Ujian UP di UNPAR


Ujian kualifikasi telah lama berlalu (feb 2006 lalu), meskipun demikian baru hari ini evaluasi resmi terhadap usulan riset disertasi mengkristal dalam sidang Ujian UP untuk akhirnya dapat dilakukan tindakan nyata.

Mencari topik penelitian, memformulasi permasalahan dengan kualifikasi Ph.D ternyata tidaklah segampang menulis paper. Tahapan ini merupakan suatu proses penting, ibarat seseorang sedang merencanakan suatu perjalanan dan menentukan kota yang dituju. Tentunya akan ada pertanyaan, mengapa ke kota tersebut, apa yang dapat diperoleh jika ke kota tersebut, apakah cukup layak untuk ke sana atau harus ketempat lain. Semakin jauh kota yang dituju semakin berat, tenaga, waktu dan biaya yang harus dikeluarkan. Jika saja ada kota lain yang lebih dekat, lebih mudah perjalanannya tentulah hal tersebut dapat dipilih. Tetapi masalahnya adalah bagaimana menyakinkan hal tersebut bahwa ke kota yang (menurut kita gampang) itu sudah mencukupi.

Jadi riset disertasi yang saya pilih juga demikian adanya, bila dapat dipilih permasalahan yang relatif gampang (menurut pendapat pribadi), murah biayanya, tentulah riset tersebut dipilih. Yang menjadi masalah hanya bagaimana membikin argumentasi kepada para penguji bahwa riset yang diajukan tersebut memang berbobot mempunyai nilai yang orisionil dengan kualifikasi Ph.D (tentunya ini menurut wawasan penguji).

Itulah yang aku lakukan hari ini dengan acara yang disebut Ujian Usulan Penelitian (UP) Disertasi, adapun judul yang aku ajukan adalah :

Pengaruh Bentuk dan Ukuran Washer (Ring) pada Perilaku Sambungan Baut Mutu Tinggi dengan Pre-tensioning di Baja Cold-Formed

Yah, kalau melihat judul di atas, kelihatannya sepele, kecil, dan tidak berarti, tetapi ternyata ibarat gunung es, dari luar hanya nongol kecil, tetapi jika dilihat ke dalam, sangat besar. Dari paper yang aku susun sebanyak 50 halaman terlihat potensi yang begitu besar, dikemudian hari, hasil riset ini akan dapat di patent-kan. Dari riset itu pula akan dibuktikan kompetensi pemakaian f.e.m tingkat tinggi sekelas ABAQUS. Kalau hanya sekelas program SAP2000 aja, jelas, masalah di atas tidak dapat diatasi. Problemnya adalah mikro dan non-linier (in-elastis, large-deformation, contact-problems) lengkap deh.

Adapun dewan penguji dalam ujian UP tersebut pengujinya adalah :

  1. Prof. Ir. Moh. Sahari Besari, M.Sc., Ph.D  (guru besar ITB) yang bertindak selaku promotor, dari beliau telah lahir tokoh-tokoh berkelas di dunia konstruksi Indonesia, doktor bimbingan beliau antara lain adalah Prof. Dr. Wiratman Wangsadinata (guru besar ITB), Prof. Dr. Aziz Djajaputra (guru besar ITB), Dr. Cesilia G. (rektor UNPAR yang sekarang), dan banyak lagi. Kepakaran dan senioritas beliau di dunia ilmu teknik sipil tidak diragukan lagi. O ya, beliau adalah salah satu atau mungkin satu-satunya putra Indonesia yang mempunyai patent beton ringan yang diakui oleh NASA. Dengan demikian tentu beliau tahu benar apa yang dimaksud dengan riset orisinil dengan kualitas Ph.D seperti yang aku maksud di atas.
  2. Prof. Bambang Soerjoatmono Ph.D. (guru besar UNPAR dan direktur Pascasarjana UNPAR) selaku penguji. Bagi pembaca buku-buku terbitan Erlangga tentang beton tentulah  tidak asing dengan nama beliau, beliau cukup banyak menerjemahkan buku-buku tersebut.
  3. Dr.Ir.  Muslinang Moestopo (pakar baja ITB, tokoh dibelakang peraturan baja Indonesia)
  4. Dr.Ir. Paulus Kartawijaya (Ketua Jurusan Teknik Sipil UNPAR) bertindak selaku ko-promotor
  5. Dr.Ir. Cecilia Lauw Giok Swan (rektor UNPAR) bertindak selaku penguji

