jembatan rubuh di USA



Vehicles are scattered along the broken remains of the Interstate 35W bridge, which stretches between Minneapolis and St. Paul, after it collapsed into the Mississippi River during evening rush hour Wednesday, Aug. 1, 2007, sending vehicles, tons of concrete and twisted metal crashing into the water. (AP Photo/The Star Tribune, Heather Munro)

dikutip dari Pantagraph.com

Anda lihat foto di atas, itu mobil-mobil betulan lho. Kejadiannya di USA, baru saja kemarin. Bayangkan, suatu negara maju yang mana bidang engineering-nya menjadi panutan atau referensi banyak negara-negara lain, ternyata mengalami kejadian yang mungkin tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Seperti kejadian 911 tempo hari.

Jika itu akibat teroris, mungkin masih mending, maksudnya bahwa itu terjadi karena ada rencana jahat. Tetapi jika ternyata bukan, tetapi akibat kondisi alam (bukan maksud jahat manusia) , wah ini benar-benar PR luar biasa bagi para engineer, khususnya structural engineer.

Dikutip dari 11Alive.com

Mengapa itu bisa terjadi !!!!   Kenapa ? Jika di USA saja bisa demikian, bagaimana dengan negara kita !

Kita khan selalu gembar-gembor bahwa ada tiga kata kunci berkaitan dengan kinerja struktur bagi seorang structural engineer, yaitu : strength (kekuatan), stiffness (kekakuan) dan yang terakhir adalah ductile (daktail).  Jika strength dan stiffness terlampaui / gagal (karena alasan apapun, gempa, angin, lain-lain) bolehlah, itu mungkin kehendak alam. Tetapi kata kunci ke tiga yaitu daktail, tidak boleh gagal. Karena hanya itulah, maka korban jiwa dapat dihindari.

Jadi jembatan tersebut runtuh : boleh saja (bisa dicari berbagai alasan untuk membenarkan) tetapi yang nggak benar adalah mengapa tiba-tiba, atau tidak ada tanda-tanda sehingga jembatan masih tetap dipakai, sehingga timbul korban yang sia-sia tersebut. Itu menunjukkan bahwa para engineer gagal memakai ilmunya untuk maksud yang sebenarnya yaitu keselamatan jiwa-jiwa.

Peristiwa tersebut juga menunjukkan bahwa profesi engineer adalah suatu profesi yang tidak sembarangan (istimewa), sama mulianya seperti dokter. Jika mereka (para engineer) tidak bekerja dengan benar, maka kejadian buruk seperti di atas dapat terjadi.

Hanya sayang, di Indonesia masih banyak engineer yang dihargai seperti halnya tukang, dianggap kalah elite dibanding dokter. Masih banyak yang membayar murah !  Jika demikian, bagaimana mereka bisa memberi hati sepenuhnya bagi bidang pekerjaan tersebut. Ini juga PR bagi kita para engineer di Indonesia. Kita khan nggak mau khan kejadian ini akan kita alami langsung.😦

foto-foto yang lain:

dikutip dari Trib-Total Media

<<up-dated 3 August 2007>>

Bila tertarik dan ingin melihat lebih detail ikuti link-link berikut :

<<up-dated 4 August 2007>>

Betapa dahsyatnya kondisi kecelakaan di atas, bahkan dari berita harian kompas masih diinformasikan bahwa masih banyak mobil-mobil yang terseret ke dasar sungai dan tertimpa beton-baja jembatan yang masih belum dapat dievakuasi.

Dari koran Kompas juga diketahui bahwa sebenarnya sudah ada tanda-tanda bahwa kondisi jembatan dipertanyakan yaitu dijumpainya karat pada baja tumpuan. Laporan tahun 2005 bahkan menunjukkan kalau kekakuan jembatan telah berkurang 50%. Wah gimana ya, udah tahu gitu koq masih dipakai. Tapi tunggu dulu, gimana cara ngitungnya, kalau yang yang diketahui hanya karat. Bisa-bisa asal ngomong doang. Tapi buktinya, ada yang runtuh.  Wah gimana ya, jadi ilmu strukturnya masih terbatas ya.

Kalau begitu adanya karat bisa menjadi tanda yang serius. Kayaknya orang sipil nggak terlalu concern nih kalau karat suatu hal yang serius, maksudnya sampai menghasilkan keruntuhan seperti itu. Karat khan memang sesuatu yang gawat jika tidak ada pengechekan, padahal tiap tahun di US sana pengecheckannya ketat lho. Gimana itu teman-teman, ada punya pendapat ?

