berani hidup atau berani mati ?


Apa yang ada di dalam benak anda, terhadap kata-kata pada judul kalimat di atas.  Tiap orang bisa punya pendapat yang berbeda-beda. Ada yang mengaitkan dengan pejuang kemerdekaan , dimana mereka berhasil melakukan perlawanan meskipun hanya bersenjata bambu runcing. Itu semua menyebabkan banyak orang-orang tua dulu menceritakan mereka sebagai pasukan atau prajuri gagah perkasa yang berani mati.

Tetapi ada juga sebagian orang yang mengkaitkan dengan “manusia bom bunuh diri“, yang menurut mereka adalah juga orang-orang berani mati. Tapi ada juga sebagian orang lain, bahkan satu golongan agam yang berpendapat bahwa “manusia bom bunuh diri” tersebut sebenarnya bukan berani mati, tetapi pengecut karena nggak berani hidup.

Lho koq bisa begitu.

Ya benar, argumentasi mereka adalah bahwa kita diciptakan di dunia ini untuk suatu misi, waktunya terbatas, nanti Tuhan yang akan menentukannya kapan kembali lagi ke pencipta (surga). Misi yang dimaksud adalah mulia, yaitu untuk memuliakan Tuhan , untuk berguna bagi sesama dan diri sendiri. Misi tersebut nggak gampang, karena setiap manusia diciptakan dengan keterbatasannya masing-masing, nggak ada yang sempurna begitu maksudnya. Meskipun dari luar ada yang kelihatan berat (penuh kegagalan), dan ada yang kelihatan ringan (penuh kesuksesan), tetapi kenyataan banyak juga dilihat ada orang yang gagah / kaya tapi mati bunuh diri. Tapi ada juga yang cacat, masih berupaya untuk tetap hidup. Ya begitulah manusia, dengan misterinya masing-masing. Untuk itulah manusia harus berupaya dan berusaha yang terbaik yang dapat dilakukan.

Jadi yang telah melakukan bom bunuh diri itu  jelas nggak berhasil memenuhi misi yang dimaksud, karena dengan membunuh dirinya sendiri itu berarti tidak menghormati kehidupan yang telah Tuhan ciptakan untuknya, juga karena telah membunuh sesamanya itu Tuhan akan lebih marah lagi karena ciptaannya yang lain juga dibunuhnya. Selanjutnya meskipun kadang-kanda mengatas namakan agama terhadap tindakannya itu tetapi nggak setiap orang yang beragama sama akan bangga dengan tindakannya itu. Jika orang saja tidak bangga, bagaimana Tuhannya bisa lebih bangga, pasti akan kecewa berat. 

Mengacu pada uraian di atas berarti berani hidup adalah lebih hebat dan mulia dibanding berani mati. Iya khan.

Pak Wir ! Ingat pak, ini blog bapak sudah terkenal membicarakan tentang structural engineer, kenapa sekarang bapak banyak cerita tentang masalah sosial atau keyakinan hidup sih ? Bapak ini masih dosen teknik sipil atau sekarang mau jadi pendeta ?

Eh, ada yang complaint tho. Sabar, sabar, dengarkan dulu ya.

Kalau melihat pertanyaan anda, saya yakin anda baru bangga-bangganya jadi engineer, mungkin baru awal-awalnya terjun di dunia civil engineering. Kelihatan bersemangat sekali gitu. Ingat bidang kita adalah civil engineering, kenapa civil kenapa nggak strength engineering gitu. Coba jawab hayo. Jadi bidang kita ini lebih dekat dengan masyarakat atau civil society, tugas kita memberikan solusi fisik agar masyarakat puas. Jadi karena misi kita adalah juga masyarakat maka mestinya aspeknya luas dan tidak hanya terbatas pada angka-angka dan formula. Itu penting tapi hanya modal, itu hanya alat, untuk yang memakai harus dibekali suatu visi yang lebih tinggi, filosofis gitu. Termasuk juga hakekat kehidupan ini juga. Karena untuk hidup, tidak hanya sekedar berani saja. Perlu juga pengetahuan yang benar agar kehidupan tadi juga berguna ke diri dan sesama dan ujung-ujungnya ke Bapanya di Surga.

Kembali ngomongin surga lagi. Itu khan masalah orang-orang tua pak, kita yang masih muda ini yang penting produktivitas dan kreativitas. Gitu khan pak !

