ucapan selamat ke pak Menteri baru


Kompas hari ini (10 Mei 2007) di halaman 37 dan 38 memuat iklan kecil ucapan selamat dan sukses ke pak Menteri baru, yaitu :

  1. dari segenap civitas akademi dan ikatan orang tua mahasiswa ITS kepada Prof. Dr.Ir. Mohammad Nuh DEA sebagai menteri Komunikasi dan Informasi RI
  2. dari ikatan alumni Universitas Brawijaya kepada bapak Ir. Lukman Edy sebagai menteri PPDT kabinet Indonesia bersatu

Cukup menarik. Umumnya ucapan selamat dan sukses diberikan langsung ke yang bersangkutan atau keluarganya. Itu hal yang umum. Tapi jika perlu dibuat iklan di surat kabar ber-omplah besar, apa artinya ?

Jelas, karena yang pasang iklan adalah almamater-nya , maka tentunya mereka perlu menyatakan : ini lho kualitas ‘kami’ yang telah berhasil mencetak menteri.

Tapi mengapa ketika menteri-menteri dari UI, ITB atau UGM nggak seperti itu ? Yah, mungkin UI, ITB atau UGM udah merasa lebih PD, memang seperti itulah kualitas alumniku, jadi menteri itu biasa, luar biasa bila berhasil menyelesaikan permasalahan bangsa ini.

Jadi kalau begitu UI, ITB atau UGM lebih PD ya dibanding dua institusi di atas ? Atau bisa saja, mereka (UI, ITB dan UGM) pada nggak peduli pada alumninya. Jika demikian maka ITS dan Brawijaya lebih peduli ya.

atau ?

Kalau ada alumni UPH yang jadi menteri, gimana ya ? Perlu bikin iklan satu halaman penuh kali ! (inilah masalahnya, tentang PD, peduli alumni atau mungkin iklan cari murid baru ;) )

**up-dated 11 Mei 2007**

Ditampilkan untuk menanggapi komentar saudara Harun.

**up-dated 11 Mei siangnya pk 15.09**

komentar : tulisan ini ternyata masuk pada “Tulisan teratas di seputar WordPress” , nggak ngira lho, padahal isinya cuma iseng. Jadi pembaca itu sukanya yang iseng-iseng aja ya.

9 thoughts on “ucapan selamat ke pak Menteri baru

  1. Ha…ha.. lucu juga ya klo dipikir-pikir.

    Maklumlah mungkin ini pertama kali ada alumni mereka yang jadi menteri, jadi terlalu banyak berharap dan terlalu bangga,..(yang mana selama ini selalu didominasi oleh perguruan tinggi ” hebat ” seperti UI, ITB, atau UGM)……..

    ………………………………Dan mungkin juga perguruan tinggi “hebat” itu sudah capek (atau malu mungkin) buat beri selamat klo ada alumninya yang jadi menteri, karena udah ga bisa berbuat apa-apa lagi bagi bangsa ini….

    “IF U SEE THE END U WILL SEE THE BEGINING”

    Suka

  2. hahahaha……..
    sebenarnya UI, ITB,UGM sudah merasa yakin bahwa menteri – menteri mereka pasti gagal untuk mengubah negara ini jadi mereka malu untuk berbuat serupa. Ato jangan – jangan ndak punya duit untuk berbuat yang serupa he…

    sebenarnya penting ndak sih Wir nulis masalah beginian….. .Padahal Wir sebentar lagi mo jadi doktor yang notabene ilmu dan pola pikirnya seharusnya lebih baik daripada anak – anak bocah yang baru bisa nulis di blog. Lha tulisannya malah katrok (padahal udah bolak – balik ngeluarin buku lho)

    Ya wir juga manusia

    Suka

  3. sebenarnya penting ndak sih Wir nulis masalah beginian

    Wah, ada yang ‘kena’ nih.

    Tapi jangan salah paham, bahwa apa yang saya tulis di atas adalah dalam rangka meningkatkan kepedulian terhadap fenomena sosial. Sebagai keseimbangan.