Berdasarkan paper yang aku coba ungkapan secara sistematis, apa masalahnya, mengapa masalah tersebut aku ambil dan lalu mau apa dengan masalah tersebut (yah kira-kira seperti teoriku tentang bagaimana membikin skripsi itu lho) dan juga presentasi ke pada mereka ber-empat (Ibu Cecilia berhalangan hadir pada acara presetasi, tetapi telah memberikan penilaian tertulis terhadap paperku tadi.

Akhirnya beliau-beliau tadi di atas cukup puas dan mempersilahkan untuk meneruskan topik tersebut. Artinya apa, artinya aku LULUS Ujian Usulan Penelitian Disertasi tersebut,  dengan kualifikasi nilai sangat memuaskan yaitu A. Berarti aku berhasil menyakinkan mereka, para pakar bidang konstruksi tersebut.

Selanjutnya setelah UP maka proses evaluasi disertasi tadi akan diadakan pada saat Sidang Tertutup. Tetapi sebelum itu tentu diperlukan seminar yang disebut SKP I dan SKP II. Saya berharap semoga proses ini dapat berjalan lancar.

Semoga Tuhan memberkati. Amin.

Note : ada ceritanya lho sewaktu Ujian Kualifikasi Doktoral.

14 thoughts on “Ujian UP di UNPAR

  1. Selamat pak wir atas UP nya yang telah terlewati. Tetap semangat untuk tahap selanjutnya SKP I dan SKP II.

    Nanti pada saat ujian terbuka saya mau undangannya dong pak. Topik nya cukup menarik dan berbobot.

    Tetap bertekun pak.

    Pak baca Ibrani 3:4.

    Suka

  2. Selamat pak Wir atas kelulusan ujian usulan penelitian disertasi nya.
    Semoga keberhasilan ini akan membawa dampak positif untuk almamater UPH

    Terus berkarya dan sukses untuk disertasinya …
    God bless u..

    Suka

  3. Terima kasih Hendrik, tadi siang kakak kelasmu Beta juga udah kasih dukungan moril via sms.

    Makasih semua ya murid-murid, semoga ini juga memotivasi kalian semua untuk meraih ilmu setinggi-tingginya juga.

    Suka

  4. Selamat buat kelulusan Ujian Usulan Penelitian (UP) Disertasi. I hope I can manage to sit in one of your open seminar.

    ***Problemnya adalah mikro dan non-linier (in-elastis, large-deformation, contact-problems) lengkap deh.***

    Benar-benar absolutely complex. Even in Abaqus I think users might need to consider their own element to have micro point of view (not in every problem).

    Boleh tahu literature yang dipakai Pak Wir untuk mikro analysis terhadap contact ? If you don’t mind, would you like to share your work in more detail ? (I still do not understand about the problem you do or did simulate and I really do wanna know about it)

    Thanks alot.

    Note: I, honestly, really am fascinated by your work, especially this blog. I do like to visit this blog. As far as I know only few Indonesian civil engineer realize about getting update of their work with the blog (and it’s pity ’cause I am not one of them). It motivates me to use a blog for my work.

    Suka

  5. Jangan nakut-nakuti gitu lha mas Sendy. Kalau ternyata nanti mikro-nya susah seperti yang mas Sendy nyatakan, yah perlu dipikir-pikir lagilah. Bagaimanapun pernyataan mikro tidak eksplisit terlihat pada usulan penelitian tersebut.

    Untuk literatur saya banyak memakai hasil penelitian prof. Hancock (University of Sidney) sebagai pembanding, karena saat ini riset-riset beliau termasuk yang terdepan untuk baja cold-formed.

    Ada yang usulkan untuk memakai FEMAP sebagai pre-post processing untuk Abaqus, kira-kira bagaimana pendapat mas Sendy.

    Suka

  6. Hallo Pak Wir,

    Sorry, bukan maksud saya menakut-nakuti.

