The Art of Structural Engineering


Suatu judul yang menarik, saya ambil dari bukunya prof Alan Holgate tentang “The Work of Jorg Schlaich and his Team“, karya-karya prof Jorg Schlaich, guru besar emeritus di Uni Stuttgart sekaligus penemu metode strut-and-tie-models.

Prof Jorg Schlaich adalah salah satu profesor di bidang teknik struktur yang berani secara lugas mengetengahkan bahwa ada seni atau art di bidang teknik struktur tersebut. Bahwa dengan memahami secara benar dan dapat menjiwainya maka dari ilmu teknik sipil khususnya ilmu analisis struktur dapat diwujudkan keindahan dari suatu struktur yang diciptakannya.

Hal tersebut sejalan dengan prof Firtz Leonhardt, guru besar di Uni Stuttgart sebelumnya yang akhirnya diteruskan oleh prof. Schlaich.

Dari ke dua Profesor tersebut ditemukan karya-karya yang secara jelas menunjukkan bahwa ada art atau seni dibidang struktur yang direncanakannya.  Padahal mereka-mereka jelas-jelas adalah profesor di bidang structural engineering dan bukan arsitektur.

Tentu saja, ini hal yang baru bagi teman-teman structural engineer di Indonesia, saya yakin itu, karena selama puluhan tahun kerja profesional di konsultan sebagai structural engineer, juga sebagai dosen, seakan-akan kita (structural engineer) hanya bisa menghasilkan sesuatu ditinjau dari sisi kekuatan (strength) dan kekakuan (stiffness) nya saja, kita tidak pernah meninjau sisi keindahan dari struktur karya kita. Pantaslah kalau begitu banyak dari teman-teman kita, karyanya tidak ‘kelihatan’, karena hanya seni atau art yang mudah dipahami oleh orang awam. Itulah yang menjawab bahwa seakan-akan kerja arsitek lebih jelas dibanding orang sipil (bagi orang awam).

Kita harus mendobrak, bahwa kita (structural engineer) tidak kalah juga dengan arsitek. Apalagi sekarang diketahui bahwa pendidikan arsitek telah menghilangkan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan peninjauan tentang strength atau stiffnes dari suatu bangunan.  Catatan : ini pengalaman dari satu jurusan arsitek di Jakarta yang penulis ketahui.

Langkah pertama adalah menguasai dengan benar ilmu-ilmu analisa struktur baik cara manual maupun berbasis komputer. Meskipun menguasai dengan benar, tetapi dalam pikiran, kita harus menganggap bahwa ilmu analisa struktur itu bukan segala-galanya / bukan tujuan, tetapi hanya sebatas sebagai tool atau alat untuk mengekplore perilaku struktur, sehingga struktur yang akan direncanakan dapat kita kendalikan sedemikian rupa sehingga sisi art dapat ditonjolkan.

Langkah kedua, jangan terjebak pada analisis makro aja, yang besar-besar saja, tetapi juga paham pada analisis mikro, yaitu kemampuan mendesain detail dari struktur-struktur tersebut. Sehingga bilamana perlu, struktur tidak perlu ditutup-tutupi tapi dapat diekspose.

Untuk itu baiklah kita perlihatkan satu karya prof Schlaich yang dapat mencerminkan keindahan.

jaring1

Atap kaca penutup Museum Sejarah Hamburg

Perhatikan atap kaca di atas, mana strukturnya, kelihatan nggak. He, he pasti kalau hanya punya ilmu-ilmu yang biasa aja, pasti bingung, koq kuat ya, mana rangka bajanya. Ternyata struktur tersebut diatas terdiri dari struktur grid yang diberi kabel pre-stressed tipis yang menyilang (membuat grid menjadi kaku) yang kalau tidak dilihat secara jelas maka nggak kelihatan (samar).

Mau tahu rahasianya. Ini lho inti kekuatannya (dilihat secara dekat).

jaring2

Kabel prestressed yang memperkaku grid

jaring3

jaring4

Coba perhatikan detailnya, apa ada di text book standard. Nggak ada khan. Itulah yang dinamakan kreativitas, bentuknya nyeni tapi kalau asal nyeni nggak tahu ilmu strength of material pasti jebol. Itu di atas kerjaannya orang structural engineer lho, bukan seniman.

