menghadapi bahaya GEMPA !


Indonesia merupakan daerah yang sering dilanda gempa, mulai dari ujung utara Sumatera (Aceh), ke ujung selatan (Lampung), juga di pulau yang paling padat penduduknya (Jawa), lalu ke timur ke P. Dewata (Bali) atau Lombok dan sebagainya. Anda pasti percaya itu, apalagi berita-berita kejadian gempa sudah sering menjadi headlines di koran, radio atau acara-acara TV. Iya khan.

Tapi tahukan anda, bagaimana jika anda mengalami gempa itu sendiri ? Apa yang harus anda lakukan. Gempa merupakan suatu hal yang natural, agar tidak menjadi bahaya maka perlu persiapan bagi masyarakat di daerah itu dalam menghadapi bahaya gempa.

Coba pikirkan, jika saat ini ada gempa di atas 5 SR, bagaimana hayo ?

Saya yakin banyak orang di sini, di Indonesia bila mengalami gempa pasti langsung meneriakkan nama Tuhan-nya, berdoa, mohon keselamatan (aku juga demikian), lalu lari atau mungkin terlonggong-longgong dan berdiri aja (bingung).  Apa itu yang benar ? Saya kira pendapat tiap-tiap orang bisa berbeda-beda, akhirnya apa, yaitu KEPANIKAN. Kondisi tersebut kadang dapat menjadi bahaya tambahan yang dapat menimbulkan korban jiwa.

Jadi, sebaiknya ada kesamaan pendapat di masyarakat jika ada kejadian gempa, sehingga masyarakat tenang dan tidak timbul kepanikan. Apa kesamaan tersebut, tentu harus ada pembelajaran bersama, harus ada pendidikan bagi masyarakat mulai dari tingkat anak-anak di sekolah sampai kakek-kakek yang udah pensiun.

Bagaimana itu?  Kampanye !

Sudahkan kita (pemerintah) melakukan hal tersebut ?😦

Ini ada contoh tindakan pemerintah Amerika yang dilakukan oleh FEMA, untuk mempersiapkan masyarakat menghadapi bahaya tersebut, mulai dari pembuatan poster sederhana di sekolah-sekolah bila ada gempa, sampai memberi formula-formula canggih (publikasi gratis) bagaimana membuat bangunan tahan gempa, misalnya PUSH-OVER analysis, PERFORMANCE BASED DESIGN , RETROFIT dsb.

Mau tahu ?

Ini adalah poster bagi anak-anak sekolah di USA yang dapat dijadikan petunjuk bagaimana menghadapi gempa, tindakan awal yang sebaiknya dilakukan :

Bagus bukan, seperti pepatah “Manusia berusaha maka Tuhan menentukan”. Tentu saja selain didukung oleh doa pasrah kepada Tuhan, maka kita harus dituntut untuk berupaya secara benar.

Poster di atas dibuat oleh FEMA, suatu badan penanggulangan bencana Amerika, sebagai bahan pembelajaran bagi murid-murid di sekolah-sekolah. Dengan demikian masyarakat di sana tahu apa yang sebaiknya dikerjakan bila ada gempa.

Kita yang hidup di daerah gempa. Sudahkah anda tahu hal-hal yang seperti itu ?

Anda mau tahu kerja FEMA yang lainnya. Ya, mereka berupaya keras memberdayakan masyarakatnya dengan berbagai publikasi-publikasi yang berguna tentang cara menghadapi gempa, yang telah dipilah-pilah sesuai dengan latar belakang pengetahuannya masyarakatnya, yaitu diperuntukkan bagi :

  • Individuals and Homeowners
  • Teachers and Kids
  • Community Planning and Public Policy
  • Building Professionals and Engineers

Jika anda termasuk salah satu dari ke empat golongan masyarakat di atas, dan ingin tahu bagaimana golongan tadi berkontribusi saat menghadapi bahaya gempa, maka silahkan aja lihat  di web-nya ini.