    Saya tertarik karena juga sedang belajar micro-macro mechanics untuk diterapkan di continuum element. In the case I’m doing now, an element is considered to have a translational and (macro) rotational movements as a continuum and also a (micro) rotational movement as a point/node. These two movements are independent each other. In short term, I am using Cosserat continuum. The problem, in this case, is that (at least in my opinion), one element does not mean representing one particle cause it is impossible to build an element which has the same size as one particle. Then, ones come up with socalled characteristic length. Introducing this term into constitutive equation do solve the problem of element size. So now, let say we have a fem model of a specimen (i.e. biaxial compression, plane shearing) with a capability of rotation in each node which is micro rotation and rotation of one continuum element which is macro rotation (baca: \varepsilon_{12}).

    Then a question pup up in my mind: is the micro-rotation of specific node the same as the rotation of the specific particle in the laboratory test. In fact, I tried to check and compare the model calculations of element test with the experimental lab done by others, i.e. for triaxial and plane strain compression with experim. by Tatsuoka, plane shearing on surface structure with experim. by Frost and De Jong, and come up with the answer that the micro rotation of the specific nodes (from simulation) is not exactly the same as that of specific particle from the lab, but its average value calculated from surrounding particles is closed to the one resulting from simulation.

    Thereby, I am thinking of a homogeneization method (which I don’t know what it is) used in micro point of view. That’s why I wanna know more about your work when I read “micro point of view”.

    Tentang FEMAP, saya belum pernah pake. Sejauh ini saya memakai pre-processing dari Abaqus/Standard (nulis perintah di text file, termasuk meshing) untuk element test, footing, short artifical dam. Kalau saya butuh meshing yg sedikit susah, saya pake Abaqus/CAE (yg tinggal klik) kemudian balik lagi ke Abaqus/Standard. Kalau lebih susah lagi (baca: project), saya minta tolong tetangga sebelah (baca: co-worker the same project) untuk buat AUTOCAD and transfer as textfile which can be read by Abaqus (use import option).

    Untuk post processing, Abaqus/Viewer sudah cukup bagus, even though users need to do a trick to create owned field output cause of the bug during instalation (it depends on the version. I have the problem with the version 6.3, but not in ver 6.4). I usually take the results as textfile and deform mesh as postcript file, then I use Excel or easyplot to built curves.

    About other pre/post-processing, yes, I did hear that NASTRAN and SOLIDWORKS are better; but I never use them.

    Untuk calculation, sure, Abaqus is still very good (in my mind; don’t wanna say the best cause I still have no experience about other programs, i.e. ANSYS). Thing I like from Abaqus is that users just need to “take care” of one master element while others will be Abaqus works, even when owned element is used. It is not the case when we have to writte our own code. Lot’s of possibility in modeling which I really need such as developing a contact, and doing the convergence of the solution (even it’s not in all cases), which is much easier than building own code.

    Hope to discuss more about these calculations work.

    Sekali lagi sorry kalau terlalu panjang and abit complain about my work in this blog (perasaan sudah pernah nulis cerita panjang di blog ini).

    regards.

    Suka

  7. Mas Sendy,

    O pantes, micro-nya anda memang rumit, saya tidak sejauh itu. Saya hanya mau membandingkan bahwa untuk perencanaan struktur dalam melihat perilaku struktur biasanya memodelkannya secara makro (global) sebagai elemen satu dimensi. Daerah detail pada sambungan hanya dimodelkan sebagai node, tidak secara detail.

    Mikro disini bahwa daerah node yang umumnya dimodelkan sebagai node pada pemodelan makro akan diselidiki secara lebih mendalam, yang mana itu memerlukan pemodelan 3D dengan elemen solid, yah kayak memodelkan mesin pada program Abaqus gitu.

    Jadi dengan melihat penjelasan mas Sendy tersebut maka saya nggaka akan masuk ke wilayah tersebut. Gimana lagi waktu studi juga mulai mendesak, padahal tugas belajar sudah hampir habis. Jatahnya lima tahun, koq cepat bangent mau habis.

