ASD atau LRFD


salam kenal pa’ Wir…
saya mo nanya kalau dalam struktur baja

  1. ASD dan LRFD, lebih irit mana ?
  2. apa boleh nge-desain pake ASD?

maklum saya taunya ASD (he..he..) berilah pencerahan bagi saya. Please bangget!!!

salam christanto

Salam kenal juga Chris, syukurlah kalau kamu telah menguasai ASD. Moga-moga itu merupakan singkatan dari Allowable Stress Design-nya AISC dari USA. Itu bagus koq, tapi AISC-ASD Code yang terakhir adalah tahun 1989, sejak itu kosong. Code yang keluar berikutnya adalah AISC-LRFD. Kondisi tersebut seakan-akan menyatakan bahwa ASD sudah digantikan sepenuhnya oleh LRFD, jadi banyak engineer yangmempunyai kesan bahwa mereka harus berpindah gitu (dari ASD ke LRFD).

Masa-masa menunggu memang menimbulkan banyak tanda tanya. Tetapi karena “barangnya baik”, ya begitulah akhirnya tetap kepakai lagi. Itu dibuktikan dengan adanya ANSI/AISC 360-05 yang didalamnya terintegrasi keduanya, ASD dan LRFD dalam satu dokumen resmi. Jika belum pernah baca dan ingin punya, down-load aja di sini.

Apa artinya itu ? Ya betul, itu dapat menjadi indikasi bahwa kedua code tersebut eksis dan dapat dipakai. Itu di Amerika lho. Jadi sejak 2005 penggunaan istilah ASD dan LRFD mengacu pada code yang sama. Keduanya bisa dipakai.

Meskipun demikian kita jangan terkecoh, lalu menelan mentah-mentah.

ASD yang tercantum pada code 2005 agaknya mempunyai definisi yang berbeda dibanding code 1989 dan sebelumnya. Menurut code 2005 definisi ASD dan LRFD adalah sebagai berikut

  1. Load and Resistance Factor Design (LRFD): The nominal strength is multiplied by a resistance factor, and the resulting design strength is then required to equal or exceed the required strength determined by structural analysis for the appropriate LRFD load combination specified by the applicable building
    code.
  2. Allowable Strength Design (ASD): The nominal strength is divided by a safety factor,Β  and the resulting allowable strength is then required to equal or exceed the required strength determined by structural analysis for the appropriate ASD load combination specified by the applicable building code.

Karena sama-sama memakai nominal strength maka sebenarnya konsep perencanaannya sama, hanya beda soal resistance factor dan safety factor saja. Juga tentunya load combination yang dipakai. Meskipun ketiga faktor tersebut berbeda, tetapi keduanya telah dikalibrasi agar mempunyai tingkat keamanan yang sama terhadap suatu kondisi pembebanan yang tertentu, khususnya terhadap pembebanan tetap dengan konfigurasi LL = 3 * DL . Beban hidup besarnya tiga kali lipat beban mati. Jadi jika dipakai untuk kondisi beban tersebut, keduanya (ASC dan LRFD) akan menghasilkan nilai yang sama persis.

Sekarang berbicara tentang ASD lama, sebelum tahun 2005.

Kalau konsep ASD yang lama,Β yang biasa dipakai adalah mengacu pada perencanaan elastis, yaitu memastikan semua tegangan yang terjadi di bawah tegangan ijin. Adapun yang dimaksud dengan tegangan ijin adalah tegangan leleh dibagi dengan safety faktor.

Lha jelas itu beda banget. Tahu nggak bedanya ?

Perencanaan elastis berarti hanya memperhitungkan kondisi elastis saja, yaitu tegangan-tegangan di bawah tegangan leleh baja (fy). Sedangkan nominal strength tidak hanya kondisi elastis (fs < fy), tetapi juga telah memperhitungkan tegangan ultimate baja (fu).

