seperti inikah pendidikan di negeri ini ?


Seorang mahasiswa putra daerah NIAS, jauh-jauh ke Jakarta untuk menggapai cita-citanya menjadi insinyur. Ternyata harapan dan kenyataan yang dijumpai tidak sama.

Ini sedikit uneg-uneg yang disampaikannya.

Syalom… Pak Wir…
Apa khabar? Luar biasa pastinya!!!

Pak Wir, … ingin rasanya selalu mengunjungi blog ini.

Wir’s comments : Trim’s , saya tersanjung. Semoga yang lain juga begitu adanya, sehingga akupun ingin mengelola blog ini dengan sebaik-baiknya.😐 ,🙂 ,😀

Karena ini adalah kali pertama saya bergabung di blog ini, maka tidak ada salahnya saya memperkenalkan diri juga kepada bapak-bapak, ibu-ibu, teman-teman semua yang berkecimpung di dunia Civil Engineering.

Saya seorang putra daerah NIAS, sebuah pulau di sebelah barat Sumatera yang pada tanggal 28 Maret 2005 lalu mengalami gempa (8.7 SR).  Sekarang saya sedang aktif menjadi Mahasiswa Teknik Sipil Universitas (sengaja saya tidak beritahu karena menjaga nama almamater saya) semester 5.

Tidak banyak yang saya ketahui, juga mengenai dunia Civil Engineering secara keseluruhan. Makanya, saya senang sekali bisa gabung disini. Berteman dengan orang-orang yang lebih ahli dari pada saya untuk menambah pengetahuan dan pengalaman mengenai Civil Engineering.

Pak Wir… karena di blog ini bisa sharing, izinkan saya untuk berbagi bersama dengan bapak, untuk mencari solusi mengenai permasalahan saya dan tentu saja, ini juga menjadi permasalahan di dunia pendidikan kita. Saya sudah membaca mengenai tema “gimana UMPTN-nya” dari situ saya banyak belajar bahwa PTS pun tidak kalah saing dengan PTN menghasilkan lulusan yang bermutu.

Namun saya merasa hal itu tidak terjadi di kampus saya. Disini tidak ada sama sekali semangat belajarnya, yang ada malah semangat untuk nongkrong, judi, sepakbola (futsal), cari rusuh biar dapat banyak musuh, bahkan yang lebih parah narkobanya itu lho (lebih sering orang campur rokok dengan ganja)… Mengerikan bukan ?

Wir’s comments : Narkoba. Ini mengerikan betul, sudah masuk kawasan hukum pidana. Wah nggak bisa dibiarkan lho. Pak polisi atau teman-teman yang mempunyai akses ke pihak yang berwenang, mohon informasi ini dapat ditindak-lanjuti ! Ini suatu hal yang serius ! 

Dulu saya masuk ke Universitas tersebut karena diberi beasiswa berprestasi, karena tidak mampu mencukupi biaya kuliah akibat situasi gempa di Nias 2005 yang lalu, yang berpengaruh juga bagi keadaan perekonomian keluarga.

Pertama kali ketika diberi pilihan mau ambil jurusan apa, saya dengan tegas menjawab saya ingin masuk Teknik Sipil, alasannya supaya kalau lulus bisa kembali ke Nias dan membangunnya kembali, itu saja…

Wir’s comments : kelihatannya cukup sederhana, tetapi kalau benar-benar kamu hayati sehingga menjadi visi dan misi hidupmu untuk masa depan nanti maka luar biasa hasilnya. Cita-citamu begitu mulia, tidak mementingkan diri sendiri tetapi telah memikirkan orang lain atau sesamamu. Dahyat sekali. Berdoalah terus untuk meneguhkan cita-citamu tersebut, saya yakin Tuhan akan tahu, dan jika demikian berkatmu akan berlimpah. Semuanya yang lain akan ditambahkan-Nya. Amin.

Singkat cerita, kemampuan saya di test. Apakah bisa masuk Teknik Sipil atau tidak ? (Testnya seputar matematika, fisika, kimia, bahasa inggris). Akhirnya, saya pun diterima. Senangnya bukan main Pak Wir. Saya ternyata bisa menjadi mahasiswa di Jakarta, yang sebelumnya belum pernah saya bayangkan. Apalagi biaya ditanggung oleh universitas tersebut.