Contoh menarik yang mungkin perlu kita terapkan di Indonesia. Tertarik ?

20 thoughts on “menghadapi bahaya GEMPA !

  1. Saya tinggal di Sumbar , dan hidup dalam kekhawatiran hingga saat ini. Apalagi kalau membaca di media massa, suatu saat akan terjadi gempa besar hingga 9 skala Richter, siklus 200 tahunan.

    Tolong dong informasi mengenai bangunan tahan gempa, baik itu membuat bangunan baru ataupun menyiasati bangunan lama agar tahan gempa. Terima kasih

    Suka

  2. sdr Delyza,
    anda serius ? Jika demikian anda tentunya sudah meng-klik web-nya FEMA dan sudah meng-eksplore-nya dengan baik.

    Apa yang anda cari mestinya sudah dapat khan ! Yaitu petunjuk bangunan tahan gempa untuk rumah tinggal. Itu lho FEMA 232 : Homebuilders’ Guide to Earthquake-Resistant Design and Construction (down-load PDF tebal 226 halaman).

    Publikasi lain yang gratis masih banyak !

    Rasanya tidak ada tempat lain di dunia ini yang menyediakan sumber-sumber pengetahuan tentang menghadapi bahaya gempa yang sangat lengkap seperti link di atas ! Gratis lagi.

    Ada lagi lho ini dari kota San Leandro, California ttg

    EARTHQUAKE RETROFIT HANDBOOK
    The City of San Leandro has created a very useful brochure for homeowners called 3 Easy Low Cost Ways to Make Your Home Earthquake Survivable.

    Tertarik ? Klik aja link berikut.

    Hebat khan Amerika !

    Suka

  3. Saya pernah dikasih poster kampanye masalah kegempaan oleh P Teddy Boen, salah seorang peneliti (sangat) senior rekayasa kegempaan di Indonesia.

    Posternya macam2, ada yang seperti di atas, dan yang menarik adalah poster tentang detail konstruksi tahan gempa untuk rumah sederhana, yang kalau menurut saya “sangat informatif sekali”. bisa membantu structure engineer mensosialisasikan rumah tahan gempa kepada masyarakat umum (tanpa musti ngomongin V=C*I/R*Wt).

    Semua poster itu saya kirim ke orang tua saya di Padang, dan disebarkan secara terbatas.. tapi, yah apalah artinya kalo cuman poster beberapa puluh lembar. tapi saya berencana untuk menyebarkan lagi (mau pesan dulu ke P Teddy nya).. daripada menunggu pemerintah, mending kita mulai mencoba untuk berperan sebisanya..

    untuk sdr Delyza :
    maaf, saya sebaiknya manggil apa ya : Bapak, Ibu, Uda, Uni (daripado salah tasabuik pulo beko, rancak lah ambo batanyo dulu)? hehehe..

    Kalo berminat, nanti saya kirimkan juga posternya. Mudah-mudahan P Teddy Boen masih punya stok posternya, atau kalau harus dicetak dulu terpaksa menunggu.

    warm regards
    -Rp-

    NB : maaf, ada bahasa Padang-nya..🙂

    Suka

  4. Pak Wir Yth,

    Memang masalah gempa belum memasyarakat di Indonesia, dari cara menghadapi gempa yg sedang berlangsung serta merencanakan suatu bangunan tahan gempa. Untuk kasus pertama cara menghadapi gempa, saya rasa cukup dengan sosialisasi ke seluruh lapisan masyarakat (terutama daerah2 rawan gempa). Tapi untuk masalah kedua membuat bangunan tahan gempa ini yang agak repot. Karena masih banyak dari kita yang TIDAK TAHU DAN TIDAK MAU TAHU.
    memang untuk mengantisipasi masalah yg kedua ini sudah banyak dilakukan seperti:

    1. Merevisi Code yang sesuai dengan kondisi alam kita.
    2. Pengadaan seminar dan bahan kuliah mengenai bangunan tahan gempa.
    3. Ijin pelaksanaan Bangunan yang harus disertai perhitungan2 struktur, walaupun masih terbatas di daerah2 tertentu dan tingkat bangunan tertentu.

