Road Map ITB Menuju World Class University


Kata pengantar Wiryanto Dewobroto  : tulisan ini saya peroleh dari Prof. Harianto Hardjasaputra, alumni teknik sipil ITB paling senior di UPH. Karena relevan juga untuk teman-teman engineer lainnya maka saya tampilkan pada blog ini. Cukup bermutu untuk dijadikan renungan, pemikiran bahkan motivasi untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi kita. Semoga.

|

Pemeringkatan Universitas Versi Times HES-QS (THES-QS):

ITB Jangan Panik, Ini Masalah Kriteria dan “Public Relations” 
Oleh: Cardiyan HIS

Tahun 2008 akan segera tiba. Musim pemeringkatan universitas di Asia Pasifik dan Dunia pun kembali tiba. Sejak dimulai pertama kali oleh majalah AsiaWeek (Hong Kong) pada 1997 telah menempatkan University of Tokyo sebagai nomor 1 di Asia pada “50 Top Asia Universities” . Dari Indonesia muncul ITB sebagai yang terbaik yakni pada urutan no. 19.  Ranking 19 di Asia jelas sangat membanggakan civitas academica ITB ketika itu. Bahkan karena peristiwanya berdekatan dengan Pemilihan Ketua Umum Ikatan Alumni ITB, para calon Ketua Umum IA ITB sama-sama menjadikannya menjadi isu hangat.  Para calon Ketua Umum IA ITB ketika itu (termasuk Cacuk Sudariyanto yang akhirnya terpilih) hampir sama-sama memasang target; ITB “harus” masuk 10 besar Asia Pasifik. Bukankah 19 sudah dekat dengan 10? Bukan main.

Tak kalah bangganya, sang Rektor ITB sendiri, Profesor Liliek Hendrajaya (ketika itu). Mendapatkan gelar PhD dengan predikat cum laude dari Australian National University (ANU), Liliek Hendrajaya dengan penuh percaya diri bilang bahwa universitas- universitas di Australia harus berpikir keras dengan kualitas ITB termasuk Curtin Institute of Technology (institut teknologi terbaik di Australia), Queensland, Adelaide University, yang rankingnya telah dilampaui oleh ITB. Hanya ANU, NSW University , Melbourne University dan Monash University yang rankingnya sedikit di atas ITB. Bisa dipahami pernyataan Liliek Hendrajaya ini karena dia sangat gusar bahwa setiap tahunnya, Australia mendapatkan devisa demikian banyak (lk US$ 500 juta) dari 16.000 mahasiswa Indonesia yang belajar di Negara Kanguru ini. 

Pada survey majalah “AsiaWeek” tahun 2000, Kyoto University menjadi no 1 karena University of Tokyo menarik diri. Dan khusus untuk Kriteria Selektivitas Mahasiswa, ITB menduduki nomor 1 (tahun 1997 nomor 8), sedangkan untuk  Kriteria Reputasi Akademik,  ITB menduduki papan tengah yakni nomor 20 (tahun 1997 nomor 34) dengan skor 70% dari skor maksimal 100% pada universitas peringkat 1. Untuk total skor ITB menduduki nomor 21.

Yang menarik bagi penulis sehubungan dengan tema tulisan ini;  mengapa University of Tokyo menarik diri? Apakah mereka takut tersaingi dan kemudian disalib oleh universitas lainnya? Ternyata alasan Rektornya sungguh bijak. Menurut Presiden/Rektor University of Tokyo Shigehiko Husumi, PhD (ketika itu); ”Kualitas pendidikan dan riset tidak dapat dibandingkan antara universitas yang satu dengan universitas yang lain. Seperti juga karakteristik seseorang adalah sangat sulit untuk dikuantifikasi. Namun demikian University of Tokyo akan terus secara konsisten meningkatkan kualitas Advanced Research jauh ke depan”. (Missing Your School? Why 35 universities did not join”, AsiaWeek June 30, 2000) dan juga baca ”A Word from President, ( http://www.u-tokyo.ac.jp/president/index.html ). 

Kebijakan seperti University of Tokyo inilah yang sebetulnya dan sebaiknya ditiru oleh ITB dalam menyikapi survey oleh the Times Higher Education Supplement-Quacquar elli Symonds (THES-QS) World University Rankings dari Inggris untuk tahun 2007, yang menempatkan UGM pada urutan 360 (tahun 2006 nomor 270), ITB urutan 369 (tahun 2006 nomor 258) dan UI nomor 395 (tahun 2006 nomor 250).

