saya rasa … maka …


Ada salah satu komentar yang ditulis oleh seseorang yang cukup menarik, yaitu

memang benar, Islam mengijinkan menyimpan senjata, misalnya oleh militer untuk keperluan pertahanan sebuah negara. Saya rasa Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, bahkan atheis pun mengijinkan menyimpan senjata.

apa di Indonesia ada agama tertentu yang eksplisit melarang menyimpan senjata ? kalo iya, bersiaplah negara ini dihancurkan oleh bangsa biadab semacam amerika, israel dan antek-anteknya…

Komentar di atas (asli-nya di sini) diberikan pada salah satu artikel saya yang membahas topik yang cukup peka, berkaitan dengan ideologi agama. Oleh karena itu saya perlu membikin artikel khusus, terpisah, agar tidak terjadi saling silang yang menyebabkan bias (tidak fokus).

Dengan latar belakang pemikiran bahwa manusia adalah apa yang dia pikirkan, maka saya perlu mengulas atau membahas pikiran orang tersebut, yang setelah saya selidiki adalah anak muda, mahasiswa perguruan tinggi ternama, yang nantinya adalah calon-calon pemimpin negeri ini. Jika para pemimpin negeri ini mempunyai pemikiran seperti itu, bisa anda bayangkan !

Jika anda membaca secara sepintas, maka memang kelihatan biasa-biasa saja. Apalagi pemisalan yang digunakan adalah ‘militer untuk pertahanan negara‘. Jika yang dibahas tentang konteks itu saja (militer), maka ya jelas betul ! Tetapi jika yang digunakan pemisalan adalah militer, maka juga kurang tepat untuk dijadikan generalisasi. Itu khan jelas golongan khusus yang mempunyai keistimewaan dalam menyimpan dan memakai senjata, suatu golongan yang diberi ijin oleh negara (lihat UU Nomor 8 Tahun 1948, tentang pendaftaran dan pemberian izin kepemilikan senjata api).

Jadi itu juga berarti menyamakan hak seseorang berideologi agama tertentu dengan hak yang dipunyai militer. ??!!!

Selanjutnya, jika yang bersangkutan, hanya membahas dari satu sisi ideologinya saja, terus terang saya tidak mempunyai hak untuk membahas. Paling-paling saya akan berpikir, o begitu ya. Tetapi kemudian karena yang bersangkutan melanjutkan dengan pernyataan

Saya rasa Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, bahkan atheis pun mengijinkan menyimpan senjata.

Lha, dari kalimat itu akan terbaca bahwa yang bersangkutan, menyatakan pendapat tidak didasarkan oleh pemahamannya yang benar. Terlihat sekali usaha memaksakan pendapatnya dengan melakukan generalisir. Kelihatan sepele, tetapi hal-hal sepele seperti inilah yang jika diterima dan di-amini oleh orang yang tidak tahu tetapi merasa sok tahu, maka bisa-bisa ditebus dengan nyawa mereka sendiri. Kenapa ? Karena itu dikaitkan dengan ideologi agama atau secara tidak langsung dikaitkan dengan perolehan surga, jadi jika dibela, kalau mati bisa dikatakan martir. Gitu khan ! Jadi pernyataan tersebut bisa berbahaya untuk sebagian orang tertentu. Apalagi jika dikatakan oleh seorang (katakanlah) sarjana suatu institusi pendidikan ternama, apalagi jika dia nanti mempunyai jabatan birokrasi bagus maupun bertitel tertentu yang dihormati masyarakat.

Singkatnya saya menyatakan bahwa kalimat di atas adalah suatu kesalahan besar ! Picik ! Berbahaya !

Kata “Saya rasa” dalam kalimat di atas saja sudah menunjukkan bahwa yang bersangkutan hanya menduga-duga, tidak menunjukkan bahwa pernyataan berikutnya adalah suatu kepastian. Jadi itu adalah tidak ilmiah, hanya cocok dikatakan oleh seorang tidak terdidik, atau mungkin sekedar ngrumpi saja. Jika itu dikaitkan dengan hal-hal sepele lainnya yang bersifat relatif, maka sah-sah saja, misalnya :” Saya rasa, gadis manis itu naksir aku lho !“.

Tetapi jika itu dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat  “peka”, misalnya ideologi agama. Wah ini bisa-bisa mengecoh.

Selanjutnya kalimat “Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, bahkan atheis pun” , itu khan berarti semua orang. Benar nggak ? 

selanjutnya

apa di Indonesia ada agama tertentu yang eksplisit melarang menyimpan senjata ? kalo iya, bersiaplah negara ini dihancurkan oleh bangsa biadab semacam amerika, israel dan antek-anteknya…

Saya kurang jelas maksudnya, kalau yang bersangkutan berbicara dalam kaca mata ideologinya, ya mungkin tidak ada masalah. Tapi itu khan menunjukkan bahwa semua agama ! Generalisasi ! Ini juga benar-benar, “nggak benar”. Juga apriori-nya terhadap “bangsa biadab”, cukup menarik juga. Jika memang benci atau apa gitu, ya jauhi aja, jangan pakai produk mereka. IE atau MS Windows ini khan juga produk bangsa biadab tersebut. Konsisten lhah dalam beromong dan bertindak.

Maka kata Yesus kepadanya: “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.
[Matius 26:52]

58 thoughts on “saya rasa … maka …

  1. Hebat sekali orang itu pak, sudah bisa menghakimi beberapa bangsa biadab. Terutama Israel…

    “Diberkatilah kiranya setiap orang yang memberkati engkau, hai Israel, Dan terkutuklah setiap orang yang mengutuk engkau.”
    [Bilangan 24:9]

    Suka

  2. Ya Pak Wir,
    Saya suka sedih kalo baca komentar senada.

    Tapi sekali lagi saya inget bahwa kebebasan berkomentar mungkin lebih baik daripada tidak bersuara sama sekali. Mudah-mudahan kebebasan ini dibarengi dengan sikap menghargai perbedaan dan tanpa pemaksaan kehendak (apalagi dengan jalan kekerasan).

    Salam

    Suka

  3. mas Dewo, sebenarnya apabila kita menilik sesuatu hal dengan sepotong2x kemudian kita komentari maka hasilnya bisa jadi berjauhan dengan esensinya.

    Apabila ucapan dia menggeneralisir, maka saya jawab boleh kok menyimpan senjata, tapi kalo untuk perorangan seperti Abu Dujana, dan dengan tujuan tertentu pula Insya ALLAH Umat ISLAM dan pemerintah Islam juga tidak memperbolehkan, karena di dalam sebuah negara ISLAM ada orang² kafir yang mereka membayar zidyah dan berhak mendapatkan perlindungan.

    dan buat rekan2x disini yang diskusi, saya mohon dengan sangat, janganlah apa yang diperbuat salah seorang menjadikan menghukumi dengan agama apa yang dianut,

    karena di dalam ISLAM sendiri juga banyak penyimpangan, dan banyak yang harus diluruskan, seperti SYIAH, Khawarij, Sufi, Abangan, dll …

    Nah apabila anda ingin mengenal ISLAM yang benar belajarlah dengan pemahaman para Salafus shalih .. generasi terbaik di jamannya Rasulullah dan mereka adalah yang paling paham dengan agama ISLAM setelah Rasulullah,

    Kenapa ?