O ya masih ada contoh menarik, jika di atas adalah bangunan maka sekarang ke jembatan. Seni di jembatan rasanya belum masuk kurikulum arsitek indonesia lho, jadi orang structural engineer mestinya bisa masuk. Jembatan berikut adalah Kirchheim overpass, perhatikan filosofi yang mendasari dipilihnya bentuk berikut.

Perhatikan untuk mengambil foto seperti ini saja anda harus tahu teknik memfoto dengan baik, gambar di atas pasti diambil dari lensa wide angle khusus, misal lensa 10-20 mm. Jadi teknik memfoto dengan baik merupakan salah satu modal bagaimana memasukkan art atau seni dalam bidang pengajaran teknik struktur.

O ya, jangan lupa juga untuk melihat gedung stadion Stuttgart. Kalau penggemar sepakbola pasti udah tahu. Ini idenya prof. Schlaich juga lho, coba lihat detail-detail berikut, nyeni nggak. Arsitek kita sih pasti angkat tangan, itu semua yang kelihatan (exposed) itu ya strukturnya itu sendiri.  

The Gottlieb-Daimler Stadium roof at Stuttgart

Gimana teman-teman, mau jadi seniman yang nggak bisa ditiru oleh para seniman itu sendiri.

Hayo, anda punya ilmunya.

Bidang ini belum ada yang menyentuhnya, di Indonesia perlu dibuat suatu buku yang dapat menjelaskan seperti bercerita tamasya, melihat-lihat pemandangan tetapi sebenarnya sedang menceritakan filosofi teknik. Mengapa bentuk jembatan itu seperti itu, mengapa nggak seperti ini dsb. Suatu saat nanti, jika Tuhan berkenan pasti akan ada buku semacam itu yang berbahasa Indonesia dan jika Tuhan berkenan maka aku mau mencurahkan waktuku untuk itu. Semoga.

Note : itu di atas baru didasarkan dari tiga artikel di bukunya Holgate, masih ada 300 halaman lagi yang bisa diexplore bahwa structural engineer itu juga nyeni.

22 thoughts on “The Art of Structural Engineering

  1. Benar sekali p. Wir,

    Selama ini, kita sebagai structural engineer masih menjadi masyarakat profesional “kelas dua” dimana sangat minim sekali apresiasi terhadap kalangan pemikir ini yang seharusnya punya peran penting pada proses pembangunan.

    Ambil contoh, pada desain bangunan di Bali, bagaimanapun juga yang dominan hanyalah arsitek… dan terus terang saja penghargaan untuk structural engineer hanya “sekedar saja” .

    Pemikiran P. Wir yang mengaitkan ilmu teknik sipil dengan seni dan agama adalah suatu terobosan kearah pemulihan “percaya diri” kita dan penyadaran besarnya bargaining kalangan kita, bravo!

    Dari Artana, Bali

    Suka

  2. Bagus sekali Pak Blognya….

    Perkenalkan sebelumnya, saya Anton mahasiswa tingkat akhir UGM. Ketertarikan saya sebenarnya pada bagian hidro, tapi dimanapun juga, keahlian tentang struktur mutlak diperlukan.

    Oh ya mengenai keindahan itu, yang biasanya saya lihat di Konstruksi di Indonesia, cuma nggali, bikin fondasi, pasang perancah, ngecor, copot perancah, dites sesuai target gak mutunya, retaknya, ditembak turun gak atau defleksi gak…

    Abis itu yang penting cepet selesai, serah terima dan dapat duit.

    Yang lainnya sebagai contoh, jembatan-jembatan yang ada di Cipularang misalnya memang bagus dari segi kekuatan dan kecepatan pembangunan, saya sangat salut memang, tapi dari segi seni masih agak kurang.

    Beda dengan jembatan-jembatan di Jaman Belanda kaya Jembatan Progo yang jalan rel yang berupa jembatan 3 sendi, yang secara struktural dan arsitektural sangat bagus. Jadi dari strukturnya malah menimbulkan keindahan.

    Oh ya Pak, gambar pier dan pier head jembatan yang di banner atas itu gambar dari proyek Jembatan Srandakan yang baru bukan? Koq mirip.