Ok, saya kira udah pada jenuh ya melihat kondisi runtuh dari jembatan I35w tersebut. Saya yakin banyak yang ingin tahu bagaimana kondisi jembatan tersebut sebelum runtuh. Jadi dapat menjadi masukan jika ketemu jembatan serupa. Ini lho kondisi sehatnya.

Jembatan yang runtuh yang sebelah kiri, yang sebelah kanan masih utuh, padahal lebih tua lho. Jadi ingat pepatah : tua-tua keladi, makin tua makin menjadi.


Sumber rujukan : Wikipedia

Sistem jembatan di atas adalah sistem rangka batang yang menerus. Karena memakai menerus maka bending momen di tumpuan lebih besar dibanding di bagian tengah, oleh karena itu anda lihat bagian tengah mengecil. Perubahan bagian pinggir ke tengah membentuk lengkung sesuai dengan besarnya momen akibat berat sendirinya. Jadi meskipun bentuknya lengkung itu tidak termasuk jembatan busur lho. Penjelasan di Wikipedia bahwa jembatan tersebut adalah termasuk jembatan busur adalah salah !

Apa sih beda jembatan busur dengan tipe jembatan rangka batang menerus di atas. Ya jelas beda dong, kalau saya melihat dari cara kerjanya. Jembatan busur maka yang dominan adalah aksi aksial (tekan saja) sehingga diperlukan tumpuan yang rigid, baik itu berupa sendi-sendi atau jepit-jepit.  Sedangkan jembatan rangka batang menerus di atas maka yang dominan adalah perilaku lentur, tetapi karena tipenya rangka batang maka momen lentur akan dialihkan menjadi kopel gaya-gaya pada tepi-tepi atas rangka tersebut. Jadi pada batang-batang rangka hanya ada gaya-gaya aksial (tekan dan tarik).

Mestinya jika strukturnya berperilaku lentur maka tipe keruntuhannya juga liat (daktail), apalagi jika keruntuhannya adalah akibat gaya tarik (baja mengalami leleh – yang merupakan sumber daktilitas dari bahan tersebut). Tetapi perlu diperhatikan jika keruntuhan itu disebabkan oleh gaya tekan, pada elemen tekan maka stabilitas menjadi hal yang dominan. Keruntuhan dapat terjadi meskipun tegangannya di bawah tegangan leleh bahan yg disebut buckling.

Jadi karena keruntuhan jembatan sifatnya tiba-tiba maka memang benar bahwa penyebab bisa saja karat. Analisisnya sebagai berikut. Karat pada bagian tumpuan jembatan (nggak kelihatan dari luar) mengurangi efektifitas luas penampang baja. Bagaimana menguranginya tentu saja perlu di teliti lebih mendalam. Akibat penampang yang ‘mengecil’ maka pada saat beban puncak yaitu gaya tekan yang besar pada komponen tersebut mengalami buckling. Komponen yang dimaksud tentu saja bagian yang kritis, saya memperkirakan dekat tumpuan. Maka terjadilah failure. Karena sifat failure-nya mendadak (tidak daktail) yang mengakibatkan efek dinamik (tiba-tiba) maka akan ‘mengajak’ yang lain.

<<up-dated 13 Agustus 2007>>

Wir,
Terlampir di bawah link ke video cuplikan wawancara dari satu Profesor di Drexel University dan President TT, Daniel Cuoco (ahli Forensik Engineer) dengan TV ABC-Nightline yang ditayangkan secara nasional ke seluruh Amerika pada hari Kamis malam lalu sehubungan dengan ambruknya jembatan baja di dekat kota Minneapolis, MN, yang menyebrangi sungai Mississippi.

BTW, kalau kamu baca dengan teliti, Daniel A Cuoco adalah salah satu contributor dari artikel di Structural Steel Designer’s Handbook (Bab 8) yang kamu taruh di blog websitenya kamu. 

Saya engga tahu dengan kecepatan internet di Indonesia dalam download video ini tetapi bisa dicoba.

Semoga bisa bermanfaat bagi dunia Teknik Sipil di Indonesia.

Thanks

Okie Setiawan, PE
Structural Engineer yang pernah bekerja di PT W & A dan sekarang bekerja di Thornton Tomasetti, Dallas, Texas.