    Karena setelah mereka banyak perpecahan .. ..

    Suka

  4. Dear Pa Wir and Engineers,

    Pohon yang baik akan menghasilkan buah yang manis rasanya..
    Tidak mungkin pohon yang “tidak baik” menghasilkan buah yang manis rasanya…

    Segala sesuatu dapat dilihat dari buahnya….
    begitupula manusia.

    Sekarang jaman semakin edan..manusia tidak takut kepada Tuhan/Allah.

    Pembunuhan …penyiksaan..perampokan..kriminalitas dilakukan dengan Nama Tuhan/Allah.

    Apakah ini maksud sang Pencipta menciptakan manusia ?

    Tanya Kenapa…

    Syallom..

    Suka

  5. senjata api kan memang harus dapat lisensi khusus. orang awam dilarang menyimpan senjata. malah di wilayah rawan konflik, seperti palembang tahun 80-90an, dilarang lho kemana mana bawa senjata tajam.

    di terminal terminal ada penggeledahan senjata di kendaraan umum, yg dilakukan aparat. itu semua demi keamananan.

    nah, kalau aenul bahri nyimpen M16 buat apa yah ? latihan angkat berat ? :p

    Suka

  6. Saya sedikit meluruskan yang disampaikan mas decon “di dalam ISLAM sendiri juga banyak penyimpangan” yang seharusnya “banyak juga umat islam yang menyimpang dari ajaran yang sesungguhnya”, bukankah begitu mas decon?

    Suka

  7. Menurut akal sehat saya, berbahaya kalau seseorang yang menganggap beberapa orang lain sebagai biadab, dibiarkan memegang senjata.

    Senjata di hadapan, si biadab di hadapan. Kira-kira, apa yang akan dilakukan?😛

    Suka

  8. Betul Mas Wir Yth.,
    Jadi menurut anda orang beragama apa sekarang yang paling banyak memegang senjata baik sipil atau militer ?, lalu orang beragama apa sekarang yang paling banyak membunuh manusia dinegeri orang lain ?

    Seperti Kata Yesus yang anda kutip.

    Kalau sekarang tidak ada pedang maka ada nuklir, orang beragama apa yang banyak memiliki nuklir…?….

    so kesimpulannya jangan bawa-bawa agama untuk soal-soal beginian, karena jika anda menghina atau menyindir suatu agama maka contohnya akan kembali ke agama anda sendiri.

    Suka

  9. Maaf, P wir, dan teman2 ‘komentator’ di blog ini…

    semoga kita berdiskusi tentang masalah ini adalah dengan niat yang baik, bukan untuk saling serang, apalagi kalau topiknya sudah tentang keyakinan. semoga juga dengan diskusi ini kita bisa lebih saling mengenal keyakinan teman2, ya mungkin seperti membuka komunikasi lintas agama gitu loh… biar tidak ada prasangka atau praduga negatif lagi terhadap keyakinan orang lain.. biar bisa tau mana yang benar2 mewakili suatu keyakinan (let say Islam) dan mana yang ternyata udah terpengaruhi oleh bias2 kepentingan.

    tapi terus terang, saya kok mulai rada khawatir dengan arah dari beberapa komentar di atas. terutama ketika suatu keyakinan (Islam) dinilai dengan keyakinan sendiri yang berbeda..

    poin saya begini : Jika dalam suatu komunitas Islam, ada diskusi/silang pendapat dan masing2 berargumentasi, maka itu adalah hal yang wajar. artinya kedua pihak akan mengambil dasar hukum/keyakinan yg sama, namun berbeda dalam tataran penafsiran.

    tapi jika ada 2 orang yg berbeda keyakinan berbeda pendapat soal keyakinan, dan masing2 menilai keyakinan lawan bicaranya dengan keyakinan sendiri, maka ini gak akan ada habis-habisnya dan jika kedua pihak tidak bisa berkepala dingin bisa2 ujungnya gak enak..

    Mohon maaf jika komentar saya kurang berkenan, tapi menurut saya topik seperti ini adalah topik yang berat, dan sangat bisa menimbulkan kesalahpahaman jika dilakukan di blog secara terbuka seperti ini.. karena kita gak tahu kompetensi dan niat tiap2 komentator..

    Biarlah kita berkonsentrasi untuk membahas kesamaan di antara kita (bidang struktur, sosial, pendidikan, dll.) dan berbuat hal yang positif pada bidang tersebut bersama, daripada kita membahas perbedaan di antara kita(apalagi masalah keyakinan hidup)…

    -Rp-

    Suka

  10. Saya pikir yang anti amerika dan israel itu sama aja orangnya yang bilang bom bali dan wtc 911 sebagai konspirasi. Banyak sekali diinternet kaya ginian.
    Pertanyaan saya apa Indonesia akan membuka hubungan diplomatik dengan Israel kalau nanti negara Palestina berdiri? atau ingin punya ideologi seperti Ahmaddinejad yang terang2an ingin menghapus Israel dari muka bumi?

    “Given the history of the attacks on Israel and the oppressiveness and
    aggressiveness of other countries in the Middle East and elsewhere,
    boycotting Israel indicated a moral blindness for which it is hard to
    find any explanation other than antisemitism” Steven Weinberg

    “Religion is an insult to human dignity. With or without it you
    would have good people doing good things and evil people doing
    evil things. But for good people to do evil things, that takes
    religion.” Steven Weinberg

    Suka

  11. Mas Wir Yth,
    Bagaimana kalau mas wir kumpulkan data-data korban perang diabad 20, lalu jumlah senjata yang dimiliki setiap negara didunia termasuk nuklir dan arsenalnya.

    Lalu negara mana yang sering menginvasi negara lain, negara mana yang sering ikut campur urusan negara lain, negara mana yang terus mengembangklan senjata di luar angkasa, jumlah tentara yang dimiliki setiap negara, kalau ada data tersebut mungkin bisa kita ambil kesimpulannya sementara.

    Bukankah itu lebih menunjukkan siapa yang sebenarnya menginginkan perang ?????

    Suka

  12. sdr Daeng Limpo,

    Apa maksud anda dengan menghina dan menyindir suatu agama.

    Apa jika ada seseorang penjahat yang beragama Kristen atau Katolik, lalu saya ungkapkan, itu berarti saya menghina agama yang dimaksud ?

    Atau juga, jika kebetulan seseorang yang berpotensi salah dalam kaca mata umum (dalam hal ini senjata) tetapi membawa-bawa agama. Lalu kita diam saja. Karena merasa bahwa membawa agama pasti selalu benar.

    Mohon dipisahkan antara pribadi dan agama secara keseluruhan. Memang tidak gampang, untuk itu perlu wawasan yang lebih luas, perlu kematangan berpikir.

    Bagi saya antara beragama dengan Tuhan Allah, ada perbedaan. Agama adalah bukan Tuhan Allah, bagi saya agama adalah pesan Tuhan yang disampaikan kepada manusia untuk diberitakan ke manusia yang lain, mengenai bagaimana caranya menuju atau bertemu Tuhan Allah itu sendiri.

    Bagi saya, agama adalah bukan tujuan, yang menjadi tujuan hidup saya adalah mencari Tuhan Alllah dan akhirnya bertemu dengan-Nya di surga.