    Terimakasih

    Suka

  3. **Artana**
    masyarakat profesional “kelas dua”
    Ya, itu salah kita juga, karena kita nggak mau tampil. Arsitek lebih dikenal oleh orang awam karena untuk memulai kerjanya mereka selalu mengawali dengan membuat presentasi, membuat maket, membuat foto montase yang mana itu semua mudah dipahami oleh orang awam. Coba bidang rekayasa struktur, khususnya di negeri ini. Jika udah memenangkan tender ya udah, selesai.

    Beda lho di luar, mereka membuat publikasi khusus, kemudian institusi profesionalnya membuat penghargaan khusus dengan memilih “structure of the year” dsb.

    Kenapa saya bilang demikian. Yah pengalaman aja, dulu waktu jadi structural engineer beneran, nggak kepikir lho bikin publikasi seperti sekarang ini (blog, buku, jurnal, pembicara seminar dsb). Baru sekarang setelah menempatkan diri jadi dosen mengenal itu semua, dan rasanya lebih PD sekarang daripada dulu lho, ya karena itu kemampuan membuat publikasi lebih baik dari dulu.

    **B Anton S**
    Salam kenal. Proficiat dulu ya, sekarang dari J.T.Sipil yang jadi rektor UGM, prof Sudjarwadi khan. Moga-moga jurusan semakin maju aja. Sudah ada profesor baru belum, terakhir saya waktu itu diundang prof Danang Parikesit. Itu satu angkatan dengan saya. Hebat dia, jadi profesor termuda ya.

    Jembatan srandakan? Ya betul. Banner-nya memang jembatan tersebut, bagus khan.

    Suka

  4. Salam kenal Pak/Mas.

    Wah tulisan ini cukup provokatif Pak🙂. Tapi bagi saya, ilmu-ilmu itu kini cenderung “meleleh” ke sebuah “gelas interdisipliner”. Jadi tak perlu diadu atau dibuat dikotomi untuk sebuah dominasi misalnya. Masyarakat juga tau kok siapa Pak Tjokorda Raka, Pak Wiratman (atau bahkan Pak Karno ?) Beliau-beliau adalah orang berlatar belakang struktur yang mumpuni dan menghasilkan karya-karya yang bukan saja monumental, tapi juga sarat sentuhan seni. Jadi intinya setuju juga jika teman-teman yang berkompeten di bidang struktur ini makin mengeksploitasi diri, tanpa harus dibentur-benturkan dengan rekan-rekan lain yang memang punya kompetensi lain.

    Salah satunya saya setuju untuk menyelaraskan pertemuan-pertemuan pada dunia nyata sedari dini. Jadi teman-teman sipil pun sudah dilatarbelakangi dengan pemahaman seni, sebaliknya teman-teman di arsitektur pun mau tidak mau juga harus paham kaidah-kaidah ilmu struktur. Sangat disayangkan bila teman-teman arsitektur sendiri (apalagi yang nantinya lari ke building design & science) malah meniadakan pembekalan-perbekalan ini di bangku kuliah. Ya, mungkin ini tak bisa dipisahkan dari beban SKS yang makin kecil, muatan lokal, dan konstelasi masalah muatan kurikulum lainnya.

    Eniwe Pak, favorit arsitek-strukturalis saya adalah Santiago Calatrava Pak. Saya pernah mengikuti kuliahnya saat di ETH Zurich (Beliau lulusan Sipil sana dan saat itu sebagai dosen tamu) dan memang luar biasa filosofi maupun pendekatan-pendekatan yang dipakainya. Karya terbarunya adalah gedung puntir di Malmo, Swedia (Tarso Malmo ?).

    Demikian Pak. Mohon maaf dan terima kasih.

    Salam, Sani

    Suka

  5. Makasih Pak,

    Saya juga senang banget rektor barunya dari Sipil, Prof. Sudjarwadi. Oh, teman satu angkatan Pak Danang, hebat-hebat ya orang dulu. Saya juga bangga dengan Prof. Danang, selain professor termuda beliau juga aktif di berbagai kegiatan dan organisasi,

    Professor baru ya, tunggu saja, saya dengar-dengar ada 2 atau 3 dosen yang mengajukan lagi, semoga menjadikan lebih maju lagi pendidikan teknik sipil di Indonesia.

    Makasih juga Pak, atas link dan kemudahan downloadnya, oh ya saya link-kan blog Bapak ke forum Alumni SMA saya, gapapa kan..Pak,

    Mengenai jembatan Srandakan, sebentar lagi diresmikan lho….

