Juara KJI 2006


Puji syukur kepada Bapa di surga, bahwa kali ini team mahasiswa UPH yaitu “Tim Shining Eagle, Jr” yang beranggotakan Hendrik Wijaya (2004), Andri Ciputra (2003), Iwan (2004) dan Selvira (2005) berdasarkan Piagam Penghargaan No.06/PP-KJI/VI/2006 yg ditanda-tangani oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Bpk. Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro) dan Direktur Politeknik Negeri Jakarta (Bpk. Heddy R. Agah) berhasil dengan gemilang menyabet juara dengan kategori :

Struktur Jembatan Teringan & Terkuat (Terkokoh)

Juara dari UPH

Untuk kategori penilaian di atas maka tim UPH terbukti kembali dapat memberikan hasil perancangan jembatan model yang bersifat Simple, Strong and Sophisticated (SSS) dan dapat mengalahkan jembatan model lain yang dibuat oleh tim-tim mahasiswa dari perguruan tinggi peserta kejuaraan tersebut, yaitu :

Daftar Nama Tim Peserta KOMPETISI JEMBATAN INDONESIA 2006

No. Nama Jembatan Perguruan Tinggi
1. SSS New Series Universitas Pelita Harapan
2. Sosrobahu Bridge Politeknik Negeri Jakarta
3. Jembatan Bengawan Universitas Muhammadiyah Surakarta
4. Sri Ratu Deli Politeknik Negeri Medan
5. Jembatan Amera Universitas Brawijaya
6. Semarang Steel Bridge Unika Soegijapranata, Semarang
7. Pelangi Politeknik Negeri Semarang
8. Jembatan Geulies Universitas Maranatha
9. West Borneo Bridge Politeknik Negeri Pontianak
10. Panti Steel Bridge Universitas Jember
11. Jembatan Sangkuriang Institut Teknologi Bandung
12. Jembatan Saoraja Politeknik Negeri Ujung Pandang

Catatan : urutan di atas didasarkan dari pengumuman hasil Evaluasi Proposal.

Adapun kontribusi Wiryanto Dewobroto dalam KJI 2006 adalah sebagai dosen pendamping bagi “Tim Shining Eagle, Jr” yang bertindak pula sekaligus sebagai konsultan ahli bidang rekayasa jembatan, yang bertugas untuk mengevaluasi rancangan jembatan “SSS New Series” dan memberikan saran teknis yang diperlukan berdasarkan kriteria dari kategori yang dimenangkan.

Tim UPH sangat puas, karena kemenangan yang diraih dalam kategori di atas menunjukkan state of the art dari teknologi maupun s.d.m yang mendukung pengiriman tim mahasiswa tersebut.

Pada kompetisi tahun 2006 ini ternyata kinerja jembatan yang diperlihatkan saat uji pembebanan bukan merupakan kriteria yang menentukan bagi Dewan Juri yang diketuai oleh Bapak DR.Ir. Heru Purnomo (UI), dengan anggota antara lain adalah Bapak DRs. Ir. Andi Indianto MT. (Politeknik Negeri Jakarta), Bapak Ir. Syahrir Rachim, M.Eng (UI), dll.

Bahkan dari segi kecepatan pelaksanaannyapun tim UPH memberikan waktu tercepat (45 menit) dan tetap berkinerja baik selama pembebanan. Memang ada juga tim lain yang lebih cepat dari tim UPH (satu tim saja yaitu 26 menit), tetapi karena pada saat diberi beban rencana ternyata lendutannya ‘memble’ maka tim UPH tetap berpendapat bahwa tim-nyalah yang tercepat.

Selanjutnya berkaitan dengan predikat JUARA UMUM ternyata ada kriteria penilaian lain yang lebih utama, yang mungkin bersifat subyektif dewan juri, yang sampai detik berita ini ditulis belum juga dipahami secara benar oleh penulis selaku pendamping tim UPH. Karena bisa saja jembatan yang pada saat di uji beban ternyata melebihi kriteria lendutan maksimum yang diijinkan sehingga tahapan pembebanan tidak dapat diteruskan lagi (gagal) tetapi ternyata tetap dapat terpilih sebagai Juara Umum.