Dan Cuoco, Thornton Tomasetti president, was one of the engineers interviewed for the August 2 edition of ABC’s nationally syndicated Nightline show about the Mississippi River bridge collapse in Minneapolis. Dan spoke about how a forensic investigation is conducted.

You can view a 5-min excerpt at

http://abcnews.go.com/Video/playerIndex?id=3446511

49 thoughts on “jembatan rubuh di USA

  1. Mr Donald,

    Di Indonesia sering loh pak, Jembatan Penyeberangan Jalan tidak hanya digunakan oleh orang saja namun Sepeda Motor.
    Mungkin kalau Jembatan Penyeberangan Jalan selebar mobil, Mobil juga akan ikut-ikutan menyeberang.. Hehehehe..🙂

    Pa Wir,

    Ini merupakan pengalaman yang berharga buat kita para Engineer..

    Syallom..

    nb: Pa Wir sudah menerima UBC 97 dan 1 CD (berisi file e-books) ?

    Suka

  2. Hi Pak Wir,

    Wah, lengkap sekali pak foto2nya..🙂

    kenapa “rontoknya” kayak abis kena gempa ya. maksud nya, klo ada yang gagal di salah satu bagian mestinya paling yang rontok kan satu bentang aja..

    hmmmm…

    Suka

  3. Satu yang kurang, Do’a🙂

    Gak ada hasil karya yang sempurna pak, semuanya rapuh, kita hanya bisa meminimalisir kesalahan tapi tetep aja kesalahan, walaupun cman 0,00000009 % sekalipun…

    Manusia kan bukan Tuhan pak🙂

    Suka

  4. Sebagai engineer kita hanya bisa memodelkan, mengestimasi beban dan Strength of material.
    Tapi kehormatan serta tanggung jawab kita untuk menciptakan struktur yang aman bagi publik.

    Salam.

    Sani

    Suka

  5. Kejadian ini meningkatkan kesadaran tentang pentingnya “structural health monitoring of existing structure“. Jadi pekerjaan seorang engineer tidak selesai pada tahap desain dan konstruksi saja, tapi juga memastikan apakah perilaku struktur yang dibangunnya benar-benar sesuai dengan desain. Ini dapat dilakukan dengan vibration-based monitoring dan real-time monitoring.

    Mudah-mudahan engineers dapat belajar banyak dari kejadian ini, seperti halnya keruntuhan Tacoma-Narrows suspension bridge yang jadi triggering point-nya aerodynamic analysis of long-span bridges.

    sekedar informasi, pelajaran dari kegagalan struktur dapat dilihat pada dokumentasi berikut:
    http://shippai.jst.go.jp/en/Contents?fn=1&id=GE0719

    salam
    Dion

    Suka

  6. Johan Rohadi SMP Unggulan Amanatul Ummah

    Kami ikut prihatin atas tragedi jembatan missisipi
    semoga kita dapat mengambil pelajaran

    Suka

  7. duh sungguh mengerikaan…jembatan didesa sayah juga pernah rubuh hanya karena badan teman saya yang gembul menaikinya heuheu…terang ajah wong cuman terbuat dari beberapa bilah bambu😀

    Suka

  8. Foto²nya lengkap banget..!
    Jadi inget, dulu ada kabar bhw posisi Patung Pancoran dah bergeser bbrp inchi karena gempa di Jakarta.
    Sampai sekarang suka parno sendiri kalo lewat di bawahnya.

    Apa yg di USA itu ada kaitan ama gempa jg?

    Suka

  9. pak, itu ulah amrik sendiri yg menghabiskan dana trilliunan dollar (lebih dari 2 trilliun dollar as) utk perang (invasi) ke negri orang (irak, afghan), tapi mengabaikan keslamatan (ogah ngeluarin duit) buat rakyatnya sendiri (sdh 2 tahun yg lalu ada warning mengenai structural damage). . .
    . . . betul2 hukum karma. . .

    Suka

  10. saya malah merasa bahwa ada kekuatan magis yang melindungi bangunan Indonesia.

    Sementara Mall Sampoong dan Jembatan di atas bisa rubuh gara – gara kesalahan konstruksi, bangunan – bangunan di Indonesia malah hancur oleh Si Jago Merah, diratakan oleh buldoser (atas dasar sengketa tanah), d.l.l.

