Konstruksi Kayu Indonesia – apa kabar ?


Teringat masa lalu ketika masih mahasiswa S1, sewaktu masih sering lalu lalang di sekitar Laboratorium Konstruksi Kayu di Pogung di sebelah utara selokan Mataram, Yogyakarta. Salah satu kegiatanku pada waktu itu adalah membantu bapak Ir. R.J.B Soehendradjati sebagai asisten tugas pada  mata kuliah Konstruksi Bangunan Gedung.

Laboratorium tersebut merupakan satu komplek bangunan terpisah, berlokasi di timur gedung perkuliahan jurusan teknik sipil UGM (yang lama). Laboratorium yang mengkhususkan diri pada permasalahan konstruksi kayu. Saat itu aku merasa komplek tersebut cukup bagus, di samping laboratorium terlihat oven tempat tempat pengeringan kayu.

Pada tiap-tiap dinding di dalam laboratorium ditampillkan alat-alat sambung kayu seperti kokot buldog dll. Kalau tidak salah itu merupakan peninggalan Ir. Suwarno dosen konstruksi kayu UGM pada waktu itu. Karena pak Suwarno jugalah maka konstruksi kayu di UGM pada waktu itu cukup dikenal. Saya tahu beliau dari buku-bukunya. Menurut informasi seseorang, beliau meninggal ketika menjelang ujian disertasi doktornya. Benar atau tidak, saya kurang tahu tepatnya.

Dari itu semua sewaktu lulus S1, saya punya persepsi bahwa kayu merupakan salah satu bahan material bangunan yang cukup penting, sejajar dengan baja dan beton. Laboratoriumnya saja cukup bagus.

Tapi setelah lulus dan juga masih berkutat di dunia teknik sipil, sehingga pada setiap kesempatan memperhatikan juga struktur-struktur yang ada di Indonesia. Saya koq tidak melihat keberadaan kayu sebagai bahan konstruksi utama. Atau mungkin saya ‘kuper’ ya. Juga belum pernah mendesain suatu konstruksi kayu yang cukup besar, misalnya kuda-kuda atap bentang > 24 m. Paling-paling 10 – 12 m aja udah dianggap bentang besar.

Sekali-sekali terkesan juga dengan bangunan kayu yang cukup besar, yaitu pasar Besar di kota Solo, yaitu sebelum kebakaran. Waktu itu melihat kuda-kuda kayunya cukup besar. Dari kayu jati kelihatannya. Lalu juga di gereja Katolik di daerah Bendungan Hilir Jakarta Pusat, kecil sih, tapi atapnya dari kayu.

Yang lain koq nggak pernah lihat ya.

Kalaupun ada pasti peninggalan lama, peninggalan jamannya pak Warno kali.

Mengamati buku-buku tentang kayu yang beredar dan membandingkan dengan buku-buku konstruksi kayu dari jamannya pak Suwarno atau pak Felix, kelihatannya konstruksi kayu di Indonesia berjalan di tempat (?!). Benar nggak sih ?

O ya, aku ingat itu pak Heinz Frick, dosen arsitek Unika Soegijapranata, buku-bukunya menarik dan cukup istimewa. Kalau pun ada pengarang buku-buku lain, umumnya sekedar kompilasi dari buku-buku sebelumnya. Yah, kayaknya saat ini pak Frick yang cukup signifikan dengan buku-buku karyanya. Lainnya siapa ya , maksudku yang setaraf pak Frick tersebut. Padahal kelihatannya doktor-insinyur-nya banyak lho. Mana buahnya ?

Pak Wir, sekarang peraturan kayu udah ganti lho pak.

Ganti, mengapa. Akibat pengalaman di lapangan dimana peraturan kayu yang lama tidak aman atau tidak ekonomis lagi, atau berdasarkan riset, atau karena nge-trend aja dan dari hasil nerjemahin ?

Ada nggak sih ahli konstruksi kayu di Indonesia ini, atau adakah yang pernah merencanakan suatu konstrusi kayu dengan bentang besar (misalnya 24 m atau lebih) di Indonesia.