    Kebetulan agama saya Katolik, dan itu menurut saya adalah jalan saya yang paling tempat untuk nanti bertemu Tuhan Allah Bapa di surga.

    Apakah agama Katolik selalu benar ?

    Sejarah membuktikan, bahwa tidak seperti itu adanya, jika selalu benar, mengapa ada agama kristen protestan, juga mengapa ada agama-agama lain. Apakah itu isi atau esensi dalam agama itu, yaitu kasih, yang salah. Bukan itu ! Ternyata nggak gampang, manusia selama di dunia masih berpotensi untuk berbuat dosa, yaitu menyimpang dari kasih, bahkan yang mempunyai jabatan di agama sekalipun.

    Ada banyak agama di dunia ! Itu menunjukkan bahwa Bapa di surga berkenan terhadap semuanya itu. Setiap orang mempunyai jalan hidup masing-masing, karena orang-orang sangat beraneka ragam maka kadang-kadang hanya mengandalkan satu saja juga sangat terbatas.

    Dengan banyaknya agama didunia ini, bagi saya itu merupakan keagungan Tuhan, juga keadilan, agar kita dapat mempunyai banyak jalan menuju ke Tuhannya.

    Apakah itu berarti, banyak jalan menuju Tuhan ?

    Kebetulan, agama Roma Katolik dalam konsili vatikan II menyatakan bahwa memang ada jalan keselamatan di luar agama Katolik. Jika memang orang-orang lain di luar katolik melaksanakanyang diajarkan Kristus yaitu Kasih dengan tulus, yaitu kasih kepada Allah Bapa di surga, kasih kepada sesama manusia, yang sama besarnya dengan kasih kepada diri sendiri maka jelas itu adalah jalan yang diberikan oleh kristus. meskipun orang menyebutnya itu bukan dari agama tersebut.

    Jadi terus terang mas Daeng, tidak ada maksud saya untuk menghina dan menyindir kepada agama saudara. Apalagi semua dengan maksud penginjilan agar yang membaca dan tertarik lalu mengikuti agama saya.

    Ha, ha, ha, nggak ada maksud seperti itu.

    Kenapa ?

    Kalau semuanya masuk Agama saya, yaitu Katolik, tetapi ternyata didalamnya masih juga ada penjahat, koruptor, penipu, dll-nya, mungkin saya akan berpikir seribu kali untuk tetap disitu. Dengan menjadi minoritas, maka saya selalu ingat, harus dijaga, tindak dan laku, bahwa yang sedikit itu bukannya suatu kelemahan tetapi karena kualitas. Ingat, lampu itu hanya cukup satu untuk menjadi terang seisi kamar, garam cukup hanya sejumput agar sayur enak.

    Ha, ha, nanti kalau semuanya garam, siapa yang mau makan.😀

    Semoga pikiran anda terbuka, seperti agama anda yang ingin menjadi Rahmat semua orang di dunia.

    Kita tunjukkan.

    Suka

  13. Mas Wir Yth.
    Maaf saya tidak meyebutkan apa Agama Anda, saya hormat dengan kawan-kawan Katolik .

    Saya hanya ingin menyampaikan bahwa, sepanjang penglihatan saya tidak satupun umat beragama yang ada benar-benar menerapkan prinsip hidup damai, karena kalau hal tersebut diterapkan..tidak akan perang. Juga termasuk agama yang saya anut Islam, banyak dipolitisir oleh para pemimpin Islam maupun para ulamanya sendiri….termasuk MUI.

    Mungkin karena agama sudah banyak dipolitisir oleh para politisi dan manusia yang haus akan kekuasaan, sehingga akhirnya menjadi bias.

    Sebelumnya saya minta maaf atas komentar sebelumnya.

    Suka

  14. tuh kan..
    baru aja saya mengungkapkan kekhawatiran, udah kejadian deh ada kesalahpahaman..😦

    Ketika kita berdebat soal politik, pendidikan, tafsiran peraturan SNI beton/baja/gempa, semua adalah biasa.. tapi jika udah berdebat soal keyakinan, saya takut tidak semua pihak bisa melakukannya..

    kalau saya sih termasuk yg rada biasa, karena teman2 saya dulu dan sekarang banyak yg berbeda keyakinan dan kita beberapa kali berdiskusi seperti ini..

    tetapi kesimpulan saya tetap jika kita ndak yakin dengan niat kita atau lawan bicara kita, sebaiknya tidak usah deh.. karena diskusinya pasti akan melebar kemana2 dan ya itu tadi : ujung2nya malah kesalahpahaman.

    -Rp-

    Suka

  15. Jika anda minoritas, kami sebenarnya lebih minoritas……..anda tidak percaya…….? silahkan anda lihat sendiri berapa banyak sih yang betul-betul…menerapkan Islam dengan benar…? bukan yang hanya ikut-ikutan pak.

    Suka

  16. Sebaiknya balik ke pertanyaan yang paling sederhana, “Apakah semua orang berhak menyimpan senjata?”

    Tunggu dulu, apa yang dimaksud “senjata” di sini?

    Tongkat pemukul baseball?
    Tongkat golf?
    Pisau dapur?
    Batu?
    Katepel?

    Atau senjata api?

    Kalau untuk “senjata api” memang sebaiknya dilarang. Dalam artian, “tidak sembarang orang boleh memiliki senjata API”.

    Kenapa demikian? Karena dengan memiliki senjata api, seseorang bisa dengan mudah membunuh orang lain. Relatively jauh lebih mudah dibanding dengan senjata2 lain di atas.

    Sehingga, pemilik senjata api harusnya memiliki pengetahuan teknis (tahu cara pakai yang benar) yang memadai serta kesiapan mental maksimal (ngga stress, ngga gila, ngga sembarangan bunuh orang!).

    Polemik ini jangan dicampur-aduk dengan pertanyaan “Apakah semua orang berhak membela diri?”

    Jawabnya, ya IYA !

    Suka

  17. yth mas Daeng,

    Terima kasih atas pemahamannya.

    Tentang agama sudah banyak dipolitisir, ya benar mas. Selama agama dapat dijadikan sarana untuk mencapai birokrasi (kekuasaan), selama agama dapat dijadikan sarana untuk mendapatkan tunjangan (duit), maka pasti orang-orang akan berupaya untuk itu.

    Tetapi apakah jika kita ngomong agama juga berarti mencari kekuasaan, mencari duit. Nggak juga khan mas.

    Itulah misteri hidup. Dalam rangka mencari jalan keselamatan tersebut, yang pada hakekatnya hanya ada dalam pikiran maka sarana paling baik untuk melihat pikiran kita adalah dengan menuliskannya. Sehingga ada feedback untuk mengarahkan pikiran-pikiran yang ada untuk menjadi yang paling baik sehingga pada akhirnya diperolehlah jalan hidup.

    Kapan berhentinya mencari jalan hidup itu ?

    Ya jelas sampai ajal menjemput. Iya khan mas Daeng.

    Semoga Tuhan memberkati anda.

    Suka

  18. Maka kembalilah kita ke “Bhineka Tunggal Ika”, berbeda-beda tapi satu.

    Keyakinan/ideologi/iman kita berbeda-beda. Tidak usah kita menilai keyakinan/ideologi/iman orang lain menggunakan keyakinan/ideologi/iman yang berbeda pastilah tetap beda,karena cara pandangnya juga berbeda.

