Pram di Pulau Buru


Membaca harian Kompas, Jumat 20 Juli 2007,  hari ini, saya terkesan artikel bung Oscar Motuloh : Manifesto Fotografi Jurnalistik Indonesia. Artikel tersebut menampilkan potret Pram di Pulau Buru.

Perhatikan sosok Pram yang ada di potret tersebut, apa yang ada dalam pikiran anda. 


Sindhunata 1977

Tentu, banyak pendapat berkaitan dengan sosok pada potret di atas. Bahkan, ada yang berpikir bukan-bukan, curiga berkaitan dengan ideologinya. I ya khan. Jika ada, tolong buang jauh-jauh, kalau orang Indonesia semua berpikiran seperti itu, negatif selalu, kapan negara ini maju.

Terus terang, melihat sosok pak Pram pada foto di atas, saya terkesan. Bayangkan, meskipun saat itu (1977) banyak orang yang pesimis terhadap masa depan pak Pram, tetapi lihat, pak Pram tetap terlihat tegar di depan mesin ketiknya. Tidak perduli omongan orang luar, tidak nglokro, tetapi tetap saja produktif menyalurkan hasrat pikirannya dengan menulis.

Dengan tetap menjaga semangatnya dalam berolah pikir, tentunya juga olah jasmani meskipun kondisi lingkungan tidak mendukung (di penjara di pulau Buru) anda dapat melihat sekarang bagaimana pak Pram tersebut, meskipun sudah meninggal tetapi buku-buku karyanya masih hidup, masih ada di rak-rak toko buku, namanya masih dikenal.

Dikenal ? Lho, anda nggak kenal pak Pram, kalau begitu , mampir dulu ke sini.

Itu semua bisa karena pak Pram mempunyai kemampuan menulis buku atau pengarang.

Bandingkan dengan mereka-mereka yang bukan pengarang, yang masa hidupnya pernah punya jabatan tinggi, kemana-mana ada ajudannya, punya tanah dimana-mana, rumah dimana-mana, juga mungkin istri juga. Adakah orang masih mengingatnya, paling-paling lingkungan dekatnya, tapi itu juga nggak jaminan. Materi berhenti mengalir, umumnya juga berhenti orang mengingatnya.😦

Jadi jangan anggap remeh itu penulis buku atau pengarang (meskipun saat menulis tersebut belum ada duitnya, seperti pak Pram pada saat itu), pemikiran-pemikiran atau ide-idenya bisa hidup lebih lama dari usia fisiknya. Namanya dapat abadi !

Oleh karena itulah, mengapa aku menulis seperti sekarang ini. Aku ingin hidup seribu tahun lagi.

2 thoughts on “Pram di Pulau Buru

  1. Ping balik: membuat tulisan ilmiah | The works of Wiryanto Dewobroto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s