Ujian Kualifikasi di UNPAR



Bersama Team Penguji Kualifikasi Doktor Unika Parahyangan, Bandung

Setelah mempersiapkan diri selama kurang lebih dua tahun sebagai mahasiswa Program Doktor Teknik Sipil dengan NPM 2003832003, maka Tahapan Pra-Doktoral dievaluasi dengan Ujian Kualifikasi yang disyahkan dengan S.K Direktur Program Pascasarjana, Unika Parahyangan, No:III/PPS/2006-01/030-SK, tgl 26 Januari 2006. Jika gagal maka peserta didik dianggap gugur dan tidak bisa melanjutkan ke Tahapan Doktoral.

Adapun Panitia Ujian Kualifikasi Program Doktor Teknik Sipil terdiri dari :

1. Prof. Dr. A. Aziz Djajaputra, Ir., MSCE Ketua
2. Prof. Moh. Sahari Besari, Ir., M.Sc., Ph.D. Anggota
3. Prof. Bambang Suryoatmono, Ph.D. Anggota
4. Dr. Paulus Kartawijaya, Ir., MT. Anggota
5. Dr. Cecilia Lauw Giok Swan, Ir., M.Sc. Anggota

Ujian Kualifikasi terdiri dari dua tahap, yaitu :

  • Ujian tertulis (8 – 15 Februari 2006): pihak Panitia membuat soal tertulis untuk dikerjakan mandiri (take home exam) untuk waktu pengerjaan maksimum 7 hari. Soal dikerjakan sendiri, untuk itu peserta didik menandatangani pernyataan bahwa soal memang dikerjakan sendiri dan akan mengundurkan diri bila ketahuan dikerjakan orang lain.

  • Sidang Ujian Kualifikasi lesan , Jumat tgl 24 Feb. 2006, pk 9.00 – 11.30. Sidang di tutup dengan mengumumkan hasilnya yaitu Lulus, hingga boleh disebut sebagai Kandidat Doktor.

Ngapain sih susah-susah ambil program doktoral ?

Mengapa berkeinginan meraih gelar Ph.D ?

motivasi yang mendasari Wiryanto Dewobroto ingin meraih gelar Ph.D (atau di Indonesia disebut Doktor)

Abstrak : Motivasi yang mendasari seseorang mau melakukan ‘sesuatu’ penting secara kejiwaan, karena dapat merangsang tindakan sadar maupun tidak sadar untuk mencapai sesuatu tersebut. Motivasi juga menumbuhkan enerji yang diperlukan untuk menghadapi kesulitan atau tantangan yang timbul selama proses pencapaian tersebut. Dapat saja seseorang mempunyai ‘kemampuan’ tetapi tidak termotivasi memakai kemampuan tersebut, tentu saja tidak akan menghasilkan sesuatu. Sedangkan orang yang belum berkemampuan tetapi mempunyai keinginan atau motivasi yang kuat maka tindakannya akan mengarah kepada usaha untuk mengumpulkan kemampuan untuk akhirnya dapat mewujudkan keinginan yang menjadi motivasinya. Oleh karena itu, mengetahui motivasi seseorang akan membantu mengetahui apakah sesuatu itu dapat teraih atau tidak. Suatu motivasi yang kuat dan didukung oleh kompetensi yang baik merupakan kondisi ideal seseorang untuk secara cepat mencapai sesuatu yaitu meraih gelar Ph.D.

Kata kunci : motivasi, Ph.D degree, penelitian, publikasi

Pendahuluan

Tulisan ini merupakan jawaban tertulis atas pertanyaan Prof. Sahari Besari pada saat sidang Ujian Kualifikasi Doktor di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, Jumat 24 Februari 2006. Pertanyaannya adalah : “Mengapa saudara Wiryanto berkeinginan untuk meraih gelar Ph.D ?

Pada saat sidang, penulis telah mencoba menjawab pertanyaan tersebut secara singkat, yaitu untuk dapat menjadi peneliti, atau semacamnya. Tetapi karena hal tersebut ternyata belum memuaskan beliau maka penulis coba menjabarkan secara lebih detail dengan menceritakan latar-belakang yang menyertainya sedemikian sehingga menjadi bentuk tulisan berikut.

Meskipun tulisan ini lebih banyak menceritakan pengalaman pribadi, tetapi diharapkan dapat menjawab pertanyaan di atas sekaligus juga agar dapat digunakan sebagai bahan renungan untuk rekan-rekan lain yang berminat.