Perbedaan konsep tersebut tidak ditujukan pada masalah “irit yang mana”, tetapi lebih dari itu. Bahwa nominal strength sudah memperhitungkan kondisi batas, kondisi maksimum yang dapat diberikan suatu penampang yang berada di luar batas elastis. Tepatnya bahwa kondisi in-elastis juga telah diperhitungkan di LRFD, sedang ‘ASD lama’ belum.

Apa untungnya suatu code telah memperhitungkan kondisi in-elastis ?

Dengan memperhitungkan kondisi in-elastis maka perilaku keruntuhan struktur dapat dideteksi terlebih dahulu, apakah perilakunya daktail atau tidak. Kondisi tersebut sangat penting untuk mengantisipasi adanya beban tak terduga, yang mungkin saja bisa terjadi, contoh yang umum adalah beban gempa, blasting (ledakan) dan sebagainya.

Jadi LRFD dibanding ASD yang lama memang mempunyai keunggulan terhadap beban-beban tak terduga. Itu pulalah maka ANSI/AISC 341-02 (Seismic Provisions for Structural Steel Buildings – 2002) , code ttg bangunan baja tahan gempa yang dikeluarkan sebelum code 2005, menyatakan dengan tegas bahwa perencanaan baja tahan gempa harus memakai LRFD code.

Sedangkan untuk perencanaan struktur yang didesain terhadap pembebanan tetap (beban gravitasi) maka LRFD dan ASD lama menghasilkan struktur yang mempunyai keamanan dan kekakuan yang sama. Jika ada bedanya itu disebabkan oleh load faktor yang memang berbeda. Tapi, itu tidak terlalu signifikan jika dijadikan faktor pembeda, dan menurut saya tidaklah bijak jika berbicara faktor ekonomis atau tidaknya berkaitan dengan adanya perbedaan tersebut.

Tapi masih ada juga yang ngotot, dan mereka yang melakukan penelitian pada bangunan industri, menyatakan bahwa mereka dapat melakukan penghematan antara 5 – 10 % jika memakai LRFD. Kalau saya, jika hanya karena itu maka nggak akan tertarik untuk bermigrasi dari ASD ke LRFD. Bayangkan aja, ASD sudah dipakai sejak awal abad 20 dan sampai sekarang masih aja banyak yang memakainya. O ya, yang masih ngotot memakai ASD kebanyakan dari kalangan industri baja (orang lapangan), bagi dia dengan metode yang mereka telah familiar sudah bisa menghasilkan duit dan nggak ada masalah, oleh karena itu mengapa harus ganti.

Kalau masih tertarik dari sudut pandang ekonomis atau tidak, ini ada salah satu hasil studi di USA membuat perbandingan LRFD dengan ASD (yang lama). Filenya dalam bentuk power-point, cocok untuk memberi perkuliahan. Klik untuk download.

O ya, tentang peraturan kita SNI 03 – 1729 – 2002 , meskipun tidak ada penjelasan ‘mengacu ke mana’, tetapi hasil penelitian mahasiswa saya (mau baca, down-load aja di sini) adalah bahwa SNI mirip-mirip dengan LRFD sebelum AISC code 2005, jadi hanya berisi tentang LRFD saja. Sudah punya peraturan SNI itu belum ? Down load aja di sini.

Jadi karena peraturan kita sudah mengacu pada LRFD dan itu unggul karena memperhitungkan kondisi in-elastis maka ada baiknya dipelajari juga. Karena bagaimanapun Indonesia terkenal dengan kondisi beban yang sering tak terduga-duga, bahkan tidak mau kalah dengan Amerika.:mrgreen:

Catatan : ada baiknya sebagai mahasiswa untuk belajar peraturan asing, misalnya AISC atau Eurocode (semua bisa di down-load dari blog ini, coba cari). Ini bukan masalah nggak cinta negeri, tapi memudahkan anda link-and-match dengan dunia kerja. Sekarang banyak lho konsultan asing yang buka cabang di Jakarta, juga jika anda ingin go to the world , anda sudah siap. Saya di UPH juga konsepnya begitu.πŸ˜†

**up-dated**
diajak cerita ttg ASD dan LRFD, jadi nostalgia ketika dulu gajiannya masih dari industri konstruksi. Agar berani nangani proyek-proyek gede maka perlu dukungan literatur mantap, karena buku-buku baja dari lokal waktu itu masih susah maka perlu order langsung dari USA. Jadi inget, waktu itu sampai ngorbanin lauk-pauk, dari ayam jadi tempe. Coba sekarang khan semua ada di internet dalam bentuk pdf, tapi lumayanlah punya AISC code asli hardcover.