    Kenyataannya dan sebagai suatu kasus.

    Saya tinggal di Jakarta, dengan tingkat hunian yang padat dengan rumah saling berimpit. Terus terang saya membangun rumah dengan perhitungan dan pelaksanaan sesuai dengan standar yang berlaku, saya mengawasi hingga detail pelaksanaan. Akhirnya jadi rumah tinggal kecil dan tahan gempa… Tidak lama kemudian tetangga saya membangun rumah 2 lantai dengan tinggi hampir 1.5 x dari tinggi rumah saya. Karena bertetangga saya perhatikan struktur tersebut tidak akan tahan terhadap gempa bahkan saya agak meragukan ketahanan struktur tersebut terhadap beban gravitasi (mungkin dengan kombinasi beban maksimum). setelah saya diskusikan dengan pemilik rumah, ternyata dia hanya meng-hire tenaga arsitek untuk mendesain rumahnya (memang tampilan luarnya bagus) tapi untuk struktur hanya berdasarkan pengalaman Mandor saja (yg katanya sudah puluhan tahun).

    Saya coba menyarankan agar segera merubah struktur rumahnya, jawabannya “rumah saya yang lain aman-aman saja sampai sekarang, malah waktu gempa kemarin juga aman, jangankan roboh – retak juga enggak”.

    Tidak lama kemudian tetangga saya yang lain membangun lagi rumah yang lebih tinggi lagi dengan struktur yang seadanya juga. Berarti rumah saya dikepung (diapit) 2 rumah yang tinggi dengan struktur yg rentan thd gempa. Prediksi saya jika ada gempa (arah gempa bisa kemana aja) maka rumah tetangga akan roboh menimpa rumah saya yg otomatis akan roboh juga (karena tidak mungkin saya mendesain untuk beban “tertimpa bangunan lain”), dengan kata lain desain rumah saya agak mubazir Pak.

    Pertanyaan:
    1. Adakah peraturan yang mengatakan kita bisa menuntut tetangga sebelah jika terjadi apa-apa? (amit-amit sih)
    2. Kemana saya bisa mengadukan masalah ini, sedangkan tetangga saya mempunyai IMB dan ijin2 lainnya (komplit dan resmi).

    Terima kasih sebelumnya Pak Wir..

    Suka

  5. Hallo mas Jimmy,

    Ya ikut prihatin terhadap kondisi yang anda temui. Suasana tersebut adalah sama seperti yang terjadi di Yogya kemarin, udah puluhan tahun aman, jadi dianggap bahwa itu aman-aman saja. Juga di Aceh.

    Mungkin cukup sekali dalam 100 tahun, harapannya kita hidup tidak di tahun itu, jadi tidak kena resikonya.

    Masyarakat kita khan seperti itu khan. “Toh itu khan bukan kita”, itu kebanyakan alasannya. Sedangkan kalau kena kejadian, alasannya “ini apes”.

    Contoh yang anda kemukakan juga dapat menjadi bukti bahwa orang-orang yang berkecipung di dunia bangunan yaitu arsitek dan teknik sipil maka hanya teknik sipil yang waspada terhadap bahaya. Itu pun mungkin hanya tertentu, yang penting profit.😀

    Kenapa saya mengabaikan arsitek, karena dalam pembelajarannya saja, udah tidak memasukkan unsur analisa struktur sebagai salah satu komponen yang harus dipelajari. Padahal hanya pada mata kuliah tersebut diajarkan secara sistematis tentang apa yang disebut kekuatan, kekakuan dll.

    Saya sudah memprihatinkan hal tersebut dan sudah mencoba mengutarakan dalam artikel berikut

    Sudah begitu, masih banyak yang berkelit aja.