Adapun Juara Umum KJI tahun ini adalah:

  1. Politeknik Negeri Medan , mendapat Piala Bergilir dan Hadiah uang Rp.10 jt
  2. Politeknik Negeri Jakarta, Hadiah uang Rp.7,5 jt
  3. Universitas Kristen Maranatha, Hadiah uang Rp. 5 jt

Jadi predikat Juara Umum di atas bukan berdasarkan kompetensi yang berkriteria kekuatan dan kekakuan yang paling optimal atau pelaksanaan yang paling cepat atau penyajian proposal maupun presentasi yang terbaik dan mantap, tetapi berdasarkan ‘kriteria tertentu’ dewan juri yang hanya dapat dipahami dengan benar oleh mereka sendiri.

Untuk mendukung pernyataan penulis di atas, penulis yang kebetulan melengkapi diri dengan kamera dSLR Canon EOS 350D (8 Mb) beruntung dapat menangkap fakta-fakta di lapangan sbb :

Kinerja Juara Umum 1 - KJI 2006Kinerja Juara Umum 1 – KJI 2006
(P = 215 kg jembatan turun 5.625 mm)
waktu pelaksanaan 26 menit

Kinerja Juara Umum 2 - KJI 2006
Kinerja Juara Umum 2 – KJI 2006
(P = 450 kg jembatan turun 4.328 mm)
waktu pelaksanaan 120 menit

Coba bandingkan dengan kinerja jembatan dengan predikat Juara Jembatan Terkokoh 2006 dan Juara Umum KJBI 2005 tahun lalu, sbb:

Kinerja Juara Terkokoh - KJI 2006
Kinerja Juara Terkokoh 2006
(P=450 kg jembatan turun 2.713 mm)
waktu pelaksanaan 45 menit

Kinerja Juara Umum  KJBI 2005
Kinerja Juara Umum KJBI 2005
(P=450 kg jembatan turun 0.43 mm)
waktu pelaksanaan 60 menit

Berdasarkan pengalaman mengikuti kejuaraan kali ini maka para mahasiswa UPH yang terpilih dalam tim lomba tersebut dapat belajar banyak, bahwa yang dimaksud dengan ‘kompetensi’ dapat berbeda dan sangat subyektif, meskipun itu menyangkut bidang rekayasa yang tentunya dapat diukur secara eksak. Sebagaimana seorang insinyur dapat memastikan bahwa hasil rancangannya tersebut dapat memikul beban sesuai spesifikasi yang diminta. Semoga perbedaan kriteria kompetensi yang dimaksud tersebut hanya terjadi di KJI 2006, karena kalau dalam dunia nyata di Indonesia maka tentulah akan membingungkan para profesional.

Penulis yang hidup lama sebagai engineer profesional dan kebetulan saat ini hidup dengan nyaman di dunia pendidikan serta aktif dalam penulisan dan penelitian ilmiah, tergelitik untuk mengajukan pertanyaan kepada para pakar-pakar dewan juri di atas, “kompetensi yang mendasari pemilihan juara umum seperti itukah yang diberikan kepada calon-calon ahli jembatan yang anda didik selama ini di institusi anda ?“. Benar juga kata pepatah yang mengatakan bahwa kualitas pohon itu dapat dilihat dari buahnya dan bukan dari fisik luarnya saja.

Pertanyaan kepada panitia penyelenggara perlombaan ini, yakinkah Bapak-Bapak Panitia bahwa Juara Umum – Juara Umum yang terpilih di KJI 2006 ini juga mampu mengukir prestasi yang sama jika bertanding di manca negara ?

Tanpa dilandasi oleh perasaan iri hati, penulis juga ingin berpesan kepada para Juara Umum, tanyakan kepada hati nurani anda, benarkah tim anda adalah yang terbaik dan pantas menyandang gelar tersebut agar dapat menjadi panutan bagi rekan-rekan yang lain. Jawaban anda tidak perlu diutarakan kepada orang lain, karena bagaimanapun juga bagi sebagian orang, gelar JUARA adalah segala-galanya, seperti halnya kasus gelar SARJANA atau gelar DOKTOR atau gelar-gelar yang lain yang diperjual-belikan, yang penting dapat gelar. TITIK. (usil amat sih).

Bagaimanapun juga, yang dimaksud dengan ‘JUARA UMUM’ adalah tim-tim terbaik berdasarkan penilaian yang dilakukan secara seksama dan secara bertanggung jawab oleh para dewan juri. Dalam hal itu , tentu para dewan juri telah bekerja keras, dengan segala daya, kemampuan maupun wawasan yang mereka miliki untuk memilih yang terbaik. Panitia perlombaan tentu memilih para dewan juri tersebut di atas sebagai representasi dari orang-orang yang dianggap paling berkompeten di institusi tempatnya bertugas. Jadi hasil di atas juga ‘secara langsung’ menunjukkan ‘kepakaran mereka’ dalam mengevaluasi suatu sistem jembatan yang disebut ‘terbaik’.