Definisi dan Gelar Ph.D yang dimaksud

Menurut ensiklopedia Wikipedia, Ph.D merupakan singkatan dari Doctor of Philosophy, (dari bahasa Latin “Philosophiæ Doctor“; atau kata yang sejenis lainnya yaitu Doctor Philosophiæ, D.Phil.), yang asal-mulanya adalah gelar (degree) yang diberikan universitas pada mahasiswanya yang dianggap telah mampu secara individu mencapai suatu tingkatan tertentu yang diakui oleh team pengujinya dan telah menunjukkan ketekunan serta menghasilkan karya-karya produktif di bidang falsafah (tentu saja yang dimaksud disini adalah falsafah atau konsep mendasar dari suatu ilmu, bukan hanya ilmu filsafat saja). Penggunaan istilah “Doctor” (dari kata Latin: guru) umumnya ditujukan kepada individu yang berusia separo baya yang menunjukkan bahwa sebagian besar hidupnya telah didedikasikan dalam bidang pembelajaran, mencari pengetahuan baru (penelitian) dan penyebaran pengetahuan (publikasi).

Sedangkan definisi menurut Universitas Otago, New Zealand, bahwa seseorang sukses mencapai tingkatan Ph.D bila karya tulisnya (Ph.D tesis atau disertasi) dapat digunakan sebagai petunjuk bahwa yang bersangkutan telah mampu secara mandiri melaksanakan suatu riset yang bersifat orisinil dan mempresentasikannya dalam suatu standard yang profesional. Kecuali itu, isi dari thesis tersebut harus dapat memberikan suatu kontribusi yang nyata pada bidang ilmu yang digelutinya. Jadi gelar Ph.D diberikan untuk menunjukkan bahwa yang bersangkutan mempunyai kemampuan secara individu untuk melakukan riset yang bermutu tinggi pada bidangnya tanpa supervisi orang lain. Umumnya gelar diberikan jika yang bersangkutan telah melaksanakan riset dibawah supervisi team khusus yang dibentuk dan melalui tahapan-tahapan evaluasi yang ditentukan oleh Universitas.

Gelar Ph.D populer pada abad 19 ini, dimulai di Berlin, Jerman, di Universitas Friedrich Wilhelm (sekarang Universitas Humboldt di Berlin, http://www.hu-berlin.de/ ), sebagai gelar yang diberikan kepada seseorang yang telah melakukan riset orisinil di bidang sain dan humaniora. Selanjutnya menyebar ke Amerika Serikat di Universitas Yale (1861), kemudian ke United Kingdom tahun 1921 dan akhirnya ke pelosok dunia.

Gelar Ph.D menjadi persyaratan agar dapat diterima sebagai pengajar tetap universitas (umumnya masih terbatas pada universitas-universitas ternama) atau peneliti pada beberapa bidang ilmu tertentu. Pada bidang lain, misalnya rekayasa atau geologi, penyandang gelar Ph.D akan memberi nilai tambah tetapi bukan sebagai syarat untuk bekerja pada bidang tersebut. Bahkan pada bidang-bidang pekerjaan tertentu, pegawai dengan gelar Ph.D dikategorikan terlalu ‘berlebih’ atau ‘overqualification‘.

Di Indonesia dimana gelar dapat dijadikan status sosial tertentu maka untuk menghindari penyalah-gunaannya, pemerintah mengeluarkan Kepmen No.036/U/1993 tentang “Gelar dan Sebutan Lulusan Perguruan Tinggi”. Peraturan tersebut menyatakan bahwa gelar akademik dan sebutan profesional lulusan perguruan tinggi di Indonesia tidak dibenarkan untuk disesuaikan dan / atau diterjemahkan menjadi gelar akademik dan / atau sebutan profesional yang diberikan oleh perguruan tinggi di luar negeri, maka gelar Ph.D tidak dikenal dalam dunia pendidikan di Indonesia. Adapun gelar yang setara dengan gelar tersebut adalah gelar Doktor atau disingkat Dr. , yang menunjukkan gelar akademik tertinggi yang dapat diberikan universitas terhadap lulusannya dan berlaku untuk semua cabang ilmu.

Penulis memakai istilah Ph.D pada awal tulisan ini, dan bukan dengan Doktor untuk membedakan bahwa Doktor yang dimaksud adalah yang setara dengan Ph.D , karena di luar negeri dijumpai juga gelar-gelar ‘doktor’ lain yang lebih spesifik, misal Dr.-Ing.; D.Eng. (Doctor of Engineering); D.Sc. (Doctor of Science); D.B.A. (Doctor of Business Administration) ; dan sebagainya.

Peminat gelar Ph.D (atau gelar Doktor di Indonesia)

Dari uraian di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa gelar Ph.D menunjukkan bahwa seseorang mempunyai kompetensi melaksanakan riset orisinil bermutu tinggi secara mandiri (penelitian) dan mampu untuk menuliskannya sehingga dapat menyakinkan orang bahwa risetnya bermutu (publikasi). Maka gelar tersebut tentunya hanya diminati oleh orang-orang yang berkecipung di bidang-bidang yang terkait dengan dua hal tersebut, misalnya kalangan perguruan tinggi, peneliti atau lembaga pada Research & Development, dan lainnya yang sejenis.