    Pokoknya kehancuran bangunan di sini didasari oleh tibanya waktu ajal deh.:mrgreen:

    Suka

  11. Tuh jembatan kan dibangun taun 1962, dan rencananya beberapa bulan kedepan akan diperbaiki… (mungkin disengaja biar ngehemat ongkos pembokaran:mrgreen: )

    Hanya sayang, di Indonesia masih banyak engineer yang dihargai seperti halnya tukang, dianggap kalah elite dibanding dokter.

    Saya sebagai calon engineer ikut prihatin…😦

    Suka

  12. Di sisi lain, itulah cara lain Tuhan mau kasih ilmu ke Kita, jadi silahkan para pakar di bidang struktur untuk menggali lebih dalam apa dan mengapa bisa runtuh sehingga untuk kedepan bisa menemukan rumus ataupun safety factor yang lebih aman.

    Kalau para dokter ada penyakit baru itu adalah ilmu baru, paka ahli struktur dapat ilmu baru, salah satunya dari kegagalan struktur itu sendiri.😦

    Suka

  13. Salut untuk artikel dan foto-foto yang sangat mantap mengesankan dan cepat.

    Jembatan rubuh sudah banyak diseluruh dunia dan akan makin bertambah lagi sesuai dengan banyak laporan bahwa kondisi jembatan yang sebenarnya tidak layak pakai. Para pembuat jembatan itu tahu bahwa itu bisa saja rubuh seperti itu. Tapi gedung WTC, 3 (tiga) gedung rubuh dalam satu hari, yang dibuat untuk dapat bertahan menghadapi hurricane, tabrakan pesawat Boeing 707, yang boleh dikata sebanding dengan 737 atau 767, bisa rubuh begitu rapi dalam tempo hanya kurang dari 10 detik. Itu namanya cerita isapan jempol.

    Yang jelas, negara adikuasa kayak USA pun tidak sanggup membenahi jembatan-jembatan dan jalan layang mereka yang sudah begitu banyak dibangun terus, tapi tidak mungkin dibina, dirawat atau diganti dalam waktu dekat ini. Laju pertumbuhan penduduk terlalu pesat, sedangkan dana untuk itu tidak ada. Apalagi kalau perang terus terjadi dan dollar mereka tetap merosot.

    Siap-siaplah menghadapi musibah beruntun terus hingga akhirat dunia!

    Ini sudah dinubuatkan, dan sedang digenapi dengan sangat mengherankan, dan tidak ada yang akan dapat menghalangi atau menghentikan penggenapannya yang akan semakin kerap. Waktu untuk bebenah diri masing-masing diambang kiamat dunia ini, agar layak hidup didunia yang tak ada sakit penyakit, kecelakaan, kesusahan, kejahatan, perang dan kematian selama-lamanya.

    Amin.

    Suka

  14. Gagalnya di tumpuan, Pak. Di pier. Kemungkinan karena gagal momen lebih kecil daripada gagal geser. Gagal momen biasanya ditengah bentang (momen +), di tumpuan bentang menerus biasanya momen –

    Dalam pemodelan rangka batang, semua beban dimodelkan sebagai beban titik di node (buhul), bukan? Jadi memang semua member (batang) hanya berupa batang tekan atau batang tarik, yang nggak menahan momen.

    Tapi, saya sependapat bahwa karat mengurangi efektifitas penampang, ditambah mutu bahannya sendiri berkurang (oksidasi membuat sifat bahan berubah).
    Melihat dari gambarnya, jembatan ini sepertinya dirancang se-ekonomis mungkin, dengan harapan Dead Load dari strukturnya sendiri dapat seringan mungkin, dan menggunakan ukuran batang (member) yang sekecil mungkin.

    Aman pada saat dibangun, pada saat lalulintas masih belum ramai dan belum terkena karat.

    Mohon feedback. Terimakasih.

    Suka

  15. ***Gagalnya di tumpuan, Pak. Di pier. ***

    wah… boleh bagi2 info+data dong, bagaimana bisa sampai pada kalimat diatas ?

    regards.

    Suka

  16. Mas Wir,

    Korosi?, setahu saya untuk struktur-struktur platform dilengkapai dengan cathodic protection untuk melindungi permukaan struktur dari proses korosi, mungkin kedepannya hal ini juga menjadi hal yang mandatori untuk struktur-struktur jembatan selain dicat, karena permukaan cat dapat rusak sewaktu erection, atau persiapan permukaan baja yang kurang baik saat pengecatan sehingga cat tidak dapat menempel dengan baik.