    Suka

  6. **Saniroy**
    Salam kenal mas, dari UGM juga ya, arsitek ?. Juga ETH Zurich. Wah memang disana bidang sipilnya terkenal, putranya prof Schlaich (profesor struktur di Uni Stuttgart) aja sekolah disana.

    Mendapat pencerahan apa saja mas di sana, bagaimana dengan di Jepang. Moga-moga nanti kalau udah kembali ke Yogya dapat memberi warna bagi perkembangan arsitek di sini.

    **B Anton S**
    -saya link-kan- ya boleh-boleh aja, jika itu berguna.
    Besok kalau ke Yogya mau main-main ke Srandakan, lihat jembatan barunya. Sering lewat sana ya, atau ikut terlibat di proyek tersebut. Kalau gitu, kalau ada foto-foto yang lebih bagus, kirimi ya.

    Suka

  7. Makasih lagi Pak….

    Ikut proyek, gak juga….
    Kebetulan beberapa kali kuliah lapangan ke sana.
    Memang bagus, ada sedikit sentuhan art-nya, yaitu bentuk pier-nya yang biasa tapi agak kurang lazim karena miring.

    Ya, oke pak ntar saya coba motret ato cari fotonya, kebetulan saya seneng motret, apalagi motret jembatan jalan rel karena artistik.

    Ada lagi lho jembatan yang bagus di Yk yaitu Jembatan Irung Petruk di Wonosari.

    Mengenai seni dan struktur, memang bagus sekali klo dipadukan, yang sering menjadikan suatu bangunan sebagai Landmark dari suatu tempat. Itu yang pengin saya buat.

    Suka

  8. Saya lihat paradigma struktur engineer di Indonesia sekarang masih menyedihkan, banyak yang masih menganggapnya cuma sebagai “tukang hitung”. Saya pikir kurangnya penghargaan terhadap structural engineer di Indonesia bisa diakibatkan oleh beberapa hal (CMIIW):

    1. Kurangnya proyek struktur yang menantang. Kebanyakan proyek konstruksi tipikal. Belum tertariknya mereka yg berada di dunia konstruksi untuk beroptimasi dan berinovasi.

    2. Kurang bisanya, orang struktur menghargai dirinya sendiri. Saya sering melihat fungsi structural engineer menjadi “tukang hitung” saja. Namanya jarang dicantumkan dalam proyek. bandingkan dengan di sini (Jepang), dalam proyek besar biasanya dicantumkan dua nama : arsitek oleh…blalala, struktur oleh….

    3. Belum adanya organisasi yang handal sebagai tempat bernaungnya para insinyur struktur. Memang sekarang ada HAKI, tapi fungsinya belum semaksimal organisasi saudara kita seperti ASCE, JSCE, SEM dll yang profesional dalam mengeluarkan sertifikasi kehandalan dll. Ini bisa jadi bargaining power-nya para ahli struktur.

    4. Hubungan organisasi profesi dan dunia kampus di bidang riset struktur masih belum optimal. Sering saya dengar, orang kampus yang bingung mau riset apa, sementara orang lapangan bingung : mau risetnya kemana ya ?

    Gitu aja Pak,

    Suka

  9. Salam kenal Pak Wir,

    Halo pak, sebelumnya saya perkenalkan diri dahulu : nama saya Ariyadi, saya alumnus teknik sipil Unpar, sempat menyelesaikan S2 saya di ITB untuk jurusan MRK. Saat ini saya bekerja di Badan Litbang Departemen Perindustrian (Lab. Beton) sebagai peneliti pak.

    Saya menemukan situs blog bapak melalui search engine di internet ketika sedang mencari-cari data & info untuk penelitian. Terus terang saya kagum dan salut dengan upaya bapak untuk sharing pengetahuan dan pengalaman melalui blog bapak…bravo pak..

    Oh ya pak, selama di lab ini, saya banyak menemui kasus-kasus kerusakan di fasilitas industri, terutama pada elemen struktur betonnya. Sering kali, kami sering ke lapangan untuk melalukan investigasi dan melakukan pengujian (pengumpulan data) menggunakan peralatan NDT. Terkadang bila diperlukan kami juga melakukan pemodelan ulang struktur menggunakan SAP 2000 untuk mengetahui kapasitas dukung existing dari bangunan pasca kerusakan.

