Sertifikat ISO di Universitas ?


Sertifikat ISO adalah sertifikat yang berkaitan dengan jaminan mutu. Pabrik yang bersertifikat ISO dianggap dapat menghasilkan produk bermutu. Itu pendapat umum.

Jika pabrik itu kita ganti Universitas dan produknya kita sebut alumni, apakah dapat dinyatakan bahwa Universitas yang sudah bersertifikat ISO dapat dijamin bahwa alumninya pasti bermutu.

Pertanyaan ini penting, karena saat inipun, kami di uph sedang getol-getolnya berupaya keras untuk meraih sertifikat ISO tersebut.

Tetapi pembicaraan dengan salah satu rekan sesama dosen ttg digunakannya ISO di salah satu “universitas …” , membuatku berpikir lagi. Koq gitu ya …

pak Wir, “universitas …”  udah ber ISO lho.

Hebat. Bayangkan pak Wir, dengan ISO maka semua bahan perkuliahan menjadi ‘teratur’, sampai slide-proyektornya (atau Power-Point) udah disiapkan oleh universitas. Prinsip ISO khan semua bahan tertulis di baku-khan. Jadi tinggal ngomong aja.

Dosen harus tinggal pakai itu, shg nggak perlu nyiapin apa-apa lagi. Dengan demikian dosen-nya bisa siapa aja, nggak tergantung orang lagi.

Hebat  tuh, memang benar-benar teaching university.
Kita gimana pak.

Apa bener ya ? Kalau seperti itu sih, aku nggak tertarik. Bisa-bisa si wir ini diganti si polin atau polan atau siapa aja, nemu di jalan juga ok, wong semua materi udah disiapin (??!).

**bengong😦 **

9 thoughts on “Sertifikat ISO di Universitas ?

  1. Kok saya nangkepnya, “penyiapan slide-proyektor” itu adalah pembuatan materi pengajaran yang terpadu Pak, yang bertujuan agar semua mahasiswa mendapatkan materi yang sama, terlepas diajar oleh dosen A, B atau C (dan saya kira salah satu konsep ISO itu kan ya ini, adanya kesamaan standar).

    Dan karena pembentukan materi terpadu ini disiapkan oleh kelompok dosen (bukan universitas), maka tentunya beda dosen beda materi juga, sehingga seharusnya pergantian dosennya nggak sefleksibel yang Bapak gambarnya, hehehe… Materi yang disiapkan oleh tim dosen A, B, C tentu beda dengan materi yang disiapkan oleh dosen B, C, dan D.

    (Sekaligus salam kenal Pak, saya kebetulan saja surfing dan nemu blog ini🙂 )

    Suka

  2. Hallo mas Cahyadi.
    Salam kenal juga.

    O gitu ya.🙂 .

    Jadi materi tersebut dikerjakan oleh kelompok dosen. Wah hebat dong. Ada beberapa dosen ngroyok materi bersama-sama. Mbuat materi kuliah. Eh emangnya kalau kroyokan gitu lebih baik ya mas.

    Kalau di uph gimana ya, dosennya sedikit sih, satu bidang keahlian ya satu aja tetapi mereka spesialis-spesialis. Jadi kalau datang ke seminar karena pada spesialis maunya pada jadi pembicara. Kalau jadi peserta (pendengar) bahkan nggak dapat surat tugas.

    Jeleknya yaitu itu, nggak bisa keroyokan .

    Ok trim atas masukannya.

    Suka

  3. Bapak memang hebat, dengan cepat sudah tau nama asli saya. Kagum🙂

    “Eh emangnya kalau kroyokan gitu lebih baik ya mas.” –> Bisa ya bisa tidak juga ya Pak. Mungkin lebih baik bila komposisi dosennya banyak spesialisnya seperti di UPH, karena dengan digabung gitu, materinya jadi lebih komprehensif (dan buat mahasiswa juga lebih jelas gitu). Jadi inget waktu saya mahasiswa dulu, sering ikutan kelas dosen lain, karena ngerasa yang dikasih sama dosen saya kok kurang jelas (karena beliau udah sangat terspesialisasi di satu hal jadi angle penjelasannya beda).