Kalaupun ada orang-orang di bidang lain (misalnya pedagang, tentara dsb) mengambil program pendidikan untuk gelar tersebut, tentulah hanya orang-orang yang tertarik untuk menguasai ke dua hal yang baru tersebut. Jika gelar tersebut ternyata hanya digunakan untuk prestise saja maka tentunya tidak efisien, karena untuk itu diperlukan ketekunan dan waktu yang cukup lama (di UNPAR paling cepat 3 tahun). Lebih baik pikiran dan waktu yang ada difokuskan untuk berwirausaha sehingga dapat diperoleh uang yang banyak untuk digunakan untuk membeli rumah atau mobil atau sesuatu yang lain yang bersifat prestise. Tidak ada jaminan bahwa pemilik gelar Ph.D atau Doktor dapat menghasilkan pendapatan (kepuasan finansial) yang dapat bersaing dengan wirausaha lain yang juga sukses. Meskipun demikian hal tersebut tentu lebih baik dibandingkan jika gelar tersebut akan digunakan untuk mencari kekuasaan belaka (jabatan birokrasi).

Di Indonesia ada pendapat bahwa seorang yang bergelar tinggi juga identik dengan kemampuan untuk menjadi pemimpin yang baik. Padahal dalam program pendidikan Ph.D atau doktoral tersebut tidak ada pendidikan formal dan evaluasi yang menunjukkan bahwa pemegang gelar tersebut mempunyai kompetensi menjadi pemimpin yang baik. Hal tersebut juga dapat menjadi indikasi mengapa negara Indonesia yang kalau dilihat pemimpin-pemimpinnya mayoritas bergelar akademik tinggi tetapi relatif terbelakang dibandingkan negara-negara di Asia lainnya. Karena pemimpin yang baik tidak hanya butuh kemampuan akademik, tetapi juga komitmen, moral, dan lainnya yang tidak ada di bangku kuliah.

Keinginan pribadi meraih gelar Doktor

Berbicara tentang keinginan untuk mendapatkan gelar Doktor bagi penulis, tentu saja tidak terlepas dari latar belakang pekerjaan dan hobby yang telah penulis tekuni. Bidang pembelajaran bagi penulis telah dimulai sejak menjadi asisten mahasiswa (1986) di UGM, Yogyakarta. Karena pada waktu itu tidak ada pemikiran sama sekali untuk menjadi dosen (hanya hobby mengajar saja) maka selanjutnya saat lulus (1989), penulis bekerja di kantor konsultan PT. Wiratman & Associates, Jakarta. Hal tersebut terinspirasi untuk menjadi seperti seorang Prof. Rooseno yaitu menjadi perencana struktur yang hebat. Karena saat itu kantor konsultan PT. Wiratman & Associates sedang naik daun, banyak melakukan perencanaan gedung tinggi di Jakarta, maka tanpa berpikir panjang dengan berbekal ijazah sarjana teknik maka penulis langsung menyampaikan lamaran untuk bekerja disana dan diterima.

Selama bekerja di sana, pada sore hari penulis meluangkan waktu untuk mengajar di Universitas Tarumanagara, hal tersebut dimungkinkan oleh budi baik Dr.-Ing. Harianto Hardjasaputra salah satu manajer di PT. W&A yang kebetulan juga mengajar di universitas tersebut (saat ini Profesor di UPH).

Cukup lama penulis bekerja di kantor konsultan PT. Wiratman, sudah banyak proyek-proyek bidang perencanaan dan pengawasan yang penulis ikuti, tetapi rasanya tidak ada peningkatan karir, hanya berpindah dari satu proyek ke proyek yang lainnya. Akhirnya penulis mengalami kejenuhan. Untuk mengantisipasi kejenuhan tersebut hanya ada dua hal yang terlintas pada pikiran yaitu pindah kerja (peluang karir baru) atau sekolah lagi. Tahun 1993 akhir, peluang muncul, penulis diberi kesempatan untuk mengelola kantor konsultan rekayasa yang relatif kecil tetapi menantang yaitu PT. Pandawa Swasatya Putra. Karena relatif masih kecil maka nilai tambah yang diberikan oleh pemilik konsultan tersebut adalah adanya waktu bebas untuk mengambil perkuliahan lagi. Klop dengan pikiran penulis, akhirnya sejak itu mendapat pekerjaan baru dan sekaligus mengambil program S2 di UI (1994).

Selama itu cita-cita penulis yaitu ingin menjadi perencana struktur hebat hampir terpenuhi, di kantor baru tersebut penulis diberi kepercayaan untuk melakukan proses-proses perencanaan secara mandiri, yaitu menjadi chief-engineer. Penulis bertanggung jawab soal teknis sedangkan pemilik bertanggung-jawab soal bisnis proyek (keuangan dan order / proyek baru). Sampai saat itu tidak terlintas sama sekali keinginan untuk bekerja sebagai dosen, apalagi mengambil program doktoral.

