200 Tahun Gereja Katolik di Jakarta


Mensyukuri 200 tahun keberadaan umat Katolik tumbuh dan berkembang di Jakarta, Keuskupan Agung Jakarta menyelenggarakan beberapa kegiatan syukur, antara lain diselenggarakannya misa Inkulturasi budaya selama tiga minggu berturut-turut bertempat di Gereja St. Bartolomeus, Paroki Taman Galaxi, Bekasi Selatan.

Minggu lalu, diselenggarakan misa Inkulturasi budaya Flores. Acara misa berlangsung meriah dengan diiring-iringi tari-tarian flores, semua Romo, putra-putra altar dan diakon memakai pakaian adat ala Flores. Meriah dan juga terharu, tenyata dengan adat-istiadat yang baru pertama kali kami lihat tersebut, acara misa dapat berlangsung khidmat.

Hari Minggu ini adalah misa Inkulturasi budaya Jawa, tepatnya Solo-Yogyakarta, yang disebut Bojana Ekaristi Suci : Pengetan Dwi Abad Pasamuwan Katulik ing Jakarta

tema : Mindhak setya dhumateng sang Kristus. sansaya adreng ngabdi mring masyarakat lan bangsa.

artinya : semakin setia terhadap Kristus ditunjukkan dengan semakin mengabdi bagi kesejahteraan masyarakat dan bangsa.


Iring-iringan putra altar dan diakon di luar gereja

Minggu depan, di tempat yang sama akan diselenggarakan misa Inkulturasi budaya Batak.

Dengan adanya ke tiga misa inkulturasi tersebut maka dapat ditunjukkan bahwa gereja Katolik telah menyatu pada manusianya, menjadi roh dan tidak terpengaruh atau merubah bentuk fisik luar. Gereja Katolik berada di atas adat-istiadat / budaya, menaungi dan tidak meniadakan, bahkan menjadikannya semakin kokoh.

Ibarat pepatah, saya (Wiryanto) sebagai orang Jawa (Jogja asli) dapat menjadi manusia Jawa sejati, manusia Indonesia sejati dan sekaligus manusia Katolik sejati. Ketiganya dapat menjadi satu kesatuan yang saling menguatkan. Sebagaimana doa Rama Kawula :

… Karsa Dalem kalampahana wonten ing donya kados ing swarga. …

3 thoughts on “200 Tahun Gereja Katolik di Jakarta

  1. Itukah kelebihan orang jawa ? Bisa melebur dan membaur. Kita diminta menjadi 100% katolik dan 100% indonesia. (Maaf, saya lupa ini kata-kata siapa)

    Suka

  2. Kalau jawa-nya bisa melebur dan membaur, memang jelas mas.

    Tetapi karena misa inkulturasinya juga ada yang dari Flores (bagian timur) dan Batak (bagian barat) maka yang menentukan bukan faktor jawa-nya khan mas ?.

    Suka

  3. Perayaannya sungguh bagus, sehingga Gereja sungguh-sungguh mengakar dalam budaya setempat. Kami juga melaksanakan hal yang sama di sumatera utara. Namun kiranya tugas kita, menjadikan Gereja Katolik (juga para umat) ‘mengakar’ dengan umat katolik di manapun berada, khususnya di wilayah yang masih tahap memulia. Sangatlah indah bila umat katolik yang di kota-kota besar, berani melirik umat katolik yang di pedalama, yang mana mereka belum berpikir untuk ‘inkulturasi’ karena punya Gereja yang layak aja belum he..he..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s