skripsi, emangnya perlu ?


Pak Wir, saya mau nanya : “buat apa sih mahasiswa bikin skripsi pakai standar-standar penulisan, pengujian di depan reviewer dsb. Kalau toh akhirnya skripsinya cuma jadi tempat hinggapnya debu di perpustakaan“.

Gimana kalau syarat jadi sarjana itu hasil penelitiannya bisa dipakai oleh masyarakat. Nah ketika outputnya ke masyarakat sudah jelas, tim penguji tanyain aja tuh yang make, kalau yang make puas, lulus deh, kalau nggak puas, perbaikan lagi !

He, saya nggak becanda kog pak, hasil penelitian saya udah banyak yang pake selama 2 tahun, tapi saya masih terkendala skripsi cuma masalah-masalah penulisan dan urusan administrasi dengan penguji dan instansi

Syukur deh akhirnya saya selamat jadi sarjana, dan jatuh ke lembah pekerja dan perjuangan saya mulai dari nol lagi (dosen nggak tanggung jawab saya dapat kerja atau nggak), dosen yang dulu nuntut saya ini itu sekarang ganti nuntut adik-adik kelas saya.

Saya ini yang udah lulus dari kampus, sama sekali nggak pernah pake yang namanya “standar penulisan bla bla bla“, saya kerja di bidang saya lo pak, yang terpakai justeru filosofi-filosofi ilmu yang saya pelajari autodidak (kuliah dosen kan cuma tutorial doank), dan proses penulisan skripsi yang menyandera saya 2 tahun di kampus hanya tinggal kenangan.

Untuk menulis laporan kerja, saya punya sekretaris pinter, dan saya cukup buatkan skema di kertas, dia langsung ngetik… jadi deh laporan, mungkin dosen-dosen sebaiknya belajar juga kalau dunia kerja itu bukan hanya kampus dimana dosen-dosen hidup dengan individualismenya, tapi ada pabrik, kantor, toko, pasar, dll.

Pertanyaan dan pernyataan di atas tentu mendapat banyak dukungan dari teman-teman yang pernah merasakan bahwa keberadaan skripsi merupakan ganjalan terbesar dalam meraih gelar kesarjanaannya. Skripsi hanyalah beban dan tidak melihat manfaatnya.

Penulis pernah mendengar sendiri, ada ide dari seseorang pejabat birokrasi perguruan tinggi yang merencanakan akan menghapus skripsi dengan alasan bahwa lulusannya perlu waktu lama dan kebanyakan penyebabnya adalah skripsi. Orang tersebut bergelar doktor lho. Jadi, agar dapat mencetak sarjana sebanyak-banyaknya secara cepat maka dia mengusulkan “skripsi dihapuskan saja“.

Skripsi merupakan beban yang dapat menghambat bahkan menggagalkan rencana untuk mendapat gelar kesarjanaan, itu memang diakui penulis. Pengalaman pribadi : sewaktu S1 di UGM teori selesai tahun ke-4, tapi lulusnya sendiri baru tahun ke-5 (menjelang 6) itu juga gara-gara skripsi. Lalu sewaktu S2 di UI, teorinya on-time (tidak ada mengulang), harusnya 2 tahun sudah selesai, tapi apa dikata, baru tahun ke-3 lulus, itu juga gara-gara thesis. Lalu ada teman, yang teori sudah selesai tapi karena nggak sanggup menyelesaikan skripsi (males ketemu dosen) sampai sekarang belum menjadi sarjana, karena di DO.

Adanya pengalaman itu semua, penulis mengakui bahwa ide doktor tersebut di atas “untuk menghapus skripsi agar dapat mencetak banyak sarjana secara cepat” adalah tepat sekali.

Tetapi apakah dengan demikian saya mendukung skripsi dihapus ?

Untuk menjawab hal tersebut, ada baiknya saya bertanya terlebih dahulu tujuan pendidikan sarjana. Selama ini ada dua golongan cara berpikir untuk bersekolah. Pertama adalah asal lulus dan mendapat gelar. Kedua adalah mendapatkan aura mental sarjana sekaligus gelar formal.

Catatan : jika punya aura mental sarjana yang benar maka dianya akan bangga jika prestasi yang dihasilkan ini adalah hasil kerja kerasnya sendiri tidak sekedar karena disuapi. Jika demikian tentu tidak ada komentar mengapa dosennya yang menguji itu tidak mencarikan pekerjaan dsb-nya.

Jika yang pertama yang menjadi tujuan pendidikan, maka tidak ada masalah, apakah skripsinya di hapus atau tidak. Jika ternyata dihapus dapat cepat lulus maka tentunya golongan ini yang paling mendukung.