    Yang perlu kita yakini adalah kita menghargai dan memahami bahwa perbedaan itu ada. Jangan dicari-cari kesamaan dalam perbedaan, tapi pahamilah dan hargailah perbedaan itu.

    Bhineka Tunggal Ika, memang para pendiri bangsa ini, orang-orang baik dan bervisi jauh.

    Kita juga sebagai engineer teknik sipil kan juga menggunakan hal yang sama. Konsep perhitungan struktur/ilmu gaya dapat menggunakan berbagai cara, tapi ujung2nya tetap Jumlah Gaya Horizontal/Vertikal/Momen harus nol (0).

    Suka

  19. @ Santanu
    Saya setuju sekali, memang kita di dunia ini bermacam-macam, tetapi jika mereka menyadari bahwa di dunia ini tidaklah lama sebagaimana orang jawa berfalsafah “urip iku mung mampir ngombe” dan melihat ada sesuatu setelah kematian maka tujuan hidup khan hanya satu “masuk sorga”. Saya kira kita semua setuju.

    Lha ini, ternyata ada juga yang menganggap jalan ke surga banyak cara juga, bahkan dengan membom orang-orang yang tidak tahu menahu duduk perkara juga bisa menjadi sarana masuk sorga.

    Mungkin bolehlah, yang ngebom merasa dirinya bisa masuk sorga, tapi yang menjadi korbannya itu lho. Gimana ?

    Mengapa ada orang yang mempunyai keyakinan bahwa ngebom bisa masuk sorga. Itu karena ada yang memotivasi, dengan apa, yang jelas pasti dengan kata-kata (dialog hati-ke-hati) atau membaca tulisan yang menjerumuskan.

    Jika orang lain saja bisa memotivasi seperti itu, mengapa kita tidak juga memotivasi balik. Kehal-hal yang positip.

    @Satya Sembiring
    Mengapa kita tidak boleh bicara agama. Apakah itu menakutkan.

    Pak Satya, kita berdua adalah juga dosen, boleh-boleh saja kita mengajarkan ilmu setinggi gunung (jika itu mampu), tetapi itu tidak akan berguna jika ilmu itu dipakai untuk hal-hal negatif, seperti teror, sabotase, bisa juga untuk menghindar dari tuduhan korupsi atau suap, atau memanipulasi keadilan, dll.

    Jadi penting juga mengajarkan hal-hal lain di luar ‘ilmu pengetahuan‘ yang dapat menuntun ‘hal-hal yang baik‘ bagi sesama. Apalagi itu kalau bukan agama ! Jelas jika kita mengajarkannya di dalam kelas, tidaklah relevan (kecuali jika itu memang mata kuliah agama atau semacamnya). Jadi melalui blog seperti ini merupakan sarana yang cukup baik untuk membicarakan. Tidak ada unsur pemaksaan pula dan terbuka pula.

    Kalau ada yang negatif dengan agama, itu karena mereka memanfaatkan agama tadi untuk kepentingan pribadi atau golongan semata.

    Suka

  20. hmm
    kalo kita liat dalam kalimat sehari-hari, orang-orang Indonesia lebih sering menggunakan kata i feel drpd i think
    jumlahnya mungkin 68% (data gak akurat, sangat jelas).

    Suka

  21. Nambah sedikit aja.

    Kalau ngebom masuk surga?. Itu hanya keyakinan kaum fanatik. Hanya organisasi terlatih dan punya ideologi kuat yang mampu melakukannya; contoh Vietkong (selama perang vietnam), Sukarelawan Iran (selama perang Iraq-Iran), Hindu fanatik(kematian Sanjai Gandi), Lebanon, Afganistan, Dai Nippon (selama PDII), Srilangka, Rusia dll.

    Jadi semua keyakinan / ideologi / iman bisa memberikan stimulus untuk melakukan pekerjaan bunuh diri (tidak hanya keyakinan / ideologi / iman tertentu yang bisa melakukan di atas).

    Jadi yang ngebom, yang nyuruh yang didik, jelas salah (tak heran cari makan makin susah, yang haram saja susah).
    trims

    Suka

  22. wahaha.. thanks om wir sudah bikin postingan khusus membahas komentar saya. hebat! anda hebat! coba baca berulang2 balasan2 komentar yg anda tulis sendiri di postingan ini. menunjukkan siapa diri anda sebenarnya!

    apa saya perlu menyebutnya? ah saya rasa tidak perlu, anda pasti cukup cerdas untuk membaca dan menilai diri anda sendiri seperti upaya anda mencoba menghakimi seberapa bahayanya pemikiran saya.

    oia maaf, saya tidak terpancing mengeluarkan dalil kitab agama saya😀

    Suka

  23. Well, kalau mau ngomong sebenarnya saya agak malu jadi bagian dari agama yang katanya mayoritas ini Pak Wir.

    Agama cuma dijadikan kumpulan perundang-undangan daripada sebagai usaha menjadi lebih baik di mata Tuhan.

    Yah.. bukan berarti kalau tidak ada larangannya dalam agama pasti itu hal yang halal dan bagus kan?

    Tanya saja sama hati nurani, kira-kira kalau orang lagi damai terus sampeyan gagah-gagahan bawa granat ke mana-mana apa itu bagus untuk sampeyan? Apa itu ndak bikin orang lain resah namanya? Apa bikin orang ketakutan itu bisa disebut pahala?

    Saya percaya Tuhan udah tahu kalau manusia ndak perlu diatur-atur dengan alquran dan hadis cuma buat masalah begituan. Kalau semua hal mau dibahas sampai ke detail-detailnya ya namanya bukan agama lagi, tapi buku manual pemakaian robot😆

    Malu saya tambah ndobel jadi bagian umat yang hobi menggeneralisasi. Sutralah Pak. Saya percaya Pak Wir ndak ikut-ikutan menggeneralisir muslim seperti mereka semua.

    *ngomong-ngomong blog ini kok tiba-tiba jadi sering ngebahas masalah hot ya, Pak? Hehehehe j/k

    Suka

  24. oke oke… saya kuatir om wir kesulitan memahami kata-kata saya. ini contoh kecilnya, om wir mengatakan:

    Mohon dipisahkan antara pribadi dan agama secara keseluruhan. Memang tidak gampang, untuk itu perlu wawasan yang lebih luas, perlu kematangan berpikir.

    sedangkan kalo dilihat dari postingan aslinya, om wir sudah mengeluarkan jurus maut berupa dalil agama yang diyakininya. ini bertentangan dengan pernyataan (atau permohonan?) di atas.

    apalagi kalo diteruskan, maka akan menunjukkan bahwa om wir sendiri wawasannya kurang luas dan tidak memiliki kematangan dalam berpikir, sehingga dirinya sendiri tidak bisa memisahkan antara pribadi dan agama SECARA KESELURUHAN

    semoga bisa dipahami
    CMIIW

    Suka

  25. Komunitas Blogger sangat luas dan dengan variasi tinggi. Forum ini sangat terbuka. Siapa saja dapat mengemukakan pendapatnya. Ini sebuah kebebasan dan haknya. Media lain yang konvensional seperti Koran memang ada tempat untuk mengemukakan pendapat tetapi ada kelompok pembaca dan melewati editor. Ada radio yang menampung unek-unek dengan topik tertentu. Ada batasannya..