Ada pak ? Saya pernah yaitu sewaktu merencanakan aula sekolah BPK. Itu jawaban pak Dirgo (Kajur Sipil UNTAR). O ya, gimana pak ? Saya tertarik waktu itu, detailnya gimana. Beliau menjawab jika desainnya pakai kayu buatan. Waktu ditanya lagi secara detail. Beliau menjawab lagi, ya dikerjakan kontrator dari Jerman.

O ooooo ?!. Maklum.

Jadi intinya, kalau saya boleh berpendapat bahwa meskipun negara kita kaya akan hasil hutan, dan dikenal mengekspor kayu ke negara-negara lain. Tapi di kalangan ahli struktur, penguasaan kita terhadap kayu sebagai bahan konstruksi adalah LEMAH. Kalah dengan bangsa lain. Sebagai gambaran juga, umumnya mata kuliah tersebut di tingkat S1 hanya diberikan dengan bobot 2 sks.

Konstruksi kayu yang pak Wir maksud, seperti apa sih ?

Baiklah saya tampilkan konstruksi kayu dari http://www.utsdesign.com/ .

Itu semua di luar Indonesia lho. Kalau di sini, emang sih ada yang kelihatannya kayu, eh ternyata hanya bungkusnya aja, di dalamnya pakai baja. Kalau itu sih, aku memang sering bikin.

Jadi kalau begitu, kita ini nggak berkembang ya ilmu konstruksi kayunya. Benar nggak sih ?

Peluang untuk mengembangkan industri konstruksi dengan memanfaatkan kayu di Indonesia masih terbuka luas. Langkah sederhana dan saya kira tidak perlu malu untuk melakukannya adalah meniru konstruksi kayu di luar negeri, siapa tahu bisa diterapkan di sini. Cukup banyak sumber-sumber pembelajaran yang dapat diserap a.l :

  1. AITC – American Institute of Timber Construction
  2. American Wood Council
  3. Softwood Export Council
  4. National Wood In Transportation Program
  5. Wood Transportation Structures Research
  6. Advanced Housing Research Center

40 thoughts on “Konstruksi Kayu Indonesia – apa kabar ?

  1. Kalau menurut saya Pak Wir bangunan2 yang memakai konstruksi kayu sangat jarang ditemukan sekarang mungkin karena masalah perawatannya yang mahal dan harus sering diperhatikan.

    Kalau dibandingkan antara bangunan yang menggunakan konstruksi baja, beton dan kayu. Mungkin konstruksi kayu lah yang harus mendapat perhatian khusus. Kemudian kayu bermutu tinggi (misalnya kayu jati) juga harganya sangat mahal sehingga orang mikir dua kali juga untuk membangun memakai konstruksi kayu.

    Contoh lain : di Nias sendiri jenis kayu yang dipakai untuk membuat rumah adat (di sana namanya kayu kafini/kayu manawa) juga sekarang susah mendapatkannya lagi. Kelangkaan kayu bermutu tinggi bisa saja menjadi faktor lain mengapa orang jarang memakai konstruksi kayu.

    Kemudian, orang2 yang sangat peduli akan hutan mungkin bisa protes kalau hutan2 kita nantinya di eksploitasi pohon2nya (baca: kayunya). Tapi, sebenarnya kasus ilegal logging juga belum bisa diatasi oleh orang2 pecinta hutan (Pemerintah/Dinas Kehutanan) he…he .

    Padahal sebenarnya rumah-rumah dengan konstruksi kayu lebih tahan terhadap gempa dibanding yang konstruksi beton (rumah adat Nias-rumah tahan gempa)

    Nah, sekarang kita cari solusi mengenai masalah di atas. Mungkin ketika masalah2 di atas bisa diatasi konstruksi kayu Indonesia bisa bergairah kembali…

    Salam sejahtera…
    HP : 081388243113 E-mail : civilgancang@yahoo.com

    Suka

  2. Wah pak Wir… kebetulan saya tinggal di Canada, dan baru2 ini saya baru beli rumah (3 tingkat) dan konstruksi-nya dari kayu!

    Pertama dibilang dari kayu, saya sempet kaget juga. Loh apa ya kuat gitu. Tapi pondasi-nya tetep dari beton.

    Saya sendiri gak gitu tau tentang teknik sipil (buta sama sekali malah). Sebetulnya keunggulan konstruksi kayu apa sih?