Yakin deh, nggak setiap PT yang ngaku punya jurusan teknik sipil mempunyai koleksi buku tersebut.

Jadi jika sebelumnya membantu Prof. Harianto mengajar di Struktur Beton, kemudian sekarang juga menerima tugas sebagai dosen struktur baja I, maka itu bukan karena nggak ada yang lain, tapi memang sebenarnya habitatku ada di situ.


Ini sebagian kecil buku asli di rak bukuku, koleksi masa mudaku.

18 thoughts on “ASD atau LRFD

  1. wah…menarik pak.

    Masalahnya di Sipil UGM diajari dua-duanya, tapi ASD lama dan LRFD. Untuk ASD lama, buku acuannya PadosBajaYo (jadul banget ya pakπŸ˜‰ ). Pak dosen yang ngajar ini kayaknya fanatik banget sama ASD lama (pak Wir mungkin tahu atau bahkan kenal siapa beliau, hehe).

    Trus yang LRFD pake SNI. Kalo saya pikir-pikir saya lebih sreg pake LRFD, kenapa ya. Mungkin lebih mudah dicerna alurnya, atau mungkin saya yang kurang bisa memahami ASD lama😦

    Terus pak, tentang SNI (maaf OOT). Kenapa to SNI itu (baja, beton, kayu) banyak yang ndak jelas, rumus-rumus banyak tanpa penjelasan yang mudah dimengerti. Atau memang sengaja dibuat begitu supaya tidak tebal seperti code2 luarπŸ™‚ , atau supaya pembacanya nyari referensi tambahan sendiri.

    btw, saya minta ijin ngopi tulisan ini boleh ndak pak, mau saya paste di http://sipilugm.wordpress.com
    maturnuwun…

    Suka

  2. minta ijin ngopi tulisan ini boleh ndak pak, mau saya paste

    Jika menurut anda berguna monggo aja. O ya, jangan lupa nama pengarang, bukan apa-apa sih, nanti kalau ada yang complaint tulisannya nggak mutu, khan ada kambing hitamnya.πŸ˜›

    Untuk memilih materi yang diajarkan atau dipelajari memang kadang-kadang setiap dosen beda. Kadang-kadang ada alasan nasionalisme.

    Jadi kalau nggak pakai SNI, nggak nasionalisme ya ? Ha, ha, ha, lucu juga mendengar hal seperti itu. Itu pernah saya jumpai pada dosen yang full ngajar (waktunya habis untuk ngajar atau ngerjain objekan, nggak pernah neliti atau bahkan nulis paper ilmiah). Alasannya itu khan sudah disesuaikan dengan kondisi Indonesia gitu lho.

    Biasanya kalau ada hal seperti itu, orang awam langsung ‘cep’. Diam dan nggak berani komentar. Iya khan. Anda termasuk yang awam nggak ?? Ha, ha, ha, bercanda nih.πŸ™‚

    Tapi kalau udah pernah puluhan tahun di baja, sendirian lagi (maksudnya sudah dianggap mandiri dan menjadi tempat bertanya). Apa anda berani hanya mengandalkan buku baja lama kita itu, yang hanya beberapa halaman. Ada nggak sih kalau 500 halaman.

    Jadi bagaimana pak ?!

    Satu-satunya cara hanya mencari peraturan yang didukung oleh literatur yang mencukupi dan mudah didapat. Siapa lagi kalau bukan AISC. Jepang aja juga me-refer ke sana. Itu sudah saya buktikan (personal) bahwa dukungan referensi seperti itu ‘sudah berhasil’ mulai dari proyek bentang 12 sampai 60 meter dengan beban ratusan ton.