    Untuk diskusi panjang, nggak apa-apa mas. Bahkan terima kasih untuk berbagi ide. Terus terang saya di Indonesia kalau ketemu darat (langsung) sudah susah untuk dapat berdiskusi sejajar, kebanyakan kalau nggak konsultasi (memberi) maka paling-paling hanya basa-basi masalah lain. Jadi bener-bener bekerja sendirian, ini kekurangannya kalau ambil Ph.D di sini, co-worker-nya belum efektif terbentuk. Kalau ada teman , ya hanya sekedar teman ngrumpi aja.

    Saat ini saya telah memasang Solidwork, wah ternyata untuk menggambarkan 3D solid sangat gampang lho. Kemarin saya pakai pada waktu presentasi ujian UP, kelihatan menarik sehingga cukup lancar, tidak mempersoalkan paper atau presentasi.

    O ya, tentang ke-tiga komponen non-linier, yaitu : inelastik, large deformation dan contact memang tetap ada mas. Dalam problem kontak khan ada friksi, betul khan. Apakah gaya friksi yang ditimbulkan oleh koefisien friksi permukaan ditentukan juga oleh bidang kontak efektif ? Ada ide mas Sendy.

    Suka

  8. Hallo Pak Wir,

    ****O ya, tentang ke-tiga komponen non-linier, yaitu : inelastik, large deformation dan contact memang tetap ada mas.****
    Yup, saya setuju bahwa most materials show inelastic behavior which means that the strain components would not go back to the initial value under certain loading and unloading. Depending on the engineering judgment in certain cases one may decide to use either large deformation or small deformation method. Let say, if the displacement of points on a body is very small so that the computed state variables of the body based on original geometry are ‘considerably’ the same as those based on deformed geometry, then here, the small displacement analysis would have advantages. Otherwise, large displacement analysis should be used. However, (in my opinion) in some cases in which very stiff material comparing to the applied load is used, the large displacement analysis used with certain constitutive relation might give overestimate value compared with experimental (In this case, I’m not sure whether the geometry analysis is not suitable or the constitutive relation is wrong).

    ****Dalam problem kontak khan ada friksi, betul khan.****
    Tentang problem kontak —–> yup, saya juga setuju kalo setiap kontak pasti ada friksinya, kecuali kalau diskusi tentang kontak dengan air (bukan other liquid, which I think may have viscosity related friction) atau kecuali kalo memang users/engineers assume as smooth surface.

    ****Apakah gaya friksi yang ditimbulkan oleh koefisien friksi permukaan ditentukan juga oleh bidang kontak efektif ?****
    This is absolutely very difficult question to be responded. I did try to study about the detail of contact when I first time came to Graz. Spent my first three full months only for reading literatures about it in order to find out which part of contact is interested for granular body and is suitable for hypoplastic constitutive equation and also whether it is possible to get the experimental data about contact in granular body and structure from micro point of view. Then, finally for contact between two body I only use simple Coulomb friction: \sigma_{12} = C * \sigma_{22}; where \sigma_{12} is the shear stress developed on the surface of contact while \sigma_{22} is the normal stress acting on perpendicular direction of surface. C is a constant which value changes depending on the evolution of the above two stress variables and also depending on whether or not the occurrence of interlocking particles (please not that the term interlocking, here, means that neither relative translational displacements nor rotation particle is allowed while Coulomb friction here is friction in translational direction, not rotation).

    Untuk merespons pertanyaan ttg friksi diatas, before starting we need to have the same terminology whether effective contact is the same as real contact area (asperities or roughness / junction on the surface) or it is apparent area.
    Note: in my opinion, every material body without polishing always has asperities; even they sometime are very small scale, i.e. steel, a particle of sugar/salt.

    As far as I ever read, jikalau bidang kontak effective adalah apparent area (projection of the area) then the force of friction is independent of the apparent area (if I’m not mistaken it is Amonton’s first Law), which is (in my opinion) corresponds to the simple Coulomb friction law (he did not talk about the area of projection). So, in this case the friction force would be based on force equilibrium, where it is proportional to the normal force. In addition, the coefficient of friction will be the tangent of the inclination of the considered surface.