    Seperti diketahui bahwa seorang doktor itu cara pemikirannya fokus, pada bidang yang ditelitinya. Untuk teknik, itu benar-benar bisa terisolasi dari hal-hal yang bersifat sosial. Jika terus-menerus seorang calon doktor (teknik) menggeluti hal tersebut maka akhirnya bisa saja a-sosial. Bidang ilmunya jago, tetapi tidak peka lingkungan.

    Saya mencoba menyeimbangkan, yaitu dengan menuliskan ide-ide atau menyelidik atau mengemukakan fenomena sosial yang mungkin kelihatannya sepele tetapi sebenarnya filosofinya tinggi.

    Yang saya gunakan juga tetap perangkat ilmiah. Coba deh lihat tulisan di atas.

    Pertama, saya menyajikan masalah real, bagaimana tahu kalau real, ya disebutkan referensinya, Harian KOMPAS kemarin. Berarti yang saya sampaikan bukan gosip tetapi kenyataan, benar-benar terjadi.

    Kedua, saya singgung bahwa kejadian tersebut meskipun kelihatan sepele, umum tapi ternyata bisa diangkat menjadi masalah yang dapat dibahas. Itu khan strategi penelitian pada umumnya khan. Mula-mula diceritakan latar belakang kejadiannya, yang biasa apa, yang yang nggak biasa apa. Jadinya kenapa ?

    Ketiga, saya jelaskan ‘kenapa’ di atas dari sudut saya, untuk memancing pembahasan, saya bandingkan dengan pihak lain. Lalu saya lempar ke pembaca, adakah pendapat lain.

    Lalu saya ambil hikmaknya, contohnya anda bilang tulisan saya yang ini katrok. Ini khan yang aneh, saya lagi mikir, yang mana yang katrok ya. Dengan demikian dapatlah dilakukan kalibrasi (pelurusan kembali).

    Suka

  4. In my humble opinion, kalau ITS memberikan ucapan selamat kepada Pak Nuh, itu wajar, karena sebelum menjadi mentri Pak Nuh adalah rektor ITS. Hal yang sangat wajar bila civitas akademika ITS memberi ucapan selamat dalam menjalankan tugas baru. Kepada yang kedua, Lukman Edy, ucapan selamat diberikan oleh Ikatan Alumninya, saya kira juga wajar, mengingat beliau juga aktif di Ikatan Alumni tersebut.

    Jadi ucapan selamat ibaratnya sebagai ungkapan : good luck, provisiat dalam menjalani tugas yang baru. Menjadi ga wajar kalo ucapan selamat diikuti dgn pengumunan tanggal ujian masuk seleksi universitas yang bersangkutan hahaaaaa….

    Saya tidak melihat redaksional ucapan tersebut, tapi tanpa prasangka, mungkin hal ini wajar. hehehe

    Suka

  5. Hallow Mas Wir,,,

    betul kata Mas harun..
    ITB-UI-UGM gak pernah kasih ucapan selamat buat para alumninya yang jadi menteri, selain karena sudah terbiasa dan juga MALUUUUUU.

    kata selentingan isu..wong-wong yang merusak bangsa ini
    ya arek2 dari ITB-UI-UGM plus ABRI..hehe

    Semoga Pak NUH dan Menteri baru yang lain…sukses dah
    rakyat makmur makan tenang sekolah lancar
    kasihan nih liat si emak di kampung..beli minyak goreng aja mesti kudu cari pesugihan-keramat dulu buat dapet duit cepat
    juga udah enek nih tiap semester kudu mikir bayar SPP..masa pejabat aja JJS ke LN gratis..kok guwe sekolah gak gratis…

    Tapi saya gak setuju juga dengan Mas Harun..
    tulisan Mas Wir..gak KATROK ah..
    namanya juga nulis di (go)BLOG..gak mesti seriyus..
    malah yang goblok-goblok tapi ada hikmahnya malah bagus

    Suka

  6. hehehe,,,sebetulnya ucapan selamat adalah hal yang positif diberikan kepada siapa saja yg meraih kesuksesan. karena merupakan do’a dan harapan. apakah ucapan selamat tsb mengeluarkan biaya pasang iklan ataupun hanya dengan ucapan biasa yang terpenting adalah keikhlasan. ikhlas mengeluarkan biaya pasang iklan ya monggo2 saja. hehehe….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s