    Karena alasan itulah, ketika diminta Ketua Jurusan untuk mengajar struktur baja I , maka otomatis materi utamanya adalah AISC dan baru SNI. Bagaimanapun bagi saya, materi yang diberikan hanya pembuka wacana pada ilmu yang sebenarnya, yang diharapkan dapat dicari sendiri oleh mahasiswa (sudah ditunjukkan sumbernya khan). Dengan kondisi seperti itu diharapkan mahasiswanya dapat lebih pintar dari dosennya. Sehingga suatu saat nanti, diharapkan ada orang yang bilang
    Siapa sih gurunya!“.πŸ˜†

    Suka

  3. saya termasuk beruntung karena pernah belajar struktur baja dari salah seorang kontributor peraturan SNI baja, yaitu p Muslinang Moestopo.

    P Muslinang sendiri menyarakan agar belajar dari AISC terbaru (kl sekarang masih 2005). Karena menurut beliau banyak perkembangan lebih baru (terutama dari sisi seismic design) dalam beberapa tahun terakhir.

    Salah satu yang di sayangkan P muslinang adalah belum pernah diadakan tes baja dalam skala besar dan melibatkan sebagian besar produsen baja di Indonesia. Sehingga nilai overstrength material yang diadopsi dalam peraturan Indonesia tidak ada dasarnya atau hanya ikut AISC, padahal belum tentu karakteristik baja produksi Indonesia sama dengan produksi Amerika.

    -Rp-

    Suka

  4. padahal belum tentu karakteristik baja produksi Indonesia sama dengan produksi Amerika

    Saya jadi ingat waktu itu ada seminar dengan pembicara seorang dosen dari jawa-timur. Beliau mengadakan penelitian tentang mutu baja, selanjutnya dari hasil penelitian tersebut beliau mengajukan usulan overstrength factor atau parameter semacamnya gitu.

    Intinya adalah usulan formula baru perencanaan yang cocok untuk Indonesia. Peraturan lokal maksudnya.

    Hati kecil koq mau tertawa aja, padahal di industrinya sendiri mereka ramai-ramai ambil sertifikasi ISO, lalu mencantumkan bahwa barang produknya setara dengan ASTM atau JIS atau ISO. Ya begitulah, agar dapat terjual ke luar negeri.

    Jadi jika kita (engineer) menemukan bahwa produknya nggak sesuai dengan spesifikasi yang diberitakan di brosur, koq rumusnya yang diubah. Itu harusnya khan complaint ke industri tersebut bahwa “ngomongnya udah setara dengan JIS or ASTM tapi kenyataannya mana ? “.😦

    Kalau memang berani, tulis aja catatan, jika produk bajanya dari pabrik A maka perlu reduksi sekian, atau pabrik B sekian. Itu khan lebih masuk akal. Itu kalau berani, paling-paling kalau dicantumin seperti itu, pegawai pabrik tersebut akan datang gropyokin. Orang kita khan begitu, iya khan. Karena takut seperti itu, maka peraturan kita yang ngalah. Gitu ya ?

    Kenapa ngomong begini, karena proyek-proyek besar, bantuan dari luar, bahan material bajanya nggak dari lokal. Saya jadi ingat itu proyek kilang minyak di Balongan, dana dari Jepang, kontraktor JGC, itu bajanya impor koq.

    Jadi kalau code kita di-lokalin, siapa yang mau pakai, paling-paling perencanaan yang masuk TPKB dimana evaluatornya orang-orang kita juga. Juga kalau seperti itu, maka code lokal itu paling-paling aku jadikan opsi aja : “silahkan dilihat, tetapi materinya tidak diujikan”.:mrgreen:

    Suka

  5. P wir,
    saya sih memang kurang rada memahami soal standar material, jd kl diskusi sy berikut rada ngawur maaf aja yah..πŸ™‚

    mungkin mulai dari pertanyaan awam dulu : standar JIS atau ASTM itu menetapkan kekuatan tertentu (leleh atau putus) minimum, atau juga maksimum? terus terang saya gak tau nih.