‘Manusia berusaha tetapi Tuhan-lah yang menentukan’, suatu peribahasa yang rasanya tepat sekali menggambarkan kehidupan saya pada saat itu. Pada saat kantor konsultan dirasakan mulai berkembang (1996-1997), chief-engineer mendapatkan fasilitas mobil dinas, studi S2 hampir selesai, ternyata krisis moneter terjadi di Indonesia. Dunia konstruksi terguncang, termasuk kantor tempat saya bekerja juga terkena imbasnya. Proyek yang sedang berjalan terhenti, cash-flow perusahaan tidak kuat dan akhirnya bankrupt (April 1998). Kebetulan sekali tahun itu studi S2 di UI berhasil diselesaikan, dan saat itu banyak sekali orang-orang yang mempunyai kualifikasi internasional berpindah kerja ke luar negeri, terjadi kekosongan profesi. Itu terjadi juga di UPH, dan itu berarti ada lowongan baru, atas dukungan rekan senior dan juga karena sudah mendapat gelar S2 maka penulis atas perkenan Tuhan dapat berpindah kerja secara mulus menjadi tenaga pengajar tetap. Penulis berpindah karir dari engineer menjadi lecturer (Juli 1998), sesuatu yang tidak terpikirkan sebelumnya, meskipun ternyata, pengalaman dan hobby mengajar yang telah penulis lakukan sangat membantu dalam hal tersebut.

Dari tahun 1998 – 2001, penulis mengajar seperti biasa, karena hidup di lingkungan akademik dimana banyak bertemu dengan orang-orang lain dengan gelar akademik yang tinggi, juga tersedianya buku-buku yang bermutu sehingga karena termasuk hobby membaca maka mulai terlihat keinginan-keinginan untuk belajar lagi di S3. Idenya sederhana, seorang pengajar yang belajar lagi itu identik dengan peningkatan karir dan lebih prestise, hanya itu saja. Sampai akhirnya terjadi momentum yang penting yaitu adanya kerjasama dengan Jerman yang diusahakan oleh Dekan di Fakultas tempat penulis bekerja. Karena ditawari, maka penulis langsung menyambut dengan gembira, meskipun pada saat itu penulis merasakan bahwa bahasa Jerman menjadi kendala karena tidak dikuasai dan hanya sekedar bisa memakai bahasa Inggris saja. Kerja sama yang dimaksud adalah beasiswa hidup selama tiga bulan untuk melakukan penelitian di salah satu Institut di Jerman. Atas budi baik Dekan di UPH akhirnya penulis berkesempatan untuk melakukan penelitian di Uni-Stuttgart (Mei – Juli 2002) di bawah bimbingan Dr.-Ing. Karl-Heinz Reineck (sekarang Profesor).

Meskipun hanya tiga bulan yang relatif sangat singkat (baca report-nya), tetapi pada waktu itu sangat tepat sekali karena pembimbing di sana saat itu sedang sibuk membantu American Concrete Institute (ACI) memasukkan teori s.t.m (strut-and-tie-models) hasil temuan Uni-Stuttgart untuk dimasukkan ke dalam Code Amerika yang baru yaitu ACI 318-2002, sehingga banyak tugas penelitian yang harus diselesaikan. Akhirnya salah satu tugas tersebut diberikan ke penulis untuk dikerjakan segera sehingga waktu tiga bulan tersebut dapat secara efektif digunakan. Akhirnya hasil penelitian saya dapat dipublikasikan sebagai salah satu bab dalam buku yang diterbitkan oleh ACI (Dewobroto dan Reineck 2002).

Peristiwa tersebut mengubah cara pandang penulis secara radikal, bahwa penelitian bukan merupakan suatu yang menakutkan tetapi memberi kenikmatan, apalagi kalau dapat dipublikasikan secara luas (internasional). Ada suatu rasa pride yang tidak bisa dikatakan yang dapat memberikan kepuasan yang tidak diperoleh selama bertahun-tahun hidup sebagai engineer maupun lecturer di universitas.

Sejak itu, setelah kepulangannya dari penelitian di Jerman, penulis mempunyai hobby baru yaitu menulis untuk dipublikasikan (lihat daftar publikasi penulis).