    Bahkan beberapa minggu lalu saat saya ke field, salah satu produsen cat memperkenalkan metode terbaru untuk mengetes daya lekat cat pada permukaan baja. tapi prosedur pengetesan ini belum saya temukan pada ASTM.

    salam
    badar

    Suka

  17. wahh..sepertinya kita butuh referensi dari pakar korosi nih, tentang hubungan korosi, waktu, keadaan lingkungan terhadap jenis baja yang di gunakan dalam perencanaan jembatan rangka baja…, kalo ada infonya mantap banget tu pak wir.

    Suka

  18. Kalau kita mendesain pipa penyalur baik gas maupun oil, refer to ASME B.3.1.4 & ASME B.3.1.8, disana kita temukan variable penambahan ketebalan dari pipa yang dikenal dengan istilah corosion allowance, nilai corosion allowance ini ditentukan berdasarkan umur pemakain dari pipa tersebut, sehingga apabila terjadi pengurangan ketebalan pipa akibat korosi telah diantisipasi oleh penambahan ketebalan ini dan hal ini di adopt oleh dua software yang sering digunakan untuk melakukan stress analysis pada system perpipaan like caesar dan caepipe.

    Mungkin hal ini bisa menjadi pertimabngan bagi kita dalam mendesain struktur dari baja dengan menambahkan faktor corrosion allowance pada elemen struktur misalnya, setelah kita melakukan analisis struktur di dapatkan bahwa ketebalan minimum dari profil yang akan kita gunakan 12 mm, maka kita menggunakan profil dengan ketebalan 12 mm + 1.5 mm (1.5 mm adalah corrosion allowance).

    salam
    badar

    Suka

  19. Setelah baca-baca saya jadi ingat beberapa hal mengenai jembatan yang belum begitu mengerti, seperti mengapa jembatan harus tegak lurus dengan sungai, apakah bisa jembatan memiliki beda ketinggian antara ujung satu dengan ujung lainnya ?

    Mohon bantuannya, Pak Wir.
    Trimakasih banyak

    Suka

  20. sdr Yan,
    Jembatan yang tegak lurus sungai dengan ketinggian yang sama pada prinsipnya akan menghasilkan bentang jembatan yang paling pendek. Umumnya bentang yang pendek merupakan solusi struktur yang paling baik, jembatan yang kuat / kaku dan relatif murah / mudah pengerjaannya.

    Tetapi itu tidak menjadi suatu keharusan, jika ternyata posisi tegak lurus tadi menyebabkan jalur jalan berorientasi sedemikian rupa sehingga pembuatan jalan menjadi lebih mahal dibanding jika dibuat jembatan yang menyalahi kaidah pertama maka itu dapat menjadi suatu alternatif.

    Untuk itulah , engineer harus dapat memilih kondisi yang terbaik dari batasan-batasan lapangan yang ada. Proyek adalah suatu yang unik, yang tidak akan sama antara satu dengan yang lain.

    Itulah mengapa ada profesi engineer yang tidak sembarang orang karena punya koneksi dapat mengisinya. Perlu suatu kompetensi minimum untuk dapat melakukannya.

    Suka

  21. halo Pak wir

    saya ada beberapa hal yang menjadi pertanyaan mengenai jembatan. kebetulan sekarang dalam proses perencanaan jembatan beton bentang 40 m yang dibagi menjadi 2 bentang.yakni mengenai pemilihan jenis pondasi.

    1. biasanya yang saya lihat di lapangan pilihan pondasi untuk jembatan pada umumnya menggunakan pondasi tiang pancang atau pondasi sumuran. sebenarnya apa kelebihan dan kekurangan dari masing-masing pondasi tersebut?

    2. dan apakah ada perbedaan signifikan dan tujuannya pada jenis pondasi tiang pancang yang dipancang lurus dengan tiang pondasi yang dipancang dengan kemiringan 1/10.