Memahami Kriteria dan Soal “PR”

Apa di balik gemerlap pemeringkatan universitas di dunia ini bagi dunia pendidikan Indonesia ? Kita hendaknya menyikapinya dengan bijak sebijak Rektor University of Tokyo itu. Yakni ada atau tidak ada pemeringkatan universitas di Asia Pasifik dan Dunia, kampus-kampus di Indonesia tak boleh tidur! Bangun, bangun…..! Berpaculah dalam balapan riset yang berbasis Hak Paten dan Hak Cipta (Hak Atas Kekayaan Intelektual/ HAKI).
 
Mengapa? Karena dari sinilah orientasi kerja universitas yang benar yang berlaku universal. Bagaimana kita harus mengejar ketertinggalan? Universitas- universitas di Indonesia, jangan hanya semangat dan pintar mengisi borang agar mendapatkan banyak akreditasi A versi BAN (Badan Akreditasi Nasional) tapi produk riset berbasis HAKI-nya sangat minim.

Jadi jangan sedikit saja ada ”prestasi” versi BAN malah dijadikan ”public relations”  (PR) murahan yang menipu diri sendiri. Bagaimana bisa terjadi universitas sebesar Universitas Indonesia (UI) yang dari jaman dahulu kala berambisi menjadi “Universitas Riset” misalnya, ternyata sampai sekarang hanya mampu mencetak 8 paten? ITS Surabaya 8 paten, IPB Bogor 3 paten, UGM Yogyakarta 25 paten. Dan hanya ITB Bandung yang mampu memiliki sedikitnya 100 paten, dimana 30 di antaranya siap lisensi dan 10 paten sudah berhasil dikomersialisasi. 

Bagaimana dengan publikasi tulisan ilmiah para dosen kita di jurnal internasional seperti tercermin pada Citations Index? Ternyata hanya ITB yang paling tinggi dengan 0,062 (ada 62 publikasi international yang terakreditasi dari populasi 1.000 dosennya) pada tahun 2007. Sedangkan UGM, UI, Unair hanya 0,01. Bandingkan misalnya dengan Australian National University (ANU) yang Citations Indexnya selalu diatas 2,0 setiap tahunnya. Atau jangan jauh-jauh tetangga kita sesama anggota ASEAN, yang pada ranking AsiaWeek 1997 jauh di bawah ITB; Chulalongkorn University (Thailand) ternyata Citation Index-nya telah melampau angka 0,10.  

Penulis sangat salut kepada sikap Kepala Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan (PSPK) UGM, DR. Susetiawan, yang mengingatkan tanpa menafikan prestasi UGM di kategori Ilmu-ilmu Sosial, UGM harus tetap mawas diri dan tak lupa melakukan otokritik. ”Benarkah UGM sudah sesuai dengan peringkat kualitas tersebut?”, tanya doktor peneliti sosial UGM ini. Menurut Susetiawan, kalangan akademik harus mempertanyakan keabsahan pemberian peringkat tersebut, sebab kenyataannya sampai saat ini belum ada figur ilmuwan sosial yang dilahirkan dari UGM dan menjadi rujukan kalangan akademik. Sampai saat ini, mereka yang menjadi rujukan hasil penelitian ilmu sosial di Indonesia justru berasal dari peneliti asing seperti Lance Castel, Clifford Geertz dan Robert Hefner.

Menurut pendapat penulis hasil pemeringkatan universitas di dunia hanya cocok dan  ada korelasi langsung dengan performa universitas yang bersangkutan berdasarkan Kriteria yang ditetapkan penerbitnya dan Validitas-nya akan pas hanya pada negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jerman, Swiss, Spanyol, Belanda, negara-negara Skandinavia, Kanada, Australia, Jepang. Pokoknya pada negara-negara maju.

Coba lihat Kriteria the Times Higher Education Supplement-Quacquar elli Symonds (THES-QS) World University Rankings. Kriterianya didasarkan kepada:

  1. Research Quality (indikatornya adalah Peer Review bobotnya sebesar 40% dan Citations per Faculty bobotnya sebesar 20%). 
  2. Graduate Employability (indikatornya adalah Recruiter Review bobotnya sebesar 10%). 
  3. International Outlook (indikatornya adalah International Faculty bobotnya sebesar 5% dan International Students bobotnya sebesar 5%).
  4. Teaching Quality (indikatornya adalah Student Faculty bobotnya sebesar 20%)

Total skor 100%
     
Menurut pendapat penulis Kriteria THES-QS ini masih mengandung unsur Subyektifitas Tinggi. dan juga Magnitute-nya yang subyektif, lebih condong kepada negara-negara persemakmuran.