    Next, when the meaning of effective contact stated above is real contact area then (if I’m not mistake, in Bowden and Tabor, 1953) the friction force is a function of real contact area. In this case, one might interests to look at Hertzian contact theory (or another theory about elastic Hertz-Midlin contact). Let say we have two spherical solid grains (or particles or bodies) in contact, basically, when they’re in contact there must be a contact point (from ‘macro’ point of view). This contact point is, sure, a surface area with some asperities and the most important thing in this theory (if I’m not mistaken) there exists a deformation of these spherical bodies to have the contact surface (imagine: pressing any parts of your body with your thumb or extreme example is two balloons in contact which may not be solid). So I would say that the solid grains deform (baca: the asperities on the contact body) due to the pressure/force on their bodies. Then, according to Hertz-Mindlin contact the (kinetic) friction force will be a function of the plastic behavior of the asperities (the yield stress of asperities), shape of particle and grain size and (in my opinion also the rotation velocity which can be neglected).

    Then, one of my questions comes up when a college give a talk (open seminar for doctoral final defense) regarding the application of this Hertz Midlin contact on a grain particles is as follows:
    In his work, the particles are assumed to behave elastically (which I agree so that we don’t need to care about the inelastic condition of asperities) in order to calculate the deformation of solid grain body due to pressure so that the contact stiffness can be determined. Consequently, the volume of the solid grains (Vs) changes due to this deformation and it also means that the solid grains are not stiff (cause stiff solid body means that Vs at (time = 0) = Vs at time t). Then, the first problem comes up when we want to compute the change of void ratio due to change of pressure, in which by definition void ratio (e = Vv/Vs) means the ratio of volume of void (Vv) to the volume of solid grains (Vs). Here both (Vs and Vv) changes with the change of pressure.
    Then second problem is related to the basic physic law about balance of mass, which must be fulfilled for any constitutive relation talking about physical body. As we know that balance of mass tells us about the mass at time t is the same as the mass at time zero (0); then we can derive and find out that the summation between time derivative of density (\frac{D \rho}{Dt}) and density times partial derivative of velocity vector with respect to current position vector is zero:

    \frac{D \rho}{Dt} + \rho \frac{\partial v_i}{\partial x_i} = 0.

    Then, when volume of solid grains changes with time (Vs at (time = 0) \neq Vs at time t) then the density of solid grain (\rho_s; where density \rho = ratio of mass of solid to the volume of solid while mass of solid is density of solid times volume of solid) must also change with time to fulfill the balance of mass, which is not considered by my college. In fact, considering this change of density with time (in my opinion) might create problem in constitutive relation of the specimen because here, we only talk about the deformation of contact on grain particles not yet the specimen behavior, in which the purpose of the modeling contact (I think). In short, I think sudut pandang dari Hetzian contact ini bisa jadi masalah besar yg mungkin minta waktu lebih dari 3 tahun (ini jatah beasiswanya) selain masih harus belajar Cosserat continuum. Therefore, I chose not to consider it at that time. Prefer to choose the simple Coulomb friction with doing tricks for modeling the interlocking part.

    I am sorry if there’re some mistakes in typing or, even worst part are mistakes in my way of thinking.

    It seems that I should try to use Solidwork. Thanks for the info.

    Ehm…. Yang ini bener2 kepanjangan *** bingung deh***

    Welcome for any criticisms.

    regards.

    Suka

  9. Hallo Pak Wir,

    Untuk asperties area, mungkin bisa liat di
    Rough Surface by Tom R Thomas, published by Imperial College Press, 1999.

    regards.

    Suka

  10. sdr. Sendy,

    Kalau membaca uraian anda, problem yang anda geluti lebih banyak ke material granular, material lepas, seperti tanah, kerikil dan semacamnya, beton termasuk nggak. Kayaknya nggak perlu ya karena bisa didekati secara makro dengan E (modulus elastisitas tertentu).

    Kalau problem saya kayaknya nggak serumit itu, yang saya hadapi dalam hal ini adalah baja cold-formed (pelat baja tipis kurang dari 4 mm) untuk masalah ini dipilih ketebalan 1 mm atau kurang sehingga alat uji nggak perlu besar-besar (maunya ngirit mas).

    Karen pelat tipis inilah masalah inelastis dan large defomation analysis menjadi dominan, karena kekakuan pelat tipis tegak lurus bidang sangat kecil.

