Sarjana Nganggur Melonjak


Dua hari terakhir ada dua artikel di harian Kompas yang menyitir tentang “sarjana nganggur”. Untuk itu perlu saya kutip sebagian artikel tersebut sebagai berikut.

. . . 
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Fasli Jalal, mengutip data Badan Pusat Statistik, mengatakan, hingga Februari 2007, jumlah sarjana yang menganggur sebanyak 409.890 orang. Belum lagi lulusan diploma III yang belum mendapatkan pekerjaan sebanyak 179.231 orang serta diploma I dan diploma II yang menganggur berjumlah 151.085 orang. Total penganggur keluaran institusi pendidikan tinggi berjumlah 740.206 orang.
[Sumber Kompas – Rabu, 6 Februari 2008]

 
Sebagai respons dari informasi di atas, maka ada artikel lain yang menanggapi, yang intinya adalah

. . .
Darmaningtyas melakukan studi kasus pada iklan lowongan kerja di harian Kompas Minggu, 6 Januari 2008. Ada 405 lowongan pekerjaan, 4,19 persen mensyaratkan indeks prestasi minimum, lainnya menekankan pada kemampuan kerja individu dan tim, kemampuan berbahasa asing, terutama Inggris, kemampuan mengoperasikan program komputer, kemampuan berkomunikasi, dan pengalaman kerja.

”Itu justru tak diperoleh secara formal di bangku sekolah, sebaliknya didapat dari inisiatif dan kreativitas individu. Individu kreatif cenderung memiliki tingkat keberhasilan tinggi,” ujarnya. Lembaga pendidikan cenderung mengajarkan hafalan, kurang melihat konteks.

Hal-hal seperti membangun jaringan, kreativitas, dan komunikasi kurang didapat dari sekolah.
[Sumber Kompas – Sabtu, 9 Februari 2008]

Sebagai orang yang hidupnya berkutat untuk menghasilkan sarjana, dan melihat bagaimana mereka sewaktu belajarnya, juga setelah lulusnya, maka jelas ke dua artikel tersebut menarik. Menjadi guru atau dosen yang memang makannya dari situ, juga hanya berkutat pada satu kampus saja, yaitu UPH. Maka pengamatannya tentang “anak muda culun” lalu menjadi “orang mandiri” tentulah lebih banyak dan mendalam daripada yang lain. 

Tidak terasa, tahun ini adalah tahunku ke sepuluh di UPH, lama juga ya. Jika pertama-tama, saat jadi dosen dulu, aku masih tidak PD ketemu teman dosen dari lain institusi. Tetapi semakin lama, ketika semakin banyak alumni yang diluluskan, tidak terasa bahwa mentalku sebagai dosen menjadi semakin kuat. Itu semua juga disebabkan oleh anak-anak mahasiswaku, yang ternyata banyak yang membanggakan. Mungkin sebagian sudah banyak yang aku ungkapkan di blog ini.

Pohon dikenal dari buah yang dihasilkannya. Buah ara tidak akan tumbuh pada pokok duri, atau buah anggur pada semak duri.
Lukas 6:44 [FAYH]

Berkaitan dengan melamar pekerjaan, ada satu mahasiswaku (ini sungguh-sungguh terjadi ) katakanlah si A. Lulusnya bisa dikatakan molor, tujuh tahun kalau tidak salah. Bayangkan itu. Saya ingat sekali dia, karena di mata kuliahku, si A sampai harus mengulang 3X. Mestinya, aku baginya adalah dosen killer, iya khan. Tapi kesannya dia kepadaku tidak seperti itu, mungkin juga karena mengulang bagi dia adalah suatu yang ‘biasa’. 

Ada hal yang menarik yang aku ingat, orangnya relatif ekstrovet, ramah, kalau ketemu pasti aktif menyapa lebih dulu, kesan yang aku terima adalah Percaya Diri. Akhirnya dia bisa lulus !  Berapa lama setelah wisuda, dia mengirim surat via email. Intinya ‘to say thank you‘, sambil memperlihatkan gambar jembatan yang sedang dia supervisi. Ya benar, jembatan. Saya sebenarnya nggak percaya, tetapi benar dia bekerja di kantor konsultan teknik asing, yang kalau tidak salah managernya orang German gitu.