Tidak ada juga gunanya berargumentasi dengan dewan juri tentang penilaian yang dilakukan karena bagaimanapun, latar belakang pendidikan, latar belakang pengalaman, wawasan dan kepentingan yang berbeda antara dewan juri dan peserta. Sebagai informasi bahwa evaluasi tim finalis adalah didasarkan proposal yang dikirimkan, yang dievaluasi dan diberi komentar oleh dewan juri apabila ada yang tidak jelas sehingga para peserta bisa menyiapkan lebih baik. Proposal Tim UPH lolos dan tanpa komentar tentang ketidak-sempunaan rancangan, kecuali adanya komentar umum tentang beban BMS yang berlaku juga untuk semua finalis. Tetapi bayangkan pada saat presentasi, yaitu satu hari sebelum lomba di lapangan, pihak Dewan Juri dengan kepakarannya menyatakan bahwa rancangan tim uph tidak sesuai dengan spesifikasi yang ada khususnya berkaitan dengan pengertian tentang ‘segmen rangka batang’ dan ‘rangka utama dapat disusun di fabrikasi tim peserta’ yang ternyata berbeda. Padahal kalau mau debat kusir, sebenarnya spesifikasi dari panitia-pun banyak bolong-nya dan tidak jelas, dimana selanjutnya penjelasan tentang ke-bolongannya disampaikan secara lesan pada waktu presentasi para peserta. Ini memang kebiasaan orang indo, coba minta tertulisnya maka ngelesnya akan pinter sekali. Selanjutnya perbedaan tersebut ditekankan berulang-ulang dan sangat penting sekali untuk ditepati. Meskipun dari jauh, kelihatan sekali seorang ‘juri’ berusaha memberi argumentasi keanggota juri yang lain agar meng-amini kata-katanya.

Pantaslah kalau dalam dewan juri KJI 2006 ini banyak terlihat juri-juri baru yang sebelumnya belum pernah ikut kompetisi sejenis, sehingga dengan demikian mudah dipengaruhi. Coba kalau juri yang lama ikut, pasti ‘juri yang saya sebutkan di atas’ tersebut ‘tidak berani’ karena dalam penjurian yang dimaksud tidak hanya butuh ‘gelar yang tinggi’ tetapi juga mental yang teguh dan konsisten terhadap kriteria yang diberikan sejak semula dan memahami apa arti sebuah jembatan, yaitu kuat dan kaku dulu, sedangkan yang lain adalah memberi nilai tambah. Bahkan nilai ekonomispun tidak dapat menjadi kriteria utama, anda dapat membayangkan suatu jembatan yang dibangun murah tetapi kalau dilewati anda jatuh ke sungai, mau nggak anda membuat jembatan seperti itu. Contoh dalam kehidupan sehari-hari yaitu motor cina, mula-mula sih ada yang beli (karena murah). Tetapi karena kinerjanya nggak memuaskan maka anda bisa membayangkan sekarang, nggak ada kabarnya khan.

Selanjutnya dengan ciri khas seperti birokrat lainnya , seorang ‘juri’ dengan anggun memberi saran kepada tim: “silahkan dirubah, khan masih ada satu hari”, disertai dengan senyum manisnya. Maksudnya jembatan tim UPH diminta di potong sesuai dengan ‘kriteria segmen’ yang mereka baru saja berikan secara lesan di hari tersebut. Sehari sebelum perlombaan sesungguhnya. Ngomong sih gampang ?