Sedangkan yang kedua ini, tentu lebih memilih-milih pendidikan yang akan ditempuh. Waktu studi yang cepat sekaligus mendapat gelar formal tentulah menjadi dambaannya, tetapi disana pada waktu lulus tersebut mereka juga harus merasakan adanya perbedaan dalam cara berpikir, diharapkan mereka lebih PD. Tidak hanya karena punya gelar baru, tetapi juga karena adanya wawasan baru bahwa ia ternyata mampu menyampaikan idenya dan mampu menyakinkan penguji-pengujinya. Yang terakhir ini akan dia dapatkan jika dalam kurikulum tersebut ada skripsi.

Lho koq gitu.

Bagaimana jika skripsi diganti menjadi tugas akhir pak. Apa itu menjadi masalah.

O ya, memang kata skripsi cukup banyak menimbulkan ketakutan, oleh karena itu ada yang mengganti dengan kata “tugas akhir” dsb, tetapi jika essensinya adalah tulisan ilmiah dalam format yang telah ditetapkan oleh penyelenggara maka pada prinsipnya tidak ada perbedaan.

Jadi untuk mengakhiri atau menuntaskan gelar sarjana, maka mahasiswa yang bersangkutan harus dapat membuktikan kemampuannya dalam membuat karya tulis tersebut, dan mampu mempresentasikan secara benar ke sidang penguji, termasuk menjawab hal-hal yang terkait dengan bidang yang ditelaah tersebut. Tentu saja dalam membuat karya tulis tersebut si mahasiswa tidak dilepas sendirian, tetapi diberi pembimbing, sehingga terjadi interaktif / diskusi ilmiah satu sama lain sehingga dapat dihasilkan karya ilmiah yang pantas untuk dipresentasikan dalam sidang ujian.

Karena saya termasuk dosen yang mempunyai pendapat di atas maka saya cenderung untuk mempertahankan adanya skripsi tersebut. Karena satu-satunya mata kuliah di tingkat sarjana yang mewajibkan mahasiswa untuk membuat karya ilmiah dalam suatu format tertentu, yang arahnya diawasi / dibimbing secara individu, serta di uji dalam suatu sidang penguji maka hanya skripsi atau tugas akhir itu. Jadi jika itu dihapus maka tidak ada bukti tertulis bahwa mahasiswa yang bersangkutan mampu membuat karya tulis yang dimaksud.

Catatan : saya di Jurusan Teknik Sipil UPH menjadikan pembuatan laporan kerja praktek, mempunyai pola kerja penulisan mirip skripsi. Tapi tentu saja bobotnya belum bisa dianggap sama. Saya jadikan itu sebagai wahana pemanasan bagi mahasiswa untuk mengambil skripsi nanti. Itu dengan asumsi skripsinya bimbingan saya juga, karena kebetulan semua laporan kerja praktek adalah melalui saya. Maklum mahasiswanya masih sedikit, kalau banyak, angkat tangan aja deh. Jadi punya mahasiswa sedikit setiap angkatan itu ada untungnya juga ya, kontrol mutu dapat dengan mudah dilaksanakan.

Jadi kemampuan mahasiswa untuk menuliskan itu yang menjadi fokus utama kenapa skripsi dipertahankan.

Kemampuan seseorang dalam menuangkan gagasan secara tertulis merupakan representasi dari kualitas intelektualitas seseorang, karena melalui tulisan atau karya tulis seseorang mewujudkan pikirannya. Dari tulisan memang akan kelihatan logika berpikir seseorang. Apakah subjek, predikat dan objeknya jelas, atau kalimatnya kacau. Dengan menulis, seorang belajar berpikir secara eksak dan padat. Ia harus tahu sistematikanya. Ia harus sadar akan fokus yang dibicarakannya, yaitu hal-hal yang penting atau yang bermakna, tidak “ngalor-ngidul”. Ia harus dapat memilih kata-kata atau kalimat (diksi) yang baik, pantas dan dapat dipahami oleh orang yang diproyeksikan akan membacanya. Jadi, ia harus sadar betul untuk siapa laporan tersebut dibuat.

Kemudian dengan modal karya tulisnya tersebut, si mahasiswa pada sidang ujian skripsi mampu menyakinkan dewan penguji bahwa ide-ide yang dituangkan dalam karya tulisnya itu memang pantas untuk dianggap sebagai sarjana (atau magister atau doktornya).

Jadi keberadaan skripsi lebih diutamakan bagi pengembangan intelektual dari mahasiswa tersebut. Bukan untuk membuat penelitian yang berguna bagi masyarakat, bukan untuk penemuan yang langsung dapat diterapkan dan bukan untuk penemuan yang dipatentkan. Tetapi apabila itu memang ada, itu adalah suatu keistimewaan. Disarankan tetapi tidak diwajibkan, karena kalau diwajibkan nanti nggak ada yang lulus sarjana, kalaupun ada, sedikit sekali.🙂

Catatan : sebenarnya tingkat karya tulis yang disyaratkan untuk S1, S2 atau S3 sudah diarahkan sedemikian rupa, hanya tingkat S3 yang harus orisinil dan menambah perbendaharaan keilmuan, dan kalau bisa berguna bagi dunia nyata.