    Baru-baru ini saya juga sempat mendalami software ANSYS di India. Ternyata untuk proses meshing, software-software seperti Nastran, Ansys, Abaqus masih lebih baik dibanding software SAP atau Etabs ya pak?….saya kebetulan membaca di situs bapak, bapak juga mendalami tentang hal ini ya pak ?…bagaimana menurut bapak tentang hal ini ?….

    oh ya pak, kebetulan kami juga punya versi digital-nya dari ACI 318-02 beserta PCA notes yang dilengkapi search engine di pdf nya, jadi memudahkan proses pencarian artikel, kalau bapak atau rekan-rekan lain berminat bisa saya sharing pak.

    Terima kasih karena saya juga sudah banyak mengkopi file-file standar yang ada di situs bapak.
    Ariyadi

    Suka

  10. Salam kenal mas Ariyadi,

    Senang saya bahwa blog ini menjadi tempat berkumpul teman-teman yang mempunyai peminatan yang sama dengan berbagai latar belakang yang beragam, baik dari institusi pendidikan, industri dan sekarang lembaga penelitian.

    Saya kira kalau mas Ariyadi berkenan untuk sharing pengalaman atau mungkin menampilkan foto-fotonya di sini wah dahsyat saya kira. Nggak setiap orang punya akses mengetahui kasus-kasus kerusakan yang ada. Itu tentu dapat menjadi sumber pengetahuan yang sangat bagus khususnya untuk mendapat pengetahuan bagai cara mencegah kejadian serupa. Atau juga dapat menjadi sumber informasi khususnya kalau akan mencari ahli seperti mas Ariyadi sehingga bangunannya yang mengalami hal tersebut dapat dilakukan perbaikan.

    Nastran, Ansys, Abaqus di satu sisi jelas tidak perlu dibandingkan dengan SAP2000 atau ETABS di sisi lain. Penggunaannya memang lain-lain, menurut saya saling mengisi begitu.

    Program SAP2000 dan program ETABS cenderung untuk analisis dan desain struktur bangunan secara makro. Sangat unggul dalam hal kepraktisan, dan kecepatannya untuk model struktur yang terdiri dari element satu dimensi (frame), sedang element dua dimensi paling-paling shell, yaitu untuk dinding atau shear wall. Karena element satu dimensi (frame) formulasinya eksak maka meshing tidak menjadi fokus utamanya. Sedangkan element dua dimensi untuk pelat maka program SAFE lebih unggul. Untuk memahami dan menguasai program tersebut maka mata kuliah Analisa Struktur yang diperoleh pada level pendidikan tinggi S1 di Jurusan Teknik Sipil sudah cukup memadai. Oleh karena itu kedua program tersebut sangat populer bagi civil engineer.

    Sedang program Nastran, Anysis dan Abaqus cenderung unggul untuk analisis struktur solid (3D) atau shell (2D) yang mana elementnya memang bukan formulasi eksak tetapi interpolasi sehingga meshing-nya jelas lebih unggul. Program-program tersebut cenderung kuat atau unggul untuk analisis bagian-bagian struktur secara detail. Agar akurat maka diperlukan meshing yang teliti (banyak) tetapi sisi lain perlu komputer yang lebih canggih. Outputnya cenderung berupa tegangan atau kurva-kurva parameter. Untuk memahaminya jelas diperlukan ilmu yang lebih dibanding dengan program yang di atas, misalnya strength of material, solid mechanic dsb yang mana pada level S1 teknik sipil agak kurang kuat (mereka lebih fokus pada analisa struktur). Untuk membuat analisis dengan program ini jelas selain diperlukan keahlian yang lebih juga perlu waktu yang lebih, sehingga cocok untuk peneliti, atau jika untuk industri konstruksi adalah kasus-kasus khusus yang jika dengan program sebelumnya (SAP2000 atau ETABS) sudah mentok. Jadi levelnya adalah advance.

    Program-program ini (Nastran dan teman-temannya) juga cocok untuk optimasi atau detail yang khusus, sangat cocok digunakan untuk perencanaan industr otomatif atau pesawat yang hasilnya akan diproduksi massal. Ngitungnya sekali tapi produksinya berkali-kali, sehingga biaya yang diperlukan di awal dapat terkonpensasi. Ini khan beda dengan industri konstruksi, perencanaan sekali untuk dibangun sekali.

