hal memberi dan meminta


Salah satu kegemaranku, selain membaca buku-buku tentang structural engineering, computer programming, fotografy digital atau digital manipulation juga membaca komik.

Komik pak ?:mrgreen:

Iya, komik. Heran ya ? Terus terang, saya ini salah satu penggemar komik. Sekarang sih, sudah jarang membacanya sejak hobbyku tersebut diambil alih anak putriku yang pertama. Bahkan sebagian besar koleksi lamaku sekarang menjadi koleksi anakku, yaitu komik Kungfu Boy.

Mula-mula, komikku yang pertama, yaitu saat itu aku masih SD adalah komik Ulam Sari. Aku masih ingat waktu itu, komiknya agak besar, ukuran kuarto, karangan R.A Kosasih. Sejak itu, buku-bukunya aku punyai. Ada buku Ramayana, ada buku Mahabrata. Komik silat juga sih, tapi nggak sampai koleksi atau beli tetapi menyewa doang.

Tentang komik wayang, akhirnya cukup hapal ceritanya, di tambah waktu kecil di Yogya, jadi malam hari sering dengar wayang kulit. Jadi filosofi tentang wayang cukup membekas. Cerita wayang waktu itu aku pakai sebagai modal untuk apel. Ya, apel setiap malam minggu ke pacarku, yang sekarang sudah jadi istriku, dan ibu dari dua anak-anakku. Wah seru waktu itu.

Anak-anak muda sekarang kalau apel, bahan ceritanya apa ya ? 

Semakin umur bertambah, kegemaran komik sedikit-sedikit masih ada. Tapi nggak seperti dulu. Tapi yang jelas, hampir setiap minggu masih beli komik. Bukan untuk aku tapi anakku yang merengek, biasanya setelah pulang dari gereja. Jatah begitu kesannya. Itu lemarinya aja sudah hampir penuh dengan komik. Kayaknya nurun juga dari aku. O ya, semakin tua, membaca buku-buku falsafah juga semakin suka. Jika habis mengantar anak-anak bermain di toko buku maka buku yang aku beli saat sekarang ini bukan buku-buku yang kusebutkan di atas, tetapi buku-buku sosial-keagamaan atau tentang kepenulisan. Lucu ya, engineer koq mbacanya itu.

Tapi menurutku itu penting lho. Banyak yang kita sebut sebagai permasalahan hidup ternyata dapat dengan mudah di atasi jika pemikiran kita menafsirkan hal tersebut bukan sebagai suatu permasalahan. Jadi membaca buku-buku non-engineering tersebut kadang membantu kita memberi penafsiran yang tepat tentang langkah-langkah hidup kita. Hikmat begitu katanya. Memang benar sih, semuanya bermula dengan apa yang kita pikirkan. Kita berpikir, bahwa itu adalah masalah, maka benarlah bahwa itu masalah. Demikian juga sebaliknya. Ah, itu khan hanya variasi hidup, nanti juga lupa. Eh, benar juga.

Refleksi tentang pemahaman non-engineering yang kadang-kadang muncul dalam blog ini juga merupakan hasil kesukaanku membaca buku-buku tersebut. Karena kata orang bahwa tulisan merupakan tanda kedalaman pikiran tentang yang ditulisnya, maka anda bisa menilai, bagaimana kompetensi pikiran ku tentang masalah non-engineering. Sudah cukupkah, atau masih kurang. Kalau kurang sih ya wajar, wong pendidikan formalnya bidang eksak. Tapi nggak masalah, kalau itu digemari (membaca buku non-eksak) dan mulai memikirkannya dalam setiap kesempatan. Nulis seperti ini juga mikir lho. Maka siapa tahu setelah pensiun nanti bisa jadi sufi.

Sufi ! Itu lho cerita orang-orang timur tengah, bersorban yang bijak.

Terus terang, aku kagum dan senang membacanya, cukup bijak dan luas, cara mereka menerjemahkan konsep kasih. Aku merenung, kalau dipikir-pikir, sufi-sufi yang dimaksud tersebut tentunya seorang muslim. Tetapi mengapa wawasannya begitu luas, dan bisa melihat sisi cemerlang dari setiap kehidupan yang mungkin kelihatan sederhana, sehingga dapat memberi pencerahan. Yang terasa bagi saya, kadang-kadang kelapangan pikirannya. Tidak dibatasi sekat-sekat, sehingga hal-hal yang dibicarakan sangat relevan juga bagi hidup manusia lainnya, bahkan yang berbeda agama. Bahkan terpikir juga tentang kata-kata orang muslim, bahwa Islam itu rahmat. Benar juga kalau begitu. Jadi intinya saya terkesan karena sufi-sufi itu pulalah membuat orang lain jadi menengadah ke atas, dan ingin memuliakan-Nya. Hebat.