Dengan cara berpikir seperti itu, akan diketahui bahwa tugas utama skripsi adalah mengantar mahasiswa untuk lulus sidang ujian kesarjanaannya. Titik. Selanjutnya skripsi tersebut disimpan di perpustakaan dengan maksud sebagai bukti otentik tertulis bahwa mahasiswa bersangkutan telah menempuh evaluasi intelektualitas yang dimaksud untuk tingkat kesarjanaannya.

Penulis tidak setuju bahwa yang penting adalah bahwa hasilnya sudah dipakai masyarakat, dll-nya. Jika itu yang dipakai sebagai patokan maka yang dievaluasi adalah ketrampilan atau inovasinya atau kegigihannya tetapi tidak mencerminkan intelektualitasnya.

Saya selaku dosen, ingin agar selama pendidikannya bahwa mahasiswa mampu menunjukkan tingkat penguasaan yang tinggi terhadap tugas-tugas belajar (learning task) yaitu dengan lulus ujian mata kuliah-mata kuliah yang telah disusun dalam kurikulum tertentu. Juga mampu menunjukkan intelektulitasnya dalam menuangkan gagasan dalam karya tulis serta mampu mempresentasikan secara baik dihadapan dewan penguji yang umumnya lebih berpengalaman.

Catatan : intelektualitas kadang-kadang tidak berhubungan dengan kekayaan materiil, ini perlu ditekankan. Banyak dijumpai (khususnya di sini) karena ada aji mumpung, ada istilah tempat basah dan kering dan juga karena “pinter ngladeni” maka kekayaannya jauh-jauh lebih hebat dari orang yang secara formal disebut intelek, misalnya profesor. Memang ada sih profesor yang kaya raya, tetapi apa yang terjadi, ternyata karena penyalah-gunaan jabatan.

Intelek disini lebih dikaitkan dengan kemampuan seseorang, baik lesan maupun tertulis yang mempengaruhi pikiran orang lain. Jika lesan maka pengaruhnya terbatas pada orang yang dijumpainya (sekarang bisa meluas karena ada bantuan audio-visual) tetapi jika tertulis akan lebih luas dan sifat lebih abadi.

Berkaitan dengan standar penulisan nggak ada kaitannya dengan dunia kerja.

Lha iya itu. Pada tingkat sarjana, kita tidak mendidik seperti tukang, bukan ketrampilan tetapi lebih kepada cara berpikir, pada intelektual. Tidak mesti apa yang didapat di perguruan tinggi langsung dapat langsung diterapkan, kalaupun bisa itu adalah nilai tambah.

Jadi standar penulisan yang dimaksud adalah untuk menentukan kesamaan / keseragaman bagaimana bentuk karya tulis yang perlu disiapkan agar ada kesamaan antara dosen pembimbing skripsi, dosen penguji skripsi dan mahasiswa pembuat skripsi itu sendiri.

Satu perguruan tinggi, bisa sama atau bahkan bisa berbeda satu sama lain. Tapi antar jurusan dalam suatu perguruan tinggi pasti ada hal-hal utama yang menjadi ciri khasnya. Jadi bisa nanti setelah bekerja maka standar penulisan tersebut tidak berguna sama sekali. Menurut saya sah-sah saja.

Menurut saya, persyaratan skripsi pada suatu perguruan tinggi yang berorientasi pada pengembangan intelektual adalah mutlak dan ideal.

Coba kita kutip kata-kata prof Dedi Supriadi (alm).

Orang banyak menulis karya ilmiah, pastilah banyak membaca. Sebaliknya, orang banyak membaca, belum tentu banyak menulis.

Sepandai-pandainya seseorang, sekaya-kayanya gagasan yang ada dalam pikirannya, tanpa ia mampu mengungkapkan khususnya dalam bentuk karya tulis belumlah cukup dan belum terbukti kepandaiannya.

Dari perkataan saja, seseorang belum dapat membuktikan reputasi keilmuannya, karena apa yang dikatakannya seringkali berubah, tidak sistematis dan spontan. 

Dengan adanya mata kuliah skripsi maka minimal seorang sarjana pernah membuktikan kepandaiannya minimal sekali seumur hidupnya. Coba anda teliti, pasti tidak semua yang bergelar mampu menulis lagi setelah mereka lulus.

Lalu mengapa skripsi menjadi momok ?