    Ya gimana lagi mas. Satu-satunya jalan ya berdoa agar nggak ada gempa gitu.😐

    Suka

  6. Pak Wir, mau tanya nih…
    bagaiman cara mendesain kekuatan gempa untuk sistem M/E yang ada di dalam gedung (seismic resistance design for M/E systems)
    ditunggu ya pak🙂

    Suka

  7. sdr Wahyudi

    Sistem M/E dipasang setelah struktur selesai dikerjakan. Berarti bukan bagian sistem struktur gedung, hanya berfungsi sebagai beban saja (menyumbang massa).

    Oleh karena itu keberadaannya cukup signifikan (berat misalnya mesin atau semacamnya) maka perlu diperhitungkan dengan baik pada saat perencanaan. Juga lokasi penempatannya, bisa-bisa dapat menimbulkan eksentrisitas massa yang tidak menguntungkan jika ada gempa.

    Tahapan tersebut untuk memastikan bahwa sistem struktur harus tahan gempa terlebih dahulu.

    Struktur yang tahan gempa, berarti struktur tersebut mampu berdeformasi ketika ada gempa. Jadi sistem M/E-NYA sendiri harus didesain agar mampu terhadap pergerakan tersebut.

    Sistem M/E yang mempunyai massa akibat percepatan gempa akan menghasilkan gaya F=ma, jadi harus disediakan suatu pertambatan agar mampu menahan gaya tersebut. Juga jangan sampai berguling. Ini akan menghasilkan bahaya sekunder bagi penghuni.

    Juga sistem M/E yang continuous (pipa), ketika terjadi pergerakan juga jangan sampai rusak, dibeberapa tempat perlu disediakan detail yang relatif fleksibel, sehingga ketika ada deformasi maka tidak rusak. Bayangkan jika pipa tersebut berisi gas yang mudah terbakar, jadi ketika gempa bocor, maka bisa saja struktur ok, tapi terjadi kebakaran akibat kebocoran tersebut.

    Ya, jadinya saya kira case per case, harus dilihat secara komprehensif, kemungkinan-kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi.

    Jika anda mau rajin-rajin mencari saya kira bisa ditemukan pada link di atas, contoh-contoh atau petunjuk real konsep di atas.

    Semoga berguna.

    Suka

  8. Permisi mau tanya pak, apakah ada SAP 2000 Foundation? Struktur Analisis Program untuk Pondasi (mencari dimensi dan tulangan), jika ada bisakah sy minta brosur / penjelasan nya dan bisa saya beli dimana softwarenya, thanks atas informasinya🙂

    Wir’s responds: produk dari pembuat program SAP yang menghitung pondasi, maksudnya pondasi rakit adalah SAFE.

    Saya pernah melihat program yang bisa menghitung pondasi, kalau tidak salah. Coba lihat program STAAD PRO.

    Informasi lebih lanjut coba di GOOGLE aja.

    Suka

  9. Ada aspek gempa dari sisi geoteknik, penjelasannya adalah sebagai berikut:

    Gempa bumi adalah satu dari beberapa bencana alam yang dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar karena dapat menyebabkan kerusakan struktur bangunan, sarana infrastruktur, dan juga menimbulkan korban jiwa. Nilai kerugian dapat menjadi lebih besar bila kita juga memperhitungkan terhentinya aktifitas ekonomi dan sosial masyarakat sebagai akibat kerusakan di atas.

    Indonesia adalah termasuk negara yang mempunyai resiko gempa cukup tinggi. Hal ini dikarenakan oleh letak Indonesia yang berada pada pertemuan empat lempeng tektonik utama, yaitu lempeng Australia, lempeng Asia, lempeng Pasifik, dan lempeng laut Philipina. Interaksi antara ke empat lempeng utama tersebut menjadikan Indonesia sebagai benar satu negara yang memiliki aktifitas seismik yang cukup tinggi dan rawan terhadap bahaya gempa.