    Di Canada sini soalnya banyak sekali rumah dan apartemen (low-rise) yang menggunakan kayu. Tentu saja kalau apartemen yang high-rise tetep menggunakan beton.

    Suka

  3. Pak Wir,
    Saya juga pernah belajar sama pak Suhendrojati, salah satunya mata kuliah struktur kayu 1, diktat kuliahnya tebal betul, sampai harus diberi tanda pada beberapa lembar penting agar ujian tidak kehabisan waktu untuk mencari-cari table atau formula.

    Saat ini UGM juga mengembangkan konstruksi bambu, yang dipimpin oleh Pak Morisco.

    salam
    badar

    Suka

  4. Salam kenal Pak Wir. Saya seorang Structural Engineer asli Indonesia yang sekarang berdomisili di Canada tepatnya di Vancouver. Bekerja di salah satu Consulting Engineering company yang terlibat dengan berbagai macam jenis bangunan.

    Sekarang kita sedang sibuk dengan new Convention Center Expansion yang strukturnya dari baja menggunakan Eccentric Braced Frame untuk lateral restraint-nya .

    Saya ingat waktu masih ambil S1 di UI (dosen saya salah satunya juga Pak Yuskar Lase – trus terang saya nggak ngeh soal dinamika struktur, baru waktu melanjutkan studi di sini saya ngerti 🙂 he.he.). Hanya ada satu mata kuliah Konstruksi Kayu dan itu juga menggunakan buku dan standar lama. Di sini (Western Canada) kayu adalah salah satu common structural materials yang banyak digunakan untuk berbagai macam jenis bangunan, bahkan di atap Convention Center dipakai kayu sebagai sheathing-nya untuk menunjukkan kepiawaian kayu sebagai material yang selain kuat juga sustainable dan environmentally friendly.

    Kayu yang dipakai sebagai structural material disini umumnya disebut Engineered Wood dan sudah didesain untuk applikasi tertentu seperti I joist untuk flooring system (sama seperti baja profil W atau I, flange untuk tension/compression dan web untuk shear) dan plywood/OSB untuk diaphragm/shearwall action.

    Buat residential construction (rumah tinggal) kayu sudah jadi material utama, metode konstruksinya disebut light frame construction, karena ringan dan easy to built. Tidak ada solid wall; yang ada seperti post (disini disebut stud) yang jaraknya 16 in. (400 mm-an) dan diluarnya ditutup dengan sheathing dari plywood atau OSB (fungsinya untuk transfer shear). Rumah dari beton malah nggak ada, karena mahal dan tidak mudah di-reno he.he..

    Omong-omong Pak Antony di Canada-nya dimana? Salam kenal. Segitu dulu Pak Wir, saya senang baca blog bapak banyak informasi tentang Civil/Structural dan juga tentang Indonesia. Terima Kasih.

    Suka

  5. Pak Wir,
    Kalau di UK Petra sendiri, konstruksi kayu masih diajarkan. bobotnya 2 sks. Meskipun jarang terpakai pada prakteknya, tapi ilmu tersebut berguna lho. Buku dari UGM juga menjadi salah satu buku referensi kami dalam belajar tentang konstruksi kayu.

    Insinyur sipil kan harus menguasai baik konstruksi kayu, baja maupun beton.

    Suka

  6. @Gancang Pakar Mahajan Larosa
    Artikel rumah adat Nias sudah dibahas, lalu merembet kayu. Saya harap sdr. Gancang menindak lanjuti dengan memberikan detil foto-foto hasil kebudayaan Nias, khususnya tentang konstruksi tradisional. Siapa tahu nanti di masa depan anda bisa menjadi ahli rumah adat khusus daerah Nias. Saya doakan ya.

    @ Antony Pranata
    Selamat ya Antony, rumah barunya.🙂
    Hebat juga, rumah kayu tiga lantai. Kalau di Indonesia rumah kayu yang berlantai tiga kebanyakan di pinggir sungai, rumah petak, yang siap digusur. Tapi ternyata di luar negeri nggak seperti itu. Buktinya Antony aja mau beli. Kapan-kapan kirimin fotonya ya.

    @Badarudin.
    Iya ya, tapi mengapa pengaruh kayu atau bambu-nya teman-teman Yogya tersebut tidak nyampai Jakarta ya. Publikasi tentang hidro atau tanah sudah sampai Jakarta lho, tapi untuk strukturnya koq belum ya, atau saya yang nggak tahu.