Bayangkan, si A, yang di kampus terkenal sebagai kelompok ‘sepuh’ , karena banyak mengulang, sehingga setelah lulus pasti dibayangkan kalau kerja mestinya di bidang yang relatif umum, sales atau sebagainya. Eh, nyatanya tetap di bidang teknik, yang selama kuliahnya terlihat susah payah untuk diselesaikan.

Waktu mampir ke kampus tempo hari karena ada suatu urusan dan ketemu saya, apa yang dia katakan:”Ya pak, boss saya orang German , tapi bisa bahasa Inggris. Waktu masuk dulu, saya di test langsung secara lesan. Kalau bahasa Inggris-nya saya, lumayanlah pak!  Khan dari UPH,  sudah biasa, jadi bisalah. Masalahnya waktu soal yang dia berikan ternyata tentang analisa struktur. Ketika dibaca, wah mirip dengan soal yang Bapak biasa berikan di ujian. Jadi, ya begitulah. Saya khan sudah ngulang banyak, ya bisa juga. Trim ya pak, akhirnya saya diterima dan sekarang bekerja di sana.” Katanya dengan bangga.

Percakapan pendek tapi mengesan bagiku. Memang sih, bekas mahasiswaku si A ada yang menonjol sifatnya, yaitu :  

  • percaya diri,
  • selalu berpikir positip,
  • ulet dan tidak gampang menyerah meskipun harus mengulang beberapa kali,
  • mampu berkomunikasi dengan baik (bahasa Indonesia dan Inggris)

Bayangkan meskipun pernah menjadi mahasiswa abadi, tetapi itu semua tidak membuatnya minder. Bahkan si A sangat bersemangat menceritakan kepadaku, pengalamannya. Padahal aku khan dosennya yang pernah “nggak nglulusin” sampai 3X. Bayangkan itu.

O, mungkin karena itulah maka si A tersebut ngganggurnya nggak lama, yang jelas sebelum wisuda dia sudah mendapat status yunior engineer di perusahaan konsultan teknik asing. Hebat khan.

Hal-hal kecil seperti itulah yang membuatku lama-lama jadi PD untuk hidup sebagai dosen atau guru, karena dapat menjadi bagian yang dapat mengantarkan manusia untuk menjadi “orang”.

Saya yakin, kalau para sarjana kita yang lulus dengan lancar (nggak perlu ngulang seperti muridku tersebut) dan mempunyai sifat-sifat yang aku jelaskan di atas maka pastilah angka pengangguran akan berkurang. Semoga.

O ya, untuk yang masih pengin dapet kerja atau pindah kerja, ini ada link-link menarik untuk dibaca.

22 thoughts on “Sarjana Nganggur Melonjak

  1. Itu nama-nya gak nyambung….

    Si prospective employee [pelamar] bilang…. wah, gak ada lapangan kerjaan. Orang2 pada di-PHK. Inflasi tinggi. Gimana nih? Demo ke DPR aja yuk. Minta pemerintah mengusahakan lapangan pekerjaan…

    Si prospective employer [perusahaan] bilang…. waduh, kita butuh banyak orang berkompeten nih untuk menjalankan company kita. Gimana nih enaknya? Harus import dari luar negeri apa ya?

    Suka

  2. Serba salah ya, jumlah penduduk yang berpendidikan tinggi di negeri ini relatif masih sedikit dibanding jumlah penduduk. Kemudian susah mencari pekerjaan.

    Atau komposisi sarjana yang diperlukan dengan yang lulusan yang ada tidak sesuai (lebih banyak yang bersifat umum).

    Atau biar banyak lowongan kerja, bagaimana yang tua-tua disuruh pensiun dini aja, biar diganti yang muda.