Sayangnya, cerita sufi yang kumaksud, kesannya adalah cerita lama.

Mengapa sih. Lha, gimana ya. Keberadaan sufi-sufi muslim tersebut jika menurutku adalah suatu rahmat, maka tentunya jika itu juga disadari oleh orang-orang muslim yang lain tentunya akan ditumbuh kembangkan, dijadikan patron dalam kehidupan-kehidupannya. Ada sih muslim yang seperti itu, misalnya K.H.A Mustofa Bisri, dan moga-moga masih banyak yang lain yang aku tidak ketahui. Masalahnya, yang aku ketahui, yang mungkin banyak bertebaran di blog ini adalah orang-orang muslim yang menurutku agak berbeda dengan sufi-sufi tersebut. Umumnya mereka terlalu terpaku pada apa-apa yang tertulis dalam kita sucinya, bagus sih. Itu sah-sah aja. Masalahnya adalah mereka menginterprestasikan kebanyakan jadi hitam dan putih. Sering-sering men-judge : sayalah yang paling benar, yang lain disebutnya kafir, musrik atau apalah. Jadi meskipun pada dasarnya aku tidak membatasi apa-apa yang kubaca tetapi intinya males membaca artikel-artikel seperti itu, dan lebih senang cerita-cerita para sufi yang mencerahkan tersebut.

Ini ada salah satu cerita tentang sufi yang sudah dikomikkan. Terus terang aku terkesan, dan saya kira ini juga bermafaat bagi teman-teman sesama engineer yang lain. Pantas direnungi karena menyingkapkan beberapa hal yang berkaitan dengan apa yang telah Tuhan sampaikan dalam kita suci.







Ref.  Hermawan dan Jitet Koestono .(1997). “Cergam Karung Mutiara Al-Ghazali”, KPG, Jakarta

Adakah kesan yang kau dapat dari membaca komik di atas. Itulah gambaran sufi, salah satu yang kumaksud.

Selanjutnya aku akan mengajakmu merenungi nash-nash tua yang sampai sekarang masih ada di banyak ruang-ruang orang berhikmat, yaitu alkitab, mari kita baca beberapa nash yang terkait.

Orang yang dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah dan mempunyai pengetahuan serta akal budi lebih bahagia daripada orang yang kaya raya! Karena kebijaksanaan semacam itu jauh lebih berharga daripada permata. Tidak ada suatu apa pun yang dapat menyamainya.
Amsal 3:13 (FAYH)

O pantas, aku jadi ingat ada seorang yang cukup terkenal, banyak diberitakan media massa, bendahara partai politik terkenal negeri ini, jadi mestinya kekayaan bagi dia bukan masalah. Eh, ternyata tiba-tiba ada kabar kalaunya dia mati bunuh diri di salah satu hotel berbintang di daerah Semanggi. Loncat dari ketinggian dan hancur luluh lantah di lantai beton di bagian bawah. Sayang, meskipun kaya tetapi dianya belum tahu nash di atas, yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Kaya tetapi tidak bijak. Akhirnya !

Bijak ? Ah, ini ada lagi penjelasannya.

Hendaklah engkau bijaksana, dan kembangkanlah pengertian serta akal budi. Ini penting sekali. Berpeganglah pada kebijaksanaan, maka ia akan melindungi engkau. Kasihilah dia, maka ia akan menjaga engkau. 

Tekad untuk menjadi bijaksana adalah langkah pertama menuju kebijaksanaan. Dengan kebijaksanaanmu, kembangkanlah akal budi dan pengertian. 

Jika engkau menjunjung kebijaksanaan, kebijaksanaan itu akan menjunjung engkau. Peganglah dia erat-erat, maka ia akan membawa engkau kepada kehormatan yang besar. Ia akan meletakkan mahkota indah di atas kepalamu. 
Amsal 4:5-8 (FAYH)

 Aduh hebat sekali, kenapa aku tidak membaca hal-hal seperti ini ketika muda.😐

5 thoughts on “hal memberi dan meminta

  1. Untuk mengajarkan filosofi kehidupan, saya membeli komik wayang karangan RA Kosasih, anak sulungku sangat suka wayang, bahkan dia bisa memahami kalau nonton wayang kulit semalaman, padahal dibesarkan di Jakarta. Sampai saat inipun kedua anakku masih suka komik, cuma si bungsu lebih suka komik Jepang.