    @Ari Wibowo
    Trims ya penjelasannya, ini tentu menjawab pertanyaan Antony. Jadi rumah kayunya kuat khan !

    Selain kekuatan, menurut saya ada satu keunggulan kayu dibanding baja dan beton.

    Apa itu ?

    Itu lho , kayu merupakan bahan yang berpori (berongga) sehingga mempunyai sifat isolator thermal yang baik. Buktinya, sebagian besar kayu akan terapung BJ > 1.0.

    Bahan material yang mempunyai sifat isolator thermal umumnya juga mempunyai sifat akustik yang baik pula. Kedua hal tersebut merupakan faktor utama penunjang kenyamanan. Jadi penggunaan kayu sangat baik untuk melindungi dari cuaca luar yang terlalu dingin atau terlalu panas, juga mengurangi bising dari luar. Itu merupakan sifat natural kayu.

    Pak Ari, kapan-kapan dikirimi artikel atau foto-foto tentang teknologi kayu Canada ya. Biar saya sharing ke mahasiswa UPH. Siapa tahu dari mereka ada yang ngelanjutin ke sana.

    @Victor
    mata kuliah Konstruksi Kayu 2 sks, yah kondisi standar, diajarkan di hampir semua perguruan tinggi.

    Tapi nggak terlihat buahnya.

    Mungkin itu sekedar memenuhi persyaratan formal aja kali.😀

    Suka

  7. Pak Wir… trims buat support dan doanya.

    Saya memang merembet kasih komentar disini karena saya tertarik dengan bahan konstruksi kayu ini (apalagi topik ini ada kaitannya dengan rumah adat Nias yang menggunakan kayu khan…?). Tapi, mungkin komentar2 yang saya utarakan kurang berbobot karena mungkin saya masih mahasiswa jadi belum punya pengalaman apa2… Beda dengan bapak yang sudah ahli… Saya mohon maaf untuk hal itu. Mungkin saya terlalu sok idealis… He…he…

    Oh, iya mengenai foto2nya saya usahakan. Sekarang saya sudah coba hubungi paman saya untuk mengambil foto2 detil rumah adat Nias Induk yang berbentuk oval. Kebetulan paman saya ini masih menempati rumah adat Nias. Jadi, dalam seminggu ini saya akan usakan agar foto2 tersebut bisa cepat kita dapatkan.

    Sekali lagi trims buat Pak Wir… Semoga sukses… Tapi, doanya jangan hanya supaya saya menjadi ahli rumah adat Nias saja Pak… kalo boleh saya di masa depan bisa menjadi ahli di segala bidang dalam civil engineering

    Semoga… he…he…

    Wir’s comments: Ibarat pepatah, untuk bisa sampai tujuan yang jauh jaraknya, maka itu dimulai dari satu langkah yang meskipun kelihatannya pendek. Tapi kalau disitu saja gagal, nggak mungkin anda sampai tujuan anda. Jadi ilmu itu juga demikian, jika anda bisa ahli dalam satu hal, yang lainnya akan lebih mudah. Jangan sepelekan tentang hal-hal yang sepele. Anda bisa mencontoh pak Yuskar, yang membahas secara modern suatu rumah tradisional untuk mengungkap rahasia dibelakangnya. Ternyata itu menjadi perhatian banyak dari kita bukan.

    Suka

  8. Kalo di Banjarmasin. Kayu umumnya dijadikan jembatan….

    tapi sekarang memang sudah jarang. kontraktor atau konsultan aja jarang dihitung ulang. Jembatannya tipe Busur dengan kayu Ulin. atau ada juga jembatan yang telah disiapkan di bawah untuk dipasang sesuai nomer di atas sungai.

    di daerah Kotabaru umumnya Kayu menjadi titian/ jembatan kecil untuk jalan perumahan diatas pantai yang cukup panjang hampir mengelilingi kota . Ntar saya Upload Photo nya

    Wir’s responds : ditunggu ya.😀

    Suka

  9. Salam kenal Pak Wiryanto. Setelah bertahun-tahun ‘searching’ di dunia maya, akhirnya ketemu juga artikel tentang ‘nasib’ struktur kayu di Indonesia. Saya senang dan turut mendukung artikel-artikel seperti ini. Seperti dua rekan kita dari Kanada yang merespons artikel ini, saya sekarang tinggal di Kanada juga bagian timur (New Brunswick), berprofesi sebagai dosen dan peneliti dan juga engineer di bidang struktur (terutama kayu dan bangunan) di University of New Brunswick (http://www.unbf.ca/forestry/faculty/asiz.php).