Menurut pengamatan, belum semua yang disebut dosen pembimbing skripsi mampu menjabarkan apa sebenarnya yang disebut menulis skripsi. Belum tentu para dosen pembimbing tersebut bila dipindah posisikan juga mampu secara tuntas menyelesaikan tugas skripsi tersebut. Ingat mengevaluasi itu lebih mudah daripada dievaluasi. Ketidak mampuan mengevaluasi tetapi merasa punya hak untuk mengevaluasi itu yang membuat ada kesan dosennya sok, dsb.

Bagaimana dosen tersebut mempunyai indikasi “mampu” atau “tidak mampu”. Yah, simpel saja, lihat aja karya tulisnya.

Lho tapi khan dosennya udah S2, pak ?

S1 atau S2 wah nggak ngejamin itu mas. Anda tahu, saya waktu lulus S2, udah punya pengalaman lapangan segudang, udah jadi dosen lima tahun. Apa yang terjadi. Kalau saya diminta periksa skripsi maka pertama-tama yang saya lihat tanda baca. Kecuali ada hitungan yang jelas-jelas salah, saya cenderung nggak berani koreksi keseluruhan. Cenderung masih susah melihat skripsi secara keseluruhan bermutu atau nggak. Tetapi setelah banyak menulis, baru tahu, apa yang dimaksud latar belakang permasalahan, batasan, studi literatur, metoda penelitian, kesimpulan, abstrak, apa gunanya masing-masing itu untuk mendukung ide-ide kita dan untuk membebaskan kita dari kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi ketika presentasi atau ingkar dari pertanyaan dosen. Banyak menulis itu nggak ada hubungannya memang dengan S1 dan S2.

Dan faktor “banyak menulis” ini pula yang saat ini menjadi kendala terbesar dari dosen-dosen, banyak yang mengaku bekerja sebagai dosen tetapi nggak punya tulisan.

Saya yakin jika dosen pembimbingnya senang menulis, dan dapat mengajak mahasiswa menyenanginya pula, maka saya yakin skripsi tidak beda dengan pekerjaan-pekerjaan menulis lainnya. Gampang !

Semoga skripsi atau karya ilmiah lain menjadi bentuk aktualitas seorang mahasiswa untuk pantas disebut sarjana dan tidak sekedar mengandalkan ijazah formalitas belaka.

Amin.

Note : ada tip-tip menulis skripsi versi Wiryanto. Pasti mak nyuss lho.

20 thoughts on “skripsi, emangnya perlu ?

  1. Pak Wir,
    Cuman mau nambahin sesuatu yg kecil untuk artikel diatas. Akan lebih baik kalo nama Mas davy_jongrak tercantum di cited artikel bagian atas, mengingat artikel diatas terkait langsung dengan comment dari Mas davy_jongrak.

    Tentang bahasan apakah skripsi/tugas akhir (TA) perlu ato tidak. Menurut saya skripsi/TA perlu untuk melatih kita dalam menuangkan ide/pemahaman/pendapat tentang suatu topic. Mungkin mirip dengan menulis halus di ujian bahasa indonesia waktu saya masih di SD. Perbedaan mendasar dengan yang saya alami sekarang adalah di materinya, selain format penulisan. Kalo dulu nulis tentang sesuatu yang non-teknikal, sekarang yang teknikal.

    Di luar kemampuan menulis (i.e. cara menyampaikan jalannya percobaan) dari mhswnya, mungkin perlu usaha lebih dari pembimbing untuk mengarahkan tulisan dari seorang mahasiswa. Apalagi kalau TA/skripsi adalah artikel pertama dari si mhsw.

    regards.

    Suka

  2. toh akhirnya skripsinya cuma jadi tempat hinggapnya debu di perpustakaan

    Nah, ketahuan kalo ketika anda bikin skripsi dulu, nggak pernah lihat skripsi2 pendahulu anda; entah karena andanya males atau memang skripsi2 senior anda nggak mutu. Kalau memang skripsi anda se-bermanfaat yang anda koar2kan, saya yakin kok skripsi anda nggak bakal cuma jadi tempat hinggapnya debu di perpus🙂

    Gimana kalau syarat jadi sarjana itu hasil penelitiannya bisa dipakai oleh masyarakat. Nah ketika outputnya ke masyarakat sudah jelas, tim penguji tanyain aja tuh yang make, kalau yang make puas, lulus deh, kalau nggak puas, perbaikan lagi !

    Bukannya rata-rata skripsi punya subbab yang namanya tujuan dan MANFAAT penelitian (ada manfaat teoritis dan manfaat praktis)? Atau ini cuma sebatas bidang ilmu sosial yang saya tekuni? Kalau ini saja bisa digarap dengan baik, tentunya sudah menjadi indikator bahwa skripsi tersebut BISA dipakai oleh masyarakat, setidaknya para akademisi di masa depan.