Tetapi karena kita meyakini bahwa spesifikasi tertulis yang dimaksud sudah benar dan desain yang disiapkan lama sudah matang, tidak sekedar nubras kesana-kemari maka tim uph tetap bersikukuh terhadap desain lama. Sedangkan beberapa tim peserta lain ada yang menjadi korban dari pernyataan anggota juri di atas, dan terpaksa memotong jembatan-jembatan andalannya. Kenyataan itulah yang mungkin mendasari sentimen pribadi, mengapa tim uph ini nggak patuh, tidak penurut padahal dialah saat itu yang berkuasa yang dapat menentukan hidup matinya peserta. Sebagai akibatnya terlihat sekali pada waktu lomba berlangsung bagaimana gigih usahanya untuk menemukan kesalahan-kesalahan yang mungkin dibuat oleh tim uph. Selaku pendamping yang melihat secara keseluruhan perlombaan tersebut, penulis merasakan bahwa gelar yang diberikan ke uph di atas hanya sekedar kamuflase agar diam, karena kalau tim uph sampai di dis-kulifikasi tanpa memberi gelar juara maka akan terlihat, siapa sebenarnya yang perlu di dis-kualifikasi karena tidak mampu melakukan penilaian yang obyektif dan bermutu. Perasaan tersebut lebih dikuatkan lagi ketika saat menunggu hasil lomba, team uph didatangi kameraman video yang mengaku dari TV… yang ingin mewawancarai tim . Awal mulanya sih berbangga hati dengan tawaran wawancara tersebut, tapi ada yang mengherankan yaitu pertanyaannya hanya satu : “mengapa team uph melakukan pelanggaran tentang segmen jembatan“. Heran, bagaimana kameraman video bisa mengetahui masalah tsb, yang terjadi sehari sebelumnya dan tidak di ekspos di balairung. Jadi pemikiran kami : Itu hanya terjadi jika pihak kameraman diberi tahu secara khusus oleh oknum tertentu bahwa ada sesuatu di tim uph yang tidak sesuai dengan kriterianya dan perlu dengan susah payah didokumentasikan, sehingga nanti kalau sampai tim tersebut protes maka ada buktinya di video mereka yaitu bahwa tim uph melakukan pelanggaran. Jadi wajar khan kalau tidak juara.

Oleh karena itulah, maka ketika hasil perlombaan tidak sesuai dengan perhitungan nalar logika, team uph tetap diam, dan berusaha arif bahwa itulah yang dikehendaki oleh-NYA serta segera memberi pengertian kepada mahasiswa-mahasiswa asuhannya bahwa Tim UPH telah berusaha yang terbaik dan akan tetap memberikan yang terbaik bagi apa yang dikerjakannya. Seperti burung Elang terbang tinggi sendirian menembus badai, dan bukan seperti burung lain yang hanya berani terbang bergerombol dari pucuk pohon ke pohon lain. Oleh karena itulah Elang menjadi lambang UPH dan kami-kami di dalamnya berusaha menjiwainya. Kriteria kemenangan yang ditentukan segelintir orang yang kebetulan diberi kedudukan untuk menentukan itu, tidak perlu disesali, bagaimanapun juga peserta lain akan memahami bahwa siapakah sebenarnya yang dapat dikategorikan sebagai juara.

Kepada tim-tim ‘JUARA UMUM’ maka dengan segala kebesaran hati diucapkan SELAMAT dan diharapkan bisa bertemu kembali di tahun mendatang, semoga Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Penulis selaku pendamping tim ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada ketua panitia lomba KJI 2006 Bapak Dr. Ir. Fauzri Fahimuddin yang secara personal sangat welcome sekali kepada para peserta, penulis yakin dengan kepemimpinan beliau selanjutnya maka KJI-KJI berikutnya dapat berlangsung dengan sukses. Untuk itu UPH akan mendukung memeriahkan acara-acara tersebut. Tidak lupa juga kepada ibu Nunung dan pak Sutikno yang dapat bertindak dengan baik sebagai humas KJI.

Kepada rekan-rekan peserta yang lain, khususnya yang belum berhasil meraih predikat juara, jangan kecewa. Bagaimanapun juga anda-anda adalah istimewa karena dapat memberikan pembelajaran atau wawasan yang sangat baik kepada anggota tim peserta dan juga ingat, anda adalah para FINALIS. Saya berharap kita dapat bertemu kembali dalam kejuaraan mendatang atau dalam event-event lain yang bermutu.

Salam sejahtera bagi kita semua.

14 thoughts on “Juara KJI 2006

  1. Sebelumnya saya ucapkan selamat atas keberhasilan Tim KJI UPH yang telah memenangkan lomba kategori Jembatan Terkokoh. Saya salut dengan prestasi itu. Saya sangat setuju dengan pak Wir. Mestinya masing-masing poin penilaian punya bobot tersendiri sesuai dengan ‘perannya’ masing-masing. Mestinya bobot untuk penilaian lendutan lebih besar dari sekedar ‘kecepatan menyusun’.

    Tapi tidak apa-apa ya pak Wir, justru akan memacu untuk lebih berprestasi di masa mendatang.

    Suka

  2. Saya mengucapkan selamat atas keberhasilannya, mudah-mudahan prestasi ini bisa dipertahankan. Saya dari Manado ingin minta bantuan kalo bisa disajikan makalah tentang jembatan-jembatan bentang panjang, soalnya saya lagi buat topik atau makalah tentang jembatan. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih.

