ibukota jakarta – nostalgia


Bagi yang bisa hidup jauh dari ibukota kita, Jakarta. Bersyukurlah !

Meskipun tinggal di Bekasi dan kerja di ujung barat Jakarta, yaitu Tangerang, sehingga tiap hari melewati tengah kota (Cawang-Tomang) tapi bukan berarti familiar dengan jalan-jalan di dalam kota Jakarta. Belum tentu sebulan sekali melewati Sudirman-Thamrin, jalan utama Jakarta. Apalagi yang lain-lain yang lebih kecil. Kecuali hari libur dan karena satu dua hal yang telah dipikirkan masak-masak, saya merasa keberatan kalau harus berkendaraan di ibukota. Apalagi kalau sore hari dan hujan. Nggak deh, lebih baik di rumah, nyantai-nyantai nulis blog.

Macet dan banjirnya itu, mana tahan.

Dapet foto dari teman yang wartawan mengenai Jakarta tempo dulu, kelihatannya lebih manusiawi lho dibanding sekarang.

Coba aja bandingin.


<<1>> Lapangan Monas (Monumen Nasional)


<<2>> Mana ya ? Daerah Kota ?


<<3>> Jakarta Pasar Baroe


<<4>> Jakarta Pasar Senen


<<5>> Jakarta Glodok

Coba bandingkan sistem transportasi massalnya, yaitu TREM. Bagus mana hayo dengan busway. Padahal dulu belum banyak ahli transportasi yang bergelar doktor dan profesor lho. Ada gunanya nggak sih, mereka-mereka itu untuk kasus seperti di ibukota itu, koq masih aja pada macet.

11 thoughts on “ibukota jakarta – nostalgia

  1. Inilah rupa desainer yang kurang memperhatikan kondisi lingkungan yang sudah ada, terlebih pemerintah yang sedang berkuasa, melakukan pembangunan demi kepentingan politik semata. jadikan ini suatu pelajaran bagi kita semua………

    Suka

  2. Jakarta banyak berubah tahun 80an keatas.
    Th 80an, saja di sepanjang jln by pass Tanjung Priok-Cililitan gedung tingginya bisa dihitung dengan jari paling juga gedung 8 lantai. Kelapa Gading masih sawah.
    Lima belas tahun saya tinggal di Tanjung Priok (Th90an digusur buat terminal peti kemas) tidak pernah mengalami banjir akibat pasang laut. Jakarta memang sedang t e ng g e lam.

    Suka

  3. deal all
    yang punya hobby fotografi dan semacamnya, alangkah baiknya mengambil gambar-gambar Jakarta yang dianggap masih ‘baik’ dan ‘wah’ sehingga saat ini menjadi dambaan banyak orang untuk berbondong-bondong datang ke Jakarta.

    Siapa tahu nggak lama lagi, gambar tersebut dapat menjadi nostalgia seperti gambar-gambar di atas. Khususnya jika Jakarta nanti udah jadi hutan beton, megah, menjulang tapi tidak manusiawi.

    Suka

  4. Menurut saya, pendapat anda di akhir galeri di atas kurang tepat dan sangat berbahaya karena menuduh ahli transportasi dengan data yang tidak tepat sasaran. Alasannya karena perbandingan yang dilakukan tidak cocok tatanan masa dan komposisinya, masalahnya jelas beda karena sikon Jakarta pada foto anda jelas beda dengan sikon sekarang dan jelas penanganannya berbeda. Misalnya saja masalah kemiskinan, kepadatan penduduk, pengaruh budaya barat yang pada masa kini kental dan itu tidak terjadi di masa lalu.

    Jadi saya hanya mengharapkan kehati-hatian saudara dalam mengambil keputusan untuk menyatakan sesuatu terlebih itu sifatnya menyalahkan orang lain tanpa argumen yang tepat.

    Terima kasih sebelumnya.

    Wir’s responds: mengapa emosi. Saya ulang pertanyaan di atas “ada gunanya nggak sih para ahli tersebut ?”, khususnya terhadap permasalahan macet yang sampai hari ini masih menjadi masalah pelik. Ini khan fakta.

    Suka

  5. Sekali lagi anda telah berbuat hal yang riskan dengan menuduh bahwa saya telah emosi. Mohon dikaji kembali pernyataan anda yang tidak beralasan tersebut.

    Saya hanya mau mengingatkan saudara bahwa alangkah formal dan ilmiahnya jika pernyataan yang dikeluarkan harus disertai data yang akurat, tidak sekedar subyektivitas semata.

    Saya yakin anda adalah orang yang berpendidikan tinggi dan pasti sangat mengerti akan hal tersebut, terima kasih.

    Suka

  6. @Sigrid
    Cara anda menjawab seperti seorang birokrat yang didukung kekuasaan. REPRESIF. Jika anda mengaku sama-sama berpendidikan tentu anda menjelaskan dengan argumentasi, mengapa meskipun sudah ada yang disebut ahli, tetapi macet masih terjadi.

    Bagaimanapun yang namanya ahli, adalah manusia juga. Bahkan yang disebut profesional adalah orang yang tahu apa yang dia tahu dan apa yang dia tidak tahu. Ahlipun umumnya adalah spesialis, tertentu. Jadi tidak benar dapat menyelesaikan semua permasalahan.

