kandidat dan promotornya


Pak Wir, ngambil S3-nya koq di UNPAR sih, kenapa nggak sekalian ke ITB ?

Pertanyaannya pendek, tapi ingat terus. Kenapa ? Karena sudah beberapa kali ketika nerangin bahwa S3-nya ambil di UNPAR maka pertanyaan yang selanjutnya adalah itu. Ketika anda membaca materi blog saya, ada jugakah pertanyaan seperti itu ?

Pertanyaan sederhana tetapi ‘menusuk’, yang menunjukkan bahwa ITB mempunyai posisi yang ‘lebih’ daripada UNPAR. Jika demikian, maka gelar doktornya (jika sudah dapat) juga berada dibawahnya, begitu bukan maksudnya.

Awam sebagian besar memang berpendapat demikian adanya. ITB merupakan kampus negeri, sehingga mudah mendapat dana pemerintah, didukung oleh dosen yang bergelar Doktor terbanyak di Indonesia, banyak alumninya yang jadi mentri, dan sebagainya.

Tetapi untuk level S3 apakah itu juga menentukan.

Sebelumnya, ada baiknya saya menceritakan latar belakangnya, kenapa saya memilih UNPAR sebagai basis dalam mengambil S3 sekarang ini. (baca juga artikel saya ttg itu yang saya sampaikan ke Prof. Sahari pada ujian kualifikasi doktoral).

Sekolah menurut saya adalah suatu investasi hidup, adalah suatu usaha bagaimana kita mencoba mentransformasi pikiran kita pada level yang lebih tinggi, tidak sekedar gelar, tapi lebih pada pola pikir. Itu yang esensi. Salah satu hal yang menentukan agar terjadi transformasi tersebut adalah banyak bergaul dengan orang-orang yang dianggap sudah mencapai level yang dimaksud. Jadi interaksi menjadi suatu hal yang utama.

Dengan latar belakang tersebut, pada waktu mau ambil S3 banyak sekali pertimbangannya.

Pertama, kesempatan untuk ambil S3 ini adalah bukan cita-cita sejak kecil. Ini benar-benar ‘berkat’ yang tidak dibayangkan. Bahkan dulu sewaktu ambil S2 di UI, juga tidak ada pemikiran seperti itu. Krisis moneterlah yang menyebabkannya, sehingga berganti profesi jadi dosen. Memang sih, dulu waktu masih di PT. Wiratman, seminggu sekali, kalau sore ke UNTAR jadi dosen tidak tetap. Tapi itu sekedar hobby dan bukan mencari tambahan uang. Eh akhirnya sekarang hidup dari gaji dosen.

Karena tidak direncanakan sejak lama, maka maklumlah kalau kesempatan ini baru aku dapat menjelang 40-an. Udah tua, udah punya anak dan istri. Tapi tetap disyukuri karena UPH masih mau memberi beasiswa. Karena keuangan tersebut maka keinginan ambil Ph.D di luar negeri benar-benar tidak terpikirkan, juga karena istri juga berkarir.

Satu-satunya adalah ambil S3 di dalam negeri. Terbaik dari yang ada. Biarlah, daripada tidak.

Kedua, jika kesempatan itu di dalam negeri, lalu perguruan tinggi mana yang dipilih. Ini juga tidak sederhana. Karena S1 di UGM, S2 di UI maka ‘jerohan’ dari ke dua perguruan tinggi tersebut aku ketahui. Intinya, aku merasa perlu interaksi baru, selain dari kedua PT tersebut. Satu-satu yang aku pikirkan adalah ITB pada waktu itu (jadi benar juga ya, yang mengajukan pertanyaan di atas).

Aku merasa : ITB cukup pas untuk menambah latar-belakang pendidikanku lagi. Jadi aku akan mendapatkan hal-hal yang baik dari ke tiga PT tersebut, karena ketiganya (UGM, UI dan ITB) merupakan yang terbaik di negeri ini.

Tetapi ternyata ada masalah. Ketika aku mendaftarkan diri ke sana, ditanya, siapa calon promotornya. Kaget juga, siapa ya ? Aku tidak kenal dengan dosen-dosen ITB. Juga waktu itu, aku juga dengar : dosen disana pada klik-klikan. Wah gawat nih, kalau nggak benar milih promotor, bisa runyam. Akhirnya aku tunda dulu.

Kenapa bisa memilih UNPAR ?