    Masalah overstrength kan berurusan dengan kuat material yang melebihi kekuatan di spek-nya. Jadi masalahnya bukan di ‘kurangnya kekuatan’, namun justru di berapa ‘kelebihan kekuatannya’?

    mungkin untuk lebih jelasnya, berikut saya kutip dari buku Ductile Design of Steel Structures (Bruneau, Uang, Whittaker) p.21 :

    ” In seismic design, as will be demonstrated later, knowledge of the maximum probable yield strength is equally important as knowledge of the minimum reliable yield strength. Recent studies have reported that the margin between the actual average yield strength and specified yield strength has progressively increased over the years for some structural steels, even though the steel specification itself remained unchanged.”

    “Although this higher strength translates into safer structures for nonseismic design, an unexpectedly higher yield strength can be disadvantageous for seismic design.”

    masih dari referensi yg sama :

    “As this book is written, North american structural shape producers are in the process of preparing a new ASTM specification for a grade 50 steel having a maximum yield strength in addition to the minimum value traditionally specified.”

    kalo liat penjelasan di atas, maka tersirat (mohon koreksi kalau salah) bahwa yang disyaratkan di spesifikasi material (tradisional) hanyalah kekuatan minimum. Mengingat buku-nya Bruneau, Uang dan Whittaker ini adalah cetakan 1998, maka besar kemungkinan spek ASTM yang ada sekarang sudah di revisi.

    Namun poinnya, hal ini juga disadari baru oleh orang2 Amerika sono (yah, 1998 kan masih 10 tahun yl, utk skala perkembangan ilmu sipil 10 tahun dianggap baru lah..πŸ™‚ kl bidang IT baru lain cerita. hehehe

    Artinya sebenarnya masalahnya bukanlah di material yang tidak memenuhi spek, justru material yang kelewat kuat dan jauh melewati standar di spek. Peraturan AISC 2005 yang khusus Seismic provisions for Structural Steel Building menampilkan tabel lengkap nilai Ry dan Rt untuk berbagai profil dan grade baja, dimana expected yield stress adalah Ry*Fy dan expected tensile strength Rt*Fu. Menurut Comment di AISC 2005 seismic provisions for structural steel buildings tersebut, data Ry dan Rt yang ditampilkan adalah hasil studi tahun 2003 (hal. 133). Masih fresh dari oven gitu loh…πŸ™‚ .

    Jadi mungkin saja produsen baja Indonesia tidak salah : “produk kami sesuai ASTM”.. Tapi nilai overstrength atau Ry dan Rt yang bisa dipakai untuk desain bagi baja produksi Indonesia kan belum ada yang meneliti secara komprehensif hingga bisa diadopsi dalam peraturan.

    jadi menurut saya sih, masalahnya tidak sesederhana yang p wir ilustrasikan, karena masalah overstrength bukanlah masalah material yang tidak memenuhi standar minimum spek .

    -Rp-

    Suka

  6. ya mas Robby,

    sekarang pertanyaannya adalah apakah semua struktur baja kita adalah produk lokal ?

    Jika ya, apakah produk baja kita sama dengan luar.

    Lebih baik atau lebih jelek ?

    Ini kita bicara tentang masalah standardisasi produk lho. Bukan masalah minimum atau maksimum. Standar ya standard, yaitu adanya unsur keseragaman, atau kesamaan dalam skala statistik. Kalau ada penyimpangan, bisa aja, tapi itu harus dalam skala yang relatif kecil, tidak signifikan gitu .

    Lebih kecil, jelas salah. Tetapi bukan berarti lebih besar, maka boleh-boleh aja. Itu juga nggak boleh !.

    Jadi kalau yakin bahwa produk kita lebih kuat, ya nyatakan saja dengan konstanta tertentu. Berani nggak nyatakan, misalnya adalah bahwa jika pakai produk Pabrik A (katakanlah) maka over-strength-nya harus lebih besar dari yang buatan Jepang gitu. Berani nggak ?