    **finally I only use simple Coulomb friction**
    Abaqus juga pakai itu ya mas, perilakunya untuk baja juga mirip, masalahnya adalah pada sambungan baja yang mengandalkan friksi misalnya pakai baut mutu tinggi maka jika beban luar lebih besar dari gaya slip-kritis maka kegagalan friksi sifatnya tiba-tiba. Non-daktail. Kalau granular mungkin ada interlocking particles ya. Kalau di metal khan nggak ada khan mas. Istilahnya slip.

    Selanjutnya saya mulai binggung membaca materi tulisan anda. Saya koq belum pernah tahu ya tentang Amonton’s first Law; Cosserat continuum ; Hertzian contact theory (or another theory about elastic Hertz-Midlin contact). Apa itu juga berlaku untuk solid mechanic.

    Wah masih banyak yang harus dipelajari nih. Bisa semakin botak ini.

    Suka

  11. ***Kalau membaca uraian anda, problem yang anda geluti lebih banyak ke material granular, material lepas, seperti tanah, kerikil dan semacamnya, beton termasuk nggak. ***
    Yup, problem2 yang saya pelajari berkaitan erat dengan mechanics of granular material. Untuk beton, saya belon pernah belajar secara detail, kecuali kalau melihat closed up terhadap pullout of steel reinforcement in beton, yg memang behaviornya lain dengan pullout of steel reinforcement in soil. Tetapi konsep dari kontak mekaniknya (menurut saya) mirip kecuali tentang pemahaman dari lekatan akibat semen (yang saya tidak tahu).

    ***Kayaknya nggak perlu ya karena bisa didekati secara makro dengan E (modulus elastisitas tertentu).***
    Menurut pendapat saya, sejauh beban yang diberikan pada granular body masih jauh dari daerah plastic (small strain), yup saya setuju bahwa modulus elastisitas is constant dan bisa didekati dengan satu nilai E. Tetapi kalo melihat di daerah plastic (i.e. in the stress space diagram the corresponding area is near the yield surface), menurut saya E-component akan selalu berubah. Saya sebut E-component, karena, in fact, by definition E is the ratio of stress increment to strain increment while stress and strain in this case have some components depending on the direction point of view.

    It is worth mentioning that in one boundary value problem E changes with the depth or height of the problem because specimen di kedalaman tertentu memiliki stress history dan density yg berbeda dengan yg terletak di atasnya. Looking at one specimen under loading E depends on density of the specimen (i.e. E of the dense specimen is higher than E of loose specimen), while density of the specimen decreases with the state of pressure (here, pressure means mean pressure = \sigma_{kk} / 3) applied on that specimen.

    *** Karen pelat tipis inilah masalah inelastis dan large defomation analysis menjadi dominan, karena kekakuan pelat tipis tegak lurus bidang sangat kecil.***
    Yup, sangat setuju sekali.

    ***Abaqus juga pakai itu ya mas, perilakunya untuk baja juga mirip, masalahnya adalah pada sambungan baja yang mengandalkan friksi misalnya pakai baut mutu tinggi maka jika beban luar lebih besar dari gaya slip-kritis maka kegagalan friksi sifatnya tiba-tiba.***
    Setahu saya, iya Abaqus hanya menyediakan Coulomb friction. Kalau saya tidak salah mengerti, yang perlu dianalisa disini adalah static friction kan ? krn kalau sudah melewati static friction, contact system akan mengalami kinetic friction dan system akan mudah untuk slip. Mungkin exponential decay option yang ada di Abaqus ( dimana contact system memakai static friction yang kemudian akan mengalami exponential decay ke kinetic friction ) bias di pakai. Untuk option ini saya belum pernah memakainya.

    *** Kalau granular mungkin ada interlocking particles ya. Kalau di metal khan nggak ada khan mas.***
    Yup, setuju untuk contact antara dua metal.

    ***Selanjutnya saya mulai binggung membaca materi tulisan anda. Saya koq belum pernah tahu ya tentang Amonton’s first Law; Cosserat continuum ; Hertzian contact theory (or another theory about elastic Hertz-Midlin contact). Apa itu juga berlaku untuk solid mechanic.***
    Ups… sorry seharusnya Amonton’s second Law yg menyatakan bahwa force of friction is independent of the apparent area of contact. Kalo pertanyaannya apakah berlaku untuk solid mechanics, ya jawabannya berlaku.