    Untuk itulah saya mempertanyakan. Jadi akan ketahuan faktor apa yang menyebabkan para ahli tersebut tidak bisa mengatasi. Simple khan jawabannya.

    Cara-cara yang anda gunakan untuk memperlihatkan ketidak-cocokan ide dengan saya adalah cara-cara kuno, hanya dilakukan oleh orang-orang yang mengandalkan birokrasi dan kekuasaan. Sikap seperti itu akan membelenggu kreatifitas.

    Mengapa masih anda teruskan pada era demokrasi seperti sekarang ini sdr sigrid !

    Suka

  7. Saya kira perdebatan ini disudahi sja karena saya melihat ada kecenderungan ke arah yang menjatuhkan, yang penting A benar, cerdas, demokratis dan sebaliknya B salah, tidak demokratis, tidak tahu apa-apa, dan lain sebagainya, bukan begitu saudar Wir? (maaf, tapi penulisan nama mestinya menggunakan huruf besar pada huruf pertamanya)

    Akan lebih baik kalau kita kembali kepada kegiatan masing-masing, pada hal-hal yang sudah menjadi kewajiban untuk dilakukan. Daripada mengkritik orang, pemerintah atau instansi, lebih baik jika kita kembali pada diri sendiri pakah kita sudah berbuat hal yang maksimal untuk orang di sekitar kita, bahkan negara, jika sudah baik kalau diteruskan, namun jika belum alangkah baiknya kalau kita benahi hal tersebut.

    Sebelumnya terima kasih sekali karena Saudara Wir sudah mau berbagi pikiran dengan saya.

    Suka

  8. @Sigrid
    Terima kasih mas Sigrid atas pemahamannya.

    Terus terang saya hanya mencoba mengkritisi keadaan yang ada, dan tidak mau menunjuk hidung.

    Bagaimanapun masalah transportasi adalah kebijaksanaan yang bersifat kompleks, seperti halnya masalah banjir. Agar sukses maka selain kerja keras dari para ahli harus ada pendekatan kekuasaan, kerelaan masyarakat dan komitment jangka panjang.

    Kalau melihat hal seperti itu, menurut saya perlu seorang leader (dengan dukungan birokrasi, kekuasaan dan dana) yang mau memulai, dan harus berani melakukan perombakan total , tidak hanya sekedar tambal sulam.

    Satu-satunya cara agar transportasi di Jakarta terselesaikan adalah dapat dikembangkan transportasi massal yang terpadu, yang menghubungkan kota-kota satelit disekitar jakarta. Agar transportasi massal baru tersebut tidak tumpah tindih atau menambahi keruwetan masalah maka sebaiknya tidak berbasis pada jalan yang sudah ada. Memang ini adalah impian karena memerlukan dana yang luar biasa. Tetapi sebenarnya jika pemerintah mau ini merupakan infrastruktur yang hebat.

    Begitu pak Sigrid.
    Salam

    Suka

  9. Nah begitulah contoh yang baik dalam berdebat, kalau sepertinya hasil akan “jauh panggang dari api” lebih baik disudahi dengan bahasa yang santun.

    Tapi benar juga pak Wir, kalau statement yang belakangan |” ada guna enggak sih mereka – mereka itu (para ahli dan pakar) untuk kasus kasus macet seperti di ibukota”| bisa bikin sakit hati banyak pihak.

    Tapi saya melihat kalimat itu dari intonasi :

    1. intonasi menekan pada kata guna maka saya dapat menangkap rasa gundah, kecewa, sedikit putus asa, ada pertanyaan : “mengapa koq tidak berubah lebih baik dari tahun ke tahun.”

    2. intonasi menekan pada kata “sih”, maka dalam pemahaman saya |(juga beberapa teman yang orang betawi asli )|, ada “sedikit” menafikan, menuduh bahwa terjadi kesia-sia-an, ada sedikit kesombongan disitu, seolah olah ada “judgement “kamu tidak berguna !!. (yang ini pasti ada yang sependapat, tapi Insya Allah jumlahnya sedikit).

    Nah seperti yang sudah saya sebutkan di awal tadi, ada hikmah yang bisa kita ambil, jika kita tidak sependapat dan mulai di”pressing”, lebih bijak menghentikannya sambil menyiapkan argument yang matang, baru nanti dilanjutkan. Mengelola konflik tidak mudah, mengelola hati untuk tidak terpancing keluar dari akal sehat jauh lebih sulit.

    Yah, beginilah kalau mau berbagi, pahit atau manis memang harus dicecapi.
    Semoga Saudara Sigrid dan Cak Wir telah memberikan contoh arif dalam bertukar pendapat.

    Ini kejadiannya persis waktu Prof Rahmat berbeda pendapat dengan Bp. Teddy Boen pada satu seminar TA adik kelas saya yang menggunakan SAP 2000. Ada hal yang bisa dijelaskan secara rasional dan membuat kami lebih memahami perbedaan dalam melihat suatu persoalan.

    Menarik sekali.

    Suka

  10. Kalau berpendapat sudah dibatasi, dimanakah kebebasan mengeluarkan pendapat?? saya rasa pemilik blog ini bukan sedang ber-orasi atau pidato tentang buruknya sistem transportasi dan tata ruang kota di jakarta saat ini..

    come on.. it’s a nice blog with freakin’ great nostalgic history pictures.. I love “Jakarta Tempoe Doeloe” Pic.

    Keep it up mr. Wir.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s