Namun, kesenangan saya hanya sebentar. Ketika pertama kali masuk kuliah saya sudah dicegat oleh beberapa senior yang menyuruh untuk botak dan selalu memakai kemeja dan celana bahan. Pukulan, tendangan, makian sudah saya rasakan bahkan ada acara khusus yang diadakan di Puncak khusus untuk menghajar saya dan teman-teman angkatan saya. Tapi, hal diatas masih saya anggap sebagai ospek biasa. Tidak menjadi penghalang bagi saya untuk mencari ilmu di bidang Sipil.

Wir’s comments : Jika itu betul, maka ospek seperti itu benar-benar mencederai maksud mulia pendidikan. Nggak benar itu !

Sekarang yang jadi masalah adalah selama 2 tahun saya tidak pernah mendapatkan atmosfer belajar yang menyenangkan disini. Rata-rata mahasiswa yang senior selalu menjunjung tinggi keseniorannya. Mereka pun rata-rata tidak punya rasa tertarik untuk belajar. Sukanya hanya hura-hura, ngerjain junior dan masih banyak lagi hal-hal yang mencerminkan ciri lingkungan akademik yang tidak baik. Alhasil semester 2 nilai saya ambruk sehingga keluar dari program beasiswa.

Kesalahan mungkin sebagian ada dari saya, tapi bagaimanapun kita, bertahan untuk tetap lurus di lingkungan akademik yang tidak jelas seperti itu, cepat atau lambat pasti ikut-ikutan tidak jelas juga. Mahasiswa yang masuk jurusan sipil semakin lama semakin menurun. Bayangkan Pak Wir, angkatan kami 2005 hanya 9 orang, angkatan 2006 jadi 5 orang, angkatan 2007 bahkan hanya 4 orang saja. Jelas-jelas dari sini tergambar bahwa Jurusan teknik sipil di sini bisa dibilang kurang bermutu.

Wir’s comment : jumlah mahasiswa tidak bisa dijadikan tolok ukur kualitas suatu lembaga pendidikan. Karena yang dikedepankan adalah akal (pemikiran), maka jika itu unggul maka dapat mempengaruhi banyak kepala lainnya. Tapi kalau yang dikedepankan okol (otot) memang jumlah akan punya pengaruh. Gitu khan.😀

Motivasi saya untuk menjadi seorang Civil Engineer yang berkualitas melalui universitas ini semakin lama semakin berkurang. Sedihnya lagi mimpi saya untuk membangun Pulau Nias pun yah ikut-ikutan surut juga. Saya merasa, saya tidak bisa menjadi insinyur sipil yang berkualitas disini. Karena tidak ada satupun yang mendukung untuk hal itu.

Wir’s comments : Jika itu menjadi keyakinanmu dan kamu tidak bisa merubahnya, maka hati-hati !!  Apa yang menjadi keyakinanmu maka memang itu yang akan terjadi dengan sesungguhnya. Oleh karena itu kamu harus merubah keyakinanmu, apapun resikonya kamu harus melakukannya. Salah satu tugas utama saya dalam pembelajaran adalah memberikan keyakinan positip pada anak didik saya, dan tidak sekedar mengajar. Mengajar itu siapa saja bisa, tetapi memberi keyakinan yang positip nggak mudah itu. Saya selaku dosen selalu belajar terus untuk itu.

Apalagi ketika membaca blog ini, saya semakin disadarkan dunia Civil ternyata sangat luas. Saya hanya sering mendengar soal penggunaan software bidang sipil tapi di kampus saya tidak ada yang bisa menggunakannya. Bagaimana saya bisa maju???

Wir’s comments : dunia Civil Engineering memang sangat luas, silahkan baca tanggapanku atas pertanyaan sdr Aris yang sedang duduk di SMA kelas 3.

Saya menunjukkan textbook yang ada di blog ini kepada mahasiswa yang lain dengan tujuan agar mereka tahu bahwa sipil sekarang sudah semakin berkembang. Eh, tanggapannya malah negatif. Ada yang mengatakan saya sok-sok belajar lah, ada yang mengatakan belajar ga perlu yang penting kita bisa “speak” dan “sinetron” (kata tersebut di kalangan mahasiswa sipil disini artinya berpura-pura sok tahu) kalau masuk dunia kerja nantinya. Bahkan Sipil bagi mereka disingkat (Sinetron Pilihanku). Mereka lebih memilih untuk memakai mulut untuk berbohong dan mengatakan mereka bisa segalanya daripada memakai otak untuk berpikir.