    Sebetulnya yang terbaik adalah membuat pekerjaan, bukan mencari pekerjaan (klise). Ya, dulu saya juga berpikiran begitu juga. Habis bagaimana lagi, krisis gak habis2, hidup harus jalan. Jadi buatlah pekerjaan, itung2 membantu negara mengurangi pengangguran.

    Suka

  3. kayaknya untuk yang mau jadi calon sarjana, kita harus lebih kreatif dan aktif dalam mencari peluang..
    selamat berjuang teman-teman….

    Suka

  4. Ini masalah yang kompleks. Dan ada bahayanya kalau sampai muncul “teori” baru, bahwa pokok persoalannya adalah kemampuan si sarjana “menjual diri”; mulai dari menulis lamaran sampai pernik-pernik yang anda uraikan dalam artikel di atas.

    Menurut aku, salah satu yang sangat mendesak untuk dibenahi adalah persepsi dan sikap mental kita yang keliru mengenai tujuan atau target menjadi sarjana, yaitu sebagai jalan pintas untuk mendapatkan pekerjaan yang enak : tidak perlu capek, tapi gaji atau sabetannya gede.

    Yang juga urgent adalah membangun budaya kompetisi di dunia kerja berdasarkan merrit system. Mampukah kita membebaskan diri dari sentimen-sentimen sesama suku, agama dan almamater ? Pemerintah yang harus mempelopori ini, dengan menerapkan di jajaran birokrasi pemerintahan.

    Tak kalah pentingnya : kita sebagai bangsa harus mengevaluasi kerusakan yang ditimbulkan oleh rezim Soeharto terhadap mutu pendidikan, persepsi dan sikap mental mengenai gelar kesarjanaan, rasa ingin tahu dan kemauan belajar serta sikap kritis; standar promosi di dunia kerja, dll.

    aku menulis topik itu di blog aku, dengan judul “Soeharto, Pahlawan atau Penghianat Bangsa?”

    http://ayomerdeka.wordpress.com/

    Suka

  5. sekedar menanggapi dan menambahkan komentar pertama…

    Si prospective employee [pelamar] kadang mengukur diri terlalu tinggi, ingin pekerjaan/posisi yang tinggi dengan gaji yang tinggi juga, sehingga saat ada tawaran yang dirasa “kurang sesuai” dia enggan untuk melamar…

    Si prospective employer [perusahaan] kadang juga tidak mau repot. Mereka lebih memilih pekerja yang sudah ada pengalaman (meskipun hanya sedikit), dan tidak mau bersusah payah membina pekerja baru untuk bisa menekuni pekerjaan yang ditawarkan…

    Menurut saya (dari satu sisi), perlu ada kerendahan hati di antara keduanya🙂

    Suka

  6. yang lain sih ok-ok, kecuali to Robert Manurung, ada beberapa yang menggelitik untuk diberikan tanggapan.

    Pernyataan pak Robert jika diungkapkan kira-kira 10 tahun yang lalu, ketika aku masih di industri konstruksi, mungkin akan aku amini.

    Ketika itu, wawasanku hanya tentang bagaimana merencanakan dan membuat objek mati, yaitu bangunan konstruksi. Objek tersebut tahunya pasif, jadi katakanlah jika ada 1+1 pasti jadi 2. Gitu pokoknya. Pada waktu itu,aku sangat yakin, bahwa dengan kondisi seperti itu, dunia akan mendukungku menjadi engineer terkenal kayak Prof. Wiratman gitu.

    Tapi, kenyataannya khan lain, akibat situasi luar, meskipun sudah bekerja dengan baik toh akhirnya perusahaan bankrupt. Siapa sih yang menyebabkan ?

    He, he, kalau ada yang ngomporin bahwa itu pasti rezim soeharto. Wah, tidak bertepuk sebelah tangan, gitu katanya.:mrgreen:

    Tapi memang mungkin Tuhan berkata lain, apa yang menurut ukuran dunia tak mungkin, jadi mungkin. Aku dulu yang menyangka nggak mungkin hidup dari gaji guru, ternyata terjadilah.Bahkan sekarang telah menginjak waktu 10 tahun lamanya, ya sejak krisis tersebut, dan rasanya sisa hidupku tak jauh juga dari situ.