    Selain itu dari data pencatatan kejadian gempa di Indonesia yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga kegempaan nasional dan internasional, yaitu bahwa jumlah total kejadian gempa dengan Ms ≥ 5 yang tercatat sejak tahun 1897 sampai tahun 2006 adalah lebih dari 8000 atau > 80 kejadian per tahun. Oleh karena tingginya aktifitas seismik tersebut, maka perencanaan bangunan di Indonesia harus memperhitung-kan aspek-aspek kegempaan.

    Parameter kegempaan yang diperlukan dalam perencanaan umumnya dinyatakan dalam percepatan gempa dan respon spektra di permukaan. Untuk mendapatkan hasil analisa yang akurat perlu diketahui proses perambatan gelombang dari pusat gempa (fokus) hingga ke permukaan tanah pada lokasi yang ditinjau. Perambatan gelombang ini merupakan proses yang panjang dan kompleks.

    Berdasarkan perambatan gelombang, secara umum analisa kegempaan dapat dibagi ke dalam beberapa tahapan, yaitu analisa seismo-tektonik (seismic source identification), penentuan fungsi atenuasi, analisa probabilitas, penentuan time histories, analisa perambatan gelombang geser dari batuan dasar ke permukaan, dan analisa dinamika struktur.

    Analisa seismotektonik meliputi penentuan lokasi gempa, magnitude, dan mekanisme gempa yang akan digunakan sebagai data input untuk analisa probabilitas. Analisa probabilitas dibutuhkan untuk memperkirakan besarnya parameter gempa untuk suatu lokasi di batuan dasar. Hasil analisanya ini adalah berupa percepatan gempa dan respon spektra di batuan dasar untuk beberapa periode ulang tertentu beserta periodanya. Tahap selanjutnya adalah penentuan time histories dan analisa perambatan gelombang, disini pengaruh kondisi tanah lokal terhadap frekuensi, percepatan gempa dan respon spektra permukaan tanah.

    Ibukota provinsi seperti kota Aceh, Jakarta, Surabaya, Jayapura, dan seterusnya yang kaya akan sumber daya alam minyak dan gas, merupakan tempat yang potensial bagi investor sehingga pembangunan struktur dan infrastruktur hendaknya harus memperhatikan aspek kegempaan untuk menghindari kerugian yang mungkin timbul karena resiko pengaruh gempa bumi.

    Desain data digitasi ground motion dilakukan dalam frekuensi domain dengan memperhitungkan kondisi geologi dan seismologinya, dan sejarah kegempaan di sekitar lokasi. Target parameter pergerakan batuan dasar (ground motion parameter) dikerjakan berdasarkan Teorema Probabilitas Total sedangkan pembuatan time histories dikerjakan berdasarkan penggunaan data digitasi di suatu lokasi yang sesuai dengan kondisi kegempaan di lokasi gempa.

    Suka

  10. Pertimbangan lain
    Pak helmy
    pak salam jumpa lagi di blog mas wir, pak ada lagi beberapa hal yang perlu ditambahkan dari analisa percepatan gelombang gempa yang terjadi dipermukaan tanah yang dapat dijadikan sebagai koefiesien gempa dasar ( C ) yang berpengaruh terhadap gaya gempa yang terjadi, apalagi strukturnya di analisa dengan menggunakan metode statik equivalent tentunya gaya gempa yang terjadi berhubungan dengan tulangan sturktur bangunan. bila di lihat kembali ke belakang tanah sebagai penghantar ramabatan gelombang gempa, gempa di masukan sebagai gaya/beban yang terjadi di dalam struktur. Untuk disertasi ( S3 ) dapat diteliti hubungan antara Propetis tanah sebagai penghantar gelombang gempa dengan tulangan struktur bangunan. salam hangat stephanus untuk pak helmy