    Sedangkan kejelekannya, mungkin karena waktunya terbatas dan materinya banyak, bakal ada upaya mencapai konsensus. Jadinya alih-alih mau komprehensif, materi yang akhirnya dipresentasikan akhirnya jadi kepotong sana sini dan bikin tambah bingung mahasiswa, hehehe…

    Itulah dilematisnya punya standar ya Pak, hehehe…

    Suka

  4. **Bapak memang hebat,..**
    Nggak lhah, khan tinggal baca email anda aja, lalu nduga-duga karena ada kemiripan bahwa Cay=Cahyadi , eh ternyata benar. Syukurlah.

    Kalau saya punya pendapat lain, dari pengalaman menulis, baik sendirian, maupun bersama-sama, saya menilai bahwa materi ilmiah kroyokan itu biasanya nggak bermutu. Meskipun kelihatannya keroyokan (banyak) tetapi sebenarnya yang nulis itu hanya satu (biasanya yang yunior) yang belum pede dengan apa yang dituliskannya sehingga mencantumkan nama-nama lain (biasanya yg senior) utk show force.

    Kalau yg nulis yang senior, ngapain ngajak-ajak yunior. he, he, hee

    Ngomong-ngomong tentang nulis, susah lho orang banyak nulis untuk satu tulisan. Kecuali banyak tulisan lalu ada yg berfungsi sebagai editor menggabung jadi satu tulisan. Itu lain lho. Tapi itu istilahnya bukan keroyokan.

    Menurut saya nulis ilmiah itu berbeda dengan tarik tambang, kalau tarik tambang khan semakin banyak (kroyokan) maka semakin kuat hasilnya. Kalau nulis, semakin banyak yang campur tangan, semakin kacau, atau nggak selesai-selesai, kecuali hanya sekedar nulis.

    Jadi menurut saya ISO lebih di arahkan pada tertib administrasi aja. Kalau sampai materi, wah namanya membelenggu. Materi perkuliahan khan harus paling up-dated, berkembang. Utk berkembang maka dosen harus banyak riset.

    Saya adalah penganut faham bahwa dosen senior bukan karena tua atau lama ngajar, tetapi yg mendalami ilmunya yang diajarkan. Utk mendalam tentunya banyak membaca, membuat riset dan akhirnya diungkapkan dalam publikasi secara luas. Tanpa itu, maka namanya bukan dosen senior tetapi dosen sampun sepuh (dosen sudah tua).
    (ingat pepatah di luar “publish or perish” dan tidak menunjukkan umur atau lamanya mengajar).

    Catatan : tapi disini lain ya, dosen yang hebat adalah dosen yang omongannya memikat (lesan / orator), suka mengajar di mana-mana (banyak ditemui dimana-mana), kalau seminar sukanya berbentuk orasi lesan (tanpa teks) seperti wawancara di TV (shg kalau keseleo lidah ngga ada bukti tertulisnya), dan umumnya diarahkan pada dosen tidak tetap yg punya pekerjaan utama lain (misalnya direktur A atau B, atau pemimpin partai atau lain-lain). Masyarakat memandang mereka wah. Tapi kalau kita nggak ketemu langsung, orang-orang seperti itu nggak punya buah pemikiran yang bisa diketahui dengan cara dibaca (publikasinya nggak ada). Jadi dng berganti waktu, ketika orang itu meninggal, ilmunya dibawa semua, mulai dari nol lagi. Gitu khan. Oleh karena itu kenapa sarjana kita dibanding negara lain menurun, tahun 70-an banyak orang malaysia ke indonesia, sekarang khan kebalikannya. Banyak teman-teman dosen yang ngambil S3 ke sana lho. O ya banyak masyarakat di Indonesia, masih memandang rendah dosen tetap universitas, dianggapnya sebagai tenaga administrasi aja, hanya sebatas sebagai dosen pengganti (kayak ban serep). **padahal kami di uph nggak spt itu**

    Suka

  5. hallo pak wiryanto,

    Jadi pengen curhat juga nih masalah standar ini. saya juga gak sependapat kalo standar ISO sampe diarahin ke materi. Materi harusnya terus di rekonstruksi sesuai dengan perkembangan teknologi. huah.. apalagi ada reviewer yang ngotot kalo SAP dan GBPP harus pake yang dari jurusan. Padahal udah out-of-date.