Karena meneliti dan menulis juga identik dengan program Ph.D seperti yang dijelaskan di depan maka ketika ada kesempatan beasiswa dari Universitas Pelita Harapan maka langsung ditindak-lanjuti dan memilih Universitas Katolik Parahyangan untuk melakukan studi S3 (2004). Sampai akhirnya kemarin tanggal 24 Februari 2006 maju sidang Ujian Kualifikasi untuk memasuki Tahapan Doktoral.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa keinginan mengambil program Ph.D atau Doktor adalah karena :

  1. Hidup di dunia akademis yaitu menjadi pengajar tetap di Universitas Pelita Harapan, dimana ada pameo bahwa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi adalah merupakan peluang peningkatan karir. Adanya peningkatan karir menunjukkan bahwa penulis tidak statis dan ada keinginan untuk berubah / dinamis, yang merupakan ciri-ciri adanya kehidupan yaitu tumbuh dan berkembang. Sedangkan statis, diam, dan sejenisnya adalah ciri-ciri sesuatu yang mati.

  2. Pengalaman di Jerman memberi pemahaman yang baru bahwa meneliti dan membuat publikasi itu sesuatu yang dapat dinikmati, dan itu diperoleh juga jika menjadi peserta program Ph.D. Karena institusi tempat penulis pekerja memberi kesempatan dan beasiswa menjadi peserta program Ph.D maka tidak ada salahnya untuk diikuti. Ibarat pepatah sambil menyelam minum air.

  3. Agar dikatakan tidak munafik maka tentu saja adalah karena mengikuti ego sebagai manusia Indonesia pada umumnya, yang beranggapan bahwa gelar yang lebih tinggi merupakan prestise tersendiri, yang dapat memberikan kebanggaan kepada istri, anak, saudara dan lingkungan sekitarnya serta dapat menjadi nilai tambah untuk meningkatkan kualitas hidupnya di masyarakat.

Semoga Tuhan berkenan terhadap apa yang penulis harapkan, seperti dikatakan-Nya dalam alkitab :

I tell you the truth, if anyone says to this mountain. ‘Go, throw yourself into the sea’, and does not doubt in his heart but believes that what he says will happen; it will be done for him.

Mark 11:23

Sumber Pustaka

  1. Dedi Supriadi. (1997). “Isu dan Agenda Pendidikan Tinggi di Indonesia”, Penerbit PT. Rosda Jayaputra Jakarta
  2. Josep Murphy (Alih bahasa : B. Dicky Soetadi). (1997). “Rahasia Kekuatan Pikiran Bawah Sadar”, cetakan ke-5 tahun 2000, Spektrum, Mitra Utama-Prentice Hall, Jakarta
  3. University of Otago. (2002). “Handbook for PhD Study, Revised January 2002”, Dunedin, New Zealand
  4. Wikipedia, the free encyclopedia. (2006). “Doctor of Philosophy”, http://en.wikipedia.org/wiki/PhD

<<< Up-dated 21 Feb 2009 >>>

Artikel lain yang terkait dengan disertasiku di UNPAR

23 thoughts on “Ujian Kualifikasi di UNPAR

  1. Semoga semangat itu selalu ada dan Tuhan menunjukan jalannya.
    Salam buat Aji. Apa masih sering berhubungan ?

    Sekarang saya tengah berada di negri Jiran….mungkin mempersiapkan semuanya untuk menyusul P Wir menjadi Ph.D, he..he..

    Sampaikan salam saya juga buat Prof Aziz, Prof Bambang

    Salam.

    Suka

  2. Dengan Aji ? Masih Sani. Barusan saja pertengahan Desember ini kami berdua bersama-sama ke Unika Soegijapranata, masing-masing memberi presentasi makalah. Dia mewakili Maranatha sedangkan aku UPH. Aji suka nulis, sama seperti aku.

    Suka

  3. Hallo, salam kenal saya Aji Pranata tinggal di Bandung. Wah ada Sani disini, apa kabar anda dan semoga sehat serta sukses selalu. Pak Wiryanto terima kasih atas semangat dan bimbingan yang senantiasa Bapak berikan.

    Suka

  4. Ping balik: promotor disertasinya Wiryanto Dewobroto

  5. Tolong bantu saya menilai dengan obyektif. Di era informasi sekarang ini, maksudnya dengan perkembangan teknologi internet saat ini, selain kemampuan bahasa asing dan uang sisihan yang banyak, kelebihan esensial apa yang dimiliki doktor lulusan luar negeri ?

    Suka

  6. sdr Inu,
    saya ingin berbagi pendapat, tapi mohon dilihat bahwa ini sifatnya subyektif, hanya berdasarkan pengalaman (kaca mata) pribadi, karena tidak didasarkan penelitian survey yang benar sehingga dapat berlaku umum.

    Mengintip suasana pendidikan tingkat universitas di luar negeri (yang bagus dan tidak sembarangan dong), saya melihat bahwa bidang penelitian atau riset telah dapat berdiri secara mandiri, baik itu akibat dukungan yang kuat dari pemerintah maupun sponsor dari swasta yang masuk. Jadi, biaya untuk penyelenggaraan pendidikan tidak semata-mata dari SPP saja. Bahkan setahu saya, di Jerman, mahasiswa dibebaskan dari SPP.