    Bisa dikatakan lima tahun pertama aku jadi guru adalah pasif, “menerima” gitu lho. Jadi jika komentar pak Manurung dinyatakan pada saat itu maka paling aku hanya akan mengangguk-angguk juga. Ingat saat itu aku merasa kompetensi engineerku sudah “cukup”, mandiri gitu maksudnya, juga telah bergelar S2. Kurang apa itu.

    Tapi ada untungnya pasif, ketika diminta tugas kemana-mana, ya ok-ok saja. Pegawai yang baik gitu lho kesannya. Jadi diminta mewakili UPH untuk menerima beasiswa ke Stuttgart juga ok-ok saja. Siap grak, gitu lho. Jadi baru selama hidupku itu, aku diminta sendiri, hidup dibelahan dunia lain selama 3 bulan (ya hanya 100 hari). Lepas dari kesehari-harian di Indonesia.

    Apa yang terjadi. Seperti bertapa aja, mungkin juga didukung oleh sifatku yang introvet, aku banyak bermenung memikirkan siapa diriku, untuk apa aku ini sehingga salah satunya dibukakanlah apa visi dan misiku selama ini. Ternyata tidak sekedar hidup untuk nyari gaji, tidak sekedar jadi engineer, tidak sekedar . . . ya begitulah. Saya telah banyak menuliskannya di blog ini.

    Jadi 100 hari sendirian di Stuttgart tersebut seakan-akan membuka simpul-simpul kemampuan yang ada pada diriku. Intinya, tidak baik hanya sebagai yang pasif, tetapi perlu aktif, tidak hanya menerima tetapi kalau bisa memberi. Kalau kita tidak puas dengan apa yang ada maka kita harus rubah, dan yang penting bahwa itu dimulai dari diri sendiri. Suatu englightment telah terjadi padaku pada masa itu.

    Selanjutnya selama waktu kemudian, mungkin juga karena simpul syarafku sudah terbuka, aku banyak melihat bahwa banyak anak-anak muda yang percaya diri pada mimpinya, dan bekerja keras untuk itu, ternyata mampu mewujudkannya. Meskipun dunia luar seakan-akan tidak mendukung. Salah satu anak muda yang seperti itu adalah Antony Pranata yang memberi comment pertama tulisanku ini. Bayangkan saja dia orang Magelang, yang sekolah di Jogja, dan sukses dengan buku-bukunya yang banyak diterbitkan oleh Andi Offset dan sudah diterima bekerja diperusahaan elite di Jakarta, ternyata tidak puas dengan yang ada, dengan tabungan dan dukungan keluarga dia ke Stuttgart (dan bertemu aku disana). Sekarang dia sudah mendunia.🙄

    Orang-orang seperti itulah yang sebenarnya dibutuhkan oleh Indonesia saat ini, dan bukan orang-orang yang dengan gagah berani menunjuk hidung siapa penyebab pembuat onar dunia seperti sekarang ini. Kalau itu sih, setiap orang juga bisa.😆

    Salam untuk Indonesia. Merdeka !

    Suka

  7. @ Mas Wir

    Terima kasih, Mas Wir sudah menyempatkan menanggapi komentarku. Tapi jujur saja, setengah mati aku mencari hubungan antara komentarku dengan tanggapan Mas Wir, akhirnya yang jelas-jelas ada hubungannya hanyalah bagian akhir yang bernada menyindir.

    Aku akan sangat senang kalau Pak Dosen mengomentari point-point yang aku kemukakan, yang notabene sudah dikasih tebal oleh Mas Wir, yaitu soal persepsi, merrit system dan kerusakan yang ditimbulkan rezim Soeharto (baca : kebangkrutan intelektual).

    Oh ya Pak Dosen, perlu aku membuka diri sebagai satu cara menghargai ketulusan anda.
    Pendidikanku cuma sampai SMA. Mungkin ini berguna agar Pak Dosen bisa memaklumi kalau mungkin komentarku tidak sesuai dengan standar akademis yang banyak diagungkan di negeri ini.