    3. satu lagi..mengenai pengujian tanah dengan sondir, seandainya dari hasil sondir diperoleh bahwa dalam kedalaman 8 m sudah mencapai tekanan konus > 150 kg/cm2 dan alat sondir sudah tidak mampu melanjutkan pembacaan lagi namun dari hasil sondir mengindikasi adanya kemungkinan lapisan tersebut berupa lensa. langkah apa yang harus kita lakukan untuk memastikan bahwa lapisan tersebut adalah lensa atau tanah keras. apakah bisa dengan melakukan boring tanah? dan sampai kedalaman berapakah keperluan nya?

    mohon petunjuknya Pak Wir..

    terima kasih sebelumnya.


    tony

    Suka

  22. Pondasi tiang pancang termasuk dalam kategori pondasi dalam, dapat mendaya-gunakan kekuatan friksi tanah maupun bearing. Tentu saja ini tergantung dari jenis tanahnya dan panjang pondasi tersebut. Sangat cocok jika kedalaman tanah keras cukup jauh dari permukaan tanah. Tetapi dalam pelaksanaannya memerlukan alat pancang, jika cukup panjang dan beban berat maka tiang pondasinya harus dibuat dari precast PC Pile atau tiang baja, untuk beban ringan mungkin precast RC Pile masih bisa.

    Pondasi sumuran mengandalkan fenomena bearing aja, sehingga cocok jika tanah keras dekat permukaan tanah. Jika tanah keras terlalu dalam maka pelaksanaannya menjadi masalah tersendiri. Kadang-kadang dihitung sebagai pondasi dangkal.

    Tiang pancang unggul terhadap beban vertikal, jika ada beban horizontal maka daya dukungnya relatif kecil. Oleh karena itu jika dalam perencanaan strukturnya menerima gaya horizontal maka diperlukan juga tiang pancang miring. Semakin miring semakin besar daya dukung horizontalnya tetapi pelaksanaannya tidak gampang, jika terlalu miring lalu pakai alat pancang biasa. Bisa-bisa tiangnya patah karena ada eksentrisitas.

    Ya sondir tidak bisa mengidentifikasi adanya lensa (lapisan tanah keras yang setempat) oleh karena itulah diperlukan log-boring. Lebih bagus kalau sekaligus dilakukan uji SPT.

    Kedalaman uji, kira-kira sampai SPT 40 – 60, lebih dari itu, susah ya.

    Suka

  23. O..ternyata begitu ya..

    trims Pak Wir untuk penjelasannya

    saya ada satu pertanyaan lagi, seandainya menggunakan pondasi sumuran apakah pondasi tersebut memiliki kapasitas gaya horizontal karena hanya terletak di atas tanah. yang saya khawatirkan adalah gaya gempa, karena rencanaya akan di bangun di Padang. mungkin Pak Wir ada komentar?

    dan jika mengingat posisi pondasi yang berada di tepi sungai jenis pondasi manakah yang lebih baik dalam hal ketahanan terhadap pengerusan air.

    trims Pak Wir

    satu hal lagi pak,
    saya sangat salut pada Bapak untuk kepedulian terhadap sesama, di dalam segala kesibukan Bapak masih menyempatkan diri untuk membantu sesama. sungguh merupakan satu teladan yang patut di contoh.

    have a nice week end Pak!

    Merdeka

    Suka

  24. Jika tanahnya cukup baik maka gerakan tanah akibat gempa akan bersama-sama dengan pondasi. Pondasi sumuran, ukurannya lebih masif dibanding tiang pancang, sehingga kemungkinan untuk dapat bergerak bersama-sama dengan tanah lebih banyak. Jadi jika pondasinya tertanam cukup dalam maka fondasinya sendiri relatif tahan terhadap kondisi tersebut.

    Kerusakaan akan terjadi jika gerakan tersebut mempunyai pengaruh pada struktur di atasnya yang karena mempunyai massa maka akan mengakibatkan gaya dinamik. Jika gaya dinamik struktur di atas pondasi dan pondasi tidak selaras maka timbul gaya restraint. Ini yang harus diwaspadai.

    Karena umumnya sistem jembatan, struktur atas dan struktur bawah tidak menyatu maka dapat terjadi slip (deformasi horizontal yang berbeda satu sama lain). Mekanisme tersebut dapat menyerap enerji gempa. Yang perlu diwaspadai adalah mekanisme slip perlu diberi ruang gerak yang cukup, jangan sampai girder jembatan lepas dari tumpuannya.

    Itu di artikel “kiriman dari Yogya” ada petunjuk membuat jembatan beton dari ACI. Silahkan di baca pak.

    O ya, jika ada foto-foto pelaksanaan jembatan tersebut mohon di sharing di sini ya pak, biar untuk pembelajaran rekan-rekan lain.