    Komik ga selalu jelek kok, bahkan ada komik filsafat…memudahkan orang untuk memahami. Sayapun suka komik, diantara bacaan lainnya

    Suka

  2. Kalau begitu, orang tua saya benar ya bu. Saya ingat kelas 2 SD diberikan komik wayang tersebut, dan akhirnya jadi hobby mbaca komik-komik wayang.

    Tetapi ternyata sekarang, komik kita kalah ya bu dibanding komik import dari Jepang.

    Bagus juga sih, seperti komik Kungfu Boy, ada semangatnya. Tetapi ternyata nggak semua lho bu. Tempo hari saya menemukan komik-komik yang untuk orang dewasa. Wah gawat itu kalau dibaca anak-anak yang masih lugu.

    Jadi orang tua pada era keterbukaan seperti sekarang ini nggak gampang ya. Kita larang, mereka pada dapet sendiri. Sharing antar temannya.

    Suka

  3. masih banyak lho pak, tokoh sufi yang terkenal seperti Nashruddin Khoja

    wah…tulisan Bapak bikin saya nggak ragu masuk dunia teknik sipil karena meskipun mahasiswa teknik sipil, waktu luang saya, saya gunakan untuk membaca buku agama dan politik serta novel-novel petualangan Dr. Karl May serta mengutak-atik program komputer.

    iya tuh pak, emang benar banyak di masyarakat kita yang seenak perutnya menghakimi orang tentang benar-salah tanpa mengintrospeksi diri sendiri.

    Suka

  4. pak wir…..
    koq koleksi kita sama ya… bahkan saya punya koleksi komik Kung Fu Boy dari yang cetakan pertama (Seri pertamanya), dan sekarang muncul yang baru lagi loh… namanya jadi Kung Fu Boy the Legend….

    Wir’s responds : kayaknya sekarang yang nggambar lain ya. Koq waktu lihat yang sekarang nggak seperti gambarnya yang dulu-dulu. Mungkin sekarang karena sudah dewasa ya.

    Suka

  5. dalam pemikiran saya, setiap orang yang “berani” untuk menulis, paling tidak, dia tahu apa tujuannya dia menulis, apa yang ingin di sampaikannya, dan apa-apa saja yang harus disampaikannya.

    Komik merupakan satu “bahasa komunikasi” yang menurut saya paling mudah untuk diterima, mulai dari kalangan muda hingga kalangan “sepuh”, dan dengan menulis itulah kebijakan dari seseorang terlihat, kedalaman pemahamannya terlihat.

    saya jadi ingat waktu dulu SMP (waktu itu komik pertama saya ya Kung Fu Boy, pak wir.. trus di susul dengan Kenji), teman-teman sedemikian menghayati alur cerita dari setiap serinya, sehingga mulai dari masuk kelas hingga pulang sekolah, bahasannya bukan tentang pelajaran yang didapat, tapi bagaimana alur cerita dari komik yang mereka baca. Begitu mudah membekas alur cerita komik, sehingga menurut saya, komik memang bisa jadi bahan yang menarik untuk menanamkan kembali moral dari anak-anak muda jaman sekarang.

    saya juga heran, kenapa cerita2 wayang tidak lagi dikeluarkan ?? padahal itu khan bahan menarik untuk menanamkan moral bagi anak-anak, saya sendiri saja kalau tidur sering disambi mendengarkan cerita wayang, sampai ceritanya jadi kalang kabut karena sambil ngantuk-ngantuk, dan akhirnya tertidur.

    NB :
    pak wir pernah baca nggak kalau si Takeshi Maekawa tu sebenarnya gaptek ? hehehehehehe… tapi sekarang sepertinya tidak, buktinya dia bisa nggambar pake’ CorelDraw (atau software lain, saya lupa namanya…), jadi sekarang dia ga’ lagi nggambar pake’ sket doang, tapi udah diproses pake’ scan, dsb, dsb. ya memang gambarnya jadi lain, citra komiknya jadi hilang kalau menurut saya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s