    Terima kasih infonya mengenai Antony Pranata. Aku salut atas suksesnya, meskipun masih gelap mengenai tokohnya dan makna suksesnya. Mohon tambahan informasi mengenai dia, siapa tahu ada gunanya.

    Wir’s respond tentang Antony Pranata : Kalau belum kenal ya maklum, dia jauh umurnya di bawah saya, ya mungkin masih kepala dua atau kepala tiga, pesta pernikahannya belum lama koq. Tetapi kalau searching di Google bisa dapet banyak info lho, misalnya ini di IlmuKomputer.com , ini di ForumNokia, juga ini, ini di PintuNet.com, ini di blog-nya Roland orang bule, karya-karya berupa software yang tampilkannya di Global Shareware, ini bukunya yang berbahasa inggris sbg contributor, dan ini web-nya.

    Tapi sambil menunggu kenal lebih jauh dengan Antony, aku mau tanya, apakah Pak Dosen menyarankan Antony menjadi semacam role model? Dan apakah suksesnya itu tidak bersifat brain drain ? Karena untuk di Indonesia, setahu aku, sistem ekonomi kita yang sangat korup belum memungkinkan untuk berbisnis secara jujur dan sukses dengan hanya mengandalkan kecerdasan dan kecerdikan. Ingat, Tommy Soeharto mendadak jadi konglomerat hanya dengan merengek, minta tekenan bapaknya.

    Terakhir, mengenai komentar Mas Wir yang ini :

    “Orang- orang seperti itulah yang sebenarnya dibutuhkan oleh Indonesia saat ini, dan bukan orang-orang yang dengan gagah berani menunjuk hidung siapa penyebab pembuat onar dunia seperti sekarang ini. Kalau itu sih, setiap orang juga bisa.”

    aku merasa disindir, tapi buat apa capek-capek kalau hasilnya cuma sinisme yang sia-sia?

    Apakah Mas Wir tidak merasa telah melewatkan point yang sangat penting dari komentarku, yaitu kerusakan sistem dan kebangkrutan intelektual, hanya lantaran anda langsung apriori bahwa aku ini cuma jenis orang yang gagah berani menunjuk hidung …dst ?

    Terima kasih Pak Dosen. Senang berdiskusi dengan orang yang berdedikasi dan jujur seperti anda.

    Horas!

    Suka

  8. Wah…. pak Wir jadi mengenang masa2 di Stuttgart…. Emang dulu tepat 100 hari ya pak?

    Tapi kan pak Wir dulu di Stuttgart gak bener2 “sendirian”. Kita dulu sempet masak bareng2 Franhky dan Larry juga pak…🙂

    Oh iya pak, saya juga sebetulnya masih belum mendunia. Masih panjang perjalanan untuk ke sana.

    Suka

  9. Lowongan susah?
    kalo bagi yang pas2an dan malas, mungkin iya, tapi kalo bagi yang ok dan mau belajar terus rasanya gak ada istilah susah nyari kerja deh..

    saya aja sekarang udah mulai kewalahan menerima tawaran ngerjain proyek.. hehehe.. padahal seumur hidup cuma sekali ngirim CV dan surat lamaran ke perusahaan. sisanya kerjaan yang datang sendiri. 🙂

    kalo mind set nya masih : ngelamar ke perusahaan bonafid dan jadi karyawan tetap sih, memang lowongannya relatif sedikit dan persaingannya berdarah-darah. Padahal di Indonesia banyak sekali pekerjaan sipil (khusus bidang sipil, saya gak tau kalau yang lain) skala besar, dan kurang tenaga ahli untuk mengerjakannya. Jadi ada peluang yang sangat besar dengan tingkat persaingan yang relatif lebih ringan (dibandingkan apply ke perusahaan minyak / gas). Pertanyaannya tinggal : “saya mampu nggak ?