    Hanya saja menurut opini saya, tergantung kita mau melakukan analisa dari sudat pandang apa. Kalau saya, misalnya ingin lebih konsen ke predicting apa yang akan terjadi di daerah kontak, maka saya akan bela-belain belajar mulai dari Amonton’s, Coulomb’s law sampe detail dari Hertz-Midlin contact (i.e. book titled “Sliding friction: Physical principles and applications” by Persson, 1998), terutama hubungannya dengan physical law. Tetapi jujur, saya tidak seberapa tertarik saat itu (dan sampe sekarang, terutama setelah masuk ke perhitungan yang menyangkut contact). Tetapi kalau untuk predicting loading behavior of specimen sedangkan kontak hanya untuk dilihat sebagai equilibrium force in contact (bukan evolution dari asperities area) maka saya akan memakai simple Coulomb friction – with its apparent area (ini yg saya lakukan).

    Untuk Cosserat continuum (i.e. books by A C Eringen), setahu saya sempat booming di paper2 tahun ’60-an setelah di dibahas oleh Cosserat brothers pada tahun ’20-an (kalo ndak salah), setelah itu tidak seberapa dipakai karena dianggap bisa digantikan oleh classical continuum (i.e. translational continuum). Kemudian mulai dari paper ’89-an sampai sekarang Cosserat continuum dipakai untuk membahas microscopic point of view dari granular material or bricks material (however, I ever read elsewhere, sorry I forgot, that Timoshenko beam is also related to Cosserat continuum). It is important when we talk about localization or shear band or necking effect in metal forming, in which the mesh dependent problem might be a big problem in finite element analysis. However, Cosserat continuum is not a kind of a must method. We can also use high gradient plasticity theory, non-local theory to have non-dependent mesh of localization.

    Note:
    Mesh dependent (yg ini tidak di setiap case) disini maksudnya: thickness dari shear band tergantung pada ketebalan dari element.

    Untuk gambaran pentingnya mengetahui/memprediksi lokasi dan ketebalan dari shear band bisa dilihat dari tempat yang pasti untuk meletakkan reinforcement sebagai perkuatan tanah. Dengan menahan rotasi particle, kita juga bisa menggeser letak dari shear band; dimana berarti bahwa microscopic point of view juga diperlukan untuk mengetahui besar dari rotasi particles, not macro rotation of continuum.

    **** Wah masih banyak yang harus dipelajari nih. ****
    He..he… Yuk kita belajar. Jujur saya belajar banyak dari blog Pak Wir.

    Suka

  12. Shaloom dan salam kenal,

    Maaf kalau pengetahuan saya terbatas di material baja, saya lebih berkecimpung di material beton.

    Saya rasa ada perbedaan “skala” dari apa yg dipaparkan Sdr Sendy dan analisa yg akan dilakukan Pak Wir.

    U/ masalah baja cold-formed, saya rasa Mohr-Columb interface model sudah cukup memadai (bergantung besarnya konstraint di arah tegak lurus), mengingat baja sangatlah uniform. Saya percaya jumlah DOF di analisa Pak Wir tdk sampai jutaan, spt yg digunakan di meso analysis of soil/concrete.

    Untuk keabsahannya, saya merekomendasikan Pak Wir untuk melakukan percobaan yg “sederhana”, dimana Pak Wir bisa mendapatkan gambaran scr macro (gabungan dari fenoma2 di skala meso,micro,etc)., yg outputnya bisa digunakan u/ mengadjust parameter dari model tsb.

    Penjelasan yg dipaparkan o/ Sdr Sendy, berguna u/ permodelan soil,concrete,or mortar; dimana, materialnya tdk homogen, local plasticity terjadi akibat interlocking (hanya pada bbrp kontak point), besarnya konstrain yg terjadi di tiap interlocking bisa berbeda2 (akibat local slip), crushing, dilatansi, dsb.
    Apakah beton termasuk (atau hanya granular material saja)? Jawabannya Termasuk. “Contact density function” digunakan u/ menyederhanakan fenomena2 tsb di beton, sejak 30 thn yg lalu.

    Cheers,
    Benz

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s