    Blogger punya blok sebagai medium pribadi. Bebas merdeka. Seperti jalan jalan di muka rumah dan dengar orang omong dan menguping selanjutnya berkomentar. Berjalan lewat di blok rumah juga ada batasannya sementara komunitas blogger sungguh merdeka. Mari kita saling asah melalui forum ini. Tetapi jangan kita buat forum ini tempat kita saling gasak.

    Betapapun cerdas dan luasnya wawasan seorang terkadang kita tidak punya ide berhadapan dengan seorang yang sempit dan sok tahu.

    Dalam urusan agama kita berhadapan dengan orang-orang berpandangan satu arah. Karena itu tidak heran ada komentar bahwa seorang berwawasan kurang dan tidak matang hanya karena berbeda. Keyakinannya memang beda. Jadi kalau ada isu yang berkaitan dengan agama kita pertimbangkan. Agar tidak terjadi debat kusir berkepanjangan tetapi tidak bernilai amal.

    Mari kita bangun suatu komunitas terbuka tetapi damai.

    Suka

  26. @Atakeo
    Terima kasih sdr Atakeo, saya juga berusaha agar blog ini tidak menjadi forum untuk saling gasak. Tidak ada untungnya bagi saya, juga bagi yang lain.

    Berbeda pendapat adalah upaya untuk dilakukan pemikiran, ada kalanya itu bisa menjadi pencerahan. Dalam perbedaan pendapat tersebut jika memungkinkan saya juga memberi masukan dari sisi lain, jika diharap bahwa pendapat yang diberikan mengarah kepada kebaikan. Tetapi ada juga yang saya biarkan saja, dan tidak perlu dibahas karena ternyata memang tidak mengarah kepada dialog menuju kebaikan.

    Itulah yang menjawab mengapa dari satu sisi, dalam sejarah agama-agama, diketemukan ada istilah martir atau syuhada atau lainnya. Meskipun demikian sampai hari ini dunia masih seperti ini. Memang tidak gampang untuk merubah dunia. Tetapi kalau kita tidak peduli, untuk apa kita di dunia ini.

    Terus terang mengamalkan kasih kepada sesama adalah tidak gampang. Mohon maaf jika ada tutur kata saya yang dianggap menggasak.

    Salam sejahtera bagi semua.

    Suka

  27. Membaca topik ini lucu juga… “saya rasa … maka …”

    Sempat terbesit sesuatu, waktu mendengar penggalan kalimat ini, rasanya menjadi orang Indonesia benar! Ini bukannya apa, cuma sebagai orang Indonesia, di lingkungan kita tumbuh, secara tidak langsung sadar gak sadar, terbentuk suatu keinginan untuk mengatakan “saya rasa …” waktu ingin menyampaikan pendapat. Nah, SAYA RASA, sebagian besar orang seperti ini🙂

    Coba kita perhatikan, bahkan pakar sekali pun, kalau ditanya sering menjawab “saya rasa …”. Ini mungkin mindset yang ada, jadi meskipun sebenarnya itu berasal dari pikirannya, bukannya “saya pikir …” yang keluar di perkataan, namun “saya rasa …”.

    Hal ini kan sama saja kalau kita dengar orang di seminar berkata “menurut riset yang KITA lakukan …” kepada peserta seminar, padahal, seharusnya memakai kata KAMI (karena orang yang diajak berbicara tidak ikut riset tersebut).

    Jadi, saya kurang sependapat dengan tulisan di artikel:

    “Kata “Saya rasa” dalam kalimat di atas saja sudah menunjukkan bahwa yang bersangkutan hanya menduga-duga, tidak menunjukkan bahwa pernyataan berikutnya adalah suatu kepastian. Jadi itu adalah tidak ilmiah, hanya cocok dikatakan oleh seorang tidak terdidik, atau mungkin sekedar ngrumpi saja.”

    Menurut saya, itu tidak sepenuhnya benar, tapi karena adanya mindset tadi itu, maka keluarlah kata “saya rasa …” tersebut.

    Jadi, mungkin kalau kita merenung, dipikir-pikir lucu juga mungkin ya, mungkin kalau dihitung-hitung kita sudah mengatakan “saya rasa …” ini berkali-kali dalam hidup ini, baik dalam konteks yang benar, maupun yang agak melenceng tadi🙂

    Yah, SAYA RASA tulisan saya sudah panjang nih, hehehe…

    Suka

  28. @Hartanto W.
    Wah baru sekarang komentarnya sdr. Hartanto W., cukup menarik untuk ditanggapi : pernyataan anda benar untuk ungkapan LESAN. Mohon tunjukkan ungkapan pakar yang memakai kata “saya rasa” dalam ungkapan TULIS.

    Catatan: mungkin itu ada juga, yaitu berita yang ditulis wartawan apa adanya berdasarkan pernyataan lesan.

    Saya tidak tahu apakah sdr juga berani memakai ungkapan “saya rasa” dalam skripsinya. Kalau berani dan tidak menjadi masalah, wah ini yang kena dosennya. Apa benar dosen tersebut mempunyai kemampuan menulis sehingga ditunjuk jadi pembimbing, atau tidak. Bisa saja jadi pembimbing skripsi karena beban tugas.😆 Eh, ini fakta berdasarkan pengalaman pribadi, juga melihat teman-teman dosen lain yang bergelar lektor kepala, dan sudah banyak membimbing banyak skripsi, tapi ketika diminta kum menulis untuk kenaikan pangkat, kelabakan dan heboh.

    Jadi karena saya dosen, juga pembimbing skripsi, juga penulis maka saya selalu mengajarkan kepada anak didik, khususnya mengenai bahasa tulis, tidak boleh itu menggunakan kata “saya rasa” dalam skripsi atau laporan kerja praktek-nya.

    Masalahnya apa ?

    Karena nanti jika di sidang ujian, ada dosen penguji yang juga menyatakan bahwa “saya rasa tulisan anda salah dan tidak bisa disidangkan” , lalu bagaimana ?

    Susah khan, karena itu subyektif sekali. Hanya dalam “rasa seseorang”, yang kita juga susah mengetahuinya. Ingat “dalam laut dapat diduga, dalam hati siapa tahu“.

    Hanya saja masalahnya, mungkin sdr. Hartanto W. menganggap bahwa menulis di blog adalah sama seperti berbicara lesan, asal njeplak. Saya kira ini masih banyak dijumpai di ranah blogsphere ini. Yah, itu saya maklumi. Bahkan ada juga yang bersembunyi diidentitas lain, biar kalau salah nggak malu karena tidak ketahuan. Ya boleh-boleh aja, itu bagian dari kebebasan berpendapat, seperti halnya yang punya blog, dapat saja menghapus komentar yang tidak ‘dia rasa’ tidak baik.

    Hanya masalahnya, blog ini mempunyai kekuatan lebih lama dibanding bahasa lesan, bahkan dapat dikatakan ABADI seperti bahasa tulis yang lain. Jika suatu kebodohan tersebut bersifat abadi , dan nanti setelah mengetahui itu bodoh. Khan jadi malu sendiri.:mrgreen:

    Kalau hanya menyebabkan malu orang tersebut sendiri, mungkin saya juga nggak mau repot-repot ngurusin, tetapi jika itu menyesatkan orang lain, dan mengganggap bahwa apa yang ada di internet dapat menjadi rujukan khan repot. Itulah mengapa saya perlu memberi komentar agar dapat menjadi pemikiran bersama.