    ….

    Wir’s respond : komentar Bapak sangat menarik dan saya tindak lanjuti menjadi artikel khusus di
    https://wiryanto.wordpress.com/2007/11/17/ada-yang-tertarik-meneliti-kayu-di-universitas-saya/

    Suka

  10. Ping balik: ada yang tertarik meneliti kayu di universitas saya ? « The works of Wiryanto Dewobroto

  11. salam kenal pak wir..
    saya seorang mahasiswi teknik sipil… saya mau tau gimana sih cara mendapatkan peraturan2 konstruksi kayu melalui internet.. saya perlu sekali buku itu..sudah saya cari2 g dapat juga..!! bagaimana caranya pak…??
    atas bantuannya..sy ucpkan trimakasih….

    Wir’s responds : baca artikel saya yang ini. Di situ ada pak Andi, yang menurut saya orang Indonesia yang paling sip tentang kayu. Silahkan meguru pada beliau. Saya juga nanti kalau ada waktu mau meguru juga.😀

    Suka

  12. P Ari Wibowo,
    saya juga structural engineer, baru mendarat di Vancouver Oktober 2007, tinggal di W. 70th Ave, dekat-dekat Richmond-nya P Anthony.
    Saya masih simatupang (siang malam tunggu panggilan ) nih. Tolong info dan kita-kiat mencari kerjaan engineering disini.
    email saya : arifbk@yahoo.com
    boleh saya kontak email bapak ?
    terima kasih.

    Suka

  13. Halo Pak Arif,

    Salam kenal juga. Wah selamat datang di Vancouver, mudah-mudahan kerasan🙂. Saya ada di West (tapi lifestyle-nya masih lebih ke East Van. daripada West End. he.he..) dekat University of BC. E-mail saya di arwib@hotmail.com. Silahkan e-mail ke sana bisa kita ngobrol.

    Maaf pak Wir lagi sibuk sekali (as usual :-)) jadi nggak sempat baca.

    Wah Salam kenal pak Andi, nggak nyangka ada prof. dari Indonesia yang research interest-nya specific untuk kayu. Wah boleh tanya nih soal CSA O86.01 he.he.. Anyway segitu dulu.

    Suka

  14. Yth. Pak Wir,
    Saya mencoba mencari artikel tentang bangunan yang konstruksinya dari bambu.
    kebetulan menemukan situsnya Bapak, menarik sekali.
    Adik ip saya juga mengajar di UPH, Marlina Sihombing, di Theologia. Suaminya Timy, di BNews editorial.
    Wah senang sekali saya bisa bertemu Bapak.
    saya mohon bantuannya.
    Terima kasih,
    GBU
    Yesi.

    Suka

  15. Dear pak Wir,

    Saya seorang junior engineer,menurut saya konstruksi kayu di Indonesia berkembang pesat di jaman Belanda

    Di daerah saya kota lama Semarang, banyak bangunan kuno memakai konstruksi kayu. Malah sebagian besar rumah adat di daerah Sumatra memakai konstruksi kayu, sederhana dengan berbagai macam samb. tanpa paku. Menandakan masyarakat kita zaman dulu udah mengenal teknik perkayuan, tp kl sekarang mendapatkan kayu dengan kualitas yang baek susah sekali.

    Tp saya setuju dengan sedikitnya referensi tentang teknik kayu (rata2 peninggalan kaum belanda)…

    Suka

  16. makasih pak Wir buat blognya, saya sangat terberkati atas semua infonya.

    klo ada info kerjaan sebagai engineer boleh dong saya dikasih tau.

    By the way, met Natal 2007 & met taon baru 2008. JBUs.

    Email saya di Japoenk@telkom.net

    Suka

  17. Ini topik pembicaraan yang menarik buat saya.

    Saat ini saya seorang profesional di bidang kayu dan kebetulan konsentrasi pada furniture. Semoga bisa berbagi ilmu dengan anda dalam hal wood civil engineering.