Wir’s comments : bidang ilmu teknik sipil adalah bidang ilmu eksak dan terapan, jika suatu struktur (jembatan atau bangunan) tidak direncanakan dengan baik, maka pada suatu kondisi tertentu bisa terjadi kegagalan struktur. Kegagalan itu berdampak luar biasa, tidak hanya materi, atau finansial belaka bisa juga nyawa orang yang tidak berdosa menjadi korbannya. Untuk hal-hal seperti itu maka omongan yang seberapa merdupun tidak bisa mengobati. Calon engineer yang mempunyai pendapat seperti di atas, suatu saat akan menjadi korban ucapannya sendiri.

Setelah membaca bahwa UPH bisa menelurkan sarjana berkualitas, saya berpikir untuk keluar dari sini dan masuk ke Teknik Sipil UPH. Karena, cita-cita saya untuk menjadi insinyur sipil berkualitas bisa di bantu oleh Fakultas T. Sipil UPH dengan dosen-dosen berkualitas termasuk Pak Wir.

Wir’s comments : tentang anak-anak UPH yang berkualitas, silahkan baca ini-1, ini-2, ini-3 dan ini-4. O masih ada lagi, ini-5, ini-6, dan ini-7.

Bagaimana menurut Pak Wir kira-kira haruskah saya pindah ke UPH?? Berapa biaya kuliah disana? (Maklum Pak, orangtua saya agak kesulitan juga membiayai kuliah dan kehidupan saya di Jakarta ini). Saya minta saran dari Pak Wir, Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan teman-teman semua. Tolong bantu saya untuk mencapai impian menjadi Ahli di bidang Sipil dan menjadi sarjana Sipil yang berkualitas dan berguna bagi masyarakat.

Wir’s comments : apakah kamu perlu pindah atau tidak maka yang bisa menjawab adalah kamu sendiri. Saya sendiri tidak bisa menjanjikan apa-apa, yang bisa merubah kamu adalah diri kamu sendiri. Hanya saja kalau lingkungan mendukung, maka itu dapat dengan mudah dan cepat prosesnya.

Buat Fak.Teknik Sipil universitasku saya minta maaf atas penilaian saya ini… Buat mahasiswa Teknik Sipil universitasku yang membaca ini apakah hal yang sama juga kau rasakan sama seperti saya ?

Wir’s comments : Apakah perlu memprovokasi yang lain? Apa yang menjadi masalah bagi anda, belum tentu bagi yang lain. Mulailah dari diri sendiri ! Upayakanlah bahwa masalah itu dapat diatasi. Sehingga anda dapat berbeda dari yang dulu, minimal mempunyai pikiran yang positip terhadap diri anda sendiri. Kembalikan kepercayaan diri anda bahwa anda mampu menjadi engineer dan dapat kembali ke daerah NIAS untuk kesejahteraan bersama seperti cita-cita  awal. Sukses untuk anda. :)

GOD BLESS US… SYALOM!!!

N.B : Pak Wir ini email saya : dnyk_gms@yahoo.com (tolong dipublikasikan).

Teman-teman, kita tentu prihatin jika semua uneg-uneg calon insinyur di atas betul adanya. Akan kemana negara ini jika penerus bangsa seperti itu. Bantuan teman-teman untuk saling sharing mungkin menguatkannya, bahkan kalau bisa itu sdr. calon insinyur tersebut dapat menjadi pendobrak lingkungan yang jelek tersebut.

Saya yakin, bapak-bapak dosen pengelola institusinya pasti akan mendukung. Karena yang bisa diberikan dari suatu pendidikan yang baik (dapat survive) adalah suatu value. Tidak sekadar lulus dan dapat ijazah.

11 thoughts on “seperti inikah pendidikan di negeri ini ?

  1. aslkm…
    Wah jika keadaan seperti itu terus bukan tidak mungkin fakultas civil enginering di kampusnya akan tutup, yang saya herankan mengapa tidak ada tanggapan dari dosennya ?? apa cuman sekedar mengajar trus dapet gaji?? saya harapkan tidak terjadi di kampus2 lain..