    Suka

  29. Masalahnya begini, Pak. Kalau di blog, kan sama saja dengan menulis di diary atau lagi chat. Bahasanya nyantai dan terkesan kurang formal, pake smiley oke2 juga (jangan coba2 pake smiley di skripsi! hehehe)

    Nah, jadi untuk urusan bahasa jelas, lebih ke arah bahasa lisan yang di”tulis”kan. Jadi tulisan semacam “Mmm, saya setuju banget!” itu juga kan asalnya dari bahasa lisan yang di”tulis”kan, hehehe…

    Untuk contoh saya yang tadi, memang saya ambilkan dari bahasa lisan (yang kalau di blog, dapat di”tulis”kan)
    Jadi, kalau blog ini ada disebut bahasa lisan, mungkin tidak sepenuhnya benar, disebut bahasa resmi tulis, mungkin banyak yang tidak setuju juga… Mungkin di daerah abu2 kali ya…

    Mengenai pendapat ini:

    “Hanya masalahnya, blog ini mempunyai kekuatan lebih lama dibanding bahasa lesan, bahkan dapat dikatakan ABADI seperti bahasa tulis yang lain. Jika suatu kebodohan tersebut bersifat abadi , dan nanti setelah mengetahui itu bodoh. Khan jadi malu sendiri.”

    Saya jadi ngiri dengan yang punya blog kalo gini, hehehe, karena ada fasilitas edit, bisa playing god dengan tulisannya, jadi kalau 1 bln lagi kerasa salah bisa delete dan ganti, jadi suatu kebodohannya gak abadi benar, huehehe…🙂

    Suka

  30. @Hartanto W.
    Terus terang saya banyak terinspirasi dalam menulis dari prof Dedi Supriadi almarhum, seorang guru besar di UPI Bandung, yang menyatakan dalam bukunya :

    Kemampuan seseorang dalam menuangkan gagasan secara tertulis merupakan representasi dari kualitas intelektualitas-nya, karena melalui tulisan atau karya tulis (dalam bentuk apapun) seseorang mewujudkan pikirannya.

    Dari tulisan memang akan kelihatan logika berpikir seseorang. Dengan menulis, seseorang belajar berpikir secara eksak dan padat.
    Dedi Supriadi (1997)

    Dan juga fakta bahwa banyak orang-orang yang masuk penjara karena tulisannya.

    Oleh karena itu saya menyimpulkan bahwa menulis harus mempertanggung-jawabkan apa-apa yang ditulisnya. Agar berani seperti itu maka salah satu cara adalah memikirkan ulang tulisan-tulisan yang dibuat, harus berpikir jernih. Untuk berpikir jernih tersebut tidak boleh emosi, dan diusahakan bahwa objek yang dibahas adalah apa yang terbaca / tersirat fisik pada tulisan yang dibuat oleh seseorang.

    Itulah pula yang mendasari saya, mengapa ingin memiliki blog sendiri, bahkan sekarang mencoba mendomain blog-blog lain dengan kata depan wiryanto.< nama blog >.com . Karena mempunyai blog sendiri itu memang ‘berbeda’.

    Itu pula yang menyebabkan mengapa saya jarang tebar pesona dengan mengisi blog-blog orang lain jika memang tidak perlu. Hati-hati, apalagi saya mencantumkan identitas jelas.

    Tentang hati-hati dan waspada, khan sudah jelas, sebagai manusia kita khan memang harus ‘menjaga’. Itu hal wajar.

    Juga tentang menghapus yang jelek. Ini juga sangat wajar sekali, orang yang punya lembaran buruk dan mau menghapusnya untuk menuju ke lembaran yang lebih baik. Wah itu hebat. Itulah mengapa kita selalu bertumbuh dan selalu mengembara mencari jalan illahi.

    Apakah itu sudah ketemu.

    Wah saya nggak tahu, baru nanti kalau udah ketemu dengan Tuhan Allah itu sendiri baru tahu, o ya, berarti jalan yang aku tempuh adalah benar adanya. Sifatnya sangat subyektif.

    Jika dari kalimat-kalimat saya di atas ada yang tidak konsisten dengan yang saya tulis di blog ini, mohon tunjukkan. Karena kalau memang benar maka itu perlu di delete.:mrgreen:

    Suka

  31. Numpang lewat ….

    Kalau untuk bela negara ngapain pake simpen2 senjata … lha wong nenek moyang kita lawan penjajah pake bambu runcing coy … ala kadarnya! Toh bisa menang!

    Senjata bangsa Indonesia yang paling waskita itu adalah PERSATUAN DALAM KEBHINEKAAN!

    Saya kira ungkapan “seseorang yang menarik” diatas tentu ada maksud dibaliknya …

    Mudah mudahan ALASAN untuk bela negara bukanlah trik untuk menghimpun kekuatan guna merongrong negara..amin!

    Ngomong ngomong “bangsa biadab” kok malah lebih beradab daripada bangsa ini ya??

    Apa benar mereka “bangsa biadab” atau kita yang seperti katak dalam tempurung???

    Mari introspeksi diri …

    Suka

  32. Semua itu juga akan kembali kepada individu masing2, semua agama kan pada dasarnya baik.

    Memang benar kita harus berhati–hati dalam berkomentar. Tapi kadang2 tanpa kita sadar’i mengeluarkan kata2 ‘Saya rasa… maka..’ seperti kata sdr. Hartanto W. diatas.

    Mengenai buku dari prof Dedi Supriadi (Alm.) itu mengenai karya tulis kan pak ? tentunya tidak dapat disamakan dengan tulisan dalam blog dong. bahasa2 dalam blog itu kan tidak terlalu formal (ntar jadi bosen kalo kita menggunakan tata bahasa yang terlalu rapi dalam blog, hehe..).

    Bukankah itu yang menjadi ciri khas penulisan dalam blog, sehingga pembaca merasa topik yang disajikan dapat dibaca lebih santai daripada membaca langsung dari sumbernya.

    Terima kasih

    Suka

  33. To Sandy yang di Singapore,

    Terlepas dari rapi atau formal, yang menjadi perbincangan kita, tetapi esensi yang kita bahas khan tentang materi tulis. Bahwa apapun yang berbentuk tulisan, yaitu sesuatu yang dapat diinterprestasikan tanpa kehadiran yang punya maka sebaiknya yang jelas, tidak ambigu, tidak subyektif (pernyataan yang hanya didasarkan perasaan seseorang). Itu saja.

    tentunya tidak dapat disamakan dengan tulisan dalam blog dong.

    Konsep tersebut bagi saya memang harus demikian. Kalau yang lain mengganggap bahwa esensi blog tidak beda dengan bahasa lesan. Ya monggo-monggo aja. Oleh karena itulah dengan asumsi bahwa setiap tulisan saya harus dapat dipertanggung-jawabkan maka ketika ada orang yang menyatakan blogger adalah penipu maka saya tersinggung. Udah baca belum tulisan saya yang ini.

    Jelaslah, mungkin orang-orang yang dimaksudkan oleh pak Roy itu yang punya pemahaman seperti anda itu.:mrgreen:

    Intinya, bahwa apakah blog kita mau dihargai atau tidak adalah bukan oleh orang lain, tetapi dari materi yang kita tulis tersebut.