Ya, memang anak muda memang begitu. Baiklah agar ada kaitannya omongan saya di atas dengan bidang kita yaitu civil engineering saya akan perlihatkan fakta yang tertangkap kamera mahasiswa saya di UPH yaitu Wiwin, nama lengkapnya adalah Wiwin Sudharsono (NIM 02120050015) yang sedang melakukan kerja praktek.

Saudara Wiwin mungkin terinspirasi perkuliahan baja yang aku berikan, dimana aku sering bercerita (mendongeng) bagaimana serunya pelaksanaan konstruksi baja dibanding beton. Ya benar, dalam intro perkuliahanku, selalu kuceritakan bahwa dalam struktur baja tidak hanya soal hitung-menghitung tetapi ada juga aspek detail-fabrikasi-transportasi-dan-erection. Aspek-aspek tersebut harus dipikirkan mulai dari cara pemodelan sampai detail yang digambarkan dan akhirnya dapat dilaksanakan. Mungkin karena uraian saya tersebut maka mahasiswa saya mempunyai energi hebat untuk nongkrongi pelaksanaan erection stuktur baja dan mengabadikan peristiwa-peristiwa menarik yang terjadi.

Kelihatannya sepele, tapi coba anda suruh anak muda untuk tiba-tiba menongkrongi seharian proyek di lapangan terbuka. Nggak gampang lho. Apalagi itu nggak perlu ditungguin. Tetapi kalau dikasih motivasi yang tepat, he, he, he, anak-anak muda yang idealis itu akan sanggup seharian. Hebat khan mahasiswa-mahasiswaku.

Bayangkan, jika saya diumur kepala empat ini disuruh nunggu seharian di lapangan terbuka, wah tenaganya pasti habis. Ya gimana lagi, sudah lama makan dari gaji dosen, jadi fisiknya sudah manja, jadi orang kantoran gitu. Tetapi karena punya murid dan sering nulis ide-idenya (seperti saat ini) maka itu semua dapat menginspirasi mereka.  Saya sering memotivasi mereka ketika konsultasi kerja praktek, tentang aspek-aspek menarik yang dapat mereka tangkap di lapangan. Bayangkan, aspek-aspek yang aku sampaikan sifatnya spesifik tergantung kerja praktek yang dilakukan. Setiap anak bisa beda-beda. Yah, gimana lagi, pengalaman lapangan lebih dari 10 tahun, selain itu suka merenung dan baca artikel, maka cukup lumayanlah wawasan yang aku punya. Jadi meskipun tetap duduk tertib di ruang jurusan teknik sipil uph, tetapi mata, telinga dan pikirannya kemana-mana, karena dibawa oleh mahasiswa-mahasiswa saya tersebut. Jadi dengan kondisi seperti itu maka pepatah “orang kaya tambah kaya”   juga berlaku, dalam hal ini adalah “orang berpengetahuan semakin bertambah pengetahuannya”. Itulah salah satu keuntungan dosen. Ada yang tertarik jadi dosen.

Perhatikan foto yang dibuat Wiwin, perhatikan rangka baja yang diangkat oleh dua crane (nggak tampak) kapasitas 350 ton. Rangka dibagi dua segmen dan disambung ditengah-tengah secara manual. Perhatikan orang-orang tersebut. Bayangkan berapa ketinggian mereka di sana, dibawah adalah lantai beton, jelas cukup tinggi bukan. Pokoknya kalau jatuh, maut dah ! 

Jika dilihat secara lebih detail, khususnya sebelum rangka tersebut tersambung. Perhatikan orang-orang di bawah ini. Coba cari sabuk keselamatan. Ada nggak ?

Wiwin, mahasiswaku tadi sudah tahu apa yang namanya K3 yaitu tentang keselamatan kerja. Ketika di bawah, ketemu orang-orang tersebut. Hal tersebut sudah ditanyakan (mengapa nggak pakai sabuk penyelamat). Apa jawabannya, katanya “Nak Wiwin, kalau saya pakai sabuk penyelamat, itu ngribeti, bisa-bisa saya jatuh nanti. Jadi biar tidak jatuh ya nggak usah pakai“.

Wiwin cuma bisa bengong.  . Akhirnya dia cuma bisa menyajikan foto-foto fakta ini kepadaku, dosennya.

Itulah sekelumit gambaran orang-orang yang berani hidup, yaitu untuk menghidupi dirinya dan juga keluarganya maka resiko pekerjaan seperti itu diambil. Berani benar ya. Meskipun hanya seperti itu,  sederhana, tapi jika benar bahwa itu adalah demi kebahagiaan keluarga dan halal maka itu lebih mulia dibanding “orang-orang berani mati yang membawa bom bunuh diri” tersebut.