    Sekitar tahun 95-96 saya pernah ke Padang memimpin suatu tim engineer a.n. PT. Wiratman JKT selama beberapa hari utk evaluasi kantor PT. Semen Padang yang pernah ke bakaran, waktu itu kami sempat melakukan beberapa coring. Lalu bikin bbrp rekomendasi. Kesan saya, kota Padang bersih dan nomer plat kendaraannya saya masih ingat yaitu BA (kebalikan kota Yogya yang AB).

    Salam untuk teman-teman engineer di Padang.

    Suka

  25. jembatan nya skrg masih dalam tahap disain Pak.
    nanti jika sudah dalam tahap pelaksanaan akan saya kirimkan fotonya.

    fyi, saya sendiri masih belum pernah ke Padang
    dan skrg masih di Jkt tapi dalam waktu dekat akan ke sana.

    so mengenai salamnya akan saya sampaikan begitu saya sampai di Padang.

    dan terima kasih untuk sharing info nya

    GBU

    Suka

  26. Mas Tony/Mas Wir,

    Sedikit tambahan dari saya untuk tiang pancang miring adalah, melakukan analisis ketahanan pile akibat bending khususnya pile yang dipancang pada daerah dengan tanah berlumpur. Dimana yang menjadi beban terbagi rata adalah tanah lumpur tersebut yang bekerja sepanjang pile, dengan asumsi perletakannya adalah pile cap serta ujung pile yang mulai masuk ketanah keras.

    hasil analisis ini untuk menjadi batasan bagi kita seberapa miring dari pile yang akan kita pancang.

    salam
    badar

    Suka

  27. Saya ingin mempelajari dan mendalami konstruksi jembatan bentang panjang ( terutama suspension dan cable stay bridge ). Sudi kiranya Pak Wir atau siapa saja yang dapat membantu memberikan bahan-bahan yang dapat saya pelajari. Terima kasih.

    Suka

  28. Pak Wir,

    Bahas dong akibat kebakaran kolong jalan tol jembatan tiga beberapa waktu lalu terhadap struktur. Kira-kira apa hasil kajian Puslitbang Jalan PU dan Wiratman & Associates, ya? Terimakasih.

    Suka

  29. halo Pak Wir,

    mungkin Bapak atau teman-teman bisa memberikan saya masukan.

    bisakah kita menggunakan pondasi tiang pancang di tengah sungai lebar 40 m dengan kecepatan arus yg cukup besar (0.5 m/s) pada jembatan sehingga bentang jembatan bisa menjadi 20 m di mana kedalaman sungai yang ada sekitar 6.5 m dan kedalaman tanah keras pada kedalaman 9 m.

    karena panjang penjepitan tanah yang hanya tersedia cuma sekitar 2.5 m, lebih kecil dari panjang tidak terjepit = 6.5 m

    trims sebelumnya

    tony

    Suka

  30. mungkin karena banyak ngurusin negara orang lain…jadi kelupaan inspeksi tu jembatan…..

    crack diluar batas bila mengakibatkan patah……………………………….

    Suka

  31. Ternyata secanggihnya technologi amerika, ternyata masih bobrok juga Qualitasnya,…tapi kita Qualitasnya lebih tinggi di Indonesia, apalagi qualitas Korupsinya kita no.1 di dunia…..:mrgreen:

    Suka

  32. hallo pak wir,
    saya adalah mahasiswa sipil s-1 di salah satu universitas swasta di malang, kebetulan saya ada tugas perencanaan jembatan rangka baja, saya minta tolong refrensi buku-buku yang mendukung untuk menyelesaikan tgs saya, trims

    Suka

  33. maap pak saya lagi mau membuat tugas akhir mengenai pemasangan beton prategang di lapangan..dimana saya bisa mendapatkan keterangan pemasangan beton prategang di lapangan dengan cepat dan efisien dilengkapi dengan langkah2 dan gambar2..
    terima kasih banyak,,
    GBU

    Suka

  34. Saya baru merehabilitasi jembatan di desa sebuah kecamatan di daerah sidoarjo, padahal saya belum sarjana masih diploma. Bukan sipil tapi transportasi, minggu awal saya kepikiran tp skrang enggak krn msh aman.
    Jembatan mengalami keruntuhan sejatinya telah mengalami gejala2 dari strukturnya. Klo dilihat berita itu brarti tidak ada maintenancenya. Aneh!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s