    Tapi kalau tiba2 ada krismon jilid 2, bubar deh bisnis konstruksi.. mending saya bikin rumah makan Padang aja, siapa tau jadi gede kayak Sederhana atau Simpang raya.. hehehe.🙂

    -Rp-

    Suka

  10. Mungkin ada satu lagi pak. Mahasiswa kita kurang memiliki semangat berkompetisi. Saat lulus yang dipikirkan bukannya cara menjadi bos yang enak bagi orang lain, tapi malah gimana cara cari bos yang enak.

    Jadilah mental bangsa kita karyawan semua, stagnan, ga maju-maju. Begitu perusahaan butuh pemimpin besar, ga ada orang Indonesia yang berani.

    Mungkin yang Bapak pikir itu bener, hidup itu jangan cuma untuk nyari gaji. Itu perlu ditularin, selain ilmu engineering-nya juga.🙂

    Suka

  11. @Antony
    Iya memang tiap-tiap Sabtu atau Minggu aku ditemani kamu-kamu. Untung sekali ya, coba kalau nggak. Franhky khan di Jakarta, gimana ya kabarnya Larry. Pulang kampung atau seperti kamu ya Antony ?. Mendunia.🙂

    @Robby
    Orang Padang memang terkenal pekerja keras dan ulet. Jadi gelar sarjana khan memang hanya memberi nilai tambah, dari sononya sudah begitu sih. Iya khan mas Robby.

    @Abdul
    Iya, nggak sarjana saja PD dan tidak nggangur. Ini patut ditiru oleh para sarjana. Iya khan pak.😀

    @Hariady
    **mental bangsa kita, karyawan semua**
    Jelas khan pak, karyawan khan lebih banyak daripada pemimpin yang jumlahnya sedikit dan terkesan sendirian. Orang kita itu kalau rame-rame atau massa, itu khan terkenal ‘hidup’ gitu. Tapi waktu dipisah dan sendirian, jadi pendiam. :mrgreen:

    @Robert Manurung
    Ini saya jadikan terakhir, karena diskusinya pasti panjang.😀

    ttg: “kerusakan sistem dan kebangkrutan intelektual”

    ya saya kira itu wajar aja terjadi, gimana lagi, tata nilai di sini khan diukur dari “uang dan materi“. Selain itu adanya budaya “mumpung“. Coba anda lihat pejabat-pejabat negara, anda lihat, bahwa keberhasilan dan kesuksesan itu khan diukur dari “apa dan berapa” mobilnya atau rumahnya atau rekeningnya. Kita khan umumnya sinis, kalau lihat orang ngakunya pejabat atau pimpinan tapi rumahnya atau mobilnya “koq kaya gitu”. Jujur ajalah, iya khan.

    Sedangkan kalau dari segi pendidikan, yaitu sekolah, maka kita bisa tahu bahwa keberhasilan sekolah hanya diukur dari segi “kelulusannya aja”, yang penting lulus. Peduli amat dengan prosesnya. Bahkan pukul rata, semua sekolah, yang lulus jika UNAS-nya juga lulus. Nggak peduli selama tahun-tahun belajar di sekolah itu. Nggak penting, yang penting UNAS-nya. Iya khan.

    Yang punya ide UNAS khan mikirnya, “emangnya gurunya bisa apa”.

    Benar juga, bisa apa ya. Selama ini khan guru itu anonim, maksudku siapa sajalah, yang penting punya ijazah sarjana IKIP atau yang sederajat. Toh modul belajarnya khan sudah ditentukan, dari pemerintah. Jadi tinggal pakai aja.

    Guru senior, ah apa itu. Punya gelar sarjana nggak. Kalau nggak maka perlu ganti anak muda culun tapi punya gelar S2 IKIP, lebih hebat khan.

    O ya, aku omong IKIP, itu khan tahun-tahun dulu. Karena sekarang nggak laku, kalah sama PTN atau PTS non ikip. Maka sekarang khan rame-rame ganti kulit. Itu khan nunjukin bahwa kebijaksanaan menghasilkan guru pada masa lampau kurang mantap. Sorry kalau ada yang tersinggung. Tapi itu fakta khan.

    Jika hal-hal seperti itu, bertahun-tahun ada di negeri ini. Ya pantas khan kalau terjadi erosi intelektual.