    Adanya riset yang kuat memungkinkan dosen (expert) tidak hanya fokus pada jumlah mata kuliah yang harus diajarkan tetapi juga dapat memfokuskan diri pada penelitian dan publikasi ilmiah.

    Untuk itu bahkan ada pepatah “publish or perish“, nggak ada tuh pepatah “teach or perish“.

    Berkaitan dengan hal tersebut, disana (tentu saja universitas yang baik) mahasiswa doktor bisa mendapatkan beasiswa dari dana penelitian, sehingga benar-benar seperti bekerja untuk menghasilkan penelitian tersebut.

    Ada positipnya dan ada negatifnya tentu, adanya beasiswa seperti diatas menyebabkan topik penelitian bagi mahasiswa tersebut terbatas (mengikuti yang memberi beasiswa).

    Jadi, jika hal-hal di atas tidak menjadi kendala, juga telah digunakannya bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari maka tentulah itu menjadi suatu keunggulan.

    Ada lagi keuntungannya sekolah doktor di luar negeri, yaitu jaringan alumni yang sifatnya internasional.

    Kalau di Indo bagaimana ?

    Sekolah S3 umumnya didasarkan pada SPP, biaya pendidikan (bisa saja biaya sendiri, atau beasiswa dari luar) dengan orientasi mendapatkan gelar Doktor.

    Bagaimana dengan penelitian, hanya sebagai suatu syarat formal bahwa pada tingkat doktor penelitiannya harus orisinil dan menyumbang kebaharuan dalam kasanah keilmuan. Bobotnya gimana, tergantung dari kualitas Profesor yang menjadi promotornya. Institusinya bagaimana, ya penting juga, jangan sampai anda memilih insititusi pendidikan yang tidak dipercaya, yang dianggap bisa menjual nilai atau bahkan gelar. Kacau itu. Mana ada Profesor baik mau bergabung dengan institusi seperti itu. Reputasi ? Penting.

    Oleh karena itu maka kalau di Indonesia, sebaiknya lulus secepat-cepatnya, makin lama akan rugi karena harus membayar SPP terus. Juga penelitiannya harus cari sponsor atau biaya sendiri.

    Lalu jika membandingkan doktor lulusan luar dan dalam ?

    Wah kalau itu beda, tergantung pribadi masing-masing.

    Sebagai kandindat doktor dalam negeri, saya harus mempunyai keyakinan bahwa pada bidang ilmu yang digeluti (structural engineer) , saya tidak boleh kalah dengan teman-teman doktor lulusan luar. Ini penting !

    Strateginya gimana ?

    Pertama adalah interaksi dengan para promotor dan team penguji. Saya memilih promotor seorang Profesor yang paling senior di Indonesia di bidang teknik sipil (Prof. Sahari Besari) , yang telah menghasilkan banyak Profesor (misal prof. Wiratman dan juga prof. Azis). Karena telah membimbing banyak doktor, juga telah malang melintang lama dan diakui di dunia ke ilmuan teknik sipilan di Indonesia, saya berharap beliau sangat paham bagaimana ciri-ciri atau kinerja dari orang yang bergelar doktor tersebut. Jadi jika beliau setujui saya lulus program doktor maka itu memang karena kualifikasinya. Intinya pengakuan.

    Selain promotor, juga penguji. Saya memilih penguji yang memang pada bidang ilmunya dan diakui masyarakat keilmuan bahwa beliau memang menggeluti bidang ilmu tersebut.

    Selain hal tersebut, interaksi ke dunia keilmuan juga saya bina, caranya : aktif dalam penulisan ilmiah dan datang ke pertemuan-pertemuan ilmiah (seminar) sebagai pembicara, melakukan diskusi pada bidang yang sebidang. Juga melalui blog ini. Anda tahu khan kenapa saya membuat blog ini, ya interaksi seperti inilah sehingga nanti pada saatnya setelah lulus doktor memang sesuai yang diharapkan (diakui minimal mempunyai kompetensi sama dengan lulusan luar).

    Apakah teman-teman calon doktor lain yang sedang sekolah di Indo seperti saya. Wah nggak tahu itu, banyak yang berpikir jika doktor selesai maka kum-nya naik. Bisa jadi profesor, gajinya nambah , gitu kelihatannya.

    Syukur-syukur diangkat jadi pejabat universitas atau publik.😀

    Penelitian atau publikasi ilmiah ? Yah, untuk ngejar kum aja.😦

    Suka

  7. Ping balik: Ujian Usulan Penelitian di UNPAR

  8. Ping balik: dag dig dug-nya Wiryanto Dewobroto » kandidat dan promotornya

  9. ass. pak Sahari
    saya muryy dari indonesia. saya sangat tertarik sekali ingin meneliti suku anak dalam yang ada di bangko di provinsi jambi jadi saya mohon bantuan anda untuk mencarikan saya sponsor. dan sekaligus mencari kan saya provesor.antriopologi

    murry

    Suka

  10. Salam kenal pak Wiryanto, saya adalah engineer di perusahaan swasta multinasional dan kuliah S2 juga di Universitas Gunadarma tapi belum selesai , lagi nyusun tesis.