    Satu hal yang ingin saya tambahkan menurut pengetahuan saya, di Indonesia tidak banyak masyarakat menggunakan kayu untuk kontruksi rumah karena resiko serangga pemakan kayu. Dengan kelembaban udara di daerah tropis seperti Indonesia, resiko ini lebih besar dibandingkan di daerah yang berudara kering seperti Eropa atau Kanada.

    Silahkan berbagi info dan pengetahuan ke tentangkayu@mac.com atau http://tentangkayu.blogspot.com

    Sifat kayu pada dasarnya telah menutupi kelemahan beton dan besi. “Daya ikat pori-pori” sebagai kelemahan beton dan “daya tahan lengkungan” sebagai kelemahan besi.

    Suka

  18. Saat ini untuk meningkatkan kayu sebagai bahan bangunan sudah terlambat. Hutan-hutan sudah keburu rusak. Kayu yang baik dapat diperoleh pada umur paling tidak 40 tahun, setelah ditebang perlu tanam lagi, dan ………… tunggu 40 tahun, ………….. keburu mati.
    Menyadari hal itu saya angkat bambu sebagai pengganti kayu. Kualitas prima diperoleh pada umur 3 tahun. Setelah rumpun bambu mantap, bambu dapat ditebang setiap tahun tanpa merusakkan. Kuat tarik bambu dapat dipersaingkan dengan baja. Ingin tahu lebih jauh …….. silahkan jenguk http://www.morisco-bamboo.com

    Morisco

    Suka

  19. Salam sejahtera Prof. Morisco,

    Dua puluh tahun yang lalu (1988) , bapak menguji saya sebagai mahasiswa sidang tugas akhir bersama-sama dosen pembimbing skripsi(bapak Ir. Kardiyono, ME). Materinya tentang analisis tangga melayang dengan metode matrik 3D (waktu itu masih sangat jarang yang mengambil topik pemrograman analisa struktur, apalagi 3D).

    Hasilnya, para penguji sepakat memberi nilai A pada pekerjaan saya tersebut. Itulah yang mengawali saya terus berkutat pada bidang komputer-teknik-sipil, sampai sekarang. Trims ya pak.

    Jaman waktu itu memang belum ada penelitian tentang bambu, tetapi setelah melihat report Bapak di websitenya, saya melihat progressnya maju sekali. Untuk itu disampaikan proficiat atas kerja keras dan kegigihan profesor.

    Hal-hal seperti inilah yang membuat saya bangga menjadi alumni UGM.

    Jika memungkinkan, apakah saya bisa ngangsu kawruh ilmu bambu-nya, biar dapat saya semaikan diUPH.

    Ok begitu dulu ya pak, semoga sering-sering mampir di blog ini.

    Dereken sugeng.

    Suka

  20. hallo pak, saya mahasiswa S1 jurusan teknik sipil,Baru semester 2. Kebetulan aq lagi nyari tugas tentang konstruksi kayu. Menurutq, konstruksi kayu tu keren banget, coz banyak banget bangunan adat zaman dahulu di buat dari kayu dan ada juga yang masih bertahan sampai sekarang. Keren bangetkan kalo bisa ngebangun bangunan yang indah tapi kuat, dan ternyata cuma dari kayu.

    Suka

  21. Terima kasih Pak Wir,
    untuk memperoleh info lebih lanjut ataupun diskusi tentang bambu, saya akan menyambut dengan baik. Silahkan hubungi lewat email, atau datang ke Yogya. Kesempatan ini juga terbuka kepada semua yang tertarik pada teknologi bambu.

    Morisco

    Suka

  22. Mr. WD, saya mahasiswa jurusan pend. tek. sipil yang sedang menyusun skripsi. masalah saya, saya bingung nih nyari standart lab.kerja kayu. mohon bantuanya dong,kalo bisa cepet ya, he…he…

    Suka

  23. Mr.Wir, Buku apa sih yang memuat tentang standart lab kerja kayu dan tentang lab tek.sipil deh. judulnya apa trus cara ngedapetinya gimana soalnya saya udah nanya ke dosen saya tapi beliau juga tidak tahu.