    Dari ketiga program tersebut, saya sudah mencoba dua, yaitu ABAQUS dan ANSYS. Saya tertarik ABAQUS karena saya sudah mensurvey dari Structural Engineering Journal, program tersebut banyak dipakai dalam artikel-artikelnya. Grafik solid 3D-nya juga hebat, saya mencoba Ansys Multiphisic 10 koq grafiknya kalah canggih ya, jadi saya belum ulik lagi.

    O ya saat ini saya memodelkan struktur transfer-beam dengan material model Concrete Smeared Cracking dan metal plasticity untuk bajanya. Tujuannya adalah untuk mencari perilaku pasca runtuhnya. Dulu saya sempat memakai ADINA untuk kasus serupa, waktu itu dibimbing oleh Dr. Iswandi. Ini di ABAQUS koq rasanya lebih kompleks ya. Mas Ariyadi pernah punya pengalaman serupa belum, jika ada, bisa sharing pengalaman mas. Ini sampai sekarang belum tuntas.

    punya versi digital ya mas. Jika tidak keberatan bisa disharingkan mas. Yang di sini semua juga karena bantuan teman-teman. Pasti teman-teman akan senang.

    Begitu dulu ya mas, jangan bosan-bosan mampir lagi. Salam.

    Suka

  11. Ping balik: Innova Technologies

  12. saya kuliah di Arsitektur UNUD…. alasan awal-awalnya pengen konsentrasi kesipilannya dan arsitekturnya sebagai hobby, karena dulu perkuliahan yang saya tahu di arsitektur itu percampuran antara sipil dan seni bangunan dan ternyata kedepannya di UNUD sudah sangat mulai penghilangan mengenai kesipilannya. Sekarang kuliah jadi sangat tidak mood…

    bukan permasalahan 1st class ato 2nd class dalam suatu tingkatan penghargaaan terhadap profesi di masyarakat kita. Tetapi jika ingin “ya jadilah diri sendiri”, seseorang di profile forum nulis kayak gini an architec is about being who you are…. (kurang lebih begitu) dan menurut saya, itu berlaku untuk semua profesi...

    Suka

  13. Kalau begitu sayang ya.

    Memang sih, pelajaran analisa struktur atau mekanika teknik itu susah. Oleh karena itulah maka perlu diperkenalkan di tingkat perguruan tinggi, yah minimal prinsip-prinsip dasarnya.

    Jika di perguruan tinggi saja tidak dikenalkan, saya yakin nantinyapun juga tidak akan kenal-kenal. Akhirnya arsiteknya hanya jago bikin maket dan presentasi.

    Dampaknya baru akan terasa jangka panjang.

    Tapi yang bikin kesel itu alasannya.

    Yah pak Wir, lulusan arsitek khan nanti jarang kerja di arsitek betulan. Jadi nggak terlalu ngaruh gitu pak.

    Lho, koq gitu. Belum apa-apa koq mencari pembenaran bahwa ilmunya itu nggak dipakai. Gimana itu dia bisa jadi dosen kalau cara berpikirnya begitu. Terus terang aku bukan tipe dosen seperti itu, ya udah aku diem aja. Males omong.

    Suka

  14. Ping balik: structural engineering » Blog Archive » Structural Engineer

  15. Ping balik: structural engineering » Blog Archive » The Art of Structural Engineering

  16. saya benar-benar terpukau dengan artikel yang bapak susun diatas….sekarang saya sedang kuliah di jurusan arsitektur, memang saya akui ilmu tentang kajian bentuk lebih banyak dibandingkan dengan ilmu2 yang berhubungan dengan kekuatan bangunan,seperti mekanika teknik, dll.

    namun, jujur saya sebagai seorang mahasiswa arsitektur selalu saja merasa haus akan ilmu2 yang berkaitan dengan kekuatan struktur, pada saat pemilihan matakuliah pilihan, saya memutuskan untuk memilih matakuliah teknologi bangunan yang banyak sekali membahas jenis struktur,kekuatan bahan, dan bagaimana struktur yang dikehendaki dapat kuat dan kokoh berdiri serta dari bentuk struktur tersebut dapat memberikan nilai seni tersendiri. Walaupun yang ikut hanya sedikit, tapi saya tetap bertahan dengan harapan saya mendapatkan sedikit pencerahan.