    Saya hanya mau ngucapin selamat buat pak Wir, yang bisa membagi kisah kisah suksesnya. inspiratif sekali pak, tidak jaim sebagai dosen, lain dengan kebanyakan dosen.
    thanks

    Wir’s responds: trim atas dukungannya. Meskipun dosen khan manusia biasa juga mas, bisa benar juga bisa salah. Dengan menuliskannya khan dapat masukan yang menjadi feedback, sehingga bisa lebih berkembang dan tidak seperti katak dalam tempurung. Iya khan mas.

    Semoga cepat selesai tesisnya, dan siapa tahu bisa dilanjutin. Saya saja dulu, sewaktu ambil S2 tidak punya bayangan mau sekolah lagi (S3). Jadi kalau waktu sekolah punya bayangan untuk nglanjutin lagi, maka kemungkinan terlaksanannya juga akan semakin besar.

    Semoga Tuhan memberkati.

    Suka

  11. Salam kenal pak. Aq mahasiswa sarjana sipil unpar 2008. Baru masuk. Dan dengan blog ini mudah2an bisa nambah2 ilmu.
    wahh,, pengalaman yang menarik pak!
    duh, aq juga ga mau kalah ma bapak. Klo saya dah tau pengalaman bapak, setidaknya harus satu langkah didepan bapak.
    btw, bu rektor mana pak? kok gak ikut ke foto?
    trims

    Suka

  12. Setelah membaca tulisan bapak, saya melihat bahwa memang ada suatu tipikal “lifestyle” di kalangan manusia yang hidupnya lebih banyak dihabiskan di dunia pendidikan tinggi yaitu untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang tertinggi.

    Background saya juga Teknik Sipil tapi kurang suka konstruksi/struktur, jadi saya lebih condong ke arah jalan raya dengan masters dari luar negeri. Pengalaman di luar menunjukkan bahwa “a PhD is not a must, but it’s good to have“. Sebagian besar dosen di sana memang berawalan Dr. atau berakhiran PhD, namun tidak sedikit yang cukup menyebut diri mereka Mr.. Mr. Daniel Smith misalnya telah menjadi dosen Geotechnology selama lebih dari 5 tahun. Umumnya mereka-mereka yang bukan Dr. mempunyai background sebagai Professional Engineer. Mereka telah menghabiskan bertahun-tahun dari hidup mereka untuk menjadi Engineer di perusahaan-perusahaan konsultan ataupun kontraktor.

    Saya juga membaca bahwa Pak Wir juga pernah menjadi seorang Engineer juga. Umumnya dosen-dosen dengan background demikian memberikan added values ketika mereka mengajar. Saya pribadi lebih suka pelajaran “by examples” daripada murni teori. Karenanya mungkin sekolah lanjut ke PhD kurang sesuai untuk saya meskipun penting bila kita ingin berkecimpung di dunia pendidikan tinggi utamanya di Indonesia.

    Suka

  13. @Tanto,
    Terima kasih atas komentarnya.

    Berbicara tentang jalan hidup adalah cukup menarik, waktu muda dulu cukup percaya diri bahwa jalan hidup adalah merupakan hasil kerja keras pribadi saja. Pokoknya kalau kita fokus pasti dapet.

    Kenyataan berbicara lain. Apa yang menjadi fokus kala muda, kadang-kadang bisa berbeda. Itu juga karena wawasan ketika muda dulu relatif masih sempit. Kecuali itu, juga ada pengaruh luar yang kadang-kadang di luar kekuasaan kita, contoh krisis tahun 98 lalu.

    Jadi hidup itu kalau bisa diungkapkan adalah bagaimana kita memilih berbagai tawaran atau kesempatan yang ada dan yang lewat dihadapan kita. Serta berani bertanggung-jawab terhadap segala resiko dari pilihan tersebut.

    Untuk itu diperlukan hikmat, mengetahui yang benar dan salah. Jelas hikmat tidak bisa dari diri sendiri maka mesti bersandar kepada-Nya.

    Jadi intinya, kita harus mensyukuri apapun bidang yang kita tekuni, menyenanginya dan berbuat yang terbaik sebagaimana seakan-akan itu adalah untuk Tuhannya. Jadi kalau nanti Tuhan berkenan untuk bidang yang lain, maka ya enjoy saja.😉

    Suka

  14. Pak Wir, selamat atas derajat doktor yang telah Bapak peroleh. Oya, akhir 2008 saya memulai kuliah tingkat doktor dan kini sedang persiapan ujian kualifikasi. Terimakasih buat motivasi dan wawasan yang tersiar lewat web ini.

