Jurnal Internasional Bereputasi Teknik Sipil

Bagi teman-teman dosen yang ingin karir profesionalnya optimal maka mengurus jenjang akademik adalah penting. Bagi dosen muda-muda tentu ini belum terasa, tetapi yang sudah menginjak senior (tua) maka hal itu akan berpengaruh pada usia pensiun. Di UPH misalnya, bagi dosen yang tidak mengurus jenjang akademik atau hanya punya jenjang akademik pemula maka usia pensiun adalah 55 tahun, untuk yang punya jenjang akademik Lektor Kepala usia pensiunnya adalah 60 tahun. Adapun profesor adalah 65 tahun. Info terbaru DIKTI katanya profesor bisa 70 tahun.

Nah dalam pengurusan jenjang akademik, sekarang ini kelihatannya semakin lama semakin sulit, yaitu terkait persyaratan  adanya publikasi ilmiah dalam bentuk jurnal. Apalagi untuk mencapai jenjang profesor jurnalnya harus dalam bentuk Jurnal International Bereputasi di bidangnya (teknik sipil). Jadi jurnalnya tidak sekedar berbahasa Inggris dan terindeks Scopus, tetapi harus masuk peringkat dunia. Salah satu (atau mungkin satu-satunya) yang dapat dijadikan rujukan untuk peringkat tersebut adalah :

Journal Metrics (CiteScore metrics from Scopus) 

Baca lebih lanjut

spesifikasi beban hidup pada atap baja

Berita di sekeliling kita, sebagian besar isinya adalah hinggar bingar politik. Tentunya ini karena ada pilkada yang segera menjelang. Untuk daerah DKI maka isi berita hanyalah tentang Ahok, baik itu dari sisi positip maupun juga sisi negatif. Sisi negatif sebagian besar masalahnya adalah karena ada perbenturan dengan agama. Akibatnya ada sebagian orang-orangnya menjadi tersinggung dan tidak terima. Bagi lawan politik Ahok, kondisi tersebut kelihatannya ada yang memanfaatkannya.  Jadi ramai deh hasilnya.

Baca lebih lanjut

temu ahli baja Jepang – Indonesia

Hari Selasa – Rabu, 22-23 November 2016 bertempat di Hotel Century Park, Jakarta, telah selesai dilakukan diskusi keahlian bertema Expert-Japan Program on Steel Construction for Indonesia. Kegiatan diskusi tersebut dari pihak Jepang diinisiasi oleh The Overseas Human Resources and Industry Development Association (HIDA), Ministry of Economy, Trade and Industry of Japan (METI). Adapun dari pihak Indonesia diinisiasi oleh Asosiasi Masyarakat Baja Indonesia (AMBI).

Untuk kesuksesan acara, pihak AMBI mengundang pula ahli-ahli baja Indonesia yang lain, yaitu dari unsur Pemerintah (Kementrian PUPR, Puslitbang Puskim), asosiasi profesi (HAKI, APJEBI atau Asosiasi Pabrikan Jembatan Baja Indonesia), perusahaan / fabrikator baja, dan perguruan tinggi . Saya dalam hal ini tentu saja mewakili dari unsur perguruan tinggi. Pada konteks tersebut, mestinya juga bersama-sama dengan bapak Ir. Muslinang Moestopo, MSEM, Ph.D (ITB). Sayang beliau berhalangan hadir. Untung saja dari pihak HAKI dapat diwakili oleh bapak Dradjat Hoedajanto, M.Eng., Ph.D, seorang senior di dunia konstruksi Indonesia, sehingga diskusi yang terjadi di acara tersebut menjadi menarik untuk disimak.

Baca lebih lanjut

Petunjuk Teknis Penggunaan SNI 1729

SNI baja terbaru di Indonesia adalah SNI 1729:2015, yang merupakan adopsi utuh dari AISC 360-10. Nah terkait hal itu, mbak Hanna Yuni Hernanti dari Puslitbang PUSKIM di Cileunyi, Bandung, mengirimkan dokumen pendukung lain yang baru, yaitu Petunjuk Teknis Penggunaan SNI 1729Tentang Spesifikasi Untuk Bangunan Gedung Baja Struktural. Dokumen tersebut sejatinya adalah terjemahan dari Design Examples Version 14.1 dari AISC.

Baca lebih lanjut

tebak-tebakan PILKADA DKI

Yang namanya tebak-tebakan adalah sesuatu yang menarik, tetapi jika ditambahkan dengan taruhan, maka judi namanya. Itu tidak baik. Jadi kalau sekedar tebak-tebakan, tentu bukan sesuatu masalah bukan.

Maklum dengan melakukan tebak-tebakan maka logika kita dalam melihat sesuatu masalah dapat juga diuji. Semakin teruji, maka tentunya akan semakin baik juga bagi kita. Minimal dapat belajar, hal apa yang sebaiknya kita pelajari lagi atau pengetahuan apa yang kita punyai yang harus kita koreksi karena ternyata sudah tidak logis lagi.

Tebak-tebakan juga kadang kita lakukan di bidang rekayasa, nama kerennya adalah trial and error. Hanya saja jika sudah banyak pengalaman dan ilmu yang kita punyai maka di bidang rekayasa seakan-akan adalah suatu kepastian. Sudah bukan tebak-tebakan lagi. Jadi sudah tidak menarik.

Baca lebih lanjut