    Tapi kalo administrasi ya harus.. jadi gak ada lagi kejadian kalo di suatu kampus ada yang dosennya jarang banget di kampus karena kebanyakan proyek (biasanya dosen sipil ya?). kasian mahasiswa kan?

    Tapi.. ngomong-omong pak wir, gimana sih agar bisa jadi dosen yang baik ? dalam artian.. mampu memberikan pencerahan kepada mahasiswa/i nya dan mampu memotivasi mereka agar benar-benar ‘kuliah’. Bukan hanya mendapatkan gelar.

    Terimakasih atas jawaban pak wiryanto.

    salam..

    Suka

  6. **agar bisa jadi dosen yang baik**

    Saya kira itu pertanyaan yang sulit lho, nggak gampang. Saya sendiri juga tidak tahu: apa saya itu dosen yang baik atau nggak. Yg jelas tidak termasuk sebagai dosen yang murah senyum, biasa gitu lho.

    Tetapi menurut saya, dosen yang baik adalah dapat menjadi GURU. Apa itu ? Guru adalah kepanjangan dari DIGUGU dan DITIRU (bhs jawa). Artinya dapat menjadi contoh dan teladan bagi murid-muridnya. Saya kira ungkapan seperti itu cukup jelas.

    Selain itu dosen terhadap murid-muridnya juga mempunyai kasih seperti pada anaknya sendiri dalam mendidik dan mengajar.

    Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. (Efesus 6:4)

    Dan juga jangan berfilosofi seperti guru silat, yang tidak menurunkan ilmu karena takut nanti muridnya dapat menjadi musuh. Jadi harus ada ilmu pamungkas. Sebagai dosen harus mempunyai hati yang lapang, harus dapat berbangga jika muridnya dapat menjadi lebih pintar dan sukses dari dia. Toh akhirnya semua orang tahu, itu semua karena itu murid kita juga.

    Bagaimana dengan PAMRIH, ya bagaimanapun kita manusia, jika ada murid yang ingat maka kita juga akan berbahagia. Tapi kita tidak boleh berpamrih minta murid harus menghormati. Itu semua berpulang ke anak-anak didik kita. Pamrih kita hanya ke pada yang di ATAS. Kerja kita berikan yang terbaik kepada Tuhan, semoga dengan itu DIA semakin dimuliakan, dan kita selalu diberi BERKAT dan LINDUNGAN-NYA.

    Saya kira kalau itu diterapkan dengan baik, saya yakin kejadian-kejadian yang berulang (jatuh korban meninggal) seperti yang terjadi di institut pendidikan di ipdn, nggak akan terjadi (lihat beritanya). Itu terjadi karena tidak ada KASIH diantara mereka. Kejadian yang BERULANG menunjukkan bahwa civitas akademi di sana GAGAL untuk menghasilkan insan yang dapat DIGUGU dan DITIRU tersebut (bahkan nama institusinya diganti juga sama aja). Saya yakin anda pasti nggak mau khan, tempat anda sekarang seperti itu. So pasti.

    Untuk menjadi dosen yang baik saya kira panduan kita tentang TRIDHARMA PERGURUAN TINGGI masih berlaku, yaitu : (1) mengajar ; (2) meneliti dan publikasi ilmiah ; dan (3) pengabdian masyarakat. Jika itu dapat dituruti dengan benar itu sudah sangat bagus. Kalau hanya sekadar mengajar jadi dosen itu nggak asik. Harus seimbang kata orang.

    Itu dulu ya mbak, kalau anda apa sebaiknya untuk menjadi dosen yang baik.

    Suka

  7. gara2 ISO semua fasilitas untuk mahasiswa tingkat akhir yang mau penelitian di univ saya, diuangkan!!! kesannya hanya mahasiswa yang punya banyak uang yang bisa lulus kuliah…. ISO hanya dijadikan alasan untuk memeras mahasiswanya😥

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s