    Memang tidak enak mempunyai konsep pemikiran seperti yang saya ungkapkan, kenapa ? Karena setiap tulisan, perlu saya baca ulang, jangan sampai salah. Bahkan kalau ternyata materi salah dan saya ketahui kemudian maka materi akan langsung saya hapus.

    Terus terang bahwa apa yang saya sajikan disini adalah mempunyai kualitas yang sama seperti jika saya menulis untuk buku cetak. Memang, saya memakai kata-kata lebih santai dengan maksud lebih komunikatif. Tetapi esensi materi tetap dijaga kualitasnya.

    Pemahaman untuk berani sendiri, tidak ikut-ikutan yang lain memang tidak gampang. Tidak setiap orang berani. Tetapi kalau tidak berani seperti itu, hanya mengambil yang tiap orang lakukan. Berarti tidak istimewa. Jika itu diterapkan pada buku, mana laku.😛

    Buku-buku saya juga begitu. Bahkan di Elex Media ketika menyajikan materi SAP2000 pertama kali sangat diragukan. “Itu belum pernah ada buku seperti itu pak. Emangnya ada pangsa pasarnya ?”, waktu itu pak Vincent sampai ngomong begitu. Tetapi kalau diyakini dan berusaha yang terbaik akhirnya cetak ulang juga, dan sekarang kayaknya elex juga punya penulis lain dengan tema tersebut.

    Intinya kalau kita bisa lebih baik dari lain, mengapa tidak. Ya khan mas Sandy, kalau bisa sekolah di luar yang lebih baik, mengapa tidak. Padahal khan nggak banyak, itu berarti istimewa khan.

    salam

    Suka

  34. wah – wah – wah.. klo sudah ngomong masalah perbedaan apalagi agama, susah mencari titik temu kalo gak ada yang mau membuka cakrawala pikirannya dan saling menerima.

    perbedaan ada supaya hidup lebih menarik. coba bayangin klo semua orang py muka sama, pake baju sama, bahasa sama, ideologi sama, ya idup dah seperti robot aja.

    yang jadi masalah sekarang bagaimana sikap menanggapi perbedaan itu.

    sedikit menyimak, apakah motivasi utama dari segala kericuhan yang terjadi ( termasuk adanya bom bali ) adalah untuk menghilangkan perbedaan? klo iya, jelas itu adalah tanggapan yang salah tentang perbedaan. apalagi dikaitkan dengan nama agama. ( jelas2 imam samudera cs membawa2 nama agama tertentu), bisa jadi batu sandungan. apa iya suatu agama tersebut mengajarkan perang dan membunuh? saya rasa tidak.

    masalah utama di sini adalah kesalahan ideologi dan kepicikan pikiran.

    sebagai contoh, mari kita luruskan satu hal: perang israel dan palestina itu perang apa? jelas itu perang sipil, kenapa sering kali dikaitkan dengan perang agama? ini generalisasi yang salah.

    warga israel juga banyak yang keturunan arab. sebaliknya warga pelastina juga banyak yang beragama kristian. dan perlu diketahui, bagi yang beranggapan israel negara kristian, itu salah besar. sebagian besar penduduk israel beragama yahudi. dan yang menggantung Yesus di kayu salib siapa? bukan orang muslim, tetapi yahudi (israel). jadi klo mo djadiin perang agama, jelas yg paling mempunyai motivasi memusuhi israel adalah kristian, betul?

    jelas bahwa perang di timur tengah adalah “perang sipil”, bukan “perang agama”.

    hanya saja kita yang kurang tahu, sering sok tahu dan mengira – ngira.

    ada demo sana sini, musuhi amerika dsb, buat apa? urusin negara orang, urusan dalam negeri sendiri kacau balau.

    jika suatu saat indonesia sudah bisa menjadi negara maju, baru kita urusin rumah tangga negara lain, betul?

    Suka

  35. Berarti secara tidak langsung membaca blog pak Wir. sama saja dengan membeli buku pak Wir. tapi gratis🙂.

    Pak, akhir-akhir ini koq ga ada tulisan terakhir yang berhubungan ttg teknik sipil lagi nih, malah kebanyakan ttg politik dan budaya (apa saya yang kurang teliti membacanya ya ?)
    Thanx

    Wir’s responds : itu karena keterusan menikmati hit tinggi (nongkrong terus di BOTD-nya WordPress.com), tulisan non-teknik lebih banyak dicerna pembaca.😛

    Suka

  36. Islam memrperbolehkan menyimpan senjata ? Senjata apa Pak yang disimpan ? Kalau untuk masyarakat umum menyimpan senjata yang dilarang oleh pemerintah jelas Islam tidak memperbolehkan ?

    Kalo ada orang Islam yang ngomong boleh pasti ada tendensi dari orang tersebut misalnya untuk menjaga diri (tapi harus ada ijinnya) ! Betul ga Pak ?

    Masalah agama apakah selalu benar ? Kalau menurut saya agama yang saya anut pasti selalu benar.. orang agama saya sendiri ! ! kalo ga selalu benar ngapain saya anut ! kan jadi ikut2 an Pak ?

    nah yang salah tuch orangnya ,penafsiran orang tersebut !

    Begitu BOs ! he3 !

    Suka

  37. Wah ….salut buat Michael !
    Bukannya ngurusi negara orang Mas !
    tapi kalo ada penindasan masa kita diam saja ? mau jadi apa kita ?
    salam kenal Mas

    Suka

  38. semoga ilmu saya tidak di pakai untuk tujuan yang negatif.
    ada masukkan dari saya dalam hal ini.

    pertahankanlah tingkah lakumu kudus di antara bangsa bangsa, supaya apabila mereka mencela kamu sebagai pelaku kejahatan, mereka akan memuliakan Allah pada waktu ia mengadakan pemeriksaan, karena mereka telah menjadi saksi mata dari perbuatan yang baik
    [1 petrus 2: 12]

    kita tidak di ajarkan untuk berperang atau membunuh bahkan membenci bahkan musuh. tapi sebaliknya kasih

    Suka

  39. to : sdr. Satya

    Jadi pengen ikut nimbrung nih…

    Jika semua pemeluk agama benar2 menjalankan perintah agamanya dengan benar, maka saya yakin dunia akan damai. Mana ada agama mengajarkan bunuh-membunuh?

    membela diri?

    nah kadang2 standar membela diri ini juga gak jelas, kalo menurut Om Bush, membela diri adalah melancarkan pre-emptive strike, menggasak Irak sambil mengangkangi PBB dengan korban besar2an, eh belakangan pihak AS sendiri tidak menemukan senjata pemusnah massal yg dijadikan alasan untuk memulai perang.. konyol kan? tepatnya kekonyolan terbesar di jaman modern ini dari sebuah pemerintahan resmi suatu negara. Paus Benediktus XVI juga pernah menyindir om Bush soal Irak ini, tp om Bush masih keukeuh aja tuh.

    Kalo kata Osama Bin Laden membela diri adalah menyerang segala berbau orang barat di dunia ini, sehingga muncullah pengikut2 dia yang gak kalah konyolnya merasa berjihad sambil mengebom di mana2 : mulai dari WTC, Bali, Madrid, Jakarta (2x malah), plus bom malam Natal di beberapa tempat di Indonesia bbrp tahun yl.