    Sebagai bagian orang yang hidup dari gaji guru / dosen, maka nggak ada hasilnya kalau hanya sekedar mengeluh atau menyalahkan orang lain. Bagaimanapun, saat ini aku sedang mencoba, mulai dari diri sendiri, keluarga, murid-muridku, lalu nyoba-nyoba ke awam via blog ini. Bisa berhasil, bisa nggak. Tapi yang penting aku sudah berusaha, memberi yang terbaik, untuk diriku dan Tuhanku, jika sesama bisa melihat itu baik. Syukurlah.

    Gitu aja koq susah.😆

    O ya, ini ada beberapa uneg-uneg saya tentang pendidikan di Indonesia, mungkin ada kaitannya lho dengan hal-hal yang pak Robert sampaikan dan ingin mendapat tanggapan dari saya.

    1. ttg buku SD dan SMP
    2. kunci kemajuan sebuah negara
    3. produktivitas Perguruan Tinggi kita diragukan !
    4. pendidikan ARSITEKTUR Indonesia
    5. Entrepreneurial Lecturer – Welcome
    6. reaksi GURU terhadap UN
    7. ada apa dengan GURU kita ?
    8. Teaching University or Research University ?
    9. Sertifikat ISO di Universitas ?
    10. Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya
    11. INTRO perkuliahan(ku) di UPH
    12. Nilai 100 untuk Tuhan !
    13. Caraku memberi NILAI di UPH
    14. Mata kuliah Unggulan(ku) di UPH
    15. UN yg sedang FAVORIT dan sekolah FAVORIT
    16. MATEMATIKA atau BAHASA dulu ?

    Suka

  12. Ping balik: Dilema sarjana .. « KU LETAK KAN KATA DISINI

  13. to Ary
    Itu jaman saya dulu, sekarang masih menjadi ‘tujuan’ ya.

    Pekerjaan itu kalau bisa memilih, harus disyukuri lho. Karena itu merupakan suatu kemewahan diantara orang-orang lain yang sedang mengemis pekerjaan.

    Iya khan.😛

    Suka

  14. Pak, menurut saya para sarjana yang menganggur tersebut perlu mengubah paradigma dalam mencari pekerjaan. Artinya bahwa pekerjaan itu tidaklah harus ber”merk” seperti di perusahaan-perusahaan ternama.

    Ekstrimnya, kalau dia mengeluarkan keringat karena mengerjakan sesuatu sehingga dia memperoleh sejumlah uang itu sudah dapat dikatakan kerja apalagi sampai bisa menafkahi anak istri.

    salam

    Heri

    Suka

  15. Tapi pada saat ini, dunia engineering sudah mengalami booming lagi. Saya alami sendiri, saya banyak menerima tawaran……..dan perusahaan mengeluhkan kondisi sekarang yang cari orang susah…..Mungkin banyak yang kabur ke luar Negeri. And minggu kemaren ketemu sama teman saya yg kerja di Malaysia, dia mengatakan bahwa sekarang di dunia ini lagi membutuhkan banyak engineer-engineer termasuk Indonesia.

    Perusahaan seperti IKPT, Rekayasa Industri, Truba Group, Saipem, KBR, Tripatra (contractor yg terjun di oil and gas ) lagi mencari banyak orang…….

    Wir’s responds: trims mas Nowo atas infonya. Ayo engineer atau calon engineer manfaatkan baik-baik.

    Suka

  16. betul kata bapak hariadhi, namanya juga negara bekas jajahan jadi begitu pola pikirnya(sampai sekarangpun masih dijajah). sekali2 nampaknya kita harus menjadi negara penjajah. HIDUP PENJAJAHAN!

    Suka

  17. gimana tak pada nganggur wong saya lihat diTV para mahasiswa bisanya pada demo n pinter ngomong doang(walau tak semuanya,tapi kebanyakannya)bbm naik demo, harga sembako naik demo, sekali2 ambil tindakan dong! masa kalah sama yang katanya penemu blue energy.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s