Pertama;  karena bobot terbesar dengan indikator yang ditentukan oleh Peer Review mencapai 40%. Sebaiknya bobotnya dibalik diberikan kepada Citations per Faculty yang menjadi 40% dari 20%. Mengapa? Karena kualitas publikasi hasil riset akan diseleksi sangat ketat dalam waktu yang relatif lebih lama oleh Sidang Dewan Redaksi yang terdiri dari para periset kelas dunia di bidangnya dari pada sekedar penilaian sesaat dari para koresponden yang diminta penilaiannya oleh survey THES-QS.

Kedua; Graduate Employability apakah sebaiknya kriterianya tidak hanya terbatas kepada kuantitas dan kualitas para profesional tetapi juga ditambah dengan bagaimana para lulusan suatu universitas mampu mencetak entrepreneur kelas dunia atau setidaknya entrepreneur baru, seperti yang lazim dilakukan oleh para penyelenggara pemeringkatan universitas di Amerika Serikat. Kemudian penyebaran survey THES-QS; apakah sudah berimbang antara Bidang Sosial dan Bidang Teknologi? Dan bagaimana keterjangkauan terhadap area lapangan kerja para profesional? (Profesional ITB di bidang Minyak dan Gas serta Tambang Umum misalnya sudah menjadi semacam diaspora di dunia. Apakah sudah terjangkau oleh THES-QS?).     

Ketiga; Teaching Quality sebaiknya tidak hanya melihat kepada rasio dosen dengan jumlah mahasiswa tetapi juga kepada Selektivitas Mahasiswa-nya ketika mereka masuk di masing-masing universitas (Ini akan merupakan bobot besar bagi ITB bila demikian kriterianya seperti halnya kriteria AsiaWeek, US News & World Report dan Badan Akreditasi di USA).  

Disamping itu, ada juga magnitute-nya tentang kemungkinan penilaian subyektif yang lebih condong kepada Inggris dan negara-negara anggota persemakmuran (Dalam kasus ini ambil Malaysia, yang dari publikasi ilmiah yang dimuat di jurnal internasional sebenarnya masih kalah dari ITB. Juga kualitas pengajaran; apakah Times tahu begitu banyak dosen ITB yang mengajar di universiti-universi ti di Malaysia?). Jadi disini ada semacam ”public relations” yang bermain, setidaknya ada kedekatan jarak antara London dan Kuala Lumpur. Tak mengherankan karena dari segi upaya pencitraan dalam berbagai bidang, Malaysia sudah sangat terkenal, bukan? 


Djoko Santosa, rektor ITB

Oleh karena itu, ITB tidak usah panik. Untuk jangka panjang; ITB hendaknya lebih mengacu kepada ranking yang dilakukan oleh Shanghai Jia Tong University Ranking yang kriterianya lebih berbobot dan unsur subyektifitasnya relatif lebih kecil.  Meskipun tentu akan kalah dari segi ”public relations” dibanding ranking universitas yang dilakukan oleh media cetak the Times, London (UK).

Seperti diketahui kriteria  Shanghai Jia Tong University Ranking adalah sebagai  berikut:

  1. Quality of Education (dengan indikator ”Alumni of an institution winning Nobel Prizes and Fields Medals” bobotnya 10%).
  2. Quality of Faculty (dengan indikator ”Staff of an institution winning Nobel Prizes and Fields Medals” bobotnya 20% dan ”Highly cited  researchers in 21 broad subject categories” bobotnya 20%) 
  3. Research Output (dengan indikator ”Articles published in Nature and Science” bobotnya 20% dan ”Articles in Science Citation Index-expanded, Social Science Citation Index” bobotnya 20%).
  4. Size of Institution (dengan indicator ”Academic performance with respect to the size of an institution” bobotnya 10%). 

Total skor 100%.

Tak mengherankan bila ranking NUS  dan NTU dari Singapura ”jeblog” karena mendapat skor 0 (nol) untuk Score on Alumni dan Score on Award versi Institute of Higher Education, Shanghai Jiao Tung University, yang memberikan bobot 80% bagi hasil-hasil riset dalam “Academic Ranking of World Universities 2006: Top 500 World University”. Adakah dosen peneliti NUS dan NTU yang nota bene mendapat remunerasi sangat menggiurkan  yang telah mendapatkan Hadiah Nobel? Civitas academica NUS dan NTU satu pun belum pernah meraih Hadiah Nobel sedangkan University of Tokyo dan University of   Kyoto telah lama meraihnya. 