    Suka

  24. Salam jumpa lagi buat Pak Wir dan rekan-rekan yang tertarik kayu:

    Sudah beberapa bulan yang lalu semenjak diskusi kita tentang kayu, yang mana saya menerima banyak email dan permintaan untuk meneliti dan bekerja sama, atau belajar di University of New Brunswick. Saya turut senang dengan semua ini, ternyata minat untuk mendalami struktur kayu tidaklah mati di Indonesia. Sebisa mungkin saya balas dan bantu untuk memfasilitasi permintaan semua ini. Memang teknologi informasi yang begitu canggih sekarang ini bisa membuat komunikasi sangat efisien.

    Mumpung semester akademik agak mereda menjelang musim panas dan liburan, saya sempatkan untuk meneruskan berdiskusi struktur kayu di website ini.

    ….

    Wir’s responds: surat prof Andi saya pindah jadi artikel khusus di sini.

    Suka

  25. pak, saya mau cari tutorial, penjelasan detail tentang sambungan kayu… tapi kok ga nemu yang pas ya di internet…
    ada referensi web yang lengkap ga pak? ato bpk punya sendiri…

    Wir’s responds: perkembangan kayu di Indonesia relatif lambat, karena kebanyakan kayu dipakai untuk bangunan kecil dan umumnya non-permanen. Konstruksi kayu yang besar dan permanen banyak dibuat di Eropa atau Kanada, coba cari literatur dari sana. Kalau perlu silahkan kontak prof Andi Asiz.

    Hanya masalahnya bahwa teknologi pengolahan kayu kita tertinggal jauh, jadi meskipun perhitungan design kayunya ok tetapi bahan material kayunya jelek maka hasilnya juga jelek. Ya seperti ilmu struktur beton dan ilmu teknologi beton, keduanya harus saling mendukung.

    Olah karena hal-hal seperti itulah maka ilmu kayu sayapun stagnan. Hanya kadang-kadang dipikirka kembali jika ada anak-anak mahasiswa yang mau ikut lomba, gitu lho.😀

    Suka

  26. oh iya pak… kebetulan kami juga ikut Kontes Jembatan Indonesia tahun ini untuk jembatan kayu, di Poltek Jakarta…
    ya tapi sebenarnya ini untuk tugas kuliah pak…
    oh ya, saya ingat ada buku Problem Of Wood Construction, memang sepertinya untuk detail seperti itu lebih banyak literatur dari luar..

    Suka

  27. Saya tertarik untuk membudayakan konstruksi kayu agar lebih berkembang lagi d negri kayu indonesi kta ini.. tp masalahnya d negara kita tidak banyak contoh2 yg bsa d jadikan reverensi untuk sebuah struktur kayu yang kokoh dan cantik.. dah tu cara pengolahan agar kayu tersebut bisa bertahan minimal 20 thn dengan biaya perawatan yg sedikit kayaknya sulit tercapai.. gmana tu, ad yg bisa beri solusi g..
    oh y.. dengan menggunakan konstruksi dari kayu sisi positif yg di dapat ap2 aj bagi penghuninya,, misalnya dari segi kesehatan? apakah lebih or kurang ?

    Suka

  28. Kalau di Kalimantan umumnya bangunan menggunakan kontruksi kayu hal itu terjadi sejak dahulu kala.bahkan kekuatannya bisa sampai ratusan tahun terutama yang namanya kayu Ulin ciri-cirinya keras, awalnya warnanya kemerahan agak kuning sedikit , namun makin lama kayu tersebut berubah warna menjadi kehitaman…

    anehnya lagi kayu tersebut tahan terhadap air tawar maupun air asin, sehingga bisa dipakai untuk dermaga di laut ataupun di sungai…kayu tersebut umurnya makin tua makin mempunyai kekuatan yang luar biasa …..

    tapi sayang ..pohonnya makin lama-makin berkurang …saya bayangkan untuk 100 tahun kedepan kita sudah tidak punya kayu lagi….., kalau boleh saya usul bangunan kontruksi kayu kita tinggalkan saja .. karena masih banyak alternatif lain penggantinya.. sayangkan anak cucu kita tidak bisa melihat keistimewaan dari kayu-kayu tersebut… dan Kalimantan sebagai salah satu paru-paru dunia akan habis..

