  19. Hm…🙂
    Ya, ya.

    Btw, untuk saya pak, saya sarjana, walo lulus telat buuuanyak alias lama, dan udah kerja…
    Masalahnya bagi saya adalah, ini kerjaan yang ga’ saya inginkan, n ga’ pernah saya bayangkan.

    Sahabat saya pernah menasehati: “coba sabar n dijalani dulu. Tapi kalo hati A’ ada di tempat laen, ya beda lagi ceritanya…” (dia manggil saya dengan “A'”, analogi untuk “Aa'”).

    Ditambah dengan skandal-skandal, adanya penyimpangan-penyimpangan yg dilakukan oleh kolega… sesak rasanya. Untuk smentara saya terima n saya kuat-kuatkan; jika ga kuat lagi, yaa… ngadu ahh… Hehe:mrgreen:

    FYI: kerjaan saya GTT.😐

    Suka

  20. wah saya jadi takut tamat dan dapat gelar sarjana nih,
    soal nya sebentar lagi saya mau menyelesaikan perkuliahan saya…

    tapi tenang, ada sejumlah skill yang saya kuasai walaupun diluar bidang yang saya kuliah kan

    saya percaya dengan kata2 ini

    ” 1 % bakat, 99% kerja keras ”

    ciayoooo buat mahasiswa yang baru tamat

    Suka

  21. Salam Kenal,

    Pak, saya lagi nyari judul skripsi tentang bendungan, kira-kira blog khusus belajar untuk bendungan ada nggak pak? kalau saya lihat blog pribadi bapak lebih condong ke engineer, kalau ada teman-teman yang tahu tentang blog atau e-learning masalah bendungan tolong dikasih tahu ya.

    thank’s

    Suka

  22. Sekedar berbagi, saya bekerja di kontakror sipil dan penyewaan alat berat.
    Ini kali pertama saya bekerja di bidang sipil, sebelumnya sempat tersangkut di bidang lain.
    Kendala terbesar yang saya hadapi, bukan hanya karena saya masih muda sehingga sangat minim pengalaman, ditambah lagi saya adalah seorang perempuan.
    Dan lingkungan pekerjaan saya didominasi oleh laki-laki, saya satu-satunya engineer perempuan di lapangan.
    Saya akui, orang lapangan terutama yang senior sudah memiliki jam terbang yang tinggi untuk mejalankan tugasnya. Sehingga seolah-olah kehadiran engineer sebagai decision maker menjadi tidak terlalu vital ( setidaknya itu yang saya rasakan).
    Anyway, memasuki tahun kedua saya di site…
    I have to establish my self, saya ridak boleh jalan di tempat, harus selangkah lebih maju dari yang senior dan engineer laki – laki. Jadi, tantangan buat saya berlipat – lipat ( hiperbola ya??? hehehe)
    Buat pak Wir, tolong kebaikan hatinya memberi saran buat saya
    Terima kasih sebelumnya
    GBU

    Suka

  23. Saya jadi ingat sama komentar teman kuliah saya dulu, “klo aku nanti dah jadi direktur, aku ga akan nerima pegawai yang punya IPK rendah, karena aku tau gimana sebenarnya kualitas mahasiswa dengan IPK rendah” (Kebetulan waktu itu IPK-nya masih satu koma..)
    Memang, sepertinya seorang pendidik harus bisa memberikan pencerahan buat yang didik, supaya mereka ga cuma siap secara skill, tapi juga mental..

    Suka

  24. Saya Sarjana Ekonomi Akuntansi dengan IPK 3,03 tetapi saat bekerja saya merasakan hal yang sama. Otak kosong. Bagaimana ini Pak? saya khawatir tidak bisa mencari nafkah.

    Suka

    • “Saat bekerja”

      Lho sudah dapat pekerjaan, ya bersyukurlah. Jaman sekarang khan pekerjaan itu gampang-gampang susah.

      Nah masalahnya pekerjaannya sudah dirasa cocok belum, baik dari sisi lingkungan maupun apa yang dikerjakannya. Jika sudah maka hati-hati dengan pikiran bahwa otak masih kosong. Bisa-bisa karir nggak naik-naik, khan rugi.

      Kenapa aku memberi peringatan seperti ini, karena aku konsisten dengan pendapatku yang dulu-dulu, bahwa semuanya itu dimulai dari pikiran. Jadi meskipun mungkin maksudnyabercanda, tetapi pada prinsipnya berpikir yang nggak baik itu tidak diperbolehkan, karena itu adalah suatu perintah kepada pikiran bawah sadar kita agar dapat diwujudkan. Jadi mula-mula hanya omongan , lama-lama jadi kenyataan. Jika terjadi, kerjaan bisa-bisa hilang lho. Jadi nanti yang kosong tidak hanya pikiran tetapi kesempatan yang baik pula.

      Jadi mulailah isi pikiran-pikiranmu dengah hal-hal yang baik, yang membangun.

      Suka

  25. Memang juga seorang guru atau dosen university haruslah memiliki keahlian bukan memiliki gelar atau izazah,sebab izazah tidak bisa menjamin anak dididk menjadi pintar ,gelar dan izazah bisa dibuat oleh siapapun (manusia) otak manusia itu yang membuat yang maha kuasa dan tidak bisa direkayasa, jadi jelas izazah,gelar tidak menjadi jaminan . tetapi jika kemampuan jelas anak didik akan pintar

    Suka

  26. saya bingung dengan ke.ada.an saya.. saya kuliah dan salah ambil jurusan.
    saya ambil jurusan TI dan mulai semester pertama sampai dengan semester 7 ini saya tidak faham sama sekali pelajaranya… saya harus gi mana? terima kasih.