Apa sih discovery (penemuan), invention (perekaan) dan innovation (inovasi) kelas dunia yang telah berhasil diraih oleh NUS dan NTU dengan dana riset masing-masing sekitar US$ 300 juta/tahun atau 150 kali lebih besar dari dana riset ITB? Justru dosen-dosen peneliti ITB yang perlu dibanggakan dan dihargai oleh Bangsa Indonesia karena dengan dana riset US$ 2 juta per tahun mampu menghasilkan inovasi-inovasi kelas dunia dari riset-riset dasar maupun riset terapan yang berbasis HAKI internasional (ITB memiliki lebih 100 HAKI, 30 siap lisensi, 10 telah dikomersialisasi) , yang hebatnya sebagian diseminarkan di ”kandang macan” NUS dan NTU. Termasuk di antaranya, penemuan Dicky Rezadi Munaf, PhD, tentang Metoda Agregat Prepak dan Alat Injeksi Plasma Semen yang akan diterapkan oleh NASA untuk konstruksi di Bulan. Atau penemuan proses pembuatan bir tanpa menghasilkan ekses limbah dari I Gede Wenten, PhD, yang dinilai oleh para peneliti Eropa sebagai revolusi dalam teknologi proses makanan dan minuman dalam 50 tahun terakhir di dunia. 

Namun harus diakui memang, Singapura boleh disebut nomor 1 dari segi ”Entrepreneur Pendidikan”. Karena dengan dana berlimpah dari Pemerintahnya, mereka berhasil mengelola universitasnya antara lain; berhasil merekrut dosen-dosen asing kelas dunia dengan remunerasi sangat besar untuk bekerja di NUS dan NTU. Sehingga keberadaan mereka menjadi daya tarik dan mampu menyedot lebih banyak mahasiswa asing untuk belajar di NUS dan NTU. Pengelola NUS dan NTU dengan mudah membeli fasilitas laboratorium secanggih dan semahal apapun misalnya reaktor MOCVD canggih pembuatan film tipis untuk teknologi nano (Sementara Fisika ITB melalui Profesor Barmawi, untuk memiliki reaktor MOCVD harus membikin sendiri dan ternyata mampu membuat 3 reaktor dengan nilai biayanya sepertiga dari belanja NUS dan NTU untuk pengadaan 1 reaktor!). 

NUS dan NTU enteng saja membangun jaringan internet dengan bandwidth super highway (dengan kapasitas 10 Gbps) karena dananya melimpah. Sementara ITB yang di Indonesia satu-satunya universitas yang memiliki kapasitas terbesar yakni 55 Mbps masih harus berjuang panjang untuk mendapatkan kapasitas yang telah dimiliki oleh NUS dan NTU, agar para dosen peneliti di Observatorium Bosscha, Departemen Astronomi ITB melalui jaringan radio Astronomi, Australia (AARnet), Jepang dan Eropa bisa bekerja bergandengan dengan para peneliti di NASA, USA, untuk menjelajah antariksa. 

Jangan dilupakan pula, Singapura adalah salah satu pusat bisnis di dunia. Sehingga para lulusan NUS dan NTU telah memiliki kedekatan untuk selalu berada pada pantuan para manajer SDM atau recruiters atau head hunter atau endusers. Dari para manajer SDM inilah para penyelenggara pemeringkatan universitas mendapatkan penilaian tentang performa para lulusan NUS dan NTU. Kriteria-kriteria pemeringkatan universitas yang mengedepankan indikator-indikator seperti itulah yang menyebabkan NUS dan NTU selalu mendapat skor tinggi.
 