    selain itu, saya juga mengenal beberapa dosen saya yang juga ‘gila’ dengan strutur, beliau selalu saja update berita&info berbagaimacam inovasi struktur dan bahan struktur. Pemikiran beliau hampir sama dengan p.wir, yang tidak pernah mengabaikan betapa pentingnya strukur dalam bengunan.

    saat inipun saya masih penasaran dengan yang namanya struktur, saya ingin sekali memadukan beberapa jenis struktur dalam suatu bangunan……mungkinkah??…….dan pada akhirnya saya justru ingin mengexpose struktur sebagai detail arsitekturalnya. Karena itu saya tidak ragu2 untuk memilih Perancangan Stadion sebagai tugas akhir saya…

    namun, seperti yang saya bilang, saya masih sering mengalami banyak sekali kesulitan dalam mempelajari dan mendapatkan info2 yang berkaitan dengan Perancangan Stadion dilihat dari sudutpandang struktur. Oleh karena itu, malalui forum ini saya sangat berterimakasih jika saudara2 dan p.Wir berkenan membantu dan membimbing dalam pengerjaan tugas akhir saya.

    sebelum dan sesudahnya saya sampaikan banyak terimakasih.

    Suka

  17. Ping balik: STRUCTURAL ENGINEER « Wayan Artana-Structural Engineer in Bali

  18. Ping balik: Structural Engineer-Siapa Mereka? | Me And Mine

  19. Salam kenal Pak Wiryanto..
    Saya setuju dengan Anda mengenai ilmu struktural yang sangat penting dalam dunia engineer..
    Berkenaan dengan itu saya adalah mahasiswa tingkat akhir jurusan teknik mesin yang sedang mengerjakan Tugas Akhir yang berhubungan dengan analisa struktur.
    Yang mau saya tanyakan apakah bapak mengetahui jika dalam analisa struktur 2D menggunakan ansys, suatu area circle 2D bisa dilakukan rotating simulation, sebagai contoh roda..jika bisa minta tolong diberi tahu caranya??
    mohon pencerahannya, and direply..
    terima kasih Pak..

    Regards,

    Wir’s responds: rotating simulation, saya kurang jelas maksudnya. Apakah itu yang dimaksud bahwa pemodelan 2D tetapi bisa mensimulasi perilaku 3D. Element axisymmetric biasa digunakan untuk memodelkan struktur 3D hanya dengan mendefinisikan bagian yang simetri pada sumbu putarnya, kalau di civil engineering umumnya adalah bangunan silo, kerucut terpancung dsb. Saya kira roda jika ingin ditinjau sb roda sebagai sb simetrinya ya bisa. Element tersebut merupakan element standar pada banyak program FEM, mulai dari SAP2000, ABAQUS dan saya yakin di Ansys juga. Hanya saja bebannya juga mengikuti sumbu tersebut, misal dari termal, tekanan hidrostatis dsb, untuk program yang lain, maka pemodelannya juga menyesuaikan.

    Suka

  20. Terima kasih banyak atas reply-nya Pak Wir..berguna juga..
    Sebenarnya tema TA saya yaitu analisa kontak pada rem tromol menggunakan finite element analysis di ansys..Ternyata pusing juga.
    Mungkin untuk gambar 2D dan analisa kontak sudah agak bisa meski masih coba-coba, akan tetapi untuk membuat/memodelkan di ansys agar model 2D yang saya buat bisa berputar (rotate) itu yang belum bisa. Mungkin itu kendala yang cukup berat buat saya.
    Yang saya bingung, kalo modelnya circle (ato seperti donut) nantinya constraint, define loadnya gimana dan dimana? belum lagi apakah ada perintah lagi untuk membuat model tersebut berputar.
    Saya sangat berharap Bapak bisa memberi pencerahan. Ato mungkin Bapak mempunyai kenalan yang memahami masalah ini dan ansys, mohon diberi kontaknya (email, etc) agar bisa untuk sharing..

    Terima kasih banyak

    Regards,

    Suka

  21. Ping balik: Structural Engineer « KANGROKO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s