    Suka

    • sdr Syaifuddin,
      anda yakin bahwa anda salah ambil jurusan. Apakah sudah anda pikirkan masak-masak keyakinan anda. Juga apakah anda sudah tahu jurusan apa yang cocok bagi anda. Dan apakah anda sudah tahu banyak jurusan yang anda anggap cocok tersebut, termasuk alasan-alasan yang membuat anda merasa cocok.

      Jika sudah, maka saat sekaranglah anda ambil keputusan. Dalam hal ini mengacu pada keyakinan anda dan tentunya didukung oleh alasan-alasan logis yang mendukung keyakinan anda tadi. Jadi tinggalkanlah yang anda anggap tidak cocok tersebut dan kejarlah apa yang anda anggap cocok. Tentu dengan segala konsekuensinya, misal biaya dan waktu yang hilang. Anggap saja itu konsekuensi logis. Jika sudah anda harus fokus untuk menggeluti bidang baru tersebut. Ibarat mundur satu langkah untuk maju dua langkah.

      Ingat, kemampuan mempertanggung-jawabkan setiap keputusan yang diambil adalah kedewasaan seseorang. Itu yang membuat sukses dan tidaknya seseorang. Untuk itu, hal yang penting adalah “jangan menipu diri sendiri”.

      Semoga sukses.

      Suka

  27. salam kenal aku lia masih kuliah semester 7 di jurusan desain interior di sebuah universitas negri di jateng. saya merasakan selama saya kuliah saya selalu merasa ketakutan, ketakutan yg pertama:
    1. saya memiliki nilai IPK yg baik selama kuliah
    2. saya merasa tidak sekreatif teman2 kuliah saya
    3. setelah wisuda nanti, saya akan bekerja apa? sedangkan sekarang pas saya magang saja kemampuan saya masih jauh jika didalam dunia kerja.

    yang masih sangat saya bingungkan, mengapa saya merasa perkuliahan hanya mendapatkan ilmu sedikit, yang saya pikirkan dulu saat SD jika seorang berkuliah di arsitek dy sudah mampu menciptakan gedung2 yg bagus, jika seseorang berkuliah di sastra mereka akan bisa menciptakan sebuah karya dalam bentuk buku maupun hal lain…
    tapi kenyataannya sayapun masih meragukan kemampuan diri saya sendiri, saya setiap hari hidup dalam penuh ketakutan dan selalu berfikir akan mau dibawa kemana masa depan saya. ataukah tetap menjadi desainer interior? padahal kemampuan saya dibidang itupun belum memuaskan menurut dunia kerja tempat saya magang. ataukah seorang sarjana hanya sekedar mencari titel dan nama baik di masyarakat? saya bingung, karena perjuanganku untuk masuk dibangku kuliah sangatlah berat, mulai aku SD yang harus jalan kaki dari rumah kesekolah sejauh 4 km pulang-pergi, dari saya SMP harus menempuh sungai yg belum berjembatan dan banjir saat musim penghujan, terkadang tanpa diberi uang saku, aku SMK dengan jurusan akuntansi, dan saya harus berusaha mencari uang untuk ongkos ke sekolah dengan berjualan makananlah,dsb…

    saya bisa masuk kuliahpun harus melalui seleksi ketat se-indonesia dari 700 orang hanya diambil 20 orang, dan alhamdulilah saya diterima, tetapi apa yg saya dapatkan? saya hanya semakin takut untuk menjalani hidup, saya merasa terlalu banyak beban dan tanggung jawab yg harus saya jalani kelak untuk masa depanku.. saya takut jika suatu saat setelah lulus wisuda saya hanya akan menjadi pengangguran, atau bekerja dengan gaji kecil, dan membuat saya down dengan apa yg setelah lama saya perjuangkan. terimaksih….

    mohon pencerahannya.

    Suka

  28. selalu semangat keadaan yang anda keluhkan sama seperti yang saya alami, dan Alhamdulillah dengan usaha dan berdoa , sekarang saya berada dilevel perkerjaan yg saya inginkan
    dan ternyata merasa BODOH itu perlu, karena hal itu membuat anda semakin ingin memperbaiki diri dan terus maju

    Suka

  29. salam kenal pak wir dan semuanya.. mohon pencerahanya
    saya saat ini sedang menjalankan perkuliahan smt3 di universitas swasta di kota bandung, saat ini saya kuliah mengambil program s1 elektro ekstensi (kuliah malam). saya mengambil program ekstensi karena pas keluar smk saya langsung bekerja dan waktu bersamaan saya juga masuk kuliah. eh pas di tengah perjalanan/ 9 bulan bekerja saya merasa tidak nyaman bekerja di perusahaan itu sehingga saya keluar. yg saya bingung saat ini,kuliah masih di kelas ekstensi tp tidak bekerja dlm hati saya ada keinginan untuk pindah ke kelas reguler. tetapi pikiran buruk saya saya merasa takut kalau pindah ke reguler sy takut ipk saya kecil dan tidak bisa lulus 4 tahun. saya juga merasa ada kelemahan di matematika. mohon inspirasi dan solusinya ini akan sangat membantu dan memotivasi saya. terima kasih

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s