Hanya Didesain untuk Survive

Mengapa pemeringkatan universitas di dunia hanya cocok untuk universitas- universitas maju seperti di Amerika Serikat misalnya? Karena di Amerika Serikat, sudah ada sedikitnya 228 Universitas Riset (147 milik pemerintah federal AS dan 81 universitas swasta) dari 3.700 universitas yang ada. Bahkan untuk universitas- universitas papan atas (mereka menyebutnya Ivy Leage) derajatnya bukan soal Universitas Riset lagi tetapi bagaimana menjadi Universitas Entrepreneur. Perbedaan skor antar mereka sangat tipis dalam setiap kali pemeringkatan universitas. Dan yang akan memenangkan persaingan adalah Universitas Riset mana yang dapat mencetak berapa entrepreneur baru setiap tahunnya? Disini MIT dan Stanford University sangat menonjol, sehingga dijuluki sebagai ”Universitas Entrepreneur” . Dan perlu dicatat pula, universitas- universitas papan atas di AS adalah mendominasi penerimaan ratusan Hadiah Nobel yakni mencapai 70% dari yang diperoleh penerima Hadiah Nobel di seluruh universitas dan lembaga riset di dunia. (Sebagai ilustrasi, 63 orang civitas academica MIT berhasil menyandang Hadiah Nobel sampai per 3 Oktober 2006)

Bagaimana mau mengejar ketertinggalan dalam balapan kemajuan sains dan teknologi, kalau Pemerintah RI malah cuci tangan dalam membelajakan dana bagi pendidikan demikian kecil. Dari segi dana yang dikucurkan oleh Pemerintah, universitas- universitas di Indonesia memang hanya didesain untuk survive saja, seolah tidak diharuskan untuk bersaing. Pemerintah disini memang benar-benar cuci tangan. Bagaimana review atas perjalanan universitas/ perguruan tinggi yang telah menjadi PT BHMN? Menurut Komisi VII DPR, kegiatan usaha yang dilakukan PT BHMN belum memberi sumbangan yang signifikan dalam pembiayaan, kecuali di ITB. Jadi    pola pikir Pemerintah RI sudah harus dirubah mulai sekarang. 

Dari mana dana riset untuk universitas harus diadakan? Kalau berdasarkan prosedur harus berasal dari dana APBN yang untuk tahun 2007 keseluruhannya hanya berjumlah Rp. 43,4 triliun saja.  Padahal dana pendidikan 20% adalah amanat UUD 1945. Jadi khusus untuk dana riset akan sangat sulit untuk direalisasikan dari sumber APBN. Anggaran Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang diterima Ditjen Pendidikan Tinggi 2007 hanya Rp. 338,03 milyar. Mana cukup? Yang logis dan praktis dalam jangka pendek adalah dari Dana Kompensasi BBM (Bahan Bakar Minyak) yang jumlahnya puluhan triliun rupiah! 

Namun hal itu harus dilakukan dengan penuh tanggung-jawab. Langkah aksinya adalah petakan terlebih dulu universitas- universitas di Indonesia berdasarkan kemampuan terbaik atau unggulan Program Studi (Prodi) masing-masing universitas. Bila Road Map sudah ada, maka semua kemampuan terbaik masing-masing universitas di Indonesia ini tinggal disinergikan dalam suatu Skenario Besar sebagai asset Indonesia Incorporated. Dengan demikian bisa dijadikan lokomotif penarik untuk mampu bersaing di kawasan Asean pada Tahap Awal, Asia pada Tahap Kedua dan tingkat Dunia pada Tahap Jangka Panjang. Selain itu, universitas- universitas mana yang diberi tugas membantu membina universitas- universitas di daerah yang masih ketinggalan (Affirmative Action), bisa diatur dari Road Map tadi.

Bila sekarang sebagian besar (90%) dana universitas dibelanjakan untuk gaji pegawai dan biaya operasional sehari-hari. Maka untuk ke depan secara bertahap dana tersebut sebagian besar hendaknya dialokasikan untuk dana riset dimana di dalamnya sudah ada peningkatan signifikan atas remunerasi dosen (gaji dan tunjangan peneliti), dana peningkatan fasilitas laboratorium riset, dana belanja bahan, dana riset lapangan, dana peningkatan SDM pada keikutsertaan dalam forum-forum seminar dan pertemuan ilmiah internasional, dana penulisan hasil-hasil riset, dana pengurusan HAKI dan komersialisasi HAKI dan sebagainya. 