    Tapi kalau syarat jadi sarjana itu adalah hasil penelitiannya HARUS SUDAH dipakai oleh masyarakat (seperti yang anda alami), saya nggak setuju. Itu bisa ‘memaksa’ mahasiswa untuk mencari topik yang populis/ngetrend atau gampang dimanfaatkan untuk saat ini saja; ini tentunya membuat dunia ilmu makin sempit dan terlalu disetir oleh pasar. Bayangkan kalau di Indo sedang populer industri A, dan di situ sedang populer masalah X, maka ribuan mahasiswa di seluruh Indo akan membahas industri A dan masalah X buat skripsinya (karena besar kemungkinannya bakal dipake oleh ‘masyarakat’). Jenuh banget pastinya, dan sedikit kandungan inovasi/kreativitasnya. Untuk alasan-alasan lainnya, saya senada dengan Pak Wir.

    Lagipula, saya tidak yakin pemakai hasil penelitian kita (yang mungkin saja awam) bisa memberikan ‘nilai’ yang valid dan reliabel. Mungkin mereka bisa saja merasa puas, tapi bagaimana dengan efek samping yang mungkin timbul? Apakah hasil tersebut dapat dipertahankan dalam jangka waktu yang lama? Atau malahan efek negatif yang bisa terjadi dalam jangka panjang? Apa masyarakat pemakai hasil itu pasti bisa mengetahuinya? Justru di depan dosen pengujilah hal-hal seperti ini bisa ketahuan sebelum hasilnya terlanjur dipakai orang.

    Untuk menulis laporan kerja, saya punya sekretaris pinter, dan saya cukup buatkan skema di kertas, dia langsung ngetik… jadi deh laporan, mungkin dosen-dosen sebaiknya belajar juga kalau dunia kerja itu bukan hanya kampus dimana dosen-dosen hidup dengan individualismenya, tapi ada pabrik, kantor, toko, pasar, dll.

    Kalau memang dari awal orientasi anda cuma untuk bekerja, rasanya sayang kalau susah2 kuliah di universitas. Mending ke LP3i, akademi, atau sekolah tinggi lain yang ilmunya lebih siap pakai tho? Bahkan, kalau memang cita-citanya jadi bos yang bisa nyuruh2 bawahan melakukan ‘pekerjaan kuliahan’, nggak perlu sekolah tinggi2 juga bisa. Punya jiwa dan skill enterpreneur (dan bossy) dah cukup😉

    Tenang, saya bisa nangkep nada lain dari tulisan anda kok. Memang kebanyakan univ kita masih terlalu menggalakkan hard skill dan kurang memupuk soft skill yang juga dibutuhkan di dunia kerja, tapi ini bukan alasan u/ mementahkan makna “standar penulisan dan pengujian di depan dosen”.

    He, saya nggak becanda kog pak, hasil penelitian saya udah banyak yang pake selama 2 tahun, tapi saya masih terkendala skripsi cuma masalah-masalah penulisan dan urusan administrasi dengan penguji dan instansi.

    Nah, ini nih jiwa bossy yang baik. Masalah terjadi karena dirinya sendiri, tapi kesalahan ditimpakan ke orang lain, bahkan ke struktur pendidikannya😀

    Hehehe, untuk yang terakhir itu saya setengah bercanda kok. Memang untuk masalah birokrasi dan administrasi, Indonesia kayaknya masih jauh dari praktis, mudah, dan cepat. Tapi…menganggap “standar penulisan dan pengujian di depan dosen” itu secara keseluruhan tidak penting hanya karena anda memiliki masalah di hal itu? Give me a break…

    Suka

  3. Pak Wiryanto yang baik.., mau minta ijin menambahkan link atau alamat wordpress bapak di tempat saya, agar dapat memudahkan saya (yang sering lupa ini..hehehe) dapat mengakses dan membaca tulisan-tulisan Bapak.
    Maturnuwun sanget sebelumnya.

    Wir’s note : untuk menjadi alamat blog ini acuan atau link silahkan, tidak perlu minta ijin segala, jika itu demi kebaikan bersama bahkan diucapkan terima kasih.

    Suka

  4. Saya sependapat dengan Pak Wiryanto. Banyaknya keluhan tentang lamanya waktu nyusun skripsi, bukan alasan kuat untuk menghapus skripsi.

    Menurut pengamatan dan pengalaman saya, yang suka mengeluh adalah mahasiswa yang malas menulis dan mahasiswa yang belum terbiasa membuat karya ilmiah sejak SMA. Penyebabnya adalah kurikulum SMA yang menempatkan kegiatan karya ilmiah dalam ekstra kurikuler sehingga hanya sebagian siswa yang berminat saja yang belajar bagaimana membuat karya ilmiah.

    Kelompok siswa macam ini ( alumni KIR ) biasanya tidak mengalami masalah dalam menulis karya ilmiah termasuk skripsi karena sudah terbiasa dan beberapa bahkan sudah kecanduan menulis karya ilmiah. Mustinya, pembuat kurikulum SMA yang berfikir mana yang perlu dan mana yang tidak perlu dimasukkan ke kurikulum, mahasiswa hanya korban kurikulum.