Pertama-tama aku membaca iklan UNPAR yang membuka program S3 teknik sipil, waktu itu ada info bahwa Prof. Wiratman dalam daftar staf pengajarnya. Masuk ke benaklah info itu. Lalu sering mendengar Prof. Paulus Rahardjo, juga staff UNPAR. Tambah tertarik lagi karena banyak dosen-dosennya dari ITB, dan yang paling penting bahwa untuk mendaftarnya belum ditanya ttg promotor. Pas lah. Akhirnya daftar. O ya, aku sengaja milih yang bukan di Jakarta, biar bisa konsentrasi gitu. Nanti kalau di Jakarta, bisa-bisa diminta mampir ke kantor lagi, nggak konsentrasi. Selain itu, jalan di Jakarta khan gitu, bisa habis di jalan.

Dalam perkembangan selanjutnya, tidak dinyana dan diduga, dan mungkin juga nasib, saya bisa berkenalan dengan Prof Sahari yakni waktu ambil mata kuliah Seminar Bidang Kajian. Dalam salah satu paper dibawah bimbingan prof Sahari, saya merasa inilah promotor saya.

Akhirnya demikianlah adanya, meskipun secara fisik luar UNPAR, tetapi esensinya juga ITB karena yang mbimbing adalah prof. Sahari yang baru saja pensiun dari ITB, sehingga lebih banyak waktu dalam proses pembimbingannya tersebut.

Saya pikir-pikir kebetulan juga, siapa sih profesor teknik sipil bidang struktur yang lebih senior dari profesor Sahari di Indonesia.

Saya pikir koq nggak ada ya !

Lho bagaimana dengan prof. Wiratman, wah beliau waktu ngambil doktornya aja yang jadi promotornya adalah prof. Sahari.

Kandindat (Wiryanto Dewobroto) dan promotornya (prof. Moh. Sahari Besari, Ph.D), difoto pada hari ini, Sabtu, tanggal 2 Juni 2007 pada waktu selesai menghadiri ujian terbuka dari mbak Retno, kandindat doktor yang baru saja lulus doktor teknik sipil peminatan struktur yang pertama di UNPAR.

Artikel lain di blog ini yang terkait dengan tema di atas

11 thoughts on “kandidat dan promotornya

  1. Arul dan Antony Pranata, terima kasih atas dukungannya. Semoga kita bisa saling menguatkan semua.

    Untuk Antony, terima kasih juga, pernah berinteraksi. Karya-karya anda menjadi motivator juga untuk saya khususnya untuk jadi penulis. Sukses juga ya.

    Suka

  2. Ping balik: prosiding EACEC Singapore 2001 « The works of Wiryanto Dewobroto

  3. Menurut saya bukan kampusnya yang menentukan tapi kita sendiri.

    Saya malah lebih banyak belajar waktu kerja pak, di banding kuliah.. banyak sekali yang baru waktu kerja dan belajar dari senior-senior yang sudah malang melintang di dunia sipil ini.

    Benar pak, dosen ITB banyak yang rada-rada . .hehe apalagi yang inisialnya SM (gak bermaksud menjelekkan loh, tapi begitulah adanya).. saya 5 tahun S1 di ITB jadi tau sifat-sifat dosen ITB dan tepat sekali, Pak Sahari adalah yang paling senior, mau siapa lagi.. tapi pak Sahari juga terkenal killer pak.. beliau pernah bilang kalau yang layak dapat A itu Tuhan, B itu beliau, C dan seterusnya mahasiswa (jangan bilang-bilang ke pak Sahari ya pak)….

    oke deh pak Wir sukses dengan S3-nya, kalau perlu paper email saja saya pak tidak perlu sungkan-sungkan.

    Suka

  4. Trims atas dukungannya mas Donald.

    Untunglah selama ini Prof Sahari selalu back-up saya terus.

    Saya nggak yakin, apakah dengan profesor lain, saya juga diberi waktu untuk dapat berdiskusi berjam-jam. Itu semua beliau luangkan bagi saya untuk diskusinya yang panjang lebar di rumahnya yang asri di Kanayakan, Dago, Bandung.

    Itu semua yang membuat saya PD dalam menempuh program S3 ini.

    Suka

  5. Ping balik: kunci sukses menjadi seorang engineer « The works of Wiryanto Dewobroto

  6. Ping balik: apa karya nyata seorang profesor ? « The works of Wiryanto Dewobroto

  7. Ping balik: KUNCI SUKSES MENJADI SEORANG ENGINEER | rikisaputraengineer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s