    Suka

  11. Salam P wir, ikut nimbrung
    Saya sependapat masalah gempa belum memasyarakat di Indonesia. Tapi dengan banyaknya kejadian gempa di Tanah Air baru terbuka mata banyak orang tentang bahaya gempa. Saya jadi berfikir apakah masyarakat indonesia harus terjadi dulu baru masyarakat sadar akan bahayanya gempa.
    Kalo dikaitkan dg tingkat pendidikan, saya pikir tidak juga karna saya pernah punya pengalaman menarik sekitar tahun 99 waktu merencanakan gedung kampus di Solo. Pada waktu itu mau direncanakan struktur tahan gempa, sebagai akibatnya biaya pembangunan membengkak. Akhirnya terjadi perdebatan di lingkungan rektorat mengapa biaya membengkak padahal gedung yg sebelumnya di bangun biayanya lebih murah. Setelah dijelasi bahwa desainnya tahan gempa muncul kata2 dari PR 2 pada waktu itu “Ngapain di desain tahan gempa, gempa itu urusan di atas”. Walaupun tidak ada kata sepakat akhirnya gedung tsb tetap didesain tahan gempa.
    Kata2 tsb membuat saya berpikir mengapa seorg berpendidikan tinggi berpikiran seperti itu ?
    Saya ga tau skr setelah gempa di Yogya yg berimbas juga di Solo, apakah pendapat itu masih ada.
    Yg jelas satu kesimpulan yg pasti bahwa sosialisasi mengenai bahaya gempa yg sangat kurang di Indonesia. Masyarakat Indonesia cenderung baru sadar setelah adanya kejadian.
    Mungkin skr sudah perlu didirikan lembaga semacam Fema di Indonesia………….

    Suka

  12. Ping balik: lagi-lagi tentang gempa di Indonesia « The works of Wiryanto Dewobroto

  13. dear Pak Wir & engineers

    mo nanya nih….bicara ttg gempa, apa ada ulasan dari sudut pandang geotek, teknologi bahan atau struktur tentang gempa yang terjadi di Manokwari-Papua Barat?

    Kalau ada, bisa di baca di mana yah?

    Thanks a lot

    God Bless

    Suka

  14. pak wiryanto saya mau tanya.. bisakah kita menganalisis struktur dengan sistem rangka pemikul momen menengah (SRPMM) dengan menggunakan SAP 2000?? bukannya SAP 2000 blm bisa menghitung jarak tulangan geser, sedangkan SRPMM adalah sistem bangunan yang dirancang untuk menanggulangi keruntuhan geser… mohon bantuannya pak…

    Suka

    • “sedangkan SRPMM adalah sistem bangunan yang dirancang untuk menanggulangi keruntuhan geser”

      Kayaknya definisinya nggak seperti itu pak. Nggak pernah ada bangunan yang didesain dengan statement seperti itu. Maklum yang namanya keruntuhan geser itu cenderung brittle (getas) atau non-daktail. Keruntuhan yang terjadi dapat menimbulkan katastropik. Berbahaya. Maka diusahakan itu tidak pernah akan tercapai terlebih dahulu, yaitu dengan membuat kapasitas yang lain yang berperilaku lentur akan terjadi lebih dahulu. Jika itupun juga tidak bisa, maka struktur direncanakan untuk berperilaku elastis.

      Adapun perencanaan elastis hanya aman jika kondisi bebannya sudah pasti. Jika kondisi bebannya saja tidak pasti, seperti gempa maka konsep tersebut tidak baik untuk diadopsi.

      Gitu dik.

      Suka

  15. slmt siang pak wir,,
    Saya ingn brtya mngenai pembbnan gempa pada lntai yg diakibatkan inersia lntai,,dbukunya pak tavio n pak benny kusuma dbrikan rmusan momen inersia lantai = massa * (b^2 + d^2)/12 dlm hl ini lantai brbntuk persgi pnjng. Jika lantai gedung tidak brbntuk persegi/persgi pnjang maka bgmna mnntukan inrsia lntainya pak,,mohon jwabannya pak,,slmt berakhir pekan,, GBU

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s