    Buat saudara X, kalau dari segi financial anda tidak mampu untuk pindah ke kampus lain, seperti kata pak Wir bangun dari diri sendiri, dan menurut saya bangun kepercayaan dan semangat pada diri anda sendiri, tanamkan pada diri sendiri keyakinan bahwa anda akan menjadi orang hebat..

    untuk mengembangkan pengetahuan anda, jangan hanya mengharapkan di kampus tetapi anda juga harus melihat dunia luar yang kaya akan pengetahuan dan saya yakin masih banyak orang yang mau sharing tentang pengetahuan yang anda cari..

    semangat..semangat..semangat,,
    kita pasti bisa menjadi orang hebat..

    wasssalam
    salam semangat..

    Suka

  2. Wah..situasi belajar cuma dari 9, ke 7, dan akhirnya hanya 4 siswa….universitas kayak gitu kok bisa bertahan ya ?

    Tapi salut, jg, kamu bertahan di dalam kondisi dimana sebagian besar orang di sekitar kamu nggak fokus….

    if you have a dream then be brave because most of the time you’re alone

    Suka

  3. Buat teman anonymous…

    Wow.. pasti ga gampang bertahan di tengah lingkungan yang ga mendukung. Tapi saya salute. Kamu punya mimpi. Semua hal besar dimulai dari mimpi.

    Contoh paling deket. UPH dimulai dari mimpi para pendirinya. Mimpi kurang lebih 15 tahun yang lalu, untuk mendirikan kampus berskala internasional di Indonesia. Sampai sekarang pun mimpi itu belum terwujud, tapi UPH uda berada dalam jalur yang benar.

    Untuk informasi, beberapa tahun yang lalu, jumlah mahasiswa teknik sipil UPH sempet menyentuh angka 4 orang, dan pada waktu itu mahasiswa aktif per kelas juga “hanya” beberapa belas.

    Dream BIG
    Start Small
    Start NOW.

    Wir’s comments : yah benar Richard, itu angkatan 2003, angkatan di bawahmu. Kami tentu prihatin dengan kondisi saat itu, tetapi juga sekaligus dapat menjadi bukti bahwa komitmen UPH untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak didiknya tidak dipengaruhi oleh jumlah. Fokusnya adalah personal untuk tiap-tiap pribadi. Baru saja Andre and Merry lulus, sedang Jerry sedang dalam bimbingan menyelesaikan skripsi, semester ini selesai.

    Meskipun jumlah angkatan pada saat itu drop, tetapi kami selaku staff pengajar tetap di bayar full, nggak berkurang sepeserpun. Sekarang jumlah murid per angkatan jelas sudah berlipat-lipat.

    Kita (UPH) meskipun tergolong PT baru tetapi Jurusan Teknik Sipil-nya cukup percaya diri untuk tampil dengan jurusan-jurusan lain di Jakarta ini, dan rasanya nggak hanya itu, bahkan dengan teman-teman jurusan teknik sipil lain di Indonesia. Bahkan nanti jika EACEF konferensi international bulan ini dapat terselenggara dengan lancar, itu saja sudah menunjukkan bahwa kita (Jurusan Teknik Sipil UPH) sudah berani mandiri sejajar bekerja sama dengan universitas luar negeri yang terkenal (Uni-Stuttgart) dengan demikian tidak kalah dengan teman-teman lain seperti misalnya ITB atau UGM atau UI atau yang lainnya.

    Suka

  4. Berarti tidak cuma saya yang kecewa dengan kampus saya ya..?

    Hmm..

    Saatnya merubah sudut pandang neh, kampus ga berubah, kitanya yang harus berubah.. Iya ga pak??

    Wir’s messages : anda-anda itu di kampus membayar lho, mahal lagi. Jadi jangan mau dikecewakan. Ada koq kampus yang memandang bahwa mahasiswa adalah client yang membayar untuk suatu value yang sepadan dengan harga yang dibayarkan.

    Jer basuki mawa bea.

    Suka

  5. Begitulah Pendidikan. Mau Universitas ataupun SMA, semuanya dipenuhi rokok, judi, dan main bola.

    Di sekolah saya juga. Sayangnya saya tidak terpengaruh.😀

    Wir’s comments : kalau UPH jelas, secara tegas menyatakan diri sebagai NO-SMOKING campuss. Tidak percaya, datang aja ke UPH, lalu merokok, nggak perlu di ruang, di WC-pun kalau tahu pasti ditangkap SATPAM. Buktiin aja!