Dengan telah diakomodasikannya keinginan para pelaku utama di kampus-kampus Indonesia tak ada alasan lagi bagi para dosen untuk terus tidur, ngajar seenaknya, enggan meneliti tetapi ngobyek dimana-mana. Kini mereka tidak hanya terbatas memberi kuliah mahasiswa di ruang kelas saja tetapi juga aktif mendidik mahasiswa secara manusiawi agar meningkat nilai tambahnya menjadi calon-calon pemimpin yang berkarakter untuk memimpin Indonesia di masa depan. Mereka hendaknya menghabiskan waktunya untuk membaca, mengeksplorasi dunia maya, meneliti dan kemudian menuliskannya pada jurnal-jurnal ilmiah kredibel, sehingga Citation Index para dosen peneliti Indonesia meningkat pesat. Sungguh memprihatinkan bahwa sekarang ini hanya ITB yang memiliki Citation Index di atas 5% tepatnya 6,2%, sedangkan kampus-kampus utama lainnya di bawah 1%. Padahal kita mengetahui bahwa ada adagium di kalangan kampus  ‘’publish or perish’’. Yakni universitas telah mati kalau para dosen penelitinya tak mampu melahirkan riset bermutu internasional dan tak mampu pula mempublikasikan hasil risetnya di jurnal-jurnal berakreditasi internasional

Pemerintah RI harus belajar kepada kepedulian Pemerintah Kerajaan Malaysia tentang betapa pentingnya pendidikan. Pemerintah Kerajaan Malaysia telah menghibahkan dana riset sebesar US$ 25 juta pada periode 2000-2002 agar Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) meningkat menjadi Universitas Riset. Meskipun hasil riset pada UKM belum begitu impresif bila dibandingkan dengan pencapaian hasil-hasil riset ITB misalnya. Tetapi Pemerintah Malaysia paling tidak telah memberikan komitmen tinggi dalam peletakan dasar yang kuat bagi tumbuh kembangnya iklim riset di kalangan kampus mereka. 

Contoh yang lain adalah perlakuan khusus Pemerintah Korea Selatan terhadap Seoul National University (SNU) dan KAIST (Korean Advanced Institute of Science and Technology) yang dijadikan lokomotif universitas di Korsel. Kendatipun telah menghasilkan riset-riset kelas dunia (termasuk dari sedikit universitas pengkloning pertama domba di dunia) ternyata secara reguler SNU masih tetap menerima kucuran dana US$ 50 juta per tahun untuk keperluan risetnya dari Pemerintah Korea Selatan (Research Activities in SNU, 2003.6.17, Office of Research Affairs, SNU). Begitu pula KAIST yang mendapat Research Grants per Professor sebesar 250 juta Won (sekitar Rp.15 milyar) per tahun 2003 dan ditargetkan meningkat menjadi 300 juta Won (lk Rp. 18 milyar) pada tahun 2010. Salah satu riset unggulan KAIST adalah berhasil dikomersialisasikan nya hasil penelitian KAIST yakni leukemia treatment bernilai milyaran US dollar, (KAIST Vision 2010, http://www.kaist.edu). 

Bahkan MIT yang sudah demikian hebat performanya masih dikucuri dana investasi Pemerintah AS yakni 70% perolehan dana risetnya berasal dari Pemerintah Federal yang memberikan proyek-proyek Riset Dasar skala besar, sedangkan proyek riset lainnya berasal dari perusahaan-perusaha an industri multinasional dan organisasi nirlaba milik para filantropis kaya raya. Maka sudah sepatutnya Pemerintah Indonesia juga harus memberikan perhatian yang lebih besar masalah dana riset ini kepada universitas- universitas di Indonesia agar mereka mampu berkiprah lebih jauh bagi kemajuan Bangsa Indonesia. 

Tak mengherankan bila MIT pada tahun 1994 berdasarkan penelitian Boston Bank yang bertajuk. “MIT: The Impact of Innovation”, telah berkontribusi luar biasa tidak hanya bagi AS tetapi juga bagi dunia. Para alumni MIT telah mampu membangun 4.000 perusahaan dengan ”sales turnover” US$232 milyar, sehingga mereka mampu membuka kesempatan kerja bagi 1.100.000 orang di berbagai dunia. Pencapaian ini telah menempatkan MIT sama dengan kekuatan ekonomi dunia pada urutan ke 24 karena sales turnovernya setara 2 kali GDP Afrika Selatan yang besarnya US$ 116 milyar (MIT Graduates Have Started 4,000 Companies With 1,100,000 Jobs, $232 Billion in Sales in ’94, (http://web.mit.edu/newsoffice/1997/jobs.html).

Mudah-mudahan tanggungjawab seperti ini menjadi program yang menantang bagi Ikatan Alumni ITB yang baru berpesta demokrasi dengan memilih Ketua Umum IA ITB, Hatta Rajasa. 