    Kalo kata pemerintah Israel, membela diri adalah menyerbu kawasan sipil Palestina dengan tank dan helikopter, sehingga korban sangat banyak di pihak wanita dan anak2.. Ketika ada perdana menteri Israel yang merintis perjanian damai, eh malah dibunuh oleh Yahudi garis keras. ingat Yitzhak Rabin yg dibunuh tahun 1995, setelah menandatangani perjanjian Oslo dengan Yasser Arafat dan perjanjian damai dengan Yordania. Saat itu Yitzhak Rabin punya slogan : “Yes to Peace, No to Violence”.. apa yang dia dapat : ditembak mati oleh warganya sendiri.

    Kalo kata kaum garis keras Palestina, membela diri adalah menyandera atlet Israel di Olimpiade Muenchen 1972, menembakkan roket ke pemukiman warga Israel, dan terakhir menembak sekolah warga Israel.. Bahkan kaum geras keras Palestina (Hamas dkk.) menyerang Fattah, yg notabene sesama berjuang melawan Israel..

    Mahatma Gandhi dibunuh oleh Hindu garis keras, yang tidak setuju sikapnya yg anti kekerasan. Pembunuhnya beranggapan sikap anti kekerasan Gandhi melemahkan posisi India terhadap Pakistan.. artinya : si garis keras menafsirkan ‘membela diri’ terhadap Pakistan adalah mengenyahkan Mahatma Gandhi..

    so? ekstrimis ini memang susah di ‘sadar’ kan.. mereka selalu berwujud orang yang merasa sedang ‘berjuang’ padahal tindakannya adalah menebar teror, dan mereka bisa berwarganegara apapun ataupun mengaku beragama apapun. Nama Tuhan pun dibawa2 sehingga seolah2 mereka bertindak sesuai perintah Tuhan, padahal itu hanyalah legitimasi murahan dan menyesatkan.

    bagaimana di Indonesia?

    kata Bung Hatta dulu : komunis bisa dikalahkan dengan kesejahteraan dan pendidikan. Jika kita anggap komunisme adalah ekstrimis sayap kiri, dan ‘kaum ektrimis atas nama agama’ ini sebagai ekstrimis sayap kanan, maka sebenarnya sama saja : paham ekstrim di Indonesia harusnya juga bisa dilawan dengan pendidikan dan kesejahteraan. (ini hanya berlaku pada kondisi tertentu, soalnya saya yakin Om Bush bukan orang yang terbelakang pendidikannya atau kurang sejahtera, tapi kok masih ekstrim juga ya? ini memang mengherankan).

    buktinya : Dr. Azahari dan Noordin M Top terpaksa bergerilya di Indonesia. Karena jualan paham ekstrim mereka gak laku di Malaysia yg secara pendidikan dan ekonomi lebih baik dari Indonesia (padahal di tataran pemerintahan, Mahathir Muhammad pernah secara terang2an mengkritik kebijakan AS di Timur Tengah, dan sy belum lihat Presiden Indonesia sekarang berani mengkritik AS secara terbuka). Kenapa di tingkat masyarakat justru orang Indonesia terlihat lebih ‘ekstrim’ dari Malaysia? ya itu tadi : pendidikan dan kesejahteraan.

    segitu saja sharingnya, kalo ada yg gak nyambung dan rada ngaco, ya maaf deh… semoga ke depannya kita terbebas dari ekstrimis apapun bentuknya.

    -Rp-

    Suka

  40. Kalau saya setuju pada pandangan, Man Behind The Gun…..

    Seberapa jauh kredibilitas orang yang memegang senjatanya itu. Sesederhana apapun alat jika dipakai untuk membunuh atau mencelakai, yang perlu diwaspadai adalah faktor manusianya.

    Hukum positif harus ditegakkan, for better world, luaskan budaya moral , kaya W.S. Rendra berujar.

    Suka

  41. yang perlu diwaspadai adalah faktor manusianya.

    saya sangat setuju, ini pula yang mendasari materi yang saya tulis pada buku-buku saya, meskipun itu berbicara tentang komputer rekayasa.

    luaskan budaya moral

    ini juga saya sangat setuju. Meskipun terus terang, itu baru saya pahami setelah umur kepala empat, adapun yang saya lakukan sebelumnya hanya didasarkan pada ketentuan hukum. Pokoknya tidak melanggar hukum. Sedangkan moral, sebelumnya hanya didasarkan oleh lingkungan pergaulan (orang tua, keluarga, teman kerja dll) yang kebetulan bermoral.:mrgreen:

    Selain yang saya sebut itu, nggak ada usaha saya untuk bertumbuh dalam bermoral tersebut. Wong gimana, meskipun buku-bukunya sekamar penuh, tetapi isinya hanya tentang civil engineering, computer programming dan semacamnya. Ternyata setelah jadi dosen dan terpaksa membaca kitab suci (yang sebelumnya males menyentuh, takut dibilang sok suci) ternyata akhirnya sadar bahwa lebih dari 2000 tahun yang lalu ajaran kitab suci masih relevan sampai hari ini, khususnya tentang perilaku moral seorang manusia .

    Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.
    [2 Timotius 3:16]

    Ternyata nasehat-nasehat dulu masih cocok diterapkan sampai sekarang. Akhirnya sadar bahwa itulah hikmat yang perlu dicari.

    Adapun ilmu pengetahuan sekuler yang kita pelajari selama ini ibarat “gun”. Bermakna atau tidaknya tetap tergantung orangnya, apakah memang bermoral baik atau tidak.

    Itulah pula yang menjawab, meskipun secara totalitas saya adalah engineer atau programmer sehingga setiap berpikir selalu memakai logika dan bukan didasarkan perasaan, tetapi dari setiap tulisan kadang-kadang terselip nas-nas ribuan tahun lalu yang masih relevan. Hanya untuk mengingatkan bahwa manusia dulu sampai sekarang masih sama saja, masih lemah, meskipun sudah didukung oleh ilmu pengetahuan yang pesat dan teknologi tetapi akhirnya kematian jualah yang dihadapi.

    Jadi setiap perbuatan dan perkataan selama hidup ini selalulah mengingat akan kematian yang akan dihadapi. Harus selalu siap setiap saat.

    Agar dapat siap setiap saat maka satu-satunya cara hanya bersandar pada-Nya.

    Suka

  42. @Ivan – “Diberkatilah kiranya setiap orang yang memberkati engkau, hai Israel, Dan terkutuklah setiap orang yang mengutuk engkau.”
    [Bilangan 24:9]

    .
    Negara Israel yang sekarang sudah berbeda dari yang disebutkan pada kitab Anda. Kemungkinan besar konteks ayat yang Anda sebutkan itu adalah pada zaman dahulu, dan tidak berlaku untuk selamanya (CMIIW)
    .
    Faktanya sudah banyak disampaikan oleh banyak pihak yang lebih netral daripada saya; Israel pada saat ini adalah pelanggar hak asasi manusia, perampas tanah orang lain, pembunuh orang-orang yang tidak berdosa, dst.
    .
    Silahkan ini bisa Anda cek sendiri, jangan cuma mempercayai saya mentah-mentah. Thanks.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s