    Kalau bola, wah kalau itu, staf-nya juga pada suka.😀

    Suka

  6. Saya dulu dalam satu kelas ada 150 orang. Bayangkan bagaimana bisa intensif dosen memberikan bimbingan & pengajaran dengan jumlah mahasiswa massal seperti ini. Dan satu angkatan ada 3 kelas, A B dan C, yang juga diajar dosen yang sama!!

    Jadi kalau sekarang adik satu angkatan ada 4-5 orang, patut disyukuri, karena dosennya tentunya lebih punya waktu untuk asistensi tugas atau ngobrol2 tentang tema akademik. Manfaatkan itu dik.

    Masalah materi2 pelajaran kalau adik rajin browsing di internet cukup melimpah. Metode mek-tek klasik yg bagi saya dulu sangat susah mencari literaturnya(soalnya ngandalin dosen nerangin suka susah,maklum 1 kelas 150 orang), sekarang banyak sekali bertebaran di internet.
    Jadi jangan hiraukanlah teman2 yg mau narkoba, anda focus saja belajar dan terus tempel dosen-dosen anda. Saya yakin beberapa dosen anda tidak akan keberatan kalau ditanya2 materi kuliah.

    Saya punya beberapa teman dosen dikampus anda. Jangan kuatir mereka pasti mau membantu kalau anda aktif.Mereka juga memimpikan punya mahasiswa yang gigih dan punya spirit untuk belajar!!

    ok selamat berjuang.
    (oh ya, istriku juga kelahiran Gunung Sitoli🙂, rumahnya juga hancur ketiban rumah tingkat tetangganya)

    Suka

  7. Trims buat semua komentar yang sudah diberikan… Anda semua sudah memberikan pengaruh yang positif bagi saya pribadi…

    Sekarang saya sudah mengambil keputusan untuk tetap semangat belajar meskipun berada di lingkungan yang kurang mendukung.

    Suatu saat nanti orang lain akan mengenal saya sebagai Insinyur Sipil berkualitas…

    Komentar anda semua menjadi pegangan bagi saya untuk terus maju…

    Mari bersama kita lakukan yang terbaik bagi keluarga,masyarakat, bangsa dan negara…
    Mari saling mendoakan… Sekali lagi terima kasih…

    Buat : satya Erlangga
    Ya’ahowu mbanua… Pak, saya sangat terkesan ada orang dari Nias yang memberikan komentar mengenai permasalahan saya. Bolehkah saya tau email Bapak atau no. yang bisa dihubungi??????
    Saya ingin mendapat “mene-mene” dari bapak khususnya untuk membangun daerah kita kembali dan “mene-mene” untuk menjalani perkuliahan… Saohagolo… dnyk_gms@yahoo.com

    Suka

  8. salam,

    sepakat dengan Pak Wir, saya juga percaya cita-cita jika dihayati benar-benar dan menjadi visi misi akan luar biasa hasilnya.

    eh sebelumnya salam kenal, saya udah cukup lama jadi penikmat blog ini. Isinya yang mantabs terutama e-books yang melimpah. 🙂

    Untuk saudara x, apa yang anda alami sering terjadi di universitas lain. meski dengan permasalahan yang berbeda-beda tentunya. Saya sendiri sekarang masih kuliah di jurusan Teknk Sipil salah satu PTN. Saya sempat merasakan yang namanya kehilangan semangat menjadi civil engineer. hehehe bahkan saya sempat alih profesi ke bidang lain yang sangat melenceng . saya kuliah sambil bekerja.

    Tapi suatu waktu saya sadar dan kembali ke jalan yang benar seperti yang saya cita-citakan sewaktu masuk jurusan ini. (mungkin salah satunya karena melihat blog ini). trims pak Wir.

    cita-cita saya simple, ingin jadi insinyur gagah yang membangun gedung megah pencakar langit. dan nantinya bisa menjadi cerita kenangan anak cucu, bahwa bapak / kakeknya dulu yang membuat gedung itu. (simple gak?!) hehehe

    Untuk itu mulai sekarang saya satukan kembali niat dan tekad. Menekuni bidang ini dan mewujudkan cita-cita saya menjadi civil engineer sejati.

    selama ini banyak lho beredar engineer palsu, jangan terkecoh kemasan (lulusan PT mana) dan labelnya (nilai transkrip)! 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s