    Terimakasih dan salam eksperimen.

    Suka

  5. *manggut-manggut*

    skripsi saya juga molor banget dari bulan desember 2006 sampe sekarang. alasannya ya itu, gak tau kenapa kok males banget di masa-masa kaya gitu.

    Suka

  6. Hallo Mas Ivoel,

    I am sorry I don’t get what you meant by saying “you want much receipt”. You might want to describe it in more sentences, right ?

    Anyway, linknya (www.insyaf.tk) koq gak bisa dibuka ya ?? Ato komputerku yang bermasalah ??

    regards.

    Suka

  7. Evaluasi terhadap pembelajaran itu memang perlu, berbeda2 cara orang untuk mengevaluasi, salah satunya skripsi yang bisa memberikan gambaran sejauh mana ilmu2 yang diterima terserap.

    kalo memang ada cara lain yah itu memang cara mereka mengevaluasi

    Suka

  8. Sekalian aja nggak usah kuliah, toh orang nggak kuliahan pun bisa sukses – Eh, Kiyosaki yang bilang gitu duluan ya?

    Jadi ingat kisah tentang murid yang ingin latihan beladiri tapi sama gurunya malah disuruh tiap hari ngangkat gentong air dari lembah ke atas bukit. Jika si murid nggak ngerti maksud sang guru, dia bakalan ngomel mulu dan menjadi putus asa. Tapi jika dia menyadari maksud sang guru sesungguhnya, maka dia akan mengerjakannya dengan senang hati dan dengan penuh kesungguhan.

    Wir’s comment : Mas Cahya, apa sih yang disebut sukses. Apa hanya kaya-raya aja, seperti pak Tomi atau pak Bambang yang tanpa sekolah-sekolah tinggi juga udah lebih hebat (kaya raya) dari para profesor. Atau kayak pak Wijanarko P, yang ketika diperiksa KPK sampai membuang uang di toilet. Apakah kesuksesan tersebut dapat dengan mudah di ukur dari kenampakan luarnya aja.

    Nggak gampang bukan, oleh karena itu sebagai pendidik, saya tidak akan menjanjikan bahwa mhs-nya pasti nanti akan dapat sukses (segala-galanya). Bukan itu, saya hanya menjanjikan bahwa adanya perubahan cara berpikir. Perubahan dalam cara berpikir itu suatu yang dahyat. Gitu lho.

    Suka

  9. Pak Wir,
    Kalimat pertama saya itu saya tujukan terhadap orang yang mau cepat mencapai goal tanpa ingin melewati proses, yang maunya lewat shortcut mulu.

    Sedangkan menjawab pertanyaan anda soal sukses, itu jelas : Sukses adalah mendapatkan apa yang anda cita-citakan.
    Jelas definisinya, tapi untuk mendapatkan ukuran-nya, itu yang susah, karena nisbi.
    Juga apakah ukuran “great, average or less” suatu pencapaian itu apakah “di suatu titik yang sdh kita capai”, atau di “proses-nya”?

    Success, sometimes, is measured by what you have; or it is measured by the position that you have reached. But, sometimes it is measured by the obstacles which you have overcome.

    Si Tommy tentu sukses dilihat dari apa yang telah dicapainya, tapi dinilai dari caranya dia mencapai keadaan tersebut mungkin kadar suksesnya jadi berkurang nilainya. Tiga anak Mbok Rondo Paing hanya sarjana yang jadi PNS gol 3, tapi dilihat dari kesulitan yang dihadapi oleh Mbok Rondo Paing dalam membuat tiga anaknya bisa lulus sarjana semua tentunya kita bisa bilang Mbok Rondo Paing itu orang sukses.

    Oh ya, saya setuju bahwa perubahan pola berpikir itu bisa mempengaruhi banyak hal.

    Suka

  10. Mas Wir,
    Masih ingat saya ? Kita kemaren ketemu di Untar, kita sama-sama menjadi pemakalah.
    Komen masalah blog anda : sangat hebat, sulit ditandingi.

    Masalah Skripsi itu wajib dikerjakan oleh calon Sarjana sebab banyak hal yang dapat diambil manfaatnya ketika seorang calon sarjana mengerjakan Skripsi, antara lain :

    1. Pembentukan karakter. Jika pembimbing dapat mengarahkan secara benar maka akan lahir sarjana yang memiliki semangat pantang menyerah dan pekerja keras. Ini penting dalam menapaki dunia kerja, walau pekerjaannya kelak tidak berhubungan dengan skripsinya tak mengapalah.