Suatu kalkulasi yang dilakukan MIT Technology Licensing Office menyebutkan bahwa Pemerintah AS memperoleh keuntungan kembali yang sangat tinggi atas dana investasi Pemerintah pada pembiayaan riset ilmiah di berbagai universitas dan lembaga riset. Sementara universitas, lembaga riset dan para inventornya hanya mendapatkan kurang dari 3% atas royalty dari hasil penjualan lisensi teknologinya. Sedangkan Pemerintah AS mendapatkan 15% dari hasil penjualan lisensi teknologi tersebut melalui ”income taxes”, ”payroll taxes”, ”capital gains taxes” dan ”corporate taxes”. Serta jangan dilupakan Pemerintah AS mendapat keuntungan signifikan pula karena bebas menggunakan manfaat dari paten-paten tersebut (Kenneth D. Campbell, ”TLO says government research pays off through $3 billion in taxes”, MIT News Offices, April 15, 1998).

Berkali-kali AS mengalami guncangan ekonomi karena terjadinya defisit APBN bahkan jauh melebihi pada angka psikologis US$500 milyar per tahun. Tetapi mereka selalu berhasil lolos dari krisis, dan dalam hal ini peranan kampus-kampus universitas dan lembaga riset tak bisa dibilang enteng. Mereka telah mampu memerankan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi, kata Presiden Yale University, Richard C. Levin dalam pidatonya di Tsinghua University, Beijing, Cina (Richard C. Levin, “The University As an Engine of Economic Growth”, Tsinghua University, May 2001).

Cardiyan HIS adalah pengamat pendidikan dan perkembangan kualitas institusi. Sedikitnya telah menulis 25 buku, baik sebagai penulis langsung maupun beberapa di antaranya sebagai editor. Ada sedikitnya 100 paper yang disajikan pada berbagai fora seminar dan pertemuan ilmiah tahunan. Dan sedikitnya 1.000 artikel di berbagai  media cetak ditulisnya sejak menjadi siswa kelas 1, SMA Negeri 2 Tasikmalaya, tahun 1970.   Sehari-hari adalah President & CEO, SWI Group, Jakarta . ITB angkatan tahun 1973, Departemen Teknik Geodesi dan Geomatika.

9 thoughts on “Road Map ITB Menuju World Class University

  1. walah2, saya kok malah belum liat tulisan ini di milis alumni sipil itb.. terima kasih P Wir yang mau memuat tulisan mengenai ITB di blog ini…

    world class university ?
    teuing ah…

    yang saya tau, kalo untuk teknik sipil nya sudah layak “menuju world class engineering consultant firm“… hehehe… dosen2nya pada punya proyek dari Sabang sampai Merauke..

    warm regards
    -Rp-

    Suka

  2. tambah komentar lagi :

    Bung Cardiyan HIS dalam setiap tulisannya tentang ITB sejak tahun 2000 selalu membangga-banggakan penemuan P Dicky Munaf atau P Wenten. apa gak ada yg lebih baru nih?

    yg saya tau : teknologi membran nya P Wenten rada belum applicable di industri (yg cerita temen saya alumni Teknik Kimia ITB) dan P Dicky Munaf sudah tidak mengajar lagi di Sipil ITB.. so??

    -Rp-

    Suka

  3. Hehe dimana ada Robby disitu ada Donald…

    Gimana rob jumlah jam kuliah kalian kepotong abis ya?. Tapi ada sisi baiknya juga sih, kaya pak AN.. waktu itu lagi kuliah FEM eh dapet telp, lama bener ada kali 15-20 menit di depan kelas lagi. Diakhir pembicaraan beliau tersenyum2 sendiri yah dapat ditebak ujung akhir pembicaraan telpnya. Rupanya ada dampak positifnya ke angkatan 2005 hehehe.

    ITB world class university–saya mendukung sepenuhnya btw di Indonesia ini ada kaya postdoctoral research yang didanai kaya di Amerika gak sih, mungkin dari DIKTI gitu?

    Suka

  4. Selamat siang Pak Wir,
    Issue dan tulisan yang menarik, thanks sudah meng-upload-nya di sini.

    Saya ingin komentar sedikit. Pada prinsipnya saya setuju ITB atau univ mana pun di Indonesia menjadi world class university. Tapi hal yang lebih penting menurut saya adalah meningkatkan kompetensi dan kontribusi universitas itu sendiri terhadap problem-problem lokal. Kalau masalah kompetensi dan kontribusi ini sudah dijalankan dengan baik maka niscaya kualitas ‘world-class’ itu akan datang dengan sendirinya.