    Suka

  3. ingin menanggapi masalah penilaian tersebut…
    menurut saya sih wajar saja bahwa tidak selalu yang terkuat dan terkokoh akan mendapat juara umum…

    jembatan terkuat bisa diperoleh dari bahan-bahan kelas terbaik, pekerjaan konstruksi terbaik, dan lainnya…
    untuk peserta yang misalnya dapat dengan mudah mendapatkan baja bermutu KS misalnya, dan juga beruntung mendapatkan TUKANG/Bengkel terbaik dikota nya, tentu saja besar kemungkinan jembatan terkokoh dengan mudah disabet…

    namun, bagaimana dengan peserta dari universitas yang sulit mendapat kan hal sebaik itu di kotanya, apalagi, mulai dari kontrol kualitas, kontrol pekerjaan masih dilakukan oleh orang-orang bertaraf mahasiswa bukan DOSEN, dimana pengalamannya masih relatif kurang…

    karena itu, menurut saya sah-sah saja kriteria penilaian seperti jembatan tercepat, terindah, pelaksanaan terbaik,
    sehingga, bagi yang mutu bahan nya kurang, dapat mengimbangi dengan konsep desain terbaik, terindah, metode terbaik, dan sebagainya, tidak melulu terkuat…
    kan bisa saja, desain jembatan yang jauh lebih baik kalah lendutan dengan desain jembatan yang secara teoritis jauh dibawahnya. karena faktor bahan dan mutu pekerjaan, desain jembatan yang lebih lemah secara teoritis dapat lebih baik…

    tulisa tersebut hanya untuk pertimbangan pemikiran… terimakasih

    Suka

  4. @fachreza

    saya sih wajar saja bahwa tidak selalu yang terkuat dan terkokoh akan mendapat juara umum…

    Pernyataan anda ini mengherankan bagi saya. Jika latar belakang pendidikan anda bukan teknik sipil, maka saya memaklumi.

    Jika teknik sipil, saya sangat heran. Karena sarjana teknik sipil akan paham bahwa sebagian besar mata kuliah yang dipelajarnya selama menempuh pendidikan tersebut adalah membahas tentang KOKOH (Stiffness) dan KUAT (Strength) dari suatu struktur ketika menerima pembebanan. Struktur itu bisa gedung, jembatan, bendung dsb.

    Tentang segi keindahan, rasanya tidak dibahas dalam mata kuliah khusus. Bahkan rasanya tidak ada mata kuliah yang membahas tentang hal tersebut.

    Selain itu , tidak ada alasan apapun untuk meng-AMINI bahwa suatu konstruksi jembatan dapat dibangun tanpa memenuhi syarat KOKOH dan KUAT. Apakah anda boleh bangun jembatan seadanya, karena duitnya kurang sehingga tidak memenuhi kedua syarat di atas.

    Itu merupakan suatu hal yang ideal, jadi harus ditanamkan sedini mungkin bagi calon engineer. Lomba itu ditujukan bukan sekedar senang-senang, tetapi sebagai pemicu untuk menumbuhkan kecintaan ke dunia rekayasa.

    Cara berpikir seperti anda memang saya maklumi, dan saya kira mewarnai dunia konstruksi di Indonesia. Inilah yang menjawab mengapa ada gedung atau jembatan yang belum lama dibangun lalu rusak.

    Jika di dunia pendidikan saja tidak bisa mempertahankan idealisme bidangnya, maka saya yakin di dunia nyata pasti lebih gawat lagi.

    Terus terang saya prihatin dengan cara berpikir anda. Mungkin anda punya titel sarjana teknik, tetapi kalau membaca cara berpikir anda, maka anda cocoknya jadi seorang politikus.

    Suka

  5. Ping balik: pelaksanaan KJI-08 « The works of Wiryanto Dewobroto

  6. hmmm….kondisi mirip yang kmaren….

    mungkin dewan juri yang terhormat harus lebih dapat mengkomunikasikan kriteria mereka kepada peserta…

    Suka

  7. Ping balik: cari sekolah sma « The works of Wiryanto Dewobroto

  8. Ping balik: aktivitas mahasiswaku « The works of Wiryanto Dewobroto

  9. Ping balik: perlunya berprestasi « The works of Wiryanto Dewobroto

  10. Ping balik: menjelang kompetisi akbar mahasiswa teknik sipil 2010 | The works of Wiryanto Dewobroto

  11. Ping balik: laporan KJI ke-6 dan KBGI ke-2 2010 | The works of Wiryanto Dewobroto

  12. Ping balik: KJI dan KBGI ala Wiryanto « Caraka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s