Ketika saya menyanjung hal tersebut di atas, ternyata Wiwin masih punya foto lain lagi, kalau ini sih kelihatannya nggak hanya berani hidup, tetapi berani mati juga lho. Bayangkan menggantung di ketinggian hanya berbekal tali (bukan tali penyelamat lho).

Kalau ini sih berani mati beneran, saya yakin itu yang manusia pembawa bom pasti nggak berani kayak gini. Kalah jauh deh beraninya dengan orang-orang ini.

**mode prihatin on**

Meskipun berani mati, tapi jangan ditiru ya, mereka itu begitu karena “tidak tahu”. Kasihan.  

Ayo K3 di bidang konstruksi, bagaimana ini. Itu fakta lho.

13 thoughts on “berani hidup atau berani mati ?

  1. Wah pak, itu sudah sehari-hari, seperti itu. Di Malaysia, Cina juga seperti itu (cuma mereka, safety sedikit lebih baik). Nyawa mereka rangkap 7.
    Banyak doanya.😆

    Suka

  2. Menarik tuh Pak. Mungkin sama aja dengan pengendara motor bebal yang merasa kepalanya sudah tangguh tidak perlu dilindungi helm.

    Lah terus gimana yah menjelaskan sama orang ini ? Mereka sudah terlanjur nyaman dengan cara kerja lama.

    Suka

  3. Menjelaskan ?

    Ha, ha, ha, itu seperti strategi teman-teman kita yang mengagungkan demokrasi. Dialog gitu khan. Itu sih ok, ok, saja untuk orang-orang yang berpengetahuan sederajat atau minimal setara gitu. Hasilnya bisa ya, bisa juga tidak, tergantung tuaan yang mana. Maksudnya kalau yang memberitahu masih muda (anak-anak dianggapnya), maka orang yang merasa banyak pengalaman (tua gitu). Pasti akan mikir “Tahu apa kamu, anak bau kencur”.

    Paling efektif, tipe-tipe seperti itu adalah diberi perintahpakai alat-alat pengamanan” atau “pecat“. Beres, pasti efektif.

    Agar ada pressure seperti itu, maka perlu pengawas K3 yang memeriksa kerja para kontraktor, jika ketemu “denda” atau apa gitu. Kontraktor khan paling takut kehilangan duit (rugi), kalau kehilangan nyawa buruhnya, paling dikasih uang tali kasih. Beres gitu, dan itu nggak seberapa dibanding nilai proyeknya. Sorry ini pernyataan memang tidak didasarkan penelitian yang valid, hanya interprestasi dari berita-berita di koran dan denger-denger rumor yang ada. Moga-moga salah. Tetapi kenapa koq saya punya pemahaman seperti itu, ada asap pasti ada apinya.

    Fakta seperti itu menunjukkan bahwa masyarakat di sini belum bisa semua diarahkan dengan strategi dialog, diberi kebebasan berpendapat. Bayangkan itu saja untuk kepentinganya sendiri, pendapatnya saja khan belum benar. Bagaimana yang lainnya.😀

    Suka

  4. Hehe iya sih, memang perlu agak dipaksa. Mungkin efek pemaksaan itu juga bisa ngedobel kalau orang-orang kaya gini juga “dicuci” otaknya.

    Kaya di film-film gituh, sebelum kerja disekap di ruang gelap, disorot pake lampu terus didoktrin kalau make pengaman itu perlu. Kalau menolak hukumannya disiksa, eh dikitik-kitik, sampe mau nerima.

    Hehehehe, becanda Pak😀

    Suka

  5. Kalo melihat keberanian orang-orang proyek tersebut memang hebat. Tapi keberanian mereka adalah keberania yang bertanggung jawab karena tuntutan hidup yang memaksa. Dari segi manajemen kontraktornya ada yang salah, mengapa tidak mencari alternatif cara keselamatan lain yang lebih memungkinkan bila alasannya tali keselamatan yang ribetin. Kalo pake jala pengaman di bawah dengan kekuatan yang baik apa tidak memungkinkan? Mungkin karena tingkat pendidikan yang rendah sehingga orang tersebut berani, kalo disuruh orang dengan tingkat pendidikan yang cukup mungkin akan mikir 2 sampe 3 kali, kalo perlu dianalisa dulu risiko-risikonya.

    Suka

  6. Ping balik: belajar ilmu dari k3 « The works of Wiryanto Dewobroto

  7. Ping balik: KP-nya sampai KUPANG | The works of Wiryanto Dewobroto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s