    Tapi nggak berani khan, karena produk kita kebanyakan nggak konsisten. Saya diceritain oleh ‘orang baja’, bahwa pada produk bikinan lokal, meskipun batangnya satu, tetapi kadang-kadang kalau ngebor satu bagian, gampang banget. Tetapi pada bagian lain kadang-kadang, bahkan mata bornya bisa putus. Mengapa itu bisa terjadi, karena kualitas produknya sangat bervariasi.

    Jadi jangan karena kualitas produk yang ‘begitu’ , lalu peraturannya disesuaikan.

    Itu khan ibarat buruk muka cermin dibelah. Ya, nggak seekstrim seperti itulah, tapi mirip.πŸ˜€

    Yap, tetapi omong-omong, tanpa ada faktor ini, atau itu, sebenarnya bagi orang yang pengalaman, umumnya telah tahu, kalau pakai baja tertentu maka safety-nya nggak berani dimepetin. Gitu lho.:mrgreen:

    Suka

  7. Standar ya standard, yaitu adanya unsur keseragaman, atau kesamaan dalam skala statistik. Kalau ada penyimpangan, bisa aja, tapi itu harus dalam skala yang relatif kecil, tidak signifikan gitu .

    setuju pak.. tapi berhubung sy gak paham detail standar baja ASTM, makanya diskusi di atas saya buka dengan pertanyaan “awam” tersebut.

    kalo yg saya tau, kok seolah2 dulunya standar ASTM itu hanya menetapkan standar minimum, dan produksi baja di Amerika makin hari ternyata lebih kuat dari yang tercacat di speknya (sebenarnya ini mengherankan juga : jika disyaratkan hanya fy=36 ksi, mengapa mereka berlomba2 bikin baja yang lebih kuat namun tetap dilabeli grade 36?? apa gak rugi tuh?), baru pada era akhir 90-an (kl kata di buku yg saya kutip, sejak gempa Northridge 1994) mereka sadar ada yg belum sempurna di standarnya, yaitu belum adanya batasan nilai maksimum.

    Mengenai mutu baja di Indonesia, kl di sumatera ada pameo jangan pakai tulangan produksi Medan.. karena dimensinya imut-imut (lebih kecil dari yg tertera) dan mutunya amit-amit.. hehehe… kl yg kyk beginian jelas bukan termasuk yg lagi kita bahas pak. hahaha..πŸ™‚

    -Rp-

    Suka

  8. Selamat siang Pa,

    Saya mahasiswa teknik sipil Tingkat akhir yg sedang mencari data mengenai probabilitas beban layan bangunan.
    seperti yang bapak ketahui bahwa besarnya beban-beban yang ada di PBI itu adalah beban layan nominal (seperti beban hidup kantor ditentukan 250 kg/m2, perpus 400 kg/m2, dll). padahal khan beban sebesar itu tidak 100% bekerja terus menerus.

    nah, saya pengen tahu, ada ga sih penelitian atau literatur mengenai probabilitas beban-beban yang bekerja pada kondisi sebenarnya…
    menurut beberapa orang, hal itu ada di LRFD…tapi saya ga nemu di bag mana….
    mohon bantuannya pak….

    Terima Kasih.
    nb: kalo bisa, tlg bales lwt email aja pak….