    Kalau target univ adalah untuk meningkatkan rangking menurut kriteria yang ditetapkan oleh THES-OS, sebenarnya langkah2 strategisnya lebih gampang,

    1. Bentuk saja lembaga penelitian strategis yang diisi oleh peneliti-peneliti kelas dunia (percayalah mereka akan datang dengan sendirinya kalau fee-nya bersaing).

    2. Adakan kelas sandwich atau twining program dgn univ di luar (lagi-lagi makan duit) untuk meningkatkan profil atau aroma globalnya.

    3. Sering kirim staff nya keluar negeri ikut konferensi2 international. (solusi PR)

    Menciptakan sebuah riset yang layak published di journal international (thus increase the citations as well as ranking) itu tidak gampang, tapi yang jauh lebih susah lagi adalah menciptakan riset yang berguna utk masyarakat. Dalam paradigma ilmiah, sebuah journal paper dinilai oleh peers yang jumlahnya mungkin hanya 3-5 orang sedangkan riset yang aplikatif dinilai oleh semua orang, nah ini yang lebih sulit.

    Saya rasa yang dibutuhkan Indonesia sekarang bukan world class univs, tapi lebih ke ‘providing-world-class-solutions-for-local-problems-universities

    Saya pernah menulis sedikit ttg persepsi univ yang menurut saya layak disebut jadi rangking di http://thejakartapost.com/yesterdaydetail.asp?fileid=20060717.F04

    salam

    Suka

  5. world class solution for local problems?

    kalo untuk Bandung sebenarnya banyak sekali yg butuh solution (mungkin gak usah yg world class) :

    – Tata kota, Bandung termasuk kota dengan penataan paling amburadul.. Bandung utara dijadikan perumahan elite, daerah Punclut malah dibikin jalan akses yang katanya udah ada amdalnya. (tempat saya diospek dulu.. hehe, waktu bos Dion masih doyan bawa gulungan koran dan mengetes kekuatan punggung kuya nya terhadap beban impact) . Gara2 tata kota yg amburadul ini, Bandung selatan selalu dapat jatah kebanjiran tiap tahunnya.

    – Lalu Lintas, mungkin ini juga masalah turunan dari tata kota yg amburadul.. meskipun belum separah Jakarta sih. selain aspek pengaturan lalu lintas, kondisi fisik jalan di Bandung juga gampang rusak.

    – Drainase kota, kalo udah hujan, jalan Dago, Setiabudi bakal seperti got raksasa..

    – SAMPAH.. nah ini dia permasalahan paling mengganggu.. Masa’ Bandung yg katanya kota wisata, kota mode, kota bunga malah penuh sampah. Kota asal saya yaitu Padang, jauh lebih bersih deh. Khusus masalah ini, udh ada solusi dari ITB yaitu dibangunnya Pengolahan sampah Terpadu, sehingga ke depannya tidak ada lagi TPA atau Tempat Pembuangan Akhir..

    itu baru sebagian kecil, namun adalah masalah dasar… jangan dulu ngomong mau bikin industri elektronik raksasa Bandung Silicon Valley jika ngurusin tata kota, lalu lintas, drainase atau sampah aja belum bisa. iya nggak?

    Mungkin bisa berkilah : itu kan urusan pemda nya, selama Pemda nya gak minta advice ke ITB (baca : ngasih proyek ke ITB) maka ITB tidak bisa berbuat apa2..
    Mungkin ada benarnya, tapi masa sih ITB yang jadi konsultan masterplan beberapa kota kaya di Indonesia (ex : Kab. Siak di Riau), tapi rumah sendiri gak mau ngurusin dengan alasan gak ada yg nawarin proyeknya? masa’ semuanya harus jadi proyek dulu?

    eh, udh kepanjangan dan ngelantur ya? ya udahan dulu lah, ntar di sambung lagi..

    -Rp-

    Suka

  6. “misalnya, ternyata sampai sekarang hanya mampu mencetak 8 paten? ITS Surabaya 8 paten, IPB Bogor 3 paten, UGM Yogyakarta 25 paten. Dan hanya ITB Bandung yang mampu memiliki sedikitnya 100 paten, “….nimbrung nih kampus saya UNSRI 30 Paten lho

    Suka

  7. Salut untuk rencana kedepannya, paling tidak kita tahu bahwa sebagai Institut terbaik ITB masih punya mimpi dan target, dan harus diingat bahwa “mimpi itulah yang membuat kita menjadi hidup dan target itulah yang membuat kita mejadi berusaha”, tentu saja mimpi dan target dengan perhitungan.

    Salam ITB….!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s