    Suka

  29. Dalam situasi hangatnya perbincangan dunia tentang Global Warming, saya pribadi justru melihat Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam hal kayu terutama potensi hutan kayu yang kita miliki di Kalimantan.

    Walaupun statistik melaporkan lebih dari 10 kali ukuran lapangan sepakbola hutan di Indonesia ditebang, akan tetapi kita patut bersyukur bahwa Indonesia memiliki hutan yang begitu luas. Dengan adanya situasi ini saya berharap kita semua optimis untuk ikut menjaga kelestarian hutan dengan cara membuat konstruksi yang ‘hijau’. Dan saat ini bahan baku yang paling ramah lingkungan adalah kayu dan bambu.

    Saat ini tentangkayu.com telah membuka ruang forum bernama ForumKAYU di http://forum.tentangkayu.com

    Suka

  30. pak……………..
    saya mau tanya pengujian kayu OSB (oreinted strand board) dalam konstruksi apa sudah pernah di lakukan penelitiannya???
    Klo sudah pernah saya boleh tny ga pak kelebihan n kekurangan OSB sebagai bhn struktural atau konstruksi…..
    trm ksh pak ats informasi ya da di website bpk…

    Suka

  31. Kebetulan profesi saya adalah tukang kayu untuk bangunan (rumah) prefab rangka kayu di Belanda.
    Dengan penyesuaian yg seperlunya saya pikir cocok untuk diterapkan di tanah air.

    Suka

    • Salam kenal pa ,,.. Saya sangat tertarik dengan tulisan bapak… Sy seorang seprofesi dengan pa wir…kebetulan sy saat ini bertugas di Kalimantan Tengah. Bagaimana kalau kita kumpulkan temen temen se profesi untuk buat suatu forum struktur kayu… biar sama sama kita bicarakan agenda agenda utk memblow up hal ini…. Kami bersedia tempat pelaksanaan …. gmn pa???

      Suka

  32. Design of Wood Structures-ASD/LRFD by Donald Breyer, Kenneth Fridley, Jr.,David Pollock, and Kelly Cobeen (Hardcover – Dec 15, 2006)

    Pak Wir,
    Bible nya wood stucture di amerika adalah buku di atas. it is a must have book buat orang yang belajar kayu.
    buku ini di tulis dengan mengacu ke california code yang sangat strict dgn gempa.
    di california sendiri 90% or more housing itu dari konstruksi kayu.

    Suka

  33. Pak Wir, mungkin gak menggunakan kayu balsa untuk paling tidak sebagai dinding atau plafon??? beberapa petani di daerah jawa timur mereka belum tahu cara menggunakan kayu balsa untuk kebutuhan perumahan.
    Masyarakat petani ini membiarkan pohon-pohon balsa ini tumbang dan busuk…

    Suka

    • Tidak setiap bahan, mesti cocok untuk digunakan pada setiap kesempatan (dalam hal ini perumahan). Kayu balsa terkenal dengan faktor keringanannya. Itulah keunggulannya. Padahal jika dikaitkan dengan struktur kayu, maka semakin ringan kayunya maka semakin lemah kekuatannya. Belum lagi ditinjau dari segi keawetannya.

      Oleh karena itu untuk pendayagunaannya maka kayu balsa untuk perumahan belum tentu ekonomis. Mengapa tidak diusahakan untuk hal lain yang dapat mengeksplorasi keunggulan dari kayu tersebut. Seperti misalnya, kayu balsa banyak dicari mahasiswa desain atau arsitektur untuk pembuatan maket. Juga pernah melihat, banyak digunakan untuk pembuatan pesawat model. Jika kayu dapat “disiapkan” untuk itu, maka tentu pohon-pohon balsa dapat termanfaat dan tidak perlu menunggu tumbang dan busuk.

      Yah jelas, penyiapan yang dimaksud tentu memerlukan “teknologi” dan faktor pemasaran hasil yang baik, tidak sekedar menebang dan memakainya langsung. Memang sih, faktor pemakaian teknologi dan pasca produk itu yang memang di Indonesia relatif lemah. Itulah yang menyebabkan konstruksi kayu di Indonesia juga tidak berkembang dengan baik.

      Suka

  34. Ping balik: Sesi 1 (Struktur Kayu) – The works of Wiryanto Dewobroto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s