    Suka

  9. Salam kenaL P Wir,
    Saya iLLiya, mhsswi yg Lgi nyusun skripsi ttg analisis bangunan tahan gempa menggunakan metode statik ekuivalen dan analisis dinamik… Klo bleh jujur aja ni Pak, saya terpengaruh atas jurnal yang pernah bapak tulis tentang metode analisis dinamik dan akhirnya memutuskan untuk mencoba menulis skripsi tentang gempa..
    yG mW saya tnya :
    1. Apakah ada alasan khusus mengapa bangunan yang tingginya kurang/sama dengan 40 meter dapat dianalisis menggunakan metode statik ekuivalen sedangkan diatas 40 m harus menggunakan analisis dinamik..??
    2. Saya pernah membaca suatu pernyataan (tpi Lupa bkunya apa.. hiKz T.T) yang menyatakan kLo metode statik ekuivalen hanya memperhitungkan faktor inersia bangunan saja, sedangkan analisis dinamik memperhitungkan faktor inersia, redaman dan kekakuan..??
    Itu bener gak sih Pak??
    Kalau begitu yang dimaksud dengan inersia, redaman dan kekakuan suatu bangunan itu apa…???
    3. Pada saat melakukan analisis dinamik pke program SAP2000 V.9, pada bagian “analysis case” berapa nilai scale factor yang harus dimasukkan…?? Apakah nilai yang harus dimasukkan itu ialah nilai gravitasi (g=981 cm/s2)…???
    Saya mohoonn sekali P Wir mw memberikan comment atas pertanyaan saya ini…
    Terimakasih sebelumnya..

    Suka

  10. selamat malam bapak!….

    nama saya hendra ginting, masih kuliah di teknik sipil.

    mau tanya nih pak:
    1. untuk material properties baja, nilai efective yield dan efective tensile stressnya gimana cara mencarinya ya pak untuk BJ 37 ?? atau mutu baja yang lainnya??
    2. Di buku bapak yang tebal itu (kebetulan saya salah satu peminat buku SAP 2000 karangan bapak) disebutkan, pemodelan portal beton dengan baja berbeda, salah satunya baja memperhitungkan penggunaan tipe sambungan. kalau kita pakai sambungan rigit, semi rigid, dan pin perbedaan pemodelan di SAP dimana pak?
    3. Dari segi apa (output SAP) kita dapat menentukan bahwa gedung yang telah kita desain memenuhi “Strong column weak beam”???

    maaf bapak pertanyaannya banyak. (seperti yang pernah bapak tulis kalau ilmu tidak di share dari mana kita tahu ilmu yang kita anggap itu benar memang benar??). Semoga semakin banyak engineer di indonesia ini meneladani sikap dan tindakan bapak, soalnya jarang sih orang pintar (dalam hal Sipil) mau men-sharing ilmunya secara cuma-cuma.

    Terima kasih atas tanggapannya pak.

    (bagi kami mahasiswa teknik sipil, ini merupakan kuliah tanpa SKS) hehehe.hehehe

    Suka

  11. salam pak wir…..
    bisa sy bertanya…..??
    klw struktur kayu….
    untuk sambungan kayunya,,,apa semua acuan yg bs jd referensi sy???

    Suka

  12. wah pas banget nih sama kuliah hari ini. Dosennya mungkin pa wir kenal, namanya Pa Bambang Supriyadi. Beliau menjelaskan bahwa memang jika menggunakan LRFD seolah-olah lebih berani karena menggunakan tegangan fy sebagai batas izin. namun tengangan fy tersebut di bagi dengan fluks (Ξ¦) dan nilai bebannya kalau tidak salah dikalikan dengan faktor pembebanan seperti Beban mati dikali 1,2 ataupun beban hidup 1,6. jadi menurutnya tetap saja tegangan baja masih berada di bawah titik leleh. ataupun mungkin saya yang salah nangkap kuliahnya. koreksi pak kalau ada yang salah. pokonya menurut beliau harus mempelajari dua-duanya namun dalam perhitungan harus konsisten.

    Suka

  13. Salam Kenal, Pak..
    Ada yang bertanya di Blog saya mengenai hal ini, berhubung saya lupa-lupa ingat karena ilmu baja saya hampir tidak pernah terpakai selama hampir 9 tahun.. Daripada saya jawabnya ngawur, maka Ijinkan saya merekomendasikan untuk merujuk ke alamat blog Bapak.. Insya Allah, Bapak jauh lebih mumpuni dan penanya pun lebih puas mendapat penjelasan dari ahlinya.. Terima Kasih..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s