    Suka

  15. Pak Wir,

    Saya senang sekali membaca blog ini. Saya menjadi termotivasi untuk berkarya dalam bidang keprofesian saya.
    Saya sedang bimbang saat ini mengenai pilihan pekerjaan. Saya mengambil bidang keilmuan geoteknik dan telah diterima bekerja di salah satu perusahaan tambang terkemuka di indonesia.
    namun saya ingin menjadi akademisi sekaligus profesional seperti bapak.

    menurut pengalaman bapak, apakah dengan bekerja “di luar jalur” menjadi kelemahan atau kekurangan bila saya ingin menjadi akademisi?
    terima kasih

    GBU

    Suka

    • Sdr Aruan,

      Selamat kepada anda yang telah diterima bekerja di perusahaan yang terkemuka di Indonesia. Banyak orang yang ingin seperti anda, sekali lagi selamat.

      Tentang bekerja di luar jalur, saya kurang jelas maksudnya. Jika anda tetap dapat mengaplikasikan ilmu yang menjadi peminatan anda maka menurut saya apakah anda di praktisi (lapangan) atau akademisi adalah tetap di jalur.

      Hanya memang sih, jalur karir di perusahaan dan akademisi memang agak sedikit berbeda. Orientasi utama bekerja di perusahaan adalah menyelesaikan masalah perusahaan, sehingga dapat diperoleh profit perusahaan sebesar-besarnya. Sedangkan akademisi adalah menyemaikan dan mengembangkan ilmu yang dikuasainya. Menyemaikan kepada anak-anak didiknya, sedangkan untuk mengembangkan maka dia perlu bersekolah lagi dan melakukan penelitian, dimana ujung-ujungnya adalah disemaikan lagi tidak hanya kepada anak-anak didik tetapi ke masyarakat profesi yang lebih luas.

      Itulah esensi utama bekerja di perusahaan dan akademis, agak berbeda fokusnya, sehingga penghargaan yang diberikan juga berbeda. Jika diperusahaan karena orientasinya profit maka tentu apresiasinya berupa bagian dari profit itu juga, tepatnya duitnya tentu lebih banyak. Adapun yang dipendidikan, jelas tidak bisa diharapkan seperti itu. Tetapi karena proses penyemaian yang diberikan itu maka kadang namanya lebih harum, dikenal lebih luas. Ujung-ujungnya, ketika nanti sudah pada pensiun, dan bahkan meninggal, yang bekerja di perusahaan hanya dikenal oleh anak-anaknya karena peninggalan harta saja. Orang lain jarang yang mengenal, kecuali mungkin anak buahnya dulu yang merasa berhutang budi. Adapun yang bekerja di akademisi karena berinteraksi dengan anak-anak didik maka biasanya akan diingat oleh banyak murid-muridnya itu, apalagi yang suka menulis atau membuat publikasi, bisa-bisa beberapa generasi akan dikenal namanya, bahwa orang itu pernah mengajar di perguruan tinggi tertentu. Jelas yang terakhir ini tidak bisa dinilai dari materi besarnya, itu pula yang menjadi motivasi saya membuat blog ini.

      Jadi kalau memang anda tetap berkecipung di ilmu anda, dan merasa bisa bertambah atau mengembangkannya dengan melakukan penelitian di lapangan maka akan baik jika nanti setelah bekerja dapat selalu berinteraksi dengan komunitas profesi yang sebidang, misal ikut seminar. Akan lebih baik jika anda bisa menyumbangkan pengalaman yang anda dapat di lapangan (pembawa makalah). Tentang hal ini memang gampang-gampang susah, saya dulu ketika baru di level S1 belum pede untuk itu. Jika anda juga demikian maka disarankan untuk mengambil pendidikan lanjutan. Sangat membantu itu.

      O ya, adanya investasi pendidikan lanjut adalah sangat berguna untuk masuk ke dunia akademisi (jika ada kesempatan, seperti saya dulu). Bagaimanapun saat ini, yang boleh ngajar hanya yang sudah dapat S2 (master). Jika anda punya gelar S3 maka berpindah dari lapangan (dengan pengalaman berjibun) ke akademisi itu sangat-sangat memungkinkan. Tapi di jaman sekarang, punya pengalaman berjibun tetapi masih bergelar S1 adalah susah untuk menjadi dosen tetap, paling-paling dosen tidak tetap, atau perguruan tinggi yang tidak diminati oleh level atas (misal kurang bereputasi atau gajinya rendah).

      Itu dik yang dapat saya sarankan. Untuk awal mendapatkan pekerjaan di perusahaan bereputasi baik adalah awalan yang bagus. Selanjutnya terserah anda. Semoga Tuhan memberkati.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s