    2. Kreatifitas. Jika idenya menarik dan orisinal maka akan lahir sarjana yg kreatif. Ini juga penting dalam dunia kerja.

    3. Mengasah logika. Skripsi sudah jelas akan mengasah logika sehingga sarjana dapat berpikir secara logis.

    4. Melatih mental. Dengan mengerjakan skripsi maka mental mahasiswa dapat tergembleng.

    5. Melatih presentasi, mengajukan pendapat di muka umum, mempertahankan pendapat secara sehat. Hal ini penting dalam dunia kerja.

    6. Melatih menulis. Jadi lengkaplah seorang sarjana, mentalnya harus bagus, sikap akademisnya juga, termasuk harus mahir membuat tulisan ilmiah. Diharapkan seorang sarjana dibekali dengan kemampuan di atas.

    Demikian dari saya.

    M. Ardi Cahyono

    Wir’s comments : trims atas kunjungannya, semoga dapat menjadi inspirasi anda juga untuk membuat blog serupa pada bidang kajiannya. Salam Sejahtera

    Suka

  11. Saya seorang mahasiswi program kelas malam (ekstensi) yang bekerja sebagai administrasi produksi di sebuah perusahaan swasta.

    Saat ini saya lagi bingung, akan mengambil jalur skripsi atau non skripsi. Mengingat kesibukan saya di siang hari, saya takut klo skripsi saya gagal ditengah jalan. Selain itu, saya masih ingin mencari pekerjaan yang lebih baik di perusahaan lain (bukankah ada beberapa perusahaan yang menanyakan skripsi mahasiswa pada saat proses recruitmen??)

    mohon penjelasan semua pihak ! trims

    Suka

  12. ada perusahaan yang tanya skripsi saat recruitmen

    Saya baru tahu ada pendapat seperti itu. Perusahaan apa ya ? Saya udah pindah pekerjaan beberapa kali (industri bahkan institusi pendidikan sekalipun), juga untuk sekolah lagi. Nggak ada tuh yang tanya skripsi. Tanyanya hanya tentang copy ijazah, kadang-kadang ada juga tuh tentang transkrips nilai.

    O ya, ingat, dulu waktu S2 di UI, di ujian metodologi riset baru ditanyaai tuh ttg tingkat keilmiahan skripsi s1-nya. Waktu itu disuruh evaluasi ulang, hal-hal ilmiah dari skripsi yang pernah dibuatnya. Selain itu, nggak ada tuh.

    Skripsi memang penting, tapi yang lebih penting lulus sekolah dulu. Jika bisa lulus tanpa skripsi, ngapain susah-susah.

    Aneh ya, koq pak Wir nggak konsisten dengan yang di atas bahwa skripsi perlu.

    Latar belakang pemikirannya adalah begini:

    Skripsi bagi mahasiswa susah, tapi dari sisi dosen, membimbing skripsi yang benar juga susah. Indikasinya, dosen pembimbingnya mampu juga nggak membuat publikasi mandiri? Kalau ada, baca ! Pahamkah anda dengan apa-apa yang dituliskannya. Banyak dosen yang nulis sekedar memenuhi kum untuk kenaikan pangkat. Tulisannya sendiri kalau dibaca kadang membuat bingung, apa sih yang dimaksud. Ya maklum, copy-paste kanan-kiri.😀

    Karena itulah, maka untuk menghindari skripsi menjadi beban (banyak yang tidak lulus-lulus) maka ada institusi yang membuat jalur alternatif : “Bisa lulus tanpa skripsi“. Intinya, dari pada institusi tidak sanggup menyediakan pembimbing skripsi yang ‘baik’, ya udah kasih aja alternatif lain. Itu biasanya ratio dosen pembimbing dibanding mahasiswa terlalu jauh (njomplang).

    Adapun ciri-ciri institusi pendidikan seperti itu, adalah (1) mahasiswanya terlalu banyak; (2) dosen tetapnya sedikit, muda-muda sekedar untuk menangani pekerjaan administrasi (kajur, sekjur, kalab dll); (3) yang banyak dosen tidak tetap, kerenya dosen terbang, banyak praktisi yang nyambi jadi dosen (tambahan uang jajan), ini umumnya institusi berdalih “link-and-match atau banyak pengalamannya” ; (4) orientasi pendidikannya adalah jumlah kelulusan (gelar). Ini kayak ujian kelulusan SD, kuantitas dan bukan kualitas.

    Sorry ini pendapat umum saya lho, bukan ke institusi anda. Moga-moga tidak begitu.

    Kalau saya punya anak, institusi yang seperti itu kalau bisa saya hindari. Tapi kalau sudah kepalang basah (sudah ada di dalam), ya udah lulus aja, ngapain lama-lama di situ apalagi ambil skripsi. Boro-boro mendapat pengalaman ideal yang seperti saya ceritakan di atas. Bisa-bisa nggak lulus-lulus, itu berarti waktu dan biaya jelas hilang.

    Transformasi cara berpikir, wah itu mah nanti aja, yang penting GELAR ! Tapi terakreditasi pemerintah lho, kalau nggak, bisa-bisa ketika mau diangkat jadi pejabat bisa di usik-usik itu gelar. Jika sudah punya gelar seperti itu khan bisa untuk nglamar kerja yang baru. Ya sudah, ngapain lagi.

    Suka

  13. sekarang mah realitasnya tau sendiri output dari bbrp univ….or institut….
    s’x waktu da hasil tes rekrutmen output jebolan cumlaude toh masih banyak yg dibawah ouput yg “2.5”….

    anyway Q bangga dengan skripsiku…. dg background pure science n setumpukan textbook, n bolak-balik bimbingan (salah ketik, dr isi no no no…hi hi)… buat program pendukung sendiri…kereingat sendiri… wah bangganya ampe skrg betah banget baca skripsiku… sampe2 banyak minta bimbingan…

    intinya betul skripsi menentukan paradigma berpikir dan kemampuan analisis yg tepat……

    bangga juga bantuin teman u/ bahan seminarnya… hanya baca buku yang dia bawa + pengetahuan yang sudah ada, kasih penjelasan gamblang… dpt “A” lah dia….

    cuman jangan seperti saya yang terlalu kritis ketika kuliah… habis nanti nilai kita di hantam… toh dosen juga manusia… perbedaan bisa jadi di bawa ke hati… then dibawa ke “nilai” hu hu hu… ampe ngancem gak usah dilulusin di sidang…. padahal dia jebolan S2 institut terkemuka di republik ini…. karena ancamannya saya minta dia “out” dari daftar penguji… coz dah gak professional banget…. dah cukup dia ngasih C u/ semua MK yang dia ajar (rekan yang ngepek ama Q dapat A/B) tapi tidak u/ sidang. Sayangnya malah temanku yg dia gak lulusin…. n syukurlah temanku pemaaf ketika u/ sidang ke2 kali dosen tu minta damai….

    Suka

  14. salam kenal pak Wir, nama saya Yudi mahasiswa salah satu institut ternama di Surabaya,

    saya mau mengerjakan tugas akhir mengenai analisa lentur penampang balok dengan meninjau efek pengekangan pak, yang saya mau tanyakan adalah ada ga’ refrensi terbaru tentang model tegangan -regangan beton yang yang terkekang “confined concrete”

    kalau ada saya bisa dapat dimana?
    rencananya nanti dalam tugas akhir tersebut akan membahas bagaimana memodelkan blok stress dari beton yang terkekang itu pak.
    Thanks Pak Wir!

    Wir’s comments :
    salam kenal juga. Sedang kuliah di institut ternama di surabaya ?
    apa ya, o ITS (Institut Ternama Surabaya). Ok, ok😀

    Kalau untuk tertekang khan tinggal mendefinisikan diagram stress-strain-nya. Di bukunya mac Gregor ada lho.

    O ya, kalau sudah dapat, langsung aja dipakai untuk buat programnya untuk analisa penampang. Programnya aku udah buat koq, diagram stress-strainnya dari PCI tinggal di ganti aja. Udah baca buku karyaku yang ke-tiga ? Ada lho disitu, ada CD-nya juga tinggal copy dan run –> beres.

    Suka

  15. menarik sekali pas baca artikel dan komentarnya.
    perkenalkan saya Sam, saya anak manusia yg masih belajar ttg sistem pendidikan.

    cuma mau nanya, buat skripsi bisa bikin saya kaya gak pak?

    Suka

  16. Saya sedang masuk tahap revisi skripsi.
    Namun, baru diketahui bahwa dosen-dosen ingin skripsi saya menjadi contoh untuk yang lain.
    1. IPK saya memang terbilang baik dibandingkan yang lain,
    2. Sejak dibangku kuliah, saya memang tidak memiliki minat untuk mengerjakan skripsi. Minat saya ada di bidang lain, bukan penelitian ilmiah tersebut.

    Mungkin, pernyataan saya ini kurang tepat. Tapi, IPK saya bisa baik disebabkan oleh, saya tertarik dengan praktek praktek yang ada di kelas, dibandingkan teori itu sendiri.

    Sampai hari ini, saya membaca artikel dan jurnal mengenai pendidikan. Tidak sedikit negara maju justru menjadikan skripsi sebagai mata kuliah pilihan. Tapi semua punya opini masing-masing.

    Suka

  17. Saya sangat setuju. Faktanya dalam perkuliahan apa yang diajarkan dosen dengan skripsi itu beda jauh bagai langit dan bumi. Udah tuh menyelesaikan per-bab aja harus ada dua dosen pembimbing, yah kalau kedua nya akur, kalau gak tambah lama mahasiswa untuk wisuda.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s